cover
Contact Name
Pharmascience
Contact Email
dita.sandi@ulm.ac.id
Phone
+6285189393438
Journal Mail Official
jps@ulm.ac.id
Editorial Address
https://pharmascience.ulm.ac.id/index.php/pharmascience/about
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Journal of Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : https://doi.org/10.20527/jps.v13i1
Core Subject :
ournal of Pharmascience accepts scientific articles as original reasearch articles and review articles on pharmacy and health. Journal of Pharmascience publishes various scientific articles covering Pharmacy and Pharmaceutical Sciences in the field but not limited to: Clinical Pharmacy Community Pharmacy Pharmacology Natural Pharmacy Pharmaceutical Chemistry Pharmaceutical Technology Pharmaceutical Management Pharmaceutical Education Apart from the topics above, the Journal of Pharmascience also accepts other manuscripts in the health field, such as: Validation and development of analytical methods for a variety of samples, including food Implementation and analysis of a variety of surveys related to medical therapy, disease, health procedures, and other aspects of health
Arjuna Subject : -
Articles 362 Documents
Studi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap dengan Diagnosis Infeksi Saluran Pernapasan Akut Hendra Herman; Aulia Wati; Ulfah Ayu Ninsih
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i1.18390

Abstract

Penggunaan antibiotik menjadi pilihan utama untuk mengobati ISPA yang disebabkan oleh bakteri. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan berlebihan dapat menyebabkan efek samping dan resistensi antibiotik, yang menjadi masalah kesehatan global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap dengan ISPA di rumah sakit swasta. Metode penelitian menggunakan Single Cohort dengan menggunakan data rekam medik sebagai sumber utama. Sebanyak 94 dari 134 pasien mendapatkan antibiotik. Pemeriksaan WBC masih menjadi parameter pemberian antibiotik (p<0,05). Pemberian antibiotik kategori Watch masih mendominasi pilihan antibiotik empiris (82,03%). Penggunaan ceftriaxone pada ISPA sangat besar dibandingkan antibiotik lain (DDD/100 patient days = 42,37). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa antibiotik yang diberikan kepada pasien dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di rumah sakit ini sesuai untuk melawan bakteri penyebab ISPA. Meskipun penggunaan antibiotik golongan Access memerlukan pertimbangan lebih lanjut, Ceftriaxone menonjol sebagai antibiotik yang paling sering diresepkan untuk pasien ISPA, dengan total DDD/100 hari pasien sebesar 42,37. Kata Kunci: Antibiotik, DDD, Infeksi Saluran Napas, Antibiotik Aware, Seftriakson The utilization of antibiotics represents the primary therapeutic approach for managing bacterial-induced Acute Respiratory Infections (ISPA). Nevertheless, indiscriminate and excessive antibiotic usage can give rise to adverse effects and antibiotic resistance, constituting a pervasive global health concern. This study endeavors to scrutinize antibiotic utilization among inpatients diagnosed with ISPA within a private hospital. Employing a Single Cohort design, medical records serve as the principal data source. Among 134 patients, 94 were administered antibiotics. Notably, White Blood Cell (WBC) examination emerges as a pivotal parameter influencing antibiotic administration (p<0.05). The Watch category continues to predominate as the preferred choice for empirical antibiotics (82.03%). Ceftriaxone emerges as the predominant antibiotic in ISPA treatment, surpassing other counterparts (DDD/100 patient days = 42.37). Findings underscore the absence of established protocols governing antibiotic usage in ISPA patients within the hospital, accentuating the imperative role of the Antimicrobial Stewardship Team in guiding and overseeing antibiotic practices. The study's findings suggest that the antibiotics administered to patients with Acute Respiratory Tract Infections (ISPA) in this hospital are fitting for combating the bacteria responsible for ISPA. While the utilization of Access group antibiotics warrants further consideration, Ceftriaxone stands out as the most frequently prescribed antibiotic for ISPA patients, with a total DDD/100 patient days of 42.37.
Efek Antimikroba Kombinasi Ektrak Daun Isotoma longinflora (L). C. Presl dan Bunga Clitoria ternatea terhadap S. aureus dan Fusarium sp. sebagai Faktor Pemicu Resiko Infeksi Konjungtiva secara In Vitro Noor Hujjatusnaini; Ridha Nirmalasari; Astuti Muh Amin; Nor Mila; Luthfi Aulia Rahman; Utin Tria Marshanda; Annisa Maharani Awaluddin; Ayu Tiara Putri; Fatri Najwa; Mila Mila
Journal of Pharmascience Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i1.18409

