cover
Contact Name
-
Contact Email
paramita@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
paramita@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Kec. Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Paramita: Historical Studies Journal
ISSN : -     EISSN : 24075825     DOI : https://doi.org/10.15294/paramita
Core Subject : Social,
Historiography; Philosophy of history; History of education (education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past); History education (curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks).
Articles 31 Documents
The Development of 6Cs Skills through Project-Based Learning ‘Masyarakat Belajar Sejarah’ (History Learning Society) Michael Sylvester Mitchel Vinco; Rizal Izmi Kusumawijaya; Fathimah Dayaning Pertiwi; Nurul Septia Salsabila; Riski Eka Oktavianengrum
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.21482

Abstract

Abstract: This study aims to develop students’ 6Cs skills—critical thinking, creativity, communication, collaboration, character/compassion, and citizenship/culture—through the implementation of Project-Based Learning (PjBL) in a program titled Masyarakat Belajar Sejarah (History Learning Society). The research responds to the relatively low competitiveness of students in East Kalimantan amid the challenges of the 21st-century VUCA world, Indonesia’s demographic bonus, and the development of the new national capital (IKN) in East Kalimantan. Using Kemmis & McTaggart’s action research model, the study involved students from the History Education Program, FKIP, Mulawarman University, across three cohorts (2020–2022). Data was collected through observation, documentation, questionnaires, and interviews in March and June 2023. Students collaborated with schools, non-formal institutions, professionals, and local communities in Samarinda to design creative, contextual historical learning products. The findings show significant improvements across all 6Cs indicators. The project enhanced students’ academic and social competencies and bridged the gap between classroom learning and real-life community engagement. The results highlight the potential of PjBL as a transformative learning strategy for equipping future educators with essential 21st-century skills. This research contributes to history education innovation by positioning students as agents of change within their communities. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan 6Cs mahasiswa—berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, karakter/kepedulian, dan kewargaan/budaya—melalui penerapan model Project-Based Learning (PjBL) dalam program Masyarakat Belajar Sejarah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya daya saing mahasiswa di Kalimantan Timur di tengah tantangan dunia abad ke-21 yang ditandai dengan kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), bonus demografi Indonesia, serta pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur. Menggunakan model penelitian tindakan Kemmis & McTaggart, subjek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman dari angkatan 2020–2022. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, angket, dan wawancara pada Maret dan Juni 2023. Mahasiswa bekerja sama dengan sekolah, lembaga nonformal, profesional, dan masyarakat Kota Samarinda untuk merancang produk pembelajaran sejarah yang kreatif dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh indikator 6Cs. Proyek ini tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik dan sosial mahasiswa, tetapi juga menjembatani pembelajaran di kelas dengan keterlibatan nyata di masyarakat. Penelitian ini menunjukkan potensi PjBL sebagai strategi pembelajaran transformatif yang relevan untuk membekali calon pendidik dengan keterampilan abad ke-21.
Historical Deconstruction of Śrī Mahārāja Śrī Jayāmrta in the Sukun Inscription of 1083 Śaka Rakaihino Galeswangi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.21828

