cover
Contact Name
Andriyana
Contact Email
andriyana@uniku.ac.id
Phone
+6282121616969
Journal Mail Official
journal.fon@uniku.ac.id
Editorial Address
Jl. Cut Nyak Dien nomor 36A Cijoho Kuningan
Location
Kab. kuningan,
Jawa barat
INDONESIA
Fon; Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Published by Universitas Kuningan
ISSN : 20860609     EISSN : 26147718     DOI : https://doi.org/10.25134/
Core Subject : Education,
Jurnal ini memuat artikel dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran dan pengajaran Bahasa Indonesia serta sastra Indonesia. Ruang lingkup penelitian mencakup penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing. Penelitian dapat dilakukan di jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Subruang lingkup jurnal ini meliputi: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik, menyimak, berbicara, membaca, menulis, teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra bandingan, ekranisasi, sosiologi sastra, perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran.
Articles 341 Documents
STRUKTUR TEMATIK BERITA PENYALAHGUNAAN NARKOBA HARIAN MEDIA INDONESIA (ANALISIS WACANA KRITIS TEUN A. VAN DIJK) Cut Purnama Sari
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/k33fx926

Abstract

Struktur Tematik Berita Penyalahgunaan Narkoba Harian Media Indonesia: Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk. Penelitian ini mengkaji tentang struktur tematik yang digunakan wartawan dalam menulis berita, khususnya berita tentang penyalahgunaan narkoba pada harian media Indonesia. Penggunaan struktur tematik tersebut berdasarkan pada analisis wacana kritis dengan model yang dikemukakan oleh Teun A. Van Dijk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskiptif analisis. Berdasakan hasil pembahasan, wartawan harian media Indonesia yang menulis berita tentang penyalahgunaan narkoba menggunakan struktur teks makro atau struktur teks global dalam menulis berita.
ANALISIS PENERJEMAHAN KATA-KATA SLANG DALAM HASIL PENERJEMAHAN FILM “AUSTIN POWER; THE SPY WHO SHAGGED ME” Muhammad Aprianto Budie Nugroho
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/64wxar15

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penerjemahan kata-kata slang dan kesetaraan penerjemahan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menerjemahan karya sastra berupa film berjudul, “Austin Powers; The Spy who Shagged Me”. Peneliti menggunakan metode qualitatif. Peneliti menggunakan beberapa langkah dalam penelitian mulai dari pengumpulan yaitu berupa observasi data dan menganalisis dokumen data. Dalam menganalisis penerjemahan yang dilakukan oleh mahasiswa peneliti menggunakan teori Newman dan dalam menganalisis kesetaraan dalam penerjemahan peneliti menggunakan teori Baker. Dalam penelitian ini diketemukan fakta bahwa mahasiswa mampu menerjemahkan 6 kata slang dari 12 kata slang yang terdapat dalam film berjudul, “Austin Power; The Spy Who Shagged Me”, sedangkan dalam kesetaraan penerjemahan terdapat 3 kesetaraan yang digunakan dalam menerjemahkan dari 3 jenis kesetaraan yang ada.
STRATEGI MENULIS YANG DIGUNAKAN OLEH MAHASISWA DALAM ESAI ARGUMENTATIF Erwin Oktoma; Dede Rizky Amalia
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/95dz9d77

