cover
Contact Name
-
Contact Email
paramita@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
paramita@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Kec. Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Paramita: Historical Studies Journal
ISSN : -     EISSN : 24075825     DOI : https://doi.org/10.15294/paramita
Core Subject : Social,
Historiography; Philosophy of history; History of education (education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past); History education (curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks).
Articles 45 Documents
East Timor Refugee Nationalism: Adaptation and Identity Conflict in Kupang, 1998-2014 Teodorikus Hanpalam; Yety Rochwulaningsih; Wasino; Singgih Tri Sulistiyono; Fitri Amalia Shinta Siwi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.33677

Abstract

Abstract: This study examines the dynamics of nationalism among former East Timorese refugees in Kupang, East Nusa Tenggara, during 1998–2014. It explores how socio-economic adaptation, identity conflict, and negotiations of belonging unfolded in the aftermath of the 1999 referendum and within the wider context of post-Reformasi Indonesia. Employing a historical method with an interdisciplinary perspective, this research draws on government archives, international reports, newspapers, and in-depth interviews with former refugees, community leaders, government officials, and NGO activists. The analysis is informed by social identity theory, Anderson’s concept of imagined communities, diaspora theory, ethnic boundary-making, and refugee labeling. The findings indicate that refugee nationalism was neither fixed nor singular, but fluid, situational, and continuously renegotiated. Adaptation developed through informal economic strategies, kinship networks, intermarriage, religious participation, and everyday interaction with local communities. At the same time, identity conflict persisted through stigmatization as “refugees” or “new residents,” insecure access to land and public services, unresolved trauma, and fragmented state policies. The study identifies three interrelated forms of nationalism: historical-ideological nationalism, survival nationalism, and hybrid nationalism, particularly among younger generations. These findings reveal the ambivalent character of Indonesian nationalism, which simultaneously articulates inclusion and reproduces exclusion. This study contributes to refugee and nationalism studies by highlighting how marginalized communities negotiate belonging in everyday life and by underlining the need for more inclusive and sustainable integration policies. Abstrak:  Penelitian ini mengkaji dinamika nasionalisme mantan pengungsi Timor Timur di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada periode 1998–2014. Kajian ini berfokus pada bagaimana adaptasi sosial-ekonomi, konflik identitas, dan negosiasi rasa memiliki terhadap bangsa berlangsung pascareferendum 1999 dalam konteks Indonesia pascareformasi. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan perspektif interdisipliner, melalui pemanfaatan arsip pemerintah, laporan lembaga internasional, surat kabar, serta wawancara mendalam dengan mantan pengungsi, tokoh masyarakat, aparat pemerintah, dan aktivis LSM. Analisis didasarkan pada teori identitas sosial, konsep imagined communities dari Anderson, teori diaspora, pembentukan batas etnis, dan pelabelan pengungsi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme para mantan pengungsi tidak bersifat tunggal maupun tetap, melainkan cair, situasional, dan terus dinegosiasikan. Adaptasi berlangsung melalui strategi ekonomi informal, jaringan kekerabatan, perkawinan campuran, partisipasi keagamaan, serta interaksi sehari-hari dengan masyarakat lokal. Namun demikian, konflik identitas tetap bertahan melalui stigmatisasi sebagai “pengungsi” atau “warga baru,” keterbatasan akses terhadap tanah dan layanan publik, trauma yang belum sepenuhnya pulih, serta kebijakan negara yang terfragmentasi. Penelitian ini mengidentifikasi tiga bentuk nasionalisme yang saling berkelindan, yaitu nasionalisme historis-ideologis, nasionalisme survival, dan nasionalisme hibrid, terutama pada generasi muda. Temuan ini menegaskan ambivalensi nasionalisme Indonesia yang di satu sisi menjanjikan inklusi, tetapi di sisi lain masih mereproduksi eksklusi.
The Historical Roots of Corporate Social Responsibility in Indonesia: The Institutionalization of Social Welfare in the Mangkunegaran Sugar Industry, 1861–1940 Wasino; William Bradley Horton; Hartatik Endah Sri; Witasari Nina; Aricindy Argitha; Scientia Inu Kirana Enwa Siwi; Sina Fortuna Devi Putri
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.34091

