cover
Contact Name
Irsal
Contact Email
bengkuluirsal@gmail.com
Phone
+6285381305810
Journal Mail Official
bengkuluirsal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : 10.29300/mtq.v9i2.8963
Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam pernah mengalami kerusakan servers jurnal secara total (di hack), yang mengakibatkan semua artikel yang sudah dipublish mulai Vol.1 No.1 2019 s-d Edisi tahun 2023 hilang semua. Maka untuk menghindari kekosongan artikel, maka tim pengelola jurnal melakukan upload ulang artikel secara quiksubmite Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam di tahun 2022 telah merubah institusi/lembaga penerbit dari IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Perubahan status IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2025): MEI" : 10 Documents clear
Peran Ilmu Aṣwāt Dalam Memahami Intonasi dan Jeda Kalimat Bahasa Arab Lina Marlina; Pajar Abdurahman; Yusri Yusron; Halwa Nida Nur Syariah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.8600

Abstract

Abstract: Ilm al-Aṣwāt, the study of Arabic phonetics and phonology, plays a crucial role in enhancing both fluency and accuracy in spoken communication. This article aims to explore the role of phonetic knowledge in understanding intonation and pause (waqf) in Arabic sentences and its contribution to the development of learners’ communicative competence. Using a literature review approach, this study analyzes recent scholarly works on how intonation distinguishes sentence types (declarative, interrogative, imperative, and prohibitive), and how strategic pauses influence meaning especially within the Qur’anic context. The findings suggest that proper control of intonation and pausing not only strengthens sentence structure but also directly affects meaning, nuance, and message clarity in Arabic discourse. Therefore, integrating the science of aṣwāt into Arabic language instruction is essential to support the formation of comprehensive speaking skills. This study recommends that aṣwāt be taught not merely as a technical discipline but as a pragmatic strategy for developing both linguistic and sociolinguistic competence among learners.Keywords: Ilm al-Aṣwāt, Suprasegmental Phonology, Intonation, Pausing, Arabic Language Abstrak: Ilmu aṣwāt, sebagai kajian fonetik dan fonologi dalam bahasa Arab, memainkan peran vital dalam menunjang kefasihan dan ketepatan komunikasi lisan. Artikel ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam bagaimana ilmu aṣwāt berkontribusi dalam memahami intonasi dan jeda kalimat bahasa Arab, serta relevansinya dalam membentuk kompetensi komunikatif pembelajar non-Arab. Melalui pendekatan studi pustaka, dikaji sejumlah literatur terkini yang mengupas fungsi intonasi dalam membedakan jenis kalimat (khabariyyah, istifhāmiyyah, amr, nahy) serta peran jeda (waqf) dalam menghindari ambiguitas makna, khususnya dalam konteks Al-Qur’an. Temuan menunjukkan bahwa ketepatan dalam mengelola intonasi dan jeda tidak hanya memperkuat struktur ujaran, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap makna, nuansa, dan keberterimaan pesan dalam komunikasi Arab. Oleh karena itu, integrasi ilmu aṣwāt dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan kebutuhan mendesak dalam mendukung pembentukan maharah kalām yang utuh. Penelitian ini merekomendasikan agar ilmu aṣwāt tidak hanya diajarkan secara teknis, tetapi juga dimaknai sebagai strategi pragmatis dalam membangun kompetensi linguistik dan sosiolinguistik pembelajar.Kata kunci: ilmu aṣwāt, fonologi suprasegmental, intonasi, jeda, bahasa Arab
Landasan Epistemologis dan Ontologis dalam Filsafat Hukum: Relevansi bagi Hukum Keluarga Islam Muhammad Rif'an Nasharuddin; Surya Sukti; Mustar Mustar
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.7884

