cover
Contact Name
Andriyana
Contact Email
andriyana@uniku.ac.id
Phone
+6282121616969
Journal Mail Official
journal.fon@uniku.ac.id
Editorial Address
Jl. Cut Nyak Dien nomor 36A Cijoho Kuningan
Location
Kab. kuningan,
Jawa barat
INDONESIA
Fon; Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Published by Universitas Kuningan
ISSN : 20860609     EISSN : 26147718     DOI : https://doi.org/10.25134/
Core Subject : Education,
Jurnal ini memuat artikel dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran dan pengajaran Bahasa Indonesia serta sastra Indonesia. Ruang lingkup penelitian mencakup penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing. Penelitian dapat dilakukan di jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Subruang lingkup jurnal ini meliputi: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik, menyimak, berbicara, membaca, menulis, teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra bandingan, ekranisasi, sosiologi sastra, perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran.
Articles 341 Documents
ANALISIS KALIMAT DIALOG DALAM NASKAH DRAMA “PADA SUATU HARI” KARYA ARIFIN C. NOER Ida Hamidah; Hesti Angreaningsih
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/a900h595

Abstract

Judul penelitian ini adalah Analisis Kalimat Dialog dalam Naskah Drama “Pada Suatu Hari” Karya Arifin C. Noer (Sebuah Analisis Pragmatik tentang Deiksis dan Praanggapan). Rumusan masalah:1) bagaimana deiksis persona (orang) yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer?;2)bagaimana deiksis ruang yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer?;3) bagaimana deiksis waktu yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer?;4)bagaimana praanggapan yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer?Metode: deskriptif kualitatif. Simpulan: 1) deiksis persona yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer yaitu deiksis sayadilontarkan oleh tokoh Kakek, Nenek, Nyonya Wenas, Pesuruh, dan Novia ketika berdialog dengan tokoh lain; 2) deiksis ruang yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer yaitu deiksis itu, sini, kemari, kamar, ini, rumah, kamar praktek, dan di belakang dilontarkan olehtokoh Kakek, Nenek, Nyonya Wenas, dan Novia ketika berdialog dengan tokoh lain; 3) deiksis waktu yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer yaitu deiksis sekarang, dulu, nanti, kemarin, hari ini, besok, beberapa hari yang lalu, sebelas tahun yang lalu, tadi pagi, dan nanti dilontarkan oleh tokoh Kakek dan Nenek ketika berdialog dengan tokoh lain; 4) praanggapan yang terdapat pada kalimat dialog dalam naskah drama “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer dapat disimpulkan bahwa beberapa diantara kalimat dialog yang dilontarkan oleh tokohnya menggunakan kalimat-kalimat yang dalam keseharian mudah dipahami namun kalimat dialog tersebut yang justru menyiratkan makna lain sehingga menimbulkan dugaan-dugaan dalam memaknai kalimat dialog tersebut.
ANALISIS LAFAL ANAK USIA 21 BULAN DI DESA TUNDAGAN KECAMATAN HANTARA KABUPATEN KUNINGAN DILIHAT DARI KAJIAN FONOLOGI Ahmad Dedi Mutiadi; Ifah Hanifah; Ika Nartika
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/w7emwk52

Abstract

Judul penelitian ini adalah Analisis Lafal Anak Usia 21 Bulan di Desa Tundagan Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan Kecamatan Hantara dilihat dari Kajian Fonologi. Rumusan masalah: Bagaimana pelafalan anak usia 21 bulan di Desa Tundagan Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan. Tujuan: Ingin mengetahui tentang pelafalan anak usia 21 bulan di Desa Tundagan Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan pada saat bertutur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data tes dan observasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar tes. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia 21 bulan yang ada di desa Tundagan kecamatan Hantara kabupaten Kuningan. Simpulan:pelafalan anak usia 21 bulan dalam melafalkan kosa kata belum fasih dilafalkan karena dari hasil penelitian tersebut ditemukan tuturan yang belum lengkap, seperti penghilangan fonem, penggantian fonem, dan perubahan bunyi kata.
ANALISIS TOKOH DAN PERWATAKAN SERTA KONFLIK PADA NASKAH DRAMA “ BAPAK” KARYA B. SOELARTO DILIHAT DARI PSIKOLOGI KOMUNIKASI Aan Sugiantomas; Arip Hidayat; Syifa Noerrohmah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/zv6wn360