Abstract

Abstract:  Śrī Mahārāja Śrī Jayāmṛta, who issued the Sukun inscription (1083 Śaka), is tentatively thought to be related to the Sukun Village, Sukun District, Malang City, based on the inscription obtained from a trader in Malang. The issue raised is deconstructing the history of the character Śrī Jayāmṛta and his relationship with a place called Sukun. The research method is a five-stage historical method: topic selection, source collection (heuristics), criticism, interpretation, and historical writing (historiography). The research results state that Śrī Jayāmṛta, who issued the Sukun inscription (1083 Śaka ), was not the king of the Kadiri Kingdom. He was a king of the Dharmmawangśā Tguh lineage whose original name was Sang Apanji Wijayāmṛtawarddhana. Śrī Jayāmṛta in the Sukun inscription is Śrī Jayawarsa Digwijaya Śāstraprabhu, who issued the Mruwak inscription and the Sirah Kĕtĕng inscription. Following the discovery of the Mruwak inscription and the Sirah Kĕtĕng inscription in the Madiun-Ponorogo area, the Sukun Village mentioned in the Sukun inscription must be searched for in the Madiun-Ponorogo area. In Ponorogo Regency, there are two areas called Sukun: Kampung Sukun, Kauman Village, Ponorogo District, and Sukun Hamlet, Sidoharjo Village, Pulung District. One of them is, of course, what is meant in the Sukun inscription. Abstrak: Śrī Mahārāja Śrī Jayāmṛta, yang mengeluarkan Prasasti Sukun (1083 Śaka), diduga sementara memiliki keterkaitan dengan wilayah Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, berdasarkan keberadaan prasasti yang diperoleh dari seorang pedagang di Malang. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah melakukan dekonstruksi terhadap sejarah tokoh Śrī Jayāmṛta dan hubungannya dengan tempat yang disebut Sukun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah lima tahap, yaitu: pemilihan topik, pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, interpretasi, dan penulisan sejarah (historiografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Śrī Jayāmṛta yang mengeluarkan Prasasti Sukun (1083 Śaka) bukanlah raja dari Kerajaan Kadiri. Ia adalah raja dari garis keturunan Dharmmawangśā Tguh dengan nama asli Sang Apanji Wijayāmṛtawarddhana. Śrī Jayāmṛta yang disebutkan dalam Prasasti Sukun adalah tokoh yang sama dengan Śrī Jayawarsa Digwijaya Śāstraprabhu, yang juga mengeluarkan Prasasti Mruwak dan Prasasti Sirah Kĕtĕng. Berdasarkan penemuan Prasasti Mruwak dan Prasasti Sirah Kĕtĕng di wilayah Madiun-Ponorogo, maka lokasi Desa Sukun yang disebut dalam Prasasti Sukun kemungkinan besar berada di wilayah tersebut. Di Kabupaten Ponorogo, terdapat dua wilayah bernama Sukun, yakni Kampung Sukun di Kelurahan Kauman, Kecamatan Ponorogo, dan Dusun Sukun di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pulung. Salah satu dari keduanya diyakini merupakan wilayah yang dimaksud dalam Prasasti Sukun.
Investigating Local Historical Figures: The Implementation of the PjBL Model to Increase Historical Literacy Uun Lionar; Agus Mulyana; Sapriya; Murdiyah Winarti; Ridho Bayu Yefterson; Yelda Syafrina; Hendra Naldi; Yuhardi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.23411

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the implementation of the Project-Based Learning (PjBL) model by utilizing the biographies of West Sumatra's local historical figures in improving students' historical literacy in social studies learning. The main question is how implementing the PjBL model improves students' historical literacy towards local historical figures of West Sumatra? Qualitative research methods are used to understand patterns and explore data in depth on research subjects, namely social studies teachers and students in social studies subjects in several public junior high schools in Padang City. The results showed that the implementation of the PjBL model by utilizing the biographies of local historical figures of West Sumatra has encouraged the process of increasing historical literacy in students, the mastery of more historical knowledge indicates this, the development of the ability to analyze and discuss various historical sources, and the skills of students in writing history and presenting products in a creative form. This research shows that historical literacy as part of disciplinary literacy can be developed through various learning models oriented towards learners' active involvement. In addition, this research also indicates that contextualized learning materials contribute to creating meaningful learning. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi model Project Based Learning (PjBL) dengan memanfaatkan biografi tokoh sejarah lokal Sumatera Barat dalam meningkatkan literasi sejarah peserta didik pada pembelajaran IPS. Pertanyaan pokok diajukan adalah bagaimana implementasi model PjBL dalam meningkatkan literasi sejarah peserta didik terhadap tokoh sejarah lokal Sumatera Barat?. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk memahami pola dan mengeksplorasi data secara mendalam pada subjek penelitian, yakni guru IPS dan peserta didik pada mata Pelajaran IPS di beberapa SMP Negeri di Kota Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model PjBL dengan memanfaatkan biografi tokoh sejarah lokal Sumatera Barat telah mendorong terjadinya proses peningkatan literasi sejarah pada peserta didik, hal ini ditandai dengan penguasaan pengetahuan sejarah yang semakin banyak, berkembangnya kemampuan menganalisis dan membahas berbagai sumber sejarah, dan keterampilan peserta didik dalam menulis sejarah dan menyajikan produk dalam bentuk yang kreatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa literasi sejarah sebagai bagian dari literasi disiplin dapat dikembangkan melalui berbagai model pembelajaran yang berorientasi pada keterlibatan aktif peserta didik. Di samping itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa materi pembelajaran yang kontekstual juga memberikan berkontribusi dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Becoming a Global Village: The History of Globalization in Bali Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo; I Ketut Ardhana
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.23715

