cover
Contact Name
Bayu Anggileo Pramesona
Contact Email
bayu.pramesona@fk.unila.ac.id
Phone
+6281274004767
Journal Mail Official
jka@fk.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Sumantri Brojonegoro No.1 Gedung C FK Unila lt. 1 Ruang Jurnal Lakuna Rajabasa Bandar Lampung Kode Pos 35145 Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26557800     EISSN : 2356332X     DOI : https://doi.org/10.23960/jka
Core Subject : Health,
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities.
Articles 565 Documents
Perbandingan Pengukuran Kadar LDL Kolesterol Menggunakan Formula Friedewald dan Anandaraja dengan Metode Direct Bayu Putra Danan Jaya; Endang L Widiastuti; Endang Nurcahyani; Maria Susanti
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kadar LDL kolesterol merupakan salah satu penanda terkuat bagi aterosklerosis dan prediktor bagi penyakit jantung koroner. Kadar LDL dapat diukur menggunakan metode direct maupun dihitung menggunakan formula Friedewald dan Anandaraja yang memiliki banyak keterbatasan. Penelitian ini dilakukan untuk memvalidasi penggunaan kedua formula tersebut pada populasi masyarakat Lampung. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik. Pengamatan dilakukan pada 1.153 sampel dengan kadar trigliserida <400 mg/dl yang diperoleh dari data rekam medis laboratorium RSUDAM pada kurun waktu Januari-Maret 2012. Sampel dikelompokan ke dalam 4 kelompok, berdasarkan cut off point NCEP ATP III. Total kolesterol, trigliserida, HDL kolesterol dan LDL metode direct diukur mengunakan spektrofotometer dengan prinsip enzymatic colorimetric. Hasil pengukuran kadar LDL metode direct kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran menggunaan formula Friedewald dan Anandaraja. Kadar LDL metode direct lebih rendah secara signifikan bila dibandingkan dengan kadar LDL metode Friedewald dan Anandaraja pada berbagai konsentrasi kolesterol dan trigliserida. Korelasi terbaik antara kadar LDL metode direct dan Friedewald dan Anandaraja terjadi pada kadar kolesterol >240 mg/dL dan kadar trigliserida >200 mg/dL. Pengukuran kadar LDL menggunakan metode direct dan perhitungan menggunakan formula Friedewald dan Anandaraja berbeda secara signifikan pada berbagai kadar kolesterol dan trigliserida.  Katakunci: Formula Anadaraja, formula Friedewald, LDL, metode direct
Pengaruh Ekstrak Metanol Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) Terhadap Kepadatan Serabut Kolagen pada Penyembuhan Luka Sayat Mencit (Mus musculus) M. Ricky Ramadhian; Tri Umiana Soleha; Rizki Hanriko; Hanarisha Putri Azkia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketapang merupakan salah satu tanaman yang diketahui memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Daun ketapang (Terminalia catappa L.) mengandung senyawa obat seperti steroid, tanin, dan flavonoid yang diduga memiliki efek dalam mempercepat penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak metanol daun ketapang (Terminalia catappa L.) terhadap kepadatan serabut kolagen pada penyembuhan luka sayat mencit (Mus musculus). Pada penelitian ini, 20 mencit jantan dibagi dalam 5 kelompok secara acak dan diberi perlakuan selama 7 hari. K- (kontrol negatif yang hanya diberi aquadest), K+ (kontrol positif yang diberi povidone iodine), P1 (diberi ekstrak daun ketapang 25%), P2 (diberi ekstrak daun ketapang 50%), dan P3 (diberi ekstrak daun ketapang 100%). Hasil uji statistik One Way Anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antar kelompok percobaan dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Hasil uji statistic Post-Hoc LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok K- dengan kelompok P1, P2 dan P3 (p<0,05). Namun tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok K+ dan P1, P2. Tetapi kelompok K+ menunjukkan perbedaan signifikan terhadap kelompok P3. Ekstrak metanol daun ketapang dengan konsentrasi 100% memberikan efek yang paling signifikan terhadap kepadatan serabut kolagen pada penyembuhan luka sayat. Kata kunci: daun ketapang, ekstrak methanol, kepadatan kolagen, penyembuhan luka
Penyebab Efusi Pleura di Kota Metro pada tahun 2015 Imelda Puspita; Tri Umiana Soleha; Gabriella Berta
