cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Karakter
ISSN : 25277014     EISSN : 20895003     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 310 Documents
MODEL PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Zamtinah .; Untung Kurniawan; Doni Sarosa; Rahmah Tyasari
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 1, No. 1 (2011)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6469.31 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v1i1.1446

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendidikan karakter untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Yogyakarta dengan menggunakan pendekatan norma dan kearifan lokal sekaligus untuk mengetahui kelayakan model pendidikan karakter yang dihasilkan. Langkahlangkah yang digunakan untuk merumuskan pendidikan karakter adalah (i) melakukan penelitian studi pustaka, (ii) wawancara, dan (iii) merumuskan model pendidikan karakter. Rumusan pendidikan karakter untuk SMK dibuat dengan pendekatan norma dan kearifan lokal Kota Yogyakarta. Instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data adalah daftar pertanyaan wawancara, sedang analisis data dengan teknik deskriptif kualitatif. Rumusan model pendidikan karakter yang dikembangkan terdiri atas tujuan, isi, metode, lingkungan, alat, pendidik, dan peserta didik. Kata kunci : pendidikan karakter, norma, kearifan lokal MODEL OF CHARACTER EDUCATION FOR VOCATIONAL EDUCATION SCHOOL Abstract : This study aims to develop a model of character education for vocational school in Yogyakarta by using norms and local wisdoms of Yogyakarta as the approach to examine the appropriateness of the model developed. The steps taken to formulate the character education are: (i) doing literature research, (ii conducting interviews, and (iii) formulate a model of character education. The instrument used to obtain the data is a list of interview questions. The formulation of the character education model developed consists of objectives, contents, methods, environments, tools, educators, and students as character education participants. Key Words: character education, norms, local wisdoms
VALUES IN THE FAMILY THAT AFFECT THE YOUTH CHARACTER HABITUATION WITH THE MOTHER WORK Dian Pertiwi Josua; Euis Sunarti; Diah Krisnatuti
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 10, No. 1 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.906 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v0i1.24530

Abstract

Character education can be applied through various methods, including the internalization of values and character habituation. The purpose of this study was to analyze the characteristics of adolescents and families, family values, and character habituation; analyze the influence of adolescent and family characteristics, family values, on habituation of adolescent characters. Respondents in this study were 200 people with translation; 100 junior and senior high school students in the Sukmajaya Depok area, and mothers of these teens who work. Location selection uses purposive, and respondents are selected by random sampling. The results of the analysis state that the highest family value internalized by working mothers in adolescents is the value of humility. Conversely, a low value is the value of family recognition through achievement. Another finding based on Partial Least Square analysis shows that family values that have a significant positive effect on adolescent character habituation are self-control and emotion (p=0.029, t1,96). While family values that have a significant negative effect are family recognition through achievement (p=0.000, t1,96), and humility (p=0.042, t1,96).
PENGEMBANGAN BUKU AJAR BAHASA INDONESIA TEMATIK BERKARAKTER BAGI SISWA SD MELALUI SASTRA ANAK Retno Purnama Irawati; Zaim Elmubarok
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 5, No. 1 (2014)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.998 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v0i2.2179

Abstract

Abstrak: Pengembangan karakter dapat dilakukan melalui setiap subjek dan unit-unit pendidikan serta setiap kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Artikel ini mencoba untuk menggambarkan profil bahan ajar bahasa Indonesia di sekolah dasar, kebutuhan siswa dan guru pada buku teks bahasa Indonesia tematik berkarakter, dan prototipe buku teks bahasa Indonesia yang tematik berkarakter untuk sekolah dasar melalui sastra anak-anak. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang diterapkan pada bidang pendidikan. Subjek penelitian adalah siswa sekolah dasar dan guru sekolah dasar di Kota Ungaran dan Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan: (1) sebanyak 67 guru (72 %) menyatakan bahwa guru perlu buku teks bahasa Indonesia baru dan sebanyak 26 guru (28 %) me- nyatakan bahwa guru tidak perlu buku bahasa Indonesia baru; (2) 14 orang (15 %) guru menganggap bahwa buku teks bahasa Indonesia dapat membantu guru untuk mengajarkan pendidikan karakter kepada anak didiknya; (3) 49 orang (53 %) guru menganggap buku teks bahasa Indonesia saat ini tidak membantu untuk mengajarkan pendidikan karakter kepada anak didiknya; dan (4) 20 orang (22 %) guru menganggap buku teks bahasa Indonesia tidak dapat membantu untuk mengajarkan pen- didikan karakter kepada anak didiknya. Kata Kunci: buku ajar, tematik, karakter, dan sastra anak
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MAKNA LUKISAN PETRUK DADI RATU, SEMARE KALING-KALINGAN MEGA KARYA SUBANDI GIYANTO Hanung Bramantyo Yuniawan; Marzuki Marzuki
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 11, No. 1 (2020)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.245 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v10i1.26189

