cover
Contact Name
Joni Setiawan
Contact Email
setiawanjoni@gmail.com
Phone
+628151657716
Journal Mail Official
redaksi.dkb@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kusumanegara No. 7 Yogyakarta, Indonesia 55166
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
ISSN : 20874294     EISSN : 25286196     DOI : https://doi.org/10.22322/dkb.v42i1
Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH is an open-access journal published by Center for Handicraft and Batik, Ministry of Industry as scientific journal to accommodate current topics related to include materials research and development, production processes, waste treatment management, designs and entrepreneur of handicrafts and batik. Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH publishes communications, articles, and reviews. The first volume of DKB has been published in 1987 and continued until today with 2 (two) issues of publication each year. The number of articles for each issue is 9 (nine) articles. The official language of the journal is Bahasa Indonesia, but manuscripts in English are also welcomed. Manuscript submission and reviewing process is fully conducted through online journal system, using a double-blind review process
Articles 308 Documents
Penerapan Produksi Bersih pada Proses Elektroplating Perak Hastuti, Kusreni; Sri Hastuti, Lies Susilaning; Indriastuti, Surti
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v25i1.1025

Abstract

Proses ektroplating perak adalah proses memberikan lapisan tipis perak pada permukaan suatu benda logam dengan bantuan arus listrik, dengan media pelapisan larutan elektrolit perak KAgCN. Benda yang dilapis berupa bros dari logam tembaga tembaga. Tahapan proses pelapisan meliputi: pengerjaan awal yang terdiri dart proses: polis, cuci lemak dan karat, proses pelapisan, pencucian, dan pengeringan. Hampir setiap tahapan proses elektroplating menggunakan bahan kimia yang akan terbuang menjadi limbah berbahaya, yaitu melalui pencucian dan pembilasan, tumpahan atau percikan dari bak elektrolit, sisa larutan elektrolit yang akan. Pada kegiatan ini diamati pengerjaan elektroplating perak sebanyak 240 buah bros, setiap kali proses sebanyak 24 bros dalam 3 liter elektrolit. Kegiatan penerapan produksi bersih pada proses ini adalah, mengganti bahan masukan pada saat pencucian air alam diganti dengan aquades, HCI atau H2S04 sebagai bahan pencuci diganti dengan asam jawa atau lerak, menggunakan elektrolit dengan konsentrasi minimum, memperkecil drag out, dan pengaturan layout proses. Hasil pengamatan menunjukan bahwa penerapan produksi bersih pada proses elektroplating perak menunjukkan bahwa pH limbah pencucian dan pembilasan dari 4~5 menjadi 6-7, penghematan bahan pelapis 5 %, meningkatkan efisiensi larutan elektrolit 5 % dan menurunkan produk rejek 5 %. Kata kunci : elektroplating perak, elektrolit, produksi bersih
Kajian Estetika Desain Batik Khas Sleman "Semarak Salak" Salma, Irfa'ina Rohana; Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1026