Abstract

Infeksi konjungtiva sering disebabkan oleh berbagai mikroorganisme patogen, termasuk Staphylococcus aureus dan Fusarium sp. Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai agen antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek antimikroba dari kombinasi ekstrak Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea terhadap Staphylococcus aureus dan Fusarium sp., yang berpotensi menyebabkan infeksi konjungtiva secara in vitro. Kombinasi ekstrak kedua tanaman dibuat dalam formulasi 1:1, dengan mencampurkan 50% ekstrak Isotoma longiflora dan 50% Clitoria ternatea. Formulasi kombinasi ini diuji pada konsentrasi 50%, 60%, 70%, 80%, dan 90%, dengan waktu pengamatan selama 72 jam. Hasil uji statistik menggunakan One-Way ANOVA menunjukkan pengaruh signifikan dari kombinasi ekstrak terhadap pertumbuhan kedua mikroba (p=0,001; p<0,05). Kombinasi ekstrak Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea memiliki efektivitas penghambatan lebih tinggi terhadap Staphylococcus aureus dibandingkan Fusarium sp., terutama pada konsentrasi 50%. Diduga dipengaruhi kandungan senyawa seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang merusak dinding sel dan membran bakteri. Sebaliknya, efektivitas penghambatan terhadap Fusarium sp. relatif lebih rendah karena struktur dinding sel jamur yang lebih kompleks. Simpulan bahwa efek kombinasi ekstrak Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea lebih besar sebagai antibakteri bakteri Gram-positif seperti S. aureus, dibandingkan terhadap Fusarium sp., sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memvalidasi temuan dalam penelitian ini. Kata Kunci: Clitoria ternatea, Isotoma longinflora, S. aureus, Fusarium sp. Conjunctival infections are often caused by various pathogenic microorganisms, including Staphylococcus aureus and Fusarium sp. Isotoma longiflora and Clitoria ternatea are known to contain secondary metabolites with potential as antimicrobial agents. This study aimed to test the antimicrobial effects of a combined extract of Isotoma longiflora and Clitoria ternatea against Staphylococcus aureus and Fusarium sp., which can potentially cause conjunctival infections, in vitro. The combined extract of the two plants was formulated in a 1:1 ratio, mixing 50% Isotoma longiflora extract and 50% Clitoria ternatea. This combination was tested at concentrations of 50%, 60%, 70%, 80%, and 90%, with an observation period of 72 hours. Statistical testing using One-Way ANOVA showed a significant effect of the combined extract on the growth of both microorganisms (p=0.001; p<0.05). The combined extract of Isotoma longiflora and Clitoria ternatea exhibited a higher inhibitory effect against Staphylococcus aureus than Fusarium sp., especially at the 50% concentration. This effect is thought to be influenced by compounds such as flavonoids, tannins, and saponins that can damage bacterial cell walls and membranes. Conversely, the inhibition effect on Fusarium sp. was relatively lower, possibly due to the more complex structure of fungal cell walls. In conclusion, the combined extract of Isotoma longiflora and Clitoria ternatea demonstrates a stronger antibacterial effect against Gram-positive bacteria like Staphylococcus aureus compared to Fusarium sp., indicating a need for further research to validate these findings.
Efek Imunomodulator Ekstrak Etanol Akar Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia, Jack) terhadap Ekspresi CD57 pada Hepar Tikus yang Diberi Doksorubisin Nurma Wahyuningtyas; Danang Prasetyaning Amukti; Laela Hayu Nurani; Nina Salamah
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18499

