cover
Contact Name
Ahmad Faiz Muntazori
Contact Email
faiz.muntazori@gmail.com
Phone
+6288212348559
Journal Mail Official
desainjurnal@gmail.com
Editorial Address
Ruang Lembaga Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRPM) Universitas Indraprasta PGRI Address: Jl. Nangka No. 58 C (TB. Simatupang), Kel. Tanjung Barat, Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan 12530, Jakarta, Indonesia.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Desain
ISSN : 23390107     EISSN : 23390115     DOI : https://doi.org/10.30998/jd.v13i1
Core Subject : Art,
Jurnal Desain focused to publish high-quality articles dedicated to all aspects of the latest outstanding research and developments include research reports, conceptual ideas, studies, theories, using the qualitative approach in Design and Visual Communications, Interior Design, Fashion Design, Product Design, Fine Art, Photography, Animation and other related fields of Visual Art. The scope of this journal encompasses to a study of typography, branding, photography, media studies, design studies, advertising, animation, illustration, visual culture, nirmana, film, videography, etc.
Articles 39 Documents
Perancangan extendable coffee table menggunakan konstruksi knockdown dengan pengaplikasian motif veneer Niki Etruly; SettingsMuhammad Furqon Risvan Alrisyaldi
Jurnal Desain Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i1.64

Abstract

Keterbatasan lahan hunian merupakan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat yang hidup di perkotaan, terutama akibat pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang pesat. Hal ini mendorong masyarakat untuk memaksimalkan penggunaan ruang yang terbatas. Salah satu solusi yang efektif adalah penggunaan furnitur multifungsi dan berkonstruksi knockdown. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara perancangan dan produksi sebuah furnitur yang memiliki fungsi lebih dan berkonstruksi knockdown supaya dapat memaksimalkan penggunaan ruang yang terbatas. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, dilakukan pengumpulan data dari beberapa sumber, antara lain kuesioner awal dan kuesioner akhir yang disebarkan kepada masyarakat, wawancara yang dilakukan kepada penghuni rumah yang mempunyai ruang yang terbatas, dan melakukan studi literatur dari jurnal, artikel, dan buku. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran dengan menggunakan metode perancangan design thinking. Adapun perancangan menggunakan metode ini adalah dengan melakukan proses yang bertahap mulai dari proses emphatize, define, ideate, prototype, dan test. Hasil akhir dari penelitian ini adalah sebuah gambar kerja dan prototipe produk extendable coffee table dengan skala 1:1. Penilaian dari responden menunjukkan bahwa efektivitas fungsi extendable dari prototipe adalah sebesar 91,4%, efisiensi sistem konstruksi knockdown pada prototipe adalah 90,2%, dan penilaian estetika marquetry veneer dari prototipe adalah 94,8%.
Kajian implementasi logo pada seragam batik instansi pendidikan Dina Martin
Jurnal Desain Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i1.189

Abstract

Batik merupakan kebanggaan Indonesia yang memiliki nilai sejarah, nilai filosofi, nilai seni, dan teknik pembuatan yang tinggi. Perkembangan motif batik berkembang dengan pesat baik motif geometris maupun motif non geometris sehingga hadir motif batik modern, salah satunya adalah motif batik yang mengimplementasikan logo perusahaan ataupun instansi dipadukan dengan motif-motif tradisional yang sudah ada ataupun dirancang sesuai dengan visi dan misi pada perusahaan atau instansi tersebut. Kajian menggunakan metode kualitatif deskripsi dengan studi kasus seragam batik Universitas Indraprasta PGRI, tahun 2019, 2020, 2022, 2024 dan 2025. Sampling ini akan dikaji dengan melihat ketentuan dari logo dan teori pengelompokan motif batik, dan hasil analisis yang dihasilkan dari kajian yaitu: logo sebagai logo, logo sebagai super graphic, logo sebagai elemen batik. Logo yang ada pada batik.
Inovasi dan keberlanjutan budaya: Transformasi kertas gendhong di Pesantren Gontor Gayuh Styono; Arfiati Nurul Komariah; Anastasia Irma Riani
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.752