Abstract

AbstrakBatik merupakan karya seni adiluhung bangsa Indonesia yang keindahannya telah diakui dunia. Tekstil tradisional yang proses pendekorasiannya menggunakan lilin (malam) sebagai  warna ini, kembali mengalami tren yaitu mulai digemari lagi oleh masyarakat. Kegairahan memakai batik turut membangkitkan kembali IKM batik di berbagai daerah yang selama ini mengalami kelesuan produksi. Kreativitas penciptaan karya batik mengalami peningkatan. Banyak pemerintah daerah mulai membangkitkan potensi kreatif di bidang seni batik, salah satunya adalah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah Kabupaten Sleman lewat kreativitas desainer ingin menciptakan desain batik baru yang mencerminkan identitas sosial budaya dan alamnya, yang akan digunakan sebagai batik khas daerah. Desain batik dengan judul “Semarak Salak” adalah salah satu hasil karya desain batik khas Sleman yang sumber inspirasi penciptaannya digali dari hasil bumi asli Sleman yaitu salak pondoh. Pengkajian estetika terhadap karya desain batik “Semarak Salak” bertujuan untuk mengetahui kandungan nilai-nilai keindahan universal dari karya tersebut. Metode yang dipakai yaitu pendekatan studi kepustakaan. Dari hasil pengkajian didapatkan hasil bahwa karya desain  batik   “Semarak Salak” mengandung nilai-nilai keindahan yang terdapat dalam komposisi motif, komposisi warna, kesesuaian dengan ciri khas Sleman, serta kandungan makna filosofisnya. Kata kunci: estetika, desain batik, Sleman, semarak salak AbstractBatik is a valuable artwork of beauty of Indonesia which has been recognized worldwide. Traditional textile processes decorated by wax (malam) asthis color barrier, re-experiencing a trend that began more favored by the public. Wearing batik excitement helped revive batik SMEs in various areas that have experienced a declined in production. Creation of batik has increased. Many local governments began to awaken the creative potential in the arts of batik, one of which is Sleman, Yogyakarta. Sleman Government through designers creativity wanted to create new batik designs that reflect the social, cultural and natural identity, which will be used as the unique batik area. Batik design entitled “Semarak Salak” is one typical batik design work Sleman  creation inspirated by from the earth excavated the original fruit of Sleman, salak pondoh. Assessment batik design aesthetic of “Semarak Salak” aims to know the content of the universal values of beauty of the work. The methods employed in the literature approach. From the results of the study showed that batik design work “Semarak Salak” contains beauty values of it motif presentation the motif, color composition, compare with typical Sleman, as well as the content of philosophical meaning. Keywords: aesthetic, batik design, Sleman, Semarak Salak
Kajian Tentang SNI Barang-Barang Emas Rufaida, Evi Yuliati; Indriastuti, Surti
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v25i1.1027

Abstract

Standar adalah merupakan spesifikasi teknis atau dokumen setara yang berlaku di masyarakat. Tujuan diterbitkannya Standar Nasional Indonesia (SNI) memberikan persyaratan minimum yang akan menjamin kesesuaian produk dengan persyaratan dan kebutuhan konsumen. Dalam penggunaannya SNI dapat bersifat wajib dan sukarela. Bersifat wajib apabila berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan terhadap lingkungan. SNI barang-barang emas saat ini masih bersifat sukarela.SNI barang - barang emas yang telah tersusun saat ini adalah SNI tahun 1995, SNI tahun 2005 dan SNI barang barang ernas rnuda tahun 1995 perlu disesuaikan dengan situasi, kondisi masyarakat saat ini dan perkembangan yang ada baik dalam hal kompetensi teknis maupun kesesuain dengan Pedoman 08-2007 mengenai Penulisan Standar Nasional Indonesia. Tiga SNI tersebut perlu dikaji dengan membandingkan Standar dari negara lain dan perkembangan metode uji mutakhir dari lembaga pemerintah maupun dari asosiasi emas. Analisis dilakukan terhadap persyaratan mutu, metode uji dan syarat penandaan.Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa SNI barang-barang emas perlu direvisi yang mencakup persyaratan mutu, metode uji yang dapat dipertanggung jawabkan keakuralannya dan pencantuman tanda kadar dan logo atau merk dari perusahaan atau perusahaan penjamin pada barang emas atau pada nota jual terhadap barang - barang emas yang beredar. Kata kunci : barang-barang emas, Standard Nasional Indonesia (SNI).
Makna Motif Mirong Bangsal Witana dan Bangsal Manguntur Tangkil Keraton Yogyakarta Sukirman, Sukirman
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1028

