Articles
1,052 Documents
Agresi fisik dalam Pacaran pada Perspektif Seksis
Gabriel Amara Wijaya;
Nurchayati Nurchayati
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.44996
Abstract Violence in society is manifested in various forms, one of which is physical aggression. Physical aggression is the root of many cases of violence in love relationships which are manifested by sexist attitudes. This study aims to explore that sexist attitudes are one of the triggers for physical aggression that occurs in romantic relationships. This study is a qualitative research using case studies with data collection in the form of structured interviews and observations. The subjects of this study were four perpetrators of physical aggression to their partners. In this study, it was found that sexist attitudes played a major role in physical aggression against partners in romantic relationships. The sexist attitudes found are divided into three, namely paternalism, gender differentiation, and heterosexuality. Keywords: Sexist attitude, Physical aggression in dating, perpetrators of physical aggression. Abstrak Kekerasan di tengah masyarakat diwujudkan dalam berbagai bentuk salah satunya agresi fisik. Agresi fisik menjadi akar banyak kasus kekerasan dalam hubungan percintaan yang dimanifestasikan dari sikap seksis. Studi ini bertujuan untuk menggali bahwa sikap seksis sebagai salah satu pemicu agresi fisik yang terjadi pada hubungan percintaan. Studi ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan studi kasus dengan pengumpulan data berupa wawancara secara terstruktur dan observasi. Subjek dari studi ini adalah empat orang pelaku agresi fisik kepada pasangannya. Pada studi ini ditemukan bahwa sikap seksis berperan besar terhadap agresi fisik yang dilakukan kepada pasangan dalam hubungan percintaan. Sikap seksis yang ditemukan terbagi menjadi tiga berupa paternalisme, diferensiasi gender, dan heteroseksual. Kata Kunci: Sikap seksis, Agresi fisik dalam pacaran, pelaku agresi fisik
HUBUNGAN ANTARA GRATITUDE DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNESA DI MASA PANDEMI COVID-19
Thresia Putrianna Lumban Gaol;
Ira Darmawanti
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.44998
Abstrak Pandemi adalah situasi terjadinya suatu wabah penyakit yang menular dan menyebar secara meluas di seluruh negara. Kondisi ini mengarahkan mahasiswa pada situasi yang menjadi tantangan bagi dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Gratitude dengan Subjective Well-Being pada mahasiswa Psikologi UNESA di masa pandemi Covid-19. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif korelasional dengan subjek penelitian berjumlah 188 mahasiswa sebagai partisipan dan 30 mahasiswa sebagai sampel tryout. Teknik analisis data menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil analisis korelasi menunjukan bahwa terdapat nilai signifikansi pada Gratitude dengan Subjective well-being sebesar 0.000 (Sig. < 0.05) yaitu kurang dari 0.05 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.638 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Gratitude dengan Subjective Well-Being pada mahasiswa Psikologi UNESA di masa pandemi Covid-19. Hasil menunjukan terdapat hubungan yang kuat dan memiliki arah hubungan yang positif sehingga apabila Gratitude (X) meningkat maka Subjective Well-Being (Y) juga meningkat, begitupun sebaliknya. Penelitian ini menunjukkan besaran kontribusi variabel Gratitude terhadap Subjective Well-Being adalah sebesar 40.7% sedangkan 59.3% sisanya disumbangkan oleh faktor lain. Kata Kunci : Bersyukur, Kesejahteraan Subjektif, Mahasiswa, Pandemi Covid-19 Abstract A pandemic is a situation where there is an outbreak of a disease that is contagious and spreads widely throughout the country. This condition leads students to situations that are challenging for them. This study aims to determine the relationship between gratitude and subjective well-being in (State University of Surabaya Psychology students during the Covid-19 pandemic. The research was conducted using Correlational Quantitative methods with the research subjects totaling 188 students as participants and 30 students as the tryout sample. The data analysis technique used Pearson Product Moment correlation. Based on the results