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, kasus efusi pleura mencapai 2,7 % dari penyakit infeksi saluran napas lainnya. Efusi pleura adalah keadaan dimana terdapat akumulasi cairan dalam rongga pleura. Terdapat dua jenis cairan pleura yaitu eksudatif dan transudatif. Di negara-negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh infeksi tuberkulosis. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melihat penyebab efusi pleura di kota Metro. Studi ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Studi menggunakan data sekunder melibatkan 537 subjek dengan teknik sampling total sampling. Studi dilakukan di Kota Metro dengan tujuan mengetahui kejadian dan etiologi efusi pleura pada periode 1 Januari 2015-31Desember 2015. Di kota Metro terdapat 537 insidensi efusi pleura. Studi menemukan bahwa penyebab efusi terbanyak adalah keganasan yaitu sebanyak 33%, diikuti dengan efusi cardiac sebanyak 27%. Tuberkulosis menempati posisi ketiga sebagai penyebab efusi (22,9%) dilanjutkan dengan pneumoni (14,3%), sirosis hepatis (1,1%), uremia (0,9%),  dan penyebab yang paling sedikit adalah SLE (0,7%). Kata kunci: efusi pleura, kejadian, penyebab
Exanthematous Drug Eruption pada Pria Usia 45 Tahun Soraya Rahmanisa; Hani Zahiyyah Suarsyaf
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Exanthematous Drug Eruption merupakan penyakit kulit yang diinduksi obat dengan karakteristik makula eritem dan papul, multipel, menyebar luas dan cepat, serta konfluens. Etiologi dari Exanthematous Drug Eruption diantaranya penicillin, chephalosorin, golongan antibiotik sulfonamid, atau antikonvulsan. Seorang pria berusia 45 tahun datang ke Poliklinik Rumah Sakit (PRS) Bhayangkara (RSB) dengan keluhan bintik-bintik kemerahan di kepala, dada, punggung, perut, tangan dan kaki sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan disertai rasa gatal di seluruh tubuh. Pasien memiliki riwayat mengonsumsi obat antibiotik yaitu Thiamphenicol 5 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran komposmentis, pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Pada regio kapitis, regio toraks anterior, regio toraks posterior, regio abdomen regio ekstrimitas superior, dan regio ekstrimitas inferior, terdapat makulopapular, multipel, distribusi generalisata dan konfluens. Pasien dalam kasus ini diberikan terapi kortikosteroid sistemik dan topikal serta antihistamin. Exanthematous drug eruption dapat terjadi 1-5% pada konsumsi pertama untuk semua obat. Erupsi obat biasanya muncul 4-21 hari setelah konsumsi obat penyebab. Penatalaksanaan utama adalah mengidentifikasi dan menghentikan obat penyebab. Terapi farmakologi bersifat simptomatik.Kata kunci: antibiotik, antikonvulsan, exanthematous drug eruption
Penatalaksanaan Hematotoraks Sedang Et Causa Trauma Tumpul Diana Mayasari; Anisa Ika Pratiwi
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hematotoraks adalah adanya darah dalam rongga pleura dan dapat disebabkan karena trauma tumpul atau tajam, juga mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit. Hematotoraks dapat bersifat simptomatik namun dapat juga asimptomatik. Tujuan utama tatalaksana dari hematotoraks adalah untuk menstabilkan hemodinamik pasien, menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah serta udara dari rongga pleura. Seorang pasien remaja laki-laki berusia 17 tahun mengalami trauma tumpul dibagian dada sebelah kiri yang dialaminya dalam sebuah kecelakaan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran Somnolen, GCS 9 (E3V3M3), tanda vital tekanan darah 130/60 mmHg, nadi 100x/menit, kuat reguler, respirasi 28x/menit, pernafasan dangkal, suhu 35,8 0C, SPO2 82%, pupil isokor (3mm), reflek pupil langsung dan tidak langsung mata kanan dan kiri (+), pada leher terdapat jejas bagian kiri, pada dinding dada didapati hasil Inspeksi pergerakan dada asimetris ( gerakan dada kiri tertinggal), retraksi dinding dada bagian bawah kanan dan kiri (+), pada regio anterior toraks sinistra diatas processus xypoideus terdapat jejas ukuran ± 1x5 cm, ictus cordis tidak terlihat dan tidak teraba, perkusi redup pada thoraks sinistra, suara nafas kiri menjauh, vesikular (-/+), ronki basah (+/-) dan pada pemeriksaan rontgen thoraks AP didapati gambaran semi opaq dan sudut costo frenikus tumpul pada thoraks sinistra yang mengarah kepada hematotorak. Langkah pertama yang di lakukan pada pasien ini adalah stabilisasi hemodinamik dengan melakukan resusitasi lalu di lakukan tindakan pemasangan Water Sealed Drainage untuk mengeluarkan darah yang terjebak pada rongga pleura pasien dengan total perdarahan yang didapat sebanyak 750 cc. Kata kunci: hematotoraks, trauma tumpul thoraks, water sealed drainage