Abstract

Agen kemoterapi yang terbukti dapat menurunkan imunitas tubuh adalah doksorubisin. Akar pasak bumi (Eurycoma longifolia, Jack) telah digunakan untuk meningkatkan imunitas serta antikanker. CD57 merupakan suatu penanda diferensiasi terminal dan  disfungsi limfosit pada sel T CD8+, CD4+, dan NK sel. Studi ini menyelidiki efek EEAPB pada ekspresi CD57 hati mencit SD (Sprague Dawley) yang diberi doksorubisin. Dalam penelitian ini, 49 tikus dibagi menjadi 7 kelompok. Kelompok I sebagai kontrol doksorubisin, kelompok II sebagai kontrol EEAPB 200 mg/kgBB, dan kelompok III, IV, dan V sebagai kelompok perlakuan doksorubisin + EEAPB 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, dan 200 mg/kgBB. Kelompok VI sebagai kontrol pelarut (CMC Na 1%), dan kelompok VII sebagai kontrol sehat. Penelitian dilanjutkan dengan pewarnaan hati tikus dengan imunohistokimia untuk mengidentifikasi ekspresi CD57, dan pengujian statistik dilakukan dengan SPSS. Seluruh kelompok perlakuan mempunyai efek penurunan % ekspresi CD57 secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol doksorubisin. Oleh karena itu, EEAPB dapat meningkatkan imunitas dengan menurunkan persentase ekspresi CD57 pada hati tikus strain SD yang telah diberikan doksorubisin secara signifikan dan dosis yang dapat menurunkan persentase ekspresi CD57 maksimal, yaitu 50 mg/Kg BB. Kata Kunci: Doksorubisin, Kemoterapi, Pasak Bumi, Anti kanker, Hepatoprotektor A chemotherapy agent that has been shown to lower immunity is doxorubicin. The root of pasak bumi (Eurycoma longifolia, Jack) has been used to boost immunity and as an anticancer. CD57 is a marker of terminal differentiation and lymphocyte dysfunction in CD8+, CD4+, and NK T cells. This study investigated the effect of EEAPB on liver CD57 expression of SD (Sprague Dawley) mice treated with doxorubicin. In this study, 49 mice were divided into seven groups. Group I as doxorubicin control, group II as EEAPB 200 mg/kgBB control, and groups III, IV, and V as doxorubicin + EEAPB 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, and 200 mg/kgBB treatment groups. Group VI was used as solvent control (CMC Na 1%), and group VII was used as healthy control. The study was followed by staining the liver of mice with immunohistochemistry to identify CD57 expression, and statistical testing was performed with SPSS. All treatment groups had the effect of decreasing the % expression of CD57 compared to the doxorubicin control group. Therefore, EEAPB can improve immunity by reducing the percentage of CD57 expression in the liver of SD strain rats that have been given doxorubicin at a dose that reduces the maximum rate of CD57 expression, which is 50 mg/Kg BW.
FORMULATION AND TEST OF ANTIOXIDANT CREAM PREPARATION OF ETHANOL EXTRACT OF MENTENG LEAVES (Baccaurea Racemosa) AS A SKIN MOISTURIZER Rowina Trinida Sitompul; Sudewi Sudewi; Yessi Febriani; Ernawaty Ginting
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18571

