cover
Contact Name
-
Contact Email
paramita@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
paramita@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Kec. Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Paramita: Historical Studies Journal
ISSN : -     EISSN : 24075825     DOI : https://doi.org/10.15294/paramita
Core Subject : Social,
Historiography; Philosophy of history; History of education (education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past); History education (curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks).
Articles 45 Documents
The Intellectual History of Entrepreneurship Education in Indonesian Higher Education Imam Shofwan; Sunardi Sunardi; Abdul Rahman; Gunarhadi Gunarhadi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.vi.29939

Abstract

Abstract: Entrepreneurship education in Indonesia did not emerge as a sudden response to contemporary economic challenges, but rather evolved through a long, intellectual, and policy-driven process shaped by historical, political, and socio-cultural dynamics. While existing studies predominantly focus on the effectiveness and outcomes of entrepreneurship education, relatively little attention has been paid to its historical and intellectual foundations. This study addresses this gap by examining the intellectual history of entrepreneurship education in Indonesian higher education. Using a qualitative historical approach combined with discourse analysis, the study analyzes primary sources, including education policies, curriculum regulations, and official government documents, alongside secondary academic literature from the 1980s to the present. The findings reveal that entrepreneurship education gradually shifted from a marginal development discourse during the late New Order period to a formally institutionalized component of higher education following the Reformasi era, particularly through the National Education System Law of 2003 and subsequent curriculum reforms. This trajectory reflects a broader paradigm shift from a bureaucratic education model toward one emphasizing innovation, self-reliance, and an entrepreneurial mindset, further reinforced by the Merdeka Belajar–Kampus Merdeka policy. The study contributes to the historiography of education by contextualizing entrepreneurship education within Indonesia’s intellectual, ideological, and policy landscape, highlighting the importance of historically grounded perspectives for evaluating current and future educational reforms. Abstrak: Pendidikan kewirausahaan di Indonesia tidak muncul sebagai respons yang tiba-tiba terhadap tantangan ekonomi kontemporer, melainkan berkembang melalui proses panjang yang bersifat intelektual dan digerakkan oleh kebijakan, serta dibentuk oleh dinamika historis, politik, dan sosial-budaya. Sementara kajian-kajian yang ada lebih banyak berfokus pada efektivitas dan capaian pendidikan kewirausahaan, perhatian terhadap fondasi historis dan intelektualnya masih relatif terbatas. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan mengkaji sejarah intelektual pendidikan kewirausahaan dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan historis kualitatif yang dipadukan dengan analisis wacana, penelitian ini menganalisis sumber-sumber primer berupa kebijakan pendidikan, regulasi kurikulum, dan dokumen resmi pemerintah, serta literatur akademik sekunder sejak dekade 1980-an hingga masa kini. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan secara bertahap bergeser dari wacana pembangunan yang bersifat marginal pada akhir masa Orde Baru menjadi komponen yang terinstitusionalisasi secara formal dalam pendidikan tinggi pasca era Reformasi, khususnya melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 dan berbagai reformasi kurikulum setelahnya. Trajektori ini mencerminkan pergeseran paradigma yang lebih luas, dari model pendidikan yang birokratis menuju model yang menekankan inovasi, kemandirian, dan pola pikir kewirausahaan, yang semakin diperkuat melalui kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka. Studi ini berkontribusi pada historiografi pendidikan dengan menempatkan pendidikan kewirausahaan dalam lanskap intelektual, ideologis, dan kebijakan pendidikan Indonesia, serta menegaskan pentingnya perspektif historis dalam mengevaluasi reformasi pendidikan masa kini dan masa depan.
Navigating Faith and Identity: The History of Catholic Community in Pugeran Parish of Yogyakarta, 1934-1968 Gregorius Andika Ariwibowo; Hary Ganjar Budiman
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.726

