cover
Contact Name
-
Contact Email
paramita@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
paramita@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Kec. Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Paramita: Historical Studies Journal
ISSN : -     EISSN : 24075825     DOI : https://doi.org/10.15294/paramita
Core Subject : Social,
Historiography; Philosophy of history; History of education (education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past); History education (curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks).
Articles 31 Documents
The Landbouwschool and the Impact for Indo-European Society in Giesting, Lampung, 1926-1942 Rinaldo Adi Pratama; Syahna Ardani; Yusuf Perdana; Muhammad Adi Saputra; Nainunis Aulia Izza
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.544

Abstract

Abstract: In the early 20th century, Indo-Europeans in the Dutch East Indies faced increasing socio-economic marginalization, driven by competition with indigenous populations and limited access to land and labor opportunities. In response, the Indische Europese Vereniging (I.E.V.) initiated colonization efforts beyond Java, notably in the Lampung region, where a settlement named Giesting was established. This study examines the role of education in developing the Giesting colony, focusing on the founding of the Landbouwschool (Agricultural School) in 1929 as a key institution in cultivating agrarian skills and community identity among Indo-Europeans. Using a historical methodology comprising heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, this research draws on archival documents, oral histories, and secondary literature to trace the socio-cultural and economic functions of the school. The findings reveal that the Landbouwschool served as a center for agricultural training and a mechanism of social integration and empowerment for a community in a precarious colonial position. The institution's legacy persists in the local toponymy and memory, offering insights into the intersection of education, identity, and colonial settlement policy in the late Dutch East Indies. This study contributes to broader discussions on colonial education, race, and social engineering in comparative imperial contexts. Abstrak: Pada awal abad ke-20, Masyarakat Indo-Eropa di Hindia Belanda menghadapi marjinalisasi sosial ekonomi akibat meningkatnya persaingan dengan penduduk pribumi serta keterbatasan akses terhadap tanah dan kesempatan kerja. Sebagai respons, Indische Europese Vereniging (I.E.V.) memprakarsai upaya kolonisasi di luar Pulau Jawa, khususnya di wilayah Lampung, yang kemudian dikenal dengan nama Giesting. Penelitian ini mengkaji peran pendidikan dalam perkembangan koloni Giesting, dengan menitikberatkan pada pendirian Landbouwschool (Sekolah Pertanian) pada tahun 1929 sebagai institusi kunci dalam pembentukan keterampilan agraris dan identitas komunitas Indo-Eropa. Menggunakan metode penelitian sejarah yang mencakup heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, penelitian ini memanfaatkan dokumen arsip, sejarah lisan, dan literatur sekunder untuk menelusuri fungsi sosial, kultural, dan ekonomi dari sekolah tersebut. Temuan menunjukkan bahwa Landbouwschool tidak hanya berperan sebagai pusat pelatihan pertanian, tetapi juga sebagai alat integrasi sosial dan pemberdayaan bagi komunitas yang menempati posisi kolonial yang ambigu. Dampak dari sekolah ini masih dapat ditelusuri melalui toponimi lokal dan ingatan kolektif masyarakat, serta memberikan wawasan mengenai hubungan antara pendidikan, identitas, dan kebijakan pemukiman kolonial pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda. Studi ini memberikan kontribusi terhadap diskusi yang lebih luas mengenai pendidikan kolonial, ras, dan rekayasa sosial dalam konteks imperialisme.
Bahder Djohan’s Struggle: The Doctor’s Contribution to National Independence, Language, Emancipation, Social Affairs, and Education Nelmawarni; Fikri Surya Pratama; Zainal Arif
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.601