Abstract

Kosmetik sudah menjadi kebutuhan bagi kalangan wanita karena meningkatkan kepercayaan diri. Namun bahan berbahaya juga sering digunakan dalam pembuatan kosmetik sehingga menimbulkan kerusakan pada kulit. Daun menteng dengan nama latin Baccaurea racemosa mengandung metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kulit.  Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasikan ekstrak daun menteng sebagai sediaan krim pelembab dengan konsentrasi tertentu. Daun menteng dimaserasi dengan etanol 96% dan ditentukan metabolit sekunder yang terkandung. Kemudian diformulasikan menjadi sediaan krim dengan konsentrasi 1,5%, 2% dan 3% dan dilakukan pemeriksaan mutu fisik sediaan yang meliputi uji homogenitas, uji pH, uji tipe emulsi, uji stabilitas, uji iritasi, uji efektivitas kelembaban dan uji aktivitas antioksidan. Hasil rendemen yang diperoleh sebesar 14%. Metabolit sekunder yang teridentifikasi adalah alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Sediaan krim dengan konsentrasi 3% yang terbaik karena homogen dan stabil. Sediaan tersebut tidak mengiritasi kulit karena pH sediaan sesuai dengan pH kulit. Kemampuan dalam melembapkan kulit sebesar 97% dan nilai IC50 sebesar 35,67 ppm. Jadi, ekstrak daun menteng bisa diformulasikan ke dalam sediaan krim yang berpotensi sebagai pelembab kulit tanpa menimbulkan iritasi. Kata Kunci: Antioksidan, Daun Menteng, Krim, Pelembab, IC50 Cosmetics have become a necessity for women because they increase their confidence. However, harmful ingredients are also often used in the manufacture of cosmetics so that they cause damage to the skin. Menteng leaves with the Latin name Baccaurea racemosa contain secondary metabolites that are beneficial to the skin.  The purpose of this study is to formulate menteng leaf extract as a moisturizing cream preparation with a certain concentration. Menteng leaves macerated with 96% ethanol and determined the skunder metabolites contained. Then it is formulated into cream preparations with concentrations of 1.5%, 2% and 3% and physical quality checks of the preparation are carried out which include homogeneity tests, pH tests, emulsion type tests, stability tests, irritation tests, moisture effectiveness tests and antioxidant activity tests. The yield obtained is 14%. The secondary metabolites identified were alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and terpenoids. Cream preparations with a concentration of 3% are best because they are homogeneous and stable. The preparation does not irritate the skin because the pH of the preparation is in accordance with the pH of the skin. The ability to moisturize the skin by 97% and IC50 value of 35.67 ppm. So, menteng leaf extract can be formulated into cream preparations that have the potential to moisturize the skin without causing irritation.
Kemampuan Daya Hambat Beberapa Produk Sampo Antiketombe Dengan Kandungan Bahan Aktif Berbeda Terhadap Jamur Candida albicans Resmila Dewi; Erda Marniza; Widya Angreni; Sutriani Kaliu
Journal of Pharmascience Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i1.18749

Abstract

Ketombe merupakan suatu kondisi yang tidak normal pada kulit kepala yang disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans. Penggunaan sampo antiketombe saat keramas membantu menghambat pertumbuhan jamur tersebut. Sampo antiketombe mengandung berbagai bahan aktif yang berperan dalam mengurangi infeksi pada kulit kepala dan menghambat pertumbuhan jamur penyebab ketombe. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kemampuan daya hambat antijamur beberapa sampo antiketombe dengan bahan aktif berbeda terhadap C. albicans. Uji kemampuan daya hambat dilakukan dengan metode difusi cakram. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Analysis of Varience (ANOVA) menggunakan SPSS 27 dan dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap enam sampo antiketombe dengan bahan aktif berbeda yaitu piroctone alamine, selenium sulfida, tea tree oil, asam salisilate, ketokonazole dan zinc pyrithione menunjukkan bahwa masing-masing memiliki perbedaan yang signifikan dalam menghambat jamur C.albicans dengan diameter zona hambat sebesar 20 mm, 30 mm, 18 mm, 29 mm, 34, mm dan 41 mm. Berdasarkan zona hambat yang terbentuk, maka dapat disimpulkan bahwa sampo antiketombe yang mengandung bahan aktif zinc pyrithione memiliki aktivitas daya hambat lebih baik terhadap jamur C.albicans dibanding dengan sampo yang mengandung bahan aktif lainnya.
Peningkatan Risiko Infeksi Genital pada Pengguna SGLT-2 Inhibitor Farah Fadhila Nasywa Purnomo; Hairrudin Hairrudin; Laksmi Indreswari
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18846