Abstract

Artikel ini membahas landasan epistemologis dan ontologis dalam filsafat hukum, serta relevansinya terhadap hukum keluarga Islam di Indonesia. Epistemologi hukum Islam berakar pada wahyu Ilahi namun berkembang melalui akal dan ijtihad, sedangkan ontologi hukum Islam memandang hukum sebagai eksistensi nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan sosial. Dengan mengintegrasikan kedua pendekatan ini, hukum keluarga Islam dapat direformulasi secara kontekstual tanpa kehilangan esensinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka terhadap karya-karya tokoh dan akademisi Islam. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan filsafati mampu memberikan kerangka konseptual dan normatif dalam membangun hukum keluarga Islam yang adil, relevan, dan responsif terhadap dinamika sosial. Epistemologi hukum keluarga Islam berakar pada wahyu sebagai sumber utama, namun melibatkan akal, ijtihad, ijma’, dan qiyas dalam proses penalaran hukumnya. Sementara itu, ontologi hukum menunjukkan bahwa hukum keluarga Islam bukan sekadar kumpulan aturan legalistik, melainkan representasi dari nilai-nilai ketuhanan dan moralitas sosial. Hukum hadir sebagai instrumen untuk mencapai tujuan syariah (maqasid al-shari’ah).
Makanan bagi Pelajar dalam Persfektif Islam & Kesehatan (Tela’ah Kitab Ta’limul Muta’allim Karya Imam Az-Zarnuji) Dita Durotun Nufus; Ahmad Fauzi; Moh Nur Arifin; Lalu Turjiman Amad
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.8277

Abstract

Abstract: This research aims to find out the food that is good to be consumed by every knowledge seeker / santri / student in studying. So that they can achieve success, usefulness and blessings from the knowledge they get. This research uses qualitative methods with library research techniques, the book Ta'limul Muta'alim by Imam Az-Zarnuji as the main source used by researchers. The results of this study, there are several foods that can strengthen and weaken the memorisation of knowledge claimants / students / students. Eating kundar (frankincense) mixed with honey, and eating 21 Red Grapes every morning before eating anything, drinking honey, milk and eating dates and often shaving the toothbrush are foods and behaviours that can strengthen the memory of knowledge claimants. Whereas eating wet coriander, eating sour apples, seeing people being beaten, reading writings in graves, passing through rows of camels, throwing live dandruff on the ground and cantuk (wounding on the head to relieve dizziness) in the nape of the neck. sour food, fatty food, and haram or syubhat food are foods that can weaken memorisation. The knowledge claimants/students/students are expected to avoid market food because market food is easily exposed to unclean and dirty, and far from remembering Allah, S.wt. and closer to neglecting Allah, Swt.Keywords: Food, Students, Islam and health, Ta'limul Muta'allim.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makanan yang baik dikonsumsi oleh setiap penuntut ilmu/ santri/ siswa dalam menuntut ilmu. Agar mereka dapat meraih kesuksesan, kemanfaatan dan keberkahan dari ilmu yang didapatnya. Penlitian ini menggunakan metode metode kualitatif dengan teknik library research, Kitab ta’limul muta’alim karangan Imam Az-Zarnuji sebagai sumber utama yang di gunakan oleh peneliti. Hasil penelitian ini, terdapat beberapa makanan yang dapat menguatkan dan melemahkan hafalan para penuntut ilmu/ santri/ siswa. Makan kundar (kemenyan) dicampur madu, dan makan 21 Anggur Merah setiap pagi sebelum makan apa-apa, minum madu, susu dan makan kurma dan sering bersiwak merupakan makan dan prilaku yag dapat menguatkan hafalan para penuntut ilmu. Sedangkan makan ketumbar basah, makan apel yang kecut, melihat orang yang dipacung, membaca tulisan di kuburan, melewati barisan unta, membuang ketombe hidup di tanah dan cantuk (melukai di bagian kepala untuk menghilangkan pusing) di bagian liang tengkuk. makanan asam, makanan berlemak, dan makanan haram atau syubhat merupakan makan yang dapat melemahkan hafalan. Para penuntut ilmu/ santri/ siswa diharapkan dapat menghidari maknan pasar hal itu dikarenakan makanan pasar mudah terkena najis dan kotor, dan jauh dari mengingat Allah, S.wt. dan lebih dekat melalaikan Allah, Swt Kata kunci: Makanan, Pelajar, Islam dan kesehatan,  Ta’limul Muta’allim.
Modernisasi Pendidikan Islam Dalam Pandangan Sir Muhammad Iqbal (Kajian Filsafat Progresivisme) Abdul Khobir; Tsania Nelly Fakhrina; Rohmatunni'mah Rohmatunni'mah; Dinda Anisa Risqi; Lailatus Syifa Azzahro
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.6627