Abstract

Abstract: This study examines the history and evolution of the Catholic Church in Pugeran Parish, Yogyakarta, from 1934 to 1968, with particular attention to the ways in which the Church integrated Javanese cultural elements into its practices and architecture. By fostering a unique Catholic–Javanese identity, the Church became both a symbol and an agent of cultural synthesis in the region. Employing a historical methodology, this research draws on primary and secondary sources—including periodicals, commemorative books, and oral histories—to trace the development of this distinctive identity. The findings demonstrate that the Pugeran Catholic Church, established in 1934, played a key role in blending Catholicism with local Javanese culture, thus reflecting the coexistence and mutual enrichment of religious and cultural diversity. Beyond serving as a place of worship, the Church also functioned as a center for community engagement and social services, embodying an inclusive approach to both faith and culture. This integration enabled the Church to navigate significant sociopolitical changes, especially during the post-independence era, thereby establishing it as a prominent religious and community institution in Yogyakarta. Importantly, the process of inculturation was not merely a strategy for indigenizing Catholic liturgy, but also a complex negotiation of identity—between being Catholic and being Javanese—shaped by the broader dynamics of postcolonial nation-building. Abstrak: Artikel ini mengkaji sejarah dan perkembangan Gereja Katolik Paroki Pugeran, Yogyakarta, dari tahun 1934 hingga 1968, dengan perhatian khusus pada cara Gereja mengintegrasikan unsur-unsur budaya Jawa ke dalam praktik dan arsitekturnya. Dengan membangun identitas Katolik–Jawa yang khas, Gereja menjadi simbol sekaligus agen sintesis budaya di kawasan tersebut. Menggunakan metodologi sejarah, penelitian ini memanfaatkan sumber primer dan sekunder—termasuk majalah, buku peringatan, dan sejarah lisan—untuk menelusuri perkembangan identitas khas ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja Katolik Pugeran, yang berdiri sejak 1934, memainkan peran penting dalam memadukan Katolik dengan budaya Jawa, sehingga mencerminkan koeksistensi dan saling memperkaya antara keragaman agama dan budaya. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Gereja juga menjadi pusat keterlibatan komunitas dan layanan sosial, mewujudkan pendekatan inklusif terhadap iman dan budaya. Integrasi ini memungkinkan Gereja menghadapi perubahan sosial-politik yang signifikan, khususnya pada era pascakemerdekaan, sehingga menempatkannya sebagai institusi religius dan komunitas yang menonjol di Yogyakarta. Penting untuk dicatat, proses inkulturasi ini bukan sekadar strategi mengindonesiakan liturgi Katolik, melainkan negosiasi kompleks identitas—antara menjadi Katolik dan menjadi Jawa—yang dibentuk oleh dinamika lebih luas pembangunan bangsa pascakolonial.
Sartono Kartodirdjo and Kuntowijoyo in Indonesian History Methodology Sugeng Priyadi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.12350

