PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
PERIODE Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah is an academic journal published by the History Education Undergraduate Program, Faculty of Social Sciences and Law, Jakarta State University. Established in 2019, the journal is issued biannually in March and September as an open access, peer reviewed publication that focuses on the fields of history and history education. Its primary objective is to enhance readers understanding of historical studies and history education by disseminating scholarly articles, research findings, and book reviews. PERIODE is committed to publishing high quality contributions from researchers, academics, and practitioners.
Articles
47 Documents
NUGROHO NOTOSUSANTO : PERANNYA PADA PUSAT SEJARAH ABRI (1964-1982
Maulidia, Ninda;
Syukur, Abdul;
Humaidi
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2021): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.032.3
The establishment of the ABRI Historical Center was a form of focusing attention on projects that illustrate the military's role in the revolution andin destroying the coup attempt. This study aims to determine the life journey, career, and dedication of Nugroho Notosusanto in the world of historians and his role when he served as head of the Abri History Center in 1964-1982. The sources used in this research are primary sources and secondarysources obtained from books and journals related to the role of Nugroho Notosusanto in the ABRI History Center. based on the results of research conducted that history is a discipline in Indonesia whose emergence is still warm and the tradition of critical historiography is developing. Since Indonesia's independence was born, history has been used to foster national pride. with the establishment of the ABRI Historical Center it proved beneficial for the military because a year afterit was built, there was an attempted coup. This paper is very important because it consolidates the Army's reporting on the coup and presents a chronological report on the involvement of the PKI. Dibentuknya Pusat Sejarah ABRI adalah salah satu bentuk untuk memusatkan perhatian pada proyek-proyek yang menggambarkan peran militer dalam revolusi dan dalam menghancurkan usaha kudeta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan hidup, karir, serta pengabdianNugroho Notosusanto dalam dunia sejarawan dan perannya pada saat menjabat sebagai kepala Pusat Sejarah Abri tahun 1964-1982. Sumber yang digunakan dalam penelitian adalah sumber primer dan sumber sekunder yang didapat dari buku-buku dan jurnal yang berhubungan denganperan Nugroho Notosusanto di Pusat Sejarah ABRI. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa sejarah menjadi suatu disiplin ilmu di Indonesia yang kemunculannya masih hangat dan tradisi historiografi yang kritis sedang berkembang. Semenjak kemerdekaan Indonesia telah lahir, sejarah dipergunakan untuk menumbuhkan kebanggaan nasional. Dengan dibentuknya Pusat Sejarah ABRI ini terbukti bermanfaat bagi militer karena setahun setelah dibangun, terjadilah usaha kudeta. Tulisan ini sangat penting karena mengkonsolidasi pemberitaan Angkatan Darat perihal kudeta dan menyampaikan laporan secara kronologis mengenai keterlibatan PKI.
SINEMATOGRAFI INDONESIA: UNSUR-UNSUR PORNOGRAFI PADA SINEMA INDONESIA MASA ORDE BARU TAHUN 1980-1998
Tarunasari, Nur Alifa;
Humaidi;
Yanuardi, Muhammad Hasmi
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2021): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.032.4
This study examines the existence of pornographic elements in Indonesian films during the New Order era in 1980-1998, what kinds of things made pornographic elements widespread in society. The rise of pornographic elements in Indonesian films raises many questions regarding Indonesian film regulations and the state of New Order cinema. The results of this thesis show that the rise of pornographic elements is not merely the government's desire to present the film to the public. Various factors and conditions of ups and downs in Indonesian cinema make pornography elements into commercial films that are made to make a profit. Penelitian ini mengkaji eksistensi unsur pornografi pada perfilman Indonesia masa Orde Baru pada tahun 1980-1998 hal seperti apa yang membuat unsur pornografi tersebut tersebar luas di masyarakat. Maraknya unsur pornografi pada perfilman Indonesia menimbulkan banyak pertanyaan mengenai peraturan pefilman Indonesia dan kondisi perfilman Orde Baru . Hasil skripsi ini menunjukkan bahwa maraknya unsur pornografi bukan semata-mata keinginan pemerintah untuk menghadirkan film tersebut kepada masyarakat. Berbagai faktor dan kondisi naik turun perfilman Indonesia membuat unsur pornografi menjadi film komersil yang dibuat untuk meraup untung.
