cover
Contact Name
Ferdinan Bashofi
Contact Email
ferdinanbashofi@uibu.ac.id
Phone
+6285755554384
Journal Mail Official
maharsi@uibu.ac.id
Editorial Address
Jl. Citandui No.46, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
ISSN : 26562499     EISSN : 26848686     DOI : https://doi.org/10.33503/maharsi.v7i2
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi contains scientific articles, theoretical and empirical studies resulting from research by students, academics, and practitioners in the field of Science and Applied Science Education which can be implemented in the context of science learning. The scope of science in this journal includes but is not limited to Sociology, and History. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments, and simulation, as well as applications. Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi  is a multidisciplinary journal committed to no single approach, discipline, methodology, or paradigm. This journal welcomes a variety of approaches (qualitative, quantitative, and mixed methods) to empirical research; and also publishes high-quality systematic reviews and meta-analyses.
Articles 143 Documents
Menakar Ulang Rekognisi Penghayat dalam Pemenuhan Hak Sipil dan Politik di Tulungagung Nafisul Fikri , Alif
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.62

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 97/PUU-XIV/2016 membawa harapan baru bagi penghayat kepercayaan di Indonesia. Hal ini memungkinkan mereka untuk mencantumkan identitas keagamaan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Namun sangat disayangkan, pemenuhan hak-hak sipil-politik belum sepenuhnya terjamin. Oleh karena itu, adanya fenomena tersebut pada akhirnya memantik penelitian ini dilakukan guna melihat perjuangan kelompok penghayat kepercayaan untuk mendapatkan pengakuan atas hak-hak sipil-politik. Serta terobosan alternatif guna mendapatkan hak-hak tersebut yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat penghayat sendiri. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan fenomenologi dan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun putusan MK telah membawa dampak positif, seperti telah membolehkan para penganut aliran kepercayaan untuk mencantumkan keyakinannya pada kolom agama di Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el), tetapi banyak penghayat masih takut untuk menunjukkan identitas keagamaan mereka di ruang publik. Hal ini disebabkan oleh tidak diakuinya penghayat sebagai agama, melainkan hanya diakui sebagai budaya. Pada akhirnya, berdampak pada pengakuan setengah hati terhadap hak-hak sipil dan politik terhadap kelompok tersebut. Terobosan dalam pemenuhan hak-hak sipil dan politik termasuk pendidikan inklusif yang seharusnya disediakan oleh pihak pemerintah dan peningkatan SDM penghayat. Meskipun demikian, pemerintah perlu lebih aktif dalam menjamin dan melindungi hak-hak sipil-politik penghayat kepercayaan sesuai dengan konstitusi dan konvensi internasional.
Perubahan Budaya Masyarakat Indonesia (Studi Pada Pendidikan Masa Pendudukan Jepang) Rahmat Adnan Lira; Ridhwan Ridhwan; Fatimah Fatimah
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana perubahan budaya masyarakat Indonesia yang difokuskan pada pendidikan di Indonesia masa pendudukan Jepang. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan literatur sejarah tentang pendudukan Jepang di Indonesia sebagai sumber utama. Pendekatan historis dan pedagogis adalah jenis pendekatan yang digunakan, sedangkan teknik analisis data meliputi heuristik, kritik sejarah, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan budaya pendidikan dengan penjajah terdahulu dengan Jepang di mana penjajah terdahulu menerapkan pendidikan dikotomis, diskriminatif dan sentralistik, sementara Jepang menghapus kurikulum dualisme pengajaran, memberikan kesempatan kepada seluruh anak untuk bersekolah, tenaga pengajar dan stakeholder sekolah yang diambil dari pribumi dan lain-lain. Selain itu, Jepang memberikan kelonggaran terhadap pendidikan agama Islam, sebagai upaya untuk menarik simpati masyarakat. Dalam pendidikan bahasa Jepang dan Indonesia digunakan sebagai pengganti bahasa Belanda dan Eropa untuk menghilangkan pengaruh-pengaruh budaya Barat. Aktivitas belajar yang ada pada saat pendudukan Jepang diwarnai dengan aktifitas militer seperti upacara, latihan ketika pagi, menanam umbi-umbian serta pemberian doktin hakko I chiu kepada siswa agar setia kepada Jepang.
Tradisi dan Nilai Budaya Larung Sesaji di Tengah Modernisasi: Kajian Pelestarian Tradisi Lokal di Daerah Blitar Jawa Timur Ahmad Dhani; Salsabilla Wida Pratama; Gabriela Kusumo Pratiwi; Muhammad Wahyudin; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.64