Abstract

Abstract: This article compares the methodological ideas of Sartono Kartodirdjo and Kuntowijoyo. Using the historical method, it treats their major works as historical documents examined through heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Kartodirdjo emphasizes inductive logic grounded in historical facts and supported by social science approaches, including economics, sociology, political science, anthropology, geography, and social psychology. This multidimensional framework became an important legacy and opened wider possibilities for historical research in Indonesia. In contrast, Kuntowijoyo encourages young historians to develop thematic historical methodologies as fields of specialization. His methodological thinking begins with historiography as the outcome of research, which then serves as the basis for broader, more comprehensive methodological reflections. He also explains historical methodology by using auxiliary sciences to interpret historical phenomena. In Indonesian historical practice, method and methodology are inseparable, since historical inquiry requires both inductive reasoning based on facts and deductive reasoning based on theory. Supported by auxiliary sciences and grounded in research, the combination of these two logics can produce richer, more comprehensive historiography. This study contributes to historiographical discourse by clarifying the distinction between methodology and method and by underlining the need for a more integrative and multidimensional framework in contemporary Indonesian historical research.   Abstrak: Artikel ini membandingkan gagasan metodologis Sartono Kartodirdjo dan Kuntowijoyo. Dengan menggunakan metode sejarah, karya-karya utama keduanya diposisikan sebagai dokumen historis yang dianalisis melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Kartodirdjo menekankan logika induktif yang berlandaskan fakta sejarah serta didukung oleh pendekatan ilmu-ilmu sosial, seperti ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, geografi, dan psikologi sosial. Kerangka multidimensional ini menjadi warisan penting sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi penelitian sejarah di Indonesia. Sebaliknya, Kuntowijoyo mendorong sejarawan muda untuk mengembangkan metodologi sejarah tematik sebagai bidang spesialisasi. Pemikiran metodologisnya berangkat dari historiografi sebagai hasil penelitian, yang kemudian menjadi dasar dalam merumuskan refleksi metodologis yang lebih luas dan komprehensif. Ia juga menjelaskan metodologi sejarah melalui pemanfaatan ilmu-ilmu bantu dalam menafsirkan fenomena sejarah. Dalam praktik sejarah di Indonesia, metode tidak dapat dipisahkan dari metodologi, karena kajian sejarah memerlukan integrasi antara penalaran induktif berbasis fakta dan penalaran deduktif berbasis teori. Didukung oleh ilmu-ilmu bantu dan pendekatan grounded research, kombinasi kedua logika ini mampu menghasilkan historiografi yang lebih kaya dan komprehensif. Penelitian ini berkontribusi dalam memperjelas perbedaan konseptual antara metodologi dan metode, serta menegaskan pentingnya kerangka yang lebih integratif dan multidimensional dalam penelitian sejarah kontemporer di Indonesia.
Reviving the China-Islamic World Connection: from Historical Trade to the Belt and Road Initiative and Beyond Boon Dar Ku; Mohamad Ainuddin Iskandar Lee
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.13647

Abstract

Abstract: This paper presents analysis of the relationship between China and the Islamic world, focusing on economic, political and cultural dimensions. Drawing on literature review and secondary data analysis, including academic studies and reports from international organisations, the study investigates historical interactions between China and Islamic civilisations, highlighting trade as the key driver of their engagement. The findings demonstrate that historical China-Islamic world interactions were largely characterised by reciprocal exchange, in which Islamic commercial networks, knowledge systems and religious institutions played a formative role in shaping China’s external engagements. The paper further examines the contemporary relationship, focusing on the Belt and Road Initiative (BRI) as the most significant economic framework connecting the two regions. The study finds that in the contemporary period, the relationship has evolved into an asymmetrical form of engagement, with China exercising greater economic leverage and strategic influence through infrastructure investment, energy cooperation and development financing. This shift reflects broader changes in the global political economy rather than a contradiction with earlier historical patterns. In addition, the study explores China’s approach to Islam in the context of Muslim minority governance, analysing challenges associated with the treatment of Uyghur Muslims in Xinjiang and their implications for China’s relations with the Muslim world. The findings indicate that domestic governance practices related to Islam have become a significant constraint on China’s soft power in Muslim-majority societies, shaping diplomatic perceptions despite deepening economic ties. The study adopts historical, political-economic and socio-religious perspectives to provide a concise and integrated understanding of the dynamics shaping contemporary China-Islamic world relations. Abstrak: Artikel ini menyajikan analisis mengenai hubungan antara Tiongkok dan dunia Islam dengan menyoroti dimensi ekonomi, politik, dan budaya. Dengan menggunakan kajian literatur dan analisis data sekunder, termasuk studi akademik serta laporan dari organisasi internasional, penelitian ini menelusuri interaksi historis antara Tiongkok dan peradaban Islam, dengan menempatkan perdagangan sebagai faktor utama yang mendorong hubungan tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa interaksi historis antara Tiongkok dan dunia Islam pada umumnya bersifat timbal balik, di mana jaringan perdagangan Islam, sistem pengetahuan, serta institusi keagamaan memainkan peran penting dalam membentuk hubungan eksternal Tiongkok. Tulisan  ini juga mengkaji hubungan kontemporer antara keduanya, dengan menyoroti Belt and Road Initiative (BRI) sebagai kerangka ekonomi paling signifikan yang menghubungkan kedua kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode modern, hubungan tersebut berkembang menjadi lebih asimetris, dengan Tiongkok memiliki pengaruh ekonomi dan strategis yang lebih besar melalui investasi infrastruktur, kerja sama energi, dan pembiayaan pembangunan. Perubahan ini mencerminkan dinamika ekonomi-politik global yang lebih luas, bukan merupakan penyimpangan dari pola historis sebelumnya. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi pendekatan Tiongkok terhadap Islam dalam konteks pengelolaan minoritas Muslim, khususnya terkait perlakuan terhadap Muslim Uyghur di Xinjiang serta implikasinya terhadap hubungan Tiongkok dengan dunia Islam. Temuan menunjukkan bahwa praktik domestik dalam mengelola isu keagamaan menjadi salah satu faktor pembatas bagi soft power Tiongkok di negara-negara mayoritas Muslim, sekaligus memengaruhi persepsi diplomatik meskipun hubungan ekonomi terus menguat. Penelitian ini menggabungkan perspektif historis, ekonomi-politik, dan sosial-keagamaan untuk memberikan pemahaman yang ringkas namun komprehensif mengenai dinamika hubungan Tiongkok dan dunia Islam kontemporer.
More Notes on the “Print Islam” in Early 20th Century Malay-Indonesian World: Cairene Reformism and Its Traditionalist Counterpart Safari; Muhammad Afif Amrulloh; Asep Musadad
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.15843

