cover
Contact Name
Hilalludin
Contact Email
hilalluddin34@gmail.com
Phone
+6281999248333
Journal Mail Official
hilalluddin34@gmail.com
Editorial Address
bantek, Bagik payung lombok timur
Location
Kab. sumbawa barat,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Quran dan Pendidikan
ISSN : 31236251     EISSN : 31236251     DOI : -
Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Quran dan Pendidikan [ISSN 3123-6251] adalah jurnal akses terbuka yang diterbitkan oleh PT RisTekUtama (Riset Cendikia Teknologi Utama). Jurnal ini menjadi wadah untuk menyebarluaskan hasil penelitian ilmiah, kajian konseptual, serta pemikiran kritis di bidang pendidikan Islam, studi keislaman, dan pemikiran Islam secara umum. Artikel-artikel yang diterbitkan dapat berasal dari akademisi, peneliti, pendidik, dan praktisi di bidang pendidikan dan pemikiran Islam. Al-Hudaya menerima naskah berupa artikel hasil penelitian, tinjauan pustaka, dan diskusi ilmiah. Semua naskah yang masuk akan melalui proses tinjauan sejawat (peer-review) secara double-blind oleh para reviewer nasional maupun internasional yang kompeten di bidangnya. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember. Artikel yang telah dinyatakan diterima akan ditampilkan terlebih dahulu pada bagian In-Press sebelum diterbitkan secara resmi. Seluruh proses penerbitan dilakukan secara daring.
Articles 20 Documents
Kurikulum Merdeka Dan Implementasinya Dalam Pendidikan Bahasa Arab Maria Andieni Juniyanti; Ubaid Ridlo; Maswani Maswani
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 1 No 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran Bahasa Arab di sekolah dan madrasah selama ini menghadapi beberapa kendala yang membuat proses belajar cenderung monoton dan tidak komunikatif. Kurikulum Merdeka menawarkan cara baru untuk memperbaiki kondisi tersebut. Pendekatan diferensiasi memungkinkan guru menyesuaikan materi, proses, dan penilaian dengan kebutuhan siswa yang beragam. Struktur kurikulum yang berbasis Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) memberi fleksibilitas guru dalam merancang kegiatan yang lebih komunikatif, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan siswa. Artikel ini bertujuan menganalisis implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab, mencakup cara kerja kurikulum, penerapannya di kelas, serta identifikasi kelebihan dan kekurangannya bagi pengembangan kompetensi berbahasa. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah buku, regulasi resmi, dan jurnal nasional terakreditasi terkait kurikulum dan pembelajaran Bahasa Arab.Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas tinggi melalui diferensiasi pembelajaran, penguatan kompetensi komunikatif, serta penerapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang mampu memperkaya aktivitas bahasa, seperti muhadatsah, literasi, dan pembelajaran berbasis konteks. Kelebihannya terletak pada ruang kreativitas guru, penekanan pada kompetensi nyata, dan asesmen formatif yang lebih manusiawi. Namun, tantangan masih muncul dalam bentuk kesiapan guru, keterbatasan sarana, serta ketidaksinkronan beberapa materi Bahasa Arab dengan struktur kurikulum baru. Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka menawarkan kerangka yang lebih adaptif dan relevan bagi penguatan pembelajaran Bahasa Arab, dengan catatan bahwa keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada peningkatan kompetensi guru dan dukungan fasilitas pendidikan yang memadai.
Konsep Manusia Ideal dalam Pemikiran Pendidikan Islam Berdasarkan alqur’an dan hadits Aisyah Aisyah; Sarwadi Sarwadi
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 1 No 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep manusia ideal dalam perspektif pemikiran pendidikan Islam berdasarkan sumber utama ajarannya, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Fokus kajian diarahkan pada QS. Al-Baqarah ayat 30 yang menegaskan peran manusia sebagai khalifah di bumi, QS. Ali Imran ayat 102 yang menekankan pentingnya ketakwaan sebagai landasan hidup, serta hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi yang menyoroti pentingnya ilmu, akhlak, dan tanggung jawab dalam membentuk kepribadian muslim yang paripurna. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis tafsir dan tematik, penelitian ini menemukan bahwa manusia ideal dalam pendidikan Islam adalah individu yang mampu mengintegrasikan potensi akal, spiritual, dan moral secara seimbang. Ia berperan sebagai khalifah yang berilmu, bertakwa, dan berakhlak mulia, sehingga mampu mewujudkan fungsi pendidikan sebagai sarana pembinaan insan kamil. Dengan demikian, konsep manusia ideal dalam Islam bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul dalam keimanan, keikhlasan, dan pengabdian kepada Allah SWT.