Abstract

ABSTRAKMirong adalah satu di antara macam motif ragam hias pada tiang Bangsal Witana, Bangsa Manguntur Tangkil, dan beberapa bangsal lainnya di dalam Keraton Yogyakarta. Mirong ikut memperindah tampilan tiang bangsal. Mirong berfungsi sebagai ornamen penambah keindahan, dan simbol tentang makna tertentu. Para interpreter memaknainya dari sudut pandang bentuk, kepercayaan dan agama, yaitu mirong sebagai bentuk kaligrafi huruf Arab Alif-lam-mim atau Alif-lam-mim-ra, gambaran sosok Kanjeng Ratu Kidul, dan gambaran Kalifatullah. Di balik sejumlah makna yang ada, ternyata terdapat makna-makna yang tersembunyi yang dapat diungkap. Hubungan antar makna yang sudah ada, sudut pandang orientasi arah hadap motif, letak dan hierarki, ternyata dapat digunakan untuk mengungkap makna-makna yang baru. Simulasi-simulasi motif dibantu beberapa prinsip korektif, semakin mempermudah membuka makna yang tersembunyi, dan akhirnya dapat diangkat ke permukaan. Semuanya semakin menambah beragamnya makna mirong, tanpa menutup makna yang telah ada. Motif mirong ternyata memiliki makna sebagai status terpenting, yaitu bahwa motif mirong adalah gambaran sosok Sultan. Mirong semestinya juga sebagai tanda tentang hak milik suatu bangunan, bahwa bangunan yang dikenai motif mirong menandai sebagai hak milik Keraton atau atau sebagai milik Sultan. Masyarakat pada umumnya oleh karena itu dapat mempertimbangkan tingkat kelayakan secara etika kemungkinan penerapan mirong pada bangunan miliknya atau bangunan di luar Keraton. Kata kunci: Mirong, Alif-lam-mim-ra, Kalifatullah, Sultan ABSTRACTMirong is decorativ motif on the pillars at Bangsal Witana, Bangsal Manguntur Tangkil, and some other bangsal in Yogyakarta Palace. Mirong embellieshs the appearance of the pillar. Mirong has fungtion ornament to additition esthetic, and symbol of specific meanings. The interpreters deffine its meanings from such as from its shape, belief and religion, that is mirong as shape calligraphy of Arabian letter Aif-lam-mim or Alif-lam-mim-ra, representation of Kanjeng Ratu Kidul, and representation of Kalifatullah. Behind those meanings, there are other hidden meanings to be revealed. The relation between existing meaning, motif direction orientation, placing and hierarchy, can be used to uncover new interpretations. Motif simulations, aided by some corrective principle, will ease to reveal the hidden meanings which eventually can be brouth up. Those new meanings will enrich the verious of mirong meanings, without omitting the existing ones. The mirong motif, is also a mark of buiding property of The Palace or Sultan. Therefore, the common people should consider the appropriateness of putting the motif on their buildings or other buildings outside The Palace. Keyword: Mirong, Alif-lam-mim-ra, Kalifatulah, Sultan
Tinjauan Ekonomi Penerapan Produksi Bersih di IKM Pelapisan Emas/Perak untuk Perhiasan Imitasi Hastuti, Lies Susilaning Sri
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1030