Abstract

Abstract: The article examines aspects of three Islamic-oriented periodicals published in the early twentieth century: al-Imām (1906-1908), al-Munīr (1911-1915), and al-Mīzān (1918-1922). Within what Kersten refers to as the “Print Islam,” existing scholarship has largely concentrated on reformist publications – particularly al-Imām and al-Munīr – while their traditionalist counterparts remain comparatively under-studied. Addressing this gap, the article highlights the traditionalist response by conducting a preliminary study of al-Mīzān, an important periodical associated with traditionalist circles. As the principal vehicles for transmitting Cairene reformism in the Malay-Indonesian world, the periodicals al-Imām and al-Munīr, published by kaum muda (youth-led reformist camp), vigorously criticized established religious practices while also initiating discussions on nationhood within the reformist Islamic movement. In response to reformist challenges, the kaum tua launched al-Mīzān to defend inherited religious practices while engaging contemporary issues through a traditionalist lens grounded primarily in Syāfiī fiqh. During the phase of “Print Islam”, both reformist and traditionalist actors contributed to shaping the trajectory of Islamic history in the archipelago, not only through contestations over religious discourse but also by establishing precedents for further imagined nationhood in religious terms. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji beberapa aspek dalam tiga majalah berorientasi Islam yang diterbitkan pada awal abad ke-20: al-Imām (1906-1908), al-Munīr (1911-1915), dan al-Mīzān (1918-1922). Dalam apa yang disebut Kersten sebagai print Islam (Islam [dalam media] Cetak), kajian yang ada sebagian besar terkonsentrasi pada publikasi reformis – khususnya al-Imām dan al-Munīr – sementara rekan-rekan tradisionalisnya relatif jarang dikaji. Berawal dari kesenjangan tersebut, artikel ini menyoroti respons tradisionalis dengan melakukan kajian awal terhadap al-Mīzān, sebuah majalah penting yang terkait dengan kalangan tradisionalis. Sebagai wahana utama penyebaran reformisme Kairo di dunia Melayu-Indonesia, majalah al-Imām dan al-Munīr yang diterbitkan oleh kaum muda (kelompok reformis) secara gencar mengkritik praktik-praktik keagamaan yang mapan sekaligus memulai diskusi tentang kebangsaan dalam bingkai Islam reformis. Sebagai respons terhadap tantangan reformis, kaum tua (kelompok tradisionalis) meluncurkan berkala al-Mīzān untuk membela praktik-praktik keagamaan yang diwariskan turun-temurun, sekaligus membahas isu-isu kontemporer melalui lensa tradisionalis yang utamanya berlandaskan fikih Syāfi’ī. Selama fase print Islam, baik aktor reformis maupun tradisionalis berkontribusi dalam membentuk lintasan sejarah Islam di kepulauan ini, tidak hanya melalui kontestasi atas wacana keagamaan, tetapi juga dengan menciptakan preseden untuk pembicaraan tentang kebangsaan yang dibayangkan lebih lanjut dalam aksen keagamaan. 
Socio-Economics under Female Leadership: Unveiling the History of the Sukadana-Landak Kingdom, 1609-1622 Patmawati Patmawati; Raziki Waldan; Fitri Susanti Ilyas
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.16386