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemikiran Sir Muhammad Iqbal mengenai pendidikan Islam dalam konteks filsafat progresivisme. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini mengidentifikasi gagasan Iqbal mengenai modernisasi pendidikan Islam yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan sosial. Iqbal menekankan pentingnya pengembangan karakter, kreativitas, dan keseimbangan antara aspek fisik dan spiritual dalam pendidikan. Ia berpendapat bahwa pendidikan harus membentuk individu yang ideal, yaitu manusia yang mampu mengharmoniskan dunia dan akhirat. Melalui prinsip-prinsip progresivisme, pendidikan Islam harus bersifat dinamis dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan mengutamakan nilai-nilai cinta, keberanian, toleransi, dan kerja kreatif. Temuan penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya inovasi dalam pendidikan Islam untuk mendukung kemajuan peradaban. Katakunci: Pendidikan Islam, Sir Muhammad Iqbal, Progresivisme, Modernisasi Pendidikan.
Ontologi Filsafat Pendidikan Islam: Studi di Pondok Pesantren Daar El Qolam Chandra Nuruliana; Ahmad Fauzi; Subhan Subhan; Machdum Bachtiar
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.8278

Abstract

Abstract: This research uses a qualitative approach with a library research method. The purpose of this research is to understand, analyse, and examine the understanding of the ontology of Islamic education based on existing theories and literature. This study reviews in depth the ontology of Islamic education philosophy, which is a branch of philosophy that discusses the nature of existence and reality in the context of Islamic education. This research highlights the ontological basis of Islamic education which is rooted in the Qur'an and Hadith as the main source. Islamic education is seen as an effort to form humans who have faith, morals, and have a balance between intellectual, spiritual, and social aspects. In this context, pesantren as one of the Islamic education institutions, such as Daar El Qolam Islamic Boarding School, becomes the object of study in the implementation of the ontology of Islamic education philosophy. The results showed that the philosophy of Islamic education is not only oriented towards the transfer of knowledge, but also aims to form humans with character and be able to answer the challenges of the times. Therefore, Islamic education must maintain basic principles such as diversity, skills, justice, and balance in order to continue to be relevant in the development of the modern world.Keywords: Ontology, Philosophy of Islamic Education, Islamic Boarding School   Abstrak: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian pustaka (library research). Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami, menganalisis, dan mengkaji pemahaman ontologi pendidikan Islam berdasarkan teori dan literatur yang telah ada. Kajian ini mengulas secara mendalam ontologi filsafat pendidikan Islam, yang merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat keberadaan dan realitas dalam konteks pendidikan Islam. penelitian ini menyoroti dasar ontologi pendidikan Islam yang berakar pada Al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber utama. Pendidikan Islam dipandang sebagai usaha untuk membentuk manusia yang beriman, berakhlak, dan memiliki keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, dan sosial. Dalam konteks ini, pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam, seperti Pondok Pesantren Daar El Qolam, menjadi objek kajian dalam implementasi ontologi filsafat pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga bertujuan membentuk manusia yang berkarakter serta mampu menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mempertahankan prinsip-prinsip dasar seperti keberagaman, keterampilan, keadilan, dan keseimbangan agar dapat terus relevan dalam perkembangan dunia modern.Kata Kunci: Ontologi, Filsafat Pendidikan Islam, Pondok Pesantren.
Suksesi Kepemimpinan dalam Pemikiran Ibnu Khaldun : Relevansinya dengan Kepemimpinan Era Reformasi di Indonesia Christy Pransisca; Hery Noer Aly; Ismail Ismail
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.7281