Abstract

Judul penelitian ini adalah Analisis Tokoh dan Perwatakan serta Konflik Pada Naskah Drama “ Bapak” Dilihat dari Psikologi Komunikasi. Rumusan Masalah: 1) Bagaimanakah tokoh dan perwatakan pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto ?; 2) Bagaimanakah konflik pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto ?; 3) Bagaimanakah tokoh dan perwatakan pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto dilihat dari psikologi komunikasi ?; 4) Bagaimanakah konflik pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto dilihat dari psikologi komunikasi ? Tujuan Penelitian: 1) Ingin mengetahuitokoh dan perwatakan pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto; 2) Ingin mengetahui konflik pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto; 3) Ingin mengetahui tokoh dan perwatakan pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto dilihat dari psikologi komunikasi ; 4) Ingin mengetahui konflik pada naskah drama “ Bapak” karya B. Soelarto dilihat dari psikologi komunikasi. Metode: analisis deskriptif kualitatif. Simpulan: Konfliknya adalah perbedaan prinsip yang dipegang masing-masing tokoh dan pengkhianatan terhadap negara. Tokoh dan perwatakannya terdiri dari Tokoh Utama ( Protagonis) yaitu Bapak, Tokoh Protagonis yaitu Sulung serta Tokoh Tritagonis yaitu Bungsu dan Perwira. Tokoh dan perwatakan dihubungkan dengan psikologi komunikasi, dilihat dari isi pesan tiap dialog tokoh bapak penuh dengan keyakinan yang sangat tepat,tokoh sulung cenderung tidak mau mengalah,tokoh bungsu ingin segera menyelesaikan permasalahan dan tokoh perwira selalu membantu tokoh lain. Dilihat dari proses berpikir, tokoh bapak mempunyai pemikiran panjang. Tokoh sulung mempunyai pemikiran yang tidak wajar. Tokoh bungsu dan perwira mempunyai pemikiran yang baik, walaupun dia sibuk dengan kemiliterannya. Konflik dihubungkan dengan psikologi komunikasi yaitu dilihat dari isi pesannya bahwa di setiap dialog mempunyai makna tersendiri. Dilihat dari proses berpikir antar tokoh sangat berbeda, diantaranya tokoh bapak, dia mempunyai pemikiran panjang tentang masa depannya. Tokoh sulung mempunyai pemikiran pendek, dia ingin segera pindah ke negara asing yaitu Belanda. Dilihat dari stimulus respons yang terjadi, setiap rangsangan para tokoh hanya ditanggapi saja tanpa dilakukan.
PERBANDINGAN SK DAN KD PADA STANDAR ISI KURIKULUM 2006 DENGAN KI DAN KD PADA STANDAR ISI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SMA KELAS XI DILIHAT DARI TAKSONOMI TUJUAN PEMBELAJARAN, CAKUPAN KETERAMPILAN BERBAHASA, ILMU KEBAHASAAN DAN ILMU KESAS Aan Sugiantomas; Asep Jejen Jaelani; Ria Handayani
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/4vfkag46