Abstract

Wayang yang merupakan salah satu kekayaan intelektual menyatu dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Wayang juga menjadi sumber inspirasi sehingga masyarakat mengapresiasinya dalam bentuk lukisan wayang Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna lukisan wayang karya Subandi Giyanto berjudul Petruk Dadi Ratu, Semare Kaling-Kalingan Mega terkait dengan pendidikan karakter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Interpretasi data menggunakan metode semiotika Pierce. Objek material penelitian yaitu lukisan Petruk Dadi Ratu, Semare Kaling-Kalingan Mega. Objek formalnya berupa makna simbolik dan pendidikan karakter. Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik interaktif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bentuk lukisan yang menghadirkan Petruk sebagai subjek utama yang dikelilingi figur Petruk, Gareng, Togog, Bilung, Semar, Emban Ayu, dan Bagong yang memperlihatkan ketidakadilan, suap-menyuap, korupsi, kemiskinan, dan pencitraan serta objek-objek wuku Pahang. Selain itu dalam lukisan terdapat awan berkepala Sengkuni yang menutup beberapa objek termasuk menutup kepala Semar. Makna lukisan menggambarkan negara Petruk yang terlihat baik namun banyak kesedihan di dalamnya, karena kondisi sosial yang kacau termasuk diam dan dilupakannya sang pamomong. Nilai-nilai pendidikan karakter yang ada pada makna lukisan yaitu integritas, nasionalis, dan mandiri. Kata kunci: lukisan wayang, makna simbolik, nilai-nilai pendidikan karakter. CHARACTER EDUCATION VALUES IN THE MEANINGS OF PETRUK DADI RATU, SEMARE KALING-KALINGAN MEGA PAINTING BY SUBANDI GIYANTOAbstract: Puppet that is one of the intellectual property and has become a part of the Javanese society life. Puppet is also a source of inspiration so that people appreciate it in the form of puppet paintings. This research aimed to describe the meaning of puppet painting by Subandi Giyanto entitled Petruk Dadi Ratu, Semare Kaling-Kalingan Mega related to character education. This was a qualitative research. Data interpretation used Pierce's semiotics method. The material object of research was the painting entitled Petruk Dadi Ratu, Semare Kaling-Kalingan Mega. The formal objects were symbolic meanings and character education. The data were obtained by observation, interview, and documentation techniques. Data analysis used interactive technique of the Miles and Huberman model. The results showed that the form of paintings presented Petruk as the main subject surrounded by figures of Petruk, Gareng, Togog, Bilung, Semar, Emban Ayu, and Bagong which showed injustice, bribery, corruption, poverty, imaging, and objects of wuku Pahang. In addition, there was a Sengkuni-headed cloud that covered several objects including covering Semar's head. The meaning of the painting was to reflect the state of Petruk that looks good but full of sadness due to chaotic social problems including silence and the forgotten pamomong (caregiver). The values of character education that exist in the meaning of painting was integrity, nationality, and independently. Keywords: Puppet painting, symbolic meaning, character education values
MEMBANGUN WAWASAN GLOBAL WARGA NEGARA MUDA BERKARAKTER PANCASILA Mukhamad Murdiono; Sapriya Sapriya; Abdul Azis Wahab; Bunyamin Maftuh
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 5, No. 2 (2014)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.93 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v0i2.2790

