cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 363 Documents
MODEL PEMBELAJARAN “WISATA LOKAL” PADA MATA PELAJARAN SAINS: SUATU PENDEKATAN R&D Winaryati, Eny
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.331 KB)

Abstract

ABSTRAK   Guru sains dituntut untuk mengkreasi pembelajaran agar dapat memberikan pengalaman mendalam bagi siswanya.  Potensi daerah dengan segala kelebihan dan permasalahannya, dapat dijadikan sumber belajar dan laboratorium bagi pembelajaran sains. Model pembelajaran ?Wisata Lokal? menjadi sangat relevan untuk meningkatkan pembelajaran sains menjadi lebih bermakna. Konsep model pembelajaran ini, akan dapat dilaksanakan oleh guru sebagai pengguna, bila telah teruji kepraktisan dan keefektifannya. Melalui pendekatan penelitian dan pengembangan (R&D) yang runtut dan sistematis, model ini dapat di terima sebagai suatu produk yang dapat disebarluaskan. R&D merupakan konsepsi dan implementasi ide-ide produk baru. Pendekatan R&D disusun berdasarkan kombinasi ADDIE model dan Cennarno, dikombinasi dengan tahap development dari Bor&Gall untuk tahap 4-9, serta pengembangan dari Circular model of R&D. Kombinasi ini menghasilkan 7 langkah R&D untuk mengembangkan model pembelajaran ?Wisata Lokal? adalah Analysis, define, Design, Development, Implementation, delivery, dengan selalu memperhatikan potensi lingkungan  yang ada. Memberi penguatan pada tahap implementasi dengan kegiatan Quasi eksperimen. Pada setiap tahap R&D selalu dilakukan evaluasi PAI (Purphose, Activities, Interim Product). Paska tahap delivery,  dapat dijadikan sebagai landasan untuk dimulainya kegiatan analisis yang baru,  baik pada mapel yang lain, bentuk kegiatan lainnya (semisal pelatihan), atau perbaikan terhadap model ini.   Kata kunci: model pembelajaran, wisata lokal, sains, pendekatan, R&D.
PRODUKSI BIOGAS DARI ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES (MART.) SOLMS) DAN LIMBAH TERNAK SAPI DI RAWAPENING Astuti, Nurfitri; Soeprobowati, Tri Retnaningsih; Budiyono, Budiyono
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.842 KB)

Abstract

Biogas merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dihasilkan oleh fermentasi anaerobik bahan-bahan organik. Bahan organik yang dapat dimanfaatkan antara lain limbah ternak sapi dan eceng gondok. Kelimpahan eceng gondok banyak ditemukan di Rawapening, hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah salah satunya adalah pendangkalan Rawapening. Proses pembuatan biogas dimulai dari  pembuatan digester, proses pengambilan eceng gondok, proses pengambilan kotoran sapi, pencampuran bahan dan pengukuran volume gas. Variasi yang di gunakan dalam produksi biogas berdasarkan kadar padatan dari eceng gondok dan kotoran sapi. Hasil dari pengukuran kadar padatan eceng gondok sebesar 18% dan kotoran sapi sebesar 27%. Hanya 8 % padatan dari total volume digester yang digunakan dalam produksi biogas. Hasil pengukuran volume biogas terhadap variasi jumlah eceng gondok  terhadap substat, yang optimal adalah perbandingan 40:60:500 dari eceng gondok, kotoran sapi dan air sebesar 125,7 ml. Hasil pengukuran jumlah biogas terhadap variasi jumlah limbah kotoran sapi terhadap substrat yang optimal yaitu perbandingan 40:80:480 eceng gondok, limbah kotoran sapi dan air yaitu sebesar 176,33 ml. Dan hasil pengukuran volume biogas terhadap variasi jumlah eceng gondok dan limbah kotoran sapi terhadap komposisi substrat yang optimal dengan perbandingan 0:80:520 sebesar 134,67 ml.   Kata kunci: Eceng gondok, biogas, Rawapening.
HUBUNGAN IODIUM DAN KECERDASAN THE RELATIONSHIP BETWEEN IODINE AND INTELLIGENCE Lanti, Yulia; Dewi, Retno
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.341 KB)