Abstract

Judul penelitian ini adalah Perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA Kelas XI Dilihat dari Taksonomi Tujuan Pembelajaran, Cakupan Keterampilan Berbahasa, Ilmu Kebahasaan dan Ilmu Kesastraan. Rumusan masalah : 1) bagaimana taksonomi tujuan pembelajaran pada SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI?; 2) bagaimana taksonomi tujuan pembelajaran pada KI dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI wajib?; 3) bagaimana perbandingan taksonomi tujuan pembelajaran pada SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI?; 4) bagaimana perbandingan SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI dilihat dari cakupan Keterampilan Berbahasa?; 5) bagaimana perbandingan SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI dilihat dari cakupan Ilmu Kebahasaan?; 6) bagaimana perbandingan SKKD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KIKD dalam Standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI dilihat dari cakupan ilmu kesastraan?. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui taksonomi tujuan pembelajaran pada SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI, 2) mengetahui taksonomi tujuan pembelajaran pada KI dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI wajib, 3) mengetahui perbandingan taksonomi tujuan pembelajaran pada SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI, 4) mengetahui perbandingan SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI wajib dilihat dari cakupan keterampilan berbahasa, 5) mengetahui perbandingan SK dan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI wajib dilihat dari cakupan ilmu kebahasaan, 6) mengetahui perbandingan SKdan KD dalam Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas XI wajib dilihat dari cakupan ilmu kesastraan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Simpulan dalam penelitian ini yaitu taksonomi tujuan pembelajaran yang terdapat dalam SKKD Kurikulum 2006 ternyata lebih mendominasi pada ranah kognitif jenjang pemahaman (C2). Sedangkan Taksonomi Tujuan Pembelajaran yang terdapat dalam KIKD Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XI (wajib), ternyata lebih mendominasi pada ranah kognitif jenjang penerapan (C3). Maka dari itu, jika dibandingkan Taksonomi Tujuan Pembelajaran yang terdapat dala SKKD Kurikulum 2006 dengan KIKD Kurikulum 2013 ternyata sama-sama mendominasi kedalam ranah Kognitif, yang membedakan hanyalah jenjangnya saja. Cakupan keterampilan berbahasa dalam SKKD dan KIKD mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XI yang lebih mendominasi adalah keterampilan berbahasa berbicara dan menulis. Cakupan ilmu kebahasaan dalam SKKD mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XI yang lebih mendominasi adalah semantik, sementara KIKD mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XI wajib semua cakupan ilmu kebahasaan terealisasikan secara merata. Cakupan ilmu kesastraan dalam SKKD mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XI dan KIKD mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XI wajib, lebih dominan pada kesastraan drama (film/drama).Kata kunci : perbandingan, taksonomi tujuan pembelajaran, keterampilan berbahasa, ilmu kebahasaan, ilmu kesastraan, mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XI, standar isi kurikulum 2006, standar isi kurikulum 2013.
PERBANDINGAN SK DAN KD PADA STANDAR ISI KURIKULUM 2006 DENGAN KI DAN KD PADA STANDAR ISI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SMA KELAS X DILIHAT DARI TAKSONOMI TUJUAN PEMBELAJARAN, CAKUPAN ILMU KETERAMPILAN BERBAHASA, ILMU KEBAHASAAN DAN ILMU K Aan Sugiantomas; Asep Jejen Jaelani; Lucy Evelin Pujiastuti
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/m1s3g498

