cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285221282902
Journal Mail Official
dedicated@upi.edu
Editorial Address
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung 40154
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
ISSN : 29884179     EISSN : 29884187     DOI : https://doi.org/10.17509/dedicated.
Core Subject :
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) is an open-access and peer-reviewed journal published by Faculty of Educational Sciences, Universitas Pendidikan Indonesia, in collaboration with Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN). This journal aims to disseminate the conceptual thoughts, ideas, research results, or best practices achieved in community services in education. Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) publishes the results of community service carried out by researchers, teachers, lecturers, and education practitioners, including training, mentoring, coaching, strengthening, empowerment, counseling, and other services for community empowerment.
Arjuna Subject : -
Articles 122 Documents
Enhancing students’ understanding of Pancasila as a state ideology for anti-corruption education Raihan Raihan; Irvan Hardianto; Dinda Rahmi Istifara; Aulia Mawwaddah; Kevin Yuhedi Firdaus; Tifanny Syentia Putri; Dwi Rahmadani; Sepriani Estasia; Cahaya Adinda Rizki Zulmi; Silvi Fakhriano; Al Hafiz Situmorang
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.87338

Abstract

Corruption remains one of the most serious threats to Indonesia’s social, economic, and moral development, undermining public trust and national integrity. Addressing this issue requires comprehensive efforts, including preventive measures implemented through early age education. This community service program was conducted as an educational intervention to strengthen elementary school students’ understanding of anti-corruption values grounded in Pancasila, the state ideology. The program was implemented based on the rationale that character education, particularly integrity and honesty, must be cultivated early to build a generation resistant to corrupt behavior. The primary objective of this activity was to enhance students’ awareness and internalization of integrity values in their daily lives. The program employed interactive training methods, including group discussions, question-and-answer sessions, and simple educational games, to actively engage students and facilitate meaningful learning experiences. The findings indicate that approximately 90% of participants demonstrated an improved understanding of integrity values and showed the ability to apply these principles in everyday situations. Overall, this community service activity highlights the strategic role of character-based anti-corruption education in shaping morally responsible young citizens and suggests that similar programs could be expanded to other regions to generate broader societal impact.   Abstrak Korupsi salah satu permasalahan serius yang mengancam pembangunan, kesejahteraan, serta moral bangsa Indonesia karena berdampak pada melemahnya kepercayaan publik dan nilai-nilai sosial. Upaya pencegahan korupsi perlu dilakukan secara komprehensif, salah satunya melalui pendidikan sejak usia dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi akademik dalam menanamkan nilai-nilai antikorupsi kepada murid sekolah dasar yang berlandaskan pada Pancasila sebagai ideologi negara. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pemahaman dan kesadaran murid terhadap pentingnya nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Pengabdian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pendidikan karakter sejak dini sebagai fondasi pembentukan generasi muda yang berakhlak dan memiliki ketahanan moral terhadap perilaku koruptif. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini bersifat interaktif dan partisipatif, meliputi diskusi kelompok, tanya jawab, serta permainan edukatif yang disesuaikan dengan karakteristik murid. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa sekitar 90% murid mengalami peningkatan pemahaman terhadap nilai-nilai antikorupsi dan mampu mengaplikasikannya dalam aktivitas sehari-hari. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila sebagai strategi efektif dalam pencegahan korupsi sejak dini. Kata Kunci: murid sekolah dasar, nilai Pancasila; pendidikan antikorupsi; pendidikan karakter
Training to create fiber-optic flower crafts from gallon waste Ahmad Marzuki; Choirul Singgih Munandar; Ahmad Muhaemin; Anisya Fitriani; Daniel Afrian Pratama; Dhimas Widhy Surya Brata; Frisca Aulia Alvyanti; Ghogo Zerrico Simbolon; Rafaela Rafaela; Romadhina Mulyana Putri; Violita Cucu Amartya; Devara Ega Fausta
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.92823

