cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2023)" : 8 Documents clear
STRATEGI PENANGANAN SANITASI DI PERMUKIMAN KUMUH DENGAN PENDEKATAN PARTISIPASI STAKEHOLDER (STUDI KASUS KOTA BIMA, NUSA TENGGARA BARAT) Hutagaol, David Christian; Soewondo, Prayatni; Awfa, Dion; Setiyawan, Ahmad Soleh; Sarli, Prasanti Widyasih; Halomoan, Nico
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.246-257

Abstract

ABSTRAKKebutuhan akan sanitasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan dan mendorong peningkatan ekonomi melalui peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten/kota untuk mengimplementasikan program sanitasi di Indonesia. Kota Bima sebagai lokasi studu dengan permasalahan sanitasi perlu didukung oleh stakeholder. Penelitian ini dapat melengkapi dokumen yang sudah dibuat. Penelitian ini dilakukan dengan metode campuran atau mixed method yang dilakukan secara kualitatif pada metode Stakeholder Analysis (SA) dan metode kuantitatif pada metode Social Network Analysis (SNA). Stakeholder Analysis dilakukan dengan focus group discussion (FGD) sedangkan Social Network Analysis dilakukan berdasarkan kuesioner yang diisi oleh peserta FGD saat acara FGD berlangsung. Hasil rangkaian penelitian di Kota Bima: teridentifikasi 52 stakeholder yang memiliki kepentingan terkait sanitasi di permukiman kumuh; terpetakan ada 8 key actors, 7 important actors, 6 interested actors, dan 9 additional actors ; teridentifikasi 4 influential stakeholders yang juga adalah key actors. Secara umum kekohesifan (density) semua jenis kerja sama pada Kota Bima tidak cukup baik, yaitu 7,7%. Diperlukan peningkatan kerja sama dengan Perusahaan Swasta, Masyarakat, dan Akademisi untuk penanganan sanitasi di permukiman kumuh Kota Bima. Kata kunci: sanitasi, kawasan kumuh, stakeholder analysis, social network analysis, Kota Bima ABSTRACTThe need for sanitation is one of the basic human needs as part of efforts to protect health and encourage economic improvement to increase the capacity of district/city governments to implement sanitation programs in Indonesia. Bima City as a study location with sanitation problems needs to be supported by stakeholders. This research was carried out using mixed methods which were generally carried out qualitatively using the Stakeholder Analysis (SA) method and quantitatively using the Social Network Analysis (SNA) method. Stakeholder Analysis was carried out using a focus group discussion (FGD) while Social Network Analysis was carried out based on a questionnaire filled out by FGD participants during the FGD event. The results of research series in Bima City: identified 52 stakeholders who have an interest in sanitation in slum settlements; there are 8 key actors, 7 important actors, 6 interested actors, and 9 additional actors; there are 4 influential stakeholders who are also key actors. In general, the cohesiveness (density) of all types of cooperation in Bima City is not good enough, namely 7.7%. There is a need to increase cooperation with private companies, communities and academics to handle sanitation in Bima City slums. Keywords : sanitation, slum area, stakeholder analysis, social network analysis, Bima City
ANALISIS TINGKAT KERAWANAN KEKRITISAN LINGKUNGAN MENGGUNAKAN METODE ENVIRONMENTAL CRITICALITY INDEX (ECI) DI KOTA BANJARBARU Sofyan A. P., Andi Baso; Fadlin, Feri; Insanu, Radik Khairil; Suriani, Lili; Maulana S., Fuad Agung
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.270-283