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana membangun wawasan global warga negara muda berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory. Sumber data terdiri dari sumber kepustakaan dan responden yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dan wawancara. Analisis data menggunakan analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sebagai karakter bangsa Indonesia harus dijadikan sebagai landasan dalam pengembangan wawasan global warga negara muda. Sila kedua Pancasila menjadi pintu utama pengembangan wawasan global warga negara muda. Pancasila sebagai landasan dalam pengembangan wawasan global warga negara, membawa implikasi bahwa warga negara muda di sekolah tidak hanya menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai slogan, melainkan harus diterapkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: wawasan global, warga negara muda, Pancasila BUILDING A GLOBAL PERPECTIVE OF YOUNG CITIZENS HAVING PANCASILA CHARACTER Abstract: This research aims to find outhow to build a global perspective of young citizens based on the values of Pancasilaas the character of the Indonesian nation. This research used a qualitative approach with a grounded theory method. The data sources consisted of literature and respondents selected using a purposive sampling method. Data collection techniques used documentation and interviews. The data were analyzed using inductive analysis. The results showed that the values of Pancasila as the character of the Indonesian nation must be used as the basis to build a global insight of young citizens. The second pillar of Pancasila became the maingate to building a global insight of young citizens. Pancasila as the basis for building a global insight of young citizens brought the implication that young citizensin the school did not only use the values of Pancasila as a slogan, but must be applied and implemented in their daily lives. Keywords: global insight, young citizens, Pancasila
PENGINTEGRASIAN CHARACTER BUILDING PADA MATA KULIAH PRONUNCIATION MELALUI PROJECT-BASED LEARNING Jamilah Jamilah
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 6, No. 1 (2015)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.841 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v0i1.8608

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran mata kuliah Pronunciationdan untuk mengintegrasikan character building ke dalam mata kuliah tersebut. Project-based learningadalah model pembelajaran yang dipilih untuk mencapai kedua tujuan tersebut, dan proyek yang diambil adalah pertunjukan drama. Perbaikan pembelajaran dilakukan dengan model lesson studyyang diterapkan pada kelas Pronunciation IB yang terdiri dari 20 mahasiswa. Kegiatan ini dilakukanmelalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan (plan), tahap pelaksanaan (do) dan tahap evaluasi (see). Datadikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, diskusi, dan self assessment. Hasil penelitian menunjukkanbahwa project-based learning adalah model pembelajaran yang tepat untuk mengintegrasikan characterbuilding ke dalam mata kuliah Pronunciation. Dengan project-based learning mahasiswa dapatbelajar dengan gembira, mampu menerapkan kemampuan pronunciation dalam karya nyata, yaitu bermaindrama. Mahasiswa juga memahami orang lain dan bertenggang rasa, bekerja sama dalam tim,bertanggung jawab, menghargai karya orang lain, mengembangkan rasa percaya diri, bersikap kritis,dan terbuka terhadap saran dan pendapat orang lain. Kata Kunci: character building, pronounciation, project based learning  INTEGRATING CHARACTER BUILDING IN PRONUNCIATION COURSE THROUGHPROJECT-BASED LEARNING Abstract: This study is aimed at improving the learning process Pronunciation course  and integratingcharacter building into the course. Project-based learning is a learning model chosen to achieve theseobjectives, and the project taken is drama performance. The learning improvement was achievedthrough lesson study carried out with a model applied to the IB Pronunciation class consisting of 20students. These activities are carried out through three stages, namely the preparatory stage (plan), theimplementation phase (do) and the evaluation phase (see). Data were collected through observation,documentation, discussions, and self-assessment. The results showed that the project-based learningwas a learning model appropriate for integrating character building into the Pronunciation course. Bythe use of project-based learning, the students could learn joyfully and be able to apply the pronunciationability in the real work, in a drama performance. The students also understood others, developedtolerance, worked together in teams, develiped responsibility, respected the work of others,developed self-confidence, was critical as well as open to suggestions and opinions of others. Keywords: character building, pronunciation, project based learning
PENGARUH POLA ASUH DISIPLIN DAN POLA ASUH SPIRITUAL IBU TERHADAP KARAKTER ANAK USIA SEKOLAH DASAR Rety Puspitasari; Dwi Hastuti; Tin Herawati
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 6, No. 2 (2015)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.258 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v0i2.8624

