cover
Contact Name
Ega Fausta
Contact Email
egafaustaa@gmail.com
Phone
+628156066389
Journal Mail Official
jurnalawilaras@gmail.com
Editorial Address
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Gd. Prodi Angklung dan Musik Bambu Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Awilaras
ISSN : 24076627     EISSN : 29884098     DOI : https://doi.org/10.26742/jal
Awilaras is a journal that focuses on the study of music and its development, open to various approaches that aim to provide encouragement and become a means of dialogue on issues of music and performing arts. The spectrum of topics includes: 1. Folk/Traditional Music 2. Contemporary Music 3. Music Performance/Composition 4. Review of Nusantara Music 5. Anthropology 6. Sociology of Music 7. Ethnomusicology 8. World Music Culture/Global Music 9. Digital Music Studies 10 Music History and Archaeomusicology 11. Intercultural/Multicultural Music Studies 12. Music Education 13. Music Therapy 14. Aesthetic and Music Criticism 15. Musician and composer Profile and Thought 16. Artistic Review of the Music Creativity Process 17. Ethnography of Music 18. Organology 19. Sound and Visual 20. Music Management
Articles 36 Documents
PENGARUH TENDENSI PREFERENSI MUSIK DALAM PERILAKU SOSIAL PENONTON SAAT KONSER BAND Kurniawan, Rahmat
Awilaras Vol 10 No 2 (2023): JURNAL AWILARAS
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v10i2.2881

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh selera musik dalam menentukan perilaku sosial kelompok masyarakat yang memiliki karakter tendensi preferensi musik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus pada konser band. Dalam penelitian menggunakan teori oleh Juul Mulder, jenis musik yang memiliki dampak negatif terhadap perilaku sosial di masyarakat adalah genre musik rock, heavy-metal, rap/hip-hop. Dalam teori dilakukan di negara Belanda, namun berbeda kondisi dengan fenomena yang terjadi di Indonesia ketika digelar sebuah konser musik rock. Ada dua fenomena yang berbeda dari kedua konser tersebut, di mana masing-masing kelompok musik mengusung genre yang sama dengan hasil penelitian Juul Mulder yaitu musik rock. Hasilnya yaitu konser yang pertama dari kelompok musik Amerika Dream Theater sama sekali tidak menunjukkan perilaku negatif dari penggemar kelompok tersebut yang mendatangi konsernya. Sedangkan konser musik yang kedua dari kelompok musik Slank menunjukkan perilaku yang cenderung negatif dari para penggemarnya. Dari kedua fenomena tersebut ada faktor selain preferensi musik yang membentuk perilaku negatif dari penggemar kelompok musik. Beberapa hal terbukti disimpulkan terkait hal yang relevan hubungan antara preferensi musik dan perilaku yang bermasalah. Pertama mencontohkan perilaku dan sikap mereka pada media musik yang meraka pilih. Kedua, posisi sosial penonton dan masalah psikososial yang sudah ada sebelumnya dapat mempengaruhi pilihan musik. Dan ketiga preferensi musik mendorong penonton ke arah musik yang benyak bercirikan permasalah perilaku kenakalan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba, perasaan depresi.
ANGGANA: KOMPOSISI UNTUK SOLO KACAPI KARYA DEDDY SATYA HADIANDA (SEBUAH ANALISIS STRUKTUR TEKNIK DAN HARMONI) Subagja, Ricky; Winata, Wahyu
Awilaras Vol 10 No 2 (2023): JURNAL AWILARAS
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v10i2.2889