Abstract

 AbstrakPeningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di Kota Banjarbaru diprediksi akan terus meningkat. Oleh karena itu, penelitian mengenai monitoring perubahan kondisi dan tingkat kerawanan kekritisan lingkungan sangat penting dilakukan di wilayah ini untuk memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan yang diperlukan dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan utamanya di wilayah perkotaan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan memetakan perubahan kondisi berbagai parameter serta tingkat kerawanan kekritisan lingkungan di Kota Banjarbaru dengan metode Environmental Criticality Index (ECI). Analisis kekritisan lingkungan dengan metode ECI melalui pengolahan data citra penginderaan jauh Landsat 8-9 OLI/ TIRS untuk menghasilkan kondisi berbagai parameter kerawanan kekritisan lingkungan meliputi suhu permukaan wilayah, indeks kerapatan vegetasi, indeks kerapatan bangunan, dan indeks perairan. Di mana berdasarkan penelusuran penulis, kajian kekritisan lingkungan dengan metode ECI memanfaatkan citra Landsat-9 sebagai seri landsat terbaru belum pernah dilakukan utamanya di Kota Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukkan berbagai parameter kekritisan lingkungan tersebut mengalami perubahan yang cukup dinamis sejak tahun 2014 hingga tahun 2023. Sementara itu, hasil analisis data menggunakan metode ECI menunjukkan luas wilayah dengan tingkat kerawanan rendah mengalami kekritisan lingkungan pada tahun 2023 di Kota Banjarbaru yakni 19.512,5 hektar. Luas wilayah dengan tingkat kerawanan sedang yakni 12.044,2 hektar. Sementara luas wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi mengalami kekritisan lingkungan mencapai 1.365,7 hektar.Kata kunci: Kekritisan lingkungan, metode ECI, Kota Banjarbaru.AbstractThe increase in population and developmental activities in Banjarbaru City is anticipated to continue to rise. Therefore, conducting research on monitoring environmental condition changes and vulnerability levels is crucial in this area to provide essential environmental information necessary for urban development planning and management. The primary aim of this research is to analyze and map changes in various parameters conditions and the level of environmental criticality in Banjarbaru City using the Environmental Criticality Index (ECI) method. The environmental criticality analysis with the ECI method involves processing Landsat 8-9 OLI/ TIRS remote sensing image data to generate different parameters vulnerability levels, including surface temperature, vegetation density index, building density index, and water index. The author notes that environmental criticality studies utilizing Landsat-9 imagery, as the latest Landsat series, have not been primarily conducted in Banjarbaru City before. The research findings indicate dynamic changes in various environmental criticality parameters from 2014 to 2023. Moreover, the analysis results using the ECI method reveal the extent of low vulnerability areas experiencing environmental criticality in 2023 in Banjarbaru City, totaling 19,512.5 hectares. Areas with moderate vulnerability cover 12,044.2 hectares, while those with high vulnerability cover 1,365.7 hectares.Keywords: Environmental criticality, ECI method, Banjarbaru City.
STATUS MUTU AIR SUMUR GALI DAN PENGENDALIANNYA DI KAMPUNG YAMTA ARSO KABUPATEN KEEROM Suhartawan, Bambang; Iriyanto, Santje M; Alfons, Alfred B; Daawia, D
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.198-208