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, pelaksanaan, dan upaya pelestarian tradisi Larung Sesaji di Blitar di tengah era modernisasi. Larung Sesaji merupakan ritual adat yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Blitar, serta berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mempererat hubungan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat informan yang mewakili berbagai perspektif masyarakat Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Larung Sesaji tetap dipertahankan meskipun terpengaruh oleh modernisasi, dengan dukungan aktif dari pemerintah dan keterlibatan masyarakat. Meskipun demikian, tantangan utama dalam pelestarian tradisi ini adalah bagaimana menjaga keterlibatan generasi muda dan relevansi tradisi ini di era digital. Oleh karena itu, inovasi dalam penyajian acara dan edukasi budaya menjadi kunci untuk memastikan kelangsungan tradisi ini. Dengan upaya yang terus-menerus, Larung Sesaji diharapkan dapat bertahan dan berkembang sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Dialektika Hukum dan Moral dalam Perspektif Sosiologis: Pengaruh Timbal Balik dalam Pembentukan dan Penegakan Hukum Mario Fahmi Syahrial; Handaru Indrian Sasmito Adi
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.68

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan dialektis antara hukum dan moralitas dari perspektif sosiologis, dengan fokus pada pengaruh timbal balik dalam pembentukan dan penegakan hukum. Moralitas, yang terdiri dari nilai-nilai sosial seperti keadilan dan kebajikan, berperan sebagai landasan etis dalam pembuatan hukum, sementara hukum berfungsi untuk menginstitusionalisasi dan memperkuat norma-norma moral yang ada dalam masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, melibatkan analisis isi terhadap literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum yang efektif tidak hanya harus sah secara legal, tetapi juga harus mencerminkan nilai-nilai moral yang diterima dalam masyarakat. Sebaliknya, hukum juga memiliki peran signifikan dalam membentuk dan mengubah moralitas sosial, menciptakan tatanan sosial yang lebih stabil dan kohesif. Penelitian ini menyoroti pentingnya hukum yang adaptif dan responsif terhadap perubahan nilai-nilai moral dalam masyarakat yang semakin kompleks.
Tradisi Batar Manaik dalam Masyarakat Suku Malaka : Studi Kasus di Desa Builaran Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur Khusnul Khotimah; Menciana Bete; Rizki Agung Novariyanto
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.81

Abstract

Tradisi batar manaik adalah salah satu tradisi yang di lakukan setiap tahun di Suku Malaka Tafatik(Istana) yang berada di Desa Builaran. Batar Manaik adalah salah satu tradisi adat tahunan di Kabupaten Malaka yang sudah berlangsung lama sejak ratusan tahun yang lalu.Tujuan untuk mempersembahkan upeti rakyat Wehali kepada Raja Liurai.tradisi ini digelar untuk mengenang kembali tradisi,budaya peninggalan leluhur pada jaman dulu.tradisi ini diadakan setiap bulan agustus setelah panen jagung.Tujuan dari penelitiana ini adalah untuk mengetahui makna tradis batar manaik yanag ada di Suku Malaka Desa Builaran,juga untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaannya,serta Nilai-nilai apa saja yang di dapat dalam tradisi batar manaik.Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif.hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi batar manaik di Desa Builaran merupakan tradisi turun temurun dari leluhur mereka.sebuah tradisi yang harus di hadapi dan terus di lestarikan. juga untuk mempererat tali Persaudaraan dan menjaga kelestarian budaya lokal yang ada dalam kehidupan masyarakat Wehali.
Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah SAW, Khulafa Al-Rasyidin, dan Bani Umayyah Muhajir Muhajir; Rismawati Rismawati; Nafilaa Istiqomah
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.168