Abstract

Penelitian ini menganalisis mengenai strategi menulis yang digunakan oleh Mahasiswa dalam menulis esai argumentatif dan mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh para Mahasiswa dalam menulis essay argumentatif berdasarkan teori McLean (2012), ada beberapa strategi menulis yang akan membantu para penulis ataupun para Mahasiswa terutama Mahasiswa perguruan tinggi untuk dapat menyelesaikan tugas menulis mereka dengan baik. Strategi menulis tersebut dibagi menjadi 4 langkah, seperti: menggunakan proses menulis, mengelola waktu, menetapkan tujuan, dan menggunakan sumber pengetahuan yang ada di dalam perguruan tinggi. Metode yang di gunakandalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Berdasarkan analisis data pada mahasiswa/i kelas tiga di satu perguruan tinggi swasta di Kuningan, Jawa Barat, dapat ditarik beberapa kesimpulan. Para mahasiswa/i menggunakan lebih dari satu strategi penulisan ketika mereka menulis esai argumentatif. Strategi yang digunakan oleh para mahasiswa/i adalah kita dalam proses penulisan, pengelolaan waktu, penetapan tujuan, dan penggunaan beberapa sumber kuliah. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa/i adalah menggunakan strategi proses penulisan 17 (42,5%.) Strategi ini membantu siswa dalam mengatasi keterbatasan penulisan esai argumentatif. Temuan ini juga menunjukkan strategi penulisan lainnya yang digunakan oleh mahasiswa/i, seperti, membaca lebih banyak materi, membuat draf atau garis besar, melakukan penulisan bebas, membuat skuad terdiri dari beberapa kotak untuk mengklasifikasikan setiap struktur esai, dan salah satu mahasiswa/i mengacu pada kegiatan terkait internet lainnya seperti membaca lebih banyak jurnal dan artikel bahasa Inggris. Strategi tersebut digunakan untuk mengatasi kesulitan mahasiswa/i dalam menulis esai argumentatif.
MANTRA PENGOBATAN DALAM UPACARA PENYEMBUHAN TERHADAP KARAKTERISTIK MASYARAKAT LEBAK - BANTEN Dini Fitriani
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/0trk7474

Abstract

Mantra adalah salah satu jenis wacana tulis dan lisan, sebab mantra bisa digunakan diberbagai konteks atau kebutuhan sesuai dengan sudut pandang yang akan digunakan. Bentuk mantra biasanya secara tertulis, namun cara penggunaan mantra biasanya berbentuk lisan, dalam mantra terdapat isi atau makna yang terkandung untuk suatu hal yang mengenai kepentingan pribadi(sakral). Mantra yang dimaksud oleh peneliti adalah mantra untuk pengobatan. Mantra pengobatan adalah salah satu budaya yang saat ini masih digunakan bahkan di lestarikan oleh masyarakatnya, terutama pada masyarakat di Kampung Cicadas, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak-Banten. Kepercayaan terhadap mantra pengobatan tersebut dapat menngambarkan karakteristik masyrakat akan kebiasaan atau budaya dalam pengobatan suatu penyakit. Dengan adanya mantra pengobatan pada lingkungan masyarakat tersebut, pada setiap mengobati suatu enyakit masyarakan lebih mendahulukan pengobatan kepada orang yang biasa mengobati dengan mantra.
KESADARAN FONOLOGI PADA ANAK USIA 3 TAHUN Asti Ramadhani Endah Lestari
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jw25c855

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran fonologi pada anak usia 3 tahun. Kesadaran fonologi merupakan salah satu keterampilan penting dalam kegiatan persiapan belajar membaca bagi anak usia dini. Responden dalam penelitian ini adalah tiga orang anak usia tiga tahun yang terdiri atas dua perempuan dan satu laki-laki. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan uji kerja. Uji kerja terhadap responden dilakukan dengan menggunakan pedoman uji kerja yang diadaptasi dari PAST (Phonological Awareness Skill Test) yang dikembangkan oleh GRRC (Green River Regional Education Center), Kentucky, Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak usia 3 tahun sudah memiliki kesadaran fonologi yang baik pada tingkatan pemenggalan kalimat, pengenalan bunyi berima, produksi bunyi berima, dan penggabungan suku kata. Kata kunci : kesadaran fonologi, anak usia dini, fonologi
KESALAHAN SINTAKSIS PADA KARANGAN EKSPOSISI SISWA SMP NEGERI 254 JAKARTA Endang Wiyanti
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/pama3j41