Abstract

Abstract: Within the domain of postcolonial nation-building and educational reform in countries of the Global South, the role of local intellectuals is frequently marginalised in international discourse. This article examines the figure of Bahder Djohan (1902–1981), an important yet relatively obscure figure in the context of modern Indonesian history. During his tenure as Minister of Education and Culture in the early days of independence, Djohan proposed a vision of education that integrated Minangkabau traditions, Islamic values, and the legacy of colonial education. The approach adopted by the aforementioned individual was such that education was regarded as a means of fostering moral character and facilitating social mobility, without the concomitant abandonment of local cultural roots. Utilising a qualitative approach, this article employs character study and historiography methods to provide a reconstruction of Djohan's biography. Furthermore, it conducts an analysis of his contributions to youth activism, women's emancipation, and post-independence institutional reform. Djohan eschewed imported ideological frameworks, instead developing his thinking through practical involvement in health development, gender equality, and national education. Djohan demonstrated equality of values with global figures such as Gandhi, Freire, and Tagore, especially in his struggle against colonial discrimination and his advocacy for social justice and cultural preservation. Nevertheless, his legacy remains conspicuously absent from both national curricula and international studies. The present article situates Djohan within the global discourse on postcolonial reform, thereby emphasising the importance of recognising local actors as key agents of change and agents of universal values in the history of global ideas. Abstrak: Dalam konteks pembangunan bangsa pasca kolonial dan reformasi pendidikan di negara-negara Global Selatan, peran intelektual lokal kerap terpinggirkan dalam wacana internasional. Artikel ini mengangkat sosok Bahder Djohan (1902–1981), tokoh penting namun kurang dikenal dalam sejarah Indonesia modern. Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa awal kemerdekaan, Djohan menawarkan visi pendidikan yang menyatukan tradisi Minangkabau, nilai-nilai Islam, dan warisan pendidikan kolonial. Pendekatannya menjadikan pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter moral dan mobilitas sosial, tanpa melepaskan akar budaya lokal. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi karakter dan historiografi, artikel ini merekonstruksi biografi Djohan serta menganalisis kontribusinya dalam aktivisme pemuda, emansipasi perempuan, dan reformasi kelembagaan pascakemerdekaan. Djohan menolak kerangka ideologis impor, dan justru membangun pemikirannya melalui keterlibatan praktis dalam pengembangan kesehatan, kesetaraan gender, dan pendidikan nasional. Djohan menunjukkan kesetaraan nilai dengan tokoh global seperti Gandhi, Freire, dan Tagore, terutama dalam perjuangannya melawan diskriminasi kolonial dan advokasinya terhadap keadilan sosial serta pelestarian budaya. Namun, warisannya masih absen dalam kurikulum nasional dan kajian internasional. Dengan menempatkan Djohan dalam diskursus global tentang reformasi pascakolonial, artikel ini menegaskan pentingnya merekognisi aktor lokal sebagai pelaku utama perubahan dan agen nilai universal dalam sejarah ide-ide global.  
Teaching Model of the Algemeene Middelbare School A-1 Eastern Literature Major (AMS A-1) in Solo, 1926-1932 Heri Priyatmoko; Singgih Tri Sulistiyono; Dhanang Respati Puguh
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.1771