Abstract

Anggana merupakan karya Dedy Satya Hadianda seorang komponis asal Bandung yang dibuat sekitar tahun 1987-an. Karya ini diciptakan untuk format  solo kacapi pertama dalam dunia karawitan sunda. Tidak berlebihan disematkan demikian lantaran dalam dunia karawitan tradisional, setiap komposisi selalu syarat akan element vokal, berlirik dan atau berformat ensembel. Tidak mengurangi nilai musikal yang tradisional yang memiliki bahasa dan karakteristiknya sendiri, Anggana disusun sedemikian pelik mempertimbangkan struktur maupun teknik-tekniknya, diracik sedemikain dramatik dalam setiap bagiannya, dan disajikan secara ekspresif sebagai daya magisnya dengan satu buah kacapi konvensional. Dedy sang komposer seolah ingin mengungkapkan kepiawaiannya dalam mengeksplorasi, mengolah dan menciptakan susunan-susunan motifis yang beragam pada setiap bagian karya Anggana. Melalui penjelajahan dinamika yang ekspresif dan kontur melodi yang kompleks menunjukan kedalaman pemahaman akan musikalitas dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anggana seolah ingin menunjukan bahwa satu buah instrumen konvensional dengan memiliki banyak keterbatasan pun bisa dieksplorasi sedemikian rupa yang tak kalah menarik dengan sajian bentuk-bentuk sonata ataupun fuga. Anggana tak ayal menjadi sumbangsih penting untuk menambah kekayaan dunia karawitan sunda, sekaligus memberikan penawaran estetika serta logika baru dalam berkarya. Kata Kunci: Dedy Satya Hadianda, Anggana, Karawitan Sunda.Anggana is a composition by Dedy Satya Hadianda, a composer from Bandung, created around the 1980s. This piece is specifically crafted for the solo kacapi, a traditional Sundanese musical instrument. The significance lies in the fact that, in the realm of traditional Sundanese music (karawitan), compositions typically involve vocal elements, lyrics, and ensemble formats. Without diminishing the value of traditional musicality, which has its own language and characteristics, Anggana is intricately composed, considering both its structure and techniques. It is woven with dramatic intricacy in each section and presented expressively, utilizing a conventional kacapi.Dedy, the composer, seems to aim at showcasing his skill in exploring, manipulating, and creating diverse motifs throughout Anggana. Through expressive dynamic explorations and complex melodic contours, the composition demonstrates a profound understanding of musicality and the breadth of the composer's experience. Anggana appears to assert that even with the inherent limitations of a conventional instrument, such as the kacapi, it can be explored in a manner that is equally captivating as more familiar forms like sonatas or fugues. Undoubtedly, Anggana contributes significantly to enriching the world of Sundanese karawitan, offering new aesthetic and logical perspectives in musical creation. Keywords: Dedy Satya Hadianda, Anggana, Sundanese Karawitan.
“Luncur Laung” Reinterpretasi Vokal Kesenian Musik Tradisional Nandong Kedalam Komposisi Musik Karawitan Mulya, Puja Tri; Dwi Putra, Rizki Mona; Gusmanto, Rico
Awilaras Vol 11 No 1 (2024): Memahami Distingsi Budaya Melalui Musik Tradisional
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v11i1.3091

Abstract

ABSTRAK “LUNCUR LAUNG” adalah sebuah karya komposisi musik karawitan yang berangkat dari kesenian Nandong tepatnya pada setiap awalan penandong memulai syair. “LUNCUR LAUNG” terdiri dari dua suku kata, yang mana “LUNCUR” berarti meluncur dan “LAUNG” suara yang kuat (nyaring) yang diteriakan (untuk memanggil atau menyeru). Berarti kata “LUNCUR LAUNG” di dalam karya ini dianalogikan sebagai bentuk peluncuran bunyi yang kuat dan nyaring, hal ini terlihat jelas pada kesenian Nandong Simeulue yang mana vokal Over Range yang dibentuk dengan tiga unsur yaitu panjang, tinggi dan melengking tersebut menjadi karakter yang sangat kuat. Fokus karya adalah Over Range yang terdapat dalam vokal Nandong, Over Range disini yaitu merupakan suatu unsur vokal yang dipaksa hingga melewati batas range dari instrument, Over Range pada karya “LUNCUR LAUNG” ini akan diaktualisasikan melalui materi garap serta penggunaan teknik yang dapat mewujudkan ide darya karya ini, perubahan tempo, dan penggarapan harmoni. Karya ini digarap menggunakan pendekatan reintepretasi, dengan menjadikan Over Range serta tiga unsur yang membentuknya yaitu panjang, tinggi, dan melengking sebagai bahan garap melalui instrumen vokal, seurune kale, lili seurune kale, suling, gitar bass, dan gitar elektrik. Kata kunci: Nandong, Over Range, reinterpretasi, Luncur Laung,Vokal. ABSTRACT “LUNCUR LAUNG” is a work of musical composition based on Nandong art, precisely at the beginning of each penandong poem. “LAUNCUR LAUNG” consists of two syllables, where “LAUNCUR” means to glide and “LAUNG” is a strong (loud) sound that is shouted (to call or exclaim). This means that the word "LUNCUR LAUNG" in this work is analogous to a form of launching a strong and loud sound, this is clearly seen in the art of NandongSimeulue where the Over Range vocal which is formed with three elements, namely long, high and shrill, becomes a very strong character. The focus of the work is the Over Range contained in Nandong's vocals. Over Range here is a vocal element that is forced to exceed the range limits of the instrument. Over Range in the work "LUNCUR LAUNG" will be actualized through working on material and using techniques that can realize Darya's ideas. this work, tempo changes, and working on harmony. This work was worked on using a reinterpretation approach, by using Over Range and the three elements that form it, namely long, high and shrill, as material for the work using vocal instruments, seurune kale, liliseurune kale, flute, bass guitar and electric guitar. Keywords: Nandong, Over Range, reinterpretation, LuncurLaung, Vocal.
Sistem Nada Atau Tuning System pada Perangkat Gamelan Sekaten DI Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon Primamona, Dea Lunny
Awilaras Vol 11 No 1 (2024): Memahami Distingsi Budaya Melalui Musik Tradisional
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v11i1.3315

