cover
Contact Name
Lilis Sri Mulyawati
Contact Email
redaksi.jekota@unpak.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.jekota@unpak.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Pakuan Jl. Pakuan, Tegallega. Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Jawa Barat 16143.
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jendela Kota Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota
Published by Universitas Pakuan
ISSN : -     EISSN : 30638232     DOI : https://doi.org/10.33751/jekota.v2i1.94
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Jendela Kota is an academic journal that publishes scientific research in the field of regional and urban planning. The journal follows a peer-reviewed process, meaning that each submitted article undergoes evaluation by independent and qualified experts in the field. Jekota is published biannually, in February and August, by the Urban and Regional Planning Program, Faculty of Engineering, Universitas Pakuan. The journal aims to serve as a platform for high-quality academic exchange for researchers, academics, and practitioners interested in issues related to regional and urban planning and development. 1. Regional Planning 2. Urban Planning 3. Tourism Planning 4. Coastal Management 5. Rural Development 6. Participatory Planning 7. Transportation and Infrastructure 8. Disaster and Environment 9. Govenrnance
Articles 50 Documents
Arahan Spasial Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kecamatan Belitang Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Tama Hariansyah Putra; Annisa Mu'awanah Sukmawati
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i1.79

Abstract

Belitang Sub-district is one of the sub-districts in Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Regency which has competitive agricultural potential and potential to develop as an agropolitan area. However, Belitang Sub-district has problems in infrastructure and distribution facilities between sub-districts. This research aims to formulate the spatial directions for developing an agropolitan area in Belitang District. Data was collected through agency surveys, observations, interviews, and literature reviews. Data analysis techniques used in this study are land suitability scoring analysis, Location Quotient (LQ) analysis, and Scalogram analysis. The study revealed that Belitang Sub-district was included as one of the highest economic value areas in OKU Timur Regency and positioned as the center of the Independent Integrated City strategy area. This condition could support the development of an agropolitan area in Belitang Sub-district. The development of agropolitan areas should be directed at improving the condition of facilities and infrastructure, such as road networks and economic facilities to support the integration of upstream and downstream agropolitan activities.
Penilaian Fasilitas Pedestrian di Kawasan Pusat Kota Sukabumi Siti Rahma; Gde Ngurah Purnama Jaya; Umar Mansyur
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i1.94

Abstract

Kawasan Pusat Kota Sukabumi berada di Kecamatan Cikole yang merupakan Kawasan Strategis Kota (KSK) dari sudut kepentingan sosial dan budaya serta Pusat Pelayanan Kota (PPK) Cikole yang merupakan pusat pelayanan ekonomi dan kesehatan. Oleh karena itu, penggunaan lahannya beragam, antara lain: perdagangan dan jasa, rekreasi dan hiburan, perkantoran, perumahan, fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan, dan fasilitas kesehatan yang terkumpul dalam satu kawasan yang saling berdekatan dan ramai dikunjungi masyarakat. Aktivitas masyarakat di Kawasan Pusat Kota Sukabumi yang tinggi dapat ditunjang dengan penyediaan fasilitas pedestrian yang memadai, sebagai sarana transportasi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai fasilitas pedestrian di Kawasan Pusat Kota Sukabumi. Metode analisis yang digunakan adalah Metode Pedestrian Index (P-Index) yang didasarkan pada empat indikator, yaitu: mobilitas (M), keselamatan (S), fasilitas (F), dan aksesibilitas (A). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas pedestrian di Kawasan Pusat Kota Sukabumi memiliki nilai P-Index 54, sehingga masuk ke dalam peringkat 3 bintang yang berarti fasilitas pedestrian dapat dilalui dengan berjalan kaki (walkable).
Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Sekitar Jalan Lingkar Dramaga Kabupaten Bogor Hanifah Dorrotul Hikmah; Umar Mansyur; M. Yogie Syahbandar
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i1.97