Abstract

Judul penelitian ini adalah Perbandingan SK dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada Standar Isi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA Kelas X Dilihat dari Taksonomi Tujuan Pembelajaran, Cakupan Ilmu Keterampilan Berbahasa, Ilmu Kebahasaan dan Ilmu Kesastraan. Rumusan masalah: 1) bagaimana taksonomi tujuan pembelajaran dalam SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X?; 2) bagaimana taksonomi tujuan pembelajaran dalam KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X (wajib)?; 3) bagaimana perbandingan taksonomi tujuan pembelajaran dalam SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X?; 4) bagaimana perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu keterampilan berbahasa?; 5) bagaimana perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu kebahasaan?; 6) bagaimana perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu kesastraan? Tujuan: 1) ingin mengetahui taksonomi tujuan pembelajaran dalam SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X; 2) ingin mengetahui taksonomi tujuan pembelajaran dalam KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X (wajib); 3) ingin mengetahui perbandingan taksonomi tujuan pembelajaran dalam SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X; 4) ingin mengetahui perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu keterampilan berbahasa; 5) ingin mengetahui perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu kebahasaan; 6) ingin mengetahui perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu kesastraan. Metode: deskriptif kualitatif. Simpulan: taksonomi tujuan pembelajaran dalam SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X lebih mendominasi kedalam ranah kognitif jenjang pemahaman (C2), selanjutnya ranah psikomotor jenjang meniru (P3), dan ranah afektif jenjang penerimaan (A1); taksonomi tujuan pembelajaran dalam KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X (wajib) lebih mendominasi kedalam ranah kognitif jenjang penerapan (C3), selanjutnya ranah afektif jenjang karakterisasi nilai (A5), dan ranah psikomotor jenjang membiasakan (P4); perbandingan taksonomi tujuan pembelajaran dalam SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 dengan KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X ternyata sama-sama mendominasi kedalam ranah kognitif, namun perbedaannnya terletak pada jenjang ranah kognitif tersebut, dalam SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 mendominasi kedalam ranah kognitif jenjang pemahaman (C2) sedangkan dalam KI dan KD pada standar isi kurikulum 2013 mendominasi kedalam ranah kognitif jenjang penerapan (C3); perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu keterampilan berbahasa yang lebih mendominasi adalah ilmu keterampilan menulis, sedangkan dalam KI dan KD yang lebih mendominasi adalah ilmu keterampilan berbicara (berbicara resmi dan tidak resmi) dan menulis (menulis narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi); perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu kebahasaan yang lebih mendominasi adalah ilmu kebahasaan semantik (jenis makna), sedangkan dalam KI dan KD yang lebih mendominasi adalah fonologi (bunyi segmental dan suprasegmental), morfologi (kata), sintaksis (kalimat), semantik (jenis makna, relasi makna, dan majas); perbandingan SK dan KD pada standar isi kurikulum 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X dilihat dari cakupan ilmu kesastraan yang lebih mendominasi adalah ilmu kesastraan prosa fiksi, sedangkan dalam KI dan KD yang mendominasi adalah puisi, prosa fiksi, dan drama, hampir semua ilmu kesastraan sama rata dapat terrealisasi dalam KI dan KD SMA Kelas X (wajib), namun kedudukan ilmu kesastraan di sini adalah hanya untuk menunjang siswa dalam memperoleh dan menyampaikan informasi melalui teks-teks yang terdapat dalam KI dan KD SMA Kelas X, artinya teks sastra tersebut bukan teks wajib yang harus dipelajari atau dipahami oleh siswa, melainkan teks-teks wajib yang seharusnya dipelajari dan dipahami oleh siswa yakni teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi.
PENERAPAN TEKNIK “PASAR” DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Evi Yesifina Dumarista
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/7cw2vg24

Abstract

Penelitian ini berawal dari pengamatan peneliti terhadap respon dan minat mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Hasil angket atau kuesioner menyebutkan bahwa pengajaran dosen yang konvensional menjadi faktor utama mahasiswa kurang menyukai pembelajaran bahasa Indonesia. Di samping itu, materi yang kurang menarik atau tidak penting juga menjadi faktor pelengkap kurangnya kesadaran atau minat mahasiswa dalam menyikapi pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan demikian, perlu adanya intervensi berupa suatu teknik agar pembelajaran bahasa Indonesia dapat menyenangkan dan efektif. Adapun tujuan penelitian dari penerapan teknik “pasar” adalah untuk meningkatkan kemandirian, kecerdasan emosional, aspek kognitif, saling ketergantungan, multi sensasi, kesenangan, dan artikulasi. Sedangkan elemen yang diperoleh dalam aktivitas pembelajaran yaitu berupa kerja individu/kelompok, keterampilan berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, dan melihat. Peneliti menggunakan metode penyelidikan (inquiry learning) dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Hasil data kuantitatif dan deskriptif dapat menjelaskan sintaks pembelajaran secara rinci. Dengan demikian berdasarkan hasil analisis data, peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan teknik “pasar” efektif dalam meningkatkan tidak hanya minat, tetapi kreativitas mahasiswa untuk menentukan suatu pendekatan sampai media pembelajaran yang akan digunakan di kelas.
Pembelajaran Penulisan Kalimat Majemuk dengan Self-learning CD Yuliana Ambarsari; Maguna Eliastuti
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/gtxk5e20