Abstract

AbstrakProduksi Bersih adalah suatu program strategis yang bersifat proaktif yang diterapkan untuk menselaraskan kegiatan pembangunan ekonomi dengan upaya perlindungan lingkungan. Produksi Bersih juga untuk mengurangi timbulnya limbah yang memerlukan biaya banyak jika dilakukan pengolahan. Untuk menerapkan produksi bersih strategi yang diterapkan adalah 1E 4R yaitu Elimination, Rethink, Reduce, Reuse dan Recovery.Tujuan dari tinjauan ekonomi ini adalah untuk menghitung seberapa besar kerugian yang ditimbulkan dengan proses produksi yang saat ini dilakukan oleh IKM serta mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan. Telah dilakukan pengamatan pada proses produksi di salah satu IKM Pelapisan emas/perak di Kotagede Yogyakarta dan percobaan pelapisan emas/perak di laboratorium jewelry Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Hasil dari pengamatan dan ujicoba pelapisan emas/perak diperoleh bahwa jika di IKM Pelapisan emas/perak diterapkan produksi bersih maka dapat melakukan penghematan lebih kurang 50% dari bahan yang digunakan, yang secara kasar akan diperoleh penghematan biaya sebesar Rp 44.668.500,- per bulan, dan dalam satu tahun penghematannya adalah Rp 536.022.000,-. Kesimpulan yang dapat diberikan bahwa jika produksi bersih dapat diterapkan di IKM Pelapisan emas/perak akan diperoleh penghematan yang tidak sedikit, sehingga penghematan itu dapat digunakan untuk berproduksi yang dapat membuat usahanya lebih berkembang. Saran yang dapat diberikan adalah segera dilakukan sosialisasi tentang produksi bersih ini, sehingga perajin mengetahui manfaat dari penerapan produksi bersih ini. Dengan demikian IKM dapat mengurangi limbah yang ditimbulkan dan sekaligus menghemat biaya.Kata kunci : produksi bersih, proses pelapisan, emas/perak. ABSTRACTCleaner Production is a proactive strategic programs implemented to harmonize economic development activities with the effort protection of the environment .Cleaner Production also to Reduce the cost of waste if you do a lot of processing. To implement cleaner production strategy adopted is 1E 4R is Elimination, Rethink, Reduce, Reuse and Recovery. The purpose of the review of the economy is to calculate how much damage caused by the production process currently undertaken by SMEs and to know the environmental impact. It has been observed in the production process in one of SMEs Coatings gold / silver in Yogyakarta and experiment coating gold / silver at the jewelry laboratory in Center for Crafts and Batik, Yogyakarta. The results of observation and experiment coating gold / silver was found that if the SME Coatings gold / silver applied cleaner production, it can make savings of approximately 50% of the materials used, which will roughly be obtained cost savings of Rp 44.668.500, - per month , and within a year the savings is Rp 536.022.000, -. The conclusion can be given that if the cleaner production in SMEs Coatings gold / silver can be applied to the production of cleaner will get quite a bit of savings, so the savings can be used to produce that can make their business more evolve.Suggestion that can be given is immediately conducted on cleaner production, so crafters know the benefits of the application of cleaner production is. Thus, SMEs can Reduce the waste generated and simultaneously save costs. Keywords: cleaner production, the coating, gold / silver
Pewter untuk Kerajinan Perhiasan Rufaida, Evi Yuliati; Indriastuti, Surti
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v26i1.1031

Abstract

Ekspor timah Indonesia tahun 2007 mengalami penurunan, sedang kerajinan pewter dari logam timah tersebut semakin berkurang karena harga jual yang tidak sesuai dengan biaya produksi. Oleh karena itu disusun penelitian pewter untuk kerjainan perhiasan agar memberikan nilai tmabah bagi perajin logam pewter.Pelaksanaan penelitian ini adalah dengan memanfaatkan pewter yang ada dibuat kerajinan perhiasan dengan menggunakan teknik produksi perhiasan logam perak. Pewter dengan menggunakan teknik pembuatan plat, kawat cetak tempa, tempa, cetak tuang dan filigri/trap-trapan yang merupakan teknik produksi perhiasan logam perak, hasil dari kerajinan perhiasan diuji secara visual atas esttetika dan warna bekas patri. Pengujian fisika kimia dengan uji tahan keringat dan tahan H2s, kekuatan tarik kawat dan hasil patri secara fisika dan kimia, uji estetika. Keyword: pewter, perhiasan
Penelitian Pembuatan Arang Bambu (Bamboo Charcoal) pda Suhu Rendah untuk Produk Kerajinan Suheryanto, Dwi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1032