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesalahan sintaksis pada karangan eksposisi siswa kelas IX SMP Negeri 254 Jakarta. Metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis karangan eksposisi tersebut adalah metode analisis isi (content analysis) dengan pendekatan kualitatif. Karangan eksposisi siswa yang diteliti berjumlah 34 karangan. Jenis kesalahan sintaksis yang ditemukan terdiri atas kesalahan pada ketidaktepatan bentuk kata sebanyak 103 kalimat atau 27,8%, kalimat yang tidak tepat dalam pilihan kata/diksi sebanyak 88 kalimat atau 23,7%, kalimat mubazir atau pleonasme sebanyak 87 kalimat atau 23,4%, kalimat yang berstruktur tidak baku sebanyak 42 kalimat atau 11,3%, kalimat yang ambigu sebanyak 20 kalimat atau 5,4%, kalimat yang tidak memiliki logika atau mengalami kesalahan nalar sebanyak 17 kalimat atau 4,6%, dan kontaminasi atau kerancuan kalimat sebanyak 14 kalimat atau 3,8%. Berdasarkan persentase hasil temuan, dapat disimpulkan bahwa siswa masih menggunakan pilihan kata/diksi yang kurang tepat, struktur kalimat yang tidak baku, bentuk kata yang tidak tepat, kalimat mubazir, kalimat rancu, dan kalimat ambigu. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk menentukan langkah-langkah dalam proses pembelajaran, menyusun materi pembelajaran secara bertahap dari yang mudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang rumit, dan sebagainya.
KEPRIBADIAN TOKOH JAMILA DALAM NASKAH DRAMA “PELACUR DAN SANG PRESIDEN” KARYA RATNA SARUMPAET DITINJAU DARI GERAKAN FEMINISME LIBERAL Muhammad Bayu Gumelar; Ajat Sudrajat; Arip Hidayat
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/nk45td51

Abstract

Penelitian ini merupakan suatu analisis kualitatif tentang kepribadian tokoh Jamila yang terdapat dalam naskah drama “Pelacur dan Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet ditinjau dari gerakan feminisme liberal. simpulan kepribadian tokoh Jamila; mempunyai kepribadian Koleris; egois, emosional, pemberontak, orang yang bisa berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain, berorientasi pada tujuan, mempunyai kualitas kepemimpianan sejak lahir, mempunyai sikap menantang, keras kepala, bebas, mandiri, disipin dalam hidup, mengoreksi yang tidak benar, serba memaksa, membuat keputusan dengan segala konsekuensinya, mengambil kuasa dengan cepat dan tegas, lebih tertarik mencapai tujuan daripada menyenangkan hati orang lain, kurang ramah tamah, jujur, ingatan kuat, imajinasi kuat, rasa benci kuat, jarang dicintai, banyak orang takut padanya, sulit memahami titik tolak pemikiran orang lain, berjuang sampai tujuan tercapai, pikiran diisi tujuan cita-cita dan rencana, orang yang tekun bekerja, daya tahan kuat, lebih banyak menyelesaikan pekerjaan dari watak lainnya. Kepribadian tokoh Jamila ditinjau dari Gerakan Feminisme Liberal; (1) perempuan harus berpikir rasional, perempuan tidak lebih lemah dari laki-laki, apabila mendapat represi maka perempuan berhak untuk melawan, (2) menolak pola pikir yang membelenggu untuk tidak mendapat kebahagiaan, (3) memperjuangkan masyarakat agar wajib memberikan pendidikan kepada perempuan seperti halnya pendidikan kepada laki-laki, (4) menolak peran gender yang opresif, yaitu peran yang digunakan sebagai alasan untuk memberikan tempat yang rendah bagi perempuan atau tidak memberikan tempat sama sekali.
KAJIAN TOKOH WAYANG GOLEK PURWA DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR DALAM MENYAMPAIKAN PENGAJARAN SASTRA UNTUK MENINGKATKAN NILAI-NILAI BUDI PEKERTI PESERTA DIDIK Aan Anjasmara
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/vbp39b61