Abstract

Abstract: This research discusses the concept of leadership succession according to Ibnu Khaldun which focuses on the process of cyclical change of power and is influenced by social solidarity (asabiyah), military strength, leader legitimacy, economic factors, and external influences. Ibn Khaldun emphasized that strong leadership originates from groups with high solidarity, but the weakening of the asabiyah will cause the downfall of the dynasty and trigger succession. This research also examines the relevance of Ibnu Khaldun's theory in the leadership context of the reform era in Indonesia, where political dynamics are influenced by internal and external factors, including political parties, the economy and social inequality. The research was carried out through a descriptive qualitative approach with library research methods, using primary and secondary sources which included the works of Ibnu Khaldun and related literature. Data analysis was carried out using the content analysis method, which aims to understand Ibn Khaldun's views in the context of political and religious sociology. The research results show that Ibn Khaldun's theory of leadership succession provides a relevant perspective in understanding political stability, changes in power, and the challenges faced in maintaining government in the modern era.Keywords: Leadership Succession, Social Inequality, Reformation Era, Leadership Dynamics Abstrak: Penelitian ini membahas konsep suksesi kepemimpinan menurut Ibnu Khaldun yang berfokus pada proses pergantian kekuasaan secara siklis dan dipengaruhi oleh solidaritas sosial (asabiyah), kekuatan militer, legitimasi pemimpin, faktor ekonomi, serta pengaruh eksternal. Ibnu Khaldun menekankan bahwa kepemimpinan yang kuat berawal dari kelompok dengan solidaritas tinggi, namun melemahnya asabiyah akan menyebabkan kejatuhan dinasti dan memicu suksesi. Penelitian ini juga mengkaji relevansi teori Ibnu Khaldun dalam konteks kepemimpinan era reformasi di Indonesia, di mana dinamika politik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, termasuk partai politik, ekonomi, dan ketimpangan sosial. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode riset pustaka (library research), menggunakan sumber primer dan sekunder yang mencakup karya-karya Ibnu Khaldun serta literatur terkait. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi, yang bertujuan untuk memahami pandangan Ibnu Khaldun dalam konteks sosiologi politik dan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori suksesi kepemimpinan Ibnu Khaldun memberikan perspektif yang relevan dalam memahami stabilitas politik, perubahan kekuasaan, dan tantangan yang dihadapi dalam menjaga pemerintahan di era modern.Kata kunci: Suksesi Kepemimpinan, Ketimpangan Sosial, Era Reformasi, Dinamika Kepemimpinan 
Kebebasan dan Tanggung Jawab dalam Bumi Manusia M. Samsul Ma'arif; Diah Dwi Ikranegara
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.8316