Abstract

Abstract: Corporate Social Responsibility (CSR) is often understood as a modern normative concept that was only adopted in Indonesia in the post-2000 period. This study challenges that assumption by tracing the historical roots of CSR-like practices through an examination of social welfare initiatives in the Mangkunegaran sugar industry between 1861 and 1940. Employing historical research methods, this study analyzes how welfare initiatives at the Colomadu and Tasikmadu sugar factories evolved from ad hoc responses into an institutionalized system. The findings demonstrate that the Mangkunegaran sugar enterprises implemented practices that can be categorized as “Proto-CSR,” driven by a Dual Logic: economic rationality aimed at maintaining labor productivity, and a moral-cultural obligation of the ruler rooted in Mangkunegaran leadership ethics to protect and care for the populace (kawula). This institutionalization culminated in the establishment of the Bevolkingfondsen (Population Fund), a formal financing mechanism that supported healthcare services, housing improvements, and public sanitation. This study concludes that the Mangkunegaran welfare practices conceptually preceded the modern notion of Creating Shared Value (CSV). These findings contribute to the theoretical discourse on CSR by demonstrating that corporate social responsibility in Indonesia has deep indigenous and historical roots, rather than being merely an adoption of contemporary global management standards. Abstrak: Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) kerap dipahami sebagai konsep normatif modern yang baru diadopsi di Indonesia pada era pasca-2000. Penelitian ini menantang asumsi tersebut dengan menelusuri akar historis praktik tanggung jawab sosial melalui studi kasus industri gula Mangkunegaran pada periode 1861–1940. Dengan menggunakan metode sejarah, penelitian ini menganalisis transformasi inisiatif kesejahteraan sosial di pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu dari respons situasional menjadi sistem yang terlembaga. Temuan penelitian menunjukkan bahwa industri gula Mangkunegaran telah menjalankan praktik yang dapat dikategorikan sebagai “Proto-CSR”, yang digerakkan oleh Logika Ganda (Dual Logic): rasionalitas ekonomi untuk menjaga keberlanjutan produktivitas tenaga kerja, serta kewajiban moral-budaya penguasa berakar pada etos kepemimpinan Mangkunegaran—untuk mengayomi rakyat (kawula). Pelembagaan praktik ini mencapai bentuk formal melalui pembentukan Bevolkingfondsen (Dana Penduduk), sebuah mekanisme pendanaan yang menopang layanan kesehatan, perbaikan permukiman, dan sanitasi publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik kesejahteraan sosial Mangkunegaran secara konseptual mendahului gagasan Creating Shared Value (CSV). Temuan ini berkontribusi pada pengayaan wacana teoretis dengan menunjukkan bahwa CSR di Indonesia memiliki akar historis dan kultural yang kuat, serta tidak semata-mata merupakan adopsi dari standar global modern.
Fascism on the Theatrical Stage: Theatre as a Joyful Learning Approach to Japanese Occupation History Mohamad Na’im; Jefri Rieski Triyanto; Mukhamad Zulianto; Dimas Anggoro
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.34656

