cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No.7, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sawerigading
ISSN : 08544220     EISSN : 25278762     DOI : 10.26499/sawer
SAWERIGADING is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in SAWERIGADING have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SAWERIGADING is published by Balai Bahasa Sulawesi Selatan twice times a year, in June and December. SAWERIGADING focuses on publishing research articles and current issues related to language, literature, and the instructor. The main objective of SAWERIGADING is to provide a platform for scholars, academics, lecturers, and researchers to share contemporary thoughts in their fields. The editor has reviewed all published articles. SAWERIGADING accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 348 Documents
MORFOFONOLOGI DALAM KONSTRUKSI NOMINA BAHASA MANDAR: PERSPEKTIF MORFOLOGI GENERATIF (Morphophonology in Noun Construction of Mandarese: Generative Morphology Perspective) Jerniati I.
SAWERIGADING Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v23i2.247

Abstract

This study aims to describe the morphophonology process of affix constructing noun of Mandar language. This research applies generative morphology theory and qualitative descriptive method with data collection techniques: observation, writing, and retrospection. The results show that the morphophonology of noun construction in Mandar language is found only in two affixes, namely pang- and confix pang-ang. The process of morphophonology occurs when the affixes are combined with the basic morpheme or the base word of the verb class or the noun class. Prefixes pang- if combined with base word class verbs or nouns by initial morphemes /g, j, d, b,/ bring up alomorph /pang-, pam, pany-/ and if combined with initial phonemic morphemes /p, c, t, k, h, l, r, q/ alomorph emerging /pap-, pac-, pat-, pak-, pah-, pal-, par-, and paq- /. As for the confix pang-ang when combined with the base word of the verb class or noun with initial phonemes /j, b, d, g, l, k, t, c, p/ and vowel /a, i, u, e, o/, the alomorphs that appear are /pany-ang, pam-ang, pan-ang, pang-ang, pas-ang, pal-ang, pak-ang, pat-ang, pac-ang, par-ang, pap-ang, paq-ang./AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses morfofonologi afiks pembentuk nomina bahasa Mandar. Penelitian ini menerapkan teori morfologi generatif dan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data: observasi, pencatatan, dan retrospeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfofonologi dalam konstruksi nomina bahasa Mandar ditemukan dua afiks, yaitu prefiks pang- dan konfiks pang-ang. Proses morfofonologi terjadi apabila afiks-afiks itu digabungkan dengan morfem dasar atau kata dasar kelas verba atau kelas nomina. Prefiks pang- jika digabungkan dengan kata dasar kelas verba atau nomina yang berfonem awal /g, j, d, b/ memunculkan alomorf /pang-, pam-, pany-,/. Jika digabungkan dengan morfem dasar yang berfonem awal /p, c, t, k, h, l, r, q/ alomorf yang muncul /pap-, pac-, pat-, pak-, pah-, pal-, par-, dan paq-/. Adapun konfiks pang-ang, apabila digabungkan dengan kata dasar kelas verba atau nomina yang berfonem awal /j, b, d, g, l, k, t, c, p/, dan vokal /a, i, u, e, o,/ alomorf yang muncul adalah /pany-ang, pam-ang, pan-ang, pang-ang, pas-ang, pal-ang, pak-ang, pat-ang, pac-ang, par-ang, pap-ang, paq-ang/.
KATATUGAS BAHASA MASSENREMPULU DIALEK MAIWA Syamsul Rijal
SAWERIGADING Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v19i2.440

