cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Pengaruh Kandungan Seledri (Apium graveolens L.) terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi Ajeng Defriyanti Pusparini
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular yang dapat menimbulkan komplikasi. Di Indonesia penderita hipertensi diperkirakan mencapai 15 juta orang, tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol, sehingga hipertensi masih menduduki peringkat ketiga penyebab kematian di dunia. Pengobatan hipertensi umumnya berlangsung seumur hidup. Masalah biaya pengobatan yang tinggi menjadi salah satu penghambat dalam kepatuhan pengobatanhipertensi. Pengobatan dengan tanaman obat dapat menjadi alternatif bagi penderita hipertensi karena biaya yang lebih murah dan mudah didapat. Tanaman obat yang dapat digunakan untuk mengatasi hipertensi adalah seledri (Apium graveolens L.). Seledri (Apium graveolens L.) dapat tumbuh pada suhu 15-21°C, sehingga tidak sulit ditemukan di Indonesia.Seledri mengandung senyawa aktif yaitu flavonoid, saponin dan polifenol. Flavonoid yang telah diisolasi menghasilkan senyawa aktif apigenin dan apiin yang mekanisme kerjanya memblokade masuknya kalsium ke dalam sel akibatnya kontraksi otot yang melingkari pembuluh darah terhambat. Hal ini menyebabkan pembuluh darah akan melebar, sehinggadarah akan mengalir dengan lancar dan tekanan darah menurun. Kandungan lain seperti kalium, magnesium dan zat klorofil 3-n-butylphthalide yang terkandung pada seledri juga berperan dalam merelaksasi dan melemaskan otot-otot halus pembuluh darah sehingga efektif dalam menurunkan tekanan darah. Seledri dapat digunakan sebagai alternatif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. [J Agromed Unila 2015; 2(3):290-295]Kata kunci: hipertensi, seledri
Pengaruh Dismenore terhadap Aktifitas Fisik Alfianita Fadila
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dismenore adalah nyeri sebelum, selama, dan setelah menstruasi. Nyeri dismenore khas pada perut bagian bawah dan diikuti oleh gejala lain. Nyeri ini disetai mual, sakit kepala, seperti pingsan, dan mengganggu aktifitas fisik wanita. Yang menyebabkan wanita yang mengalaminya tidak dapat bekerja. Nyeri adalah persepsi subjektif. Intensitas nyeri dismenoredirasakan berbagai macam oleh remaja. Manusia menggunakan berbagai mekanisme pertahanan dan kemampuan adaptasi manusia terhadap nyeri bervariasi. Terapi farmakologi dan non farmakologi digunakan untuk menangani nyeri dismenore pada orang dewasa untuk mengurangi derajat nyeri. Terapi non farmakologi dan farmakologi dengan menggunakan anti nyeri paling banyak digunakan siswi perempuan. dan Ada hubungan antara dismenore dengan aktifitas fisik seorang wanita. Jika nyerinya masih bersifat ringan itu normal tetapi jika nyerinya berat dan mengganggu aktiitas sehari-hari hal itu termasuk ketidaknormalan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa dismenore menyebabkangangguan pada aktifitas sehari-hari juga menyebabkan ketidakhadiran bagi wanita usia sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan derajat dismenore. Penelitian ini juga menganjurkan bagi para siswi yang mengalami dismenore untuk memeriksa kesehatan dan sadar akan kesehatan reproduksi dengan memerikan informasi tentang dismenore. [J Agromed Unila 2015; 2(3):296-299]Kata Kunci: aktifitas fisik, dismenore
Fingertip Injury Ahmad Fauzi
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan utama pengobatan cedera fingertip adalah hilangnya nyeri disertai pemulihan sensasi pada ujung jari. Pengetahuan mengenai anatomi dan bermacam-macam teknik terapi pada fingertip sangat penting. Pada cedera dengan hilangnya jaringan lunak tanpa disertai eksposur tulang, maka terapi pilihannya adalah penyembuhan sekunder atau skin graft. Bila terdapat eksposur tulang dan masih terdapat matriks kuku yang dapat menjaga stabilitas lempeng kuku, maka terapi pilihannya adalah dengan flap lokal. Jika sudut amputasi tidak memungkinkan untuk dilakukan flap lokal, maka dapat dilakukan terapi dengan flap regional (cross-finger atau thenar flap). Jika amputasi yang terjadi lebih proksimal, atau pada pasien tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan flap regional oleh karena usia tua, osteoarthritis atau penyakit sistemik lain, maka dapat dilakukan pemendekan dengan penutupan primer pada luka. Penyambungan kembali tip yang teramputasi mungkin akan berhasil pada anak-anak. Keberhasilan terapi pada cedera nail-bed sangat tergantung pada derajat beratnya cedera pada matriks germinal. [J Agromed Unila 2015; 2(3):300-306]Kata kunci: cedera fingertip, macam-macam metode terapi