Abstract

Abstract: Bali, currently known as one of the world's tourist destinations, has long historical roots. However, Bali is slowly experiencing changes, namely on the one hand trying to adopt and adapt various existing changes, but on the other hand trying to maintain these customs and traditions so that their cultural roots are not eroded. The purpose of this article is to analyze what continues and what changes occur as a result of external influences. The research method used is a qualitative method with a historical approach, expected to provide a better understanding of how Bali, which was once closed to outside cultures, is now seen as an open fortress. Document sources and in-depth interviews were used to dig up information about the history of globalization in Bali. The conclusion in this research reveals that the arrival of Dutch colonial influence, which initiated the development of tourism in Bali during the colonial period, impacted customs and traditions on the one hand. On the other hand, Balinese people began to recognize various artistic influences and art-making techniques as they were introduced later. Ubud and Kuta in Bali have turned into a global village, which on the one hand is very strong with traditional roots, but is very adaptive to Western influences. Abstrak: Bali yang saat ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata dunia memiliki akar sejarah yang panjang. Namun demikian, Bali secara perlahan mengalami perubahan, yaitu di satu sisi berusaha mengadopsi dan mengadaptasi berbagai perubahan yang ada, namun di sisi lain berusaha mempertahankan adat dan tradisi tersebut agar akar budayanya tidak terkikis. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis apa saja yang tetap dipertahankan dan perubahan apa saja yang terjadi akibat pengaruh dari luar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan historis yang diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Bali yang dulunya tertutup terhadap budaya luar, kini dipandang sebagai benteng yang terbuka. Sumber-sumber dokumen serta wawancara mendalam digunakan untuk menggali informasi mengenai sejarah globalisasi di Bali. Kesimpulan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa kedatangan pengaruh kolonial Belanda yang mengawali perkembangan pariwisata di Bali pada masa kolonial berdampak pada adat istiadat di satu sisi, dan di sisi lain, masyarakat Bali mulai mengenal berbagai pengaruh artistik dan teknik pembuatan karya seni yang diperkenalkan kemudian. Ubud dan Kuta di Bali telah berubah menjadi sebuah desa global yang di satu sisi sangat kental dengan akar tradisi namun sangat adaptif terhadap pengaruh Barat.
Reactualization of Sundanese Local Hero Figure’s Values to Foster Student Character in History Education  Yulia Sofiani; Miftahul Habib Fachrurozi; Laely Armiyati
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.23800