Abstract

SGLT-2 inhibitor merupakan salah satu terapi farmakologis oral yang diberikan pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Risiko infeksi genitourinari pada pengguna SGLT-2 inhibitor masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko infeksi saluran genitourinari pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang diterapi menggunakan sodium-glucose co-transporter-2 (SGLT-2) inhibitor. Metode penulisan menggunakan desain penelitian tinjauan sistematis (Systematic Review). Pencarian jurnal dilakukan pada basis data Pubmed Central, Science Direct dan Google Scholar (pencarian hingga 17 Mei 2023) lalu diseleksi menggunakan Flowchart PRISMA. Studi yang diseleksi menggunakan design studi cohort/observational studies yang dibandingkan dengan terapi nonSGLT-2 inhibitor. Analisis data menggunakan metaanalisis. Hasil penelitian didapatkan 10 jurnal yang ditinjau secara sistematis tetapi hanya 6 jurnal yang dipat di metaanalisis dikarenakan heterogenitas yang tinggi. Empat jurnal dengan outcome infeksi saluran kemih yang dimetaanalisis menunjukkan risiko tidak signifkan (RR 0,98 95%CI 0,85-1,14; p= 0,80; I2=57%). Dua jurnal dengan outcome infeksi genital yang dimetaanalisis menghasilkan risiko 2,3 kali lipat lebih tinggi dibanding non-SGLT-2 inhibitor(RR 2,32 95%CI 2,04-2,64; p<0,00001; I2=36%). Kesimpulannya terjadi peningkatan risiko infeksi genital pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang diterapi menggunakan sodium-glucose co-transporter-2 (SGLT-2) inhibitor yang signifikan sedangkan peningkatan risiko infeksi saluran kemih tidak signifikan. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Infeksi Genital, Infeksi Saluran Kemih, Antidiabetes, SGLT-2 Inhibitor SGLT-2 inhibitors are an oral pharmacological therapy given to patients with type 2 diabetes mellitus. The risk of genitourinary infections in SGLT-2 inhibitor users is still unclear. This study aims to analyze the risk of genitourinary tract infections in patients with type 2 diabetes mellitus treated with sodium-glucose co-transporter-2 (SGLT-2) inhibitors. The method uses a systematic review research design.. Journal searches were carried out on the Pubmed Central, Science Direct, and Google Scholar databases (search until 17 May 2023) and then selected using the PRISMA Flowchart. The selected studies used a cohort/observational study design compared to nonSGLT-2 inhibitor therapy. Data analysis using meta-analysis. The results showed that 10 journals were reviewed systematically, but only 6 journals were included in the meta-analysis due to high heterogeneity. Four journals with urinary tract infection outcomes that were meta-analyzed showed an insignificant risk (RR 0.98 95%CI 0.85-1.14; p= 0.80; I2=57%). Two journals with meta-analyzed outcomes of genital infections resulted in a 2.3-fold higher risk compared to non-SGLT-2 inhibitors (RR 2.32 95%CI 2.04-2.64; p<0.00001; I2=36%). In conclusion, there was a significant increase in risk for genital infections while it was not significant for urinary tract infections.
Analisis Efek Terapi Kombinasi Beras Analog dan Glimepirid terhadap Kadar MDA Pankreas pada Tikus Diabetes Melitus Tipe 2 Mohammad Daffa Ahlulkemal; Hairrudin Hairrudin; Eny Nurmaida
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18891

Abstract

Prevalensi dan insidensi diabetes melitus tipe 2 (DMT 2) di dunia terus meningkat. Penyakit ini ditandai dengan hiperglikemia yang memicu kondisi stres oksidatif. Salah satu terapi oral yang sering digunakan adalah glimepirid. Pengendalian hiperglikemia pada penderita DM Tipe 2 membutuhkan perubahan gaya hidup, misalnya dengan mengubah menu makanan pokok dari beras padi menjadi beras analog yang terbuat dari bahan baku modified cassava flour (MOCAF) dan jagung. Beras analog ini mengandung resistant startch dan serat yang tinggi sehingga indeks glikemiknya rendah, serta mengandung antioksidan senyawa fenolik dan β karoten. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek terapi kombinasi beras analog dan glimepirid terhadap kadar MDA pankreas pada tikus DMT 2. Tikus Wistar sebanyak 24 ekor dibagi menjadi kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakuan diberikan diet tinggi lemak selama 17 hari dan diinduksi STZ pada hari ke-15. Pada hari ke-18 kelompok perlakuan dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing diberikan pakan standar (KN), diberikan pakan standar dan glimepirid dengan dosis 0,1 mg/KgBB/hari (P1), diberikan pakan beras analog dan glimepirid 0,1 mg/KgBB/hari (P2). Perlakuan tersebut dilakukan selama 21 hari. Pengukuran kadar MDA pankreas menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian adalah kadar MDA kelompok kontrol = 0,437; KN = 0,649; P1 = 0,384; P2 = 0,300. Terdapat perbedaan yang signifikan antara KN dan P2. Kesimpulannya adalah kombinasi glimepirid dan beras analog mampu menurunkan kadar MDA pankreas pada tikus DM Tipe 2. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, MDA Pankreas, Glimepirid, Beras Analog, MOCAF  The prevalence and incidence of type 2 diabetes mellitus (T2DM) in the world continues to increase. This disease is characterized by hyperglycemia, which triggers oxidative stress conditions. One oral therapy that is often used is glimepiride. Controlling hyperglycemia in T2DM sufferers requires lifestyle changes, for example, changing the staple food from rice to analog rice made from modified cassava flour (MOCAF) and corn. This analog rice contains resistant starch and high fiber, so the glycemic index is low. It has antioxidant phenolic compounds and β-carotene. This study aims to determine the effect of rice analog and glimepiride combination therapy on pancreatic MDA levels in T2DM mice. Twenty-four Wistar rats were divided into the control group and three treatment groups. The treatment group was given a high-fat diet for 17 days and induced by STZ on the 15th day. On the 18th day, the treatment group was divided into three groups, each given standard feed (KN), standard feed and glimepiride 0,1 mg/KgBW/day (P1), and analog rice feed and glimepiride 0,1 mg/KgBW/day (P2). This treatment was carried out for 21 days. Measurement of pancreatic MDA levels using the ELISA method. The results in this study were MDA level of control group=0.437; KN=0.649; P1=0.384; P2=0.300. There is a significant difference between KN and P2. Conclusion: The combination of glimepiride and rice analogs can reduce pancreatic MDA levels in T2DM rats.
Potensi Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb.) sebagai Antibakteri: Literature Review Sri Rahayu
Journal of Pharmascience Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.19262