Menuntut Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits: Telaah terhadap Surah Al-‘Alaq Ayat 1–5 dan Hadis Riwayat Al-Baihaqi Zainab Zainab; Sarwadi Sulisno
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 1 No 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji motivasi menuntut ilmu melalui perspektif Al-Qur’an dan hadits, dengan penekanan pada Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Latar belakang kajian ini didasarkan pada fenomena penurunan motivasi belajar yang signifikan dalam praktik pendidikan, di mana proses belajar cenderung berfokus pada kepentingan praktis seperti nilai, gelar, dan kewajiban administratif, sehingga mengabaikan dimensi spiritual dan tujuan transendental pendidikan Islam Penelitian ini menerapkan metode kepustakaan dengan cara mengumpulkan data melalui dokumentasi dari sumber-sumber primer dan sekunder yang berkaitan, seperti Al-Qur’an, hadits dan literatur terkait pendidikan Islam. Temuan studi menunjukkan bahwa Al-Qur’an dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 menegaskan pengetahuan sebagai dasar utama pembentukan individu yang beriman, berpikir, dan beradab. Perintah iqra’ mencerminkan kewajiban belajar yang meliputi membaca, menganalisis, berpikir kritis, dan menulis, serta menegaskan bahwa segala ilmu berasal dari Allah SWT dan tidak seharusnya dijadikan alat untuk kesombongan. Sementara itu, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi menegaskan posisi penting ilmu dalam kehidupan seorang Muslim dengan menawarkan berbagai peran keilmuan serta peringatan tegas terhadap sikap masa bodoh terhadap ilmu. Temuan ini menunjukkan  bahwa motivasi dalam menuntut ilmu dalam Islam memiliki sifat transendental dan praktis, berperan sebagai penuntutn iman penunjuk amal dan dasar pembangunan peradaban. Dalam konteks pendidikan Islam modern, nilai-nilai ini penting untuk mengubah motivasi belajar agar tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga menjadikan ilmu sebagai ibadah dan kewajiban sepanjang hidup.
Landasan Teologis Penghormatan Terhadap Ilmu Dalam Pendidikan Islam Kajian Tafsir QS. Al-Mujādalah Ayat 11 Dhyah Ajeng Sukmaningrum; Sarwadi Sarwadi
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 1 No 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Mujādalah ayat 11 menegaskan bahwa Allah ﷻ meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat di atas yang lain. Ayat ini menjadi landasan teologis yang kuat bagi konsep pendidikan dalam Islam, di mana ilmu tidak hanya dipahami sebagai instrumen duniawi, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memuliakan martabat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna QS. Al-Mujādalah ayat 11 serta implikasinya terhadap sistem pendidikan Islam kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i) dengan menelaah tafsir klasik dan modern, di antaranya Tafsir al-Ṭabarī, Tafsir Ibn Kathīr, dan Tafsir al-Marāghī. Hasil kajian menunjukkan bahwa penghormatan terhadap ilmu harus tercermin dalam sistem pendidikan Islam melalui penghargaan terhadap guru, penanaman budaya belajar sepanjang hayat, serta pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Dengan demikian, ayat ini tidak hanya berfungsi sebagai dasar normatif, tetapi juga sebagai motivasi spiritual dalam membangun peradaban Islam yang berilmu dan berakhlak.
Telaah Epistemologis atas Kritik al-Dzahabi terhadap Tafsir Ibn ‘Arabi Moh. Shofyan Saurie
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 1 No 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji hubungan antara positivisme, objektivitas pengetahuan, dan tafsir sufistik melalui telaah epistemologis atas kritik al-Dzahabi terhadap tafsir Ibn ‘Arabi. Permasalahan utama penelitian ini adalah ketegangan epistemologis antara klaim objektivitas tafsir berbasis riwayat dan rasionalitas dengan subjektivitas pengalaman mistik dalam tafsir sufistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutika filosofis untuk menelusuri asumsi dasar dan kerangka epistemik kedua pandangan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Dzahabi dan positivisme sama-sama menolak dominasi subjektivitas, namun bertolak dari landasan epistemologis yang berbeda: positivisme menekankan empirisme, sedangkan al-Dzahabi menekankan otoritas teks wahyu. Kajian ini menegaskan pentingnya integrasi antara objektivitas rasional dan kedalaman spiritual dalam pengembangan epistemologi tafsir Islam yang holistik dan seimbang.