Abstract

Iodine deficiency disorders (IDD) in Indonesia is still prevalent in endemic areas, where soil and water are lack of iodine. It has been estimated that 54 million of Indonesian people are living in endemic area, therefore susceptible from IDD. The consequences of IDD are goiter, cretinism, lower intelligence, mental retardation and delayed physical development that ultimately reduce Indonesian human resources. The relationship between iodine deficiency and low intelligence quotient (IQ) is straight forward. Meta analysis from 18 studies revealed that people living in iodine deficient areas had 13.5 IQ point lower than their counterparts. Several measures have been adopted by Indonesian government to eradicate IDD, especially to prevent new cretins. However, cretinism like top of iceberg is the smallest proportion; at the base much more people are suffering from hypothyroidism with lower IQ scores. The relationship between iodine and intelligence will be discussed in this paper. Kata kunci : iodine, IDD, cretinism, intelligence quotient ABSTRAK GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) di Indonesia banyak dijumpai penduduk yang tinggal didaerah endemik kekurangan iodium. Daerah yang kekurangan iodium disebabkan karena tanah dan air tidak atau sedikit sekali mengandung iodium. Diperkirakan sekitar 54 juta penduduk di Indonesia rentan terhadap GAKI dengan segala akibatnya seperti gondok, kretin , gangguan kecerdasan, gangguan mental dan gangguan perkembangan fisik yang sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM (Sumber Daya Manusia ). Hubungan antara kekurangan iodium dengan perkembangan kecerdasan bersifat langsung. Hasil meta-analisis dari 18 penelitian membandingkan populasi didaerah kekurangan iodium dengan daerah pembanding yang secara geografis sama tetapi tidak kekurangan iodium menunjukkan perbedaan intelligence quotient ( IQ) sebesar 13,5 IQ point. Berbagai upaya penanggulangan GAKI di Indonesia telah dilakukan khususnya untuk mencegah timbulnya kretin baru, padahal kretin dapat diibaratkan puncak gunung es yang tampak dari permukaan, dibawahnya dalam jumlah jauh lebih besar adalah kekurangan hormon tirod yang ditandai dengan berkurangnya kecerdasan pada anak di daerah kekurangan iodium. Hubungan antara kekurangan iodium dengan gangguan kecerdasan akan dibahas secara mendalam dalam makalah ini. Kata kunci : Iodium, GAKI, kretin, kecerdasan
POTENSI TEPUNG KEDELAI YANG DIPAPARKAN SECARA BERULANG TERHADAP HISTOLOGI TESTIS MENCIT (MUS MUSCULUS) Primiani, Cicilia Novi; Fitria, Aida
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.078 KB)