Abstract

Abstract: This study examines the use of theatre during the Japanese occupation period as a medium for creating a more reflective and engaging history-learning experience. In many classrooms, the topic of the Japanese occupation in Indonesia is commonly taught through textbooks and teacher-centered explanations that emphasize political and economic aspects. As a result, cultural dimensions, such as the use of theatre as a propaganda tool during the occupation period, are rarely discussed in history education. This study aims to explore how theatre from the Japanese occupation era can be used as a pedagogical resource to help students understand the mechanisms of propaganda and power relations during that period. This research employed a qualitative case study approach involving 33 eleventh-grade students from a senior high school in Jember, Indonesia. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews with students, and document analysis of historical drama scripts used in classroom role-playing activities. The findings show that students initially had a limited understanding of theatre as a propaganda medium during the Japanese occupation. However, through role-playing activities, students recognized how performing arts were used to shape public opinion and communicate ideological messages. This study highlights the potential of arts-based learning in history education to deepen students’ historical understanding and foster critical awareness of propaganda in historical contexts. Abstrak: Penelitian ini mengkaji pemanfaatan teater pada masa pendudukan Jepang sebagai media untuk menciptakan pengalaman pembelajaran sejarah yang lebih reflektif dan menarik. Dalam banyak praktik pembelajaran di kelas, topik pendudukan Jepang di Indonesia umumnya diajarkan melalui buku teks dan penjelasan yang berpusat pada guru, dengan penekanan pada aspek politik dan ekonomi. Akibatnya, dimensi kultural seperti penggunaan teater sebagai alat propaganda pada masa pendudukan sering kali kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teater pada masa pendudukan Jepang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pedagogis untuk membantu siswa memahami mekanisme propaganda dan relasi kekuasaan pada periode tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang melibatkan 33 siswa kelas XI dari sebuah sekolah menengah atas di Jember, Indonesia. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran di kelas, wawancara semi-terstruktur dengan siswa, serta analisis dokumen berupa naskah drama sejarah yang digunakan dalam kegiatan role-playing di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya siswa memiliki pemahaman yang terbatas tentang teater sebagai media propaganda pada masa pendudukan Jepang. Namun, melalui kegiatan role-playing, siswa mampu memahami bagaimana seni pertunjukan digunakan untuk membentuk opini publik dan menyampaikan pesan ideologis. Penelitian ini menegaskan potensi pembelajaran berbasis seni dalam pendidikan sejarah untuk memperdalam pemahaman historis siswa sekaligus menumbuhkan kesadaran kritis terhadap propaganda dalam konteks sejarah.
Historical Patterns of Mount Merapi Eruptions: Understanding the Century Cycle and Its Implications for Community Preparedness Education, 1768-2010 Septian Aji Permana; Siti Zahrah Mahfood; Ary Purwatiningsih
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.34819

Abstract

Abstract: Mount Merapi is one of the most active volcanoes in Indonesia, yet public understanding of its long-term eruption pattern remains limited. Most people are more familiar with short-term volcanic activity than with the possibility of major eruptions recurring within a longer historical cycle. This study aims to analyze the historical eruption pattern of Mount Merapi from 1768 to 2010 and to examine its implications for community preparedness education. The study uses the historical method, including heuristic data collection, source criticism, interpretation, and historiography. Primary and secondary historical sources on Merapi’s eruptions were critically reviewed and synthesized to identify long-term patterns and their social impacts. The findings show that Merapi’s major destructive eruptions tend to appear within a century-scale cycle, particularly the eruptions of 1930 and 2010, both of which caused severe casualties and widespread damage. The 2010 eruption was widely regarded as unexpected, but historical evidence suggests that it was part of a recurring long-term pattern. These findings reveal a gap between historical knowledge and public awareness of disasters. This study contributes to Indonesian disaster historiography by offering a long-term interpretation of volcanic disasters and by emphasizing the importance of integrating historical eruption records into disaster risk reduction and community preparedness education. Abstrak: Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, tetapi pemahaman masyarakat tentang pola erupsi jangka panjangnya masih terbatas. Masyarakat umumnya lebih mengenal aktivitas vulkanik jangka pendek daripada kemungkinan terjadinya erupsi besar yang berulang dalam siklus sejarah yang lebih panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola erupsi historis Gunung Merapi dari tahun 1768 hingga 2010 serta mengkaji implikasinya bagi pendidikan kesiapsiagaan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode historis yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber-sumber sejarah primer dan sekunder mengenai erupsi Merapi ditelaah secara kritis dan disintesis untuk mengidentifikasi pola jangka panjang serta dampak sosialnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa erupsi besar yang merusak di Merapi cenderung muncul dalam siklus skala abad, terutama pada erupsi tahun 1930 dan 2010 yang menimbulkan korban jiwa besar serta kerusakan luas. Erupsi 2010 selama ini dianggap tidak terduga, padahal bukti historis menunjukkan bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari pola jangka panjang yang berulang. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan sejarah dan kesadaran bencana masyarakat. Kajian ini berkontribusi pada historiografi bencana Indonesia dengan menawarkan pembacaan jangka panjang atas bencana vulkanik serta menegaskan pentingnya integrasi catatan erupsi historis ke dalam pengurangan risiko bencana dan pendidikan kesiapsiagaan masyarakat.
Cutting from Within: the Electoral Strategy of the Indonesian Communist Party, 1955-1957 Desvian Bandarsyah; Rizkindo Junior; Sulaeman
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.43067

