cover
Contact Name
Ferdinan Bashofi
Contact Email
ferdinanbashofi@uibu.ac.id
Phone
+6285755554384
Journal Mail Official
maharsi@uibu.ac.id
Editorial Address
Jl. Citandui No.46, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
ISSN : 26562499     EISSN : 26848686     DOI : https://doi.org/10.33503/maharsi.v7i2
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi contains scientific articles, theoretical and empirical studies resulting from research by students, academics, and practitioners in the field of Science and Applied Science Education which can be implemented in the context of science learning. The scope of science in this journal includes but is not limited to Sociology, and History. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments, and simulation, as well as applications. Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi  is a multidisciplinary journal committed to no single approach, discipline, methodology, or paradigm. This journal welcomes a variety of approaches (qualitative, quantitative, and mixed methods) to empirical research; and also publishes high-quality systematic reviews and meta-analyses.
Articles 143 Documents
Peluang Dan Tantangan Dalam Transformasi Tradisi Sadranan : Studi Kasus di Gunung Kelud Kecamatan Ngancar Viona Aurellia Hadi Widjajanto Putri; Nabiilah Putri Syahrani; Aura Bebyna Zahrotul; Jihan Bilqis; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.41

Abstract

Tradisi Sadranan di Gunung Kelud, Kecamatan Ngancar, adalah warisan budaya lokal yang telah berlangsung selama bertahun-tahun sebagai cara untuk menghormati alam dan leluhur. Di tengah pergeseran tradisi ini, ada peluang dan tantangan untuk menjaga keberlanjutan budaya di tengah modernisasi dan perkembangan zaman. Potensi untuk menarik wisatawan, memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda, dan memperkuat identitas masyarakat setempat adalah beberapa peluang yang muncul. Sebaliknya, masuknya elemen asing, komersialisasi budaya, dan kurangnya regenerasi pelaku tradisi menyebabkan perubahan nilai-nilai tradisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana tradisi Sadranan berubah, serta untuk mempelajari peluang dan kesulitan yang muncul dalam mempertahankan tradisi tersebut di zaman sekarang. Observasi dan wawancara mendalam dengan pelaku tradisi dan tokoh masyarakat, serta wisatawan yang terlibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan aspek spiritual dan sosial budaya menjadi kunci dalam menjaga kelangsungan tradisi Sadranan di Gunung Kelud.
Tradisi Grebek Suro Sebagai Bentuk Rasa Syukur Masyarakat Trowulan Mojokerto Mita Selvia Anggreini; Bening Nur Laili; Abshar Albani; Anggin Puspa Anggraeni; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.43

Abstract

Grebeg Suro merupakan salah satu tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Trowulan, Mojokerto, sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan serta penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini memiliki akar budaya yang kuat, terutama dalam konteks adat Jawa dan kepercayaan lokal yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Grebeg Suro yang biasanya diadakan pada bulan Suro (Muharram) dalam kalender Jawa, mencakup serangkaian upacara adat, doa bersama, dan berbagai pertunjukan seni tradisional. Melalui acara ini, masyarakat Trowulan menunjukkan kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan antarwarga. Selain itu, Grebeg Suro juga dianggap sebagai sarana untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi lingkungan sekitar. Artikel ini bertujuan untuk mengulas peran Grebeg Suro dalam mengekspresikan rasa syukur masyarakat Trowulan, Mojokerto, serta melestarikan kearifan lokal di era modern. Kajian ini menggunakan metode kualitatif yaitu kajian literatur. Dimana akan dilakukan pengumpulan data seperti mencatat mencari literatur untuk digunakan dalam mengidentifikasi penelitian agar dapat menjelaskan apa yang didapatkan dari hasil penelitian tersebut. Dengan menggunakan metode ini di harapkan para pembaca dapat dengan mudah memahami penjelasan yang kami berikan dalam artikel ini. Hasil kajian ini dapat memberikan wawasan baru mengenai pentingnya tradisi lokal dalam menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi.
Tradisi Tahunan Grebeg Apem di Kabupaten Jombang Sebagai Simbol Kebersamaan dan Keberkahan Andini Herlina Putri; Nur Elsa Maulidini; Septia Wardani; Tsabita Ayuni Susanti; Katon Galih Setyawan; Sugiantoro Sugiantoro
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.45