Abstract

Abstract: This research aims to analyze the character values of Regent RAA Kusumadiningrat as one of the Sundanese local heroes and their relevance in the context of history education in the Kurikulum Merdeka. This study is qualitative research that adopts a multi-method research (MMR) strategy with a narrative approach and policy research approach. Data collection is conducted through documentation from primary and secondary sources related to Kusumadiningrat and Kurikulum Merdeka, interviews, and observations conducted at historical sites. Data analysis uses an interactive model owned by Miles and Huberman, which is carried out in an interactive form with the data collection process as part of the analysis cycle process, along with data condensation, display, and conclusion drawing/verification. The research results show that Kusumadiningrat, as a Sundanese traditional leader, has several character traits that are relevant to the Pancasila Student Profiles in the Kurikulum Merdeka, such as faith in God Almighty, critical thinking, global diversity, creative thinking, cooperation, and independence. Reactualization of Kusumadiningrat's character values can be carried out in the F-phase of the Kurikulum Merdeka, especially in the elements of understanding and skills of historical processes, which can be implemented through research project-based learning on this character. This study confirms the importance of promoting local hero values in history education and suggests a new perspective on local heroes that do not necessarily need to be defined by confrontation. Incorporating local heroes into the history education curriculum can serve as sources of inspiration for students, fostering their character development. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai karakter Bupati RAA Kusumadiningrat sebagai salah satu pahlawan lokal Sunda dan relevansinya dalam konteks pendidikan sejarah pada Kurikulum Merdeka. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan strategi multi-method research (MMR) yang mengadopsi pendekatan naratif dan penelitian kebijakan. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi sumber primer dan sekunder terkait Kusumadiningrat dan Kurikulum Merdeka, wawancara, serta observasi di situs-situs sejarah. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang dilaksanakan secara interaktif bersamaan dengan proses pengumpulan data sebagai bagian dari siklus analisis, meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kusumadiningrat sebagai pemimpin tradisional Sunda memiliki beberapa nilai karakter yang relevan dengan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka, antara lain beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berpikir kritis, berkebinekaan global, berpikir kreatif, bergotong royong, dan mandiri. Reaktualisasi nilai-nilai karakter Kusumadiningrat dapat dilaksanakan pada fase F Kurikulum Merdeka, khususnya pada elemen pemahaman dan keterampilan proses sejarah yang dapat diimplementasikan melalui pembelajaran berbasis proyek penelitian tentang tokoh ini. Studi ini menegaskan pentingnya mengangkat nilai-nilai pahlawan lokal dalam pendidikan sejarah serta menawarkan perspektif baru bahwa pahlawan lokal tidak harus selalu didefinisikan melalui konfrontasi. Integrasi pahlawan lokal dalam kurikulum pendidikan sejarah dapat menjadi sumber inspirasi bagi siswa dalam menumbuhkan perkembangan karakter.
The Expansionist Politics of Sultan Agung and Turning Away the Sea in the 17th Century: Rereading Javanese Historiography Miftahuddin; Ajat Sudrajat; Danar Widiyanta; Ita Mutiara Dewi; Kuncoro Hadi; Raymizard Alifian Firmansyah
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.24900

Abstract

Abstract: This article develops a thesis by Adrian B. Lapian and contextualizes the Islamic rule in Java that stimulated the movement of the sea people to turn their backs on the sea. It critiques conventional historiography that focuses only on heroic stories. Using critical maritime history studies, this article presents a re-reading of the political narrative of Sultan Agung's expansion into North and East Java. The history of Java is not only about political power and conflicts between Javanese kingdoms in the 17th century, but also about expansion, social problems, socio-political domination, and the erasure of collective memory of maritime culture. Therefore, this research attempts to write history with an alternative perspective to examine the "movement towards the sea" in Java, which has implications for the formation of an agrarian society. As a result of strengthening the legitimacy of royal power in the 16th-17th centuries, various violent incidents occurred in northern and peripheral Java. Under the pretext of expanding power and attempting to attack Batavia, this event was normalized, which becomes a phenomenon of historiographical problems in writing history, particularly regarding the minimal discussion about the oppression of the Javanese Maritime community under the political domination of Mataram (Sultan Agung).   Abstrak: Artikel ini, dengan mengembangkan tesis dari Adrian B. Lapian, membahas tentang kekuasaan Islam di Jawa yang menstimulasi gerak orang laut untuk memunggungi laut. Artikel ini juga bagian dari kritik terhadap historiografi konvensional yang hanya membahas tentang kisah-kisah heroik semata. Dengan menggunakan kajian sejarah maritim kritis, maka artikel ini menyajikan pembacaan ulang mengenai narasi politik ekspansi Sultan Agung ke daerah Jawa Utara dan Jawa Timur. Sejarah Jawa kenyataannya tidak hanya soal kekuasaan politik dan konflik politik kerajaan-kerajaan Jawa abad 17, tetapi juga soal ekspansi, masalah sosial, dominasi sosial-politik, sampai dengan penghapusan memori kolektif budaya maritim. Untuk itu, penelitian ini adalah bagian dari upaya penulisan sejarah dengan perspektif alternatif untuk melihat “gerak memunggungi laut” di Jawa, yang implikasinya berpengaruh terhadap terbentuknya masyarakat agraris. Akibat peneguhan legitimasi kuasa keraton, pada abad ke 16-17, di Jawa bagian utara dan pinggiran terjadi berbagai peristiwa yang penuh kekerasan. Dengan dalih perluasaan kekuasaan dan upaya penyerangan terhadap Batavia, membuat peristiwa ini dinormalisasi. Hal ini menjadi fenomena permasalahan historiografis dalam penulisan sejarah. Terutama, terkait pembahasan yang minim tentang ketertindasan masyarakat Maritim Jawa atas dominasi politik Mataram (Sultan Agung).
Kazakh Ethnogenesis and The Formation of Turkic Identity in Central Asia: A Historical and Cultural Analysis Arifeen Yama; Wasino
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.24979