Abstract

ABSTRAK Memanfaatkan air yang higiene sanitasi mutlak diperlukan agar terhindar dari dampak negatif yang tidak diinginkan. Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil empat titik sampel (stasiun) air sumur gali di Kampung Yamta Arso Kabupaten Keerom Papua pada bulan Agustus sampai Oktober 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status mutu air dengan metode indeks pencemaran. Parameter pencemaran air yakni: parameter fisika (kekeruhan, warna, TDS dan suhu, rasa dan bau), parameter kimia (pH, besi, flourida, kesadahan, mangan, nitrat, nitrit, sianida, detergen dan pestisida total) serta parameter biologi (coliform total dan Escherichia coli). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status mutu air sumur gali pada stasiun 2 dan 3 diperoleh indeks pencemaran berturut-turut sebesar 2,00 dan 2,67 tergolong tercemar ringan, sedangkan pada stasiun 1 dan 4 diperoleh indeks pencemaran berturut-turut sebesar 0,65 dan 0,69 termasuk kategori baik (memenuhi baku mutu). Parameter yang tidak memenuhi baku mutu air adalah kekeruhan, pH, besi, detergen dan Escherichia coli. Hal ini dikarenakan melebihi baku mutu. Rancangan pengendalian air yang cocok agar memenuhi persyaratan baku mutu perlu dilakukan filtrasi dengan media zeolite, pasir, ijuk dan karbon aktif (karang tempurung kelapa) dan menambahkan sedikit klorin (kaporit) dan atau tawas pada bak penampung sebelum filtrasi. Kata kunci: Mutu, Air, indeks, Sumur, Yamta.  ABSTRACT Utilizing water that is hygienic and sanitary is absolutely necessary to avoid unwanted negative impacts. This research was carried out by taking four sample points (stations) of dug well water in Yamta Village, Arso District, Keerom Regency, Papua from August to October 2022. The aim of this research was to determine the status of water quality using the pollution index method. The Water pollution parameters were: physical parameters (turbidity, color, TDS and temperature, taste and smell), chemical parameters (pH, iron, fluoride, hardness, manganese, nitrate, nitrite, cyanide, detergent and total pesticides) and biological parameters (coliform total and Escherichia coli). The results of the research showed that the water quality status of dug wells at stations 2 and 3 obtained a pollution index of 2.00 and 2.67, respectively, which was classified as lightly polluted, while at stations 1 and 4, pollution indices were obtained, respectively, of 0.65 and 0.69 was included in the good category (met the quality standards). Parameters that did not meet water quality standard were turbidity, pH, iron, detergent and Escherichia coli. This is because it exceeded the quality standards.  A suitable water control design to meet quality standard requirements requires filtration using zeolite, sand, palm fiber, and activated carbon (coconut shell coral) media and adding a little chlorine (chlorine) and/or alum to the holding tank before filtration. Keywords: Quality, Water, Index, Well, Yamta
DAMPAK ERA ‘NEW NORMAL’ TERHADAP TIMBULAN DAN KOMPOSISI SAMPAH DI GEDUNG PERKULIAHAN PERGURUAN TINGGI: STUDI KASUS GEDUNG S FTUI Defiana, Fifi; Dewi, Ova Candra; Panjaitan, Toga; Widyarko, Widyarko; Sulistiani, Coriesta Dian
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.209-219

Abstract

AbstrakGedung dan komplek perguruan tinggi hingga kini masih mengelola sampahnya dengan menggunakan sistem kumpul, angkut dan buang. Namun, dengan merebaknya wabah COVID-19 yang lalu ikut juga menghentikan kegiatan perkuliahan pada gedung-gedung perguruan tinggi. Namun sejak wabah COVID-19 mulai dapat dikendalikan, seluruh kegiatan kembali berjalan dengan skenario ‘new normal’. Perubahan pola penggunaan gedung selama masa ‘new normal’ berpotensi juga mempengaruhi timbulan dan komposisi sampah yang dihasilkan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan jumlah timbulan dan komposisi sampah pada gedung kuliah saat sebelum pandemi COVID-19 dan pada era ‘new normal’. Metode penelitian menggunakan mixed methods, dengan studi kasus menggunakan gedung S yang merupakan gedung perkuliahan umum yang belokasi di FTUI, Kota Depok. Penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang hadir pada era ‘new normal’ hanya 57,6% dari mahasiswa yang terdaftar, namun timbulan sampah yang dihasilkan sebesar 81,44 kg/hari, atau sebesar 0,04 kg/hari/mahasiswa atau dua kali lebih banyak dari sebelum pandemi COVID-19, dengan komposisi sampah 61,40% adalah sisa makanan dan kemasan makanan dan 38,60% adalah sampah plastik. Hal tersebut karena adanya perubahan gaya hidup sebagian besar mahasiswa. Bertambahnya timbulan sampah saat ‘new normal’, membuat pengelolaan sampah pada Gedung S perlu disesuaikan kembali dengan komposisi sampah yang dihasilkan, dengan menerapkan konsep 3R.Kata kunci: Pengolahan sampah, gedung kuliah, era ‘new normal’AbstractBuildings and university complexes still manage their waste using a collection, transport and disposal system. The recent outbreak of the COVID-19 outbreak also stopped lecture activities in university buildings. However, since the COVID-19 outbreak began to be controlled, all activities have resumed with a 'new normal' scenario. The amount and makeup of waste generated are impacted by this change. This research aims to examine the comparison of the amount of waste generation and composition in lecture buildings before the COVID-19 pandemic and in the 'new normal' era. The research uses mixed methods, with a case study using S Building, a public lecture building located at FTUI, Depok. This research shows that the number of students attending in the 'new normal' era was only 57.6% of registered students, but the waste generated was 81.44 kg/day, or 0.04 kg/day/student, twice more than before the COVID-19 pandemic, with a waste composition of 61.40% being food scraps and food packaging and 38.60% being plastic waste. This is due to changes in the lifestyle of most students. This increase in waste generation means that waste management in S Building needs to be readjusted to the composition of the waste produced, by applying the 3R concept.Keywords: waste management, college buildings, the ‘new normal’ era
REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN BATU PASIR Kusdarini, Esthi; Mabuat, Imelda Srilestari; Redanto Putri, Fairus Atika
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.221-233