Abstract

Penyakit infeksi diakibatkan oleh bakteri, virus atau parasit. Pengobatan penyakit infeksi yang disebabkan oleh adanya bakteri umumnya dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik yang berlebihan dan dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan resistensi. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan alternatif dengan efek samping yang lebih kecil, di antaranya dengan memanfaatkan senyawa dari bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri. Temulawak menjadi salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak rimpang temulawak sebagai antibakteri. Metode penelitian dalam pembuatan review artikel ini yaitu dengan studi literatur. Pengumpulan data dengan cara mengambil dari database Google Scholar. Hasil dari penelitian yang dilakukan dengan studi literature menunjukkan bahwa temulawak memiliki potensi sebagai antibakteri, yang ditandai dengan terbentuknya diameter zona hambat terhadap bakteri Enterococcus faecalis (sedang-kuat), Escherichia coli (sedang-kuat), Fusobacterium nucleatum (sedang-kuat), Salmonella typhosa (lemah-sedang), Staphylococcus aureus (sedang-kuat), Streptococcus mutans (sedang), Staphylococcus epidermidis (sedang-kuat), Streptococcus viridan (lemah, sedang, kuat) dan Streptococcus pyogenes (kuat). Aktivitas antibakteri ini diduga disebabkan oleh adanya kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, fenol, flavonoid, saponin dan terpenoid. Kata Kunci: Curcuma xanthorrhiza, Antibakteri, Streptococcus, Staphylococcus, Metabolit Sekunder Infectious diseases are caused by bacteria, viruses, or parasites. Treatment for bacterial infections is generally carried out using antibiotics. However, excessive and prolonged use of antibiotics can lead to resistance. Therefore, alternative treatments with fewer side effects are needed, including utilizing natural compounds with antibacterial activity. Temulawak is one of the plants that is widely used by the community. This study aims to determine the potential of Javanese ginger rhizome extract as an antibacterial. The research method used in this article review is a literature review. Data collection was conducted using the Google Scholar database. The results of research conducted through literature studies indicate that temulawak has potential as an antibacterial, which is indicated by the formation of an inhibition zone diameter against Enterococcus faecalis (medium-strong), Escherichia coli (medium-strong), Fusobacterium nucleatum (medium-strong), Salmonella typhosa (weak-moderate), Staphylococcus aureus (medium-strong), Streptococcus mutans (medium), Staphylococcus epidermidis (medium-strong), Streptococcus viridans (weak, medium, strong) and Streptococcus pyogenes (strong). This antibacterial activity is thought to be caused by the presence of secondary metabolite compounds such as alkaloids, phenols, flavonoids, saponins and terpenoids.
Analisis Rhodamin B pada Kerupuk Seblak Prasmanan di Sekitar Universitas Singaperbangsa Karawang Kampus 1 Chalisya Vanya Advaita; Vriezka Mierza; Hadi Sudarjat
Journal of Pharmascience Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i1.19358