Abstract

ABSTRAK Jalan Lingkar Dramaga Kabupaten Bogor merupakan jalur strategis yang menghubungkan pusat ekonomi, pendidikan, dan permukiman. Keberadaan jalan strategis ini mendorong terjadinya konversi lahan pertanian menjadi permukiman dan kawasan komersial di sepanjang jalan. Urbanisasi tidak hanya meningkatkan kebutuhan infrastruktur dan layanan jasa, tetapi juga menimbulkan tantangan terhadap daya dukung lingkungan, seperti kapasitas resapan air dan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Pergeseran fungsi lahan di satu sisi berdampak pada perubahan ekonomi dengan meningkatnya sektor perdagangan dan jasa, tetapi juga berpotensi menimbulkan kemacetan dan risiko sosial di sisi lainnya. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 11 Tahun 2016 menekankan keseimbangan antara pembangunan fisik dan pelestarian lingkungan, meskipun implementasinya masih menghadapi kendala koordinasi dan pengawasan. Penelitian ini menganalisis perkembangan lahan dan bangunan serta merumuskan arahan pengendalian pemanfaatan ruang yang berkelanjutan. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta kunjungan ke instansi terkait. Metode penelitian mencakup analisis overlay, intensitas pemanfaatan ruang, dan tata bangunan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan sektor perdagangan dan jasa serta kepadatan bangunan, yang memicu kemacetan dan penurunan kualitas lingkungan. Kesesuaian pemanfaatan ruang pada tahun 2018 dan 2024 mengalami peningkatan, tetapi masih terdapat ketidaksesuaian di zona pertanian dan tanah kosong yang dapat dikembangkan. Arahan pengendaliannya antara lain diperlukan pembatasan pembangunan, pengawasan kegiatan perdagangan, penambahan infrastruktur, serta persyaratan izin yang lebih ketat guna memastikan pemanfaatan ruang yang terkontrol dan sesuai RTRW di setiap segmen.  Kata Kunci: Lahan, Pemanfaatan Ruang, Pengendalian, Perencanaan   ABSTRACT Dramaga Ring Road in Bogor Regency is a strategic route that connects economic, educational, and residential centers. The existence of this strategic road encourages the conversion of agricultural land into settlements and commercial areas along the road. Urbanization does not only increase the need for infrastructure and services, but also poses challenges to the carrying capacity of the environment, such as water absorption capacity and the availability of Green Open Space. The shift in land use on the one hand has an impact on economic change with an increase in the trade and service sector, but also has the potential to cause congestion and social risks on the other. Law No. 26 of 2007 and Bogor District Regional Regulation No. 11 of 2016 emphasize the balance between physical development and environmental preservation, although their implementation still faces coordination and supervision constraints. This research analyzes the development of land and buildings and formulates directions for sustainable space utilization control. Data were collected through observation, interviews, documentation, and visits to relevant agencies. Research methods included overlay analysis, space utilization intensity, and building codes. The results show an increase in the trade and service sector and building density, which triggered congestion and decreased environmental quality. The suitability of space utilization in 2018 and 2024 has increased, but there are still discrepancies in the agricultural zone and vacant land that can be developed. The control directions include the need for development restrictions, supervision of trade activities, additional infrastructure, and stricter permit requirements to ensure controlled development following the spatial plan in each segment.   Keywords: Controlling, Land, Planning, Space Utilization
Identifikasi Potensi dan Kendala Kawasan Wisata Ketapang Urban Aquaculture Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang Muhammad Hamdan Jiddan; Lilis Sri Mulyawati; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i1.100

