cover
Contact Name
Isrida Yul Arifiana
Contact Email
isrida@untag-sby.ac.id
Phone
08113542006
Journal Mail Official
jiwauntag1745@untag-sby.ac.id
Editorial Address
JIWA: Indonesian Journal of Psychology Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Telp. 0315990029
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JIWA:Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 30319897     DOI : https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01
Core Subject : Social,
Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia accepts manuscript research results in the fields of educational psychology, developmental psychology, industrial psychology, Social Psychology and clinical psychology, but not limited to: Personality and Learning Learning Interventions Teaching Strategies Education of Children with Special Needs Education of Gifted Children Counseling in Education Development of Children, Adolescents, Adults, and the Elderly Developmental Problems Parenting Strategies Quality of Life Personality Disorder Behavior Modification Counseling and Psychotherapy Psychosis Disorders Psychological Intervention
Articles 260 Documents
Keterkaitan Efikasi Diri dan Penyesuaian Diri: Kunci Sukses Menghadapi Tantangan Baru Agmeilia, Irene Friska; Suroso, Suroso; Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9907

Abstract

Self-adjustment is a process of behavior and ability possessed by individuals to interact or deal with situations and demands from their surrounding environment, enabling individuals to accept and display positive attitudes towards themselves and others. This research aims to analyze the relationship between self-efficacy and self-adjustment in learning among new students of the Faculty of Psychology at Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. The research was conducted using a quantitative correlational research method, employing accidental sampling techniques with a sample size of 210 students. The measurement instruments used were the self-efficacy scale and the self-adjustment scale. The data were analyzed using the Pearson product-moment correlation technique with the assistance of IBM SPSS Statistics software version 25 for Windows. The analysis results revealed a highly significant positive relationship between self-efficacy and self-adjustment among new students of the Faculty of Psychology. Penyesuaian diri merupakan suatu proses tingkah laku dan kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk mampu berinteraksi atau menghadapi situasi dan tuntutan dari lingkungan sekitarnya, sehingga individu mampu menerima dan menunjukkan sikap baik kepada diri sendiri dan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri dengan penyesuaian diri dalam belajar pada mahasiswa baru fakultas psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif korelasional, menggunakan teknik accidental sampling dengan sampel 210 mahasiswa. Alat ukurnya menggunakan dua skala yaitu skala efikasi diri dan skala penyesuaian diri menggunakan teknik korelasi pearson product moment dengan bantuan program SPSS Seri 25 IBM For Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara efikasi diri dengan penyesuaian diri pada mahasiswa baru fakultas psikologi.
Subjective Well-Being Mahasiswa Skripsi : Bagaimana Peranan Stres Akademik? Majesty, Jonitha; Pratikto, Herlan; Suhadianto, Suhadianto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9908

Abstract

This study aims to determine the relationship between academic stress and subjective well-being in final students who are pursuing a thesis. This research is a type of quantitative research using correlational research. The subjects in this study were 112 students. The instruments in this study used the Subjective Well-Being scale, namely (SWLS) Stratification with Life Scale and Positive and Negative Affect Scale and Academic Stress scale. Hypothesis testing was carried out using product moment correlation techniques. The results showed a significant negative relationship between academic stress and subjective well being in final students who are pursuing a thesis, meaning that the higher the academic stress, the lower the subjective well-being of students. Conversely, the lower the level of academic stress, the higher the subjective well being of students. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dengan subjective well-being pada mahasiswa akhir yang sedang menempuh skripsi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 112 mahasiswa. Instrumen pada penelitian ini menggunakan skala Subjective Well-Being yaitu (SWLS) Stratification with Life Scale dan Positif and Negative Affect Scale dan skala Stres Akademik. Pengujian hipotesis yang dilakukan menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara stres akademik dengan subjective well being pada mahasiswa akhir yang sedang menempuh skripsi, artinya semakin tinggi stres akademik, maka semakin rendah subjective well-being mahasiswa. Sebaliknya semakin rendah tingkat stres akademik, maka semakin tinggi subjective well being mahasiswa.
Stres Pada Wanita Yang Mengalami Dating Violence di Usia Dewasa Awal : Bagaimana Peran Resiliensi? Putra, Prima Rizqi Isania; Pratikto, Herlan; Aristawati, Akta Ririn
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9909