Abstract

Abstrak: Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh pola asuh disiplin dan pola asuh spiritual ibu terhadap karakter anak usia sekolah dasar di Kabupaten Bogor. Desain penelitian menggunakan cross sectional study yang melibatkan 125 anak dan ibu, dipilih proportional random sampling dan diwawan- carai dengan kuesioner. Penelitian menemukan tidak ada perbedaan nyata antara pola asuh disiplin dan pola asuh spiritual anatara anak laki-laki dengan anak perempuan. Hasil menemukan nilai ratarata pola asuh spiritual lebih baik dibandingkan pola asuh disiplin. Pendidikan Ibu, pola asuh disiplin induktif, pola asuh disiplin mengabaikan/kekerasan verbal, dan pola asuh spiritual yang semakin meningkat berhubungan nyata dengan karakter. Hasil menemukan bahwa jenis kelamin, pola asuh disiplin induktif, dan pola asuh spiritual berpengaruh positif signifikan terhadap karakter anak. Kata Kunci: disiplin, spiritual, induktif, kekerasan fisik, mengabaikan/kekerasan verbal, anak usia sekolah dasar THE INFLUENCE OF THE MOTHER’S DISCIPLINE REARING PATTERN AND SPIRITUAL REARING PATTERN ON THE CHARACTER OF THE ELEMENTARY SCHOOL-AGE CHILDREN Abstract: This research aimed to describe the influence of the mother’s discipline rearing pattern and spiritual rearing pattern on the character of the elementary school-age children in Bogor Regency. The research design used was a cross sectional study involving 125 children and mothers, selected using proportional random sampling, and the data were collected using a questionnaire. The research found that there was no significant difference between the discipline rearing pattern and the spiritual rearing pattern on male and female children. The research found that the average score of spiritual rearing pattern was better than that of the discipline rearing pattern. The mother’s education, inductive discipline rearing pattern, discipline rearing pattern with verbal abuse, and spiritual rearing pattern were significantly related to the character. The results showed that gender, inductive discipline rearing pattern, and spiritual rearing pattern had a positive significant influence on the children’s character. Keywords: discipline, spiritual, inductive, physical abuse, verbal abuse, elementary school-age children
POTRET PENDIDIKAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN SALAFIAH Kamin Sumardi
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 3, No. 3 (2012)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.25 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v0i3.1246

Abstract

Abstrak: Pesantren salafiah adalah lembaga pendidikan yang sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri. Kesederhanaan, kearifan lokal, falsafah dan pola pendidikannya sudah mengakar pada sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya dalam pendidikan berbasis agama Islam. Secara tidak langsung dan tidak formal pendidikan karakter telah ditanamkan secara kuat dengan pola dan teknik yang khas pesantren salafiah. Pendidikan karakter sesungguhnya tidak harus menggunakan kurikulum yang formal, cukup dengan hiden curriculum. Pendidikan karakter tidak selalu diajarkan dalam kelas, namun dilakukan secara simultan dan berkelanjutan di dalam dan di luar kelas. Keberhasilan pendidikan karakter akan dipengaruhi oleh teladan dan contoh nyata dalam kehidupan dan dalam kegiatan pembelajaran. Pendidikan karakter tidak bisa dipaksakan, namun dijalani sebagai mana adanya kehidupan keseharian sehingga dengan sendirinnya melekat kuat pada diri setiap peserta didik atau santri. Kata Kunci: pondok pesantern Salafiah, pendidikan karakter, hiden curriculum PORTRAIT OF CHARACTER EDUCATION IN SALAFIAH BOARDING SCHOOL Abstract: Pesantren salafiah are educational institutions that are distributed throughout the country. Simplicity, local wisdom and philosophy as well as the pattern of education is rooted in the majority of the people of Indonesia, especially in the Islamic faith-based education. Indirectly and not formal character education has been strongly implanted with distinctive patterns and techniques salafiah boarding. True character education should not use a formal curriculum, enough with hiden curriculum. Character education is not always taught in the classroom, but performed simultaneously and continuous inside and outside the classroom. The success of character education will be influenced by role models and examples of real life and in learning activities. Character education can not be imposed, but lived as they really are their own daily lives so strongly attached to the self individual learners or students. Keywords: salafiah, character education, hiden curriculum
PENGEMBANGAN MEDIA VIDEO ANIMASI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN KARAKTER KERJA KERAS SISWA SEKOLAH DASAR Umi Wuryanti; Badrun Kartowagiran
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 7, No. 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.045 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v6i2.12055