Abstract

Kawasan Ketapang Urban Aquaculture (KUA) merupakan destinasi wisata berbasis ekowisata yang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Program Gerbang Mapan. KUA difungsikan sebagai pemberdayaan masyarakat setempat, ekowisata, budidaya, kuliner, UMKM, jasa, perumahan dan permukiman nelayan serta riset dan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting, potensi, dan kendala kawasan wisata KUA. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui observasi, wawancara dengan pengelola, dan kuesioner kepada wisatawan dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KUA memiliki 10 jenis atraksi wisata, 14 amenitas, aksesibilitas yang baik, serta ancillary services seperti media promosi dan pengelolaan oleh PT. Mitra Kerta Raharja. Potensi wisata KUA antara lain: (1) memiliki pemandangan yang indah dan beberapa kegiatan wisata edukatif dan rekreatif; (2) memiliki amenitas yang sangat memadai dan cukup memadai; (3) memiliki akses perjalanan yang mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang baik; (4) memiliki akses yang mudah terhadap informasi wisata. Kendala wisata KUA antara lain: (1) kurangnya pemeliharaan fasilitas terkait atraksi; (2) kurang memadainya amenitas; (3) belum tersedianya transportasi khusus pariwisata; (4) mahalnya harga tiket masuk
Identifikasi Tingkat Pelayanan Jalan Raya Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran: Jalan Muhamad Furqan Dwi Pamungkas; Gde Ngurah Purnama Jaya; Umar Mansyur
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i1.107

Abstract

ABSTRAK Jalan Raya Cijulang di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran merupakan jalan arteri primer berstatus nasional yang berperan penting sebagai jalur utama menuju kawasan wisata dan penghubung antarkota melalui Bandara Nusawiru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sarana dan prasarana jalan serta menilai tingkat pelayanan menggunakan metode Level of Service (LOS) berdasarkan standar PKJI 2023. Metode analisis yang digunakan meliputi perhitungan volume lalu lintas, kapasitas jalan, dan derajat kejenuhan (degree of saturation) dengan membandingkan antara hari kerja dan hari libur pada jam sibuk. Selain itu, dilakukan analisis deskriptif terhadap persepsi masyarakat melalui kuesioner yang menilai kenyamanan, keamanan, dan kelancaran lalu lintas. Hasil survei menunjukkan bahwa pada hari kerja volume lalu lintas sebesar 1.083 smp/jam dengan tingkat pelayanan LOS C, sedangkan pada hari libur volume meningkat menjadi 1.264 smp/jam tetapi dengan tingkat pelayanan LOS C, yang mengindikasikan peningkatan kepadatan volume kendaraan akibat meningkatnya aktivitas wisata. Berdasarkan persepsi masyarakat, mayoritas responden mengeluhkan kemacetan pada akhir pekan dan minimnya fasilitas pendukung keselamatan. Kesimpulan penelitian menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas jalan, perbaikan fasilitas pendukung, serta manajemen lalu lintas yang lebih optimal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam perencanaan peningkatan infrastruktur dan sistem transportasi yang lebih efektif untuk mendukung perkembangan pariwisata dan ekonomi di wilayah Cijulang.   Kata Kunci: Jalan, Lalu lintas, LOS, Pelayanan, Prasarana   ABSTRACT Jalan Raya Cijulang, located in Cijulang District, Pangandaran Regency, is a national primary arterial road that plays a vital role as the main route to tourist destinations and as an intercity connector via Nusawiru Airport. This study aims to identify the condition of road facilities and assess its service level using the Level of Service (LOS) method based on PKJI 2023 standards. The analytical methods include calculations of traffic volume, road capacity, and degree of saturation, comparing data between a weekday and a weekend during peak hours. Additionally, a descriptive analysis of public perception was conducted through questionnaires evaluating comfort, safety, and traffic flow. The survey results show that on weekdays, the traffic volume was 1,083 pcu/hour with a LOS C, while on weekends, it increased to 1,264 pcu/hour, but still remained at LOS C. This indicates increased traffic density due to heightened tourism activities. Based on public perception, most respondents reported congestion during weekends and a lack of adequate safety-supporting facilities. The study concludes that improvements in road capacity, supporting infrastructure, and traffic management are necessary. These findings are expected to provide input for local governments in planning more effective infrastructure and transportation systems to support tourism and economic development in the Cijulang area.   Keywords:Infrastructure, LOS , Road, Service, Traffic
Arahan Pengembangan Objek Wisata di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor Firdan Fardani; Lilis Sri Mulyawati; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.113

