cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsawerigadingkonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No.7, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sawerigading
ISSN : 08544220     EISSN : 25278762     DOI : 10.26499/sawer
SAWERIGADING is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in SAWERIGADING have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SAWERIGADING is published by Balai Bahasa Sulawesi Selatan twice times a year, in June and December. SAWERIGADING focuses on publishing research articles and current issues related to language, literature, and the instructor. The main objective of SAWERIGADING is to provide a platform for scholars, academics, lecturers, and researchers to share contemporary thoughts in their fields. The editor has reviewed all published articles. SAWERIGADING accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 348 Documents
CITRA WANITA DALAM SYAIR BANJAR KEN TAMBUHAN (The Image of the Woman in the Banjar Syair of Ken Tambuhan in South Kalimantan) Dede Hidayatullah; Agus Yulianto; Akhmad Haries; Ahmad Dasuki; Saefuddin Saefuddin
SAWERIGADING Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v29i1.945

Abstract

The objective of this study is to describe the image of the character daughter of Ken Tambuhan. The Queen or the empress of Kuripan Kingdom, and the maids of Princess Ken Tambuhan in Ken Tabuhan's syair, which includes her physical, psychological, and social images. The problem of this research is the way the poem depicts the physical, psychological, and social images of Ken Tambuhan, the empress of Kuripan Kingdom, and the maids of Ken Tambuhan in Ken Tambuhan syair. This research uses descriptive-qualitative methods with a feminist approach. Based on the results of the analysis, it shows that: (1) Ken Tambuhan syair manuscript is an original manuscript originating from Kalimantan; the evidence is the use of the Banjar words Kulon and Kuripan, where location is in Southeast Kalimantan; namely in Amuntai City;  (2) The image of women in the syair portrays the role of women in the domestic area that do embroidery activities as a daughter of a noble family; and (3) The portrayal of unequal status for women due to their lineage. AbstrakMasalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penggambaran citra fisis, psikis, dan sosial tokoh Ken Tambuhan, permaisuri Kerajaan Kuripan, dan dayang-dayang putri Ken Tambuhan di dalam syair Ken Tambuhan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan feminisme. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui:  (1) Syair Ken Tambuhan merupakan naskah asli yang berasal dari Kalimantan yang salah satu indikasinya karena terdapat pemakaian kata Banjar Kulon dan Kuripan yang lokasinya berada di Tenggara Kalimantan, yaitu di Kota Amuntai; (2) Citra perempuan yang terdapat dalam syair digambarkan sebagai perempuan yang hanya berada di wilayah domestik, tetapi mengerjakan pekerjaan menyulam sebagai kegiatan putri bangsawan; dan (3) Penggambaran perempuan yang masih dipandang tidak sederajat dikarenakan perbedaan status sosial seperti rakyat jelata dan bangsawan. 
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN MENERAPKAN TEKNIK DEBAT TOPIK SISWA KELAS X SMAN 3 TAKALAR NFN Adri
SAWERIGADING Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v18i2.334

Abstract

The aim of this writing is to describe the program, the implementation, and the quality in developing the speaking skills of bahasa Indonesia by applying topic debate technique upon the 10th grade scholars of SMA Negeri 3 Takalar. The qualitative approach through classroom action research held at the 10th grade scholars of SMA Negeri 3 Takalar in the scholastic year of2009/2010. The result shows that (1) the program of developing the speaking skills of bahasa Indonesia by applying debate technique upon the 10th grade scholars of SMA Negeri 3 Takalar is carried out by drafting Rencana Program Pembelajaran (RPP). (2) The implementation of debate technique in language and non-language aspects in the speaking skills has increased from cycle I and II as seen as less-cathegoriged at the praetest result which increased to become good in cycle II. (3) The quality regarding topic debate technique upon language and non-language aspects oriented in observation, interview, speaking-test, and recording instrument. These can make teachers know the result of scholars' speaking skills. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia dengan menerapkan teknik debat topik siswa kelas X SMA Negeri 3 Takalar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif jenis penelitian tindakan kelas (cla.ssroom action research). Penelitian ini dilaksanakan di kelas X SMA Negeri 3 Takalar tahun pelajaran 2009/2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perencanaan peningkatan keterampilan berbicara bahasa Indonesia dengan menerapkan teknik debat topik siswa kelas X SMA Negeri 3 Takalar dilakukan dengan membuat Rencana Program Pembelajaran (RPP). (2) pelaksanaan teknik debat topik dalam aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan dalam keterampilan berbicara siswa dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Hal ini terlihat bahwa hasil tes pratindakan tergolong kurang sekali. Setelah tindakan dilakukan menunjukkan peningkatan ke kategori baik sekali (siklus II). (3) Penilaian penggunaan teknik debat topik pada aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan menggunakan pedoman observasi, pedoman wawancara, tes berbicara, dan alat perekam. Hal ini, memudahkan guru mengetahui hasil pembelajaran keterampilan berbicara siswa.
MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM BAHASA WOTU (Denotative and Connotative Meaning in Wotu Language) Adri Adri
SAWERIGADING Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v26i2.832