Abstract

The problem of plastic waste in Indonesia is increasing due to high consumption and low awareness of waste management, requiring creative efforts to support the 3R principle in line with government policy in Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah and Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah. This activity aims to increase public awareness of waste management and provide training on using mineral-water gallon waste to create economically valuable flower crafts, incorporating fiber-optic technology as an aesthetic innovation. The implementation methods included site surveys, waste management education, training in making flowers from gallon waste, fiber-optic installation, and LED electronic circuit assembly using resistors and batteries, based on basic DC circuit calculations. The training was conducted through demonstrations, hands-on practice, and mentoring in five activity sessions involving PKK women in Gandikan Hamlet, Gumpang Village. The activity results show that the community can create flower crafts from gallon waste and understand the basics of fiber-optic installation and simple electronic circuits. However, further guidance is still needed at the stage of installing electrical circuits. This program enhances the community's knowledge, skills, and environmental awareness, and opens opportunities for product development as a local UMKM with economic value.   Abstrak Permasalahan sampah plastik di Indonesia semakin meningkat akibat tingginya konsumsi masyarakat dan rendahnya kesadaran pengelolaan sampah, sehingga diperlukan upaya kreatif untuk mendukung prinsip 3R yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah serta memberikan pelatihan pemanfaatan limbah galon air mineral menjadi kerajinan bunga bernilai ekonomi dengan tambahan teknologi serat optik sebagai inovasi estetika. Metode pelaksanaan meliputi survei lokasi, edukasi pengelolaan sampah, pelatihan pembuatan bunga dari limbah galon, instalasi serat optik, serta perakitan rangkaian elektronik LED menggunakan resistor dan baterai berdasarkan perhitungan dasar rangkaian DC. Pelatihan dilakukan melalui demonstrasi, praktik langsung, serta pendampingan pada lima sesi kegiatan yang melibatkan ibu-ibu PKK di Dusun Gandikan, Desa Gumpang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat mampu membuat kerajinan bunga berbasis limbah galon dan memahami dasar instalasi serat optik serta rangkaian elektronik sederhana, meskipun pendampingan lanjutan masih dibutuhkan pada tahap pemasangan rangkaian listrik. Program ini meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran lingkungan masyarakat, serta membuka peluang pengembangan produk sebagai UMKM lokal bernilai ekonomi. Kata Kunci: fiber optik; kerajinan bunga; pelatihan; pemanfaatan sampah
Professional strengthening program for librarians at the regional library Siti Nuraeni Azzahro
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.94975

Abstract

Library management in the regions continues to face numerous obstacles, particularly in this region. One problem often encountered is librarians with educational backgrounds other than library science. Through the Program Penguatan Profesional Kepustakaan Non Kependidikan (P3KNK), this article aims to provide an overview of library management activities, including processing and organizing library materials and services, implementing Information and Communication Technology (ICT), and promoting the Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung. This P3KNK is implemented through three stages: pre-implementation, implementation, and post-implementation. During the P3KNK activity, the intern performed library management tasks effectively, including processing and organizing library materials, providing library services, implementing ICT, and promoting the library. During implementation, several difficulties were successfully addressed, including the lack of public OPAC access and the library's SOP policies. Alternative solutions the intern can provide include providing information assistance to librarians through the intern's personal information channels and discussions with the library SOP librarian.   Abstrak Pengelolaan perpustakaan di daerah-daerah pada saat ini masih banyak menemukan kendala, terutama pada pengelolaan perpustakaan. Salah satu permasalahan yang sering ditemukan yaitu pustakawan dengan latar belakang pendidikan bukan ilmu perpustakaan. Melalui Program Penguatan Profesional Kepustakaan Non Kependidikan (P3KNK) artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran kegiatan pengelolaan perpustakaan yang mencakup pengolahan bahan pustaka, pengorganisasian dan pelestarian bahan pustaka, layanan, penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta promosi Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung. P3KNK ini dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu pra pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. Selama kegiatan P3KNK berlangsung, pratikan melaksanakan kegiatan manajemen perpustakaan dengan baik yang meliputi kegiatan pengolahan bahan pustaka, pengorganisasian dan pelestarian bahan pustaka, layanan perpustakaan, penerapan TIK, dan promosi perpustakaan. Dalam pelaksanaannya terdapat kesulitan dan permasalahan yang berhasil ditangani, seperti kurangnya akses OPAC ke publik dan kebijakan SOP di perpustakaan. Alternatif penyelesaian yang dapat praktikan berikan yaitu memberikan bantuan informasi kepada pemustaka lewat media informasi pribadi praktikan dan musyawarah dengan pustakawan SOP perpustakaan. Kata Kunci: Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung; manajemen perpustakaan; perpustakaan daerah
Library management implementation training at Itenas library Nurul Azmi Julianty
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.95024