Abstract

Abstract: This article aims to analyze the development of the teaching model used and developed at the Algemeene Middelbare School A-1 (AMS A-1), majoring in Eastern Literature. The AMS A-1 in Solo in the Dutch East Indies was a unique historical phenomenon in colonial education. The teachers at this educational institution, which was created by the colonial government in 1926, developed an interactive teaching model inside and outside of class. This article uses the historical method to analyze its development and influence on the students. Teaching outside class was a new concept in the early 20th century in the colonized Indonesian archipelago, because the learning process usually only occurred inside classes and laboratories. The AMS A-1 senior high school students were invited on annual field trips to visit the temples their ancestors built, forming their cultural heritage. The goal of this model was to see up close indigenous cultural heritage, which they normally only knew from their textbooks, to dispel traditional myths about the places, and to further the bond between student and teacher. Besides that, it created a certain pride when learning about this heritage. This learning activity implicated the growth of Indonesian cultural nationalism, which became a means to push back against colonialism. The AMS A-1 institution thus became a boomerang for the Dutch colonial government. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan model pembelajaran yang digunakan dan dikembangkan di Algemeene Middelbare School A-1 (AMS A-1) jurusan Sastra Timur. AMS A-1 yang terletak di kota Solo, Hindia Belanda, merupakan fenomena sejarah yang unik dalam pendidikan kolonial. Para guru di lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1926 ini mengembangkan model pembelajaran interaktif di dalam dan luar kelas. Artikel ini menggunakan metode sejarah untuk menganalisis perkembangan dan pengaruhnya terhadap siswa. Pembelajaran di luar kelas merupakan konsep baru di awal abad ke-20 di kepulauan Indonesia yang dijajah, karena proses pembelajaran biasanya hanya berlangsung di dalam kelas dan laboratorium. Siswa SMA AMS A-1 diajak untuk melakukan kunjungan lapangan tahunan untuk mengunjungi candi-candi yang dibangun oleh nenek moyang mereka, yang merupakan warisan budaya mereka. Tujuan dari model ini adalah untuk melihat dari dekat warisan budaya asli, yang biasanya hanya mereka ketahui dari buku pelajaran, untuk menghilangkan mitos tradisional tentang tempat tersebut, dan untuk mempererat hubungan antara siswa dan guru. Selain itu, hal ini menciptakan kebanggaan tersendiri ketika mempelajari warisan ini. Kegiatan belajar mengajar ini berimplikasi pada tumbuhnya nasionalisme budaya Indonesia yang menjadi sarana untuk melawan kolonialisme. Lembaga AMS A-1 dengan demikian menjadi bumerang bagi pemerintah kolonial Belanda.
Iconographic Studies Poster of the Exhibition and Night Market of the Dutch East Indies and Europe, 1930s Colonial Period Baskoro Suryo Banindro; Listia Natadjaja; Nina Hansopaheluwakan Edward
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.4386

Abstract

Abstract: This study analyses Art Deco (1930s) colonial exhibition posters from the Dutch East Indies and Europe to uncover their active role as an instrument of visual hegemony that transcends the discourse of exoticism. Through a critical comparative iconography approach (Panofsky's adaptation) reinforced by postcolonial theory (Said, 1978) and representation (Hall), the research reveals how Art Deco syntax, rigid geometry, machine typography, and modern chromaticism are used to transform colonial violence into "modernity", domesticating alterity through linguistic distortion. Build a global myth about the world order under European leadership. Key findings point to different aesthetic strategies: while European (French/Belgian) posters erase indigenous traces, the Dutch East Indies version adopts local terms distortively to assert epistemic control. The two met in Art Deco's function as a "universal visual language" that naturalized colonial hierarchies. Research concludes that Art Deco is not just a decorative style, but an ideological weapon that transforms exploitation into aesthetics, and oppression into "progress" in the global imagination of the 1930s. This underlines the enduring power of visual culture to shape ideologies, highlighting how the Art Deco movement functioned as an active agent in the legitimation and perpetuation of colonial dominance. Abstrak: Penelitian ini menganalisis poster pameran kolonial bergaya Art Deco (1930-an) dari Hindia Belanda dan Eropa untuk membongkar peran aktifnya sebagai instrumen hegemoni visual yang melampaui wacana eksotisme. Melalui pendekatan ikonografi komparatif kritis (adaptasi Panofsky) yang diperkuat teori poskolonial (Said) dan representasi (Hall), penelitian mengungkap bagaimana sintaksis Art Deco, geometri rigid, tipografi mesin, dan kromatik modern, dimanfaatkan untuk mengubah kekerasan kolonial menjadi "modernitas", mendomestikasi alteritas melalui distorsi linguistic. Membangun mitos global tentang tatanan dunia di bawah kepemimpinan Eropa. Temuan kunci menunjukkan perbedaan strategi estetik: sementara poster Eropa (Prancis/Belgia) menghapus jejak pribumi, versi Hindia Belanda mengadopsi istilah lokal secara distorsif untuk menegaskan kontrol epistemik. Keduanya bertemu dalam fungsi Art Deco sebagai "bahasa visual universal" yang menaturalisasi hierarki kolonial. Penelitian menyimpulkan bahwa Art Deco bukan sekadar gaya dekoratif, melainkan senjata ideologis yang mentransformasi eksploitasi menjadi estetika, dan penindasan menjadi "kemajuan" dalam imajinasi global era 1930-an.
Transformation Bedhaya Dance in Java Society: Rituals, Ceremonials, Entertainment R.M. Pramutomo; Sriyadi Sriyadi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.4820

