cover
Contact Name
Lilis Sri Mulyawati
Contact Email
redaksi.jekota@unpak.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.jekota@unpak.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Pakuan Jl. Pakuan, Tegallega. Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Jawa Barat 16143.
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jendela Kota Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota
Published by Universitas Pakuan
ISSN : -     EISSN : 30638232     DOI : https://doi.org/10.33751/jekota.v2i1.94
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Jendela Kota is an academic journal that publishes scientific research in the field of regional and urban planning. The journal follows a peer-reviewed process, meaning that each submitted article undergoes evaluation by independent and qualified experts in the field. Jekota is published biannually, in February and August, by the Urban and Regional Planning Program, Faculty of Engineering, Universitas Pakuan. The journal aims to serve as a platform for high-quality academic exchange for researchers, academics, and practitioners interested in issues related to regional and urban planning and development. 1. Regional Planning 2. Urban Planning 3. Tourism Planning 4. Coastal Management 5. Rural Development 6. Participatory Planning 7. Transportation and Infrastructure 8. Disaster and Environment 9. Govenrnance
Articles 50 Documents
Penilaian Tingkat Keterwujudan Pola Ruang Provinsi Banten sebagai Instrumen Evaluasi RTRW Resti Meliana Sari; Isvan Taufik; Bima Setiawan; Endang Kusnadi; Abdul Hatta
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.129

Abstract

ABSTRAK Penataan ruang berperan penting dalam mengarahkan pemanfaatan ruang agar selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, sehingga evaluasi keterwujudan pola ruang menjadi instrumen utama untuk menilai konsistensi antara rencana dan implementasi RTRW. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang dan keterwujudan pola ruang Provinsi Banten berdasarkan RTRW yang telah diselaraskan dengan Undang-Undang Cipta Kerja, dengan memasukkan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) sebagai indikator analisis. Metode yang digunakan adalah analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) melalui overlay data pola ruang, penggunaan lahan, KKPR, pertanahan, dan kehutanan, yang mencakup penilaian perwujudan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang di Provinsi Banten sangat tinggi, mencapai 96,95% dari total kawasan. Perwujudan Kawasan Lindung tergolong baik dengan capaian 87,49%, meskipun masih terdapat ketidaksesuaian pada kawasan mangrove, perlindungan setempat, dan perlindungan kawasan bawahan. Sebaliknya, perwujudan Kawasan Budidaya masih rendah, yaitu 37,70%, terutama pada kawasan transportasi, industri, dan permukiman. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi RTRW di Provinsi Banten lebih efektif dalam menjaga fungsi lindung dibandingkan mendorong realisasi kawasan budidaya. Oleh karena itu, direkomendasikan penguatan pengendalian dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang bermasalah serta percepatan perwujudan kawasan budidaya strategis melalui sinkronisasi RTRW dengan rencana sektoral, optimalisasi KKPR, dan pemantauan berbasis GIS.   Kata Kunci: Kesesuaian Pemanfaatan Ruang, Perwujudan Pola Ruang, KKPR, Sistem Informasi Geografis (GIS) ABSTRACT Spatial planning plays a critical role in guiding land use in alignment with the principles of sustainable development, making the evaluation of spatial pattern implementation an essential tool for assessing the consistency between plans and the execution of Regional Spatial Plans (RTRW). This study aims to assess the level of land-use compliance and the implementation of spatial patterns in Banten Province based on the RTRW, which has been harmonized with the Omnibus Law on Job Creation, incorporating Land Use Compliance (KKPR) as an analytical indicator. The methodology employs spatial analysis using Geographic Information Systems (GIS) through overlaying data on spatial patterns, land use, KKPR, land tenure, and forestry, encompassing assessments of both protected areas and utilization zones. The analysis reveals that land-use compliance in Banten Province is very high, covering 96.95% of the total area. The implementation of Protected Areas is generally strong, achieving 87.49%, although discrepancies remain in mangrove ecosystems, local protection zones, and downstream protection areas. In contrast, the implementation of Utilization Areas remains low at 37.70%, particularly in transportation, industrial, and residential zones. These findings indicate that the RTRW in Banten Province is more effective in safeguarding protected functions than in facilitating the realization of utilization areas. Accordingly, it is recommended to strengthen the management and restoration of underperforming protected areas and accelerate the realization of strategic utilization zones through synchronization of the RTRW with sectoral plans, optimization of KKPR, and GIS-based monitoring.   Keywords: Land-Use Compliance, Spatial Pattern Implementation, Land Use Compliance Assessment (KKPR), Geographic Information Systems (GIS)
Analisis Pusat-Pusat Pelayanan Di Kota Sukabumi Sasni Syakila Agustina; Janthy Trilusianthy Hidayat; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.132