Abstract

Sekaten atau Muludan merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bunyi gamelan dikumandangkan di tiga kota yang memiliki sejarah kerajaan bercorak Islam-Jawa seperti Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon. Semua perangkat gamelan di ketiga kota tersebut menggunakan sistem nada mirip laras pelog pada karawitan Jawa pada umumnya. Meskipun terdengar seperti laras pelog, nada-nada yang ada di setiap perangkat gamelan tersebut sama sekali berbeda. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian khusus tentang pengukuran frekuensi dan jangkah nada yang dilakukan dengan metode deskripsi analitis dan pendekatan etnomusikologi. Hasil pengukuran frekuensi dan jangkah nada menghasilkan pengetahuan bahwa: (1) Perbedaan sistem nada mirip laras pelog terletak pada karakteristik, rasa, dan nuansa yang dihasilkan; (2) Ada beberapa perangkat gamelan yang rentang nada atau ambitusnya sangat sulit ditirukan oleh suara sopran manusia; dan (3) Pada sepasang gamelan di tiap kota yang sama, memiliki karakteristik, rasa, dan nuansa yang berbeda juga yang diakibatkan oleh adanya perbedaan frekuensi nada dari masing-masing instrumen. Catatan mengenai data musikal ini merupakan arsip penting bagi peneliti dan praktisi di bidang ilmu Etnomusikologi, Karawitan, maupun Musikologi di Nusantara.
Kesenian Beluk Kampung Cirangkong Desa Cikeusal Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya: Bentuk dan Struktur Grup Candralijaya Fahira, Rizkia -; Setiaji, Denden; Dharma, Budi
Awilaras Vol 11 No 1 (2024): Memahami Distingsi Budaya Melalui Musik Tradisional
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v11i1.3387

Abstract

Kesenian Beluk merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Beluk merupakan seni vokal tanpa instrumen masyarakat Sunda yang memiliki ciri khas suara yang unik karena dalam lantunan suaranya melengking dan meliuk-liuk sehingga dalam lantunannya memiliki nada yang tinggi sekitar 7-9 oktaf. Pada awalnya Beluk ini diperuntukan sebagai media komunikasi sekaligus media hiburan masyarakat saat ketika saat berladang, namun dengan seiring perkembangan zaman seni Beluk kini dipertunjukan di kalangan masyarakat umum untuk mengisi acara-acara tertentu dengan fungsi sebagai media hiburan khususnya di Kampung Cirangkong Desa Cikeusal Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini secara spesifik meneliti kesenian Beluk di Grup Candralijaya dengan tujuan untuk mendeskipsikan bagaimana bentuk dan struktur kesenian Beluk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu dengan mengumpulkan beberapa hasil yang dilakukan dengan beberapa teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi pustaka, dokumentasi, dan teknik analisis data. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah Bentuk dan Struktur pertunjukan kesenian Beluk grup Candralijaya ini memiliki tiga bagian dalam pertunjukannya yaitu bagian pembuka, bagian isi dan bagian penutup.
Hubungan Strategi Distinction Masyarakat Makassar Dengan Penggunaan Bebunyian Kultural Ganrang Pa‘Balle dalam Upacara Ritual Pernikahan Ali, Arhamuddin
Awilaras Vol 11 No 1 (2024): Memahami Distingsi Budaya Melalui Musik Tradisional
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v11i1.3388

Abstract

Penelitian kualitatif ini bertujuan membahas dan mengkritisi penggunaan bebunyian kultural ganrang pa’balle dalam konteks ritual pernikahan masyarakat Makassar. Data yang diperoleh berdasarkan observasi dan analisis literatur menunjukkan adanya perbedaan pola tabuhan ganrang pa’balle jika digunakan dalam pernikahan kalangan karaeng, anak karaeng paninik dan tau samarak. Berdasar dari konsep pemikiran Bourdieu, hal itu merupakan strategi distinction. Strategi ini digunakan oleh kalangan karaeng untuk melegitimasi dominasi relasi kuasanya terhadap kelas di bawahnya dalam konteks arena sosial.Kata kunci: ganrang pa’balle, pernikahan, distinction, dan relasi kuasa
Sisingaan dalam Upacara Khitanan: Tradisi dan Nilai Kultural Masyarakat Sunda Ayatullah, Ghildan Syarif
Awilaras Vol 11 No 1 (2024): Memahami Distingsi Budaya Melalui Musik Tradisional
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v11i1.3412