of the correlation analysis, it shows that there is a significance value in Gratitude with Subjective well-being of 0.000 (Sig. <0.05), which is less than 0.05 with a correlation coefficient value of 0.638 so it can be concluded that there is a significant relationship between Gratitude with Subjective Well-Being to Universitas Negeri Surabaya Psychology students during the Covid-19 Pandemic. The results show that there is a strong relationship and has a positive direction, so that when Gratitude (X) increases, Subjective Well-Being (Y) also increases, and vice versa. This study shows that the contribution of the Gratitude variable to Subjective Well-Being is 40.7%, while the remaining 59.3% is contributed by other factors. Keywords : Gratitude, Subjective Well-Being, Students, Covid-19 Pandemic
HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA GURU
Yunita Maulidia;
Hermien Laksmiwati
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45020
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja terhadap organizational citizenship behavior (OCB) pada guru. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh pengajar SD Muhammadiyah X. Teknik penentuan sampel menggunakan sampling jenuh yang berjumlah 65 guru dengan masa kerja 2 tahun. Teknik analisis data penelitian menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Berdasarkan uji korelasi menunjukkan nilai signifikan 0.000 (p<0.05) artinya terdapat hubungan signifikan antara kepuasan kerja dengan organizational citizenship behavior. Hasil dari nilai koefisien korelasi menunjukkan sebesar 0.772 (r=0.772) sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan antara variabel kepuasan dengan organizational citizenship behavior berada pada kategori kuat serta berhubungan positif atau searah. Hubungan positif diartikan bahwa semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan oleh guru, maka semakin tinggi pula organizational citizenship behaviornya. Sebaliknya, jika kepuasan kerja yang dirasakan rendah maka semakin rendah pula organizational citizenship behavior pada guru. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Organizational Citizenship Behavior, Guru Abstract This study aims to determine the relationship between job satisfaction and organizational citizenship behavior (OCB) in teachers. The research was conducted using quantitative research methods. The research population was all teachers of SD Muhammadiyah X. The sampling technique used saturated sampling with a total of 65 teachers with a working period of 2 years. The research data analysis technique uses Pearson Product Moment correlation. Based on the correlation test, it shows a significant value of 0.000 (p <0.05), meaning that there is a significant relationship between job satisfaction and organizational citizenship behavior. The results of the correlation coefficient value show 0.772 (r = 0.772) so ??it can be concluded that the relationship between the variables of satisfaction with organizational citizenship behavior is in the strong category and has a positive or unidirectional relationship. A positive relationship means that the higher the job satisfaction felt by the teacher, the higher the organizational citizenship behavior. Conversely, if the perceived job satisfaction is low, the lower the organizational citizenship behavior of teachers. Keywords: Job Satisfaction, Organizational Citizenship Behavior, Teachers
PERBEDAAN KETANGGUHAN MENTAL ATLET PELAJAR LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Mila Ayu Octavianti Putri;
Miftakhul Jannah
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45021
Abstrak Atlet pencak silat dalam berforma salah satunya dipengaruhi faktor psikologis. Atlet pencak silat yang mengalami kecemasan olahraga akan mempengaruhi pencapaian performa optimalnya. Kecemasan olahraga salah satunya dipengaruhi oleh mental toughness merupakan salah satu karakteristik psikologis yang paling penting dalam olahraga prestasi. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui hubungan yang terjadi antara mental toughness dengan kecemasan olahraga pada atlet pencak silat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Sampel jenuh digunakan pada penelitian ini. Maknanya seluruh populasi digunakan sebagai sampel penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah atlet pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate Sidoarjo sebanyak 149 atlet. Rentang usia 15-19 tahun, dengan jumlah atlet laki-laki 87 dan atlet perempuan 33. Instrumen adalah skala mental toughness yang disusun berdasarkan Gucciardi et al., berjumlah 9 item. Data kecemasan olahraga diperoleh dari instrumen skala kecemasan olahraga yang disusun dari Smith et al., berjumlah 15 item. Teknik analisis data yakni dengan menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien -0.058 dengan signifikansi 0,529 (p>0,05). Artinya tidak terdapat hubungan antara mental toughness dengan kecemasan olahraga. Mental toughness memang berpotensi dalam mengatasi rasa cemas atlet. Namun, mental toughness sebagai kecerdasan emosional dengan kecemasan olahraga sebagai tekanan psikologis tidak secara langsung berhubungan. Keterampilan dasar ini tidak dapat membuktikan atlet dalam menguraikan kecemasannya ketika bertanding dan berlatih. Kata kunci: Kecemasan Olahraga, Mental toughness, Atlet Pencak Silat Abstract One of the forms of pencak silat athletes is influenced by psychological factors. Pencak silat athletes who experience sports anxiety will affect the achievement of optimal performance. Sports anxiety, one of which is influenced by mental toughness, is one of the most important psychological characteristics in achievement sports. The purpose of this study was to determine the relationship between mental toughness and sports anxiety in pencak silat athletes. This study uses quantitative methods. Saturated sample was used in this study. This means that the entire population is used as the research sample. The population in this study was the pencak silat athletes of the Setia Hati Terate Sidoarjo Brotherhood as many as 149 athletes. The age range is 15-19 years, with 87 male athletes and 33 female athletes. The instrument is a mental toughness scale based on Gucciardi et al., totaling 9 items. Sports anxiety data obtained from the sports anxiety scale instrument compiled from Smith et al., totaling 15 items. Data analysis technique is by using product moment correlation. The results showed the coefficient value -0.058 with a significance of 0.529 (p>0.05). This means that there is no relationship between mental toughness and sports anxiety. Mental toughness has the potential to overcome athlete's anxiety. However, mental toughness as emotional intelligence with sports anxiety as psychological stress is not directly related. These basic skills cannot prove that athletes can describe their anxiety when competing and practicing. Key words: Sports Anxiety, Mental toughness, Pencak Silat Athletes
GAMBARAN PENERIMAAN DIRI PADA LANSIA YANG DITITIPKAN OLEH KELUARGA DI PANTI SOSIAL
Puteri Qurrota Ayyunin Maulidhea;
Muhammad Syafiq
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45024
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerimaan diri pada lansia yang dititipkan oleh keluarga di panti sosial, serta faktor-faktor yang mempengaruh penerimaan dirinya. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan di Yayasan Hargo dedali Surabaya dengan partisipan berjumlah tiga orang yang berjenis kelamin perempuan. Penelitian ini menghasilkan empat tema terkait penerimaan diri yaitu kesadaran diri, pengembangan potensi, persepsi terhadap peristiwa negatif, dan penilaian positif terhadap diri sendiri, serta satu tema terkait faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa ketiga lansia memiliki penerimaan diri yang cukup baik karena beberapa aspek dari penerimaan diri telah terpenuhi, namun pada dua partisipan masih memiliki kontrol emosi yang buruk ketika menghadapi peristiwa negatif seperti perselisisahn dengan teman. Kata kunci: Penerimaan diri, lansia, panti sosial Abstract This study aims to determine the description of self-acceptance in the elderly who are entrusted by their families in social institutions, as well as the factors that influence their self-acceptance. The method used is qualitative with a case study approach. Data collection was carried out at the Hargo Dedali Foundation in Surabaya with three female participants. This study resulted in four themes related to self-acceptance, namely self-awareness, potential development, perception of negative events, and positive self-assessment, as well as a theme related to factors that influence self-acceptance. The results of this study can be seen that the three elderly have fairly good self-acceptance because several aspects of self-acceptance have been fulfilled, but two participants still have poor emotional control when facing negative events such as disputes with friends. Keywords: Self-acceptance, the elderly, social institutions