Abstract

Abstrak Grebeg apem, sebuah tradisi unik yang berasal dari tanah jawa, merupakan perpaduan menarik antara ritual keagamaan, perayaan budaya, dan ekspresi syukur atas karunia tuhan. Secara simbolis, apoem yang menjadi pusat perhatian dalam upacara ini memiliki makna yang mendalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkenalkan tradisi grebeg apem yang dilakukan masyarakat Jombang sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalambentuk wawancara serta literatur riview yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang relevan mengenai grebeg apem. Tradisi ini menghadapi berbagai tantangan, seperti modernisasi. Namun, semangat pelestarian tradisi ini terus menyala. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga kelangsungan grebeg apem, baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun para budayawan. Melalui berbagai inovasi grebeg apem diharapkan dapat terus hidup dan berkembang sebagai salah satu warisan budaya yang ada di Jombang dan tak ternilai harganya. Grebeg apem dapat dikaitkan dengan teori interaksi simbolik dimana kue apem memiliki simbol permohonan maaf kepada Allah SWT. Kemudian, tradisi grebeg apem sendiri bermakna kesyukuran, pembersihan diri, solidaritas sosial dan warisan budaya bagi Masyarakat Jombang. KATA KUNCI Agama;Grebeg apem;Kebudayaan;Simbol
Pelestarian Pencak Silat Lirboyo Kediri sebagai Upaya Merawat Warisan Budaya di Tengah Arus Modernisasi Muhammad Wildan Jauharuddin; Muhammad Galang; Andiva Nailus Mustofa; Muhammad Habib Nasrudin; Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.47

Abstract

Indonesia memerankan negara yang kaya akan kemajemukan dari suku, budaya, bahasa, serta agama. Mengenai hal ini menunjukkan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda. Terlebih seiring kemajuan zaman dan arus modernisasi tidak dapat dipungkiri bahwa tiap-tiap daerah masih melindungi kearifan lokalnya. Kearifan lokal di setiap daerah sangat beragam, Misalnya saja Tradisi Pencak Lirboyo di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri termasuk salah satu kearifan lokal berupa aktivitas bela diri melalui jalan kebudayaan. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif. Dengan metode deskriptif analisis yakni penelitian yang berupa kejadian peristiwa dalam bentuk kalimat yang terukur kedalam tradisi Pencak Lirboyo. Datanya bermula dari data primer melampaui tahap wawancara dan dat sekunder dari artikel di internet. Hasil analisi ini menunjukkan pentingnya tradisi Pencak Lirboyo dari unsur kearifan lokal. Tradisi ini telah menempuh transfigurasi sangat panjang dari segi media promosi serta upaya yang dihadapi untuk memepertahankan tradisi ini. Bersamaan dengan ini peneliti terobsesi untuk menghargai makna dari Pencak Lirboyo.
Praktik Baik Menggunakan Metode STAR (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi, Dampak dan Hasil) Dalam Mengatasi Masalah Belajar Siswa Kelas XI di SMA Negeri 6 Malang Nadhiya Andi Anggraeni; Mukarom Mukarom; Budi Santoso; Indrawati Pusparini
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.48

Abstract

Metode Star sangat diperlukan bagi Guru sejarah dalam mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan belajar yang dialami siswa serta mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Metode tersebut penting untuk memahami hambatan yang dihadapi siswa dalam proses belajar dan menemukan cara terbaik untuk membantu mereka mengatasi kesulitan dalam belajar. Guru sejarah harus lebih aktif, kreatif, dan inovatif dalam menentukan serta menggunakan metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi metode start dalam raktik baik mengatasi masalah belajar sejarah. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi Pustaka atau library research. Penelitian studi Pustaka merupakan penelitian yang menggunakan data utama berasal dari literatur atau sumber Pustaka sebagai bahan analisis yang disesuaikan dengan permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dengan sumber primer berupa observasi yaitu melkaukan pengamatan dengan siswa kelas XI dan wawancara dengan siswa kelas XI untuk mengetahui permaslahan belajar yang ada dalam pembelajaran sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pendekatan yang inovatif dalam pembelajaran, seperti penggunaan teknologi dan metode interaktif, dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih dinamis dan menarik bagi guru sejarah dalam mengajar di sekolah.
Penerapan Kebijakan Sistem Zonasi Dalam PPDB Terhadap Kesetaraan Hak Anak Mendapatkan Pendidikan di SMA Negeri 2 Kupang Yulinda U. Haning; Amirulah Datuk; ST Ramlah; Yayuk Julyyanti; Idris Idris
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.49