Abstract

ABSTRAK Pusat-pusat pelayanan merupakan suatu aktivitas dari berbagai sarana dan prasarana yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah. Pembangunan pusat-pusat pelayanan selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga diharapkan mampu mendukung pengembangan wilayah. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi struktur pusat-pusat pelayanan di Kota Sukabumi, (2) Menganalisis kesesuaian struktur pusat-pusat pelayanan di Kota Sukabumi dengan arahan struktur pusat pelayanan di RTRW. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei lapangan, studi dokumentasi, serta pengumpulan data sekunder yang bersumber dari instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan dokumen RTRW Kota Sukabumi, kemudian dianalisis menggunakan analisis Zipf's Law, Skalogram, dan Indeks Sentralitas. Berdasarkan hasil analisis Zipf's Law, Skalogram, dan Indeks Sentralitas terdapat fungsi hierarki yang tidak sama. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa Kecamatan Cikole, Kecamatan Gunungpuuh, dan Kecamatan Warudoyong termasuk kedalam hierarki Pusat Pelayanan Kota (PPK), kemudian Kecamatan Citamiang termasuk kedalam hierarki Sub Pusat Pelayanan Kota (SPPK), dan Kecamatan Lembursitu, Kecamatan Cibeureum, dan Kecamatan Baros termasuk kedalam Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). Setelah menganalisis kesesuaian struktur pusat-pusat pelayanan di Kota Sukabumi berdasarkan hasil analisis dan RTRW, terdapat beberapa kecamatan yang perlu dikembangkan sesuai dengan peraturan RTRW, seperti Kecamatan Cibeureum, Kecamatan Lembursitu, dan Kecamatan Baros.  Kata Kunci: indeks sentralitas, skalogram, zip’f law.    ABSTRACT Service centers represent an activity of various facilities and infrastructure that can support the growth and development of a region. The development of service centers, in addition to meeting the needs of the community, is also expected to support regional development. The objectives of this study are: (1) To identify the structure of service centers in Sukabumi City, (2) To analyze the conformity of the service center structure in Sukabumi City with the directions of the service center structure in the Regional Spatial Plan (RTRW). This study employs a descriptive quantitative method with data collection techniques through field surveys, documentation studies, and secondary data collection sourced from relevant agencies such as the Central Statistics Agency (BPS) and the Sukabumi City RTRW document, which were then analyzed using Zipf's Law, Scalogram, and Centrality Index analyses. Based on the results of the Zipf's Law, Scalogram, and Centrality Index analyses, there are differing hierarchical functions. The analysis results indicate that Cikole District, Gunungpuyuh District, and Warudoyong District are classified under the City Service Center (PPK) hierarchy, Citamiang District is classified under the Sub City Service Center (SPPK) hierarchy, and Lembursitu District, Cibeureum District, and Baros District are classified under the Neighborhood Service Center (PPL) hierarchy. After analyzing the conformity of the service center structure in Sukabumi City based on the analysis results and the RTRW, there are several districts that need to be developed in accordance with the RTRW regulations, namely Cibeureum District, Lembursitu District, and Baros District.  Keywords: index centralit, scalogram, zip’f law.
Identifikasi Kinerja Simpang Sawangan Permai Kota Depok Rizky Gustyanshah; Umar Mansyur; Gde Ngurah Purnama Jaya
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.136

