cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Efek Penghambatan Ekstrak Akuades Daun Ocimum basilicum terhadap Streptococcus mutans In Vitro Lumaksita, Paulus Paksi Inggil; Sugihartana, David; Larnani, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.2

Abstract

Daun kemangi (Ocimum basilicum) telah diteliti ekstraknya sebagai antibakteri patogen pangan. Penelitian eksperimental antibakteri dari ekstrak daun Ocimum basilicum terhadap patogen di rongga mulut, termasuk Streptococcus mutans, masih harus diperdalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak daun Ocimum basilicum terhadap penghambatan pertumbuhan Streptococcus mutans. Daun Ocimum basilicum diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan akuades steril. Ekstrak diuji penghambatannya terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dalam larutan NaCl fisiologis dengan metode dilusi dan spektrofotometri 550nm. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan perlakuan ekstrak daun Ocimum basilicum terhadap penghambatan pertumbuhan Streptococcus mutans (p<0,05). Ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum L.) berpengaruh menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. 
Kadar Antibodi Anti-dsDNA dan Urine Monocyte Chemoattractant Protein-1 pada Nefritis Lupus Susianti, Hani; Salman, Yuliana; Gunawan, Atma; Handono, Kusworini
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.079 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.8

Abstract

ABSTRAKKata Kunci: Lupus  eritematosus  sistemik  (LES) merupakan  penyakit  autoimun  yang  ditandai  oleh  peradangan  kronis  dan  akut. Biomarker klasik untuk mendeteksi adanya penyakit LES adalah antibody anti-double stranded DNA (anti-dsDNA) dan urine Monocyte Chemoattractant Protein-1   (uMCP-1).   Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan antara kedua biomarker tersebut dengan klasifikasi histopatologis nefritis lupus untuk mengganti biopsi ginjal dalam penentuan kelas histopatologi nefritis lupus.   Penelitian ini dilakukan selama 11 bulan   berupa studi observasional dengan pengambilan sampel darah dan urin untuk mengetahui kadar antibodi anti-dsDNA dan MCP-1, serta biopsi ginjal untuk menentukan kelas nefritis lupus berdasarkan klasifikasi WHO tahun 1982.   Data hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,208>α) antara mean rank kadar anti-dsDNA pada kelompok kontrol dan kelompok kasus,begitu pula dengan hasil perbandingan mean rank kadar uMCP-1 (p=0,247>α).   Uji korelasi Spearman's rho,menunjukkan hubungan signifikan kadar anti-dsDNA dan kadar uMCP-1 (r = 0,861; p<0,001). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar biomarker antibodi anti-dsDNA dan urine MCP1 pada kejadian nefritis lupus dan klasifikasi histopatologi nefritis lupus, namun terdapat hubungan yang sangat erat antara kadar biomarker antibodi anti-dsDNA dengan kadar urine MCP-1. Nilai sensitifitas kadar anti-dsDNA dan uMCP-1  lebih rendah yaitu 20% – 40% dibandingkan dengan nilai spesifisitasnya, yaitu 50% – 83,33%.Kata Kunci: Anti-dsDNA, uMCP-1, klasifikasi histopatologi, nefritis  lupus
DIARE ROTAVIRUS PADA ANAK DIBAWAH USIA 3 TAHUN YANG DIRAWAT DI RSU DR. SAIFUL ANWAR MALANG TAHUN 2005 (PRELIMINARY STUDY) Santoso, Nurtjahjo Budi; Hamid, Aulia Abdul; Santoso, Sanarto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 2 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.132 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.02.5