Abstract

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang mengelola dan mengatur peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki, kemudian diarahkan dan didorong agar mencapai tujuan yang diinginkan. Tahapan awal untuk memulai jenjang pendidikan formal yaitu tahap Penerimaan Peserta Didik (PPDB). PPDB adalah proses penarikan calon peserta didik untuk dijadikan input sekolah. Kegiatan ini rutin dilakukan sekolah setiap tahun ajaran baru. Tahap PPDB harus dikelola dan dilaksanakan sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk memperlancar dan mempermudah dalam proses pendaftaran siswa-siswi baru, pendataan dan pembagian kelas seorang siswa-siswi. Sehingga dapat terorganisir, teratur dengan cepat dan tepat dengan beberapa persyaratan yang telah ditentukan oleh sekolah. Pada proses PPDB biasanya terdapat proses seleksi administrasi dan akademis calon siswa untuk memasuki jenjang pendidikan setingkat lebih tinggi. sesuai dengan peraturan pemerintah dengan empat jalur yakni:Penerimaan melalui jalur Zonasi, Jalur Prestasi dimana terbagi lagi menjadi 2 bagian yaitu melalui Jalur prestasi Akademik dan Jalur Prestasi Non Akademik, Jalur Pindah Orang Tua Jalur Afirmasi. Sekolah SMA Negeri 2 Kota Kupang telah melakukan Penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem zonasi. Penerpan jalur Zonasi ini memberikan hak dan kesempatan kepada siswa untuk menikmati mutu Pendidikan yang sama tanpa diskriminasi
Pemaknaan Simbol dalam Tradisi Ma’nene di Daerah Toraja Arina Eliana Fitria; Nur Farikhatun Nisa’; Aisyah Lailya Nafitri; Maudelyne Nasywa Maulida; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.50

Abstract

Tradisi Ma’nene di kalangan masyarakat Toraja merupakan ritual unik yang mencerminkan penghormatan mendalam kepada leluhur melalui pembersihan jenazah. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis simbolisme dalam ritual Ma’nene dan makna sosial yang mendasarinya. Metode kualitatif deskriptif digunakan dengan data primer yang dikumpulkan dari wawancara dengan penduduk Toraja dan data sekunder dari literatur yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti Patane, tau-tau, hewan kurban memiliki makna yang mendalam yang mewakili hubungan spiritual dan status sosial masyarakat Toraja. Ritual ini tidak hanya melestarikan hubungan antara orang yang masih hidup dengan para leluhur, namun juga memperkuat identitas budaya dan kohesi sosial. Kesimpulannya, elemen-elemen simbolis dalam Ma’nene memainkan peran penting dalam melestarikan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi.
Konflik Negara dan Masyarakat Adat dalam Perspektif Politik Rekognisi Axel Honneth: Analisis terhadap Perampasan Hutan Adat Pubabu di Nusa Tenggara Timur Wiliansyah Pikoli; Mohamad Ivan Pebriansyah
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.53