Abstract

The Wotu language is a local language that is almost extinct due to the speaker’s number is relatively small; thus, it needs to be preserved by doing documentation. Documentation, in this case, is conducting through research. The research documentation results can be used as teaching materials for teaching the Wotu language in school. It is one of the efforts to preserve the Wotu language. This study examines the denotative and connotative meanings of the Wotu language. The semantics of the Wotu language has not been investigating yet; thus, it is necessary to research this aspect. The study employed a descriptive qualitative method with data sources were gaining from primary and secondary data. Preliminary data obtained directly from native speakers, while secondary data obtained from writings or literary work that used the Wotu language. The techniques used were giving some questions and face to face techniques. The results showed that denotative and connotative meanings were found in some cases in the Wotu language. It only had connotative meanings and did not have denotative meanings. The connotative meanings in the Wotu language also varied, both with negative, neutral, and positive connotations. However, based on the data found, the negative connotations were more founding than other connotations.AbstrakBahasa Wotu adalah salah satu bahasa daerah yang jumlah penuturnya tergolong sedikit sehingga perlu dilestarikan dengan pendokumentasian. Pendokumentasian dalam hal ini melalui penelitian. Hasil dokumentasi penelitian bahasa Wotu dapat dijadikan bahan ajar untuk pengajaran bahasa Wotu di sekolah. Hal ini sebagai salah satu upaya pelestarian bahasa Wotu. Semantik bahasa Wotu belum tersentuh sehingga perlu dilakukan penelitian tentang hal ini. Penelitian ini mengkaji makna denotatif dan makna konotatif. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan makna denotatif dan makna konotatif. Teknik yang digunakan adalah teknik pancing dan teknik cakap semuka. Sumber data dari data primer dan data sekunder. Data primer langsung diperoleh dari penutur asli dan data sekunder dari tulisan atau karya sastra yang berbahasa Wotu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna denotatif dan konotatif dalam bahasa Wotu ditemukan beberapa contoh yang hanya memiliki makna konotatif dan tidak memiliki makna denotatif. Makna konotatif yang ada dalam bahasa Wotu pun bervariasi, baik yang berkonotasi negatif, netral, maupun positif. Akan tetapi, berdasarkan data yang ditemukan, konotasi negatif lebih banyak dibanding konotasi-konotasi yang lainnya.
PEMANFAATAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK DONGENG M. Ridwan
SAWERIGADING Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i1.301

Abstract

The aim of this research is to describe the use of audiovisual media towards increasing ability of listening fairy tale skill of students Class X SMA 11 Makassar. Having done the research, found the different between the students listening fairy tale using audiovisual media and who do not. It is proven by the average grade 8.5 for who use audiovisual media, and 5.9 for who do not.  Data analysis used by the research is t test that shows t count 5.1 and t table 1.67 on significant degree 5 % and db 64. It means that t count is more significant than t table which shows that the use of  audiovisual media is useful to increase students’ ability of listening fairy tale of students Class X SMA II Makassar   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media Audiovisual terhadap peningkatan kemampuan menyimak dongeng oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Borong. Dari penelitian yang telah dilakukan, ada perbedaan antara siswa yang menyimak dongeng dengan menggunakan media audiovisual dengan siswa yang menyimak dongeng tanpa menggunakan media audiovisual. Ini dibuktikan oleh perbedaan perolehan rata-rata nilai yaitu 8,5 untuk yang menggunakan media audiovisual dan 5,9 bagi yang tidak menggunakan media audiovisual. Pengolahan data penelitian yang dilakukan peneliti dengan nilai t, yang menunjukkan bahwa t hitung bernilai 5,1 sedang harga t table menunjukkan 1,67 pada taraf signifikansi 5% dengan taraf kebebasan (db) 64. Jadi harga t hitung lebih besar daripada harga t tabel. Dengan demikian, dilihat dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa penggunaan media audiovisual bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan menyimak dongeng oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Sinjai Borong.  
KARAKTER ARSIP SULTAN TERNATE KOLEKSI PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (The Characteristics of Sultan Ternate’s Manuscripts Collection National Library 0f Indonesia) Priscila Fitriasih Limbong
SAWERIGADING Vol 25, No 1 (2019): Sawerigading, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v25i1.619