Al-Qur'an-Based Character Education In Facing The Moral Crisis Of The Younger Generation Muhammad Ryan Anwar
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 1 No 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The growing moral crisis among today's young generation demands an educational system capable of instilling moral and spiritual values as the foundation of character formation. Qur'an-based character education serves as a strategic solution in shaping students with noble character and integrity. This study aims to describe the implementation of Qur'an-based character education in shaping students' morality and to analyze its impact on their behavior and academic culture in higher education. The research employed a descriptive, qualitative method with a field study approach, collecting data through in-depth interviews with 15 students actively involved in Qur'anic mentoring activities. Thematic analysis was conducted to identify the process of internalizing Qur'anic values and their manifestation in campus life. The findings reveal that the most dominant internalized Qur'anic values include honesty (ṣidq), responsibility (amānah), discipline (iltizām), social care (ta'āwun), patience (ṣabr), and humility (tawāḍu'). These values play a significant role in shaping students' integrity, discipline, empathy, and social awareness. Furthermore, the implementation of Qur'anic values contributes to creating a more ethical, harmonious, and spiritually grounded academic culture. Therefore, Qur'an-based character education has proven effective in addressing the moral crisis among youth by fostering a balance between intellectual, emotional, and spiritual intelligence. This model is expected to produce a Qur'anic generation with noble character, strong social responsibility, and the ability to contribute positively to modern society.
Peran Pendidikan Keluarga Dalam Perspektif Pemikiran Islam Dan Implementasinya Di Era Modern Luriana Rihadini; Nur Apriyanto
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 2 No 01 (2026): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan keluarga memiliki posisi fundamental dalam membentuk karakter, iman, dan perilaku anak. Dalam perspektif pemikiran Islam, keluarga dipandang sebagai lembaga pendidikan pertama yang menentukan arah perkembangan moral dan spiritual. Artikel ini bertujuan mengkaji peran pendidikan keluarga berdasarkan pemikiran ulama Islam klasik hingga modern, serta menganalisis bagaimana implementasinya perlu diadaptasi dalam konteks era modern yang ditandai dengan digitalisasi, pergeseran nilai sosial, dan tantangan global. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai dasar pendidikan keluarga dalam Islam keteladanan, pembiasaan ibadah, komunikasi, dan pengawasantetap relevan dan bahkan semakin dibutuhkan. Namun, adaptasi terhadap perkembangan teknologi, literasi digital, dan dinamika keluarga modern menjadi keharusan agar pendidikan keluarga tetap efektif. Implementasi pendidikan keluarga yang integratif antara nilai Islam, pengasuhan modern, dan pemanfaatan teknologi dinilai mampu membentuk generasi yang beriman, berakhlak, dan memiliki ketahanan moral.
Bersatu Dalam Keberagaman Membangun Budaya Inklusif Yang Menghargai Perbedaan Antawiria Wira Santanu; Kana Safrina Rouzi
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 2 No 01 (2026): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberagaman merupakan realitas yang melekat dalam kehidupan sosial dan pendidikan, mencakup perbedaan budaya, latar belakang sosial, kemampuan, karakter, serta kebutuhan belajar individu. Dalam konteks masyarakat yang semakin plural dan dinamis, keberagaman kerap menghadirkan tantangan berupa diskriminasi, eksklusi, dan ketimpangan akses apabila tidak dikelola secara inklusif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep keberagaman sebagai fondasi pembangunan budaya inklusif serta menganalisis peran pendidikan, khususnya guru dan praktik pembelajaran, dalam mewujudkan lingkungan belajar yang adil dan partisipatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan (library research) terhadap literatur ilmiah lima tahun terakhir (2021–2025) yang relevan dengan isu perbedaan individual, pendidikan inklusif, dan budaya inklusi. Data diperoleh dari artikel jurnal terindeks, laporan organisasi internasional, dan dokumen kebijakan pendidikan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk menemukan pola, tantangan, dan strategi penguatan budaya inklusif. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya inklusif berperan strategis dalam meminimalkan praktik diskriminasi serta menumbuhkan rasa aman, penerimaan, dan sense of belonging peserta didik. Keberhasilan inklusi sangat dipengaruhi oleh kompetensi dan sensitivitas guru terhadap perbedaan individual, penerapan pembelajaran diferensiatif, serta dukungan sistemik dari kebijakan dan budaya institusi pendidikan. Namun demikian, tantangan utama masih terletak pada kesenjangan antara kebijakan inklusif dan implementasinya di lapangan. Oleh karena itu, penguatan budaya inklusif memerlukan komitmen kolaboratif yang melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, dan pembuat kebijakan. Artikel ini menegaskan bahwa budaya inklusif yang menghargai perbedaan merupakan strategi transformatif dalam membangun lingkungan pendidikan dan sosial yang adil, harmonis, dan berkelanjutan.