Abstract

Permasalahan kehutanan di Indonesia masih menjadi isu yang terus mengemuka hingga saat ini, salah satunya adalah masalah pengambilalihan secara paksa hutan adat Pubabu milik masyarakat adat Besipae oleh Pemerintah Nusa Tenggara Timur, hal ini kemudian mengindikasikan tidak adanya pengakuan dari pemerintah atas hak hutan adat yang sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat hukum adat seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18B ayat 2 dan Pasal 18I ayat 3. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kasus perampasan hutan adat Pubabu dari perspektif politik rekognisi Axel Honneth. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi pustaka. Sumber data penelitian diperoleh melalui sumber sekunder, seperti berita online, buku, dan jurnal ilmiah yang relevan dengan penelitian ini. Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perampasan hutan adat Pubabu terjadi dalam beberapa bentuk, yakni 1) Pembabatan hutan, 2) Pengalihan fungsi hutan, 3) Pelarangan terhadap masyarakat adat Besipae memasuki kawasan hutan adat Pubabu, dan 4) Penerbitan sertifikat hak pakai hutan adat Pubabu secara sepihak, dimana dalam pandangan Honneth tentang rekognisi dalam bentuk hukum bahwa berbagai tindakan perampasan tersebut merupakan bentuk disrespect dan misrecosnition dari Pemerintah Nusa Tenggara Timur atas hak hutan adat Pubabu milik masyarakat adat Besipae.
Mengungkapkan Makna Simbolis Upacara Pernikahan Midodareni di Daerah Ngawi Az Zahra Wahyu Afifah; Rizka Nurlaili; Oktafia Nur Halima; Dina Feronica; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.57

Abstract

Prosesi midodareni di Ngawi menggambarkan calon pengantin sebagai bidadari yang harus menjaga kesucian diri sebelum menikah.Malam midodareni melambangkan dukungan keluarga dan keberkahan dalam kehidupan berumah tangga. Calon pengantin diharapkan bersabar dan menghormati tradisi dengan tidak bertemu calon suami sampai ritual selesai. Meskipun ada sentuhan modernisasi dalam prosesi adat ini seperti dekorasi dan teknologi,esensi spiritual dan persiapan mental tetap dijunjung tinggi.Meskipun beberapa orang memodifikasi prosesi midodareni untuk menyita waktu yang lebih sedikit, upacara ini harus tetap dilestarikan dan dipahami oleh generasi muda. Strategi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat berupa audit penulisan. Audit penulisan dapat berupa strategi yang berpusat pada pengumpulan, pengecekan,dan analisis informasi dari berbagai sumber yang disusun yang penting bagi subjek yang diperiksa. Midodareni telah mengalami adaptasi sebagai bentuk penyesuaian pada gaya hidup masa kini,sering kali sebagian orang mempersingkat atau menyesuaikan tradisi Midodareni agar dapat melakukan kegiatan lainnya. Penting bagi pelaku budaya dan masyarakat adat untuk menyebarkan pengetahuan tentang midodareni melalui berbagai kegiatan budaya,seminar, dan dokumentasi yang mudah diakses, serta tetap mempertahankan nilai-nilai luhur upacara tersebut dalam menghadapi perkembangan zaman agar makna simbolisnya relevan bagi masyarakat modern.
Tradisi Ta'zir dalam Pendidikan Santri Generasi Z di Pondok Pesantren I’annatus Sholikhah; Faizal Kurniawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.60

Abstract

Santri jenjang SMP dan SMA/SMK saat ini merupakan bagian dari generasi z. Hal ini kemudian menjadi tantangan bagi pesantren karena genarazi z cenderung mendapat stereotip negatif berupa perilakunya yang dianggap unik. Pesantren sebagai salah satu agen sosialisasi memiliki tugas menanamkan nilai norma keislaman bagi setiap santri. Salah satu alat untuk melakukan sosialisasi di pondok yaitu menggunakan tradisi ta’zir. Tradisi ta’zir menjadi salah satu cara pesantren untuk mensosialisasikan nilai-nilai keislaman pada pribadi santri. Maka pada penulisan artikel ini, penulis ingin mengetahui apakah tradisi ta’zir masih revelan dilakukan pada generasi z. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Riyadlul Qur’an dengan subjek informan santri jenjang SMP. Melalui penelitian kualitatif dengan metode wawancara penulis menemukan data bahwa tradisi ta’ziran masih efektif dilakukan kepada santri generasi z. Terbukti ada perubahan perilaku santri setelah mendapat ta’ziran. Secara umum terdapat tiga perubahan yang dirasakan satrisantri. Ketiga perubahan tersebut yaitu perubahan diri menjadi disiplin, perubahan diri menjadi lebih bertanggung jawab, dan behenti melakukan tindakan penyimpangan.

Page 3 of 15 | Total Record : 143