cover
Contact Name
Joni Setiawan
Contact Email
setiawanjoni@gmail.com
Phone
+628151657716
Journal Mail Official
redaksi.dkb@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kusumanegara No. 7 Yogyakarta, Indonesia 55166
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
ISSN : 20874294     EISSN : 25286196     DOI : https://doi.org/10.22322/dkb.v42i1
Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH is an open-access journal published by Center for Handicraft and Batik, Ministry of Industry as scientific journal to accommodate current topics related to include materials research and development, production processes, waste treatment management, designs and entrepreneur of handicrafts and batik. Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH publishes communications, articles, and reviews. The first volume of DKB has been published in 1987 and continued until today with 2 (two) issues of publication each year. The number of articles for each issue is 9 (nine) articles. The official language of the journal is Bahasa Indonesia, but manuscripts in English are also welcomed. Manuscript submission and reviewing process is fully conducted through online journal system, using a double-blind review process
Articles 308 Documents
Rekayasa Alat Tumbling Untuk Industri Kerajinan Machmud, Djumala; Supardi, Supardi; Tukidjan, Tukidjan
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1049

Abstract

Industri kerajinan aksesori yang terus berkembang perlu ditunjang dengan peralatan agar produktivitasnya meningkat sehingga lebih mampu bersaing di pasaran. Salah satu peralatan yang perlu diciptakan untuk penyempurnaan produk tersebut adalah alat penyempurnaan dengan sistem tumbling.Teknik tumbling, momen gaya, gaya pada putaran vertikal, elemen alat dan bahan alat dipakai sebagai dasar dalam perencanaan rekayasa peralatan tumbling.Pembuatan tabung tumbling dengan bentuk segi enam beraturan dan peralatan pengatuh kecepatan putaran merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku, hasil uji coba peralatan dibandingkan dengan bajan kerja sebelum proses dipakai untuk mengetahui tingkat unjuk kerja peralatan.Peralatan dapat berfungsi sebagaimana diharapkan, dengan hasil penampakan permukaan benda kerja yang berbeda dengan kenampakan permukaan benda kerja sebelum proses.Industri kerajinan aksesori yang terus berkembang perlu ditunjang dengan peralatan agar produktivitasnya meningkat sehingga lebih mampu bersaing di pasaran. Salah satu peralatan yang perlu diciptakan untuk penyempurnaan produk tersebut adalah alat penyempurnaan dengan sistem tumbling.Teknik tumbling, momen gaya, gaya pada putaran vertikal, elemen alat dan bahan alat dipakai sebagai dasar dalam perencanaan rekayasa peralatan tumbling.Pembuatan tabung tumbling dengan bentuk segi enam beraturan dan peralatan pengatuh kecepatan putaran merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku, hasil uji coba peralatan dibandingkan dengan bajan kerja sebelum proses dipakai untuk mengetahui tingkat unjuk kerja peralatan.Peralatan dapat berfungsi sebagaimana diharapkan, dengan hasil penampakan permukaan benda kerja yang berbeda dengan kenampakan permukaan benda kerja sebelum proses.
Penelitian Pengaruh Sudut Cetakan Bentuk Kerucut (Cropong) Terhadap Mutu Bingkai (Plepet) Kulit Kerang Simping Maryono, Maryono; Moyoretno, Bambang
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1050