Abstract

Libraries play a crucial role in supporting educational activities by providing information services and relevant library materials that meet community needs, including those of academic libraries in higher education institutions. University libraries function not only as learning resource centers but also as spaces for developing students’ academic and professional competencies. Students, as primary users of academic libraries, are entitled to have their needs fulfilled, one of which can be achieved through internship programs. This article discusses the implementation of an internship program, namely the Program Penguatan Profesional Non Kependidikan (P3KNK), conducted at the Library of the Institut Teknologi Nasional (Itenas). The method employed in this program was service learning, implemented in three stages: pre-implementation, implementation, and post-implementation. The results indicate that the internship provided numerous opportunities for self-development through various activities organized by the Itenas Library. Overall, the internship proceeded smoothly, with no significant obstacles from preparation through evaluation. This internship was highly beneficial to the author, particularly by enhancing knowledge and skills in library management, particularly in library services and collection processing.   Abstrak Perpustakaan memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung kegiatan pendidikan melalui pelayanan informasi serta penyediaan bahan pustaka yang relevan dan mutakhir bagi masyarakat sesuai dengan kebutuhannya, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat sumber belajar, tetapi juga sebagai wahana pengembangan kompetensi mahasiswa sebagai pemustaka. Mahasiswa sebagai salah satu pengguna utama perpustakaan wajib memperoleh pemenuhan kebutuhan akademik dan profesional, salah satunya melalui penyediaan kegiatan magang. Artikel ini bertujuan untuk membahas pelaksanaan kegiatan magang atau Program Penguatan Profesional Non Kependidikan (P3KNK) yang dilaksanakan di Perpustakaan Institut Teknologi Nasional (Itenas). Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah service learning yang dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu tahap pra pelaksanaan, pelaksanaan kegiatan, dan pasca pelaksanaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kegiatan magang memberikan banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri melalui berbagai aktivitas yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Itenas. Secara umum, kegiatan magang berjalan dengan baik tanpa kendala yang berarti sejak tahap awal hingga akhir pelaksanaan. Kegiatan ini terbukti memberikan manfaat yang signifikan bagi penulis, khususnya dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan di bidang manajemen perpustakaan, terutama pada aspek pelayanan perpustakaan dan pengolahan koleksi. Kata Kunci: kompetensi; magang; perpustakaan perguruan tinggi
The role of interns in optimizing visitor services at Museum Gedung Sate Sabrina Mustika Nur; Yayu Wulandari
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.95015