Abstract

ABSTRAK Permasalahan lalu lintas sering terjadi di kota-kota besar, salah satunya di Simpang Sawangan Permai, Kecamatan Sawangan, Kota Depok yang memiliki tingkat kepadatan cukup tinggi. Meningkatnya jumlah penduduk sejalan dengan meningkatnya kebutuhan transportasi, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan antara jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan yang tersedia dan berujung pada kemacetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi simpang dan menilai kinerja simpang serta faktor penyebab kemacetan. Metode pengumpulan data menggunakan observasi langsung melalui traffic counting. Metode analisis  yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif deskriptif, meliputi analisis volume lalu lintas, kapasitas simpang serta kinerja simpang menggunakan acuan PKJI 2023, serta analisis deskriptif pengaruh penggunaan lahan terhadap transportasi berdasarkan penelitian terdahulu. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas simpang sebenarnya sebesar 2.109 SMP/jam pada jam puncak pagi dengan qtotal 1953 SMP/jam. Nilai DJ sebesar 0,93 melebihi kriteria simpang >0,85 sehingga simpang dianggap tidak memadai. Nilai tundaan sebesar 16,44 SMP/detik menunjukkan rata-rata kendaraan mengalami keterlambatan. Peluang antrean berada pada rentang 34,48%–67,83%, yang mengindikasikan hampir dua pertiga kendaraan akan mengalami tingkat kerawanan antrean sedang hingga tinggi. Faktor hambatan samping dipengaruhi oleh aktivitas komersial seperti perdagangan, parkir kendaraan, serta pergerakan pejalan kaki di sekitar simpang.   Kata Kunci: kemacetan, kinerja simpang, simpang   ABSTRACT Traffic problems often occur in major cities, one of which is at the Sawangan Permai Intersection, Sawangan District, Depok City, which has a relatively high level of density. The increase in population is in line with the increasing need for transportation, resulting in an imbalance between the number of vehicles and the available road capacity, which leads to congestion. This study aims to determine the condition of the intersection and assess the intersection performance as well as the factors causing congestion. The data collection method used was direct observation through traffic counting. The analytical method used in this study is descriptive quantitative, including analysis of traffic volume, intersection capacity, and intersection performance using the PKJI 2023 as a reference, as well as descriptive analysis of the influence of land use on transportation based on previous studies.The results of the analysis show that the actual intersection capacity is 2.109 pcu/hour during the morning peak hour with a total flow (qtotal) of 1.953 pcu/hour. The degree of saturation (DS) value is 0,93, exceeding the intersection criteria of >0,85, so the intersection is considered inadequate. The delay value of 16,44 sec/pcu indicates that vehicles experience delays. The queue probability is in the range of 34,48%–67,83%, which indicates that nearly two-thirds of vehicles will experience a moderate to high level of queuing probability. Side friction factors are influenced by commercial activities such as trading, vehicle parking, and pedestrian movements around the intersection.   Keywords: Traffic Congestion, Intersection Performance, Intersection
Analisis Persepsi Masyarakat Terhadap Skybridge Antara Stasiun Bogor Dan Stasiun Paledang Di Kota Bogor Syara Gosa; Umar Mansyur; Gde Ngurah Purnama Jaya
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.143

Abstract

Tingginya mobilitas masyarakat di Kota Bogor mendorong perlunya peningkatan konektivitas antar moda transportasi, khususnya antara Stasiun Bogor dan Stasiun Paledang. Pembangunan skybridge diusulkan sebagai solusi untuk menghubungkan kedua stasiun secara langsung dan aman bagi pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting di kawasan sekitar stasiun serta menganalisis persepsi masyarakat terhadap rencana pembangunan skybridge. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan dan penyebaran kuesioner kepada masyarakat dan pengguna transportasi kereta api. Persepsi masyarakat dianalisis menggunakan skala Likert untuk mengukur tingkat tanggapan terhadap aspek kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, dan efisiensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting masih belum mendukung konektivitas yang layak, dengan jalur pejalan kaki yang sempit dan kurang aman. Sebagian besar responden memberikan penilaian positif terhadap rencana pembangunan skybridge, menunjukkan harapan besar terhadap peningkatan kualitas perjalanan dan integrasi moda transportasi kereta api. Temuan ini diharapkan menjadi dasar pertimbangan bagi pihak terkait dalam proses perencanaan dan implementasi infrastruktur.
Strategi Tata Kelola Integrasi Infrastruktur Lintas Daerah Berbasis Delineasi KSP Kawasan Perbatasan WKP I Provinsi Banten Isvan Taufik; Japar; Nunuk Dwi Maryati; Resti Meliana Sari; Eneng Dayu Saidah; Fidelis Awig Atmoko
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.150