Abstract

Dalam industri kerajinan kulit kerang simping, sistem rangkai (pateri) diperlukan sebagai bingkai (plepet) dari plat kuningan dengan ketebalan 0,1 – 0,2 mm. Bingkai tersebut dibuat perajin dengan menggunakan alat cetakan yang berbentuk kerucut yang disebut cropong. Ujung potongan-potongan plat kuningan dengan ukuran tertentu dimasukkan ke dalam cropong kemudian ditarik sehingga menjadi bingkai yang bentuknya seperti pipa yang mempunyai alir memanjang. Pada umumnya bingkai yang dihasilkan mempunyai kelengkungan yang cukup besar sehingga mutu barang jadi yang dihasilkan kurang memuaskan (kurang rapi).Dalam percobaan ini dilakukan proses pembuatan bingkai dengan bahan potongan plat kuningan ukuran tebal 0,2 mm. Lebat 4 mm dan panjang 20 cm. Alat cetakan yang dipergunakan terdiri dari 3 macam sudut, masing-masing 30o, 45o dan 60o. Diameter ujung ketiga cetakan sama yaitu 2 mm dengan proses penarikan konstan dan horisontal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan bingkai dengan menggunakan cetakan berbentuk kerucut dengan sudut cetakan yang semakin kecil (sampai sudut 30o) dapat menghasilkan bingkai yang semakin baik mutu dan penggunaannya.Dalam industri kerajinan kulit kerang simping, sistem rangkai (pateri) diperlukan sebagai bingkai (plepet) dari plat kuningan dengan ketebalan 0,1 – 0,2 mm. Bingkai tersebut dibuat perajin dengan menggunakan alat cetakan yang berbentuk kerucut yang disebut cropong. Ujung potongan-potongan plat kuningan dengan ukuran tertentu dimasukkan ke dalam cropong kemudian ditarik sehingga menjadi bingkai yang bentuknya seperti pipa yang mempunyai alir memanjang. Pada umumnya bingkai yang dihasilkan mempunyai kelengkungan yang cukup besar sehingga mutu barang jadi yang dihasilkan kurang memuaskan (kurang rapi).Dalam percobaan ini dilakukan proses pembuatan bingkai dengan bahan potongan plat kuningan ukuran tebal 0,2 mm. Lebat 4 mm dan panjang 20 cm. Alat cetakan yang dipergunakan terdiri dari 3 macam sudut, masing-masing 30o, 45o dan 60o. Diameter ujung ketiga cetakan sama yaitu 2 mm dengan proses penarikan konstan dan horisontal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan bingkai dengan menggunakan cetakan berbentuk kerucut dengan sudut cetakan yang semakin kecil (sampai sudut 30o) dapat menghasilkan bingkai yang semakin baik mutu dan penggunaannya.
Rekayasa Alat-Lilit Pada Industri Kerajinan Kain Jumputan Machmud, Djumala; Hasanudin, Muhammad; Muhadi, Muhadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1051

Abstract

Kain jumputan merupakan salah satu hasil kerajinan dari kain yang dibuat dengan ketrampilan manusia, yang perlu ditunjang dengan suatu peralatan agar diperoleh keseragaman kualitas hasilnya.Teknologi penggulungan, elemen mesin, bahan mesin dan teknik penyambungan benang dipakai dasar untuk merencanakan rekayasa peralatan lilit-ikat.Pembuatan unit penggulung, sumber gerakan dan kerangka peralatan merupakan kergiatan yang dilakukan da;lam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku. Hasil uji penggunaan peralatan dibandingkan dengan hasil secara tradisional dipakai untuk mengetahui tingkat kegunaan unjuk kerja peralatan.Peralatan yang dibuat dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan dengan hasil lilitan motif yang sama dengan hasil proses secara tradisional, dengan waktu relatif lebih cepat.Kain jumputan merupakan salah satu hasil kerajinan dari kain yang dibuat dengan ketrampilan manusia, yang perlu ditunjang dengan suatu peralatan agar diperoleh keseragaman kualitas hasilnya.Teknologi penggulungan, elemen mesin, bahan mesin dan teknik penyambungan benang dipakai dasar untuk merencanakan rekayasa peralatan lilit-ikat.Pembuatan unit penggulung, sumber gerakan dan kerangka peralatan merupakan kergiatan yang dilakukan da;lam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku. Hasil uji penggunaan peralatan dibandingkan dengan hasil secara tradisional dipakai untuk mengetahui tingkat kegunaan unjuk kerja peralatan.Peralatan yang dibuat dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan dengan hasil lilitan motif yang sama dengan hasil proses secara tradisional, dengan waktu relatif lebih cepat.
Penelitian Pasta Prada Bentuk Emulsi Untuk Produk Batik Lestari, Kun; Suhartini, Tien; Sutadi, Sutadi; Haryanti, Retno
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1052