Abstract

AbstrakProses pengarangan terjadi bila ada suatu benda yang dipanasi sampai mencapai titik bakarnya sehingga benda terlihat membara, kemudian pemasukan oksigen dihentikan atau dibatasi agar benda tersebut tidak terbakar menjadi abu. Untuk melakukan uji coba penelitiaan pengarangan bambu menggunakan 2 jenis tungku, yaitu: tungku Tipe-1 tungku pengarangan suhu rendah (<120°C), dan tungku Tipe-2 tungku pengarangan suhu menengah 120°C -260°C, yang terbuat dari drum dengan Ǿ 35 cm. Bahan bambu yang digunakan terdiri dari 3 jenis bambu, yaitu; bambu cendani, petung, dan legi, dan produk bambu setengan jadi. Prosedur pengerjaan meliputi, penyiapan bahan (pemotongan dan seleksi), pengeringan, pengukuanr kandungan air awal, pengarangan, pengamatan proses pengarangan, dan identifikasi tingkat keberhasilan pengarangan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi proses pengarangan dan kinerja tungku suhu rendah dan menengah. Dari hasil pengukuran kandungan air awal dari ke 3 jenis bambu yaitu dibawah 15%, sedangkan dari hasil pengamatan dan identifikasi pengarangan, pengarangan dengan menggunakan tungku Tipe-1, temperatur tertinggi rata-rata yang dapat dicapai 107,4 ºC dalam waktu 5 jam, dengan tingkat keberhasilan pengarang antara 60 % - 90 %, atau rata-rata 73 %;  dengan tungku Tipe-2, temperatur tertinggi rata-rata yang dapat dicapai 112,8 ºC dalam waktu 3,5 jam, dengan tingkat keberhasilan pengarang antara 50 % - 90 %, atau rata-rata 81 %. Kata kunci: arang bambu (bamboo charcoal), pengarangan, suhu, tungku pengarangan ABSTRACTA charcoal formation process occurs when an object is being heated until it reaches its burning point and smoldered, then the oxygen intake is stopped or restricted, so the object will not get burned into ashes. In this research, there are two tipes of furnaces being used, those are: Furnace Tipe-1, with low temperature (120°C) and Furnace Tipe-2, with medium temperature (120°C 260°C), which are made from barrel with 35 cm of diameters. There are 3 tipes of bamboo used in this research, namely: Cendani, Petung, and Legi Bamboo, also semi-finished bamboo products. The procedures are: material preparation (cutting and selection), drying, and measurement of initial water content, charcoal formation process, observation of the process and success rate identification. The objective of this research is for to know the influence the factor of a charcoal formation process at low and medium temperature From the measurement, the initial water content of those 3 tipes of bamboo is under 15%. Meanwhile, from the observation and identification, it obtained that in the charcoal formation process using Furnace Tipe-1, the average highest  temperatures reached is 107,4°C during 5 hours, with success rate between 60% - 90%, or 73 in average. In Furnace Tipe-2, the average highest temperature is 112,8°C during 3,5 hours, with success rate between 50% - 90% or 81% in average. Keywords: bamboo charcoal (bamboo charcoal), charcoal formation process, temperature, furnace 
Pengolahan Kulit Kerang untuk Bahan Baku Kerajinan Pristiwati, Endang; Subagjo, Subagjo
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v26i1.1033

Abstract

Kulit kerang (cangkang) untuk dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan perlu diolah terlebih dahulu. Pengolahan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran, bau dan menghilangkan lapisan kulit luar agar supaya lapisan kulit mutiara (kulit dalam) bisa nampak. Pengolahan kulit kerang dapat dilakukan dengan cara kimia dan mekanik. Pengolahan kulit kerang cara kimia dilakukan dengan merendam didalam larutan asam klorida atau cuka. Sedangkan cara mekanik dilakukan dengan menggunakan gerinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan dengan cara kimia mudah dilaksanakan, waktu lebih singkat (247 menit/4 kg/orang), tidak memerlukan ketrampilan namun menimbulkan limbah cair. Pengolahan dengan cara mekanik memerlukan ketrampilan, waktu lebih lama (425 menit/4 kg/orang), tidak menimbulkan limbah cair tetapi menimbulkan limbah padat.
Modifikasi Paper Cutter untuk Kerajinan Chenille Stripes Kusumadhata, Kuncup Putih
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1034

