cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 2 (2018)" : 17 Documents clear
Analisis Pengaruh Pembangunan Lippo Plaza Terhadap Nilai Tanah Menggunakan Model Regresi Linier Berganda (Studi Kasus : Lippo Plaza, Kec. Kaliwates, Kab. Jember) Deviantari, Udiana Wahyu; Noviyanti , Dwi
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1571

Abstract

Keberadaan Lippo Plaza di Kecamatan Kaliwates Jember diharapkan dapat memberikan kontribusi baik bagi pemerintah melalui penciptaan lapangan pekerjaan, pergerakan roda perekonomian daerah, kontribusi pajak, dan melalui sosial kemasyarakatan. Menurut penelitian sebelumnya diketahui bahwa dampak dari pembangunan Lippo Plaza sebagai fasilitas pusat perbelanjaan di Kecamatan Kaliwates ini akan berpengaruh terhadap meningkatnya nilai tanah disekitar wilayah tersebut. Dalam memprakirakan nilai tanah digunakan suatu pemodelan matematis. Metode yang digunakan adalah metode regresi linier berganda. Metode Regresi Linier berganda dipilih karena dapat digunakan untuk menentukan model matematika, sehingga dapat digunakan untuk menyelidiki atau menganalisis hubungan antara nilai tanah dengan variabel penentunya. Pada penelitian ini diperoleh model regresi linier dengan persamaan Y = 26,187 + 38,921 komersil + 0,049 X2 - 7,022 X1. Variabel Komersil, Jarak ke Pusat Kota (X2), Jarak ke Lippo (X1) mempengaruhi nilai tanah secara signifikan terhadap nilai tanah. Peta Zona Nilai Tanah yang dihasilkan dari NIR model dengan wilayah yang memiliki nilai tanah paling tinggi berada di wilayah komersil dan berada di radius 1 km dari Lippo Plaza. Untuk wilayah yang memiliki nilai tanah paling rendah berada di lahan pertanian, perumahan, dan permukiman serta berada di radius 3 km dari Lippo Plaza.
ANALISA PERBANDINGAN BERDASARKAN IDENTIFIKASI AREA KEBAKARAN DENGAN MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT-8 DAN CITRA MODIS (Studi Kasus : Kawasan Gunung Bromo) Sukojo , Bangun Muljo; Aini, Nurul
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1572

Abstract

Land and forest fire is a condition where the land and forest are hit by flame, causing land and forest destruction, economic losses, and environmental value. In the dry season, some of the regions in Indonesia often hit by flame. One example is a fire that occurred in the area of Mountain Bromo on October, 20th to 23rd 2014. These fires resulted in approximately 1.487 Ha of savanna forest got burned. Burned area can be identified by using remote sensing data, such as Landsat-8 and MODIS imagery. The method of identification used is the NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) that utilizes near-infrared band and red band. Burned area is classified based on the value of the three threshold models. The use of multiple threshold models is done with the purpose of seeking the greatest accuracy value. Based on the results of burned area identification, obtained the greatest accuracy values of Landsat-8 is 48.394% from the   - 1  models and the wide of burned area is 1.354,5 Ha. While the greatest accuracy values of MODIS is 57,089% from the    models and the wide of burned area is 1.005,209 Ha.
INVENTARISASI ASET PEMERINTAH PADA PETA AREA TERDAMPAK LAPINDO SESUAI PERPRES NO. 33 TAHUN 2013 MENGGUNAKAN WEB GIS Dewi, Maura Sahara; Hariyanto, Teguh; Kurniawan , Akbar
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1573

Abstract

Bencana lumpur Lapindo yang melanda wilayah Porong, Sidoarjo menyebabkan hilangnya tempat tinggal pada 3 Kecamatan. Sehingga muncul konflik penuntutan ganti rugi akibat peristiwa tersebut. Berkaitan dengan hal ini, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden yang berisi tentang area terdampak, ketentuan ganti rugi dan hal teknis lainnya yang dikeluarkan sejak tahun 2007 dan telah diperbarui sebanyak lima kali hingga yang terbaru berupa Perpres No. 33 Tahun 2013 yang berisi Peta Area Terdampak (PAT). Dari wilayah PAT tersebut didapatkan data yang besar sehingga perlu dilakukan pengelolaan untuk menyelesaikan permasalahan ganti rugi yang belum selesai menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil dari pengelolaan ini merupakan SIG berbasis Web yang dapat melakukan updating, editing, dan penyimpanan data yang berfungsi sebagai inventarisasi. Dari hasil processing data, didapatkan Peta Inventarisasi Aset Pemerintah yang tersebar di 12 desa dengan luas 495,854 Ha. Dari total luas ini, sebesar 70,279 Ha wilayah tidak masuk dalam batas area terdampak sesuai PAT dalam Perpres No. 33 tahun 2013. Untuk inventarisasi asetnya, sebesar 24,88% dari total jumlah aset berstatus terbayar dan tersertifikasi, 21,08% dari total jumlah aset terbayar dan belum tersertifikasi, dan sebesar 54,04% dari total jumlah aset belum terbayar. Hasil inventarisasi tersebut divisualisasikan dengan Web GIS yang bersifat localhost.
STUDI ESTIMASI CURAH HUJAN PADA KONDISI CUACA EKSTREM TAHUN 2017 MELALUI CITRA MODIS LEVEL 1B DI PROVINSI JAWA TIMUR Hariyanto , Teguh; Ramadhan, Fendra Dwi; Pribadi, Cherie Bhekti
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1574