Abstract

Zat warna prada baik yang berujud bubuk maupun pasta dilekatkan pada kain dengan bantuan binder metalik dan air pada kekentalan tertentu. Dari hasil penelitian yang terdahulu (Sulaeman dkk., DKB., Nomer X, 1992), ternyata pada saat pasta prada dilekatkan masih terdapat indikasi ketidaklancaran aliran melalui lubang canting. Hambatan tersebut akan diatasi dengan merubah campuran pasta prada menjadi sistem emulsi.Dalam percobaan ini sebagai pembentuk fasa kontinyu dipilih zat-zat berikut: minyak ikan, vernis dan terpentin yang digunakan baik secara tunggal atau campurannya, sedang komposisi dan waktu pembentukan emulsi dibuat variatif. Untuk membentuk sistem emulsi, dicoba 2 (dua) jenis emulsifier yaitu glycerin dan emulcifier TS.Hasil percobaan menunjukkan bahwa pasta prada dalam bentuk emulsi (W/O) dengan fase kontinyu campuran minyak ikan, vernis dan terpentin (0,25 : 1 :1 ), emulsifier TS dan waktu pembentukan emulsi 5 menit, meningkatkan kelancaran aliran secara total dengan laju kering 5 – 10 menit baik pada katun maupun pada sutera, di samping keunggulan yang lain seperti kilau dan ketahanan luntur terhadap pencucian dan gosokan.Zat warna prada baik yang berujud bubuk maupun pasta dilekatkan pada kain dengan bantuan binder metalik dan air pada kekentalan tertentu. Dari hasil penelitian yang terdahulu (Sulaeman dkk., DKB., Nomer X, 1992), ternyata pada saat pasta prada dilekatkan masih terdapat indikasi ketidaklancaran aliran melalui lubang canting. Hambatan tersebut akan diatasi dengan merubah campuran pasta prada menjadi sistem emulsi.Dalam percobaan ini sebagai pembentuk fasa kontinyu dipilih zat-zat berikut: minyak ikan, vernis dan terpentin yang digunakan baik secara tunggal atau campurannya, sedang komposisi dan waktu pembentukan emulsi dibuat variatif. Untuk membentuk sistem emulsi, dicoba 2 (dua) jenis emulsifier yaitu glycerin dan emulcifier TS.Hasil percobaan menunjukkan bahwa pasta prada dalam bentuk emulsi (W/O) dengan fase kontinyu campuran minyak ikan, vernis dan terpentin (0,25 : 1 :1 ), emulsifier TS dan waktu pembentukan emulsi 5 menit, meningkatkan kelancaran aliran secara total dengan laju kering 5 – 10 menit baik pada katun maupun pada sutera, di samping keunggulan yang lain seperti kilau dan ketahanan luntur terhadap pencucian dan gosokan.
Penerapan Ragam Hias Kalimantan Tengah Untuk Motif Batik Riyanto, Riyanto; Ja'far, Amin
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1053