Abstract

National Library of Indonesia has more than 11.000 ancientmanuscripts in their collection. The manuscript collection is devided into two groups, which are bounded book manuscript collection and non-book collection that is stored inside achest. Bounded book manuscript collection is seperated into 17 sub-collections that have quite clear identity and history while chest manuscriptis separated into 37 sub-collections (one of the collections is Sultan Ternate archives) that does not have clear origin and collection characteristics. Related to that, this article will be discussing the characteristics of Sultan Ternate’s archives chest manuscript collection. The discussion about this problem had to be done in order to give a clear and comprehensive description about the content and characteristics of the Sultan Ternate’s archive collection. The description of the characteristics of Sultan Ternate’s archive collection can be beneficialas research data for many studies, especially the one that is related to historical science and codicology.AbstrakPerpustakaan Nasional Republik Indonesia (selanjutnya disebut PNRI) memiliki koleksi naskah kuno sebanyaklebih dari 11.000 naskah. Koleksi naskah tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu koleksi naskah buku berjilid dan koleksi nonbuku yang tersimpan di dalam peti. Koleksi naskah buku berjilid terbagi atas 17 subkoleksi yang cukup jelas identitas dan sejarahnya, sedangkan naskah peti terbagi atas 37 subkoleksi (antara lain koleksi arsip Sultan Ternate) yang kurang jelas asal muasal dan ciri koleksinya. Sehubungan dengan itu, makalah ini membahas karakteristik koleksi naskah peti arsip Sultan Ternate. Pembahasan masalah ini perlu dilakukan untuk memberikan gambaran yang jelas dan komprehensif tentang isi dan ciri-ciri koleksi arsip Sultan Ternate. Gambaran tentang karakteristik koleksi arsip Sultan Ternate ini dapat dijadikan data penelitian bagi kajian berbagai disiplin ilmu, terutama yang terkait dengan bidang ilmu sejarah dan kodikologi.
SEMANTIK KONTEKSTUAL ISTILAH JALUR DALAM BAHASA MELAYU RIAU DIALEK KUANTANSINGINGI (Contextual Semantic of Jalur Long Boat Term in Kuantansingingi Dialect of Riau Malay Language) Raja Saleh
SAWERIGADING Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v21i3.95

Abstract

The researchs are based on some reasons, they are some words/terms of Riau Malay language of Kuantansingingi dialect have similarities to Indonesian language but differences in meaning, and some words/terms of RiauMalay language of Kuantansingingi dialect still do not have synonym in Indonesian language. Based on the problems mentioned, the research aims at 1) describing words/terms relating to jalur and 2) giving clear definition of words/terms relating to jalur in accordance with the context of its use. The data is collected using noting, interview technique, and library study. The data then is analyzed using contextual semantic meaning. Result of the study shows that semantic contextual meaning has explained well words/terms in Riau Malaylanguage of Kuantansingingi dialect and definite meaning of words/terms relating to jalur in accordance with context of its use. Besides that, the analysis also finds out some words that do not have synonym in Indonesia such of pondaRo, lone, ciRaRua?, tukang onjei. Words/terms of Riau Malay language of Kuantansingingi dialect that have different meaning and concept of Indonesian languages are candia?, upie, pancang, tolingo, puse? , lampei, tukang, concang, buku-buku, mouRui? , and moiRi?
Visual Ostentivity of Cybertext Context: Critical Pragmatic Perspective of Socio-political Hate Speech in Public Spaces R. Kunjana Rahardi; Winci Firdaus
SAWERIGADING Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v30i2.1386

Abstract

The purpose of this study is to describe the form and pragmatic meaning of visual ostentivity in the cybertext context of socio-political hate speech in public spaces from a critical pragmatic perspective. This study is a qualitative study. The object of this study is the visual ostentivity of the cybertext context. The research data were excerpts of speech in social media which contain forms and pragmatic meanings of visual ostentivity in the cybertext context. The data source for this study was social media on various platforms found in public spaces, especially virtual public spaces which contain data on visual ostentivity in the cybertext context. Data were collected using the listening method and the listening was carried out using the note-taking technique. Recording was carried out by paying attention to the multimodality-based cybertext context before data classification and typification were carried out. Triangulation was carried out with an investigation model carried out by related experts. Data analysis was carried out by applying distributional methods and equivalent methods, especially extralingual. The distributional analysis method was used to reach the linguistic dimensions of this study. The extralingual equivalent analysis method was used to reach its pragmatic dimensions. The steps of data analysis were identification, classification, interpretation, and ending with the presentation of the analysis results. This study found five forms of visual ostentivity in the cybertext context. The five forms of ostentivity were presented below: (1) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Insult, (2) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Blasphemy, (3) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Mockery, (4) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Satire, (5) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Insult.
CORAK KEBAHASAAN DALAM SASTRA BUGIS KLASIK NFN Herianah
SAWERIGADING Vol 19, No 3 (2013): SAWERIGADING, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v19i3.445