Abstract

 AbstrakCV. BS melakukan penambangan batu pasir yang menyisakan lahan tidak rata dan tandus. Penelitian ini bertujuan: 1) mendapatkan rona awal lahan pertambangan: peruntukan lahan, kelandaian topografi, elevasi, 2)  menentukan rona akhir lahan penambangan: bentuk lahan pasca penambangan, 3) rancangan teknis reklamasi: luas lahan reklamasi, waktu reklamasi, penatagunaan lahan, bentuk penampang dan dimensi saluran drainase, revegetasi, pemeliharaan. Metode yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, pengumpulan data sekunder dan perhitungan matematis dengan bantuan tools software. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) rona awal area pertambangan berupa pertanian lahan kering dengan vegetasi: rumput liar, kelandaian topografi: 10o – 20o,dan ketinggian elevasi: 41 – 61 mdpl, 2) rona akhir area pertambangan berupa lahan dengan satu jenjang dengan ketinggian 8 m dan kemiringan 60o, 3) luas area reklamasi sebesar 4,42 Ha; penimbunan lahan untuk membentuk teras bangku, selanjutnya dilakukan penebaran tanah pucuk setebal 40 cm atau 17.680 m3, penampang saluran drainase berbentuk trapesium dengan kedalaman (h) 0,5 m, lebar bawah (B) 0,3 m, koefisien dinding saluran (n) 0,03, dan sudut kemiringan (Ɵ) 60o; revegetasi membutuhkan bibit  pohon sengon: 1770 buah dan kacang ruji: 13,26 kg; pemeliharaan membutuhkan pupuk urea: 354 kg dan pupuk kandang: 885 kg.Kata kunci: batu pasir, reklamasi, sengon.AbstractCV. BS carries out sandstone mining which leaves uneven and barren land. This research aims to: 1) obtain the initial baseline of mining land: land use, topographic slope, elevation, 2) determine the final baseline of mining land: post-mining land form, 3) reclamation technical design: area of reclaimed land, reclamation time, land use, shape cross-section and dimensions of drainage channels, revegetation, maintenance. The methods used are observation, interviews, secondary data collection and mathematical calculations with the help of software tools. The research results show that: 1) the initial baseline of the mining area is dry land farming with vegetation: wild grass, topographic slope: 10o – 20o, and elevation height: 41 – 61 meters above sea level, 2) the final baseline of the mining area is land with one level of elevation. 8 m and a slope of 60o, 3) the reclamation area is 4.42 Ha; filling the land to form a bench terrace, then spreading top soil 40 cm thick or 17,680 m3, the cross-section of the drainage channel is trapezoidal with a depth (h) of 0.5 m, bottom width (B) 0.3 m, channel wall coefficient (n) 0.03, and tilt angle (Ɵ) 60o; revegetation requires sengon tree seeds: 1770 fruits and ruji nuts: 13.26 kg; maintenance requires urea fertilizer: 354 kg and manure: 885 kg.Keywords: sandstone, reclamation, sengon.
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHARA BERACUN (B3) PADA BENGKEL DI WILAYAH JAKARTA Dahlan, Astryd Viandila; Mursidik, Setyo Sarwanto; Rinjani, Cholisa Amalia Putri; Luthfi, Muhammad Rifaldi; Nurlaily, Salma
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.234-245