Abstract

Abstract: Bedhaya is a dance genre that lives and develops in Javanese society. This dance is a legacy of the times of the Hindu Buddha. In the course of the bedhaya dance era, it changed. This article aims to reveal the changes in the dance function of bedhaya and to examine its existence in Javanese society. The research used is qualitative with a historical approach. The data collection technique used is the archival studies method. The result showed bedhaya dance derived from the dance offerings performed by devadaҫi. In the times of Mataram Islam, it was used to legitimize the king’s position. The Bedhaya dance had a significant role in maintaining the king's authority when the palace lost political, economic, and juridical power during colonialism. During its development, the palace was only for cultural preservation. It can be presented outside the palace walls as an art of tourism. In the modern era, Bedhaya dance is one of the references in creating contemporary dance. The change in the function of the Bedhaya dance is accompanied by changes in how it is presented, the accompanying narrative, and the essence conveyed. This shows that changes in the views and ideas of Javanese society influence its artistic creations. Abstrak:  Tari bedhaya adalah salah satu genre tari yang hidup dan berkembang di masyarakat Jawa. Tari ini merupakan sebuah warisan dari zaman Hindu-Budha sampai sekarang. Dalam perjalanannya dari masa-kemasa tari bedhaya mengalami perubahan. Penulisan artikel ini ingin mengungkapkan perubahan fungsi tari bedhaya, guna mengatahui eksistensinya dalam masyarakat Jawa. Bentuk penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah. Teknik pengumpulan data menggunakan metode studi arsip. Hasil penelitian menunjukkan, tari bedhaya bersumber dari tari persembahan yang dilakukan oleh para devadaҫi. Pada zaman Mataram Islam tari bedhaya digunakan sebagai sarana legitimasi kedudukan raja. Tari bedhaya memiliki peranan signifikan dalam menjaga kewibawaan raja ketika kraton kehilangan kekuasaan politik, ekonomi, dan yuridis pada masa kolonialisme. Dalam perkembangannya, kraton hanya menjadi wadah pelestarian budaya. Tari bedhaya dapat disajikan di luar lingkungan kraton yang berfungsi sebagai seni pariwisata. Di era modern, tari bedhaya menjadi salah satu referensi dalam penciptaan karya tari kontemporer. Perubahan fungsi tari bedhaya disertai perubahan cara penyajian, narasi yang menyertai, serta esensi yang disampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan pandangan dan gagasan masyarakat Jawa berpengaruh pada kreasi seninya.  
Building a Fortress of Independent Journalism: Historical Study of the Role of Aliansi Jurnalis Independen (AJI) in Indonesia, 1994-1999 Raisye Soleh Haghia; Susanto Zuhdi; Linda Sunarti
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.7076

Abstract

Abstract: The democratic transition period in Indonesia (1994-1999) became crucial for developing independent journalism. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) emerged as a firm and strong organization that fought for press freedom and built a fortress of independent journalism amid the New Order repression. This study aims to analyze AJI's strategy in building and fighting for independent journalism in Indonesia during this period. Using historical analysis and a qualitative approach, this study explores AJI's contribution to voicing the interests of journalists, fighting for freedom of expression, and rejecting state intervention in the press. The data was collected through literature studies, analysis of organizational documents, and in-depth interviews with AJI activists. This research opens a new understanding of AJI's efforts to achieve press freedom in the New Order era through a review of AJI's strategy for developing independent journalism in Indonesia. This study's results show that AJI uses conventional strategies such as advocacy and education and innovative strategies such as networking, solidarity, and publications. These strategies have proven effective in strengthening independent journalism in Indonesia, with the realization of a freer and professional journalistic environment. Abstrak: Periode transisi demokrasi di Indonesia (1994–1999) menjadi masa krusial bagi tumbuhnya jurnalisme independen. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) muncul sebagai organisasi yang tegas dan kuat dalam memperjuangkan kebebasan pers serta membangun benteng jurnalisme independen di tengah represi Orde Baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi AJI dalam membangun dan memperjuangkan jurnalisme independen di Indonesia selama periode tersebut. Dengan menggunakan pendekatan historis dan kualitatif, studi ini menggali kontribusi AJI dalam menyuarakan kepentingan jurnalis, memperjuangkan kebebasan berekspresi, serta menolak intervensi negara terhadap pers. Data diperoleh melalui studi literatur, analisis dokumen organisasi, dan wawancara mendalam dengan aktivis AJI. Penelitian ini membuka pemahaman baru mengenai upaya AJI dalam meraih kebebasan pers di era Orde Baru, melalui peninjauan terhadap strategi-strategi AJI dalam mengembangkan jurnalisme independen di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AJI tidak hanya menggunakan strategi konvensional seperti advokasi dan edukasi, tetapi juga strategi inovatif seperti membangun jaringan, solidaritas, dan penerbitan. Strategi-strategi ini terbukti efektif dalam memperkuat jurnalisme independen di Indonesia, ditandai dengan terciptanya iklim jurnalistik yang lebih bebas dan profesional.
History Learning Based on Local Wisdom Sanghyang Sikskandang Karesian  Yeni Wijayanti; Warto; Wasino Wasino; Djono; Mohd Sohaimi Esa
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.9033