Abstract

AbstrakSalah satu tahapan dalam pembuatan kerajinan chenille strips adalah memotong lapisan kain menggunakan cutter khusus. Cutter khusus kerajinan chenille strips tidak diproduksi di Indonesia. Harga cutter khusus chenille strips terlalu mahal jika dibandingkan dengan alat potong universal seperti pisau cutter dan lain-lain. Penelitian ini dilakukan untuk memodifikasi cutter universal sehingga bisa digunakan untuk memotong lapisan kain pada kerajinan chenille strips. Produk hasil modifikasi ini memiliki tingkat efisiensi tingkat kinerja dan perbandingan harganya. Dengan alat ini, perajin kerajinan chenille strips dapat memiliki alat potong khusus dengan harga yang murah.        Kata Kunci : chenille strips, cutter Pemotong untuk chenille strips, chenille cutter modifikasi, AbstractOne of steps in the making of Chenille Strips are cutting layers of fabric using special cutter. This special tool isn’t produced in Indonesia, furthermore, the price is still high when compared with universal cutting tools such as scissors, knives, utility knives etc. This research is underway to modify the utility cutter so that can be used to cut the layer as in the process of making chenille strips. These modified tool has a high level of performance and producing cost efficiency. With these tools, chenille strips crafter can have a special cutting tool at a cheap price. Keyword : chenille strips, chenille strips cutter, engineered chenille cutter, alternative cutting 
Pemanfaatan Limbah Pertanian Untuk Industri Kerajinan Kertas Seni Sukundayanto, Sukundayanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v26i1.1035

Abstract

Limbah kerajinan anyaman berupa potongan-potongan pendek serat mendong dan pelepah batang pisang merupakan limbah hasil pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kerajinan kertas seni. Pembuatan kerajinan kertas seni dapat dilakukan dengan cara dan peralatan sederhana, sesuai untuk industri kecil dan rumah tangga terutama di pedesaan. Permasalahan yang ada yaitu belum adanya IKM yang memanfaatkan limbah pertanian tersebut untuk kerajinan kertas, karena keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan dan sampai saat ini pemanfaatan pelepah pisang maupun mendong untuk kertas seni masih sangat terbatas.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk penganekaragaman produk kertas seni dari limbah pertanian. Dalam penelitian ini dilakukan uji coba pembuatan bubur dari pelepah pisang dan mendong dengan variasi cara perebusan selama 1, 1,5 dan 2 jam, perendaman dengan variasi 7 , 10, 13 hari, waktu penggilingan 10, 15, 20 menit. Pengujian dilakukan terhadap lembar kertas yang dihasilkan meliputi : kekuatan tarik. sobek, jebol dan pengamatan visual dan karakteristik kertas.Dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan bahan baku pelepah pisang diperoleh hasil optimal pada pembuatan bubur pulp dengan pemasakan perebusan kostik soda 1 % dan waktu rebus 1 jam setelah mendidih dengan perlakuan awal perendaman dan penggilasan dalam perbandingan vlot 1 :6.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan waktu perendaman optimal adalah 10 hari, waktu penggilingan 20 menit, waktu perebusan 1 jam. Limbah mendong menghasilkan kertas lebih keras dan kaku dengan warna kehijauan sesuai untuk kerajinan model otomotif, kemasan dan cinderamata. Limbah pelepah pisang menghasilkan kertas yang lebih elastis dengan warna kecoklatan dan tekstur menarik terutama untuk. kerajinan kap lampu, lampion, dan pembatas ruangan.Kata kunci: limbah pertanian dan kerajinan, proses pembuburan, pembuatan kerajinan kertas seni

Page 6 of 31 | Total Record : 308


Filter by Year

1987 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 42 No. 1 (2025): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 2 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 2 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 1 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 2 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 1 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 2 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 2 (2020): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 34 No. 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 No. 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik More Issue