Abstract

Abstract: Freedom and Responsibility in Human Earth. Human Earth is a very popular read and has been translated into various foreign languages. However, Earth of Mankind was once banned from publication, because it was considered to contain propaganda for Communist teachings, Marxism-Leninism. This teaching is dangerous because it contradicts the Pancasila ideology This study aims to reveal how the messages in Earth of Mankind relate to freedom and responsibility. This research uses an objective hermeneutic method as an interpretative approach so that this study can objectively reveal the messages of Human Earth. The results of the study reveal that the Human Earth message adds insight into life in reality. Freedom and responsibility must be owned by both parties and the two must work in balance. Like a "dagger" freedom becomes a sharp weapon, a guardian of self-esteem, a provision for solving problems, but it can become a deadly weapon, an introduction to self-death if it is not balanced with the ability to be responsible.Keywords: Human Earth, Freedom, and Responsibility. Abstrak: Kebebasan dan Tanggung Jawab dalam Bumi Manusia. Bumi manusia merupakan bacaan yang sangat diminati dan sudah dialih bahasakan ke dalam berbagai bahasa asing. Namun Bumi Manusia pernah dilarang terbit, karena dianggap berisi propaganda ajaran Komunis, Marxisme-Leninisme. Ajaran ini berbahaya karena bertentangan dengan ideologi Pancasila. Kajian ini bertujuan mengungkap bagaimana pesan-pesan dalam Bumi Manusia terkait kebebasan dan tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan metode objektif hermeneutik sebagai pendekatan interpretatif agar kajian ini dapat mengungkap secara objektif pesan-pesan Bumi Manusia. Hasil kajian mengungkap bahwa pesan Bumi Manusia menambah wawasan hidup dalam kenyataan. Kebebasan dan Tanggung Jawab harus dimiliki oleh seserong dan keduanya harus berjalan seimbang. Ibarat “sebilah belati” kebebasan menjadi senjata tajam, penjaga harga diri, bekal menyelesaikan masalah, tetapi  bisa menjadi senjata mematikan, pengantar kematian diri jika tidak diimbangi dengan kemampuan bertanggung jawab.. Kata kunci: Bumi Manusia, Kebebasan, dan Tanggung Jawab.
Ilmu Nahwu Perspektif Filsafat Ilmu: Kajian Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Dzikri Ahmad Fauzi; Rohanda Rohanda; Abdul Kodir
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.6870

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji ilmu nahwu dari perspektif filsafat ilmu, dengan fokus pada ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu nahwu. Metode yang digunakan adalah metode deskripstif dengan teknik pengumpulan datanya dalam bentuk kualitatif dengan menggunakan metode pustaka yang mengacu pada sumber-sumber relevan dari jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis, Ilmu Nahwu berfokus pada hakikat aturan tata bahasa Arab yang mendasari pemahaman teks suci. Secara epistemologis, ilmu ini berkembang melalui metode empiris (simā’i) dan logis (qiyas) untuk menyusun kaidah-kaidahnya. Sementara itu, secara aksiologis, Ilmu Nahwu memberikan manfaat besar dalam menjaga otentisitas teks keislaman, mendukung pendidikan bahasa Arab, dan memperkuat tradisi keilmuan Islam. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya khazanah keilmuan tentang Ilmu Nahwu dengan pendekatan filsafat ilmu. Penelitian ini hanya membahas Ilmu Nahwu dari perspektif filsafat ilmu, peneliti lain dapat melanjutkan studi ini dari perspektif yang berbeda. Kata Kunci : Ilmu Nahwu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, Filsafat Ilmu ABSTRACTThis research aims to examine the science of Nahwu from the perspective of the philosophy of science, focusing on the ontology, epistemology, and axiology of Nahwu. The method used is a descriptive method with data collection techniques in a qualitative form using a literature method that refers to relevant sources from scientific journals. The results show that ontologically, Nahwu focuses on the nature of Arabic grammatical rules that underlie the understanding of sacred texts. Epistemologically, this science develops through empirical (simā'i) and logical (qiyas) methods to formulate its rules. Meanwhile, axiologically, Nahwu provides great benefits in maintaining the authenticity of Islamic texts, supporting Arabic language education, and strengthening the Islamic scholarly tradition. This research contributes to enriching the knowledge treasury of Nahwu with a philosophical approach to science. This research only discusses Nahwu from the perspective of the philosophy of science, other researchers can continue this study from a different perspective.Keywords: Nahwu, Ontology, Epistemology, Axiology, Philosophy of Science
Penanaman Nilai-Nilai Akhlak pada Anak (Studi kajian secara umum pada Quran Surah Luqman) Irsal Irsal
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.8344

