cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
PROFIL KADAR SOLUBLE UROKINASE PLASMINOGEN ACTIVATOR RECEPTOR (suPAR) PADA SERUM PENDERITA TUBERKULOSIS PARU (SEBAGAI MONITORING TERAPI) Astuti, Triwahju; MR, Tri Yudani; Riawan, Wibi; Muktiati, Nunuk Sri; Widjajanto, Edy
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.873 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.01.4

Abstract

Dutch study shows that Upar expression content is significantly higher in tubercolusis patient’s psiphsy monosit compared to those in the healthy control group. So far, there is no biologic marker used whichcan accurately observe response improvement in the treatment of lung tubercolusis. The aim of this research is to investigate whether the serum level of soluble utokinase plasminogen activator receptor (suPAR) carries information in monitoring TB treatment for Lung Tuberculosis patients. suPAR was measured by ELISA in 21 individuals at the time of enrolment into observational cross sectional based on active tuberculosis  and 5 individuals as healthy control. There were 3 groups, 1). patients who had not started treatment (n=7),2). patients who had been treated for 2 months (n=7),  3). patients who had been treated for 6 months (n=7). Among groups, there were no difference in mean of body mass index, erythrocyte sedimentation rate and monocyte count. Patients positive for TB on direct  microscopy were 29% ( 6 from 21 patients) , 2 patients each groups. The suPAR levels were elevated in patients with active TB compared to healthy control (P<0,001). suPAR levels were highest in patients positive for TB on direct microscopy ( mean suPAR 4.455 ng/ml).
Pengaruh Vitamin C dan E terhadap Histologi Tuba Fallopii pada Tikus yang Dipapar MSG Umami, Riza; Dwijayasa, Pande Made; Winarsih, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.1

Abstract

Monosodium glutamat (MSG) adalah garam natrium dari asam glutamat yang digunakan sebagai penyedap rasa. MSG berpengaruh pada motilitas tuba yaitu pada lapisan otot polos dan jumlah sel epitel sekretorik tuba fallopii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi vitamin C dan E terhadap jumlah sel epitel sekretorik dan tebal lapisan otot polos tuba fallopii pada tikus yang dipapar MSG selama 42 hari. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorik dengan menggunakan 25 ekor tikus betina dewasa yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu K(-) adalah kontrol negatif; K(+) MSG 0,7mg/g BB; PI mendapat MSG 0,7mg/gBB +vitamin C 0,2mg/gBB+vitamin E 0,04 IU/gBB; PII mendapat MSG 0,7mg/gBB +vitamin C 0,4mg/gBB+vitamin E 0,04 IU/gBB; PIII mendapat MSG 0,7mg/gBB+vitamin C 0,8mg/gBB+vitamin E 0,04 IU/gBB. Pada hari ke-43 tikus yang diterminasi adalah pada fase proestrus lalu dilakukan pemeriksaan histopatologi tuba fallopii dengan pengecatan HE yang diamati dibawah mikroskop Dot Slide. Uji one way ANOVA menunjukkan hasil bahwa kombinasi vitamin C dan E dapat meningkatkan jumlah sel epitel sekretorik dan tebal lapisan otot polos (masing-masing p=0,000 dan p=0,042). Diduga hal tersebut disebabkan oleh menurunnya kadar estrogen pada siklus reproduksi. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kombinasi dosis vitamin C dan vitamin E meningkatkan jumlah sel epitel sekretorik dan tebal lapisan otot polos tuba fallopii tikus yang dipapar MSG, meskipun tidak bermakna antar kelompok dosis.Kata Kunci: Jumlah sel epitel sekretorik, tebal lapisan otot polos, tuba fallopii, MSG, vitamin C, vitamin E
Faktor Penghambat Pelaksanaan SPO 7 Benar dalam Pemberian Obat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Panti Nirmala Sthephani, Pratiwi; Dewanto, Aryo; I, Cecilia Widijati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.47 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.19