Representasi Budaya Tionghoa dalam Kedai Kopi Es Tak Kie (1927-1998)
Hidayah, Khoirunnisa Nur;
Djunaidi;
Yanuardi, Muhammad Hasmi
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 5 No. 2 (2023): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.052.5
This research describes the ethnic Chinese culture displayed in a legendary coffee shop that has been established since 1927, namely Kopi Es Tak Kie. The purpose of this study was to examine the history of the development of Kopi Es Tak Kie business in the Glodok area, and the cultural identity displayed in the coffee shop from 1927-1998. This article was written using historical research methods with the results of research showing how Kopi Es Tak Kie as a legendary coffee shop still preserves Chinese cultural identity. This cultural identity can be seen through the naming of the stalls, and typical Chinese food. Meanwhile, in maintaining its business, it applies business ethics according to Confucianism, and the practice of traditional Chinese values, namely hopeng, hongshui, and hokki. Penelitian ini menggambarkan budaya etnis Tionghoa yang ditampilkan dalam sebuah kedai kopi legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1927 yakni kedai Kopi Es Tak Kie. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang sejarah perkembangan usaha kedai Kopi Es Tak Kie yang ada di wilayah Glodok, dan identitas budaya yang ditampilkan dalam kedai dengan rentang waktu 1927-1998. Artikel ini ditulis menggunakan metode penelitian sejarah dengan hasil penelitian yang memperlihatkan bagaimana kedai Kopi Es Tak Kie sebagai kedai kopi legendaris tetap melestraikan identitas budaya Tionghoa. Identitas budaya tersebut dapat dilihat melalui penamaan kedai, dan makanan khas Tionghoa. Sementara dalam mempertahankan usahanya diterapkan etika bisnis menurut Konfusianisme, dan pengamalan nilai-nilai tradisional Tionghoa yakni hopeng, hongshui, dan hokki.
Batavia dalam Rongrongan Kolonialisme Belanda Melalui VOC Abad ke XVII – XIX
Sabrina, Dewi Ayu;
Utami, Aditya Putri;
Aman;
Basyari, Asyhar
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 5 No. 2 (2023): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.052.4
Writing in this journal aims to find out the history of the arrival of the Dutch until the formation of the city of Batavia. Starting with the arrival of the Dutch in 1595 with a mission to explore the Ocean to Banten, this was the beginning of colonialism in Indonesia. The Dutch founded the VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) on 20 March 1602 in Batavia as an administrative center. All VOC activities were centered in Batavia before being headquartered in Banten. The choice of Batavia or its former name Jayakarta as the administrative center was because the Dutch saw that the port in Batavia was a small port so it would not easily attract the attention of other European nations. Writing articles uses a library research approach, where the preparation of articles uses literary sources and does not go directly to the field. The results of the discussion in this article include, Batavia as the VOC Headquarters, the state of the VOC under Daendels' rule after the dissolution of the VOC, Batavia as a port and trade city. Penulisan jurnal ini bertujuan untuk mengetahui sejarah kedatangan Belanda hingga terbentuknya kota Batavia. Diawali dengan Kedatangan Belanda pada 1595 dengan misi penjelajahan Samudra ke Banten merupakan awal kolonialisme di Indonesia bermula. Belanda mendirikan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) pada 20 Maret 1602 di Batavia sebagai pusat administrasi. Segala kegiatan VOC dipusatkan di Batavia sebelum dulunya bermarkas di Banten. Pemilihan Batavia atau nama dulunya Jayakarta sebagai pusat administrasi ini karena Belanda melihat pelabuhan yang ada di Batavia merupakan pelabuhan kecil sehingga tidak mudah menarik perhatian bangsa Eropa lainnya. Penulisan artikel menggunakan metode pendekatan penelitian kepustakaan (library research), dimana penyusunan artikel menggunakan sumber literatur dan tidak terjun langsung ke lapangan. Hasil pembahasan dalam artikel ini antara lain, Batavia sebagai Markas Besar VOC, Keadaan VOC di bawah pemerintahan Daendels pasca bubarnya VOC, Batavia sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.