Abstract

Abstract: This research aims to identify the local wisdom values ​​of Sanghyang Siksakandang Karesian relevant to history learning. To achieve the stated objective, the investigation included using qualitative methods with a single case study, and data were collected using observation, interviews, and document reviews. Furthermore, the obtained data was analyzed using an interactive model consisting of phases: data condensation, data presentation, and conclusion. The results showed that (1) the local wisdom values ​​of Sanghyang Siksakandang Karesian included dasakerta, Dasaperbakti, people's behavior (hulun), and complementary actions. Dasakerta is a guideline for human sensory behavior in daily life. Dasaperbakti describes the social hierarchy that requires legitimacy. While Panimbuh ning twah shows complementary rules in society, (2) History learning based on local wisdom values of Sanghyang Siksakandang Karesian is carried out through contextual learning by introducing and providing an understanding of Kagaluhan values to students to be applied in everyday life. This research can improve the understanding of local history and the character of students who are more rooted and culturally responsive, and strengthen the character of students. However, limited curriculum, learning resources, and teacher understanding are challenges. This study contributes to the literature gap by offering a local wisdom-based history learning model. The implication of this study emphasizes the importance of policy support to accommodate local history in the high school education curriculum for character building. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nila kearifan lokal Sanghyang Siksakandang Karesian dan nilai-nilai yang relevan untuk pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus tunggal. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif yang melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) nilai-nilai kearifan lokal Sanghyang Siksakandang Karesian meliputi dasakerta; Dasaperbakti; perilaku rakyat (hulun); dan pelengkap perbuatan (Panimbuh ning twah). Dasakerta merupakan pedoman perilaku indra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dasaperbakti menggambarkan hirarki sosial dalam masyarakat yang membutuhkan legitimasi. Sedangkan Panimbuh ning twah  menunjukkan aturan pelengkap dalam masyarakat (2) Pembelajaran Sejarah yang berbasis nilai-nilai kearifan lokal Sanghyang Siksakandang Karesian dilakukan melalui pembelajaran kontekstual dengan mengenalkan dan memberikan pemahaman nilai-nilai Kagaluhan pada peserta didik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman sejarah lokal dan karakter peserta didik yang lebih mengakar dan tanggap budaya, serta memperkuat karakter peserta didik. Namun, keterbatasan kurikulum, sumber belajar, dan pemahaman guru menjadi tantangan. Studi ini memberikan kontribusi terhadap kesenjangan literatur dengan menawarkan model pembelajaran sejarah berbasis kearifan local. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan kebijakan untuk mengakomodasi sejarah lokal dalam kurikulum Pendidikan sekolah menengah atas untuk pembentukan karakter.
History of Education in Cambodia: A Review of Literature From Past to Present Sereyrath Em; Sarom Mok; Rany Sam; Ganda Febri Kurniawan; Dina Pen
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.9207