Abstract

Abstract: This article discusses how Luqman Al-Hakim is a role model in character building in children. The results of this study indicate that Luqman al-Hakim in the Qur'an is contained in a surah that is attributed to his name. His name is famous because in the Qur'an there are many teachings and advice to his children in their relationship with Allah (vertical interaction), as well as with fellow humans (horizontal interaction). Ahmad Musthafa Al Maraghi also explained that the asbabun nuzul of the revelation of Surah Luqman Al- Hakim was when the Quraish people asked the Prophet Muhammad about the teachings and example of Lukman Al-Hakim to his son and his son's obedience and obedience to his father's teachings. The implications of Islamic educational values contained in Luqman's letter make the formation of an Islamic personality one of the options to protect children as early as possible from negative environmental influences. The formation of a child's personality is in principle an ongoing process. The process will be better and more successful when parents can combine two factors, namely the preparation factor functions as a process of forming a child's personality before he is born into the world (prenatal), and the implementation factor functions as a process of forming a child's personality after he is born, through formal education and non-formal education. To realize the formation of an Islamic personality both personally and socially.Keywords: Luqman Al-Hakim, Surah Luqman, instilling moral values. Abstrak: Artikel ini membahas tentang cara luqman Al-hakim sebagai tauladan dalam pembentukan karakter pada anak.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Luqman al-Hakim didalam Al-Quran termuat dalam surah yang dinisbatkan kepada namanya. Namanya terkenal sebab didalam Al-Quran banyak ajaran-ajaran dan nasihat-nasihatnya kepada anak nya dalam hubungan dengan Allah (interaksi vertikal), maupun dengan sesama manusia (interaksi horizontal). Ahmad Musthafa Al Maraghi juga menjelaskan bahwa asbabun nuzul turunnya surah Luqman Al-Hakim adalah tatkala kaum Quraish bertanya kepada Nabi Muhammad mengenai ajaran dan teladan Lukman Al-Hakim kepada anaknya dan kepatuhan dan ketaatan anaknya kepada ajaran ayahnya. Implikasi nilai-nilai pedidikan Islam yang terkandung dalam surat Luqman tersebut, menjadikan pembentukan kepribdian yang Islami sebagai salah satu pilihan guna membentengi anak sedini mungkin dari pengaruh lingkungan yang negatif. Pembentukan kepribadian anak pada prinsipnya merupakan proses yang berkelanjutan. Proses tersebut akan lebih baik dan berhasil manakala para orang tua dapat mengkombinasikan dua faktor, yaitu faktor persiapan berfungsi sebagai proses pembentukan kepribadian anak sebelum ia lahir di dunia (prenatal), dan faktor pelaksaan berfungsi sebagai proses pembentukan kepribadian anak setelah ia lahir,melalui pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Untuk merealisasikan pembentukan kepribadian yang islami baik secara personal maupun sosial.Kata kunci: Luqman Al-Hakim, Surah Luqman, penanaman nilai akhlak.
Pendidikan Karakter Menurut Perspektif Muhammad Athiyah Al-Abrasyi: Suatu Analisis Historis-Filosofis Sulhan Yus; Warul Walidin
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.7961

Abstract

Character education is very important in educating each individual to become a human being with good character and noble character. Today we see many people who have taken a very high education but do not have noble morals, so they often do things that have been prohibited by religion. The focus of this research is to explore the thoughts and opinions of Muhammad Athiyyah Al-Abrasyi regarding character education in the realm of Islamic teaching. This research applies the library research method, by collecting data through books, journals, articles, and various literatures relevant to the object of research, especially the writings of Muhammad Athiyyah Al-Abrasyi. The results showed that character education according to Muhammad Athiyah Al-Abrasyi is started by instilling character education since humans are at an early age or when they are in childhood, also emphasizing on harmonizing traditional Islamic education with the times or modernizing the Islamic teaching system. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi also requires the importance of balance between ukhrawi and worldly actions, so as to create Islamic humans who are civilized, ethical, moral, and have qualified abilities in carrying out their daily lives.

Page 1 of 1 | Total Record : 10