Abstract

As historical and cultural icons, museums play an important role in preserving and disseminating the nation’s heritage. This community service study aims to examine the role of interns in optimizing visitor services at Museum Gedung Sate in Bandung. The study focuses on the contributions of interns to enhancing visitor experiences through educational activities, social media management, and the use of interactive technology in museum settings. A qualitative case study approach was employed, involving interviews and observations of museum staff, interns, and visitors. Data were collected from interns and visitors who interacted directly with them during museum activities. The findings indicate that interns play a significant role in improving visitor engagement through guided tours, informative explanations, creative social media content, and the application of technologies such as augmented reality. The use of social media by interns proved effective in attracting younger audiences and increasing the museum’s visibility. The study concludes that a well-structured internship program can enhance museum services and provide mutual benefits for both interns and visitors, while also highlighting the importance of technological training in museum management.   Abstrak Sebagai salah satu ikon sejarah dan budaya, museum memainkan peran penting dalam pelestarian dan pengenalan nilai sejarah bangsa. Pengabdian ini bertujuan untuk menggali peran pemagang dalam mengoptimalkan layanan pengunjung di Museum Gedung Sate, Bandung. Isu yang diteliti berkaitan dengan kontribusi pemagang dalam meningkatkan pengalaman pengunjung melalui edukasi, pengelolaan media sosial, dan penggunaan teknologi interaktif di museum. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang melibatkan wawancara dan observasi terhadap pemagang dan pengunjung museum. Data dikumpulkan dari partisipan yang terdiri dari pemagang serta pengunjung yang berinteraksi dengan mereka selama masa magang. Temuan pengabdian menunjukkan bahwa pemagang memiliki peran penting dalam meningkatkan interaksi dengan pengunjung melalui tur edukasi, pengelolaan media sosial, dan penerapan teknologi seperti augmented reality. Temuan ini juga mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial secara kreatif oleh pemagang berhasil meningkatkan keterlibatan audiens muda dan memperluas visibilitas museum. Kesimpulan dari pengabdian ini menyarankan bahwa program magang yang terstruktur dapat meningkatkan kualitas layanan museum, serta memberikan manfaat signifikan bagi pemagang dan pengunjung. Implikasi praktis dari pengabdian ini adalah pentingnya pelatihan teknologi bagi pemagang untuk memaksimalkan kontribusi mereka dalam pengelolaan museum. Pengabdian ini juga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai pelatihan pemagang dan pengelolaan teknologi dalam konteks museum. Kata Kunci: layanan pengunjung; media sosial; Museum Gedung Sate; pendidikan museum; teknologi interaktif
Practice-based community service through P3NKK internship at Telkom University Open Library Nasya Putri Fadilla
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.95042

Abstract

Program Penguatan Profesional Kepustakaan Non Kependidikan (P3KNK) is a practice-based community service initiative that enhances students’ professional competencies through direct experience in an academic library. The program was conducted at Telkom University Open Library over 40 working days (November 18, 2024–January 24, 2025) and involved three students from the Library and Information Science study program. The program employed a structured rotation system across three service areas: circulation services (17 days), reference services (13 days), and library material processing (10 days). The methods included hands-on practice, participatory observation, guided discussions, and continuous mentoring by professional librarians. The results demonstrate that the students made tangible contributions to library operations, including processing 204 scholarly documents for e-proceedings, handling 51 library clearance letters, cataloging 83 e-books, and processing 61 donated collections. The program also significantly enhanced students’ technical skills (cataloging, classification, and library technologies) as well as soft skills (communication, problem-solving, and professionalism). In addition, six key operational challenges were identified, along with proposed solutions to improve service. Overall, the P3KNK program effectively bridges academic theory and professional librarianship practice.   Abstrak Program Penguatan Profesional Kepustakaan Non Kependidikan (P3KNK) merupakan kegiatan pengabdian berbasis praktik yang bertujuan memperkuat kompetensi profesional mahasiswa kepustakawanan melalui pengalaman kerja langsung di perpustakaan perguruan tinggi. Program ini dilaksanakan di Telkom University Open Library selama 40 hari kerja (18 November 2024–24 Januari 2025) dengan melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi. Pelaksanaan program menggunakan sistem rotasi terstruktur pada tiga area layanan, yaitu layanan sirkulasi (17 hari), layanan referensi (13 hari), dan pengolahan bahan pustaka (10 hari), dengan metode praktik langsung, observasi partisipatif, diskusi terpandu, dan pendampingan pustakawan. Hasil pengabdian menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa terhadap operasional perpustakaan, antara lain pengolahan 204 dokumen e-prosiding, pelayanan 51 Surat Bebas Kewajiban Perpustakaan, katalogisasi 83 e-book, dan pengolahan 61 koleksi sumbangan. Program ini juga meningkatkan kompetensi teknis (katalogisasi, klasifikasi, dan pemanfaatan teknologi perpustakaan) serta kompetensi non-teknis (komunikasi, pemecahan masalah, dan profesionalisme). Selain itu, teridentifikasi enam permasalahan operasional utama beserta alternatif solusi sebagai bahan perbaikan layanan. Secara keseluruhan, P3KNK efektif menjembatani teori akademik dan praktik profesional kepustakawanan. Kata Kunci: P3KNK; pengabdian berbasis praktik; perpustakaan perguruan tinggi; praktik profesional
Archival service practices at Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Bandung Alifa Baiduri Hayatunnufus; Linda Setiawati
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.95037