Abstract

Tradisi pembuatan kertas gendhong di Pesantren Tegalsari, Ponorogo, yang menjadi bagian penting dari sejarah literasi pesantren Jawa, mengalami kemunduran seiring melemahnya aktivitas intelektual pesantren tradisional. Ketika upaya pelestarian media tulis klasik ini mulai hilang, muncul inisiatif baru dari komunitas santri Pondok Gontor pada tahun 2020 untuk merevitalisasinya melalui pengembangan inovasi teknik cetak serat berbahan dasar pohon glugu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi kertas gendhong dari medium tulis tradisional menjadi media seni kaligrafi, serta menjelaskan bagaimana inovasi teknik dan nilai-nilai spiritual produksi berkontribusi terhadap keberlanjutan budaya pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan critical ethnography melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan pelaku komunitas. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memahami relasi antara praktik artistik, nilai simbolik, dan konteks sosial budaya pesantren secara reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi teknik cetak serat pada kertas gendhong tidak hanya berfungsi sebagai adaptasi material, tetapi juga menjadi strategi kreatif dalam memperkuat kesadaran historis dan spiritual santri. Proses pembuatan kertas menjadi bentuk praktik kesabaran dan ketekunan, sementara penggunaannya dalam seni kaligrafi menghidupkan kembali makna literasi pesantren sebagai ekspresi spiritual dan budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi kertas gendhong merupakan bentuk keberlanjutan budaya berbasis kearifan lokal dengan paradigma inovasi seni dan pelestarian warisan budaya takbenda.
Model desain komunikasi emosional untuk produk self-care di media sosial: Studi kasus lilin aromaterapi Cleoralde Jesslyn Fransisca; Elis Savitri; Shaid Muhammad Arviansyah
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.753

Abstract

Jumlah pengguna media sosial di Indonesia terus meningkat, memberikan peluang besar bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperluas jangkauan pasar dengan biaya yang relatif terjangkau. Sebagai contoh, Cleoralde, sebuah UMKM lilin aromaterapi di Medan, memiliki potensi besar untuk meningkatkan visibilitas merek dan penjualan melalui platform digital. Namun, seperti banyak UMKM lainnya, Cleoralde masih belum optimal dalam memanfaatkan potensi media sosial. Penelitian ini bertujuan merancang video iklan produk lilin aromaterapi Cleoralde sebagai media promosi di platform media sosial, untuk meningkatkan engagement dan persepsi positif audiens, serta mengetahui reaksi audiens terhadap video tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan Design and Development Research (DDR) dengan tahap analisis konteks (observasi dan kajian teori) untuk merancang visual treatment yang konsisten. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan strategi pemasaran digital UMKM, khususnya Cleoralde untuk meningkatkan visibilitas merek. Kontribusi utama penelitian ini adalah menyajikan kerangka kerja visual (tone, komposisi, narasi) yang efektif secara semiotis untuk mengkomunikasikan nilai emosional produk self-care di media sosial (Instagram dan TikTok).
Eksplorasi strategi visual dalam branding produk skincare lokal melalui desain kemasan minimalis Lisa Odillia; Okta Viviana Asmi Nusantari
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.834