Abstract

Kalimantan Tengah dengan kekayaan ragam hiasnya sejak tahun 1990 dapat mengembangkan industri batik yang bercorak khas. Dari lima perusahaan batik yang ada telah diproduksi 47 variasi motif batik, dan 15 motif di antaranya telah diproduksi berupa batik tulis dan cap. Dari 15 motif ini dilakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana ragam hias Kalimantan Tengah berperan dalam menciptakan motif batik sehingga dapat diciptakan batik Kalimantan Tengah yang cukup indah.Ragam hias Kalimantan Tengah yang mempunyai elemen-elemen garis, titik, bidang, dan warna dapat disusun secara bebas, baik vertikal, horisontal, diagonal maupun radial, dapat menghasilkan pola yang indah, untuk mengetahui bahwa ragam hias ini dapat dikembangkan pada motif batik, dilakukan pengamatan terhadap 15 produk tersebut mengenai susunan, pewarnaan dan tata warnanya.Dari hasil evaluasi ternyata batik yang menggunakan ragam hias Kalimantan Tengah ini cukup indah, sehingga dapat memperkaya khasanah batik Indonesia, di samping yang telah berkembang di pulau Jawa dan beberapa daerah lainnya.Kalimantan Tengah dengan kekayaan ragam hiasnya sejak tahun 1990 dapat mengembangkan industri batik yang bercorak khas. Dari lima perusahaan batik yang ada telah diproduksi 47 variasi motif batik, dan 15 motif di antaranya telah diproduksi berupa batik tulis dan cap. Dari 15 motif ini dilakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana ragam hias Kalimantan Tengah berperan dalam menciptakan motif batik sehingga dapat diciptakan batik Kalimantan Tengah yang cukup indah.Ragam hias Kalimantan Tengah yang mempunyai elemen-elemen garis, titik, bidang, dan warna dapat disusun secara bebas, baik vertikal, horisontal, diagonal maupun radial, dapat menghasilkan pola yang indah, untuk mengetahui bahwa ragam hias ini dapat dikembangkan pada motif batik, dilakukan pengamatan terhadap 15 produk tersebut mengenai susunan, pewarnaan dan tata warnanya.Dari hasil evaluasi ternyata batik yang menggunakan ragam hias Kalimantan Tengah ini cukup indah, sehingga dapat memperkaya khasanah batik Indonesia, di samping yang telah berkembang di pulau Jawa dan beberapa daerah lainnya.
Pengolahan Limbah Cair Batik Proses Pencelupan Naphtol Untuk Memperkecil Kadar Pencemar Sulaeman, Sulaeman; Lestari, Kun; Sutadi, Sutadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1054

Abstract

Telah dilakukan cara pengolahan limbah cair batik hasil proses pencelupan dengan zat warna Naphtol secara laboratoris. Limbah cair diidentifikasi dan kemudian diolah dengan cara koagulasi, pengendapan, penyaringan dan absorpsi.Lima contoh-uji masing-masing 500 ml limbah cair dikoagulasikan dengan menggunakan: larutan tawas 10% 35,0 ml, larutan tawas 10% 40,0 ml, campuran larutan tawas 10% dan H2SO4 teknis masing-masing 20,0 ml dan 1,5 ml, campuran larutan tawas 10% dan H2SO4 teknis 20,0 ml dan 2,0 ml serta campuran larutan tawas 10% dan kaporit 5% 25,0 ml dan 12,5 ml. Kelima contoh-uji kemudian diaduk, diendapkan, disaring dan diabsorpsi dengan karbon aktif.Dari hasil penelitian, penggunaan larutan tawas 10% sebanyak 40,0 ml pada 500 ml limbah cair atau penggunaan tawas padt sebanyak 8 g/1 limbah cair dengan waktu pengendapan selama 24 jam dan waktu kontak dengan karbon aktif selama 5 menit merupakan kondisi terbaik yang dapat menurunkan nilai parameter pencemar atau efisiensi pengolahan sebesar 95 – 98%.Telah dilakukan cara pengolahan limbah cair batik hasil proses pencelupan dengan zat warna Naphtol secara laboratoris. Limbah cair diidentifikasi dan kemudian diolah dengan cara koagulasi, pengendapan, penyaringan dan absorpsi.Lima contoh-uji masing-masing 500 ml limbah cair dikoagulasikan dengan menggunakan: larutan tawas 10% 35,0 ml, larutan tawas 10% 40,0 ml, campuran larutan tawas 10% dan H2SO4 teknis masing-masing 20,0 ml dan 1,5 ml, campuran larutan tawas 10% dan H2SO4 teknis 20,0 ml dan 2,0 ml serta campuran larutan tawas 10% dan kaporit 5% 25,0 ml dan 12,5 ml. Kelima contoh-uji kemudian diaduk, diendapkan, disaring dan diabsorpsi dengan karbon aktif.Dari hasil penelitian, penggunaan larutan tawas 10% sebanyak 40,0 ml pada 500 ml limbah cair atau penggunaan tawas padt sebanyak 8 g/1 limbah cair dengan waktu pengendapan selama 24 jam dan waktu kontak dengan karbon aktif selama 5 menit merupakan kondisi terbaik yang dapat menurunkan nilai parameter pencemar atau efisiensi pengolahan sebesar 95 – 98%.
Pengaruh Ekstraksi Zat Warna Alam dan Fiksasi Terhadap Ketahanan Luntur Warna pada Kain Batik Katun Pujilestari, Titiek
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i1.1058