Abstract

Sejarah pendidikan Islam memiliki peranan penting yang panjang, dimulai sejak masa Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan oleh Khulafa Al-Rasyidin, hingga era Bani Umayyah. Pada masa Nabi Muhammad SAW, pendidikan berlangsung secara bertahap, dimulai secara tertutup hingga akhirnya terbuka. Nabi Muhammad SAW menanamkan nilai-nilai Islam melalui wahyu, pembinaan akhlak, dan pengajaran Al-Qur'an kepada para sahabat. Setelah wafatnya beliau, Khulafa Al-Rasyidin meneruskan estafet pendidikan dengan fokus pada pengembangan moral dan hukum Islam untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur. Pada masa Bani Umayyah, pendidikan Islam berkembang pesat dengan lahirnya berbagai disiplin ilmu, seperti tafsir, hadis, fikih, dan filsafat, didukung oleh pembangunan lembaga pendidikan serta dukungan pemerintah. Pendidikan Islam di era tersebut menjadi fondasi kokoh bagi peradaban Islam yang gemilang di masa depan.
Makna Tradisi Tepung Tawar Perkawinan Adat Melayu Di Desa Sedanau Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau Sulastri Sulastri; Khusnul Khotimah; Hendri Setiawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 2 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i2.273

Abstract

Upacara tepung tawar merupakan kegiatan budaya dan pengamalan budaya melayu. Upacara ini juga merupakan tradisi/kebiasaan yang diwariskan keluarga secara turun temurun generasi dilakukan di pesta pernikahan. Upacara juga diyakini mempunyai makna sebagai hadiah dan doa pemberkatan untuk kesejahteraan kedua mempelai dan seluruh keluarganya, demikian juga secara signifikan sebagai simbol penolakan terhadap segala bala dan gangguan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna Tradisi dan dan nilai-nilai yang terkandung serta manfaat yang diperoleh dari upacara dalam pernikahan adat Melayu Kepulauan Riau. Penelitian ini menggunakan metode kualitaif deskriptif dengan pengumpulan data wawancara dengan tertua Adat, rekaman video dan audio sebagai bahan observasi. Penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya dianggap mempunyai makna upacara doa dan pemberkatan demi kesejahteraan kedua mempelai dan seluruh keluarganya dan sebagai sekedar kumpulan media saja. Selain itu, upacara ini mempunyai makna yang luas mulai dari alat dan bahan, pelaku Tepuk Tepung Tawar, tata cara pengerjaannya. Adapun Nilai yang terkandung dalam upacara ini adalah nilai sosial, nilai kekeluargaan, agama dan budaya nilai-nilai. Ditambah pula dengan manfaat yang diperoleh dari pelaku dan pelaksana upacara diantara Tepuk tepung Tawar disampaikan doa, harapan, cita-cita dan harapan, silaturahmi, berdoa untuk kebaikan dalam pernikahan.
Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Sejarah Lokal Anwar, Saiful
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 1 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i1.296

Abstract

Pendidikan multikultural merupakan konsep pendidikan yang mengakui perbedaan dalam suatu bingkai kebersamaan dan kesederajatan. Konsep pendidikan multikultural relevan dalam konsep negara yang mempunyai keanekaragaman budaya seperti Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas pendidikan pendidikan multikultural yang berfokus pada pembelajaran sejarah lokal. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Data diperoleh dari buku, artikel, jurnal dan ensiklopedia lain yang mendukung. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis konten kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah lokal dapat membekali siswa dengan pengetahuan sejarah tentang keberagaman masyarakat. Kesadaran multikultural dapat dikembangkan dengan mengkaji perbedaan-perbedaan dalam sejarah masa lalu setiap masyarakat. Sejarah lokal dapat diajarkan dengan menggunakan model-model sebagai berikut: 1) pembelajaran tentang pengalaman masa lalu; 2) studi kasus dari berbagai perbedaan; 3) pengembangan strategi pembelajaran; 4) pembuatan kurikulum; dan 5) penggabungan pembelajaran sejarah lokal ke dalam materi yang berkaitan dengan sejarah nasional.
Tantangan dan Perwujudan Gender Equality Sebagai Realitas Sosial serta Implikasinya dalam Pembangunan di Indonesia Eka Saputri, Indiani; Novriza Setya Dhewantoro, Happri; Inayati Azizah, Primanisa; Sinta Utami, Prihma
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 1 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i1.298