MENTAL TOUGHNESS DAN COMPETITIVE ANXIETY ATLET DISABILITAS
Maya Nisaul Magfiroh;
Miftakhul Jannah
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45026
Atlet disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan berprestasi pada bidang olahraga. Competiitve anxiety pada atlet disabilitas dapat mempengaruhi performa dalam bertanding sehingga diperlukan mental toughness yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara mental toughness dengan competitive anxiety pada atlet disabilitas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan sampling jenuh. Populasi dalam penelitian ini adalah 69 orang atlet disabilitas NPCI Jawa Timur. Untuk memperoleh data, digunakan skala mental toughness yang diadaptasi dari Gucciardi et al. (2009) yang terdiri dari 24 item dan skala competitive anxiety yang disusun berdasarkan CSAI-2R dari Martinent et al. (2010) yang terdiri dari 16 item. Teknik analisis data menggunakan uji regresi linier dan korelasi product moment dengan bantuan JASP 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara mental toughness dengan competitive anxiety secara signifikan dengan p value 0,018 (p<0,1) dan r value -0,284 (rhitung>0.267). Sehingga semakin tinggi mental toughness yang dimiliki atlet disabilitas dalam menghadapi pertandingan maka semakin rendah tingkat competitive anxiety yang dialami. Kata Kunci: atlet disabilitas, mental toughness, competitive anxiety. Abstract Athletes with disabilities have the same opportunity to develop their potential and have achievement in sports. Competitive anxiety in athletes with disabilities can affect performance in competition so that a high mental toughness is needed. This study aims to determine whether there is a relationship between mental toughness and competitive anxiety in athletes. The approach used in this research is correlational quantitative. The sampling technique used in this study was saturated sampling. The population in this study were 69 athletes with disabilities from NPCI East Java. In obtaining the data, the mental toughness scale used was adapted from Gucciardi et al. (2009) which consist of 24 items and a competitive anxiety scale based on the CSAI-2R from Martinent et al. (2010) which consists of 16 items. The data analysis technique used linear regression test and product moment correlation with the help of JASP 16.0 for windows. The results showed that there was a significant negative relationship between mental toughness and competitive anxiety with p-values ??of 0,018 (p < 0.1) and -0,284 (rcount> 0.267). So the higher the mental toughness of the disabled athlete in facing the competition, the level of competitive anxiety will be decrease. Keywords: athletes with disabilities, mental toughness, competitive anxiety.
SELF EFFICACY DAN SPORT ANXIETY ATLET BELADIRI
Muhammad Jaka Permata Adji;
Miftakhul Jannah
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45027
Abstrak Atlet beladiri harus mampu menguasai situasi baik pada saat menyerang maupun bertahan. Beragam resiko menjadi ancaman tersendiri karena tergolong jenis olahraga body contact. Ancaman tersebut berpotensi menyebabkan atlet mengalami berbagai permasalahan psikologis seperti kecemasan olahraga. Dampaknya atlet menjadi terganggu performa olahraganya. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah self efficacy. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan kecemasan pada atlet beladiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah atlet beladiri di Kabupaten Pasuruan. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 105 orang atlet, meliputi cabang beladiri karate, pencak silat, kick boxing, taekwondo. Rentang usia 13- 20 tahun dengan 72 laki laki dan 33 perempuan. Data self efficacy diperoleh dengan skala roundhouse kick self?efficacy scale (RKES) dan data kecemasan olahraga menggunakan sport anxiety scale-2 (SAS-2). Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi -0,315 (p=0,001). Artinya semakin tinggi efikasi maka akan semakin rendah kecemasan olahraga atlet beladiri. Self efficacy yang dimiliki oleh atlet dapat membantu mengontrol dan mengurangi emosi negatif. Hal ini membuat atlet menjadi lebih tahan dan berani dalam menghadapi situasi yang mengancam dan penuh tekanan. Kata Kunci : Atlet beladiri, Body Contact, Self efficacy, Kecemasan Olahraga. Abstract Martial athletes must be able to master the situation both when attacking and defending. Various risks are a threat because it is a type of body contact sport. These threats have the potential to cause athletes to experience various psychological problems such as anxiety. As a result, athletes will be disrupted in their sports performance. One of the factors that influence anxiety is self-efficacy. The purpose of this study was to determine the relationship between self-efficacy and anxiety in martial athletes. The method used in this research is correlational quantitative method. The population in this study were martial arts athletes in Pasuruan Regency. The sampling technique used was accidental sampling. The sample in this study was 105 athletes, covering the branches of karate, pencak silat, kick boxing, taekwondo. Age range 13-20 years with 72 boys and 33 girls. Self-efficacy data was obtained using a roundhouse kick self-efficacy scale (RKES) and anxiety data using a sport anxiety scale-2 (SAS-2). The data analysis technique used is Pearson correlation. The results showed a correlation value of -0.315 (p=0.001). This means that the higher the efficacy, the lower the anxiety of the martial arts athlete. Self-efficacy possessed by athletes can help control and reduce negative emotions. This makes athletes more resilient and courageous in dealing with threatening and stressful situations. Keywords : Martial athletes, Body Contact, Self-efficacy, Sport Anxiety.
AKTIVITAS OLAHRAGA DAN STRES AKADEMIK MAHASISWA YANG MENGERJAKAN SKRIPSI
Tasya Aqilla Zahra Sitepu;
Miftakhul Jannah
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45028
Abstrak Mahasiswa rentan mengalami stres saat sedang mengerjakan skripsi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa dengan berolahraga tubuh akan meningkatkan kekebalan terhadap stres, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara aktivitas olahraga dengan stres akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 178 mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dengan 73 sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan pengumpulan data berupa google form. Instrumen yang digunakan yaitu Global Physical Activity Questionnaire yang dikembangkan oleh WHO (2012) dan skala stres akademik yang diadaptasi dari Budewy dan Gabriel (2015) Perception of Academic Stress Scale (PAS). Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas olahraga dengan stres akademik. Semakin tinggi tingkat aktivitas olahraga maka semakin rendah stres akademik. Kata Kunci : Aktivitas olahraga, stres akademik skripsi. Abstract Students are prone to experiencing stress while working on their thesis. Several studies have stated that by exercising the body will increase immunity to stress, so the purpose of this study was to determine the relationship between sports activities and academic stress in students who are working on their thesis. This study uses a correlational quantitative method with a cross-sectional approach. The population is 178 students who are working on a thesis with 73 research samples. The sampling technique of this study used simple random sampling with data collection in the form of google form. The instruments used are the Global Physical Activity Questionnaire developed by WHO (2012) and the academic stress scale adapted from Budewy and Gabriel (2015) Perception of Academic Stress Scale (PAS). Data analysis was carried out using the product moment correlation technique. The results of this study indicate that there is a significant relationship between sports activities and academic stress. The higher the level of sports activity, the lower the academic stress. Keywords : Exercise activities, academic stress, thesis.