Seorang Perempuan 21 Tahun dengan Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Oktafany Oktafany; Deborah Natasha
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Autoimmune anemia hemolytic (AIHA) adalah sebuah kelainan pada sel darah merah yang ditandai dengan kerusakan eritrosit oleh autoantibodi dalam tubuh pasien. AIHA bisa terjadi pada penderita-penderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Seorang perempuan, 21 tahun datang ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Jendral Ahmad Yani kota Metro dengan keluhan lemas seluruh tubuh disertai dengan gejala nyeri sendi, nyeri perut, nyeri kepala dan riwayat sindrom nefrotik berulang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis, malar rash, nyeri pada regio epigastrium, limpa di Schuffner 3 dan nyeri ketika sendi digerakkan. Pada pemeriksaan laboratorium, Hemoglobin (Hb) pasien 7,6 g/dL, pada pemeriksaan morfologi apusan darah tepi ditemukan anemia normositik normokromik suggest anemia hemolitik, dan coombs test dengan hasil positif. Pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan profil ANA, haptoglobin. Pasien diterapi dengan IVFD RL 2000 cc/24 jam, methylprednisolone 125 mg/12 jam injeksi, transfusi PRC sampai dengan Hb 12 g/dL dan pengawasan saat transfusi serta pengukuran tanda-tanda vital berkala. Pasien dirawat selama satu minggu di ruang penyakit dalam dan hasil ANA test positif. Pasien pulang dengan perbaikan kondisi serta kadar Hb mencapai 12,5 g/dL .Kata kunci: AIHA, ANA test, Coombs test, SLE
Herpes Zoster Oftalmika dengan Blefarokonjungtivitis Okuli Sinistra Rani Himayani; Ika Agustin Putri Haryant
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Herpes zoster oftalmika merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang oftalmika saraf trigeminus (N.V) ditandai dengan erupsi herpetik unilateral yang terjadi pada wajah dan sekitar mata. Komplikasi serius dapat terjadi jika mengenai mata. Wanita usia 67 tahun datang dengan keluhan timbul gelembung-gelembung pada daerah sekitar dahi, kelopak mata, mata, hidung sebelah kiri sejak 6 hari yang lalu dan timbul mata merah pada mata kiri disertai dengan kotoran mata tanpa pandangan kabur. Status dermatologi didapatkan pada regio frontal, periorbital dan zigomatika sinistra tampak erosi, multipel, bentuk geografika dengan sebagian ditutupi krusta kehitaman berdistribusi secara konfluen-diskret. Status oftalmologis okuli dekstra dan sinistra visus 6/6. Segmen anterior okuli dekstra dalam batas normal. Pada okuli sinistra didapatkan palpebra superior dan inferior edema, hiperemis, sekret dan injeksi konjungtiva (+). Segmen anterior okuli sinistra lainnya dalam batas normal dan hutchinson sign (+) pada mata kiri. Diagnosis pasien herpes zoster oftalmika dengan blefarokonjungtivitis okuli sinistra. Penatalaksanaan dengan asiklovir tablet 5x800 mg, kloramfenikol salep mata 3x1 okuli sinistra, artificial tear 6x1 tetesokuli sinistra, asam mefenamat tablet 3x500 mg. Herpes zoster oftalmika pada usia lanjut dapat meningkatkan risiko nyeri dan komplikasi berupa ocular disease. Penegakkan dan tatalaksana pada pasien ini sudah tepat. Tatalaksana paling utama adalah antiviral pada usia lanjut atau pasien yang memiliki risiko tinggi terhadap komplikasi herpes zoster oftalmika. Kata kunci: blefarokunjungtivitis, herpes zoster oftalmika
Sindrom Vena Cava Superior pada Pasien dengan Tumor Mediastinum Syazili Mustofa; Idzni Mardhiyah