Abstract

ABSTRAK Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memicu pembangunan suatu daerah baik dari segi ekonomi, infrastruktur, sosial budaya, dan lingkungan. Pariwisata di Kecamatan Jonggol memiliki beragam objek wisata sehingga menjadi peluang untuk dikembangkan. Saat ini Kecamatan Jonggol masuk ke dalam Kawasan Pengembangan Pariwisata Daerah (KSPD) Cileungsi-Jonggol. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting 10 objek wisata di Kecamatan Jonggol berdasarkan 4 variabel yaitu atraksi, wisata, aksesibilitas, amenitas, dan ancillary service, potensi dan kendala pariwisata pada tiap variabel di Kecamatan Jonggol, serta menyusun arahan pengembangan pariwisata di Kecamatan Jonggol. Metode pengumpulan data meliputi observasi lapangan, dokumentasi, penyebaran kuesioner, wawancara, survei instansi, dan studi literatur. Metode analisis menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 objek wisata memiliki kondisi atraksi, wisata, aksesibilitas, amenitas, dan ancillary service yang beragam, tetapi kesepuluh objek wisata tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam 4 klaster berdasarkan persamaan potensi dan kendalanya. Klaster 1 merupakan objek wisata yang memiliki potensi sangat baik, dan kendala minimal; klaster merupakan objek wisata yang memiliki potensi baik dan kendala sedang; klaster 3 merupakan objek wisata dengan pootensi cukup baik dan kendala cukup besar, sementara klaster 4 merupakan objek wisata dengan potensi rendah dan kendala tinggi. Dari empat klaster tersebut dibuat arahan pengembangan pariwisata, dimana klaster 1 difokuskan pada inovasi atraksi, peningkatan branding, dan fasilitas disabilitas; klaster 2 difokuskan pada perbaikan jalan, peningkatan amenitas, dan penguatan promosi; klaster 3 difokuskan pada perbaikan akses, penyediaan amenitas dasar, dan penguatan event wisata, sedangkan klaster 4 difokuskan pada revitalisasi total, perbaikan akses, penyediaan amenitas dasar, dan promosi intensif. Kata Kunci: Arahan Pengembangan, Kendala, Pariwisata, Potensi ABSTRACT Tourism is one of the sectors that drives regional development in terms of the economy, infrastructure, socio-culture, and the environment. Tourism in Jonggol Subdistrict features a variety of tourist attractions, presenting opportunities for development. Currently, Jonggol Subdistrict is part of the Cileungsi-Jonggol Regional Tourism Development Zone (KSPD). This study aims to identify the current conditions of 10 tourist attractions in Jonggol Subdistrict based on four variables—attractions, tourism, accessibility, amenities, and ancillary services—as well as the tourism potential and constraints associated with each variable in Jonggol Subdistrict, and to formulate guidelines for tourism development in Jonggol Subdistrict. Data collection methods included field observations, documentation, questionnaire distribution, interviews, institutional surveys, and literature reviews. The analysis method employed qualitative descriptive analysis. The research findings indicate that the 10 tourist attractions exhibit diverse conditions regarding attractions, tourism, accessibility, amenities, and ancillary services; however, these 10 attractions can be classified into 4 clusters based on similarities in their potential and constraints. Cluster 1 consists of tourist attractions with very good potential and minimal constraints; Cluster 2 consists of tourist attractions with good potential and moderate constraints; Cluster 3 consists of tourist attractions with fairly good potential and significant constraints, while Cluster 4 consists of tourist attractions with low potential and high constraints. Based on these four clusters, tourism development guidelines were established: Cluster 1 focuses on attraction innovation, branding enhancement, and accessibility for people with disabilities; Cluster 2 focuses on road improvements, enhanced amenities, and strengthened promotion; Cluster 3 focuses on improving access, providing basic amenities, and strengthening tourism events, while Cluster 4 focuses on total revitalization, improving access, providing basic amenities, and intensive promotion. Keywords: Constraints, Directions of Development, Potential, Tourism
Persepsi Masyarakat Terhadap Respon Pemerintah Dalam Penanganan Bencana Banjir Di Kecamatan Baleendah Atya Putri Rizqiani; Risva Meisya; Sofa Khoeriah; Muhammad Andi Septiadi
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.108