Abstract

Abstract: Studies on the history of Malay kingdoms in West Kalimantan have largely focused on male rulers, leaving female leadership relatively underexplored. This study examines the leadership of Ratu Mas Jaintan in the Sukadana–Landak Kingdom from a socio-economic historical perspective. The research employs a historical method with an interdisciplinary approach integrating social and economic analysis. Data were collected from manuscripts, archival documents, artifacts, oral traditions, and previous studies, supported by field research and analyzed through historical criticism and comparative analysis. The findings show that Ratu Mas Jaintan played a significant role in shaping the socio-economic life of the kingdom by promoting open trade, regulating the use of natural resources such as diamonds and gold, and supporting agricultural activities. These policies strengthened regional trade networks while maintaining social stability and cultural continuity. This study contributes to the historiography of Southeast Asian history by highlighting the strategic role of female leadership in managing economic networks and political authority in Malay kingdoms. It also provides broader implications for understanding gender and power relations in historical governance and the importance of female leadership in socio-economic development in early Southeast Asian societies. Abstrak: Kajian tentang sejarah kerajaan-kerajaan Melayu di Kalimantan Barat selama ini sebagian besar berfokus pada penguasa laki-laki, sehingga kepemimpinan perempuan relatif kurang dieksplorasi. Penelitian ini mengkaji kepemimpinan Ratu Mas Jaintan di Kerajaan Sukadana–Landak dari perspektif sejarah sosial-ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan analisis sosial dan ekonomi. Data dikumpulkan dari naskah, dokumen arsip, artefak, tradisi lisan, serta studi terdahulu, yang didukung oleh penelitian lapangan dan dianalisis melalui kritik sejarah serta analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ratu Mas Jaintan memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan sosial-ekonomi kerajaan dengan mendorong perdagangan terbuka, mengatur pemanfaatan sumber daya alam seperti berlian dan emas, serta mendukung aktivitas pertanian. Kebijakan-kebijakan tersebut memperkuat jaringan perdagangan regional sekaligus menjaga stabilitas sosial dan keberlanjutan budaya. Penelitian ini memberikan kontribusi pada historiografi Asia Tenggara dengan menyoroti peran strategis kepemimpinan perempuan dalam mengelola jaringan ekonomi dan otoritas politik di kerajaan Melayu. Selain itu, penelitian ini juga memberikan implikasi yang lebih luas dalam memahami relasi gender dan kekuasaan dalam tata kelola sejarah, serta pentingnya kepemimpinan perempuan dalam pembangunan sosial-ekonomi pada masyarakat awal Asia Tenggara.
Two Perspectives, One History: Western Colonialism in Indonesian and Malaysian History Textbooks Wildan Insan Fauzi; Agus Mulyana; Wawan Darmawan; Dadan Wildan; Hany Nurpratiwi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.16397