Abstract

ABSTRACT Rotavirus is the most common cause of acute diarrhea among children worldwide. The majority of the cases required hospitalization. Epidemiologic pattern and clinical manifestation could be helpful in establishing the proper diagnosis and management. To find out prevalence and the clinical pictures of rotavirus diarrhea among children under three years of ages with acute diarrhea admitted in the Department of Child Health Dr. Saiful Anwar General Hospital. The stools of children under three years of age with acute diarrhea between March 1st and May 1st, 2005 were assessed for rotavirus using Latex agglutination test (Slidex, Rota K2, bio Merieux). Age, sex, clinical sign and symptoms and breast-fed were recorded. The severity of acute diarrhea was estimated using WHO criteria. Statistical analysis were performed using EpiInfo 2000 program with x2 or x2 for trend. From the 40 patients with acute diarrhea were found 16 patients (40%) with rotavirus positive, both male and female were 8 patients (50%). Distribution of rotavirus positive patients in age group were 0-5 months 3/16 (18,7%), 6-11 months 6/16 (37,5%), 12-23 months 6/16 (37,5%) and 24-36 months 1/16 (6,3%). Clinical manifestations showed that most children had fever (75%), vomiting (87.5%) and dehydration (87.5%). Rotavirus infection among breast-fed patients were found less than bottle-fed patients.
DASAR GENETIK OBESITAS VISERAL Indra, Muhammad Rasjad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.301 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.01.3

Abstract

Obesity is defined as an excess proportion of totalbody fat. Nearly 40 million adults in the United States can be defined as obese. There are several indexes used to assess  obesity. The most common measure of obesity is the body mass index (BMI). Obesity occurs when a person's calorieintake exceeds the amount of energy he or she burns. Obesity tends to run in families, suggesting that it may have a genetic cause. However, family members share not only genes but also diet and lifestyle habits that may contribute to obesity. Separating these lifestyle factors from genetic ones is often difficult. Still, growing evidence points to heredity as a strong determining factor of obesity. In one study of  adults who were adopted as children, researchers found that their subjects' adult weights were closer to their biological parents' weights than to their adoptive parents'. The environment provided by the adoptive family apparently had less influence on the development of obesity than the person's genetic makeup. Although genes are an important factor in many cases of obesity, a person's environment also plays a significant part. Psychological factors may also influence eating habits. Many people eat in response to negative emotions such as boredom, sadness, or anger. Key words:Genetic, Obesity, visceral
Suplementasi Astaxanthin Menurunkan Kadar Malondialdehid Lensa Penderita Katarak Senilis Effendi, M Ma'sum; Wibowo C, Tutuk
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.016 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.03.7

Abstract

Stres  oksidatif  dan  pembentukan  radikal  bebas  pada  lensa  mata  manusia  lensa  secara  kronis  dapat  menghasilkan malondialdehid.  Malondialdehid  diketahui  dapat  menimbulkan  degenerasi  protein  sehingga  terbentuk  katarak. astaxanthin  adalah  antioksidan  yang  dapat  menurunkan  kadar  malondialdehid.  T ujuan  penelitian  ini  adalah  untuk membuktikan  apakah  astaxanthin  dapat  menurunkan  kadar  malondialdehid lensa  penderita  katarak  senilis.  Penelitian  ini merupakan  penelitian  eksperimental  sederhana  (post  test  only  control  group  design)  terhadap  dua  kelompok,  yaitu astaxanthin dan kontrol, masing-masing terdiri dari 16 sampel, dimana dilakukan penyetaraan terhadap variabel umur , jenis  kelamin, dan gradasi katarak. Kelompok astaxanthin  mendapatkan suplementasi astaxanthin  4 mg dan kelompok kontrol  mendapatkan  plasebo  selama  14  hari  sebelum  dilakukan  bedah  katarak.  Nukleus  lensa  dikumpulkan  untuk selanjutnya  diukur  kadar  malondialdehid.  Penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  setelah  mengonsumsi  selama  14  hari, kelompok  astaxanthin  menunjukkan  kadar  malondialdehid  yang  lebih  rendah  (rerata=50,315  nmol/mg)  daripada kelompok  kontrol  (rerata=50,808  nmol/mg)  dimana  perbedaan  ini  secara  statistik  bermakna  (p=0,001).  Suplementasi astaxanthin  dapat  menurunkan  kadar  malondialdehid  lensa  penderita  katarak  senilis.
Evaluasi Pelaksanaan Sistem Identifikasi Pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Anggraini, Dewi; Hakim, Lukman; Imam, Cecilia Widjiati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.601 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.32