Abstract

Archives, in their use within institutions, have evolved from physical to digital formats. This indicates that the archival system must be more organized, more effective, and Information Communication and Technology (ICT)-based, particularly in organizing auction minutes and in archival borrowing and return services. Librarian Professionalism Internship Program aims to provide direct learning experiences for students and to enhance the effectiveness of archival management at partner agencies. This activity was conducted as a one-semester internship at the Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) in Bandung. The methods employed span the pre-implementation and implementation stages, with a hands-on field approach that includes data collection, data structuring, archival numbering, archival services, and the application of ICT. The findings indicate that the use of spreadsheet-based databases, Google Forms for archival borrowing, barcode creation, and archival shelf numbering can increase information retrieval efficiency, facilitate archive monitoring, and reduce the burden of manual record-keeping. This activity provides dual benefits, namely improving student competence and optimizing archive management at KPKNL Bandung.   Abstrak Arsip dalam penggunaannya di sebuah instansi mengalami berbagai macam perkembangan mulai dari arsip yang berbentuk fisik hingga arsip yang berbentuk digital. Hal tersebut menandakan bahwa sistem kearsipan harus lebih tertata, efektif, dan berbasis Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) khususnya dalam pengorganisasian arsip risalah lelang serta layanan peminjaman dan pengembalian arsip. Librarian Professionalism Internship Program bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa sekaligus membantu meningkatkan efektivitas pengelolaan arsip di instansi mitra. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan magang satu semester di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Bandung. Metode yang digunakan meliputi tahapan pra-pelaksanaan dan pelaksanaan, dengan pendekatan praktik langsung di lapangan yang mencakup pendataan, penataan, penomoran arsip, layanan arsip, serta penerapan TIK. Temuan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa penerapan database berbasis spreadsheet, penggunaan Google Form untuk peminjaman arsip, pembuatan barcode dan penomoran rak arsip mampu meningkatkan efisiensi temu balik informasi, mempermudah pemantauan arsip, serta mengurangi kendala pencatatan manual. Kegiatan ini memberikan manfaat ganda, yaitu peningkatan kompetensi mahasiswa dan optimalisasi pengelolaan arsip di KPKNL Bandung. Kata Kunci: arsip; layanan arsip; pengelolaan arsip
Harmonizing the religion, arts, and culture: Value of compassion as a conflict resolver in Sumedang Hilman Taufiq Abdillah; Syahidin Syahidin
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.93096