Teori Perkembangan Dalam Perspektif Islam: Analisis Integratif Pemikiran Piaget, Vygotsky, Dan Erikson Dengan Nilai-Nilai Qur’ani Abdul Hamid; Kana Safrina Rouzi
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 2 No 01 (2026): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis integrasi teori perkembangan Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Erik Erikson dalam perspektif pendidikan Islam dengan pendekatan nilai-nilai Qur’ani. Kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menelaah sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan, baik dari literatur psikologi perkembangan maupun kajian pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori perkembangan modern memiliki relevansi konseptual yang kuat dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam, terutama dalam memahami perkembangan kognitif, sosial, dan psikososial peserta didik secara bertahap dan kontekstual. Nilai-nilai Qur’ani seperti tauhid, tanggung jawab moral, kesabaran, kerja sama, dan refleksi diri berfungsi sebagai landasan normatif yang mengarahkan proses perkembangan menuju tujuan spiritual dan pembentukan karakter. Integrasi teori perkembangan dan nilai Qur’ani memberikan kerangka pendidikan yang holistik, tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembinaan kepribadian dan kesadaran spiritual. Dengan demikian, pendidikan Islam yang mengadopsi pendekatan integratif ini diharapkan mampu merespons tantangan perkembangan peserta didik secara komprehensif dan relevan dengan dinamika zaman.
Istri Fir’aun Dalam Al-Qur’an: Iman Di Tengah Kekuasaan Dan Kedzaliman Siti Nur Azizah; Naszwa Dafina Huriyah; Pauziah Pauziah
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 2 No 01 (2026): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji kisah istri Fir’aun dalam Al-Qur’an sebagai representasi iman yang merdeka dari determinasi lingkungan, kekuasaan, dan relasi sosial. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis kajian pustaka, artikel ini menelaah ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan khususnya Surah At-Tahrim ayat 11 serta didukung oleh literatur tafsir dan kajian teologis kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memposisikan iman sebagai keputusan batin yang bersifat personal, sadar, dan transenden, bukan sebagai produk kondisi sosial maupun status struktural seseorang. Keimanan Asiyah binti Muzahim tumbuh di tengah sistem kekuasaan yang represif dan anti-tauhid, sehingga menegaskan bahwa tekanan eksternal tidak secara otomatis meniadakan kebebasan spiritual individu. Pembahasan lebih lanjut mengungkap bahwa kegagalan Fir’aun dalam menguasai iman istrinya menunjukkan batas absolut kekuasaan manusia. Iman Asiyah dipahami bukan sebagai sikap pasif, melainkan sebagai bentuk resistensi spiritual yang membebaskan diri dari penghambaan kepada selain Allah. Orientasi akhirat yang tercermin dalam doanya memperlihatkan pergeseran nilai, di mana keselamatan dan kemuliaan tidak lagi diukur secara duniawi, melainkan berdasarkan kedekatan dengan Allah. Artikel ini juga menyoroti kontras teologis dengan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth untuk menegaskan bahwa relasi sosial tidak menjamin keselamatan tanpa iman. Dalam konteks kontemporer, kisah ini relevan sebagai kritik terhadap tirani modern yang bekerja melalui tekanan sosial dan materialisme, sekaligus menawarkan kerangka pembebasan batin bagi manusia modern, khususnya perempuan, dalam mempertahankan integritas iman di tengah tantangan zaman.

Page 2 of 2 | Total Record : 20