Abstract

Keamanan pelayanan di rumah sakit dimulai dari ketepatan identifikasi pasien. Rumah sakit harus membangun sistem yang menjamin bahwa pelayanan yang tepat diberikan kepada pasien yang tepat. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab belum optimalnya pelaksanaan sistem identifikasi pasien serta mencari alternatif solusi untuk mengoptimalkan pelaksanaan sistem identifikasi pasien di Ruang Rawat Inap RS.X Malang. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan focus group discussion (FGD), wawancara, pengamatan serta studi dokumen. Identifikasi prioritas alternatif solusi menggunakan brainstorming dengan mempertimbangkan urgency, severity/seriousness, growth (USG). Secara struktur sistem identifikasi pasien cukup lengkap.  Pengetahuan perawat tentang sistem identifikasi pasien cukup baik. Sikap perawat dan petugas lain terhadap pelaksanaan prosedur identifikasi pasien adalah positif namun tidak selalu melakukan prosedur verifikasi sesuai ketentuan terutama untuk tindakan yang menurut perawat tidak berisiko terutama pada saat shift sore dan malam.  Keterbukaan untuk melaporkan insiden pada petugas masih belum optimal. Kendala dan hambatan terutama dirasakan masih sulit merubah kebiasaan untuk selalu melakukan verifikasi, terkadang pasien mengeluh jika terlalu sering ditanya identitasnya, tidak dirasakan adanya kendala ketersediaan gelang identitas, kadang-kadang terjadi salah cetak nama pada stiker identitas. Penyebab utama belum optimalnya pelaksanaan sistem identifikasi pasien berhubungan dengan sistem supervisi terhadap pelaksanaan prosedur identifikasi yang belum optimal serta budaya safety yang masih perlu terus ditingkatkan.Kata Kunci: Budaya keselamatan pasien, keselamatan pasien, sistem identifikasi pasien
Penurunan Luaran Neurodevelopmental pada Sepsis Neonatal terjadi melalui Peningkatan IL- 6 dan bukan TNF-α Aminingrum, Rahmawati; Ariani, Ariani; ES, M Istiadjid
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.10

Abstract

Bayi yang mengalami gangguan pada masa prenatal, natal dan paska natal mempunyai risiko tinggi untuk mendapatkan hambatan tumbuh kembang secara optimal dibandingkan bayi lainnya. IL-6 dan TNF-α merupakan salah satu sitokin yang diproduksi saat terjadi sepsis dan mempunyai peranan pada perkembangan otak sebagai sinyal proinflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sepsis terhadap luaran neurodevelopmental, melalui peningkatan kadar IL-6 dan TNF α. Dua puluh neonatus yang memenuhi kriteria sepsis pada ruang perinatologi RSSA dimasukkan dalam subjek penelitian, diukur kadar IL-6 dan TNF-α saat sepsis neonatal dengan menggunakan metode ELISA, dan dinilai perkembangannya pada usia 9 bulan dengan menggunakan Bayley 3. Analisis data diolah dengan menggunakan PLS untuk menentukan pengaruh sepsis neonatal terhadap luaran neurodevelopmental. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan IL-6 dan TNF-α pada sepsi dan penurunan luaran neurodevelopmental usia 9 bulan terutama pada aspek kognitif diikuti motorik, dan bahasa, namun tidak didapatkan pengaruh bermakna pada peningkatan TNF-α dengan luaran neurodevelopmental. Dapat disimpulkan bahwa sepsis neonatal dapat berpengaruh pada luaran neurodevelopmental usia 9 bulan melalui peningkatan IL-6 dan bukan TNF-α. Kata Kunci: IL-6, neonatal sepsis, neurodevelopmental outcome, TNF-α
Pemberian Buah Kawista Menghambat Peningkatan Kadar Malondialdehid Serum Tikus Wistar yang Dipapar Asap Rokok Raharja, Kristian Triatmaja; Wirjatmadi, Bambang; Adriani, Merryana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.2