Abstract

Laporan keselamatan pasien RS Panti Nirmala terdapat 34,1% kejadian yang berhubungan terhadap kesalahan pemberian obat. Hal ini mengindikasikan pelaksanaan pemberian obat berdasarkan 7 benar belum berjalan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menganalisis faktor penghambat pelaksanaan pemberian obat berdasarkan 7 benar sesuai standar prosedur operasional (SPO)di ruang rawat inap RS Panti Nirmala. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi terhadap 39 perawat pelaksana di 7 unit ruang rawat inap pada shift pagi dan sore waktu pemberian obat, baik obat oral dan intravena. Setelah melakukan observasi, peneliti memberikan kuesioner untuk mengukur pengetahuan, sikap dan kemauan perawat. Kuesioner dibagikan kepada 49 orang perawat pelaksana ruang rawat inap. Hasil observasi menunjukkan 64,9% perawat melakukan benar pasien, 86,5% perawat melakukan benar obat, 64,9% perawat melakukan benar waktu, dan 100% perawat melakukan benar dosis, benar cara dan dokumentasi. Hasil kuesioner menunjukkan terdapat 89% perawat rawat inap RSPN memiliki pengetahuan yang baik tentang prinsip 7 benar. Perawat juga memiliki sikap yang baik dalam pelaksanaan pemberian obat berdasarkan tujuh benar dan mau menjalankan prinsip tujuh benar dalam pemberian obat. Hal tersebut disebabkan kurangnya komunikasi yang efektif pada perawat terhadap pasien maupun keluarga. Kata Kunci: 7 benar, pemberian obat, perawat
Nasopharyngeal Non Hodgkin Lymphoma Wardhani, Shinta Oktya; Kartikasari, Nanik Triana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.15

Abstract

Non Hodgkin lymphomas (NHL) are tumors originating from lymphoid tissue, mainly from lymph nodes. These tumors may result from chromosomal translocation, infections, environmental factors, immunodeficiency states, and chronic inflammation. In general, the incidence of NHL is slightly higher in men than in women. The incidence of NHL nasopharynx is rare. A high degree of suspicion is required to avoid unnecessary radiologic and surgical procedures since NHL can be mistakenly diagnosed as carcinoma. We reported a 16 year old male patient with gradual epistaxis, hearing impairment, decreased body weight, and multiple nodules in right forehead, right axilla, right colli posterior, and left waist. The patient also suffered from inferior paraplegic extremities. The Head CT scan result showed carcinoma nasopharynx. After biopsy of nodules was done, it revealed differential diagnoses such as blastoma, Non Hodgkin lymphoma, and small cell carcinoma. Immunohistochemistry result showed Leucocyte Common Antigen (LCA) positive, and MRI thorax showed suspect of schwannoma. Based on the data, chemotherapy with regiment CHOP (cyclophosphamide, hydroxydaunorubicin, oncovin/vincristine, and prednisone) was given. The prognosis of NHL Nasopharynx was better than nasopharyngeal squamous cell carcinoma. The prognostic of NHL depends on the age, performance status, staging, extranodal involvement, serum Lactate Dehydrogenase (LDH) and response of therapy. The prognosis in our patient was poor.Keywords: Mass, Non Hodgkin Lymphoma, nasopharyngeal carcinoma, prognostic
Profil Penyakit Parkinson di Sumatera Barat A, Basjiruddin
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2654.247 KB)

Abstract

Penyakit Parkinson (PP) adalah sindroma klinis yang disebabkan lesi degeneratif pada ganglia basal, yang gejala biasanya muncul pada antara usia 40 dan 70 tahun. PP umumnya lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 3:2. Penyebab PP kemungkinan berbagai faktor, dan beberapa diantaranya adalah, kondisi lingkungan banyaknya penggunaan insektisida, bekerja dilingkungan industri dan sebagainya. Penelitian ini adalah untuk mngevaluasi gejala klinis, yang berhubungan dengan faktor epidemiologis disamping faktor lain, dan hasil wawancara yang menunjukkan hubungannya dengan kondisi lain. Metoda: Penelitian dilakukan dengan metoda survei, dan kasus berasal dari dua rumah sakit dan klinik swasta di Padang. Empat puluh empat penderita PP diperiksa untuk mengetahui saat dan usia terjadinya gejala PP, stadiumnya  menurut sistem peringkat Hoehn dan Yahr. Proses berpikir, tingkah laku dan alam perasaan diniliai dengan menggunakan Skala Peringkat Penyakit Parkinson Terpadu. Hasil: Usia dari 44 kasus adalah antara 29 dan 87 tahun, dengan rata-rata 60,5±11,6 tahun. Dua puluh empat orang adalah perempuan, dan 20 laki-laki (rasio 1,2:1). Umumnya mereka mendapatkan gejala pertama pada kelompok usia 55-64 tahun. Enam belas (35,4%) dari 44 penderita berada pada stadium pertama, dan dua pada stadium lima (4,5%). Analisa regresi menemukan adanya korelasi yang bermakna antar lama menderita PP dengan stadium penyakit (p=0,011). Juga terdapat korelasi yang bermakna antara usia dan stadium penyakit (p=0,0002). Gangguan intelek dan proses berfikir tidak berhubungan dengan usia (p>0,05).
Pengembangan Model Mencit Alergi dengan Paparan Kronik Ovalbumin Barlianto, Wisnu; Kusuma, Mohamad Slamet Chandra; Karyono, Setyawati; Mintaroem, Karyono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 1 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.47 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.01.1