Abstract

Abstract: This study examines how Western colonialism is narrated in Indonesian and Malaysian history textbooks and compares the perspectives embedded in both national textbook traditions. Although Indonesia and Malaysia share historical and cultural links, their textbook narratives differ in their interpretations of colonial rule, its impacts, and its place in national history. This research addresses four main issues: the background of colonial arrival, the characteristics of colonial systems, the impacts of colonial rule, and similarities and differences in colonial state policies as presented in textbooks. Using a qualitative content analysis, this study examines selected secondary school history textbooks from Indonesia and Malaysia, published under different curricular frameworks. The analysis focuses on two main dimensions: how textbooks depict colonialism and how they construct particular perspectives on colonial experience. The findings show that Malaysian textbooks tend to present Western colonialism as a broader geopolitical process shaped by rivalry among imperial powers. British colonialism is described not only as exploitative but also as contributing to administrative modernization, territorial formation, and the development of a plural society. In contrast, Indonesian textbooks emphasize colonial exploitation, coercive policies, and popular resistance, especially under Dutch rule. Colonialism is largely portrayed as an oppressive force that generated suffering and stimulated nationalism. This study demonstrates that textbook narratives are closely related to national identity formation and educational ideology. It contributes to history education by showing that colonialism in textbooks is not merely presented as past events, but also as a value-laden narrative shaped by each nation’s political and historiographical priorities. Abstrak: Penelitian ini mengkaji bagaimana kolonialisme Barat dinarasikan dalam buku teks sejarah Indonesia dan Malaysia serta membandingkan perspektif yang dibangun dalam tradisi buku teks kedua negara. Meskipun Indonesia dan Malaysia memiliki keterkaitan historis dan kultural, narasi dalam buku teks keduanya menunjukkan penafsiran yang berbeda mengenai kolonialisme, dampaknya, dan posisinya dalam sejarah nasional. Penelitian ini berfokus pada empat aspek utama, yaitu latar belakang kedatangan kolonialisme, karakteristik sistem kolonial, dampak kekuasaan kolonial, serta persamaan dan perbedaan kebijakan kolonial yang disajikan dalam buku teks. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif terhadap sejumlah buku teks sejarah tingkat sekolah menengah di Indonesia dan Malaysia yang diterbitkan dalam kerangka kurikulum yang berbeda. Analisis diarahkan pada dua dimensi utama, yaitu cara buku teks menggambarkan kolonialisme dan cara buku teks membangun perspektif tertentu terhadap pengalaman kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks Malaysia cenderung menampilkan kolonialisme Barat sebagai proses geopolitik yang lebih luas, dipengaruhi oleh persaingan antarkekuatan imperialis. Kolonialisme Inggris digambarkan tidak hanya eksploitatif, tetapi juga berkontribusi pada modernisasi administrasi, pembentukan wilayah, dan lahirnya masyarakat plural. Sebaliknya, buku teks Indonesia lebih menekankan eksploitasi
Negations of the Laweyan Batik Community during the Pajang and Mataram Period Hieronymus Purwanta; Victor Novianto
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.16683