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan (1) menghasilkan media pembelajaran; dan (2) mendeskripsikan efektivitas media video animasi untuk meningkatkan motivasi belajar dan karakter kerja keras siswa kelas V SD Gugus Sodo Kecamatan Paliyan. Penelitian dan pengembangan ini mengacu pada sepuluh langkah yang dikembangkan Borg Gall. Desain pengembangan dilakukan dari langkah pertama sampai kesembilan, yaitu: (1) studi pendahuluan; (2) perencanaan; (3) pengembangan produk awal; (4) uji coba awal; (5) revisi produk awal; (6) uji coba lapangan; (7) revisi produk hasil uji coba lapangan; (8) uji coba lapangan operasional; dan (9) revisi produk akhir. Uji coba produk menggunakan teknik quasi experiment untuk menguji produk yang dikembangkannya. Keefektifan media video animasi untuk meningkatkan motivasi belajar dan karakter kerja keras siswa diketahui dengan menggunakan uji t. Efektivitas dilihat dari rata-rata skor motivasi belajar dan karakter kerja keras pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Terdapat perbedaan signifikan skor motivasi belajar dan karakter kerja keras siswa antara sebelumdan sesudah menggunakan media video animasi dalam pembelajaran. Kata Kunci: media video animasi, motivasi belajar, karakter kerja keras DEVELOPING ANIMATION VIDEO MEDIA TO IMPROVE LEARNING MOTIVATION AND CHARACTER HARD WORK ON THE FIFTH GRADE STUDENTS OFELEMENTARY SCHOOL Abstract: This study aims to (1) produce; and (2) determine the effectiveness of animations video media to improve learning motivation and character the hard work on the fifth grade students of Elementary School Gugus Sodo District Paliyan. Research and development refers to the 10 steps developed by Borg Gall. The design of development was carried from the first step until the ninth, namely: (1) a preliminary study; (2) planning; (3) development of initial product; (4) the initial trials; (5) the revision of the initial product; (6) field trials; ( 7) revision of the results of a field trial products; (8) operational field trials; and (9) the revision of the final product. Product trial using quasi experiment tecnique to examine the product that has developed. For knowing the effectivity of animation video to enhanced learning motivation and hard work character using t test. The effectiveness seen from the average score of learning motivation and character of hard work on the experimental class and control class. Any difference of significance of learning motivation and hard work scores of students between the characters before and after using animed video media in learning. Keywords: animation video media, motivation to learn, hard working character
PENGKAJIAN DAN PEMBELAJARAN PITUTUR LUHUR SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK Sukirno .
Jurnal Pendidikan Karakter Vol. 4, No. 1 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.264 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v0i1.1292

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji tujuan, konteks, historis, kekuasaan, ideologi, dan politik pitutur luhur budaya Jawa berdasarkan teori analisis wacana. Pembelajaran berdasar teori belajar paikem dengan langkah ‘tandur’. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pitutur luhur memengaruhi perilaku peserta didik menjadi lebih berkarakter. Dari aspek konteks, pitutur luhur berhasil membangun konteks yang luas. Dari aspek historis mampu mengembangkan dan melestarikan budaya Jawa di berbagai aspek kehidupan. Dari aspek kekuasaan dapat dijadikan sebagai sumber etika, dan dari aspek politik dapat sebagai strategi dakwah yang mudah diterima sebagai pembangun karakter. Pembelajaran pitutur luhur dilaksanakan secara terpadu dengan menempuh tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tahap pelaksanaan ditempuh enam langkah tandur, yaitu tumbuhkan, alami, namai, demonstrasi, ulangi, dan rayakan. Tahap evaluasi ditempuh teknik penugasan dan pengamatan terhadap perilaku siswa. Kata Kunci: pembelajaran paikem, konsep pitutur luhur, prinsip tandur

Page 11 of 31 | Total Record : 310