Peningkatan Tekanan Darah pada Pasien Perokok Kadek Aryati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu tekanan darah sistol sama dengan atau diatas 140 mmHg, diastol di atas 90 mmHg. Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan angka kesakitan yang tinggi. Prevalensi hipertensi di Indonesia tinggi yaitu sebesar 31,7%. Hipertensi akan memberi gejala yang berlanjut untuk suatu target organ seperti otak (stroke), pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner) dan otot jantung (hipertrofi ventrikel). Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dari 10 pasien hipertensi, 7 diantaranya aktif merokok walapun pasien mengetahui bahwa merokok dapat mengganggu kesehatan dan meningkatkan tekanan darah. [J Agromed Unila 2015; 2(3):307-312]Kata Kunci: hipertensi, merokok
Hubungan Wanita Perokok Pasif dengan Usia Awal Menopause Imelda Herman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menopause adalah kondisi saat masa menstruasi seorang wanita berakhir. Data epidemiologi menunjukkan bahwa usia wanita menopause di berbagai belahan dunia semakin cepat, dari 51 tahun menjadi 46 tahun. Begitupula di Indonesia, terjadi penurunan usia menopause dari 47 tahun menjadi 45 tahun yang disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa faktor yang berhubungan dengan usia menopause adalah sosioekonomi, jumlah anak, usia awal menstruasi, olahraga, status perkawinan, dan kebiasaan merokok. Sebagian besar wanita terpapar asap rokok setiap harinya, baik dari anggota keluarga yang merokok, di lingkungan umum, ataupun di lingkungan kerja. Wanita perokok pasif dapat mengalami menopause lebih awal dikarenakan gangguan hormon akibat kandungan asap rokok yang terhirup. [J Agromed Unila 2015; 2(3):313-316]Kata kunci: menopause, rokok
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stres dalam Pendidikan Kedokteran Rossadea Atziza
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres adalah suatu kondisi yang mengganggu individu baik secara mental dan fisik, hasil dari interaksi individu dengan lingkungan dan dianggap sebagai ancaman terhadap kesejahteraan individu. Stres ini dapat dialami baik dalam kehidupan sosial, akademik, maupun pekerjaan. Meskipun stres ini dapat menjadi suatu sumber motivasi, namun stres yang berlebihjustru dapat melemahkan individu. Stres akademik merupakan suatu ketegangan yang dialami mahasiswa terkait dengan proses pembelajaran yang dijalani. Kondisi stres ini mendorong terjadinya perubahan perilaku pada mahasiswa seperti penurunan minat dan efektifitas, penurunan energi, cenderung mengekspresikan pandangan sinis pada orang lain,perasaan marah, kecewa, frustrasi, bingung, putus asa serta melemahkan tanggung jawab. Proses yang ditempuh selama pendidikan dokter ini menuntut mahasiswa untuk dapat bertanggung jawab menyelesaikan tugas secara mandiri dan tepat waktu. Apabila mahasiswa tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut, maka timbullah gejala-gejala stres. Terdapat beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kejadian stres pada mahasiswa. Faktor internal dapatberupa kondisi fisik, motivasi dan tipe kepribadian dan faktor eksternalnya dapat berasal dari keluarga, stresor akademik,dan masalah keuangan. [J Agromed Unila 2015; 2(3):317-320]Kata kunci: faktor stres, pendidikan kedokteran, stres
Madu Sebagai Hepatoprotektor Dinilai dengan Enzim Transaminase Nico Aldrin Avesina; M. Ricky Ramadhian
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hati adalah organ penting, dan kelenjar terbesar pada tubuh manusia. Hati memiliki beberapa fungsi seperti pengolahan metabolik, detoksifikasi obat, dan tempat pengeluaran bakteri. Pada beberapa tahun terakhir kasus penyakit hati kronis semakin meningkat. Beberapa contoh kasus penyakit hati kronis yaitu hepatitis B, hepatitis C, hepatitis alkoholik, dan non alkoholik fatty liver. Penyakit hati kronis dan bahan toksik yang masuk ke hati dapat menyebabkan kerusakan sel hati, dimana kerusakan ini dapat dinilai dari pemeriksaan biokimiawi hati yaitu enzim aminotransaminase. Pada biokimiawi hati peningkatan enzim aminotransferase seperti alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST) biasanya sebagai penanda yang mengarah pada perlukaan hepatoseluler atau inflamasi. Selama beberapa tahun terakhirpenggunaan madu pada berbagai patologi sudah berkembang. Madu memiliki efek sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, stimulasi imun, anti ulserasi, dan memiliki efek penyembuhan luka atau luka bakar. Pada beberapa penelitian madu juga memiliki efek hepatoprotekor sehingga dapat mempengaruhi perubahan pada enzim penanda kerusakan hati yaitu ALT dan AST. [J Agromed Unila 2015; 2(3):321-325]Kata kunci: ALT, AST, hati, madu