Abstract

Abstract: From the beginning until now, education has been a significant factor in the Cambodian setting. The current article examines the origins of education in Cambodia, which dates back to the prehistoric period. Throughout Cambodian history, education has played a variety of meaningful roles. Education played a significant role in shaping the lives of individuals throughout the many eras of Cambodian prehistory and history. In prehistory, children learned by doing and observing the people around them. Education in Cambodia peaked during the Angkor Empire, also known as the Khmer Empire. During that period, hundreds of educational institutions were located across the country, including more advanced educational establishments in the city serving as Angkor's capital. Thousands of instructors were well-equipped to teach Khmer-speaking students. On the other hand, as the Angkor Empire collapsed, education in Cambodia gradually declined, a trend that persisted until the Khmer Rouge Regime finally eradicated education. During this period, the Khmer Rouge leaders targeted and killed the majority of instructors. Then the Cambodian government and other concerned education stakeholders have been working diligently to rebuild education in Cambodia since the end of that black period, and they have succeeded in doing so to the point where it is now. Finally, the article recommends that the concerned education stakeholders consider the past as the experiences for the present and improve the perspectives of future education. Abstrak: Sejak awal hingga sekarang, pendidikan telah menjadi faktor penting dalam tatanan Kamboja. Artikel ini membahas asal-usul pendidikan di Kamboja, yang dimulai sejak periode prasejarah. Sepanjang sejarah Kamboja, pendidikan telah memainkan berbagai peran yang berarti. Pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan individu di berbagai era prasejarah dan sejarah Kamboja. Pada masa prasejarah, anak-anak belajar dengan melakukan dan mengamati orang-orang di sekitar mereka. Pendidikan di Kamboja pernah mencapai puncaknya selama Kekaisaran Angkor, yang juga dikenal sebagai Kekaisaran Khmer. Selama periode tersebut, ratusan lembaga pendidikan berlokasi di seluruh negeri, termasuk lembaga pendidikan yang lebih maju di kota yang berfungsi sebagai ibu kota Angkor. Ribuan instruktur diperlengkapi dengan baik untuk mengajar siswa yang berbahasa Khmer. Di sisi lain, ketika Kekaisaran Angkor runtuh, pendidikan di Kamboja secara bertahap menurun, sebuah tren yang bertahan hingga Rezim Khmer Merah akhirnya memberantas pendidikan. Selama periode ini, para pemimpin Khmer Merah menargetkan dan membunuh sebagian besar instruktur. Pemerintah Kamboja dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya telah bekerja keras untuk membangun kembali pendidikan di Kamboja sejak berakhirnya masa suram itu, dan mereka telah berhasil melakukannya hingga mencapai titik seperti sekarang. Terakhir, artikel ini merekomendasikan agar para pemangku kepentingan pendidikan mempertimbangkan masa lalu sebagai pengalaman untuk masa kini dan meningkatkan perspektif pendidikan di masa mendatang.
Total Diplomacy, Total History: Military Historians and the Indonesian Peace Corps Kusuma; Sarkawi B. Husain
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.9424