Abstract

Abstract: As a representative ethnos of the broader Turkic world in Central Asia, this study examines the historical development and modern identity of the Kazakh people. Tracing a trajectory from early Turkic empires and steppe nomadic traditions to the consolidation of the Kazakh Khanate and Soviet-era transformations, the research highlights the interplay of tribal genealogies, linguistic continuities, and Islamic influences particularly Sufi ethics in shaping Kazakh ethnogenesis. Drawing on historical texts, oral epics, and contemporary cultural practices, the paper positions Kazakhstan as both a historical heartland and a contemporary standard-bearer of Turkic civilisation. In the post-Soviet period, Kazakhstan has actively revitalized its Turkic and Islamic heritage through cultural diplomacy, digital platforms, and multilateral engagement with Turkic-speaking nations. The Kazakh identity, situated at the intersection of Kipchak ancestry, Sufi-Islamic tradition, and Eurasian geopolitics, demonstrates a dynamic continuity of Turkic civilisational identity through cultural memory, symbolic adaptation, and strategic reinvention. These findings not only deepen scholarly understanding of ethnogenesis and identity construction in Central Asia, but also underscore Kazakhstan’s evolving role in cultural diplomacy, heritage preservation, and regional nation-branding. Methodologically, this study demonstrates the value of integrating oral historiography with cultural diplomacy analysis in post-Soviet identity studies. The findings contribute to broader debates on post-Soviet nation-building, soft power strategy, and symbolic politics across the Turkic world.   Abstrak: Sebagai etnis representatif dari dunia Turki yang lebih luas di Asia Tengah, studi ini menelaah perkembangan sejarah dan identitas modern bangsa Kazakh. Dengan menelusuri jalur dari kekaisaran awal Turki dan tradisi nomaden stepa hingga konsolidasi Kekhanan Kazakh dan transformasi era Soviet, penelitian ini menyoroti interaksi silsilah kesukuan, kesinambungan linguistik, dan pengaruh Islam—khususnya etika sufistik—dalam membentuk etnogenesis Kazakh. Berdasarkan teks sejarah, epos lisan, dan praktik budaya kontemporer, tulisan ini memposisikan Kazakhstan sebagai tanah air historis sekaligus pembawa standar peradaban Turki di era modern. Pada periode pasca-Soviet, Kazakhstan secara aktif merevitalisasi warisan Turki dan Islam melalui diplomasi budaya, platform digital, dan keterlibatan multilateral dengan negara-negara berbahasa Turki. Identitas Kazakh, yang berada di persimpangan antara leluhur Kipchak, tradisi Sufi-Islam, dan geopolitik Eurasia, memperlihatkan kesinambungan dinamis identitas peradaban Turki melalui memori budaya, adaptasi simbolik, dan reinvensi strategis. Temuan ini tidak hanya memperdalam pemahaman akademis tentang etnogenesis dan konstruksi identitas di Asia Tengah, tetapi juga menegaskan peran Kazakhstan yang terus berkembang dalam diplomasi budaya, pelestarian warisan, dan nation-branding regional. Secara metodologis, studi ini menunjukkan nilai integrasi historiografi lisan dengan analisis diplomasi budaya dalam kajian identitas pasca-Soviet. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada perdebatan lebih luas tentang pembangunan bangsa pasca-Soviet, strategi soft power, dan politik simbolik di dunia Turki.
Designing a Democratic Education Curriculum through History Learning for High School Students Zulkarnain; Dimas Aldi Pangestu; Muhammad Amirrudin; Gunartati
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.25460