Abstract

Tradisi Sisingaan dari budaya Sunda di Jawa Barat merupakan kesenian yang berfungsi sebagai hiburan dan media penyampaian nilai moral serta agama. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran dan makna Sisingaan dalam acara khitanan anak laki-laki Sunda serta bagaimana tradisi ini beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi budayanya. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur, dengan pencarian sumber dari database akademik seperti Google Scholar, menggunakan kata kunci "Sisingaan Sunda" dan "Sisingaan dan khitanan". Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sisingaan adalah bagian integral dari acara khitanan, di mana anak yang akan dikhitan diarak dengan tandu berbentuk singa, diiringi musik tradisional Sunda dan tarian. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, keberanian, dan keteguhan iman yang diajarkan dalam Islam. Selain itu, praktik ziarah kubur dalam prosesi ini menunjukkan penghormatan terhadap leluhur, selaras dengan ajaran Islam mengenai pentingnya doa bagi yang telah meninggal. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya mempertahankan tradisi Sisingaan sebagai bagian dari identitas budaya dan keagamaan masyarakat Sunda. Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya Sisingaan dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi, serta perlunya adaptasi agar tetap relevan dan bermakna bagi generasi mendatang.
“Tene Simah Kuet” Reinterpretasi Kesenian Musik Tradisional Didong Kedalam Komposisi Musik Karawitan. Bengi, Windi Simah; Surya Rahman; Rico Gusmanto; Dwi Putra , Rizki Mona
Awilaras Vol 11 No 2 (2024): Seni : Sinergi Tradisi dan Teknologi
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Tene Simah Kuet” is a karawitan musical composition that originates from the regum/code music element in Didong art. In Didong art, regum plays an important role as a marker for the end of the game. “Tene Simah Kuet” can be interpreted as a sign/marker that carries power in the form of changes in tempo and dynamics of a game. In this case, the artist interprets Regum in Didong art through development into rhythm and vocal forms. The work “Tene Simah Kuet” consists of a single part of the work that actualizes the regum/code of forte dynamics in the work section. “Tene Simah Kuet”  is actualized using the work material and techniques or musical terms of unison, call and response, hocketing, and dynamics. This work is worked on using a reinterpretation work approach, by making the hard dynamic regum in Didong into pillows, vocals, body percussion and wooden sticks.
Problematika Bunyi pada Instrumen Angklung Gantung dalam Pertunjukan Musik Widyaningsih, Aloysia Yuliana; Murwaningrum, Dyah
Awilaras Vol 11 No 1 (2024): Memahami Distingsi Budaya Melalui Musik Tradisional
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v11i1.3486

Abstract

Penelitian ini didasari oleh pertanyaan tentang minimnya penggunaan instrumen angklung gantung akhir-akhir ini. Penurunan minat masyarakat pada angklung gantung dalam sebuah pertunjukan memantik penelitian ini untuk lebih jauh mencatat problematika apa saja yang muncul saat pertunjukan. Penelitian ini berupaya untuk menganalisa dan menelaah tentang instrumen angklung gantung sebagai instrumen musik yang dapat memenuhi tujuan komposisi musik.  Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomusikologis. Pencarian data, teknik analisa dan pemaparan data dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini berupa rangkuman problematika bunyi dari instrumen angklung gantung. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi pijakan untuk penyempurnaan modifikasi instrumen ataupun penentuan seri microphone serta penentuan tata letak microphone di atas panggung.
Pengembangan Keterampilan Bernyanyi Mahasiswa Difabel Nonfisik melalui Pelatihan Musik di Art Therapy Center Widyatama Reffali, Soni; Yully Hidayah; Siti Khumairo
Awilaras Vol 11 No 2 (2024): Seni : Sinergi Tradisi dan Teknologi
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to describe the process and outcomes of singing skill training for non-physical disabled students at the Art Therapy Center Widyatama. The research used a descriptive qualitative method, with observation and interviews as the main data collection techniques. The study found that the singing skill training was conducted through several stages, including basic technique introduction, singing practice, and performance evaluation. Despite some challenges during the training process, such as difficulties in adapting to the learning methods, the results show that students were able to significantly develop their vocal skills. These findings support the importance of adapting teaching methods to meet the specific needs of disabled students to maximize their potential in the field of music arts. Keywords: singing training, non-physical disabilities, music, arts education, adaptive teaching

Page 3 of 4 | Total Record : 36