Abstract

Kesetaraan gender termasuk ke dalam tujuan yang harus dicapai dalam pembangunan nasional jangka panjang maupun menengah. Oleh karena itu baik perempuan maupun laki-laki mempunyai kesempatan dan akses yang sama sebagai agen dari pembangunan. Namun, dalam realitas masyarakat Indonesia perbedaan gender ini nyatanya masih menjadi permasalahan yang perlu diselesaikan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur. Metode dalam pengumpulan data dan informasi yaitu dengan bantuan buku, catatan dari jurnal, dokumen, atau materi pustaka yang berkaitan dengan pembahasan pada penelitian ini. Setelah semua data terkumpul maka langkah selanjutnya yaitu peneliti menganalisis data tersebut untuk diambil sebuah kesimpulan. Sifat dari penelitian studi literatur ini yaitu analisis deskriptif dengan menguraikan data yang diperoleh secara teratur. Kemudian, memberikan penjelasan serta pemahaman kepada pembaca agar mudah dipahami (Pusparani, 2021). Hasil dari penelitian ini yaitu proses dari perwujudan kesetaraan gender di Indonesia sudah terlihat di beberapa sektor seperti pendidikan, ketenagakerjaan, dan politik tetapi belum maksimal. Hal ini karena adanya tantangan dalam proses tersebut seperti kuatnya budaya patriarki, pelaksanaan undang-undang yang tidak maksimal, kesenjangan akses pendidikan dan kesempatan kerja yang belum merata, serta masih banyak lagi. Oleh karena itu Indonesia harus mampu menyikapi tantangan tersebut dengan baik di mana tercapainya kesetaraan gender sebagai syarat dari pembangunan yang berkelanjutan dan berpusat di masyarakat harus menjadi prioritas dalam inisiatif pembangunan.
Tradisi Pe’eppuk sebagai Bentuk Modal Sosial Masyarakat Desa Lohayong Flores Timur Putri Indah Lestari, Sri; Rahadian, Septa; Badar, Ali
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 1 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i1.299

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lohayong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wujud modal sosial masyarakat Desa Lohayong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisa data dalam penelitian ini melalui teknik pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan perpanjangan waktu, peningkatan ketekunan, dan Triangulasi. Penelitian ini menggunakan teori Modal Sosial milik Robert Putnam. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi pe’eppuk (berkumpul) ini merupakan hajatan rutin yang diadakan oleh masyarakat desa Lohayong pertama kali sejak tahun 2000, dimana pada momen ini masyarakat desa Lohayong mengumpulkan ana uhur lewotana yang merantau di seluruh Indonesia dan Malaysia dan berlatar belakang simpati masyarakat terhadap kemajuan desa Lohayong dalam berbagai aspek. Selain aspek kemajuan desa, tradisi ini diadakan untuk memperat silaturahmi antar masyarakat desa Lohayong baik yang ada di desa maupun yang merantau diseluruh Indonesia dan Malaysia. Ketika berbicara tentang modal sosial maka masyarakat desa lohayong memiliki modal sosial dalam mewujudkan tujuan bersama yang di jadikan niat utama diimplementasikan tradisi pe’eppuk ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa tradisi pe’eppuk ini merupakan wujud atau bentuk modal sosial masyarakat Desa Lohayong Flores Timur.

Page 4 of 15 | Total Record : 143