Abstract

Abstract: This research explores the concepts of Total Diplomacy and Total History, focusing on the role of military historians in the Indonesian peacekeeping force. The Indonesian government employs military diplomacy by deploying Garuda Contingent troops on global peace missions, aligning with the constitutional mandate of the Republic of Indonesia. As part of Indonesia’s total diplomacy strategy, military diplomacy is analyzed by deploying peacekeeping troops, engaging with other diplomatic instruments, and involving military historians to document missions comprehensively. The discussion encompasses the definition of military diplomacy, its international role, and its impact on Indonesia's global image. Military historians face challenges, including disrupted historical record-keeping and changes in the composition of historical officer positions. To overcome the obstacles in writing military history, the concept of Total History becomes relevant, integrating various scientific disciplines to support the historiographic process. In peacekeeping operations, military historians must grasp the totality of this scientific approach and present it more engagingly, meaningfully, and solution-oriented, relevant to the conflict areas they oversee. Abstrak: Penelitian ini mengkaji konsep Total Diplomacy dan Total History dengan menyoroti peran sejarawan militer dalam misi pasukan perdamaian Indonesia. Pemerintah Indonesia menjalankan diplomasi militer melalui pengiriman pasukan Kontingen Garuda dalam misi perdamaian dunia, sebagai bentuk pelaksanaan amanat konstitusi Republik Indonesia. Dalam kerangka strategi total diplomacy, diplomasi militer dianalisis melalui perannya dalam mengerahkan pasukan perdamaian, berinteraksi dengan instrumen diplomatik lainnya, serta melibatkan sejarawan militer untuk mendokumentasikan misi secara menyeluruh. Pembahasan mencakup definisi diplomasi militer, perannya di kancah internasional, dan dampaknya terhadap citra global Indonesia. Sejarawan militer menghadapi berbagai tantangan, seperti terputusnya pencatatan sejarah dan berubahnya struktur penempatan personel sejarah. Untuk mengatasi kendala dalam penulisan sejarah militer, konsep Total History menjadi penting, karena mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu guna mendukung proses historiografi. Dalam operasi perdamaian, sejarawan militer dituntut untuk memahami pendekatan ilmiah secara menyeluruh dan menyajikannya secara lebih menarik, bermakna, serta berorientasi pada solusi, terutama dalam konteks wilayah konflik yang mereka pantau.  
The Joint Commitment of Malukan Nationalist: The Revolutionary Axis Against the Dutch (NICA) Police Actions Sem Touwe; Mohammad Amin Lasaiba
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.12111

Abstract

Abstract: This article examines the involvement of Malukan nationalists in the Indonesian National Revolution, particularly in confronting the attempted re-colonisation by the Netherlands Indies Civil Administration (NICA) during the 1945–1947 period. The research employs historical methods—including archival research, primary and secondary literature studies, and narrative and social historiographical approaches—to trace the dynamics of local resistance, reflecting ideological, political, and diplomatic strategies in defending independence. The findings show that Malukan nationalists—through organisations such as PIM, PRIMA, KRIM, and PARPIM—succeeded in forming networks of struggle that transcended regional, religious, and social class boundaries, rejected colonial co-optation, and voiced the sovereignty of the Republic of Indonesia in both national and international forums. This resistance was not only military-based but also emphasized dimensions of identity, national solidarity, and the influence of local intellectual elites. Within the theoretical framework of postcolonial nationalism and political settlement, this study demonstrates that various active and strategic local actors and contexts shaped Indonesian nationalism. Thus, this article challenges the dominant Java-centric historiography and offers an academic contribution to the global discourse on decolonisation, national integration, and the agency of local communities in building the postcolonial state. Abstrak: Artikel ini menelaah keterlibatan kaum nasionalis Maluku dalam Revolusi Nasional Indonesia, khususnya dalam menghadapi upaya rekolonisasi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) pada periode 1945–1947. Dengan menggunakan metode sejarah—meliputi penelitian arsip, kajian literatur primer dan sekunder, serta pendekatan historiografi naratif dan sosial—penelitian ini menelusuri dinamika perlawanan lokal yang mencerminkan strategi ideologis, politik, dan diplomatik dalam mempertahankan kemerdekaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasionalis Maluku, melalui organisasi seperti PIM, PRIMA, KRIM, dan PARPIM, berhasil membangun jaringan perjuangan lintas daerah, agama, dan kelas sosial, menolak kooptasi kolonial, serta menyuarakan kedaulatan Republik Indonesia di forum nasional maupun internasional. Perlawanan ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menekankan dimensi identitas, solidaritas kebangsaan, dan pengaruh kaum intelektual lokal. Dalam kerangka teori nasionalisme pascakolonial dan penyelesaian politik, studi ini membuktikan bahwa berbagai aktor dan konteks lokal yang aktif serta strategis turut membentuk nasionalisme Indonesia. Dengan demikian, artikel ini menantang historiografi dominan yang berpusat pada Jawa serta memberikan kontribusi akademis terhadap diskursus global mengenai dekolonisasi, integrasi nasional, dan agensi komunitas lokal dalam membangun negara pascakolonial.  

Page 1 of 4 | Total Record : 31