Abstract

ABSTRAK   Isoflavon merupakan senyawa aktif biji kedelai dengan struktur kimia menyerupai 17 ?-estradiol dan mampu berikatan dengan reseptor estrogen pada sel Leydig dalam tubulus seminiferus testis. Berdasarkan  struktur kimia isoflavon mirip dengan hormon estrogen, maka aktivitas kerjanya menyerupai hormon estrogen, sehingga memberikan aktivitas fisiologis sebagai hormon estrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan jaringan tubulus seminiferus testis mencit setelah pemaparan tepung kedelai secara berulang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor yaitu dosis tepung kedelai 0,369 g/kg; 0,74 g/kg dan 1,47 g/kg. Parameter yang diamati adalah perubahan jaringan tubulus seminiferus testis setelah pemaparan berulang tepung kedelai selama 36 hari. Analisis data perubahan jaringan tubulus seminiferus testis dianalisis secara diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spermatogenesis tidak dapat berkembang, fase proliferasi sel-sel germinal sampai  stadium spermatosit primer.   Kata kunci:  kedelai, isoflavon, tubulus seminiferus testis
PERSEPSI GURU BIOLOGI TERHADAP PEMBELAJARAN YANG MEMBERDAYAKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI DAN SWASTA TONDANO W.M Warouw, Zusje; O. Raturandang, Jefry; Sumakul, Jemy
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.475 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian survei yang menggunakan angket ini diberikan pada 27 guru Biologi di 12 SMP Negeri dan Swasta di Tondano Kabupaten Minahasa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan respon guru biologi terhadap strategi yang mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Berdasarkan jawaban responden, yang mengemukakan sangat penting melibatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran (11,11%), penting (51,85%), dan jawaban kurang penting (0%), serta sisanya (37,04%) tidak memberikan jawaban. Responden yang menjawab telah mengembangkan strategi berpikir kritis dalam pembelajaran (62,96%), yang belum (3,70%), sedangkan (33,33%) tidak menjawab. Dalam pemberdayaan kemampuan berpikir kritis siswa, responden menjawab: sangat penting ( 14,81%), penting (48,15%), dan kurang penting (0%), serta tidak dijawab (37,04%). Lebih lanjut, yang menjawab benar bagaimana langkah-langkah memberdayakan kemampuan berpikir kritis siswa 48,15%, sedangkan sisanya (51,85%) tidak menjawab. Hal ini mengindikasikan sangat perlu lebih dikembangkan suatu strategi yang mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis, meskipun terdapat (59,26%) responden menjawab adanya kendala dalam memberdayakannya. Hal ini terkait pula dengan penilaian hasil belajar terkait cakupan tiap domain kognitif, afektif dan psikomotorik, di mana (7,41%) responden menjawab benar cakupan tiap domain, dan (44,44%) menjawab tidak benar, sedangkan (48,15%) tidak menjawab.   Kata Kunci : Berpikir Kritis, Hasil Belajar.
PENERAPAN BIOTEKNOLOGI CENDAWAN MIKORRHIZA ARBUSKULA (CMA) UNTUK PENGEMBANGAN MATERI AJAR SAINS DALAM PEMBELAJARAN AKTIF (ACTIVE LEARNING) S, Chalimah
Prosiding Seminar Biologi Vol 6, No 1 (2009): Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6820.94 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu pembelajaran sains yang sesuai dengan pembelajaran aktif dengan melakukan praktikum. Silberman (2006) rnenyatakan bahwa pembelajaran aktif (active learning) adalah pembelajaran yang mengajak siswa untuk melaksanakan kegiatan yang menggunakan koordinasi antara otak kanan dan otak kiri untuk mempelajarai masalah, memecahkan masalah dan menerangkan apa yang telah dipelajari. Pembelajaran aktif adalah fase pembelajaran cepat, menyenangkan, suportif dan melibatkan kemampuan individu dan kelompok. Praktikum adalah suatu bentuk pembelajaran melalui kegiatan praktek, baik dilakukan dalam laboratorium maupun dalam lingkungan atau disebut praktikum lapangan, yang diyakini sebagai strategi pembelajaran yang aktif, kreatif serta menyenangkan peserta didik. Melalui praktikum dalam bentuk eksperimen, mampu menanamkan konsep-konsep materi yang akan diajarkan. Tujuan yang akan dicapai 1) Mengembangkan model pembelajaran eksperimen dalam materi ajar Sain tentang peranan Bioteknologi CMA (Cendawan Mikorhiza Arbuskula), 2) memberikan alternatif variasi materi ajar Sains lebih relevan dan berdayaguna, 3) memasyarakatkan Bioteknologi CMA melalui pendidikan untuk peningkatan kualitas sumberdaya alam hayati nuupun non hayati, sebagai teknologi tepat guna, aman, murah, efisien dan efektif. Metode yang digunakan adalah eksploratif materi ajar, yang disusun dalam model eksperirnen, untuk mendukung proses pembelajaran aktif. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa model pembelajaran eksperimen merupakan salah satu strategi pembelajaran dalam kerangka kerja pengajaran. Pengembangan materi ajar sangat penting untuk mendukung proses pembelajaran aktif, dalam bentuk eksperimen, karena peserta didik melakukan aktifitas yang sistematis dengan cara kerja kelompok. Pendidikan sebagai salah satu strategi untuk mengeiralkan, mensosialisasikan bioteknologi CMA yang efektif, dan efisien. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa pembelajaran aktif melalui model eksperirnen dapat mengaktifkan aspek psikomotoik, afektif dan kognitif.KeyWord. Bioteknologi cendawan mikorrhiza arbuskula, materi ajar sains, pembelajaran aktif 
SEBARAN ANAKAN ANGSANA (PTEROCARPUS INDICUS WILD.) DI KEBUN RAYA PURWODADI – LIPI Danarto, Setyawan Agung
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.384 KB)