Abstract

The research intended to describe function word Maiwa dialect of Massenrempulu language. Method used was descriptive by applying noting and recording technique. In addition, documentation analysis using language and literary report Maiwa dialect of Massenrempulu language was done. Data analysis applied was structural linguistic theory. Result of research showed that function word Maiwa dialect of Massenrempulu language could change its form to other word, but it was limited for the certain words and difficult to trace its systematic. Based on its type, function word Maiwa dialect of Massenrempulu language could be divided into five groups, namely, prepositions, conjunctor, interjection, article, and particle.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata tugas bahasa Massenrempulu dialek Maiwa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik catat dan teknik rekam. Selain itu, dilakukan pula analisis dokumentasi melalui naskah laporan hasil penelitian bahasa dan sastra Massenrempulu dialek Maiwa. Analisis data dilakukan berdasarkan teori linguistik struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata tugas bahasa Massenrempulu dialek Maiwa dapat mengalami perubahan bentuk menjadi kata lain, tetapi terbatas pada kata tertentu dan sulit ditelusuri sistematikanya. Berdasarkan jenisnya, kata tugas bahasa Massenrempulu dialek Maiwa dibagi menjadi lima kelompok, yaitu preposisi, konjungtor, interjeksi, artikel, dan partikel.
DOMINANSI KESALAHAN BERBAHASA PADA TEKS KARANGAN MAHASISWA BIPA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA (The Dominance of Language Errors in the Essay Text of BIPA Students at the Muhammadiyah University of Surakarta) Melati Beauty; Laili Etika Rahmawati
SAWERIGADING Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v26i1.682

Abstract

Characters, which described in the story are more interesting aspects as living as a human. Isuri and Hanafi are the central characters in Oddang’s short story who narrate how the character’s inner experiences that are unpleasant as a minority and make various efforts to reach the stage of actualizing themselves as a normal human being. This paper aims to analyze he needs level aspects of the central characters in two short stories Orang-orang dari Selatan harus Mati Malam itu and Di sana, Lima Puluh Tahun yang Lalu, using the Abraham Harold Maslow’s humanistic psychology approach. The data analyzed by using a descriptive qualitative technique with data reduction, data display, and conclusion. Results of the study showed that physiological needs, in particular, Isuri reached his needs through spirituality, while, Hanafi focused on the fulfillment of house; safety needs, Isuri avoided the chasing of state apparatus with hiding in the forest, then Hanafi decided to be Netherlands citizens to protect himself from the trouble. Love needs and belonging, make Isuri maintains his relationship with Upe even though the reality is not occurring as expected, Hanafi then preferred anomaly with having a love for the same-sex named Mapatang. Self esteem needs, Isuri defended his religion Tolotang, Hanafi tried to be a bissu to avoid cursing from his village. For the sefl-actualization needs, Isuri persuaded Uak to obtain civil rights, Hanafi actualized his self to learn the epic I La Galigo of the bissu hoby book.AbstrakTokoh fiksi adalah aspek yang lebih menarik banyak perhatian, seolah-olah hidup seperti manusia. Isuri dan Hanafi adalah tokoh utama dalam cerpen Oddang yang menarasikan bagaimana pengalaman batin tokoh yang tidak menyenangkan sebagai orang minoritas dan melakukan berbagai upaya mencapai tahap mengaktualisasikan diri sebagai manusia normal. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis aspek tingkat kebutuhan tokoh utama dalam dua cerpen Orang-orang dari Selatan harus Mati Malam Itu dan Di Sana, Lima Puluh Tahun yang Lalu menggunakan pendekatan psikologi humanistik Abraham Harold Maslow. Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan penerapan reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan fisiologis, tokoh Isuri memenuhi kebutuhan ini lewat spiritualitas, sementara Hanafi berpusat pada pemenuhan tempat tinggal; kebutuhan rasa aman, Isuri menghindari kejaran aparat negara dengan bersembunyi dalam hutan, lalu Hanafi memutuskan menjadi warga negara Belanda demi melindungi diri dari marabahaya. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki membuat, Isuri bersikeras mempertahankan hubungannya dengan Upe walaupun praktiknya tidak terpenuhi, Hanafi memilih anomali, yakni menjalin cinta dengan sesama jenisnya yang bernama Mapatang. Kebutuhan rasa harga diri/penghargaan, Isuri mempertahankan agamanya Tolotang, Hanafi berusaha menjadi bissu demi menghindarkan tulah di kampungnya. Kebutuhan aktualisasi diri, Isuri membujuk Uak memeroleh hak sipil warga negara, Hanafi mengaktualisasi dengan memperdalam mempelajari epos I La Galigo kitab bissu.
Sosok Guru Ideal dalam Puisi-Puisi Karya M. Faizi: Studi Linguistik Sosiokognitif Baehaqie, Imam; Sumartini, Sumartini; Utomo, Asep Purwo Yudi; Nugroho, Muhammad Irsyad Hamid; Rahmat, Arzha Ali
SAWERIGADING Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i2.1629