Abstract

Abstract: The Indonesian Communist Party is among the major parties in the period of liberal democracy. The party's development was supported by a strategy of welcoming the 1955 General Elections for the DPR and the Constituent Assembly, followed by the 1957 DPRD elections. Therefore, this research aimed to analyze the strategy of the Indonesian Communist Party (PKI) in facing the struggle of the 1955 General and 1957 Regional Elections.  The research was conducted using a historical method comprising four steps: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that Marxism–Leninism served as the ideological foundation of the PKI, guiding its strategic development and strengthening party doctrine through the establishment of the National Unity Front. This initiative mobilized and integrated non-party organizations in pursuit of democratic objectives during the 1955 elections, while also strengthening national coalitions to consolidate the opposition against rival parties. In the 1957 regional elections, the PKI sharply criticized other parties for corruption and accused them of being traitors to the people's revolution. This strategy succeeded in splitting and winning votes from other parties. Therefore, PKI ranked among the top four parties with 6,000,000 and 8,500,000 votes in the 1955 General and 1957 Regional Elections, respectively. PKI succeeded in positioning the party with a strategy of coalition and attacking others for corruption. This study contributes to historiography by highlighting the role of ideological consolidation and mass mobilization in electoral success, offering insights into the dynamics of political strategy in post-independence Indonesia. Abstrak: Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan salah satu partai besar pada masa demokrasi liberal. Perkembangan partai ini didukung oleh strategi dalam menyambut Pemilu 1955 untuk DPR dan Konstituante, yang kemudian dilanjutkan dengan pemilihan DPRD tahun 1957. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi PKI dalam menghadapi kontestasi Pemilu 1955 dan Pemilihan Daerah 1957. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Marxisme–Leninisme menjadi landasan ideologis PKI yang mengarahkan pengembangan strategi serta memperkuat doktrin partai melalui pembentukan Front Persatuan Nasional. Inisiatif ini berhasil memobilisasi dan mengintegrasikan organisasi-organisasi nonpartai untuk mencapai tujuan demokratis dalam Pemilu 1955, sekaligus memperkuat koalisi nasional dalam menghadapi partai-partai pesaing. Dalam pemilihan daerah tahun 1957, PKI melancarkan kritik tajam terhadap partai-partai lain yang terlibat korupsi dan dianggap mengkhianati revolusi rakyat. Strategi ini berhasil memecah basis dukungan lawan sekaligus menarik suara dari partai lain. Sebagai hasilnya, PKI berhasil menempati posisi empat besar dengan perolehan sekitar 6.000.000 suara pada Pemilu 1955 dan 8.500.000 suara pada Pemilihan Daerah 1957. PKI berhasil mengukuhkan posisinya melalui strategi koalisi serta serangan politik terhadap praktik korupsi lawan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada historiografi dengan menyoroti peran konsolidasi ideologi dan mobilisasi massa dalam keberhasilan elektoral, serta memberikan pemahaman mengenai dinamika strategi politik pada masa awal pascakemerdekaan Indonesia.