Abstract

Rhodamin B merupakan pewarna yang tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan pangan (BTP).  Konsumsi Rhodamin B dapat menimbulkan efek racun, gangguan fungsi organ hingga kanker. Seblak prasmanan merupakan seblak dengan variasi kerupuk berwarna. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifkasi Rhodamin B pada kerupuk seblak prasmanan yang dijual di sekitar Universitas Singaperbangsa Karawang kampus 1. Analisis kualitatif dan kuantitatif pada penelitian ini menggunakan metode KLT dengan eluen N-butanol, etil asetat dan ammonia 10% (10:4:5) dan spektrofotometri UV-Vis dengan diawali validasi metode. Hasil uji kualitatif menunjukkan 1 dari 12 sampel positif mengandung Rhodamin B dengan nilai Rf 0,94 dan nilai Rf baku Rhodamin B 0,80. Hasil uji validasi menunjukkan bahwa metode ini baik untuk mengidentifikasi Rhodamin B pada kerupuk dengan nilai parameter korelasi (r) = 0,9999; LOQ 0,2748 mg/L; LOD 0,0842 mg/L; %RSD 0,233%; % recovery 114,725% (konsentrasi 4 mg/L), 108,76% (konsentrasi 5 mg/L) dan 100,117% (konsentrasi 6 mg/L). Berdasarkan hasil analisis diketahui 12 sampel positif mengandung Rhodamin B dengan % kadar (b/b) yang relatif kecil yaitu 0,000476% (A1); 0,000883% (B1); 0,00126% (C1); 0,000277% (A2); 0,00045% (B2); 0,00069% (C2); 0,000577% (A3); 0,0013% (B3); 0,001141% (C3); 0,000377% (A4); 0,000347% (B4) dan 0,00142% (C4).
Pembuatan dan Karakterisasi Ekstrak Aquadest Buah Jambu Biji Merah (Psidium guajava Linn.) Aulia Nur Rahmawati; Dea Annisa Putri; Eka Wisnu Kusuma; Dwi Saryanti
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.19378

Abstract

Psidium guajava L. adalah tumbuhan dari kelompok Myrtaceae yang dapat menghasilkan buah dalam jumlah besar untuk setiap masa panennya. Melimpahnya buah jambu biji merah dan kandungan fitokimianya menjadikan buah Psidium guajava memiliki potensi untuk dapat dikembangkan menjadi sediaan obat bahan alam yang lebih bermanfaat dengan proses ekstraksi menggunakan pelarut aquadest. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menambah informasi terkait dengan beberapa parameter mutu ekstrak air buah jambu biji merah (EAJM) sebagai salah satu tahapan dalam karakterisasi ekstrak. Metode penelitian yang digunakan adalah penetapan kadar abu, skrining fitokimia, penetapan kadar fenol, penetapan kadar minyak atsiri, dan pengujian cemaran mikroba. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa EAJM memiliki senyawa fenol, saponin, dan minyak atsiri, kadar abu sebesar 0,1425 ± 0,0028%,  kadar fenol sebesar 4,037±0,019 mgGAE/gram, kadar minyak atsiri sebesar 1,887%±0.029 %, nilai angka lempeng perkiraan dan angka kapang adalah 101 koloni/gram lebih rendah dari batas cemaran mikroba yang dipersyaratkan. Kata Kunci: Psidium guajava L., Ekstrak, Abu, Fenol, Cemaran Psidium guajava L. is a member of family Myrtaceae which can produce a lot of fruits in every harvesting time. The abundance of fruits and phytochemical content of Psidium guajava L. potentialy could be developed as a natural formulation. Aquadest can be used as a extraction solvent to maintain the safety of the yield. This study aims to supplement information related to the extract parameter as a step of Psidium guajava fruit aqueous extract (EAJM) characterization. This study done to determine the extract ash content, phytochemical screening, total phenolic content, essential oil content, and determine microbial contamination. The results showed that EAJM contains phenol, sapponin, and essential oil with ash content of 0,1425 ± 0,0028%,  total phenol of 4.037±0.019 mgGAE/gram, and essential oil content of 1.887%±0.029%. Microbial contamination test showed that the total bacterial and mould plate count were 101 cfu/gram which is lower than the contamination limit.