Abstract

The purpose of this study is to describe the figure of the ideal teacher represented in the poetry collection Jalan Empat by M. Faizi. The data collection method in this study is the listening method, namely listening to the use of language contained in the poem. The data analysis method applied in this study is the referential matching method. In this case, the determinant is the reality indicated by the language contained in the poem by utilizing Van Dijk's critical discourse analysis model. Through poetry, the poet, in this case M. Faizi, voices all things, including quality education. Quality education should be supported by the excellence of all its components, including the figure of the teacher. In the poetry collection Jalan Empat, there are poems that represent the subject of teachers. The poems in question are the poems Kularutkan Anxiety Kularutkan Harapan, Wafat Kiai, and Ode Guru. From the analysis of these poems, it can be seen that the characteristics of an ideal teacher, according to M. Faizi, include being able to recognize and guide students' emotions, maintaining children's happiness, working out of a calling and sincerity, and being able to develop students' cognitive, psychomotor, and affective intelligence. AbstrakTujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan sosok guru ideal yang direpresentasikan dalam kumpulan puisi Jalan Keempat karya M. Faizi. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode simak, yakni menyimak penggunaan bahasa yang terdapat dalam puisi. Adapun metode analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini ialah metode padan referensial. Dalam hal ini, penentunya ialah kenyataan yang ditunjuk bahasa yang terdapat dalam puisi dengan memanfaatkan analisis wacana kritis model Van Dijk. Lewat puisi penyair dalam hal ini M. Faizi menyuarakan banyak  hal, termasuk di antaranya pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang bermutu hendaknya didukung oleh adanya keunggulan semua komponennya, tak terkecuali sosok guru. Dalam kumpulan puisi Jalan Keempat dapat ditemukan adanya puisi-puisi yang merepresentasi perihal guru. Puisi-puisi yang dimaksudkan adalah puisi Kularutkan Cemas Kularutkan Harap, Wafat Kiai, dan Ode Guru. Dari analisis terhadap sejumlah puisi tersebut dapat diketahui bahwa karakter sosok guru ideal dalam pandangan M. Faizi antara lain ialah mampu mengenali emosi murid dan membimbingnya, menjaga keceriaan anak, bekerja karena panggilan jiwa dan ketulusan, serta mampu mengembangkan kecerdasan kognitif, psikomotorik, dan afektif siswa.
MAKNA PUISI ”DENGAN APA KUSEBUT NAMAMU: TORAJA” KARYA HUSNI DJAMALUDDIN: KAJIAN SEMIOTIK NFN Adri
SAWERIGADING Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i2.287

Abstract

This research is intended to describe the reading of poetry in heuristic and hermeneutic way: icon , index, and symbol meaning. Moreover, it also aims to uncover the relevance of poetry of “Dengan Apa Kusebut Namamu: Toraja” theme to culture in South Sulawesi. It is descriptive qualitative. Data collection used is inventary technique, read -observe attentively, and noting technique. Result of the research shows that the meaning of poetry can be found out by heuristic and hermeneutic reading, then icon, indes, and symbol are described to uncover the theme. The theme is culture relating to human being expression towards his/her formerly generation and to description of local culture (South Sulawesi).   Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pembacaan puisi secara heuristik dan hermeneutik: makna ikonitas, indeksitas, dan simbolis. Selain itu untuk mengetahui  relevansi tema puisi  ”Dengan Apa Kusebut Namamu: Toraja” karya Husni Djamaluddin dengan budaya di Sulawesi-Selatan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik inventarisasi, baca simak, dan pencatatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dalam puisi ini dapat diketahui melalui pembacaan secara heuristik dan hermeneutik, kemudian mendeskripsikan ikonitas, indeksitas dan simbolitas serta menemukan tema. Tema dalam puisi ini adalah budaya yang  menyangkut ekspresi manusia terhadap budaya nenek moyang, dan penggambaran budaya setempat (Sulawesi Selatan)  
PENGGUNAAN BAHASA DAN GAYA BAHASA SEBAGAI BENTUK KEARIFAN LOKAL MADURA YANG BERFUNGSI SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK Akhmad Haryono; Akhmad Sofyan
SAWERIGADING Vol 16, No 3 (2010): Sawerigading, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i3.531