Abstract

ABSTRAK Wilayah Kecamatan Baleendah di Kabupaten Bandung dikenal sebagai salah satu daerah rawan banjir yang hingga kini masih menghadapi permasalahan dalam penanganan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap respon pemerintah dalam menangani bencana banjir tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dan dianalisis menggunakan metode SYMLOG. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Analisis difokuskan pada lima dimensi SERVQUAL: bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat menilai respon pemerintah masih kurang memadai, terutama dalam hal kesiapan sarana, kecepatan serta konsistensi tindakan, dan komunikasi langsung di lapangan. Meskipun terdapat upaya perencanaan dari pemerintah, masyarakat belum merasakan dampak konkret yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Simpulan penelitian menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara strategi pemerintah dan harapan masyarakat. Temuan ini menjadi masukan penting dalam merancang kebijakan penanganan bencana yang lebih responsif dan berorientasi pada kebutuhan warga.   Kata Kunci: Banjir, Tanggap Bencana, Penanganan Bencana, Persepsi Masyarakat, Respon Pemerintah   ABSTRACT The Baleendah District area in Bandung Regency is known as one of the flood-prone areas, which is still facing problems in disaster management. This research aims to determine the public's perception of the government's response in dealing with the flood disaster. The method used is qualitative research with a case study approach, and analyzed using the SYMLOG method. Data collection techniques include observation, in-depth interviews, and document study. The analysis focused on five dimensions of SERVQUAL: tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. The research results show that the public considers the government's response to be inadequate, especially in terms of the readiness of facilities, speed and consistency of action, and direct communication in the field. Despite planning efforts from the government, the community has not experienced concrete impacts that meet their needs. The research conclusions show that there is a mismatch between government strategy and community expectations. These findings provide important input in designing disaster management policies that are more responsive and oriented to the needs of residents.   Keywords: Flood, Disaster Responses, Disaster Management,  Government Response, Public Perception
Analisis Sarana dan Prasarana Terminal Bojonggede Berdasarkan Standar Pelayanan Penyelenggaraan Terminal Tipe C Sabil Saepudin; Umar Mansyur; Gde Ngurah Purnama Jaya
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.125