MENTAL TOUGHNESS DAN RISK TAKING BEHAVIOR PENDAKI GUNUNG
Ivania Ardiningrum;
Miftakhul Jannah
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45029
Abstrak Mental toughness memiliki peranan penting bagi pendaki gunung. Fungsi mental toughness yaitu untuk pertahanan diri pendaki ketika berhadapan dengan risiko selama melakukan pendakian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara mental toughness dengan risk taking behavior pada pendaki gunung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dimana peneliti melibatkan 100 orang yang tergabung dalam organisasi Wanadri dengan rentang usia 18-50 tahun. Data penelitian diperoleh dari adaptasi skala mental toughness milik Clough et al, serta skala risk taking behavior milik Woodman et al. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi product moment dengan bantuan Software JASP 0.15 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara variabel mental toughness dengan risk takimg behavior dengan nilai koefisien sebesar 0.663 dan taraf signifikan 0.001 (p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif diantara kedua variabel, sehingga mental toughness pendaki gunung dapat menentukan tingkat risk taking behavior yang dimilikinya. Kata Kunci: mental toughness, risk taking behavior, pendaki gunung Abstract Mental toughness has an important role for mountain climbers. The mental toughness function is for the climber's self-defense when dealing with risks during the ascent. This study aims to determine the relationship between mental toughness and risk taking behavior in mountain climbers. The method used in this research is correlational quantitative method. This study uses a purposive sampling technique in which the researchers involved 100 people who are members of the Wanadri organization with an age range of 18-50 years. The research data were obtained from adaptation of Clough et al's mental toughness scale, and Woodman et al's risk taking behavior scale. The data analysis technique uses the product moment correlation test with the help of JASP 0.15 software for Windows. The results showed that there was a relationship between the mental toughness variable and risk takimg behavior with a coefficient value of 0.663 and a significant level of 0.001 (p <0.05). This shows that there is a positive correlation between the two variables, so that the mental toughness of mountain climbers can determine the level of risk taking behavior they have. Keywords: mental toughness, risk taking behavior, mountain climbers
SENSATION SEEKING DAN RISK TAKING BEHAVIOR PENDAKI GUNUNG
Frysta Dwi Permadani;
Miftakhul Jannah
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45031
Abstrak Penelitian dilatar belakangi pentingnya risk taking behavior pada pendaki dalam mengambil keputusan sebelum melakukan pendakian. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pengalaman yang berharga dan lebih mempersiapkan terkait risiko yang akan dialami baik itu secara fisik, emosional, finansial, maupun sosial. Salah satu faktor yang memberi pengaruh terhadap risk taking behavior ialah sensation seeking. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara sensation seeking dengan risk taking behavior pada pendaki gunung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel mengunakan teknik sampel jenuh, dimana seluruh populasi digunakan dalam penelitian. Jumlah populasi dan sampel terdiri dari 80 orang pendaki di komunitas Jejak Angin Alas. Rentang usia 17-30 tahun, dengan jumlah laki-laki 62 orang dan perempuan berjumlah 38 orang. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala sensation seeking scale yang disusun berdasarkan teori zuckerman, berjumlah 40 item. Instrumen risk taking behavior menggunakan skala risk taking inventory yang disusun berdasarkan teori woodmen et al., berjumlah 7 item. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil dari penelitian ini diperoleh nilai koefeisen korelasi sebesar 0,431 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Dapat diartikan bahwasannya terdapat hubungan yang signfikan antara sensation seeking dengan risk taking behavior pada pendaki gunung. Kata Kunci: sensation seeking, risk taking behavior, pendaki gunung Abstract The background of the research is the importance of risk taking behavior for climbers in making decisions before climbing. It aims to gain valuable experience and be better prepared regarding the risks that will be experienced, both physically, socially, and financially. One of the factors that influence risk taking behavior is sensation seeking. The purpose of this study is to determine the relationship between sensation seeking and risk taking behavior on mountain climbers. This research uses quantitative research methods. The sampling technique used was the saturated sample technique, where the entire population was used in the study. The total population and sample consisted of 80 climbers in the Jejak Angin Alas community. The age range is 17-30 years, with 62 males and 38 females. Data collection in this study used a sensation seeking scale based on the Zuckerman scale of 40 items. Theinstrument risk-taking behavior uses ascale risk-taking inventory based on Woodmen et al., totaling 7 items. The data analysis technique uses thecorrelation technique product moment. The results of this study indicate the value of the correlation coefficient of 0.431 with a significance value of 0.000. It can be interpreted that there is a significant relationship between sensation seeking and risk taking behavior on mountain climbers. Keywords: sensation seeking, risk taking behavior, mountain climber