Abstract

The writing is to describe language style in Classical Buginese Literary relating to the use of archaic words,greeting words, and language style. Method used is descriptive. Technique of collecting data is reading-listeningand noting, while technique of analyzing data is done by selecting, reducing, displaying, and concluding data.Result of analysis shows that there are two archaic words in the story of Pau-paunna Nabi Sulaimana sibawaMakkunrainna, they are ri wawona 'above', and weluak 'hair', greeting words are makkunrainna 'his wife', arung'lord', and anrik 'younger brother', then, language style used is simile and litotes. In Pau-paunna Arung e sibawaAnak Saudagarak e story, archaic words are panreadanna 'wise, panrita nasokka tagi-tagi 'expert in some fields',makkalawing 'abdicate', ri epukna'his messenger', pangulu 'delegator, pakkalawing epuk 'special servicer',greeting words include the words makkunrainna 'his wife, puang 'God', ataa 'servant', matuna/kasi-asi/tomasemase'poor', amanna 'his wife' inanna 'mother', anre guru 'teacher', silao 'friend', and tomaraja 'king', andlanguage style is pleonasm and simile AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan corak kebahasaan dalam Sastra Bugis Klasik menyangkutpenggunaan kosakata arkais, kata sapaan, dan gaya bahasa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif.Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca-simak, pencatatan, sedangkan teknik analisis data melaluipemilahan korpus data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwacerita berjudul Pau-paunna Nabi Sulaimana sibawa Makkunrainna terdapat dua kosakata arkais yaitu ri wawona'di atas', dan weluak 'rambut', kata sapaan yaitu makkunrainna 'istrinya', arung 'raja', dan anrik 'adik' , adapunjenis gaya bahasa dalam cerita tersebut yaitu simile dan litotes. Dalam cerita Pau-paunna Arung e sibawa AnakSaudagarak e terdapat kosakata arkais panreadanna 'bijaksana, panrita nasokka tagi-tagi 'ahli dalam berbagaibidang', makkalawing 'mengabdi', ri epukna'' pesuruhnya',pangulu 'pesuruh,pakkalawing epuk 'pelayan khusus',kata sapaaan meliputi kata makkunrainna 'istrinya, puang 'Tuhan', ataa 'hamba', matuna/kasi-asi/tomase-mase'miskin', amanna 'ayahnya' inanna 'ibu', anre guru 'guru', silao 'teman', dan tomaraja 'pembesar', serta gayabahasa yaitu pleonasme dan simile.
BETRAYAL LOVE IN SHAKESPEARE'S "KING LEAR" NFN Mustafa
SAWERIGADING Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v17i1.325

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan salah satu aspek karya sastra, yaitu Pengkhianatan dalam kaya Shakespeare "King Lear". Tulisa.n ini diharapaka.n dapat memberika.n sumba.nga.n pemikiran uta.manya yang tertarik da.lam bidang kesusatraan Inggris.Melalui pela.ku cerita, tergambar bagaimana cinta itu sebenarnya. Cinta orang tua terhadap anaknya, atau sebaliknya. Cinta seorang pengabdi kepada siapa ia mengabdi, dan yang lebih umum lagi adalah cinta terhadap sesama. Tulisan ini menggunakan metode analisis wacana deskriptif interpretatif pada "King Lear" yaitu denga cara membaca, memahami, dan memberikan makna dengan menafsirkan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 'Inventory technique yaitu dengan mencari dan mengumpulkan data kemudian diana.lisa lebih lanjut. Abstract This writing aims to describe one of the elements of literary work, namely Betrayal Love in Shakepeare's "King Lar". This writing is expected to contribute for further research focused on whom is interested in English literary. Through characters of the story, described how love by right itself. Fatherly love to his child, or on the contrary. Love an official to whom he/she serves and the most important is love to fellowship. This writing included in descriptive interpretative discourse analysis on "King Lear" involving reading, understanding, and giving meaning by interpreting the data, and technique of collecting data is done by using 'Inventory technique. it is done by finding out and collecting data in accordance with in analyzed. 
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA TERINTEGRASI DENGAN ASPEK-ASPEK PRAGMATIK EDUKASIONAL UNTUK MAHASISWA JURUSAN NONBAHASA INDONESIA (Integrated Indonesian Language Learning with Educational Pragmatics Aspects for Non-Indonesian Language Students) Pranowo Pranowo
SAWERIGADING Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v26i1.730