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan desain kemasan minimalis perawatan kulit (skincare) sebagai strategi visual untuk membentuk citra merek dan identitasnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotik. Lima merek perawatan kulit lokal diteliti berdasarkan model interpretasi triadikal, yaitu ikonik, indeksikal, dan simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan minimalis dalam desain kemasan bukan hanya soal selera estetika, melainkan juga representasi budaya yang menggabungkan tren desain modern global dengan nilai-nilai etika dan spiritual yang khas. Setiap merek menginterpretasikan konsep minimalis secara berbeda untuk mencerminkan cerita uniknya, seperti menekankan kesucian spiritual, menonjolkan transparansi berbasis sains, mengedepankan kemewahan yang diidamkan, menggambarkan inklusivitas yang menyenangkan, dan merefleksikan keterjangkauan yang autentik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi branding minimalis berfungsi sebagai diskursus semiotik tentang kepercayaan, etika, dan identitas budaya, serta memberikan pandangan baru mengenai bagaimana penyederhanaan visual dapat memperkaya simbolisme dalam komunikasi merek.
Visual semiotic analysis of Nusantara cultural elements in the Aniwayang Desa Timun animation opening song Raden Daru Ramadinoto; Apsari Wiba Pamela; Rizka Rachmawati
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.841

Abstract

This study is motivated by concerns over the erosion of local cultural values among Indonesian youth due to the massive influx of foreign popular culture. Meanwhile, Aniwayang Studio has successfully adapted traditional wayang culture into a contemporary medium of animation. This innovative success is validated by significant global achievements, including appearances at the World Osaka Expo 2025 and the Kineko International Children's Film Festival in Japan, alongside recognition and support from the Indonesian Ministry of Education and Culture. Employing a qualitative descriptive method and the Charles Sanders Peirce semiotic approach the research seeks to understand how the studio adapts wayang and Nusantara culture by analyzing the visual and auditory signs within the animation. Data were collected through observation and documentation of the “Opening Song” episode of Serial Desa Timun. The findings indicate that the visual design, including the two-dimensional profiled characters, batik motifs, and a limited black color palette on a cream-brown background, effectively function as icons and indices of traditional wayang kulit (shadow puppet) theater. The appearance of various objects, along with the use of gamelan music acts as a strong index and symbol of Nusantara cultural heritage. The analysis suggests that the animation recontextualizes traditional wayang elements into a modern, accessible, and culturally rich format. The study concludes that this innovative approach positions "Aniwayang" as a good reference for cultural preservation, evidenced by its significant achievements. This research serves as a globally recognized case study for understanding how to revitalize cultural identity through digital media.
Balinese mask 3D modeling design using procedural nodes for digital preservation attempt Kadek Satria; Tito Ari Pratama; Ely Rosita
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.866

Abstract

Digital preservation of Indonesian art and culture has become an increasingly essential practice in the era of the Internet of Things, where accessibility and longevity of cultural heritage are paramount. This research focuses on the digital preservation process through a case study of Balinese art and culture, with a particular emphasis on the iconic Balinese masks. The study involved high-resolution photography of Balinese masks housed at the Setia Darma House of Mask and Puppets, which served as the foundation for creating detailed 3D models. This digital asset will be broken down in several steps of 3D modeling using Blender software and specifically utilized the procedural nodes to achieve lower file size but maintain the image quality. The result will show the significant effort to preserve art and culture in digital media by utilizing 3D software technology to create better visuals with effective file sizes.
Gaya pewarnaan anime dalam kaligrafi Asmaul Husna Farzan Feroz Syah Dermawan; Nurhablisyah; Titi Rosdiana; Asraffun Zuam Maulana; Anwar Soleh; Muajizin
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.892