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menetapkan delineasi Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Kawasan Perbatasan Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) I Provinsi Banten serta merumuskan strategi tata kelola integrasi infrastruktur lintas daerah yang operasional. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-method melalui (i) analisis isi kebijakan penataan ruang lintas level (nasional-pulau-KSN-provinsi-kabupaten/kota), (ii) analisis ekonomi regional (LQ, SSA, dan tipologi Klassen) berbasis data PDRB 2020-2024, serta (iii) penilaian multikriteria menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan uji sensitivitas untuk memeringkat 29 koridor/pasangan kecamatan perbatasan sebagai alternatif prioritas. Hasil menunjukkan WKP I merupakan kontributor utama perekonomian Banten (±58,21% PDRB provinsi) dengan polarisasi fungsi yang saling melengkapi: Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai pusat industri manufaktur, Kota Tangerang sebagai pusat logistik, dan Kota Tangerang Selatan berfungsi sebagai pusat jasa, permukiman, dan inovasi. AHP menempatkan Potensi Ekonomi sebagai penentu dominan (w=0,724), diikuti Sistem Transportasi (w=0,193) dan Fungsi Peruntukan Ruang (w=0,083). Berdasarkan pemeringkatan 29 koridor perbatasan, koridor prioritas yang memiliki nilai strategis logistik, industri, niaga, dan kawasan berbasis transit adalah Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, dan Serpong-Pagedangan-Cisauk. Koridor-koridor tersebut konsisten pada uji sensitivitas bobot, sehingga layak menjadi fokus penahapan program. Delineasi akhir membagi kawasan menjadi empat tipologi yang membedakan Kawasan Pusat Pertumbuhan (KPP) serta Kawasan Perbatasan Lainnya sebagai sasaran paket layanan dasar minimum. Penelitian merekomendasikan percepatan penetapan Ranpergub KSP WKP I yang mengikat kelembagaan koordinasi lintas kabupaten/kota, penahapan program 2026-2036, skema pembiayaan multi-sumber, dan indikator kinerja bersama agar integrasi infrastruktur dapat diimplementasikan secara terukur.  Kata Kunci: Analytical Hierarchy Process; Integrasi Infrastruktur; Kawasan Strategis Provinsi (KSP); Kawasan Perbatasan; Ranpergub.   ABSTRACT This study aims to delineate the Provincial Strategic Area (KSP) of the WKP I Border Area in Banten Province and to formulate an operational governance strategy for cross-jurisdiction infrastructure integration. A mixed-method approach is employed through: (i) content analysis of spatial planning policies across multiple levels (national-island-national strategic metropolitan area/KSN-provincial-district/city); (ii) regional economic analysis (Location Quotient, Shift-Share Analysis, and Klassen typology) using GRDP data for 2020-2024; and (iii) multi-criteria assessment using the Analytic Hierarchy Process (AHP) with sensitivity testing to rank 29 border-corridor alternatives (pairs of adjacent subdistricts) by priority. The results indicate that WKP I is the principal contributor to Banten’s economy (≈58.21% of provincial GRDP) with complementary functional polarization: Tangerang Regency serves as a manufacturing-industrial core, Tangerang City as a logistics hub, and South Tangerang City as a center of services, residential development, and innovation. AHP identifies Economic Potential as the dominant criterion (w=0.724), followed by the Transport System (w=0.193) and Spatial Land-Use Function (w=0.083). Based on the ranking of 29 border corridors, the priority corridors with strategic roles in logistics, industry, commerce, and transit-oriented development are Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, and Serpong-Pagedangan-Cisauk; these corridors remain consistent under weight-sensitivity scenarios, supporting their use as the focus for program phasing. The final delineation classifies the area into four typologies that distinguish Growth Center Areas (KPP) and other border areas requiring a minimum basic service package. The study recommends accelerating the enactment of a Governor Regulation for KSP WKP I to establish a binding inter-local coordination institution, a phased program framework for 2026-2036, multi-source financing schemes, and shared performance indicators to enable measurable implementation of integrated infrastructure across jurisdictions.  Keywords: Analytic Hierarchy Process; Border area; Infrastructure Integration; Governor Regulation; Provincial Strategic Area (KSP).
Pengembangan Aspek Fisik, Sosial, Ekonomi, dan Infrastruktur sebagai Arahan Pertumbuhan Kawasan Perdesaan Cijeruk Yeriko Septiawan; Janthy Trilusianthy Hidayat; M. Yogie Syahbandar
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.16