Abstract

Abstract: This study examines the negation of the Laweyan batik community during the Pajang and Mataram periods. It addresses two questions: why the Laweyan batik industry was negated and how such negation was expressed. The research employs the historical method, including source collection, source criticism, interpretation, and historiography, and uses Ernst E. Boesch’s symbolic action approach to analyze the intentions, procedures, goals, and situational context of historical actors. The findings show that the negation of the Laweyan batik community was closely related to the inability of Laweyan batik entrepreneurs to maintain harmonious relations with political authorities after the era of Ki Ageng Henis. This negation appeared in two main forms. First, it was expressed in folklore derived from traditional historiography, which portrayed Laweyan as socially improper, unlucky, and morally suspect. Second, it was reflected in rulers’ policies, particularly the tomb politics surrounding Ki Ageng Henis in Kotagede and the promotion of Kauman batik as a palace-centered alternative. These policies symbolically distanced royal authority from the commercial batik tradition associated with Laweyan. This study argues that the negation of Laweyan was not merely cultural prejudice, but also a political and symbolic strategy to preserve aristocratic identity and authority. It contributes to the socio-cultural history of batik by showing how power, memory, and symbolism shaped the historical marginalization of a local craft community. Abstrak: Kajian ini menganalisis penegasian terhadap komunitas batik Laweyan pada masa Pajang dan Mataram. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan, yaitu mengapa industri batik Laweyan mengalami penegasian dan bagaimana bentuk-bentuk penegasian tersebut direpresentasikan. Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Analisis dilakukan dengan pendekatan tindakan simbolik Ernst E. Boesch untuk mengkaji intensi, prosedur, tujuan, dan keterlekatan situasional para aktor sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegasian terhadap komunitas batik Laweyan berkaitan erat dengan ketidakmampuan para pengusaha batik Laweyan menjalin hubungan harmonis dengan penguasa setelah masa Ki Ageng Henis. Penegasian tersebut hadir dalam dua bentuk utama. Pertama, melalui folklor yang bersumber dari historiografi tradisional dan menggambarkan Laweyan sebagai ruang sosial yang buruk, sial, dan tidak ideal. Kedua, melalui kebijakan penguasa, terutama politik makam terhadap Ki Ageng Henis di Kotagede dan pengembangan batik Kauman sebagai alternatif yang berorientasi istana. Kebijakan-kebijakan tersebut menjadi strategi simbolik untuk mengambil jarak dari tradisi batik komersial yang berkembang di Laweyan. Kajian ini menegaskan bahwa penegasian terhadap Laweyan bukan semata-mata prasangka kultural, melainkan juga strategi politik dan simbolik untuk menjaga identitas serta otoritas aristokrat. Studi ini berkontribusi pada sejarah sosial-budaya batik dengan menunjukkan bagaimana kuasa, memori, dan simbolisme membentuk marginalisasi historis terhadap komunitas perajin lokal.
Museum-Based History Learning for Schools at the Wereldmuseum Leiden: Educational Activities and the Roles of Teachers and Museum Educators Argitha Aricindy; Wasino; Aji Sofanudin; Hamdan Tri Atmaja; Atika Wijaya; Endah Sri Hartatik; Suryadi
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.27186

Abstract

Abstract: This study examines the educational activities and resources of Wereldmuseum Leiden within the context of formal history education, focusing on how learning is designed before, during, and after school visits. The central question is: what structured learning activities are implemented, and how do they support students’ historical understanding? Using a mixed-methods approach, qualitative data were collected through semi-structured interviews with five teachers and two museum educators, complemented by a descriptive survey of 20 participants involved in museum programs. The study analyzes activity types, timing, learning resources, and collaboration patterns between schools and museum staff. Findings indicate that hands-on workshops, artifact observation, and audiovisual materials are the most frequently used activities, mainly conducted during museum visits. Pre- and post-visit activities remain limited, suggesting weak integration with school curricula. Collaboration between teachers and museum educators is generally informal and inconsistent. This study highlights the need for more systematic partnerships between museums and schools to strengthen the pedagogical impact of museum-based history education. It also contributes to the field by adapting the instrument of Escribano-Miralles et al. (2021) to ethnographic museums with colonial collections, revealing specific challenges such as the underuse of pre/post-visit activities and digital resources in these settings. Abstrak: Penelitian ini mengkaji aktivitas dan sumber belajar di Wereldmuseum Leiden dalam konteks pendidikan sejarah formal, dengan fokus pada perancangan pembelajaran sebelum, selama, dan setelah kunjungan sekolah. Pertanyaan utama penelitian ini adalah: aktivitas pembelajaran terstruktur apa yang digunakan dan bagaimana aktivitas tersebut mendukung pemahaman sejarah siswa? Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan lima guru dan dua edukator museum, serta didukung oleh survei deskriptif terhadap 20 partisipan yang terlibat dalam program edukasi museum. Analisis difokuskan pada jenis aktivitas, waktu pelaksanaan, sumber belajar, dan pola kolaborasi antara sekolah dan pihak museum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa workshop berbasis praktik, observasi artefak, dan penggunaan media audiovisual merupakan aktivitas yang paling dominan, terutama selama kunjungan berlangsung. Aktivitas sebelum dan setelah kunjungan masih terbatas, yang menunjukkan lemahnya integrasi dengan kurikulum sekolah. Kolaborasi antara guru dan edukator museum juga cenderung bersifat informal dan belum konsisten. Penelitian ini menegaskan pentingnya kemitraan yang lebih sistematis antara museum dan sekolah untuk meningkatkan dampak pedagogis pembelajaran sejarah berbasis museum. Selain itu, studi ini berkontribusi dengan mengadaptasi instrumen Escribano-Miralles et al. (2021) ke konteks museum etnografi bercorak kolonial, serta mengungkap keterbatasan pemanfaatan aktivitas pra- dan pascakunjungan dan sumber digital.pembelajaran yang bermakna di tingkat lokal maupun global.
The Pretkalpa of the Garuda Mahapurana as a Reflection of Social History: A Sociological Study of Soul Purification Shukra Raj Adhikari; Bhawani Shankar Adhikari; Ganga Acharya; Nisha Pradhananga
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 36 No. 1 (2026): Social and Intellectual History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v36i1.33145