Abstract

The phenomenon of dating violence is more women than men. WHO (World Health Organization) also states that 1 in 3 women in the world experience violence, even 1 in 4 women in developed countries also experience violence up to 25%. This study aims to determine the relationship between resilience and stress in early adult women who experience dating violence. This study used a quantitative correlation approach with 100 subjects. From the results of the research data analysis, the Spearman-Rho test has been carried out which shows a significance level of 0.418 with Sig = 0.000 or p <0.05. That is, the higher the level of resilience provided, the higher the stress on women who experience dating violence and vice versa, the lower the resilience, the less stress they experience. Fenomena dating violence lebih banyak wanita dibanding dengan pria. WHO (World Health Organization) juga menyatakan bahwa 1 dari 3 perempuan di dunia mengalami kekerasan, bahkan 1 dari 4 perempuan di negara maju juga mengalami kekerasan hingga mencapai 25%. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan stres pada wanita dewasa awal yang mengalami dating violence. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif Korelasional dengan jumlah subjek 100 orang. Dari hasil analisis data penelitian yang telah dilakukan pengujian spearman-rho yang menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,418 dengan Sig=0,000 atau p<0,05. Artinya, semakin tinggi tingkat resiliensi yang diberikan maka semakin tinggi pula stres pada wanita yang mengalami dating violence begitu pula sebaliknya, semakin kecil resiliensi maka semakin kecil pula stres yang dialami.
Adversity Quotient: Adakah Peranan Self Efficacy, dan, Kepemimpinan Transformasional Ceriputri, Wulan Kusumaning Ayu; Rini, Amanda Pasca; Saragih, Sahat
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9910

Abstract

This study aims to determine the influence of self-efficacy transformational leadership and adversity quotient on workers. This study uses workers as subject data collection by distributing questionnaires through the Google form. This study involved 104 respondens. The results of the study were tested using multiple regression analysis techniques which showed that there was a significant influence between self-efficacy, transformasional leadership and adversity quotient. Based on the calculation of multiple regression analysis, it was found that the significance value was 0.00 < 0.05. So, it can be concluded that there is an influence between self efficacy, transformasional leadership, and adversity quotient Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara self efficacy, dan kepemimpinan transformasional dengan adversity quotient pada pekerja. Penelitian ini menggunakan pekerja sebagai subjek, teknik pengambilan data dengan cara menyebarkan kuesioner melalui google form. Penelitian ini melibatkan 104 responden. Hasil penelitian ini diuji menggunakan teknik analisis regresi berganda yang menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara self efficacy dan kepemimpinan transformasional dengan adversity quotient. Berdasarkan dari perhitungan analisis regresi berganda diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi 0.000 < 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara self efficacy, kepemimpinan transformasional dengan adversity quotient.
Adiksi Media Sosial pada NCTzen : Apakah Peranan Interaksi Parasosial dan Fear of Missing Out? Maudiana, Novia Shaffi; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9911

Abstract

Social media addiction behavior can have a negative impact on the individual, such as being easily tired and easily unfocused, losing interest in physical activities and hobbies, and can damage the individual's career and relationships with other individuals. Social media addiction can happen to anyone including NCTzen fans of the boy group NCT. Social media addiction in NCTzen is related to an excessive interest in NCT and not wanting to be left behind the experience of other fans who follow NCT. The purpose of this study was to determine the relationship between parasocial interaction and fear of missing out with social media addiction in Surabaya NCTzen. The research method used a quantitative approach and used a population of 137 people in NCTzen Surabaya but the sample of this study was 110 people. This research instrument uses a questionnaire in collecting data with a Likert scale. The data analysis technique used is multiple regression analysis with correlation techniques. The result of this study is that there is a relationship between parasocial interaction and fear of missing out with social media addiction in NCTzen Surabaya. So it can be concluded that the higher the behavior of parasocial interaction and fear of missing out, the higher the social media addiction behavior in NCTzen Surabaya. Perilaku adiksi media sosial dapat menimbulkan dampak negatif pada individu tersebut, seperti kondisi badan yang mudah lelah dan mudah tidak fokus, kehilangan minat pada aktivitas fisik dan hobi, serta dapat merusak karir dan hubungan individu tersebut dengan individu lain. Adiksi media sosial dapat terjadi pada siapa saja termasuk pada NCTzen penggemar boygrup NCT. Adiksi media sosial pada NCTzen memiliki keterkaitan dengan adanya ketertarikan yang berlebihan pada NCT serta tidak ingin tertinggal pengalaman penggemar lain yang mengikuti NCT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara interaksi parasosial dan fear of missing out dengan adiksi media sosial pada NCTzen Surabaya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan populasi pada NCTzen Surabaya berjumlah 137 orang namun sampel penelitian ini adalah 110 orang. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner dalam pengambilan data dengan skala likert. Teknik Analisa data yang digunakan adalah Analisis regresi berganda dengan Teknik korelasi. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara interaksi parasosial dan fear of missing out dengan adiksi media sosial pada NCTzen Surabaya. Maka dapat disimpulkan semakin tinggi perilaku interaksi parasosial dan fear of missing out maka semakin tinggi pula perilaku adiksi media sosial pada NCTzen Surabaya.
Agresi Verbal pada Remaja Penggemar K-Pop NCT: Adakah hubungan dengan Celebrity Worship dan Psychological Well-being Mahardhika, Lussy; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9912