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan bahasa dan gaya bahasa sebagai salah satu kearifan lokal madura yang berfungsi sebagai sarana resolusi konflik.Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah pendekatan kualitatif. Daya diperoleh dengan teknik observasi, partisipasi, dan wawancara. Deskripsi kualitatif digunakan sebagai analisis data yang berhasil digali di lapangan. Dalam bahasa Madura terdapat tingkat tutur merupakan norma sosial yang harus dipatuhi. Hal yang harus dihindari dalam penggunaan bahasa Madura adalah mapas dan bhasa kasar. Penggunaan partikel dalam bahasa Madura berhubungan dengan tingkat kesopanan dalam berkomunikasi yang ditentukan oleh tinhkat kesopanan atau dikap mitra tutur. Dalam mengemukakan sesuatu yang bersifat emosional, sensual, serta jorok, atau kritikan orang madura sering menggunakan gaya bahasa komunikasi tidak langsung atau menggunakan kata-kata yang bermakna prismatis, disampaikan secara tidak langsung dan jenaka dengan menggunakan bangsalan dan papreghan. Tujuannya adalah agar orang yang dituju tidak tersinggung perasaannya.
Ecofeminism Identity in The Gayo Folklore Rismawati Rismawati; Wildan Wildan; Giovanni Oktavinanda
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1562

Abstract

This study aimed at describing women's identity, which includes the role and position of women, nature, and the environment in Gayo folklore. It is a qualitative study. The of data consist of written data from the 2008 Acehnese folklore manuscript. Data collection was conducted using reading and note-taking techniques, while data analysis employed content analysis with ecofeminism approach. The result of the study showed that the ecofeminist identity of Gayo women included (1) natural and sociocultural ecofeminism and (2) spiritual ecofeminism. This identity influenced lifestyle patterns and indicated that: (1) all Gayo folklore portrayed women as the main characters, (2) women's identities were never considered higher than men’s in traditional society, as it was built on a patriarchal system, (3) women's identity in Gayo traditional society was determined by the type of marriage; and (4) the significant role of Gayo women was as mothers, responsible for educating and raising children. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan identitas perempuan yang meliputi peran dan kedudukan perempuan, alam, dan lingkungan hidup dalam cerita rakyat Gayo. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Jenis data dalam penelitian ini adalah data tertulis yang bersumber dari naskah cerita rakyat Hikayatologi Aceh tahun 2008. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik baca dan teknik catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisi isi dengan pendekatan ekofemisme. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas ekofeminisme perempuan Gayo meliputi (1) ekofeminisme alam dan sosiokultural, dan (2) ekofeminisme spiritual. Identitas ini telah mempengaruhi pola hidup dan menunjukkan bahwa (1) seluruh cerita Rakyat Gayo mengisahkan perempuan sebagai tokoh utamanya, (2) identitas perempuan tidak pernah lebih tinggi dari laki-laki dalam masyarakat adat, karena dibangun dengan sistem patriarki, (3) identitas perempuan dalam masyarakat adat Gayo ditentukan oleh jenis perkawinan, dan (4) identitas penting perempuan Gayo adalah sebagai ibu dalam mendidik dan mengasuh anak.
KEANTONIMIAN BINER DALAM BAHASA TORAJA NFN Jemmain
SAWERIGADING Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v19i2.431