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to discover the capabilities of history teachers in designing the internalization plan for democratic values in history lectures; to understand the implementation process of democratic values in history subjects; and to discover the obstructions in implementing those values in high school. This research uses a qualitative research method with a descriptive approach. Data were collected through interviews with three history teachers and twenty students, classroom and school observations, and document analysis at SMAN 2 Ngaglik, a public high school in Yogyakarta, Indonesia. The data was then analyzed using the interactive data analysis technique: data reduction, presentation, and conclusion. This research shows democratic education can be applied and assessed concretely in an inclusive and diverse learning environment, using history as a vehicle for developing democratic capacity and forming inclusive citizenship. These thematic findings illustrate a comprehensive approach to democracy education at SMAN 2 Ngaglik, which integrates inclusivity, student-centered pedagogy, civic engagement, tolerance, responsibility, and the use of technology through historical curriculum design and practice. Approaches in schools provide valuable insights and examples for designing inclusive democratic curricula that align with global efforts to develop participatory, tolerant, and autonomous citizens through education. History education can be used as a model of inclusive democratic education closely linked to student diversity and technological innovation, providing valuable new insights and a practical framework for application in pluralistic educational environments. Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan guru sejarah dalam merancang rencana internalisasi nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran sejarah; memahami proses penerapan nilai-nilai demokrasi dalam mata pelajaran sejarah; serta mengidentifikasi hambatan dalam penerapan nilai-nilai tersebut di sekolah menengah atas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tiga guru sejarah dan 20 siswa, observasi di kelas dan lingkungan sekolah, serta dokumentasi di SMA Negeri 2 Ngaglik. Data kemudian dianalisis dengan teknik analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan demokrasi dapat diterapkan dan dievaluasi secara konkret dalam lingkungan belajar yang inklusif dan beragam, dengan menjadikan pelajaran sejarah sebagai sarana pengembangan kapasitas demokratis dan pembentukan kewarganegaraan yang inklusif. Temuan-temuan tematik ini menggambarkan pendekatan komprehensif terhadap pendidikan demokrasi di SMA Negeri 2 Ngaglik yang mengintegrasikan nilai inklusivitas, pedagogi berpusat pada siswa, partisipasi warga, toleransi, tanggung jawab, serta pemanfaatan teknologi melalui desain dan praktik kurikulum sejarah. Pendekatan di sekolah ini memberikan wawasan dan contoh berharga dalam merancang kurikulum demokrasi yang inklusif dan selaras dengan upaya global untuk membentuk warga negara yang partisipatif, toleran, dan mandiri melalui pendidikan. Pendidikan sejarah dapat dijadikan model pendidikan demokrasi inklusif yang terkait erat dengan keberagaman siswa dan inovasi teknologi, serta memberikan wawasan baru yang berharga dan kerangka praktis untuk diterapkan di lingkungan pendidikan yang pluralistik.
Correspondence Between the Johor Palace and Arab Merchants: A Historical Documentation Study in the 19th Century Mohd Sohaimi Esa; Abang Mohd Razif Abang Muis; Wasino; Jalani Hamdan; Mohamad Shaukhi Mohd Radzi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.26097