Abstract

Cuaca ekstrem merupakan keadaan atau fenomena fisik atmosfer pada waktu tertentu, berskala jangka pendek dan bersifat ekstrem. Citra satelit MODIS merupakan salah satu citra penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk pemantauan curah hujan khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia. Dalam kajian meteorologi, citra satelit MODIS dapat menyadap berbagai informasi terkait parameter pendukung curah hujan seperti halnya suhu permukaan awan (SPA) dan albedo awan (ALB). Dalam penelitian ini, pemantauan curah hujan dilakukan dengan cara estimasi menggunakan metode regresi linier berganda dengan parameter curah hujan aktual, suhu permukaan awan (SPA) dan albedo awan (ALB). Analisis spasial dilakukan untuk mengetahui pola curah hujan terhadap kondisi ketinggian wilayah di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian, di dapatkan nilai korelasi (R) antara CH Aktual, SPA dan ALB pada persamaan regresi linier berganda sebesar 62,4% sedangkan nilai koefisien determinansi (R2) sebesar 0,390. Sedangkan, pada hasil perbandingan nilai CH Estimasi dengan CH Aktual di dapatkan nilai uji akurasi (RMSE) sebesar 8,643 mm/hari dan hasil uji korelasi (R) menunjukkan nilai 59,8% dengan koefisien determinansi (R2) sebesar 0,358. Kemudian, nilai intensitas curah hujan yang diperoleh dari citra MODIS berupa estimasi minimal pada bulan Oktober hingga Desember sebesar 0 mm/hari dan estimasi maksimal pada bulan Oktober sebesar 14,977 mm/hari, bulan November sebesar 18,515 mm/hari dan bulan Desember sebesar 15,332 mm/hari. Pada hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga kelas curah hujan (< 5 mm/hari, 5 – 20 mm/hari dan 20 – 50 mm/hari) tersebar di ketiga kelas ketinggian wilayah (Dataran Rendah, Dataran Sedang dan Dataran Tinggi) di Provinsi Jawa Timur, dengan luas luas wilayah curah hujan estimasi pada bulan Oktober terbanyak pada tanggal 27 Oktober 2017 sebesar 39.888 km2, pada bulan November terbanyak pada tanggal 28 November 2017 sebesar 47.584 km2 , sedangkan pada bulan Desember terbanyak pada tanggal 26 Desember 2017 sebesar 45.903 km2.
STUDI PERUBAHAN IONOSFER AKIBAT LETUSAN GUNUNG BERAPI DENGAN PENGAMATAN TOTAL ELECTRON CONTENT GNSS Cahyadi, Mokhamad Nur; Dermawan , Anak Agung Adhi; Muslim, Buldan
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1575

Abstract

Letusan Gunung Agung merupakan fenomena alam yang jarang terjadi di Provinsi Bali,Indonesia. Menurut riwayat letusannya, letusan Gunung Agung terjadi terakhir pada Tahun 1963 hingga tahun 1964 dengan letusan yang bersifat eksplosif. Letusan ini memakan korban jiwa sebanyak 1.344 jiwa. Pada tahun 2017,Gunung Agung kembali menunjukkan aktifitasnya hingga awal tahun 2018. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,letusan yang besar terjadi pada 22 November 2017 pukul 01.00 WITA. Letusan gunung tersebut menghasilkan tekanan keatas yang disertai oleh lava yang tersembur melalui mulut gunung. Dari letusan ini, menghasilkan beberapa perambatan gelombang yakni Acoustic, Gravity, dan Rayleigh. Pada saat gelombang letusan mencapai ionosfer, gangguan tersebut dapat diketahui dari sinyal GPS yang melaluinya. Pada gangguan di ionosfer tersebut dapat diukur dengan menggunakan kombinasi L4 yang biasa disebut linear ionospheric combination sehingga didapat nilai TEC (Total Electron Content) dimana 1 TECU adalah 1016 el/m2. Nilai inilah yang berfungsi untuk menentukan kadar besaran gangguan akibat letusan yang terjadi pada Gunung Agung 2017.Dalam penelitian ini, menggunakan data GNSS CORS untuk mengetahui perubahan nilai TEC sesaat setelah letusan Gunung Agung, data GNSS CORS diambil dari stasiun yang terletak di sekitar Gunung Agung. Hasil Penelitian ini diketahui satelit GPS nomor 3 dan 23 dapat mendeteksi perubahan TEC (Total Electron Content) setelah terjadi letusan. Fluktuasi TEC (Total Electron Content) terbesar bernilai 1,5 TECU untuk satelit GPS
GEOMARINE 1: AUTONOMOUS USV (UNMANNED SURFACE VEHICLE) UNTUK MENDUKUNG SURVEI HIDRO-OCEANOGRAFI Pratomo, Danar Guruh; Rahmadiansah, Andi; Cahyadi , Mokhamad Nur; Anjasmara, Ira Mutiara; Khomsin, Khomsin; Adi, Fajar Setio
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1576