Abstract

ABSTRAK Pemanfaatan potensi daerah memerlukan perencanaan, untuk mengurangi kesenjangan antar daerah, khususnya perdesaan. Pembangunan perdesaan harus diikuti dengan berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan sebagai pusat pelayanan dan distribusi potensi. Kecamatan Cijeruk merupakan wilayah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan perdesaan dan harus mempunyai pusat pertumbuhan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Tujuan Penelitian 1) Menentukan variabel-variabel penting pendukung penelitian pusat pertumbuhan di Kawasan Perdesaan Cijeruk, 2) Menganalisis Variabel Pendukung Pusat Pertumbuhan 3) Merumuskan arah pengembangan pusat pertumbuhan di Kawasan Perdesaan Cijeruk dari aspek fisik, sosial, ekonomi dan infrastruktur. Metode penelitian untuk mengidentifikasi aspek ekonomi dilakukan melalui Focus Group Discussion, metode analisis yang digunakan untuk aspek fisik adalah analisis bahaya longsor, dan analisis aksesibilitas, untuk aspek sosial adalah analisis geometrik, dan analisis gravitasi, sedangkan untuk aspek infrastruktur yaitu analisis jangkauan fasilitas dan analisis skalogram. Hasil penilaian variabel-variabel tersebut akan dikalikan dengan bobot Analytical Hierarchy Process. Hasil penelitian ini adalah, 1). terdapat 4 (empat) variabel yang dikembangkan dari penelitian sebelumnya. Yakni interaksi penduduk dengan wilayah, cakupan pelayanan fasilitas kesehatan, potensi desa dan pemasaran komoditas unggulan. 2). Hasil analisis Desa Cijeruk mempunyai keunggulan dibandingkan desa lainnya, 3) Potensi Kawasan Perdesaan Cijeruk diarahkan sebagai industri pedesaan sebagai sektor pendukung sektor pariwisata, Hirarki 1 diarahkan sebagai pusat industri. Hierarki 2 sebagai pusat pemerintahan, Hierarki 3 sebagai daerah transit dan penyortir barang, Hierarki 4 sebagai penyedia bahan baku dan hasil pertanian. ABSTRACT Utilization of regional potential requires planning, to reduce disparities between regions, especially rural areas. The development of rural areas must be followed by the development of growth centers as service centers and potential distribution. Cijeruk District is an area that has the potential to be developed as a rural area and must have a growth center to optimize its potential. Research objectives 1) Determine important variables supporting research on growth centers in the Cijeruk Rural Area, 2) Analyze Variables Supporting Growth Centers 3) Formulate directions for the development of growth centers in the Cijeruk Rural Area from physical, social, economic and infrastructure aspects. The research method to identify the economic aspects is carried out through Focus Group Discussions, the analytical methods used for the physical aspects are landslide hazard analysis, and accessibility analysis, for the social aspects are geometric analysis, and gravity analysis, while for the infrastructure aspects are analysis of the range of facilities and scalogram analysis. The scoring results of these variables will be multiplied by the weight of the Analytical Hierarchy Process. The results of this study are, 1). there are 4 (four) variables developed from previous studies. Namely the interaction of the population with the area, service coverage of health facilities, village potential and marketing of superior commodities. 2). The results of the analysis of Cijeruk Village show that it has advantages compared to other villages, 3) The potential of the Cijeruk Rural Area is directed as a rural industry as a supporting sector for the tourism sector, Hierarchy 1 is directed as a center of growth, Hierarchy 2 is the center of government, Hierarchy 3 is a transit area and goods sorter, Hierarchy 4 as a provider of raw materials and agricultural products.
Arahan Pengembangan untuk Mengurangi Ketimpangan Wilayah antar Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Muhamad Rizki Waluya; Janthy Trilusianthy Hidayat; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.28