Abstract

ABSTRAKKain katun merupakan jenis kain yang terbuat dari serat kapas, mempunyai sifat mudah menyerap  bahan alami maupun kimia dan banyak digunakan untuk bahan media batik. Telah dilakukan penelitian ekstraksi pada lima jenis zat warna alam dengan menggunakan air. Variasi antara bahan pembawa zat warna dengan air adalah 1 : 6 dan 1 : 8. Fiksasi dilakukan dengan menggunakan kapur, tunjung, tawas, campuran kapur dengan tetes dan tanpa fiksasi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan air pada ekstraksi dan bahan fiksasi terhadap ketahanan luntur warna pada kain. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstraksi zat warna alam dari daun indigo, daun mangga, kulit kayu nangka, kulit buah manggis dan biji buah kesumba dengan menggunakan air sebanyak 6 dan 8 bagian, memberikan hasil yang tidak jauh berbeda. Jenis zat warna alam dan bahan fiksasi yang diaplikasikan untuk pembatikan kain katun yang memberikan ketahanan luntur baik adalah: kulit buah manggis dengan fiksasi kapur, tawas dan tanpa fiksasi, biji buah kesumba/bixa dengan fiksasi tunjung dan tawas, kulit kayu nangka dengan fiksasi tunjung, daun mangga dengan fiksasi tawas. Daun indigo mempunyai ketahanan luntur warna yang baik sampai sangat baik terhadap pencucian, tetapi kurang baik sampai baik terhadap sinar terang hari. Penggunaan fiksasi campuran kapur dan tetes tebu menghasilkan ketahanan luntur warna pencucian dan sinar terang hari lebih rendah dibanding fiksasi dengan kapur. Ketahanan luntur dari kelima zat warna alam terhadap pencucian lebih baik dibanding ketahanan luntur terhadap sinar terang hari. Kata kunci: zat warna alam, ekstraksi, fiksasi, katunABSTRACTThe cotton fabric is a type of fabric made from cotton fiber, its easily absorbed material both natural and chemical, and widely used as a material for batik.Research extraction of five types of natural dyes made with a variety of colour materials carrier and the use of water is 1:6 and 1:8. Fixation of color on fabric using lime, lotus, alum, lime mixtures with mollases and without fixation drops as controls. The study aimed to determine the effect of the use of water in the extraction and fixation materials to color fastness on batik cloth. Ekstraksi of natural dyes from indigo leaves, mango leaves, bark jack fruits, mangosteen rind and fruit seeds kesumba (bixa) by using water as much as 6 and 8 sections, provide results that are not much different. Types of natural dyes and materials that applied for fixation batik cotton fabric that provides excellent fade resistance are : fixation mangosteen rind with lime, alum and without fixation, fruit seeds kesumba/Bixa with lotus fixation and alum, jack fruit bark with lotus fixation, fixation mango leaves with alum. Indigo leaves have good color fastness to washing, but less well against the bright light. The use of fixation mixture of lime and molasses produces washing color fastness and light the light of day is lower than fixation with lime. Fifth fastness of natural dyes to washing better fastness to light than the light of day. Keywords: natural dyes, extraction, fixation, cotton
Batik Kreatif Amri Yahya dalam Perspektif Strukturalisme Levi-Strauss Salma, Irfa'ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i1.1060