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Stigma Penyakit Kusta Hera Julia Garamina
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta yaitu Mycobacterium leprae (M. Leprae) yang menyerang sistem saraf tepi, dan selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem musculo retikulo endotelia, mata, otot, tulang, testis, dan organ lain. Indonesia tercatat menduduki peringkat ke tiga di dunia. Sementara itu M. Leprae dapat mengakibatkan kerusakan syaraf sensori, otonom, dan motorik. Penyakit kusta bukanlah penyakit yang menyebabkan kematian, melainkan penyakit kronis sehingga menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang sangat kompleks. Bukan hanya dari segi medis tetapi juga dari segi mental sosial ekonomi dan budaya penderita, terutama akibat cacat yang ditimbulkan penyakit tersebut, selain kondisi aktif sebagai penderita, maka keadaancacat inilah juga yang biasanya menyebabkan penderita kusta ditolak dan diabaikan masyarakat. Tidak jarang mereka dikucilkan oleh masyarakat atau bahkan oleh keluarganya sendiri. Stigma inilah yang membuat masyarakat penyandang kusta memilih hidup berkelompok, atau mengelompokkan diri. Sikap hidup seperti ini membuat permasalahan semakin banyak dan menumpuk. Hal ini disebabkan karena rendahnya tingkat pengetahuan dan minimnya informasi yang didapat masyarakt tentang penyakit kusta. Jika tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penyakit kusta tinggi dan mereka dapat menerima kehadiran pasien dengan penyakit kusta maka stigma tidak akan terbentuk didalam suatu kelompok masyarakat. Tetapi jika tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penyakit kusta rendah maka stigma akan terbentuk didalam suatu kelompok masyarakat sehingga masyarakat memiliki sikap untuk menolak kehadiran pasien dengan penyakit kusta. [J Agromed Unila 2015; 2(3):326-332]Kata kunci: kusta, pengetahuan, sikap, stigma
Pengaruh Pemberian Tempe terhadap Mencit Obesitas Kurnia Fitri Aprilliana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2. Pada penelitian in vivo telah menunjukkan bahwa sekresi insulin meningkat pada obesitas. Pemberian diet tempe terbukti dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus model diabetes melitus. Secara histopatologi pemberian diet tempe dapat memperbaiki gambaran distribusi sel endokrin pankreas pulauLangerhans pada tikus model diabetes melitus. Karena pada tempe kedelai mengandung dua asam amino yang bersifat menjaga hormone insulin yaitu asam amino arginin dan asam amino glisin. Selain itu hasil pengamatan mikroskopis pada organ pankreas dari monyet yang diberi pakan tinggi energi yaitu ditemukan adanya degenerasi hidropsis dan degenerasi lemak. Tetapi konsumsi tempe yang mengandung kedelai efektif untuk memperbaiki profil lipid pada hiperkolesterolemia.Berbagai uji klinik pada manusia menyebutkan bahwa konsumsi 25 gram hingga 50 gram protein kedelai per hari efektif menurunkan Kolesterol LDL sekitar 4% hingga 8% dan dapat memperbaiki profil lipid khususnya pada individu yang mengalami hiperkolesterolemia. Tingginya rasio arginin/glisin dihubungkan dengan tingginya konsentrasi serum glukagonatau penurunan sekresi insulin sehingga menghambat lipogenesis. [J Agromed Unila 2015; 2(3):333-338]Kata kunci: histopatologi pankreas, obesitas, tempe
Faktor-faktor Pemilihan Pengobatan Tradisional pada Kasus Patah Tulang Melati Nurul Utami
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patah tulang adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan dan lempeng pertumbuhan yang disebabkan oleh trauma dan non trauma. Penatalaksanaan awal pada pasien patah tulang sangatlah penting. Keterlambatan berobat pada penderita patah tulang dari segi klinis mengacu pada istilah Neglected fracture yaitu suatu patah tulang dengan atau tanpa dislokasi yang tidak ditangani atau ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi yang lebih buruk dan bahkan kecacatan. Keterlambatan berobat pada pasien patah tulang dapat disebabkan karena adanya faktor perilaku kesehatan masyarakat, salah satunya adalah faktor kebudayaan atau kepercayaan dimana masyarakat Indonesia masih banyak yang menggunakan pengobatan alternatif, misalnya pengobatan sangkal putung dalam menangani kejadian patah tulang. [J Agromed Unila 2015; 2(3):339-342]Kata kunci: neglected fracture, patah tulang, pengobatan alternatif, sangkal putung