A RIWAYAT BUS TINGKAT ERA PPD DI JAKARTA
Budianto, Respati
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 2 (2024): PERIODE (Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.062.1
Perum PPD merupakan salah satu penyedia layanan bus kota yang ada di jakarta, perjalanan Perum PPD dalam mewarnai transportasi bus kota di Jakarta pun sudah dimulai sejak jaman Belanda. PPD merupakan hasil dari nasionalisasi Bataviasche Verkeers Maatschappij pada tahun 1954 yang merupakan perusahaan trem Belanda di Batavia. Selepas nasionalisasi BVM, PPD tetap menjadi penyedia layanan trem di Jakarta, namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena trem yang dianggap kuno untuk perkembangan kota Jakarta. PPD kemudian menjadi penyedia layanan bus kota, dan salah satunya menyediakan bus tingkat dalam operasionalnya. Penelitian ini disusun menggunakan metode historis, yang mana penelitian ini melalui tahap Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi.
Bandoeng Tempo Doeloe: Perubahan Sosial di Bandung Dalam Masa Pendudukan Jepang Tahun 1942-1945
Devi Olivia
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 1 (2024): PERIODE : Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.061.2
Bandung is one of the regions in West Java that has been established for a very long time. Various periods have been passed by the Bandung area ranging from ancient times, royal periods, colonial periods, movement periods, to the present day. In line with the passage of time that Bandung has passed, various social changes have arisen that were felt by the people of Bandung at that time. One of the social changes that was felt by the people of Bandung was during the colonial period until the independence period. This is what moved researchers to conduct research with the aim of researching how much change and impact the people of Bandung felt at that time. The methodology used in this study is literature studies such as books, articles, and so on. These sources are related to or in line with the situation or condition of the people of Bandung during the transition period of colonialism and independence. The result of this study is how Bandung is depicted during the Netherlands occupation, the Japanese occupation period, and the Independence period in terms of social changes and their impact on society.
Artikel ALUTSISTA ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA PERIODE 1959-1969
Ridwan Maulana
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 2 (2024): PERIODE (Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.062.3
RIDWAN MAULANA ALUTSISTA ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA PERIODE 1959-1969. Program Studi Pendidikan Senjarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2024. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengadaan dan pengunaan Alutsista dari tahun 1959 hingga 1969. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan model deskriptif naratif yang terdiri dari empat tahapan, yakni: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian diketahui bahwa bahwa perkembangan alutsista bagi Angkatan Bersenjata Indonesia sangat dipenuhi oleh dinamika politik baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebelum terjadinya Kampanye Pembebasan Irian Barat, pengadaan alutsista belum dilakukan secara besar-besaran dan cenderung membeli dari negara-negara Eropa Barat atau Blok Barat. Namun memasuki Kampanye Pembebasan Irian Barat, Indonesia bergeser memilih negara-negara Eropa Timur atau Blok Timur menjadi produsen utama dalam mendapatkan alutsista. Sepanjang pertengahan tahun 1960-an, militer Indonesia sangat bergantung kepada Blok Timur. Setelah terjadinya peristiwa G-30S/PKI, terjadi perubahan dalam politik dalam negeri yang menyebabkan merenggangnya hubungan Indonesia dengan negara-negara Blok Timur, mempengaruhi kesiapan alutsista terutama bagi Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Sehingga, banyak alutsista yang terpaksa dipensiunkan secara dini.