Abstract

Kaligrafi Islam merupakan seni menulis indah, umumnya diambil dari sifat-sifat mulia Allah, seperti Asmaul Husna, sifat 20 maupun dari ayat-ayat Al Quran. Tujuan penelitian ini adalah merancang kaligrafi Asmaul Husna menggunakan gaya pewarnaan Anime agar lebih mendekatkan pada generasi muda terutama penyuka animasi Jepang. Selain itu, metode ini juga bisa menjadi media dakwah bagi remaja. Artikel ini merupakan perancangan eksperimen dalam mewarnai kaligrafi menggunakan pewarnaan gaya anime. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan metode eksperimen, data-data didapatkan melalui wawancara, studi literatur, dan observasi. Observasi dilakukan di wilayah Setu Bekasi, data wawancara dilakukan dengan Firman Widyasmara, ilustrator dari Lanting Animation. Hasil dari penelitian ini, kaligrafi Asmaul Husna berukuran 210 mm x 297 mm. Teks diambil dari bahasa Arab, Ar Rahiim, yang berarti kasih sayang, Maha Pengampun. Pewarnaan menggunakan warna-warna kontras, dominan biru, ungu, merah muda, kuning, jingga, putih, dan hitam. Warna tersebut membentuk ilustrasi abstrak maupun non-abstrak, seperti sinar bintang, geometris, dan lain sebagainya. Dari pewarnaan ini, kaligrafi terkesan lebih dinamis, cerah, muda, dan bersemangat. Jika seni kaligrafi bisa dikolaborasikan dengan gaya pewarnaan lain, diharapkan peminatnya makin luas dan menjadi sarana strategi dakwah. Kegiatan kaligrafi tidak hanya bagian ekstrakulikuler, tetapi juga berkembang untuk memenuhi kebutuhan lain seperti pameran, koleksi, dan lain-lain.
Studio Ghibli: Counter IP perspective on visual styles generated by AI image generators Andreas James Darmawan; Min-Sook Jeong; Hye-Kyung Kim
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.905

Abstract

This study quantitatively analyzes how the use of AI Image Generators to replicate Studio Ghibli’s visual style is perceived in public and academic discourse, particularly concerning legal, ethical, and cultural dimensions. Employing a quantitative content analysis using NVivo-assisted coding of secondary data gathered from 20 scholarly and professional publications between 2020 and 2025, the research investigates the evolving relationship between human creativity and generative technology. The results indicate that the majority of sources (60%) interpret AI’s role in the Ghibli context as a non-commercial form of transformative fair use that serves as a medium of Japanese cultural promotion, whereas 30% regard it as a potential copyright infringement, and 10% emphasize the need for new ethical regulation. The findings reveal the ambivalence of AI as both a challenge to human authorship and a catalyst for collaborative innovation that redefines aesthetic expression through algorithmic creativity. The phenomenon of Ghibli-style AI art also contributes to Japan’s cultural soft power, reinforcing its humanistic and ecological aesthetic values within the global digital sphere. The study concludes that conventional copyright frameworks are insufficient to regulate hybrid authorship involving humans and machines, necessitating new policies grounded in fairness, transparency, and moral responsibility. Furthermore, the study offers pedagogical and industrial implications, highlighting the importance of integrating AI ethics and intellectual property literacy into art education and creative practices to ensure a responsible and inclusive generative art future.
Design-led upcycling innovation via appropriate technology: A participatory study of women artisan in Jakarta’s circular economy Noel Febry Adrian; Adrian Azhar Wijanarko; Rambo Anzhar Moersid
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain (Article in Progress)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.927

Abstract

This study aims to discover how design-oriented community interventions can enable women artisans to transform plastic waste into increased economic value. The study was performed using a participatory methodology with Komunitas Pengrajin Rasyid, a collective of female artisans in Setu, Cipayung, East Jakarta. The program included five phases: socializing, training, technology implementation, mentorship, and sustainability planning. Data collection methodologies include observation, interviews, and documentation. Findings indicate that the implementation of suitable technologies, specifically the gas oven and pressing machine, markedly advancement from earlier single material weaving techniques, demonstrating the potential of material fusion to improve product stability, durability, and aesthetic value. The community developed three novel product prototypes; coasters, tableware holders, and tissue boxes exhibiting improved durability and aesthetic appeal. The introduction of clearer organizational structures, bookkeeping processes, and visual branding improved managerial and marketing capabilities. The results demonstrate that even minor technology and design modifications can yield significant social, economic, and environmental effects, hence enhancing the viability of community-based circular organizations. Future research should focus on longitudinal market testing of the new visual branding to assess its effectiveness, alongside consumer perception studies that evaluate how recycled products are interpreted in different market segments.

Page 3 of 4 | Total Record : 39