Abstract

ABSTRACTHistology expression in asthma show inflammatory processes and airway structural changes. Treatmentdevelopment in asthma needs appropriate animal models but most animal models use short term allergenexposure. The aim of this research was to create develop allergic mouse model with allergic inflammationand structural changes histology expression. Eight female BALB/c mice, 6-12 weeks old, 80-100 gramswere divided into two groups. The first group were exposed to a normal saline solution where the secondgroup received ovalbumin. Mice were sensitized by intraperitoneal injection of ovalbumin on day 0 and 14and challenged by nebulization of 1% ovalbumin three times weekly for 6 weeks. Twenty four hours afterfinal exposure, the mice were sacrificed by lethal cardiac puncture. The level of total IgE in serum weremeasured by ELISA and IL-4 receptor expression were examinated by immunohistochemistry.Morphometric analysis was performed to count inflammatory cells, eosinophil, goblet cells, epithel andsmooth muscle thickness. Differences between the control and exposed mice were analyzed by Mann-Whitney test. There were a significant differences in total IgE serum and expression IL-4 receptor betweenthe two groups (P < 0,05). The morphometric analyzing also demonstrated significant differences betweenthese two groups (P < 0,05). Chronic ovalbumin exposure through inhalation produced allergicinflammation and airway structural changes.Keywords: allergic inflammation, mouse models, chronic exposure, ovalbumin
HIPERHOMOSISTEINEMIA SEBAGAI RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER Astoni, Muhamad Ayus; Irawan, Bambang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 3 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.441 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.03.1

Abstract

The elevation of total plasma homocysteine is associated with increase of risk for cardiovascular disease, cerebrovascular disease, and atherothrombosis in peripheral arteries. Several prospective and retrospective studies had conformed the positive association between hyperhomocysteinemia and risk for cardiovascular disease. However, it whether hyperhomocysteinemia is an independent riskfactor for cardiovascular disease associated with  the others risk factors still become a question. The aim of this study was to identify the association between hyperhomocysteinemia and increased risk for cardiovascular disease. A matched case-control study based on 50 consecutive adult  patients aged more than 18 years old who admitted in Dr. SardjitoGeneral Hospital by first acute coronary syndrome.Fifty comparison control subjects were randomly selected age and gender group-matched patients admitted caused by conditions other than cardiovascular disease to the same hospital. Each case was enrolled, and comparison subject was randomly selected. Fasting blood samples for homocysteine were obtained from both groups. Chi square test, McNemar chi square test, and independent t test had been used in univariate analysis. Confounding factors had been analysed using
Efek Ekstrak Etanolik Daun Sirsak pada Proliferasi dan Apoptosis Sel HeLa yang Dimediasi oleh p53 Rachmawati, Ermin; Karyono, Setyawati; Suyuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.589 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.5

Abstract

Kanker  serviks  merupakan  penyebab  utama  kedua  kematian  kanker  pada wanita  di seluruh  dunia, menyebabkan  240.000 kematian  setiap  tahunnya.  Ekstrak  daun  Annona  muricata  berpotensi  baik  sebagai  obat  anti  kanker .  T ujuan  dari  penelitian ini  adalah  untuk  mengetahui  pengaruh  ekstrak  etanol  daun  sirsak  (Annona  muricata)  dalam  menghambat  dan menginduksi  aktivasi apoptosis yang dimediasi oleh stabilisasi p53 pada pertumbuhan kanker serviks.  Sebuah percobaan in vitro dilakukan dengan menggunakan kultur sel HeLa. Penghambatan proliferasi diukur dengan MTT assay. Apoptosis dideteksi  dengan  menggunakan  flowcytometry  Annexin  V  Biotin  Kit  Apoptosis  Detection.  Konfirmasi  dan  perhitungan ekspresi  p53  ditentukan  oleh  imunocytochemistry.  Ekstrak  etanol  dari  daun  Annona muricata  secara  efektif  menghambat proliferasi sel HeLa dengan dosis tertentu pada paparan 48 jam. Nilai  IC50 ekstrak etanol daun Annona muricata adalah 111,75  ug/ml.  200  mg/ml  ekstrak  menginduksi  apoptosis  sel  HeLa  tergantung  dari  lama  pemaparan.  Ekstrak  ini  juga meningkatkan  ekspresi  p53  sel  HeLa  tergantung  dosis  pemberian  (25,  50,  100,  200  μg/ml)  dan  lama  pemberian  (24  dan  48 jam).  Dapat  disimpulkan  bahwa  ekstrak  etanol  daun  sirsak  menghambat  pertumbuhan  sel  HeLa  dan  menginduksi apoptosis.  Mekanisme  ekstrak  daun  sirsak  menghambat  proliferasi  dan  apoptosis  inducing  berhubungan  dengan stabilisasi  dan  aktivasi  p53.Kata  Kunci:  Daun  Annona  muricata,  apoptosis,  ekstrak  etanol,  proliferasi,  ekspresi  p53
Pengembangan Laboratory Information System untuk Memperbaiki Waktu Tunggu Layanan Wuryaning Lestari, Eky Indyanty; Yuniarti, Tri Putri; Agrawati, Ahas Loekqijana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.812 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.12