DJAMALUDDIN “ADINEGORO” (1904-1967): TOKOH DI BALIK PENGHARGAAN TERTINGGI JURNALISTIK DI INDONESIA
Jauhari, Fadhilah;
Umasih;
Syukur, Abdul
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2021): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.032.1
Djamaluddin Datuk Maradjo Sutan is an Indonesian Journalism Pioneer from Talawi, West Sumatra. However, he is better known by his pseudonym which leads to the Javanese name Adinegoro. The name Adinegoro itself was immortalized by the Indonesian Journalists Association (PWI) as the name of the highest journalism award in Indonesia since 1974. Making someone's name for an award, of course, that person has an important role in his field. Djamaluddin was the first Indonesian to study journalism directly from his home country, Germany. After returning from Europe, he is always asked or chosen to serve as a leader in a newspaper or magazine in Indonesia. Not only that, his focus on writing abroad, which always captivated readers, made him a journalist who covered the Round Table Conference in The Hague, the Netherlands at the end of 1949. Djamaluddin was also active in giving his views on the nationalization of the Aneta news agency. Djamaluddin's concern is also given to young people who want to study journalism in Indonesia. This study aims to examine the role of Djamaluddin "Adinegoro" in the world of journalism in Indonesia. The research method used is the historical or historical writing method. Djamaluddin Datuk Maradjo Sutan merupakan Pelopor Jurnalistik Indonesia yang berasal dari Talawi, Sumatera Barat. Namun ia lebih dikenal dengan nama samarannya yang mengarah ke nama Jawa yaitu Adinegoro. Nama Adinegoro sendiri diabadikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai nama penghargaan tertinggi jurnalistik di Indonesia sejak tahun 1974. Menjadikan nama seseorang untuk sebuah penghargaan pastinya orang tersebut memiliki peran penting dalam bidangnya. Djamaluddin adalah orang Indonesia pertama yang belajar ilmu jurnalistik langsung dari negara asalnya yaitu Jerman. Sepulangnya dari Eropa, ia selalu diminta atau dipilih menjabat sebagai pemimpin dalam surat kabar atau majalah di Indonesia. Tak hanya itu fokus penulisan luar negerinya yang selalu memikat para pembaca membuat ia terpilih menjadi jurnalis yang meliput Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada akhir tahun 1949. Djamaluddin juga aktif memberikan pandangannya tentang nasionalisasi kantor berita Aneta. Kepedulian Djamaluddin juga diberikan untuk kaum muda yang ingin belajar ilmu jurnalistik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Djamaluddin “Adinegoro” dalam dunia jurnalistik di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penulisan sejarah atau historis.
MOHAMMAD TABRANI SOEJOWITIRJTO: PERAN DALAM KONGRES PEMUDA 1925-1928
Madhiyah, Farah Tinesia;
Humaidi;
Yanuardi, M. Hasmi
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2021): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.032.2
The main purpose of this article is to discover the struggle of Mohammad Tabrani Soejowitirjto in the First Congress of Indonesian Youth and his role in initiating Indonesian (Bahasa Indonesia) as the national language to unite the nation. This research uses the historical method, according to Kuntowijoyo, which consists of five stages, namely: topic selection, source collection, verification, interpretation, and writing. The results of this study reveal the important role of Mohammad Tabrani Soejowitirjto in preparing the First Congress of Indonesian Youth without any interference from the Dutch. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perjuangan Mohammad Tabrani Soejowitirjto dalam Kongres Pemuda Pertama dan perannya dalam memprakarsai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Penelitian ini menggunakan metode historis, menurut Kuntowijoyo, yang terdiri dari lima tahap, yaitu: pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, dan penulisan. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana peran penting Mohammad Tabrani Soejowitirjto mempersiapkan Kongres Pemuda Pertama tanpa adanya gangguan dari pihak Belanda.
Artikel Sistem Pendidikan Koningin Wilhelmina School : Sekolah Teknik di Batavia 1901-1942
Barinasari, Ajeng Kartika
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 2 (2024): PERIODE (Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/periode.062.4
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem pendidikan yang digunakan Koningin Wilhelmina School untuk mencapai tujuan pendidikannya beserta perubahan sistem pendidikan yang digunakan selama berdirinya sekolah tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi yang menggunakan model deskriptif naratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan sangat menentukan bagaimana pendidikan itu akan berjalan dan mencapai tujuan pendidikannya. Sistem pendidikan Koningin Wilhelmina School sesuai dengan perkembangan kondisi Hindia Belanda pada saat itu, seperti kondisi ekonomi, industri, hingga politik. Perubahan selalu dilakukan untuk bisa mengikuti perkembangan zaman. Perombakan-perombakan ini nyatanya membuat dampak tersendiri bagi Koningin Wilhelmina School yang nantinya akan mempengaruhi jalannya pendidikan di sekolah tersebut.