Abstract

Penelitian ini adalah sebagai pengaplikasian sebuah penelitian pengembangan model tentang prototipe media web-based yang kemudian diimplementasikan ke dalam bentuk CD untuk pembelajaran sendiri. Target dari penelitian lanjutan ini adalah untuk membantu peserta didik kelas 11 agar mereka dapat mengembangkan pengetahuan mereka tentang pembentukan kalimat majemuk (bertingkat dan setara) secara mandiri. Dengan CD pembelajaran mandiri ini, diharapkan kemampuan mereka dalam menulis karangan narasi menjadi lebih baik karena mereka mampu menulis kalimat majemuk setara/bertingkat dalam esai narasi yang mereka tulis. Penelitian kuantitatif ini dilakukan dengan kuasi eksperimen dimana 30 peserta didik dari dua kelas 11 diambil secara acak sebagai sampel. Pre-tes dilakukan dengan meminta peserta didik menulis karangan narasi dengan tema “Best things in last vacation”, dan pos-tes dilakukan dengan meminta mereka menulis karanga narasi bertema “Bad things in Last vacation.” Setelah pre-tes, peserta didik diberikan CD pelatihan pembentukan kalimat bahasa Inggris selama satu minggu. Post-test dilakukan setelah mereka melakukan pembelajaran mandiri dengan menggunakan CD. Hasil kemudian dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian holistik (Brown , 2004, h.242). Hasil dari penghitungan SPSS 22.0 menyatakan bahwa terdapat hasil yang signifikan dari hasil pembelajaran mandiri dengan menggunakan CD pembelajaran Pembentukan Kalimat Majemuk.
ANALISIS WACANA KRITIS PADA NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL” KARYA NAWAL EL SAADAWI DITINJAU DARI TOKOH DAN PERWATAKAN, KONFLIK SERTA AMANAT Sun Suntini
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/hxhyys56

Abstract

Wacana merupakan satuan kebahasaan yang paling lengkap dan paling kompleks dibandingkan dengan satuan kebahasaan yang lain. Kompleks di sini artinya dalam wacana banyak sekali unsur pendukungnya, satuan pendukung kebahasaan yang lain diantaranya fonem, morfem, frasa, klausa, dan kalimat. Suatu tulisan dapat dikatakan wacana jika memenuhi syarat dalam pembentukan suatu wacana diantaranya adanya kohesi dan koherensi. Kohesi adalah kepaduan bentuk secara srtuktural contoh adanya referensi, substitusi, ellipsis, konjungsi dan sebagainya, sedangkan koherensi berhubungan dengan makna. Berdasarkan media penyampaiannya wacana dapat dibagi dua yaitu ada wacana lisan dan ada wacana tulis. Wacana lisan yaitu jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung, sedangkan wacana tulis yaitu wacana yang disampaikan melalui tulisan. Pada dasarnya wacana itu lisan karena pertama kali manusia berkomunikasi secara lisan, tetapi seiring perkembangan zaman saat ini lebih banyak wacana tulis dibandingkan wacana lisan. Analisis wacana kritis (AWK) adalah sebuah upaya atau proses untuk memberi penjelasan (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok yang mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh yang diinginkan (Yoce Aliah Darma, 2009: 49). Analisis yang dimaksud adalah upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari penulis yang mengemukakan suatu pernyataan. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu 1) Bagaimanakah perwatakan tokoh pada novel “perempuan di titik nol” karya Nawal el Saadawi ?2) Bagaimanakah konflik pada novel “perempuan di titik nol” karya Nawal el Saadawi ?3) Bagaimanakah amanat pada novel “perempuan di titik nol" karya Nawal el Saadawi?4) Bagaimanakah analisis wacana kritis pada perwatakan dalam novel “perempuan di titik nol” karya Nawal el Saadawi ?5) Bagaimanakah analisis wacana kritis pada konflik dalam novel “perempuan di titik nol” karya Nawal el Saadawi?6) Bagaimanakah analisis wacana kritis pada amanat dalam novel “perempuan di titik nol” karya Nawal el Saadawi?Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis. Objek penelitian ini adalah novel berjudul “Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal el-Saadawi”Setelah dilakukan penelitian terhadapa novel dengan cara dianalisis, hasil kesimpulannya yaitu 1) Tokoh laki-laki dalam novel ini mempunyai karakter cendering berkuasa dalam segala aspek kehidupan terutama menguasai perempuan banyak ketidakadilan yang dialami oleh perempuan.Tokoh perempuannya cenderung lemah sehingga mereka dengan mudah dikuasai dan ditindas oleh kaum laki-laki dan akhirnya mereka tidak percaya lagi dengan laki-laki dan ingin hidup bebas , mereka merasa ikatan rumahtangga merupakan perbudakan bagi kaum perempuan. konflik dalam novel ini terjadi anatar laki-laki dan perempuan dikarenakan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan dan pada akhirnya perempuan kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki. Amanat dari novel ini adalah tentang kekuasaan/hegemoni laki-laki terhadap perempuan dan akhirnya perempuan memilih jadi feminis.
KONSERVASI DAN REVITALISASI BAHASA SEBAGAI SALAH SATU UPAYA INTERNASIONALISASI BAHASA INDONESIA Yusida Gloriani
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/h36few07