Abstract

ABSTRAKPada saat ini sebagaian besar pengembangan motif batik mengacu pada ragam hias tradisional, sehingga hasilnya cenderung monoton. Perlu penyegaran visual dan diversifikasi gagasan untuk menghasilkan motif batik modern yang baru, unik, kreatif, dan inovatif. Tujuan kajian ini adalah menginspirasi para seniman, perajin, desainer untuk menciptakan motif kreatif sebagai diversifikasi produk yang semakin memperkaya khasanah batik Indonesia, dengan mengkaji batik kreatif karya Amri Yahya. Batik kreatif Amri Yahya telah mendapat pengakuan internasional sebagai batik modern. Metode yang digunakan yaitu deskriptif analitis untuk mendeskripsikan dan menganalisis objek seni yaitu batik karya Amri Yahya dengan perspektif Strukturalisme Levi-Strauss. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa batik kreatif karya Amri Yahya dihasilkan dari keberanian dan kebebasan berekspresi serta konsistensi dalam berkarya seni.Kata kunci: batik, kreatif, Amri Yahya, strukturalisme Levi-StraussABSTRACTAt this time almost all of the batik motive bulk development refers to the traditional decoration, so the results tend to be monotonous. It needs a visual refreshment and diversity idea to produce a modern motive that is new, unique, creative, and innovative. The purpose of this study was to inspire the artists, craft men, designers to create the creative motifs as the diversified products to enrichIndonesian batik, reviewing creative batik of Amri Yahya. These Amri Yahya creative batik hasreceived international recognition as a modern batik. The method used is descriptive analysis todescribe artwork object that is Amri Yahya batik with Levi -Strauss's Structuralism perspective. From this study it can be concluded that the creative work of Amri Yahya batik produced from the encouragement and independecy of expression, as well as consistency in the artwork.Keywords: batik, creative, Amri Yahya, levi - strauss structuralis
Kajian Pengembangan Mebel Rotan di Sumbawa Barat Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i1.1061

Abstract

ABSTRAKRotan merupakan hasil hutan yang melimpah di Sumbawa Barat sehingga mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan industri mebel rotan. Di Sumbawa Barat saat ini tidak terdapat industri pengolahan rotan asalan menjadi iratan dan pitrit, sebagai bahan anyaman untuk mebel. Tujuan kajian ini adalah untuk mencari solusi pengembangan mebel rotan di Sumbawa Barat yang bahan bakunya masih berupa rotan asalan yaitu berupa rotan batangan menjadi produk mebel. Metode yang digunakan yaitu deskriptif analitis untuk mengkaji objek desain beserta ruang lingkupnya yaitu mebel yang dirancang dari bahan baku rotan batangan. Dari kajian ini dihasilkan kesimpulan bahwa industri mebel rotan di Sumbawa Barat dapat ditumbuhkan dengan pembuatan desain mebel khusus berbahan baku rotan batangan. Kata kunci: pengembangan, mebel rotan batangan, Sumbawa BaratABSTRACTRattan is the abundant forest produce in West Sumbawa thus it has a big potential considerably for the development of the rattan furniture industry. Nowadays in West Sumbawa is no rattan processing industry/bars currently into thin strip and pitrit, as for as plaiting materials for furniture. The aim of this study to create furniture designs that explore the rattan material which is still a bullion into furniture products. The method used is a descriptive analysis to describe the design objects those are furniture designed of rattan sticks. From this study is produce insights on a rattan furniture design for rattan sticks industrial development in West Sumbawa, and it can inspire the development of other areas experiencing similar problems.Keywords: development, rattan furniture, West Sumbawa
ANALISIS USAHA TENUN IKAT BERBASIS PEWARNA ALAM DI KABUPATEN SUMBA TIMUR: Kasus di Kecamatan Kambera dan Umalulu -, Murniati; Takandjandji, Mariana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i1.1063