Abstract

Abstract:  This article examines the Pretkalpa of the Garuda Mahapurana as a source for understanding the moral imagination and social values of ancient Sanatani society. It focuses on the concepts of soul purification, karma, rebirth, heaven, hell, and posthumous reward and punishment as reflected in the text. Using a qualitative design and historical content analysis, this study interprets selected passages from the Garuda Mahapurana to explore how the text constructs ethical order and explains the consequences of human action. The findings show that the Pretkalpa presents the soul as immortal and places human life at the center of moral choice, where virtuous action leads to purification and favorable rebirth, while sinful conduct results in suffering, hell, and lower forms of existence. The text also portrays fear of punishment and hope of reward as important mechanisms for guiding human behavior. This study argues that the Garuda Mahapurana can be read not only as a religious scripture but also as a reflection of social history, because it preserves ideas about morality, ritual practice, and social control in the Puranic period. The article contributes to the study of ancient texts by showing how scriptural narratives functioned as ethical guides within historical society. Abstrak: Artikel ini mengkaji Pretkalpa dalam Garuda Mahapurana sebagai sumber untuk memahami imajinasi moral dan nilai-nilai sosial masyarakat Sanatani kuno. Kajian ini berfokus pada konsep pemurnian jiwa, karma, kelahiran kembali, surga, neraka, serta ganjaran dan hukuman setelah kematian sebagaimana tercermin dalam teks tersebut. Dengan menggunakan desain kualitatif dan analisis isi historis, penelitian ini menafsirkan bagian-bagian terpilih dari Garuda Mahapurana untuk mengeksplorasi bagaimana teks tersebut membangun tatanan etis dan menjelaskan konsekuensi dari tindakan manusia. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pretkalpa memandang jiwa sebagai sesuatu yang abadi dan menempatkan kehidupan manusia sebagai pusat pilihan moral, di mana tindakan kebajikan mengarah pada pemurnian dan kelahiran kembali yang lebih baik, sedangkan perbuatan dosa berujung pada penderitaan, neraka, dan bentuk keberadaan yang lebih rendah. Teks ini juga menggambarkan rasa takut terhadap hukuman dan harapan akan ganjaran sebagai mekanisme penting dalam membimbing perilaku manusia. Penelitian ini berargumen bahwa Garuda Mahapurana tidak hanya dapat dibaca sebagai kitab keagamaan, tetapi juga sebagai refleksi sejarah sosial, karena memuat gagasan tentang moralitas, praktik ritual, dan kontrol sosial pada periode Puranik. Artikel ini berkontribusi pada kajian teks-teks kuno dengan menunjukkan bagaimana narasi kitab suci berfungsi sebagai pedoman etis dalam masyarakat.