Abstract

Antonymy is lexical semantic that expresses oppositional meaning. The writing intends to describe binary antonymy ofpart of speech wholly has antonymy pairs. Method used is descriptive by applying noting technique. The words suspected antonymy then are noted and classified as antonymy type. Based on research data, then foundfour parts of speech that have binary opposition pairs, namely, antonymy of adjective binary, antonymy of verbal binary, antonymy of adverb binary. Result of analysis shows that not all lexeme has its oppositional binary, such as the word maqrang 'thirsty' and tiqkaruduq 'sleepy'. Antonymy forms needs to categorize and classify as one type. Abstrak Antonim merupakan semantik leksikal yang menyatakan hubungan makna berlawanan atau beroposisi. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan antonimi biner semua kelas kata yang mempunyai pasangan antonimi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik catat. Kata-kata yang diduga berantonimi dicatat kemudian diklasifikasikan berdasarkan tipe antoniminya. Berdasarkan data penelitian diperoleh empat kelas kata yang mempunyai pasangan antonimi biner, yaitu antonim biner sifat, antonimi biner kata kerja, antonimi biner kata benda, dan antonimi biner kata keterangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua leksem mempunyai pasangan antonimi, seperti pada kata maqrang 'haus' dan tiqkaruduq 'mengantuk'. Bentuk-bentuk antonimi seperti ini perlu diberi satu tipe dan dikelompokkan dalam satu tipe.
MEMBANGUN KARAKTER BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA Dendy Sugono
SAWERIGADING Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v17i2.320

Abstract

The development of Indonesian society’s life attitude in the post-reformation era has made a lot of changes, including language, as the use of foreign language at schools having international and international pioneering standard.  This phenomenon indicates that the use of bahasa Indonesia as language of unity has been shifted. Otherwise, the use of foreign language has become a tendency for the society nowadays. This will effect the attitude of  society either mature persons or teenagers to neglect the national nobleness which has been shaped since the independence struggle.  Character construct covers the basic strategy in overcoming those phenomena through educational system, especially the bahasa Indonesia  education starting from the curriculum, methods, learning books, skills, personality, and reference. In addition, preparing  dedicated profesional  teachers should be necessity.   Abstrak Dalam perkembangan peri kehidupan masyarakat Indonesia pascareformasi telah terjadi berbagai perubahan, termasuk di bidang bahasa, seperti: penggunaan bahasa asing di sekolah bertaraf internasional dan rintisan sekolah bertaraf internasional. Gejala tersebut merupakan indikasi bahwa ruang gerak penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan mengalami pergeseran. Sebaliknya, penggunaan bahasa asing makin memperoleh tempat dalam tatanan kehidupan masa kini. Fenomena seperti itu akan berdampak pada sikap sebagian masyarakat dewasa, kawula muda,  dan sebagian kalangan pelajar untuk mengesampingkan nilai-nilai luhur bangsa, seperti karakter yang terbentuk pada masa perjuangan kemerdekaan. Pembangunan karakter merupakan strategi mendasar dalam mengatasi berbagai fenomena tersebut melalui sistem pendidikan, lebih khusus pendidikan bahasa Indonesia, mulai dari kurikulum, metode pembelajaran,  buku ajar utama, buku pengayaan pengetahuan, keterampilan, kepribadian, dan referensi. Lebih penting lagi, penyediaan guru profesional yang berdedikasi pada profesi pendidik, dan pemberian keteladanan semua insan di sekolah.
Dinamika Politik dan Budaya dalam Pemertahanan Bahasa Melayu: Studi Kasus Masyarakat Kampung Bagan Kota Batam Nursalim Nursalim; Prima Gusti Yanti; Ade Hikmat
SAWERIGADING Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v30i2.1407