Abstract

ABSTRAK Pembuatan kain tenun ikat Sumba Timur menggunakan pewarna alam dari bagian tumbuhan. Kerajinan tersebut sudah berkembang dari semula bersifat subsisten menjadi komersial. Namun pengembangannya belum optimal dan belum mendapat dukungan secara signifikan dari para pihak terkait. Penelitian bertujuan menganalisis usaha tenun ikat, meliputi  proses dan biaya produksi serta pendapatan pengrajin, jenis-jenis tumbuhan pewarna yang digunakan, permasalahan yang dihadapi pengrajin, para pihak terkait dan dukungan yang diperlukan untuk keberlanjutan dan pengembangan usaha. Penelitian dilakukan di tiga kelurahan/desa pada Bulan Februari dan Juni 2014 melalui metode wawancara, dialog dan pengamatan lapangan. Usaha kerajinan tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur tergolong industri mikro. Tenaga kerja berasal dari anggota keluarga terutama ibu dan anak wanita. Biaya produksi dan harga jual produk (selendang, sarung dan kain) sangat bervariasi antar pengrajin. Rata-rata volume kerja pengrajin 7,91 unit benang per tahun dan rata-rata pendapatan pengrajin Rp1.133.122,- per bulan. Dua jenis tumbuhan yang digunakan sebagai sumber pewarna alam utama adalah Indigofera tinctoria L. dan Morinda citrifolia L. yang dipungut dari alam. Belum ada usaha budidaya jenis-jenis tersebut secara signifikan. Produktivitas kerja pengrajin belum optimal dan bahan baku sumber pewarna alam semakin sulit diperoleh. Produk kain tenun masih terpaku pada motif dan warna atau corak tradisional sehingga segmen pasarnya terbatas. Untuk menjamin keberlanjutan dan pengembangan usaha tenun ikat di Sumba Timur, budidaya jenis-jenis tumbuhan penghasil pewarna alam sudah sangat mendesak dilakukan. Perlu pula mengenalkan jenis-jenis tumbuhan penghasil warna alternatif.  Untuk memperluas segmen pasar diperlukan pengenalan motif dan warna atau corak alternatif sehingga produknya lebih bervariasi.         Kata kunci: Tenun ikat,  pewarna alam,  pengrajin, biaya produksi, volume kerja ABSTRACTManufacturing of East Sumba’s hand woven is using natural dye from parts of plant. This research aims to analyze business characteristics, covering process, production cost and handcrafters’ income, kinds of plants used as natural dye, handcrafters’ problems and supports needed to develop the business.  The research was conducted at three villages in February and June 2014 by using interview, dialogue and field observation method. The business is micro scale industry where labours are from family members. Production cost and selling price of the products vary among handcrafters. Average work volume of handcrafters was 7,91 of thread unit per year and generate income of Rp1.133.122,- per month. There are two plant species produce natural dye that are mainly used, i.e.  Indigofera tinctoria L. and Morinda citrifolia L., collected from nature. Work productivity of handcrafters has not optimal yet and raw materials of natural dye are more difficult to be obtained. Products of Sumba hand woven still use traditional motives and color, so that market segments are limited. To ensure the sustainability and development of the business, cultivation of plant species produce natural dye has to be done immediately.  To expand market segment, it is important to introduce alternatives motive and color.  Keywords: Hand woven, natural dye, handcrafter, production cost, work volume

Page 8 of 31 | Total Record : 308


Filter by Year

1987 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 42 No. 1 (2025): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 2 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 2 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 1 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 2 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 1 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 2 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 2 (2020): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 34 No. 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 No. 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik More Issue