Abstract

Terminal Bojonggede merupakan terminal penumpang tipe C yang terletak di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, dan termasuk ke dalam kawasan pengembangan pusat pelayanan wilayah sesuai RTRW Kabupaten Bogor Tahun 2024-2044. Terminal ini memiliki peran strategis karena terletak di wilayah penyangga Ibu Kota dan berfungsi sebagai simpul penting dalam mendukung mobilitas harian masyarakat, khususnya pengguna Commuter Line. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi ketersediaan sarana dan prasarana serta menganalisis persepsi dan harapan masyarakat terhadap kualitas pelayanan Terminal Bojonggede. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dengan pengelola, dan kuesioner kepada masyarakat dan para pengguna Terminal. Metode analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terminal Bojonggede belum sepenuhnya memenuhi standar pelayanan penyelenggaraan yang berlaku. Secara keseluruhan, Terminal Bojonggede masih memerlukan peningkatan pada beberapa aspek-aspek fasilitas seperti fasilitas keselamatan jalan, fasilitas keamanan, petugas operasional, toilet, dan tempat parkir kendaraan umum dan pribadi. Berdasarkan hasil analisis persepsi dan harapan masyarakat, kualitas pelayanan Terminal Bojonggede dinilai masih belum sepenuhnya optimal. Dari enam variabel utama, hanya variabel kemudahan yang masuk ke dalam kategori sangat layak, sedangkan variabel keselamatan, kehandalan, dan kenyamanan dikategorikan kurang layak, serta variabel keamanan dinilai yang paling tidak layak.    Kata Kunci: fasilitas, kualitas infrastruktur, standar pelayanan, terminal   ABSTRACTBojonggede Terminal is a Type C passenger terminal located in Bojonggede District, Bogor Regency, and is included within the regional service center development area according to the Bogor Regency Spatial Plan (RTRW) 2024–2044. This terminal plays a strategic role due to its location in the buffer zone of the national capital and functions as an important node in supporting daily mobility, particularly for Commuter Line users. This study aims to identify the availability of facilities and infrastructure and to analyze public perceptions and expectations regarding the service quality of Bojonggede Terminal. Data were collected through field observations, interviews with terminal management, and questionnaires distributed to the public and terminal users. The data were analyzed using a qualitative descriptive method. The results indicate that Bojonggede Terminal has not yet fully met the applicable service standards for terminal operations. Overall, the terminal still requires improvements in several facility aspects, including road safety facilities, security facilities, operational personnel, toilets, and parking areas for both public and private vehicles. Based on the analysis of public perceptions and expectations, the service quality of Bojonggede Terminal is considered not yet fully optimal. Of the six main variables assessed, only the Ease of Use variable falls into the very adequate category, while the Safety, Reliability, and Comfort variables are categorized as inadequate, and Security is considered the least adequate.   Keywords: facilities, infrastructure quality, service standards, terminal
Identifikasi Potensi dan Kendala Wisata Bahari Di Pulau Panggang Kepulauan Seribu Baihaki Mursid Kiki; Mujio SUKIR; Yusi Febriani
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.127

Abstract

Pulau Panggang di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara merupakan wilayah dengan potensi wisata bahari yang tinggi, didukung oleh keberadaan terumbu karang, ekosistem mangrove, dan budaya maritim lokal. Namun, pengembangan pariwisata di wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan infarstruktur, minimnya fasilitas pendukung, rendahnya aksesibilitas transportasi, serta kurangnya promosi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan kendala wisata bahari di Pulau Panggang melalui analisis deskriptif kualitatif, berdasarkan empat variabel utama yaitu atraksi, amenitas, aksesibilitas, dan ancillary services. Data diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi dan wawancara kepada masyarakat lokal. Sedangkan metode analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Panggang memiliki potensi wisata bahari dengan atraksi wisata beragam, yakni atraksi wisata alam, budaya, buatan, dan kegiatan wisata. Atraksi wisata alam berupa keindahan pantai dan terumbu karang; atraksi wisata buatan berupa rumah apung dan keramba apung. Atraksi wisata budaya berupa kuliner khas laut dan tradisi nelayan. Kegiatan wisata di pulau panggang juga cukup beragam seperti memancing dan snorkeling. Selain itu potensi juga terdapat di amenitas berupa toilet umum, pos keamanan, puskesmas, masjid, mushola, warung, jaringan listrik dan jaringan internet; aksesibilitas yang baik; serta ancillary service seperti informasi wisata dan pelayanan pendukung. Namun wisata bahari di Pulau Panggang masih memiliki beberapa kendala seperti kurangnya pengelolaan dan interpretasi atraksi profesional; masih terbatasnya amenitas dan belum mampu mendukung sepenuhnya pengembangan wisata bahari secara optimal; terbatasnya transportasi laut untuk menuju Pulau Panggang karena memiliki jam tertentu untuk menyebrang dan kembali ke pelabuhan; serta belum terdapatnya pusat informasi wisata atau pemandu wisata resmi yang dapat memberikan edukasi atau bimbingan kepada pengunjung.   Kata Kunci: atraksi, amenitas, aksesibilitas, ancillary service, potensi dan kendala ABSTRACT Panggang Island in the North Thousand Islands District is an area with high marine tourism potential, supported by the presence of coral reefs, mangrove ecosystems, and local maritime culture. However, tourism development in this area still faces various challenges such as limited infrastructure, a lack of supporting facilities, low transportation accessibility, and a lack of tourism promotion. This study aims to identify the potential and constraints of marine tourism on Panggang Island through qualitative descriptive analysis, based on four main variables, namely attractions, amenities, accessibility, and ancillary services. Data were obtained through field observations, documentation, and interviews with local communities. Meanwhile, the data analysis method used qualitative descriptive analysis. The results of the study show that Panggang Island has marine tourism potential with various tourist attractions, namely natural, cultural, man-made, and tourist activities. Natural tourist attractions include beautiful beaches and coral reefs; man-made tourist attractions include floating houses and floating cages. Cultural tourist attractions include seafood cuisine and fishing traditions. Tourist activities on Panggang Island are also quite diverse, such as fishing and snorkeling. In addition, there is also potential in amenities such as public toilets, security posts, health centers, mosques, prayer rooms, food stalls, electricity and internet networks; good accessibility; and ancillary services such as tourist information and support services. However, marine tourism on Panggang Island still faces several obstacles, such as a lack of professional management and interpretation of attractions; limited amenities that are not yet able to fully support the optimal development of marine tourism; limited sea transportation to Panggang Island due to specific hours for crossing and returning to the port; and the absence of a tourist information center or official tour guides who can provide education or guidance to visitors.   Keywords: attractions, amenities, accessibility, ancillary services, potential and challenges
Analisis Kemampuan Lahan di Kabupaten Cianjur Alif Dhiya; Janthy Trilusianthy Hidayat; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.128