Abstract

Pterocarpus indicus Wild. merupakan jenis pohon lokal dan termasuk jenis langka yang memiliki beragam potensi antara lain penghasil kayu dan penyerap karbon tinggi dan pola penyebaran anakan belum diketahui. Penelitian ini untuk mengetahui tingkat penyebaran anakan Pterocarpus indicus di sekitar pohon induknya  di Kebun Raya Purwodadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran anakan tidak jauh dari pohon induknya dan berada pada kondisi lingkungan dengan kelembaban yang cukup tinggi. Tercatat sebanyak 1392 anakan di sekitar pohon induk sana kembang (Pterocarpus indicus Wild.) pada berbagai arah pengamatan.  Jumlah anakan yang ditemukan banyak terdapat pada tingkat naungan yang tinggi daripada di tempat cahaya terbuka. Pola sebaran anakan angsana dan faktor-faktor yang mempengaruhinya akan dibahas di dalam paper ini. Kata kunci: Anakan, Pterocarpus indicus wild., Kebun Raya Purwodadi
AKTIVITAS SUCROSE PHOSPHATE SYNTHASE KULTIVAR TEBU (SACCHARUM OFFICINARUM L.) TOLERAN DAN SENSITIF SELAMA CEKAMAN KEKERINGAN SUCROSE PHOSPHATE SYNTHASE ACTIVITY ON TOLERANCE AND SENSITIVE SUGARCANE CULTIVAR DURING WATER STRESS Rinanto, Yudi; Sugiharto, Bambang
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.593 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian telah dilaksanakan untuk mengkaji aktivitas enzim SPS (Sucrose Phosphate Synthase) dan ekspresi gen SPS tanaman tebu pada kondisi cekaman kekeringan.  Sebanyak 3 varietas  masing-masing mewakili toleran, moderat dan peka kekeringan ditanam dalam polibag dengan media tanah masing-masing diulang 5 kali.  Setelah berumur 2 bulan diperlakukan cekaman kekeringan dengan cara tanpa diberi pengairan sampai menunjukkan gejala daun menggulung pada daun pertama (K1).  Sampel daun diekstrasi untuk pengujian lebih lanjut. Pengujian enzimatis dilakukan menggunakan sampel daun pertama (K1) tehadap ke 3 varietas masing-masing diulang 3 kali, setelah diperlakukan cekaman kekeringan kemudian dilakukan analisa.  Pengujian enzimatis dilakukakan terhadap enzim SPS yang merupakan enzim penentu yang berperan mengakumulasi sukrosa dalam batang tebu. Hasil penelitian menunjukkan respon aktivitas SPS varietas tebu toleran, moderat dan peka terhadap cekaman kekeringan berbeda-beda.  Aktivitas SPS ke tiga varietas meningkat selama cekaman kekeringan, dengan kecenderungan M442-51 menghasilkan aktivitas lebih tinggi dibanding dua varietas lainnya. Ekspresi gen SPS mengalami peningkatan selama cekaman kekeringan. Perlakuan hormon BA (Benzil Adenin), JA (Jasmonic Acid) dan IAA (Indole Acetic Acid) tidak mampu meningkatkan ekspresi gen SPS, Rubisco maupun GS (Glutamin Synthase).  Cekaman kekeringan dan ABA menyebabkan peningkatkan aktivitas SPS. Berdasarkan hasil penelitian ini diusulkan untuk menggunakan SPS sebagai indikator fisiologis faktor ketahan kekeringan pada tebu.   Kata Kunci : tebu, cekaman kekeringan dan aktivitas SPS
VARIASI PEMBERIAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN KADAR GULA BUAH PADA BERBAGAI VARIETAS STROBERI Muzayyinah, Muzayyinah; Probosari, Riezky Maya; Komariyah, Komariyah