Abstract

Asap rokok merupakan sumber radikal bebas (oksidan) yang dapat meningkatkan terjadinya peroksidasi lipid membran sel. Malondialdehid (MDA) adalah salah satu produk akhir dari peroksidasi lipid, digunakan sebagai biomarker stres oksidatif. Buah kawista (Limonia acidissima Linn) memiliki senyawa fenolik antara lain flavonoid dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian buah kawista secara preventif, untuk menghambat peningkatan kadar malondialdehid serum tikus Wistar yang dipapar asap rokok. Studi eksperimental menggunakan post-test only group design, dengan rancangan acak lengkap, pada tikus Wistar jantan sebanyak 25 ekor, perlakuan selama 35 hari. Tikus dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (tanpa perlakuan), kontrol positif (dipapar asap rokok), kelompok P1 (asap rokok dan buah kawista dosis 500 mg/kg BB), kelompok P2 (asap rokok dan buah kawista dosis 600 mg/kg BB), kelompok P3 (asap rokok dan buah kawista dosis 700 mg/kg BB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah kawista yang diberikan secara preventif pada ketiga dosis, dapat menghambat peningkatan kadar malondialdehid serum tikus yang dipapar asap rokok (p=0,000). Kadar malondialdehid serum terendah terlihat pada dosis 700 mg/kg BB. Dapat disimpulkan bahwa pemberian buah kawista secara preventif, dapat menghambat peningkatan kadar malondialdehid serum tikus Wistar yang dipapar asap rokok.Kata Kunci: Antioksidan, asap rokok, buah kawista, malondialdehid, peroksidasi lipid
Akurasi Tripel Diagnostik yang Dimodifikasi (TDM) pada Tumor Padat Payudara Faison, Faison; Soediarto, Didik
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 1 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1583.633 KB)

Abstract

Diagnosis pasti tumor payudara sangat penting dalam memutuskan rencana penatalaksanaan. Disamping histopatologi/potong beku yang merupakan standar baku emas, juga telah banyak dipakai secara luas triple diagnostik (Pemeriksaan klinis, mammografi, dan FNAB). Mammografi sendiri adalah hal yang masih jarang didapatkan di Indonesia, khususnya didaerah perifer. Penelitian ini bertujuan untuk menilai  sensitifitas, spesifisitas dan akurasi triple diagnostik modifikasi pada tumor padat payudara. Merupakan suatu penelitian cross sectional. Dilakukan pemeriksaan Tripel Diagnostik yang Dimodifikasi (TDM) yang terdiri dari pemeriksaan klinis, USG dan FNAB terhadap 60 penderita tumor padat payudara mulai September 2000-April 2001. Hasilnya dibandingkan dengan pemeriksaan histopatologi. Hasil: Didapatkan sesitifitas TDM 84%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif (NPP) 100%, nilai prediksi negatif (NPN) 89% dan akurasi 92%. Sedangkan pada pemeriksaan dimana ketiga unsur adalah bersesuaian didapatkan hasil spesifisitas, sensitifitas, NPP, NPN, dan akurasi 100%.
EFEK KOMBINASI ARTEMISININ DAN N-acetylcysteineTERHADAP KADAR Malondialdehyde(MDA) OTAK DAN PARU MENCIT GALUR Balb/c YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei Fitri, Loeki Enggar; Iskandar, Agustin; Permatasari, Nur; Gunawan, Joko Agus; Indrawan, Khadafi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.577 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.02.4

Abstract

Cerebral and lung damage during malaria infection is believed to be caused by free radicals activitiesthat are produced during immunology process. The free radicals react with lipid component of cellular membrane which generates malondialdehyde (MDA) as its end-product. The aim of the research was to determine whether combination of artemisinin and NAC was moreeffective in decreasing cerebral and lung MDA level compared to artemisinin mono-therapy . The researchwas post-test-control-only design using 5 groups consisted of group A (negative control group), group B mice which infected with P.berghei without therapy (positive control group), group C mice which infected with P.berghei and received artemisinin mono-therapy (0.04 mg/g BW for 7 days), group D mice which infected with P.berghei and received artemisinin in combination with NAC (1 mg/g BW for 7 days) and group E mice which infected with P.berghei and received artemisinin in combination with NAC (1 mg/g BW for 3 days and tapered into ½ mg/g BW for 4 days). On the 3rd, 5th,and 7thday, 3 mice from each group were scarified and assayed for MDA level. On the 3rd day, a decreasing trend of cerebral and lung MDA level wasobserved on all treatment groups. On the 5thday, a decreasing trend of cerebral and lung MDA level wasobserved in group that received artemisinin and NAC whereas group’s that received artemisinin mono-therapy increased. Cerebral and lung MDA level of groupthat received artemisinin mono-therapy was significantly different with group that received combination of artemisinin and NAC in constant dose (p = 0.014) and with group that received combination artemisinin  and NAC in tapering dose (p = 0.004).