Abstract

ABSTRAK Peningkatan jumlah penduduk yang berdampak pada kebutuhan pembangunan di Kabupaten Cianjur mendorong perlunya pemahaman terkait karakteristik fisik dan kapasitas alami suatu lahan sebagai dasar dalam merumuskan arah pengembangan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan lahan di Kabupaten Cianjur. Penelitian dilakukan dengan menganalisis satuan kemampuan lahan yang berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2007. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari kajian pustaka teoritis, telaah dokumen kebijakan, serta survei data instansi. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan lahan di Kabupaten Cianjur terdiri dari kelas kemampuan lahan B (rendah) seluas 1,405 Ha (0,0004%), kelas kemampuan lahan C (sedang) seluas 206.923,287 Ha (57,17%), kelas kemampuan lahan D (agak tinggi) seluas 152.940,164 Ha (42,26%), dan kelas kemampuan lahan E (tinggi) seluas 2.079,459 Ha (0,57%). Lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan merupakan lahan yang memiliki kelas kemampuan lahan C, D, dan E. Kecamatan yang memiliki luas lahan dengan kelas E terbesar adalah Kecamatan Kadupandak dengan luas 401,437 Ha, sedangkan kecamatan yang memiliki luas lahan kelas B terbesar adalah Kecamatan Sukaluyu dengan luas 0,419 Ha.   Kata Kunci: Kemampuan, Lahan, Pengembangan   ABSTRACT The increase in population, which impacts the development needs in Cianjur Regency, necessitates an understanding of the physical characteristics and natural capacity of land as a basis for formulating development directions in the area. This study aims to assess the land capability in Cianjur Regency. The research was conducted by analyzing land capability units in accordance with the Regulation of the Minister of Public Works Number 20/PRT/M/2007. The data used in this study are secondary data obtained from theoretical literature reviews, policy document analyses, and institutional data surveys. The analytical methods employed were quantitative descriptive analysis and spatial analysis. The results indicate that the land capability in Cianjur Regency consists of class B (low) covering 1,405 ha (0.0004%), class C (moderate) covering 206.923,287 ha (57.17%), class D (moderately high) covering 152.940,164 ha (42.26%), and class E (high) covering 2.079,459 ha (0.57%). Land suitable for development includes classes C, D, and E. Among the districts, Kadupandak District has the largest area of class E area at 401,437 ha, while Sukaluyu District has the largest area of class B area at 0,419 ha. Keywords: Capability, Development, Land