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom vena cava superior (SVCS) merupakan kumpulan gejala yang dapat terjadi akibat penekanan vena cava superior oleh tumor mediastinum, baik yang ganas maupun yang jinak. Seorang laki-laki, 20 tahun, datang dengan keluhan sesak napas yang memberat sejak 3 hari yang lalu. Sesak napas sudah mulai dirasakan sejak 1 bulan yang lalu bersamaan dengan keluhan batuk kering. Pada pemeriksaan fisik didapatkan edema palpebra dextra et sinistra, pelebaran vena leher di regio coli dextra, pelebaran vena di regio thorax anterior, dan suara napas vesikuler menurun pada paru dekstra. Hasil pemeriksaan CT Scan thorax menunjukan bahwa terdapat massa solid dengan bagian kistik di mediastinum anterior dekstra meluas sampai medius dekstra. Pasien didiagnosis dengan tumor mediastinum anterior dekstra dengan sindrom vena cava superior. Pasien diterapi dengan tujuan untuk mengurangi gejala sementara dan dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap di Jakarta untuk mengatasi penyebab SVCS yang timbul, yaitu tumor mediastinum. Kata kunci: sindrom vena Cava superior, tumor mediastinum
Seorang Anak Perempuan 13 Tahun dengan Henoch Schonlein Purpura (HSP) Dwita Oktaria; Diah Astika Rini; Tiara Chintihia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Henoch Schonlein purpura (HSP) adalah vaskulitis pembuluh darah kecil yang dimediasi oleh immunoglobulin (Ig) A yang secara predominan mempengaruhi anak-anak tetapi juga terlihat pada orang dewasa. HSP merupakan sindrom klinis kelainan inflamasi vaskulitis generalisata pembuluh darah kecil pada kulit, sendi, saluran cerna, dan ginjal, yang ditandai dengan lesi kulit spesifik berupa purpura non trombositopenik, artritis, artralgia, nyeri abdomen atau perdarahan saluran cerna, dan kadang-kadang disertai nefritis atau hematuria. Komplikasi serius jangka panjang dari HSP seperti keterlibatan sistem saraf pusat, gagal ginjal progresif, dan adanya sindrom nefritik atau nefrotik telah dikaitkan dengan prognosis yang buruk, dimana timbul pada 1-2% pasien. An. R usia 13 tahun datang ke IGD Rumah Sakit Ahmad Yani dengan keluhan timbul ruam kemerahan pada ekstremitas bawah sejak 2 minggu lalu. Ruam kemerahan tersebut tidak disertai rasa gatal dan nyeri. Ibu pasien menyangkal riwayat alergi pada anaknya. Pasien juga mengeluh nyeri perut dan mual sejak 3 hari sebelum masuk RS pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan pada abdomen, pada pemeriksaan generalis didapatkan purpura pada ekstremitas bawah tanpa rasa nyeri dan gatal. Pasien ini didagnosis dengan HSP. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah injeksi ampicilin 1 gram per 8 jam, injeksi ranitidine 50 mg per 12 jam, injeksi metil prednisolon 25 mg per 8 jam. Pasien dirawat selama 4 hari dan keluhan berkurang sehingga pada pasien ini diperbolehkan pulang. Kata kunci : henoch schonlein  purpura, IgA, vasculitis.
Laki-Laki 28 Tahun dengan Otitis Media Supuratif Kronis Maligna dan Parese Nervus Fasialis Perifer Dwita Oktaria; Sheba Denisica Nasution
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan pendengaran terjadi pada 5% masyarakat di dunia yaitu sebanyak 360 juta jiwa. Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh faktor genetik, penyakit infeksi tertentu, infeksi kronik telinga, penggunaan obat ototoksik, paparan terhadap bising dan penuaan. Otitis media supurarif kronis (OMSK) dapat menyebabkan gangguan pendengaran. OMSK merupakan radang kronis telinga tengah dengan adanya perforasi pada membran timpani dan riwayat keluarnya cairan  dari telinga (otorea) lebih dari 6-8 minggu. Prevalensi OMSK di Indonesia antara 3-5,2% atau kira-kira kurang lebih 6,6 juta penduduk. OMSK dapat mengakibatkan beberapa komplikasi dan kadang-kadang mengancam jiwa seperti kehilangan pendengaran, meningitis, abses serebri, mastoiditis, parese nervus fasial, kolesteatoma, jaringan granulasi dan empiema subdural. Seorang laki-laki berusia 28 tahun datang ke Rumah Sakit dengan keluhan mulut mencong ke kiri sejak ± 2 hari sebelum berobat ke rumah sakit. Keluhan lain pada  telinga kanan keluar cairan berwarna kuning, lengket dan berbau serta pendengaran berkurang. Pada pemeriksaan fisik telinga kanan didapatkan sekret purulen, koleastoma, serta membran timpani telinga kanan tidak intak, terdapat perforasi attic tepi rata dan pada pemeriksaan neurologi didapatkan wajah asimetris, tidak dapat mengangkat alis kanan dan kerutan pada dahi tidak simetris. Salah satu komplikasi OMSK adalah parese nervus fasialis. Tatalaksana konservatif dan operatif diperlukan pada OMSK tipe maligna dengan komplikasi. Kata kunci: gangguan pendengaran, OMSK, parese nervus fasialis