Abstract

Jika kita menengok kembali pada isi Sumpah Pemuda tahun 1928 yang berkaitan dengan bahasa yaitu: Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia, maka kita bisa mengambil makna dari pernyataan tersebut yaitu bahwa para pemuda Indonesia pada saat diikrarkannya Sumpah Pemuda memiliki sifat dan rasa kebangsaan yang tinggi. Mereka bersumpah dengan tekad yang bulat menyatakan diri untuk menjaga tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Apa makna dari sumpah: menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia? Kata ‘menjunjung’ menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah membawa di atas kepala, menaati, memuliakan, menghormati, menghargai. Berdasarkan arti tersebut, maka kita selaku bangsa Indonesia, sebagai generasi penerus bangsa, berkewajiban untuk melanjutkan cita-cita tersebut. Namun ternyata untuk melaksanakan amanat tersebut tidak semudah mengucapkannya. Seiring dengan perkembangan zaman, sifat bangga dan loyal pada bahasa sendiri yaitu bahasa Indonesia semakin terkikis. Masuknya budaya asing, pengaruh bahasa pada media sosial, perkembangan teknologi komunikasi ternyata memberikan dampak, khususnya anak muda lebih bangga jika berkomunikasi menggunakan bahasa milik orang lain (bahasa asing) yang dianggapnya lebih modern atau lebih dihormati.
SISTEM SAPAAN KERABAT KERATON SURAKARTA HADININGRAT Muhamad Rinzat Iriyansah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/868eyy82

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan sistem sapaan yang sering digunakan oleh masyarakat Keraton Surakarta Hadiningrat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi. Pengumpulan data dilaksanakan dengan metode simak, libat, cakap, rekam, dan catat. Analisis data dalam penelitian ini secara deskriptif dengan menggunakan analisis isi. Hasil dari wawancara dikodifikasikan kemudian dimasukan kedalam instrumen penelitian dan dianalisis. Hasil penelitian menunjukan dalam sistem sapaan Keraton Surakarta Hadiningrat terdapat sepuluh kriteria yang bisa digunakan untuk menyapa, yaitu berdasarkan kekerabatan, berdasarkan keturunan, berdasarkan situasi, berdasarkan status sosial, berdasarkan asal, berdasarkan keintiman, berdasarkan jenis kelamin, berdasarkan status pernikahan, berdasarkan usia, dan berdasarkan gelar. Sistem sapaan yang digunakan kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat diketahui yang paling banyak muncul adalah sapaan yang berdasarkan asal dari kota berjumlah 52 kata atau 7,8% dan yang paling jarang muncul adalah sapaan berdasarkan gelar keagamaan berjumlah 1 kata atau 0,1%.

Page 11 of 35 | Total Record : 341