Abstract

This study aims to explore the relationship between celebrity worship, psychological well-being, and verbal aggression in adolescent K-Pop NCT fans. Verbal aggression refers to behavior that intends to hurt, intimidate, or harm someone verbally or physically. Verbal aggression includes the use of mocking words, abusive language, expressions of hatred, and sarcasm. This study uses quantitative methods involving a population of 205 K-Pop NCT fans who are members of the "Neo City Area" community. The research subjects consisted of 124 adolescent K-Pop NCT fans, aged 15-19 years, who were selected by purposive sampling. Data collection was conducted using a Likert scale, with measurement instruments consisting of the aggression scale, celebrity attitude scale, and psychological well-being scale (PWBS). Multiple regression analysis showed that there was a simultaneous relationship between celebrity worship and psychological well-being on verbal aggression. Partially, a positive relationship was found between celebrity worship and verbal aggression, while psychological well-being was negatively related to verbal aggression. These results indicate that the higher the level of celebrity worship, the lower psychological well-being, and conversely, the higher the level of verbal aggression in adolescent K-Pop NCT fans. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keterkaitan antara celebrity worship, psychological well-being, dan agresi verbal pada remaja penggemar K-Pop NCT. Agresi verbal merujuk pada perilaku yang bermaksud melukai, mengintimidasi, atau membahayakan seseorang secara verbal maupun fisik. Agresi verbal meliputi penggunaan kata-kata ejekan, bahasa kasar, ekspresi kebencian, dan sarkasme. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan populasi sebanyak 205 penggemar K-Pop NCT yang tergabung dalam komunitas "Neo City Area". Subjek penelitian terdiri dari 124 remaja penggemar K-Pop NCT, berusia 15-19 tahun, yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Likert, dengan instrumen pengukuran yang terdiri dari the aggression scale, celebrity attitude scale, dan psychological well-being scale (PWBS). Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa terdapat hubungan simultan antara celebrity worship dan psychological well-being terhadap agresi verbal. Secara parsial, ditemukan hubungan positif antara celebrity worship dan agresi verbal, sementara psychological well-being terkait secara negatif dengan agresi verbal. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat celebrity worship, maka psychological well-being akan menurun, dan sebaliknya, semakin tinggi tingkat agresi verbal pada remaja penggemar K-Pop NCT.
Meningkatkan Regulasi Emosi dengan Mengurangi Deindividuasi pada Gen Z dalam Mencegah Perilaku Hate Speech pada Media Sosial Rahma, Dwi Nur; Matulessy, Andik; Pratitis, Nindia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9913