Abstract

ABSTRAK Ketimpangan ekonomi antar wilayah merupakan permasalahan yang cukup serius karena dapat diartikan sebagai kemiskinan dan ketimpangan. Indikasi ketimpangan antar daerah terjadi di Provinsi Banten. Adanya indikasi ketimpangan dapat menghambat proses pembangunan secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik perekonomian, menganalisis sektor-sektor unggulan, menganalisis ketimpangan antar kabupaten/kota, dan merumuskan arah pembangunan untuk mengurangi tingkat ketimpangan di wilayah Provinsi Banten. Metode analisis yang digunakan adalah kontribusi PDRB, laju pertumbuhan PDRB, PDRB per kapita, Tipologi Klassen, Analisis Gabungan LQ dan DLQ, Indeks Williamson, dan analisis deskriptif untuk menghasilkan arah pembangunan guna mengurangi ketimpangan yang terjadi di Provinsi Banten. Hasil dari penelitian ini adalah Kabupaten Lebak merupakan daerah tertinggal dan ditetapkan sebagai lokasi prioritas pembangunan dalam penelitian ini. Arah pembangunan dibagi dalam enam kriteria: (1) Peningkatan sektor pendukung untuk meningkatkan kontribusi sektor pertanian sehingga dapat mempunyai nilai tambah. (2) Peningkatan sumber daya manusia melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan agar sumber daya manusia di Kabupaten Lebak mampu bersaing dengan pencari kerja dari daerah lain. (3) Meningkatkan sarana dan prasarana melalui pemerataan jangkauan sarana dan prasarana pemukiman. (4) meningkatkan porsi pendapatan daerah selain pajak melalui investasi dan kerjasama dengan beberapa pihak swasta. (5) Meningkatkan aksesibilitas dengan meningkatkan kualitas, serta mempercepat realisasi Rencana Jalan Tol dan Rencana Jalur Kereta Api untuk mendukung pengembangan kawasan ekonomi dan pariwisata, guna menciptakan konsentrasi pertumbuhan ekonomi di kawasan baru. dan (6) karena wilayahnya cukup luas, maka perlu dipertimbangkan kembali usulan pemekaran wilayah karena dapat mengurangi tingkat ketimpangan wilayah karena pemerataan pembangunan dapat lebih mudah dicapai dengan wilayah pemerintahan yang lebih kecil. ABSTRACT Economic inequality between regions is a quite serious problem, because economic inequality means poverty and inequality. Indications of inter-regional inequality also occur in Banten Province. The existence of indications of inequality can hamper the development process in general. This research aims to analyze economic characteristics, analyze leading sectors, analyze inequality between districts/cities, and formulate development directions to reduce the level of inequality in the Banten Province region. The analytical methods used are PDRB contribution, PDRB growth rate, PDRB per capita, Klassen Typology, Combined LQ and DLQ Analysis, Williamson Index, and descriptive analysis to produce a development direction to reduce inequality that occurs in Banten Province. The results of this research are that Lebak Regency is a disadvantaged area and was designated as a priority location for development in this research. The development directions are divided into six criteria: (1) Increasing supporting sectors to increase the contribution of the agricultural sector so that it can have added value. (2) Increasing human resources by improving education and skills so that human resources in Lebak Regency can compete with job seekers from other areas. (3) Improving facilities and infrastructure by equalizing the reach of residential facilities and infrastructure. (4) increasing the share of regional income other than taxes through investment and collaborating with several private parties. (5) Increasing accessibility by improving quality, as well as accelerating the realization of the Toll Road Plan and Railway Route Plan to support the development of economic and tourism areas, in order to create a concentration of economic growth in new areas. and (6) because the area is quite large, it is necessary to reconsider the regional expansion proposal because it can reduce the level of regional inequality because equitable development can be more easily achieved with a smaller government area.
Kapasitas Masyarakat dan Pemerintah Desa dalam Menghadapi Bencana Longsor di Desa Harkatjaya Kabupaten Bogor Reni Lana; Indarti Komala Dewi; M. Yogie Syahbandar
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.34