Abstract

 AbstrakBengkel kendaraan bermotor sebagai penyedia jasa perbaikan maupun perawatan kendaraan bermotor berpotensi menimbulkan limbah berbahaya dan beracun (B3). Banyaknya jumlah dan variasi perawatan kendaraan ini tentu berpengaruh terhadap total jumlah limbah yang ditimbulkan oleh bengkel. Oleh karena itu, evaluasi pengelolaan limbah berbahaya di bengkel kendaraan bermotor sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi komponen limbah berbahaya, mengamati praktik pengelolaan saat ini, dan mengusulkan metode pengelolaan limbah yang tepat. Enam bengkel sepeda motor dan tiga bengkel mobil di Jakarta menjadi sampel pada penelitian ini. Jenis limbah berbahaya (B3) yang terindentifikasi pada bengkel kendaraan bermotor meliputi kain bekas, minyak bekas, botol limbah, botol pendingin bekas, dan suku cadang bekas, dengan berat total berkisar antara 0,54 kg/unit/hari hingga 0,83 kg/unit/hari. Namun, praktik pengelolaan limbah berbahaya dan beracun di bengkel-bengkel ini belum sepenuhnya sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 6 tahun 2021. Tindakan rekomendasi perbaikan diperlukan untuk mengatasi masalah ini dan melindungi kesehatan manusia serta lingkungan.Kata kunci: limbah B3, limbah bengkel, Indonesia, JakartaAbstractVehicle workshops as providers of vehicle repair and maintenance services have the potential to generate hazardous and toxic waste. The large number and variety of vehicle maintenance certainly influence the total waste generated by the workshops. Therefore, assessing hazardous waste management in vehicle workshops is vital. The study aims to identify and characterize hazardous waste components, observe current management practices, and propose proper waste management methods. Six motorcycle and three car repair shops in Jakarta were examined. Hazardous waste types found in all vehicle workshops include used cloth, waste oil, bottles, coolant bottles, and used auto parts, with average waste generated ranging from 0.54 kg/unit/day to 0.83 kg/unit/day. Despite the findings, it is evident that the hazardous and toxic waste management practices in these repair shops do not fully comply with The Minister of Environment and Forestry Regulation No. 6 of 2021. Urgent action is needed to address these issues and safeguard human health and the environment.Keywords: Hazardous waste, waste vehicle workshops, Indonesia, Jakarta.
ANALISIS KESENJANGAN DISTRIBUSI RUANG TERBUKA HIJAU TINGKAT PELAYANAN KOTA DAN KECAMATAN DARI SISI AKSESIBILITAS DENGAN METODE SPACE SYNTAX (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG) Iscahyono, Achmad Fauzan; Qolifah, Siti; Kameswara, Byna
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.184-197