Abstract

The research is the result of conceptual research that examines the theories of the pragmatics of education, which integrated into the Indonesian language learning for non-Indonesian language students who have only used the linguistic approach. Pragmatics of education is language learning that integrates linguistic aspects to pragmatic aspects as an approach to learning the Indonesian language. The problem is, how is the integrating of linguistic and educational pragmatics aspects into Indonesian language learning for non-Indonesian language students? The research aims to describe the integrating of the feature of educational pragmatic in Indonesian language learning for non-Indonesian language students. Data sources include (a) Indonesian language learning material for non-Indonesian language students issued by the Research and Technology Department (2013), and (b) some journal articles and pragmatic books that are relevant to the topic of research. The research data has collected by reading and recording techniques from various sources. Data analysis techniques are done by (a) identifying data, (b) classifying data, and (c) critically examining the data findings. The results show that all pedagogical pragmatics aspects basically can be integrated into Indonesian language learning for non-Indonesian language students. However, due to Indonesian language learning for non-Indonesian language students is only focused on writing scientific essays, it is not necessary to have all aspects of the pragmatics of education to be included in the learning. Educational pragmatics aspects that need to be including are only (a) some of the communicative competencies, (b) some of the static and dynamic contexts in language, and (c) some of the politeness aspects in Indonesian language learning for non-Indonesian language students.AbstrakArtikel ini merupakan hasil penelitian konseptual yang mengkaji berbagai teori pragmatik edukasional untuk diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa nonjurusan bahasa Indonesia yang selama ini hanya menggunakan pendekatan linguistik. Pragmatik edukasional adalah pembelajaran bahasa yang mengintegrasikan aspek-aspek linguistik dengan aspek-aspek pragmatik sebagai pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia. Permasalahan kajian ini adalah “Bagaimanakah pengintegrasian aspekaspek linguistik dan aspek-aspek pragmatik edukasional ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa nonjurusan bahasa Indonesia?”. Tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan pengintegrasian aspek-aspek pragmatik edukasional dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa nonjurusan bahasa Indonesia. Sumber data berupa (a) materi pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa nonjurusan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Ristek Dikti (2013) dan (b) berbagai artikel jurnal dan buku pragmatik yang relevan dengan topik kajian. Data kajian dikumpulkan dengan teknik baca dan catat dari berbagai sumber. Teknik analisis data dilakukan dengan (a) mengidentifikasi data, (b) mengklasifikasi data, dan (c) menelaah secara kritis hasil temuan data. Hasil kajiannya adalah semua aspek pragmatik edukasional pada dasarnya dapat diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa nonjurusan bahasa Indonesia. Namun, pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa nonjurusan bahasa Indonesia hanya difokuskan pada penulisan karangan ilmiah, tidak perlu semua aspek pragmatik edukasional dimasukkan dalam pembelajaran. Aspek pragmatik edukasional yang perlu dimasukkan hanya (a) beberapa kompetensi komunikatif, (b) beberapa konteks statis dan konteks dinamis dalam berbahasa, dan (c) beberapa aspek kesantunan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa nonjurusan bahasa Indonesia.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025 Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025 Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024 Vol 30, No 1 (2024): Sawerigading, Edisi Juni 2024 Vol 29, No 2 (2023): Sawerigading, Edisi Desember 2023 Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023 Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022 Vol 28, No 1 (2022): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2022 Vol 27, No 2 (2021): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2021 Vol 27, No 1 (2021): SAWERIGADING, EDISI JUNI 2021 Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020 Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020 Vol 25, No 2 (2019): Sawerigading, Edisi Desember 2019 Vol 25, No 1 (2019): Sawerigading, Edisi Juni 2019 Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018 Vol 24, No 1 (2018): Sawerigading, Edisi Juni 2018 Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017 Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017 Vol 21, No 3 (2015): Sawerigading Vol 20, No 3 (2014): Sawerigading Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading Vol 20, No 1 (2014): Sawerigading Vol 19, No 3 (2013): SAWERIGADING, Edisi Desember 2013 Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013 Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013 Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012 Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012 Vol 18, No 1 (2012): Sawerigading, Edisi April 2012 Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011 Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011 Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011 Vol 16, No 3 (2010): Sawerigading, Edisi Desember 2010 Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010 Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010 Vol 15, No 3 (2009): Sawerigading Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading More Issue