Abstract

Social media is a tool that allows someone to interact online without being limited by space and time. One of them is the social media Instagram, whose existence is often misused by irresponsible users to behave in hate speech. Group situations allow a person's self-awareness to be reduced and with low emotional regulation it allows a person to behave hate speech. This study aims to determine the relationship between deindividuation and emotion regulation with hate speech behavior in Generation Z who use social media. The method used in this research is quantitative correlation with a total of 115 Generation Z subjects aged 18-28 years. The collection of subjects using incidental sampling technique. The results of data analysis using Spearman's Rho Non-Parametric Correlation produced a significant positive relationship between Deindividuation and Hate Speech behavior in Generation Z of social media users and there was a significant negative relationship between Emotion Regulation and Hate Speech Behavior in Generation Z of social media users. The existence of a positive relationship means that the higher the deindividuation in Generation Z, the higher the Hate Speech behavior and vice versa. The existence of a negative relationship means that the lower the Emotion Regulation in Generation Z, the higher Hate Speech behavior will be and vice versa. Media sosial merupakan sarana yang memungkinkan seseorang dapat berhubungan secara online tanpa dibatasi ruang dan waktu. Salah satunya adalah media sosial instagram, keberadaannya sering disalahgunakan pengguna yang tidak bertanggung jawab untuk berperilaku hate speech. Situasi kelompok memungkinkan kesadaran diri seseorang akan berkurang dan dengan regulasi emosi yang rendah maka memungkinkan seseorang untuk berperilaku hate speech. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara deindividuasi dan regulasi emosi dengan perilaku hate speech pada Generasi Z pengguna media sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan jumlah subjek sebanyak 115 Generasi Z yang berusia 18-28 tahun. Pengumpulan subjek menggunakan teknik insidental sampling. Hasil analisis data menggunakan Korelasi Non-parametrik Spearman’s Rho menghasilkan hubungan positif yang signifikan antara Deindividuasi dengan perilaku Hate Speech pada Generasi Z pengguna media sosial serta terdapat hubungan negatif yang signifikan antara Regulasi Emosi dengan Perilaku Hate Speech pada Generasi Z pengguna media sosial. Adanya hubungan positif dapat diartikan bahwa semakin tinggi deindividuasi pada Generasi Z maka perilaku Hate Speech juga semakin tinggi dan sebaliknya. Adanya hubungan negatif dapat diartikan bahwa semakin rendah Regulasi Emosi pada Generasi Z maka perilaku Hate Speech akan semakin tinggi dan begitu juga sebaliknya.
Homesickness pada mahasiswa rantau tahun pertama: Apakah berhubungan dengan cultural intelligence dan happiness? Nisa, Mahfudhotin Nur Khoirotun; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9914

Abstract

This research aimed to determine the relationship between cultural intelligence and happiness with homesickness in first year overseas students. Homesickness refers to feelings of suffering caused by the loss of leaving home. Homesickness is characterized by feelings of loneliness, discomfort and difficulty adjusting to a new environment. This study used 101 subjects who were students on campus Sukolilo city of Surabaya class of the first year. Data collection in this study used a Likert scale, using measurement instruments consisting of a homesickness questionnaire (HQ), cultural intelligence scale and happiness scale. Simultans Bayesian Regression Analysis shows that there is a relationship between cultural intelligence and happiness on homesickness. Partially, cultural intelligence and happiness can be significant predictors of homesickness. That is, the higher the cultural intelligence and happiness, the lower the homesickness of a first year overseas student. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cultural intelligence dan happiness dengan homesickness pada mahasiswa rantau tahun pertama. Homesickness merujuk pada perasaan menderita yang disebabkan oleh perasaan kehilangan karena meninggalkan rumah. Homesickness ditandai dengan munculnya rasa kesepian, ketidaknyamanan, dan sulit untuk melakukan penyesuaian diri di lingkungan yang baru. Penelitian ini menggunakan 101 subjek yang merupakan mahasiswa yang berada di kampus kecamatan Sukolilo kota Surabaya angkatan tahun pertama. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala likert, dengan menggunakan instrumen pengukuran yang terdiri dari homesickness questionnaire (HQ), cultural intelligence scale, dan happiness scale. Analisis Regresi Bayesian secara simultan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara cultural intelligence dan happiness terhadap homesickness. Secara parsial, cultural intelligence dan happiness dapat menjadi prediktor yang signifikan terhadap homesickness. Artinya, semakin tinggi cultural intelligence dan happiness maka semakin rendah homesickness yang dimiliki mahasiswa rantau tahun pertama.
Membuka Potensi: Menyelidiki Dampak Minat Belajar terhadap Motivasi Belajar di Kalangan Remaja Kelas 2 Sekolah Menengah Pertama Uno, Maharani Firdza Ramdhani; Sukiatni, Dwi Sarwindah; Rina, Amherstia Pasca
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9915