Prosiding Seminar Biologi Vol 7, No 1 (2010): Seminar Nasional VII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.04 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar gula dalam setiap varietas tanaman stroberi, mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik terhadap kadar gula  buah stroberi, mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik terhadap produksi buah stroberi pada setiap varietas. Penelitian dilaksanakan di kebun stroberi Kalisoro Tawangmangu dan laboratorium Sub Lab pusat untuk memeriksa kadar gula. Data yang dikumpulkan meliputi: kadar gula dari setiap varietas  buah stroberi, produksi buah. Penghitungan parameter utama dilakukan setelah buah tanaman stroberi berumur 2 minggu. Parameter yang diukur adalah kadar gula buah stroberi hasil dari panen pertama dengan menggunakan refraktometer. Parameter pendukung yang juga diamati adalah pertumbuhan tanaman stroberi yaitu: tinggi tanaman dan jumlah daun setelah tanaman berumur satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan empat bulan; umur berbunga; umur berbuah. Pada hasil penelitian didapat bahwa setiap varietas mempunyai kadar gula yang berbeda,  ini disebabkan faktor pembawa sifat yang dapat diwariskan itu berbeda pada tiap tanaman. Kadar gula tertinggi dimiliki oleh varietas tristar, Pupuk kandang kambing memberikan pengaruh terbesar terhadap kadar gula buah tanaman stroberi (Fragraria x ananassa Var. Duchence). Interaksi antara pemberian pupuk kandang kambing pada varietas tristar mempunyai pengaruh terbesar terhadap kadar gula buah stroberi. Kata kunci: varietas stroberi, kadar gula, pupuk organik
DISTRIBUSI, POPULASI DAN KARAKTER MORFOLOGI TANAMAN KIMPUL (XANTHOSOMA SAGITTIFOLIUM (L.) SCHOTT) UMBI KUNING DI LERENG GUNUNG MERAPI KABUPATEN KLATEN Sugiyarto, Sugiyarto; Permatasari, Alfatika; Anggarwulan, Endang
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.65 KB)

Abstract

ABSTRAK   Banyak kekayaan spesies tumbuhan asli Indonesia yang belum teridentifikasi. Kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) merupakan salah satu jenis tanaman umbi-umbian potensial yang melimpah dan memiliki banyak varian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi, populasi, dan karakter morfologi tanaman kimpul berumbi kuning yang tumbuh khas di lahan kering daerah dataran tinggi. Penelitian dilakukan dengan metode penjelajahan di beberapa ketinggian tempat di daerah lereng gunung Merapi, Kabupaten Klaten. Hasil pengamatan lapangan dan karakterisasi morfologi tanaman dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tempat, populasi tanaman kimpul umbi kuning cenderung semakin meningkat, ukuran organ tanaman, baik lamina, panjang tangkai daun, diameter tangkai daun, diameter umbi semakin meningkat pula. Kimpul umbi kuning menunjukkan ciri khas umbi berwarna kuning, tanpa umbi anakan. Kebanyakan tanaman dibudidayakan sebagai tanaman sela sehingga cenderung terdistribusi secara mengelompok.   Kata Kunci: Kimpul, Umbi kuning, Merapi, Distribusi, Populasi