Abstract

ABSTRAK Desa Harkatjaya di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah rawan bencana tanah longsor. Pada tahun 2021, telah terjadi 5 kali bencana tanah longsor di desa tersebut. Untuk mengurangi risiko bencana tanah longsor, kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas fisik, kapasitas ekonomi, kapasitas sosial, dan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana tanah longsor di Desa Harkatjaya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, penyebaran kuesioner, wawancara ahli, studi literatur, dan survei. Metode analisis yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG), metode analisis pembobotan (kuantitatif), dan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas masyarakat desa dan Pemerintah Desa Harkatjaya secara keseluruhan adalah sedang (65%) dan rendah (35%). ABSTRACT Harkatjaya Village in Sukajaya Sub-District, Bogor District is an area prone to landslides. In 2021, there have been 5 landslides in the village. To reduce the risk of landslides, the capacity of the community and local government needs to be increased. This research aims to identify the physical capacity, economic capacity, social capacity, and local government capacity in dealing with landslides in Harkatjaya Village. Data collection was carried out by field observation, distributing questionnaires, expert interviews, literature studies, and surveys. The analytical methods used are Geographic Information Systems (GIS), weighting analysis methods (quantitative), and descriptive analysis methods. The research result shows that the overall capacity of the village community and the Harkatjaya Village Government is medium (65%) and low (35%).
Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Perumahan dan Permukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Andika Kurniawan; Janthy Trilusianthy Hidayat; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.37

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan penduduk di perkotaan meningkatkan kebutuhan akan lahan. Kabupaten Bogor melalui RTRW 2016-2036 mengembangkan pusat-pusat kegiatan. Kecamatan Cigudeg mempunyai potensi pengembangan perumahan sebagai Pusat Kegiatan Promosi Lokal Perkotaan (PKLp). Kecamatan Cigudeg diperuntukkan bagi kegiatan pelayanan di tingkat kabupaten dan kecamatan sekitarnya, seperti kawasan pemukiman. Berdasarkan kondisi tersebut, maka diperlukan analisis terhadap perkembangan perumahan dan kawasan permukiman guna mengetahui potensi pengembangan perumahan dan kawasan permukiman di Kecamatan Cigudeg. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi kondisi penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. (2) Menganalisis kondisi potensi lahan permukiman dan permukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. (3) Menganalisis potensi pengembangan lahan pada kawasan pemukiman dan pemukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. (4) Menganalisis potensi daya dukung dan daya tampung lahan pada kawasan pemukiman dan permukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. Penelitian ini menganalisis potensi pengembangan kawasan pemukiman di Cigudeg dengan mempertimbangkan daya dukung menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan software ArcGIS 10.8. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analisis deskriptif kuantitatif yang meliputi kemampuan lahan, keseimbangan penggunaan lahan, kesesuaian lahan, potensi pengembangan lahan untuk perumahan dan kawasan pemukiman, serta daya dukung dan daya tampung penduduk dan lahan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data sekunder dan data primer. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi pengembangan perumahan dan kawasan pemukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. ABSTRACT Population growth in urban areas increases demand for land. Bogor Regency, through the 2016-2036 RTRW, is developing activity centers. Cigudeg District has the potential for residential development as an Urban Local Promotion Activity Center (PKLp). Cigudeg sub-district is intended for service activities at the district level and surrounding sub-districts, such as residential areas. Based on these conditions, an analysis of the development of housing and settlement areas is needed in order to identify the potential for development of housing and settlement areas in Cigudeg District. The objectives of this research are: (1) Identifying existing land use conditions in Cigudeg District, Bogor Regency. (2) Analyze the potential land conditions of residential and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency. (3) Analyzing the potential for land development in residential and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency. (4) Analyze the potential carrying capacity and capacity of land in residential and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency. This research analyzes the potential for developing residential areas in Cigudeg by considering carrying capacity using Geographic Information Systems (GIS) with ArcGIS 10.8 software. This type of research is quantitative descriptive analysis research covering land capability, land use balance, land suitability, land development potential for housing and residential areas, and carrying capacity and capacity of population and land. The data collection method used in this research is secondary data collection and primary data. The results of this research show the potential for developing housing and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency.
Identifikasi Kesiapan Kawasan Terminal Baranangsiang sebagai Kawasan Transit Oriented Development Mupid Fikri; Gde Ngurah Purnama Jaya; Umar Mansyur
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.40