Abstract

Batam City as an industrial city with a high urbanization rate is experiencing a rapid population surge, making it the city with the highest migration rate in Indonesia. This phenomenon affects communication patterns. Local communities, who still hold tightly to the Malay language, face challenges from the increasing need for communication in Bahasa Indonesia and foreign languages in the industrial environment. This study aims to analyze the symptoms of Malay language maintenance in Bagan Village and identify patterns of language maintenance in social and cultural contexts. Using a sociolinguistic approach, this research involves questionnaire, interview, recording, and observation techniques, with data analysis based on the percentage of language shift and preservation patterns. The results showed that the effort to preserve Malay language in Batam City is still relatively high, especially in Bagan Village. This effort is reflected in two main aspects, namely the cultural aspect through the involvement of local traditions in daily life, and the political aspect through policies that support the preservation of Malay culture. Language preservation is carried out collectively by the community as part of local identity in the midst of rapid urbanization. The contribution of this research is to provide in-depth insights into the strategy of Malay language preservation in the midst of high urbanization development, as well as showing the role of culture and political policies in maintaining the preservation of the language. This research also contributes to the study of sociolinguistics by examining language dynamics in multicultural urban areas, which has the potential to be adopted in the context of language preservation in other big cities.AbstrakKota Batam sebagai kota industri dengan tingkat urbanisasi tinggi mengalami lonjakan penduduk yang pesat, menjadikannya kota dengan tingkat migrasi tertinggi di Indonesia. Fenomena ini memengaruhi pola komunikasi. Masyarakat lokal, yang masih memegang erat bahasa Melayu, menghadapi tantangan dari meningkatnya kebutuhan komunikasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing di lingkungan industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gejala pemertahanan bahasa Melayu di Kampung Bagan dan mengidentifikasi pola-pola pemertahanan bahasa dalam konteks sosial dan budaya. Menggunakan pendekatan sosiolinguistik, penelitian ini melibatkan teknik kuesioner, wawancara, perekaman, dan pengamatan, dengan analisis data berdasarkan persentase pola pergeseran dan pemertahanan bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pemertahanan bahasa Melayu di Kota Batam masih tergolong tinggi, khususnya di Kampung Bagan. Upaya ini tercermin dalam dua aspek utama, yakni aspek budaya melalui pelibatan tradisi lokal dalam kehidupan sehari-hari, dan aspek politik melalui kebijakan yang mendukung pelestarian budaya Melayu. Pemertahanan bahasa dilakukan secara kolektif oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas lokal di tengah pesatnya urbanisasi. Kontribusi penelitian ini, yaitu memberikan wawasan mendalam mengenai strategi pemertahanan bahasa Melayu di tengah perkembangan urbanisasi yang tinggi, serta menunjukkan peran budaya dan kebijakan politik dalam menjaga kelestarian bahasa tersebut. Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap kajian sosiolinguistik dengan mengkaji dinamika bahasa di wilayah urban yang multikultural, yang memiliki potensi untuk diadopsi dalam konteks pemertahanan bahasa di kota-kota besar lainnya.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025 Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025 Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024 Vol 30, No 1 (2024): Sawerigading, Edisi Juni 2024 Vol 29, No 2 (2023): Sawerigading, Edisi Desember 2023 Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023 Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022 Vol 28, No 1 (2022): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2022 Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021 Vol 27, No 1 (2021): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2021 Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020 Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020 Vol 25, No 2 (2019): Sawerigading, Edisi Desember 2019 Vol 25, No 1 (2019): Sawerigading, Edisi Juni 2019 Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018 Vol 24, No 1 (2018): Sawerigading, Edisi Juni 2018 Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017 Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017 Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading Vol 20, No 3 (2014): Sawerigading Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading Vol 20, No 1 (2014): Sawerigading Vol 19, No 3 (2013): SAWERIGADING, Edisi Desember 2013 Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013 Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013 Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012 Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012 Vol 18, No 1 (2012): Sawerigading, Edisi April 2012 Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011 Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011 Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011 Vol 16, No 3 (2010): Sawerigading, Edisi Desember 2010 Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010 Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010 Vol 15, No 3 (2009): Sawerigading Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading More Issue