Abstract

Bahan ajar merupakan bagian dalam pembelajaran yang memiliki peranan penting untuk menjawab tuntutan kurikulum. Bahan ajar yang dimaksud adalah bahan ajar pendidikan Bahasa Indonesia merupakan pintu masuk untuk mencapai permintaan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam kurikulum 2013. Seyogiyanya bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik merupakan bahan ajar yang dirancang oleh guru mata pelajaran yang dimaksud dengan memperhatikan tuntutan permintaan KI dan KD dalam kurikulum yang digunakan, dalam hal ini kurtilas. Ketepatan pembuatan bahan ajar sangat berperan sehingga permintaan dalam kurikulum bisa tercapai siswa pun dapat memahaminya dengan mudah. Hasil dalam penelitian ini penulis membuat modul yang dilengkapi RPP yang akan menjawab tuntutan KI dan KD, dalam hal ini KD 3.7, 4.7 dan 3.8,.4.8. materi di dalamnya menghadirkan contoh cerita wayang golek purwa. Hadirnya cerita wayang golek purwa dapat melestarikan khasanah kebudayaan Indonesia khususnya ditatar Jawa Barat. Disamping itu keberadaannya akan mudah diterima oleh peserta didik (peserta didik yang dimaksud yang berada ditatar Jawa Barat). Hadirnya bagah ajar yang disusun semoga dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi KD 3.7, 3.8, 4.7, dan 4.8 dengan mudah dan dapat dipahami oleh peserta didik, karena contoh yang disediakan cerita wayang golek purwa dapat dipakai dijenjang kelas X semester I.
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA YANG MENCERDASKAN DAN TANGGUNG JAWAB MENGHASILKAN GENERASI LITERAT Sarwiji Suwandi
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/hm6ez158

Abstract

Melalui surat undangan untuk menjadi pembicara dalam rangka Seminar Nasional di Universitas Kuningan saya diberi tahu bahwa seminar ini mengangkat tema “Berliterasi dengan Bahasa dan Sastra.” Sekurang-kurangnya ada dua kata kunci dalam tema tersebut, yaitu “berliterasi” dan “bahasa dan sastra”.Selain itu, ada satu kata antara kedua kata kunci tersebut, yakni kata dengan yang berarti „menggunakan suatu alat atau media‟. Tatakala dibaca secara lengkap, tema itu kurang lebih dapat dimaknai berliterasi dengan menggunakan bahasa dan sastra (baca: bahasa dan sastra Indonesia) sebagai sarananya. Kata literasi itu sendiri sering diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis atau sering digunakan untuk mengacu konsep melek aksara atau keberaksaraan. Seturut dengan itu, berliterasi mengacu pada konsep aktivitas membaca atau menulis atau berkemampuan membaca dan menulis.Jika demikian pemaknaannya, tampaknya diskusi tentang tema tersebut momentumnyatelah lewat atau bisa dianggap selesai. Bukankah kita sama-sama tahu bahwa bahasa memiliki fungsi sebagai wadah dan sekaligus pengembang kebudayaan, bahasa sebagai sarana memahami hasil olah pikir dan rasa manusia yang tertuang dalam teks-teks dan sekaligus sarana mengekspresikan dan mendesiminasikan olah pikir dan rasa orang atau keompok orang kepada orang lain melalui teks-teks juga. Pertanyaannya kemudian adalah apakah diskursus berliterasi dengan bahasa dan sastra benar-benar sudah memadai dan memberikan solusi atas permalasalahan yang ada. Tentu belum dan bahkan tidak pernah selesai! Persoalannya bukan semata-mata bahasa sebagai media literasi. Bahkan, jika literasi dibatasi pada makna melek aksara atau keabsaksaraan pun masih banyak masalah tersisa.Memang, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang berhasil mengurangiangka buta huruf. Data UNDP tahun 2014 mencatat bahwa tingkat kemelekaksaraan masyarakat Indonesia mencapai 92,8% untuk kelompok dewasa, dan 98,8%untuk kategori remaja. Capaian ini sebenarnya menunjukkan bahwa Indonesiatelah melewati tahapan krisis literasi dalam pengertian kemelekaksaraan.
APRESIASI PUISI DALAM GERAKAN LITERASI Acep Zamzam Noor
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/9d145y15