Abstract

Abstract: Before the arrival of British colonial influence, Johor had developed close economic relations with Arab merchants who were active in sectors such as mining and agriculture. This article examines a series of royal correspondences (warkah) exchanged between the Johor royal court and Arab merchants, which serve as primary evidence of institutional trust and support in economic collaboration. Using the historical documentation method, the study explores both the textual content and the broader historical significance of these letters in the context of Johor’s economic expansion during the 19th century. Primary sources from archival records are analysed alongside secondary literature comprising scholarly works and previous studies. The findings highlight Johor’s open-door economic policy and the diplomatic role of the royal institution in fostering foreign investment, particularly from Arab entrepreneurs. By foregrounding royal correspondence as economic evidence, this study demonstrates how documentary heritage can revise prevailing colonial-era narratives that privilege a single entrepreneurial community, thus advancing Southeast Asian historiography on plural economic agency. It also underscores the policy relevance of archival preservation and digitisation, showing how improved access to warkah enables cross-disciplinary analysis of state-merchant relations and supports sustainable heritage governance.   Abstrak: Sebelum datangnya pengaruh kolonial Inggris, Johor telah mengembangkan hubungan ekonomi yang erat dengan para pedagang Arab yang aktif di sektor-sektor seperti pertambangan dan pertanian. Artikel ini menelaah serangkaian korespondensi kerajaan (warkah) yang dipertukarkan antara istana kerajaan Johor dan pedagang Arab, yang menjadi bukti utama adanya kepercayaan institusional dan dukungan dalam kerja sama ekonomi. Dengan menggunakan metode dokumentasi sejarah, penelitian ini mengeksplorasi baik isi teks maupun signifikansi historis yang lebih luas dari surat-surat tersebut dalam konteks ekspansi ekonomi Johor pada abad ke-19. Sumber primer dari catatan arsip dianalisis bersama dengan literatur sekunder yang mencakup karya ilmiah dan penelitian sebelumnya. Temuan menunjukkan kebijakan ekonomi pintu terbuka Johor serta peran diplomatik lembaga kerajaan dalam mendorong investasi asing, khususnya dari pengusaha Arab. Dengan menempatkan korespondensi kerajaan sebagai bukti ekonomi, penelitian ini menunjukkan bagaimana warisan dokumenter dapat merevisi narasi era kolonial yang cenderung memusatkan perhatian pada satu komunitas wirausahawan saja, sehingga memperkaya historiografi Asia Tenggara tentang agensi ekonomi yang bersifat plural. Selain itu, penelitian ini juga menekankan relevansi kebijakan dalam pelestarian dan digitalisasi arsip, dengan menunjukkan bagaimana peningkatan akses terhadap warkah memungkinkan analisis lintas disiplin tentang hubungan negara-pedagang serta mendukung tata kelola warisan yang berkelanjutan.  
Historical Trajectories of Indonesia’s Fiscal Gap and Military Spending, 2003–2023 Aris Marsudiyanto; Athor Subroto; Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro; A. Hanief Saha Ghafur
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.32010

Abstract

Abstract: Military spending reflects a nation's priorities and its geopolitical orientation, but in Indonesia it has been compromised by chronic fiscal deficits. The aim of this research was to analyze the historical trajectories of Indonesia’s fiscal gap in military spending from 20023 to 2023 by situating national development within broader global conflicts, including Russia-Ukraine war. A historical method was employed by applying synchronic and diachronic analysis, drawing on archival data from the state budget, official reports from the Ministry of Finance, publications from the SIPRI, and policy documents. The findings demonstrated that historical patterns of defence expenditure consistently revealed a widening fiscal gap between projected requirements and available fiscal capacity. Global geopolitical tensions intensified military modernisation and imposed additional burdens on national budgets. The study concludes that Indonesia’s defence financing challenges cannot be examined solely through contemporary fiscal debates but must be interpreted within a long-term historical narrative of deficit budgeting and external shocks. The contribution of this research lies in advancing historical scholarship on fiscal policy and defence spending while providing policymakers with insights into alternative financing strategies grounded in past experiences and institutional legacies. Abstrak: Belanja militer mencerminkan prioritas suatu negara sekaligus orientasi geopolitiknya, namun di Indonesia hal ini terhambat oleh defisit fiskal yang bersifat kronis. Penelitian ini bertujuan menganalisis trajektori historis kesenjangan fiskal dalam pembiayaan pertahanan Indonesia selama periode 2003–2023 dengan menempatkan dinamika nasional dalam konteks konflik global, termasuk perang Rusia–Ukraina. Metode sejarah digunakan dengan menerapkan analisis sinkronik dan diakronik, berdasarkan data arsip Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, laporan resmi Kementerian Keuangan, publikasi SIPRI, serta dokumen kebijakan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pola historis pengeluaran pertahanan secara konsisten mengungkapkan pelebaran kesenjangan fiskal antara kebutuhan yang diproyeksikan dan kapasitas fiskal yang tersedia. Ketegangan geopolitik global semakin mendorong modernisasi militer dan menambah beban pada anggaran nasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tantangan pembiayaan pertahanan Indonesia tidak dapat dipahami hanya melalui perdebatan fiskal kontemporer, melainkan harus ditafsirkan dalam narasi historis jangka panjang mengenai defisit anggaran dan guncangan eksternal. Kontribusi riset ini terletak pada pengembangan kajian sejarah kebijakan fiskal dan belanja militer, sekaligus memberikan wawasan bagi pembuat kebijakan terkait strategi pembiayaan alternatif yang berpijak pada pengalaman historis dan warisan institusional.

Page 3 of 4 | Total Record : 31