Abstract

Survei hidro-oceanografi dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik dari suatu perairan. Salah satu kegiatan yang termasuk dalam survei hidro-oceanografi adalah penentuan kedalaman dan pencitraan bentuk topografi dasar laut. Pada umumnya, survei tersebut dilakukan dengan menggunakan wahana apung (kapal) yang relatif besar yang minimal dapat menampung surveyor dan pengemudi kapal. Wahana apung konvensional tersebut memiliki keterbatasan dalam bermanuver, terutama di daerah perairan yang dangkal dan sempit. Keterbatasan dalam mobilisasi, juga menjadi kendala ketika wahana apung konvensional akan digunakan untuk survei di area perairan pedalaman (sungai, waduk, dam, bekas galian tambang). Geomarine 1 merupakan solusi alternatif untuk melakukan survei hidro-oseanografi di daerah perairan dimana penggunaan wahana apung konvensional tidak dapat digunakan secara efektif. Geomarine 1 merupakan wahana apung tanpa awak (Unmanned Surface Vehicle) yang memiliki sistem mandiri (autonomous).  Wahana apung tanpa awak ini dilengkapi dengan sensor anti tabrakan (collision avoidance) dan fungsi kembali ke titik awal (home return) apabila survei sudah selesai dilakukan ataupun pada saat baterai akan habis. Sensor survei hidro-oceanografi yang terdapat pada wahana ini merupakan kombinasi sensor akustik dan optik. Sensor akustik digunakan untuk penentuan kedalaman dan pencitraan topografi dasar laut, sedangkan sensor optik digunakan untuk perekaman kondisi fisik perairan secara visual.
ANALISIS PEMODELAN 3D CANDI JAWI MENGGUNAKAN WAHANA QUADCOPTER DAN TERESTRIAL LASER SCANNER (TLS) Yuwono, Yuwono; Pratomo, Danar Guruh; Cahyono, Agung Budi; Mulyono, Yulita Eka Rana
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1577

Abstract

Perkembangan teknologi masa kini semakin beragam dan terus berkembang. Mengikuti perkembangan teknologi, peralatan survei, dan pemetaan terus berinovasi dari tingkat manual sampai dengan menekan satu tombol semua selesai. Hal ini merupakan suatu keuntungan sekaligus kemudahan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu contoh perkembangan teknologi alat survei dan pemetaan ialah munculnya quadcopter dan Terestrial Laser Scanner (TLS). Belakangan ramai diketahui quadcopter dan TLS bukan hanya untuk pemetaan terestris saja, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai alat akusisi data untuk keperluan pemodelan 3D suatu objek. Keberadaan alat ini sangat membantu untuk dokumentasi dan pengarsipan. Kedua alat tersebut dipraktikkan untuk mengukur bangunan cagar budaya yang bertujuan agar diperoleh model tiga dimensi dengan tujuan akhir hasilnya dapat disimpan sebagai arsip, digunakan sebagai media penelitian dan dapat dimanfaatkan jika sewaktu-waktu bangunan tersebut rusak atau roboh dan memerlukan rekonstruksi ulang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pengukuran dengan dua alat tersebut dikerjakan pada sebuah candi di Jawa Timur yang dikenal sebagai Candi Jawi. Pengukuran Candi Jawi meliputi pemotretan dengan quadcopter, pengamatan Ground Control Point (GCP), pengukuran Independent Check Point (ICP), dan pemindaian candi dengan Terestrial Lasser Scanner (TLS). Hasil yang diperoleh ialah model tiga dimensi hasil data quadcopter RMSe X, Y, Z sebesar 0,017 meter, 0,017 meter, dan 0,018 meter. Sementara besar nilai RMSe model tiga dimensi hasil olahan point cloud TLS untuk X, Y, dan Z ialah 0.056 meter, 0,066 meter, dan 1,44 meter. Kedua model dari kedua alat menunjukkan hasil yang relatif kecil karena bernilai kurang dari 0,5 meter dan memenuhi syarat Level of Detail (LoD) 3 untuk konsep visualisasi eksterior model bangunan, kecuali pada nilai Root Mean Square Error (RMSe) Z model 3D data point cloud TLS.

Page 2 of 2 | Total Record : 17