Abstract

Memahami puisi dan memahami prosa ada bedanya. Ini disebabkan karena bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang dipakai prosa. Memahami puisi mungkin sedikit lebih rumit dibanding memahami prosa. Kerumitan ini terjadi karena cara melukiskan pengalaman dalam puisi biasanya berlapis-lapis, tidak langsung atau runtut seperti halnya dalam kebanyakan prosa. Penyair tidak sekedar memberikan keterangan dan penjelasan kepada pembacanya tentang apa yang ingin disampaikan, tapi juga memperhitungkan keindahan bunyi, keharmonisan irama, kekayaan imaji, ketepatan simbol, rancang bangun kata-kata dan lain sebagainya. Bahasa dalam puisi bukan hanya sekedar alat untuk menyampaikan keterangan, tapi bahasa yang harus mempunyai kekuatan puitik. Puisi adalah jenis karya sastra yang menggunakan bahasa yang khas, bukan bahasa umum atau biasa. Puisi biasanya menggunakan bahasa yang efektif, dengan kata-kata yang hemat namun mempunyai makna dan efek yang banyak. Puisi juga kadang menggunakan bahasa yang sugestif. Kalau pun menggunakan bahasa umum dan biasa, tentu dengan pengungkapan yang tidak umum dan biasa. Dengan kata lain puisi adalah seni merangkai kata-kata, seni menciptakan keajaiban dalam berbahasa. Karena bahasanya yang khas, puisi kadang agak sulit untuk dipahami. Puisi tak bisa dibaca sambil lalu seperti halnya membaca prosa atau berita. Membaca puisi perlu keseriusan, kekhusyukan dan pengorbanan, dengan proses berlatih yang terus-menerus. Puisi akan terasa gelap jika kita belum bisa mengakrabinya. Puisi akan menjadi terang kalau kita bisa menguak misterinya. Memang tidak semua puisi sulit dipahami. Ada banyak jenis puisi, dan masing-masing harus didekati dengan cara yang berbeda-beda. Ada puisi yang berisi cerita tentang sesuatu, ada puisi yang hanya berisi luapan perasaan, ada puisi yang melukiskan suasana, ada puisi yang berisi gagasan atau ajaran, ada puisi yang sarat ide-ide abstrak, ada puisi yang penuh dengan permaianan irama seperti halnya mantera dan lain-lain. Dan masing-masing jenis itu harus dibaca atau dipahami dengan pendekatan yang berlaianan pula.Nilai puisi tidak semata-mata terletak pada apa yang diungkapkan, tapi lebih pada bagaimana cara mengungkapkan. Dengan demikian, dalam puisi biasanya bentuk lebih menonjol ketimbang isi, atau paling tidak ada keseimbangan di antara keduanya. Sebab melalui bentuk itulah pembaca akan menemukan sesuatu yang khas, yang merupakan kreativitas dari seorang penyair. Di sinilah masalah sudut pandang, kejelian, kepekaan serta reaksi pada tema atau gagasan tertentu (entah tema besar maupun sepele) menjadi sangat menentukan. Tak heran jika banyak puisi yang temanya sangat biasa atau sederhana namun mempunyai kekuatan puitik yang luar biasa. Kenapa? Karena penyair berhasil memberikan bentuk yang tepat, indah, dan segar bagi tema sederhana itu, sehingga memberikan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang membacanya.