Abstract

Students as the main subject in the school environment are individuals who take part in the teaching and learning process. Having interest and motivation to learn in students is important in the teaching and learning process so that the knowledge provided by educators is optimal and can be developed properly by these students. However, not all students have the same interest and motivation to learn in pursuing education. The purpose of the study was to determine how the relationship between interest in learning and motivation to learn in adolescent junior high school students in grade 2. This study used Pearson product moment analysis technique. The sampling technique used was purposive sampling with respondents of grade 2 junior high school students. In this study, 111 respondents were obtained. The sampling technique used purposive sampling. The results show that interest in learning with learning motivation has a significant relationship. So it can be said that if the higher the interest in learning, the higher the learning motivation. Conversely, the lower the interest in learning, the lower the learning motivation in 2nd grade high school students. So the hypothesis in this study can be accepted, namely that there is a positive relationship between interest in learning and learning motivation in 2nd grade high school students. Siswa sebagai subjek utama dalam lingkungan sekolah merupakan individu yang ikut andil dalam proses belajar mengajar. Memiliki minat dan motivasi belajar dalam diri siswa merupakan hal yang penting dalam proses belajar mengajar agar tercapainya ilmu yang diberikan oleh tenaga pendidik secara optimal dan dapat di kembangkan dengan baik oleh siswa tersebut. Akan tetapi, tidak semua siswa memiliki minat dan motivasi belajar yang sama dalam menempuh pendidikan. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui bagaimana Hubungan Antara Minat Belajar Dengan Motivasi Belajar Pada Remaja Siswa SMP Kelas 2. Penelitian ini menggunakan Teknik analisis pearson product moment. Teknik pengambilan sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling dengan responden siswa kelas 2 SMP. Pada penelitian ini didapat responden sebanyak 111 responden.Teknik pengambilan sampling menggunakan purposive sampling. Hasil menunjukkan bahwa minat belajar dengan motivasi belajar memiliki hubungan yang signifikan. Maka dapat dikatakan jika minat belajar semakin tinggi, maka semakin tinggi juga motivasi belajar. Sebaliknya, semakin rendah minat belajar maka akan semakin rendah juga motivasi belajar pada siswa smp kelas 2. Maka hipotesis pada penelitian ini dapat diterima yaitu ada hubungan positif antara minat belajar dengan motivasi belajar pada siswa smp kelas 2.
Efektivitas Terapi Self Healing Untuk Meningkatkan Kebahagiaan Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Tobeli, Melissa Kezia Yuliana; Sukiatni, Dwi Sarwindah; Rina, Amherstia Pasca
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9916

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of self-healing therapy to increase happiness in final year students. This study uses quantitative experiments to achieve research objectives. The subjects used in this study were final year undergraduate students in Surabaya. The measuring tool uses a happiness scale and a self-healing therapy module. Research data were analyzed using non-parametric Mann Whitney U Test The results of the study using the non-parametric data analysis of the Mann Whitney U Test yielded a Z score = -2,241 with a significance of 0.025 (p > 0.05). So There are differences in the level of happiness in the experimental group. In this result it can be interpreted that effective self-healing therapy is given to increase happiness in final year students. The hypothesis that self-healing therapy is effectively used to increase happiness in final year students at the university of 17 August 1945 in Surabaya is accepted. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi self healing untuk meningkatkan kebahagiaan pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan kuantitatif eksperimen untuk mencapai tujuan penelitian. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mahasiswa tingkat akhir untag surabaya. Alat ukur menggunakan skala kebahagiaan dan modul terapi self healing. data penelitian dianalisis menggunakan non parametrik Mann Whitney U Test. Hasil penelitian yang menggunakan analisis data non parametrik Mann Whitney U Test mendapatkan hasil Z skor = -2.241 signifikansi 0,025 (p > 0,05). Maka adanya perbedaan tingkat kebahagiaan pada kelompok eksperimen. Pada hasil ini dapat dimaknai bahwa terapi self healing efektif diberikan untuk meningkatkan kebahagiaan pada mahasiswa tingkat akhir. Hipotesis yang berbunyi terapi self healing efektif digunakan untuk meningkatkan kebahagiaan pada mahasiswa tingkat akhir di universitas 17 agustus 1945 surabaya diterima.

Page 4 of 26 | Total Record : 260