Abstract

Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross-sectional yang bertujuan untuk mencari akar masalah dan alternatif solusi masalah pemanjangan turnaround time (TAT) layanan laboratorium di Instalasi Patologi Klinik RSUD Kabupaten Jombang. Pada penelitian ini didapatkan sejumlah subjek 103 orang yang melakukan pemeriksaan darah lengkap, kimia klinik, serta keduanya. Penentuan akar masalah dengan diagram fishbone. Identifikasi alternatif solusi masalah dilakukan melalui pohon alternatif solusi sedangkan pemilihan solusi dilakukan melalui teori tapisan Mc Namara dan pendekatan cost benefit analysis. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk menilai normalitas serta paired t-test untuk menentukan uji beda reratadengan taraf signifikansi p≤0,05. Dari hasil penelitian didapatkan pemanjangan waktu tunggu saat spesimen selesai dikerjakan oleh analyzer sampai hasil dilaporkan karena proses ini dilakukan secara manual. Alternatif solusi yang dipilih berdasarkan teori tapisan Mc Namara dan cost benefit analysis adalah penggunaan laboratory information system (LIS). Estimasi TAT dengan pemakaian LIS dapat memendek secara bermakna pada pasien rawat inap untuk pemeriksaan darah lengkap (103,00±77,74 menit; p<0,0001), kimia klinik (107,33±83,32 menit; p<0,0001), dan keduanya (138,43±82,65 menit; p<0,0001). Pada pasien rawat jalan hanya pada pemeriksaan kimia klinik (161,84±129,90 menit; p<0,0001) dan keduanya (94,90±34,35 menit; p<0,0001). Dapat dismpulkan laboratory information system dapat mengurangi pemanjangan TAT secara bermakna.Kata Kunci: Laboratory information system (LIS), pelayanan laboratorium, turnaround time (TAT)
Efek Pemberian Imunoterapi, Probiotik, Nigella sativa terhadap Th17, Neutrofil, dan Skoring Asma Muhyi, Annisa; Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.816 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.14

Abstract

Peran Th17 dalam patogenesis asma dan imunoterapi menjadi konsep dan paradigma terbaru. Imunoterapi merupakan salah satu manajemen di dalam asma dan memerlukan waktu yang lama sehingga sering mengakibatkan kegagalan terapi. Terapi adjuvant antara lain probiotik dan Nigella sativa diduga dapat meningkatkan efektifitas imunoterapi. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efek pemberian imunoterapi, probiotik dan/atau Nigella sativa terhadap jumlah sel Th17, neutrofil dan skoring asma pada anak asma selama imunoterapi fase rumatan. Penelitian dilakukan pada  31 anak yang dikelompokkan secara acak yaitu imunoterapi plus plasebo atau imunoterapi plus Nigella sativa atau imunoterapi plus probiotik atau imunoterapi plus Nigella sativa plus probiotik selama 56 minggu. Pengukuran jumlah sel Th17 dan neutrofil dilakukan menggunakan flowsitometri setelah perlakuan. Asthma Control Test dilakukan untuk mengevaluasi gejala klinis. Data dianalisis menggunakan uji komparasi Anova One Way dan  uji korelasi Pearson. Hasil menunjukkan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah sel Th17 dan neutrophil antara kelompok perlakuan (p-value 0,199 dan 0,326). Asthma control test secara bermakna didapatkan perbedaan antara perlakuan imunoterapi plus probiotik dibandingkan imunoterapi saja. Skoring asma pada kelompok perlakuan imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi (22,6). Jumlah sel Th17, neutrofil dan ACT menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak bermakna secara statistik (r=-0,2) (p= 0,156). Jumlah sel Th17 dan neutrofil tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. Skoring asma pada kelompok imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi. Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara Th17, neutrofil dan skoring asma.Kata Kunci: Imunoterapi, neutrofil, Nigella sativa, probiotik, sel Th17, skoring asma