Abstract

ABSTRAK Perkembangan Kota Bogor yang merupakan salah satu KSN Jabodetabekpunjur semakin berkembang baik dari pertumbuhan penduduk dan perkembangan fisik wilayah yang menyebabkan aktivitas didalamnya semakin meningkat. Peningkatan aktivitas ini selaras dengan meningkatnya kebutuhan transportasi Kota Bogor dimana saat ini kendaraan didominasi oleh kendaraan pribadi. Konsep pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development menjadi solusi dalam pengembangan kawasan yang mengintegrasikan pusat kegiatan dan jaringan angkutan umum. Kota Bogor dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2018 dan Peraturan Daerah Kota Bogor No 6 Tahun 2021 menetapkan pengembangan berorientasi transit skala kota pada kawasan Terminal Baranangsiang. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi eksisting kawasan TOD Terminal Baranangsiang Kota Bogor, dan 2) Menilai kesiapan teknis kawasan TOD Terminal Baranangsiang Kota Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menganalisis secara deskriptif dan spasial terkait kebijakan yang mendukung pada lokasi eksisting dan menggambarkan kondisi eksisting lokasi secara aktual, serta menganalisis secara deskriptif dan melakukan pengukuran menggunakan rating scale terhadap variabel kawasan TOD untuk mengukur kesiapan Kawasan Terminal Baranangsiang sebagai kawasan TOD. Hasil penelitian ini yaitu Kawasan Terminal Baranangsiang telah didukung beberapa kebijakan yang dapat mendorong sebagai kawasan berorientasi transit. Dilihat dari lokasinya, Kawasan Terminal Baranangsiang sangat strategis, sudah didukung oleh sistem transportasi dan pemanfaatan lahan yang sangat cocok dikembangkan sebagai kawasan berorientasi transit. Dilihat dari kesiapannya, kesiapan Kawasan Terminal Baranangsiang dirinci dari bloknya adalah blok A 67%, blok B 75%, blok C 72%, dan blok D 64% sebagai kawasan Transit Oriented Development. ABSTRACT The development of Bogor City, which is one of the Jabodetabekpunjur KSN, is growing both from population growth and physical development of the area which causes activities in it to increase. This increase in activity is in line with the increasing transportation needs of Bogor City where currently vehicles are dominated by private vehicles. The concept of transit-oriented development is a solution in developing areas that integrate activity centres and public transport networks. Bogor City in the Presidential Regulation of the Republic of Indonesia Number 55 of 2018 and Bogor City Regional Regulation No. 6 of 2021 stipulates city-scale transit-oriented development in the Baranangsiang Terminal area. The objectives of this research are 1) Identify the existing Baranangsiang Terminal TOD area in Bogor City, and 2) Assessing the technical readiness of the Baranangsiang Terminal TOD area in Bogor City. The method used in this research is descriptive and spatial analysis related to policies that support the existing location and describe the actual existing conditions of the location, as well as descriptive analysis and measurement using a rating scale on TOD area variables to measure the readiness of the Baranangsiang Terminal Area as a TOD area. The results of this study are that the Baranangsiang Terminal Area has been supported by several policies that can encourage it as a transit-oriented area. Judging from its location, the Baranangsiang Terminal Area is very strategic, already supported by a transport system and land use that is very suitable to be developed as a transit-oriented area. Judging from its readiness, the readiness of the Baranangsiang Terminal Area detailed from its blocks is block A 67%, block B 75%, block C 72%, and block D 64% as a Transit Oriented Development area.