Abstract

AbstrakKesenjangan distribusi ruang terbuka hijau di Kota Bandung membawa dampak tersendiri terhadap lingkungan. Selain itu, kesenjangan distribusi ruang terbuka hijau juga berpengaruh terhadap aksesibilitas masyarakat dalam pergerakan menuju ruang terbuka hijau tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kesenjangan distribusi ruang terbuka hijau tingkat pelayanan kota dan kecamatan di Kota Bandung. Studi ini memakai metode Space Syntax dengan bantuan software DepthmapX. Bersumber pada hasil analisis dalam studi ini, menunjukkan bahwa distribusi ruang terbuka hijau di Kota Bandung mempunyai tingkatan kesenjangan yang besar. Distribusi ruang terbuka hijau cenderung berada di bagian tengah dan barat yang berpengaruh terhadap kemudahan aksesibilitas. Selain itu, lokasi distribusi ruang terbuka hijau cenderung berada pada jaringan jalan yang kurang terhubung. Terdapat beberapa ruang terbuka hijau yang berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki aksesibilitas yang sangat baik, yaitu Taman Balai Kota Bandung, Taman Alun Alun dan Taman Kiara Artha. Penelitian ini diharapkan dapat mengevaluasi keberadaan ruang terbuka hijau serta sebagai rekomendasi penentuan lokasi ruang terbuka hijau dengan kualitas yang baik yang mudah diakses oleh masyarakat.Kata kunci: ruang terbuka hijau, distribusi, aksesibilitas, space syntax. AbstractThe disparity in the distribution of public open spaces in Bandung City has its own impact on the environment. In addition, the disparity in the distribution of public open spaces also affects the accessibility of the community in moving towards these public open spaces. This study expects to determine the level of disparity in the distribution of public open spaces at the city and sub-district service levels in Bandung City. This study uses the Space Syntax method with the help of DepthmapX software. In view of the consequences of the examination in this study, it shows that the distribution of public open spaces in Bandung City has a high level of disparity. The distribution of public open spaces tends to be in the central and western parts which affect the ease of accessibility. In addition, the distribution locations of public open spaces tend to be on less connected road networks. There are several public open spaces that have the potential to be developed because they have excellent accessibility, namely Bandung City Hall Park, Alun Alun Park and Kiara Artha Park. This study is expected to evaluate the existence of public open spaces and as a recommendation for the location of public open spaces arrangement with great quality that is effectively open to the community.Keywords: public open space, distribution, accessibility, space syntax.
PENURUNAN KADAR BOD, COD DAN TURBIDITY LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK MELALUI METODE KOMBINASI PRETREATMENT FILTRASI ADSORPSI DAN ELEKTROKOAGULASI Febrianto, Muhammad Akbar; Sujiwa, Akbar; Shofwan, Moch; Majid, Dian
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.258-269

Abstract

AbstrakLimbah cair industri batik pada Industri Batik X di Kampung Batik Jetis, Jln P. Diponegoro, Lemah Putro, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, mengandung zat pencemar seperti BOD dan COD. Sebagai solusi, metode kombinasi Pretreatment Adsorpsi dan Elektrokoagulasi diajukan sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas metode kombinasi tersebut. Untuk proses Pretreatment Adsorpsi, digunakan reaktor model kontinu, sementara Elektrokoagulasi diterapkan dengan sistem batch. Penelitian dilakukan dengan variasi tegangan: 5; 7,5; 10; dan 12,5 V. Hasilnya, metode kombinasi ini berhasil menurunkan kadar BOD, COD, dan Turbiditas pada limbah cair industri batik. Efisiensi terbaik diperoleh pada tegangan 12,5 Volt untuk BOD dengan konsentrasi akhir mencapai 200,5 mg/L (efisiensi 85,19%) dan Turbiditas akhir mencapai 1,25 NTU (efisiensi 99,92%). Sedangkan untuk COD, penurunan optimal tercapai pada tegangan 10 V dengan COD akhir sebesar 445,5 mg/L (efisiensi 87,15%). Kata kunci: Limbah cair industri batik, Pretreatment Adsorpsi, Elektrokoagulasi.AbstractThe wastewater from the batik industry at Industri Batik X in Kampung Batik Jetis, Jln P. Diponegoro, Lemah Putro, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, contains pollutants such as BOD and COD. As a solution, a combination of Pretreatment Adsorption and Electrocoagulation methods is proposed as an alternative. This research aims to evaluate the effectiveness of this combined method. For the Pretreatment Adsorption process, a continuous model reactor was used, while Electrocoagulation was applied with a batch system. The study was conducted with variations in voltage: 5 Volts, 7.5 Volts, 10 Volts, and 12.5 Volts. The results show that this combined method successfully reduced the levels of BOD, COD, and Turbidity in the wastewater from the batik industry. The best efficiency was achieved at 12.5 Volts for BOD, with a final concentration of 200.5 mg/L (85.19% efficiency), and a Turbidity of 1.25 NTU (99.92% efficiency). Meanwhile, for COD, the optimal reduction was reached at 10 Volts, resulting in a final COD concentration of 445.5 mg/L (87.15% efficiency).Keywords: Batik industrial liquid waste, Adsorption Pretreatment, Electrocoagulation.

Page 1 of 1 | Total Record : 8