Abstract

Sumedang Regency faces a sociological challenge in the form of a sharp dichotomy between puritanical religious practices and local cultural arts expressions. This phenomenon hinders the optimization of social capital in building community character. This article aims to deconstruct the roots of this dichotomous conflict and reconstruct a new synergy model based on the Grand Theory of the integration of religion, arts, and culture, with the value of "compassion" (Ar-Rahman Ar-Rahim/Silih Asih) as an axiological meeting point. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with seven key informants (clerics, artists, academics, bureaucrats), and extensive literature reviews conducted through Community Service (Pengabdian kepada Masyarakat or PkM) activities. The results show that the dichotomy arises from a paradigmatic misunderstanding of religion, which is understood solely as a formalistic ritual. At the same time, arts and culture are considered profane and distant from God. The main findings demonstrate that compassion can serve as an epistemological bridge, with religion providing the ethical foundation, culture providing a communal symbolic container, and art serving as an expressive medium of divine beauty (Jamal). The synergy of these three dimensions creates strong social cohesion and an inclusive character education model in Sumedang.   Abstrak Kabupaten Sumedang menghadapi tantangan sosiologis berupa dikotomi tajam antara praktik keagamaan yang puritan dan ekspresi seni budaya lokal. Fenomena ini menghambat optimalisasi modal sosial dalam pembangunan karakter masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mendekonstruksi akar konflik dikotomis tersebut dan merekonstruksi model sinergi baru menggunakan Grand Theory integrasi agama, seni, dan budaya dengan nilai "kasih sayang" (Ar-Rahman Ar-Rahim/Silih Asih) sebagai titik temu (meeting point) aksiologis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap tujuh informan kunci (ulama, seniman, akademisi, birokrat), dan studi literatur ekstensif melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Hasil menunjukkan bahwa dikotomi terjadi akibat misunderstanding paradigmatik terhadap agama yang dipahami sebatas ritual formalistik, sementara seni budaya dianggap profan dan menjauhkan dari Tuhan. Temuan utama membuktikan bahwa nilai kasih sayang mampu menjadi jembatan epistemologis di mana agama menyediakan landasan etika kasih sayang, budaya menyediakan wadah simbolik komunal, dan seni menjadi media ekspresif keindahan ilahiah (Jamal). Sinergi ketiga dimensi ini menciptakan kohesi sosial yang kuat dan model pendidikan karakter yang inklusif di Sumedang. Kata Kunci: agama; budaya; nilai kasih sayang; resolusi konflik; seni ekspresif
Internship program to improve student competence in managing the Gedung Sate Museum Cindy Cantika Dwi Oktaviani
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.94977

Abstract

Technological developments have accelerated, accompanied by digital transformation across various sectors. This compels individuals to continually adapt by improving their skills to meet workplace needs. The implementation of community service through internships aims to facilitate students' application of what they have learned during their studies. This community service is implemented through the Penguatan Pengalaman Profesional Non-Kependidikan (P3NK) program, organized by the university, to enhance students' competencies and gain work experience outside the campus. In this activity, the P3NK program is implemented by training students to become educators and museum receptionists, to introduce visitors to audiovisual rooms, and to create Instagram captions for each post. The implementation of this activity has proceeded smoothly, with effective coordination and communication between the museum and the interns. This internship is an important step for students to apply the knowledge they have learned on campus while simultaneously playing an active role in preserving local history and culture.   Abstrak Perkembangan teknologi saat ini telah meningkat dengan pesat diiringi dengan transformasi digital di berbagai sektor. Hal ini memaksa setiap individu untuk dapat seseorang untuk terus beradaptasi dengan meningkatkan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan dalam dunia kerja. Pelaksanaan pengabdian melalu kegiatan magang bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa dalam melakukan atau mempraktekkan apa yang telah dipelajarinya selama di bangku perkuliahan. Metode pelaksanaan pengabdian ini melalui program Penguatan Pengalaman Profesional Non-Kependidikan (P3NK) yang diselenggarakan oleh universitas untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dan mendapatkan pengalaman kerja di luar kampus. Pada kegiatan ini pelaksanaan program P3NK dilakukan dengan melatih mahasiswa menjadi edukator, resepsionis kunjungan museum, perkenalan ruangan audio visua kepada pengunjungl, dan pembuatan caption instagram pada setiap unggahannya. Pelaksanaan kegiatan ini telah berjalan dengan baik dengan adanya koordinasi dan komunikasi yang lancar antara pihak museum dan peserta magang pada setiap kegiatannya. Pelaksanaan magang ini menjadi langkah penting bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di kampus sekaligus berperan aktif dalam pelestarian sejarah dan budaya lokal. Kata Kunci: kompetensi; magang; museum
Internship students practice in library services at Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) of Bandung City Nisrina Sifahumaria
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 3 No. 2 (2025): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v3i2.95019

Abstract

Program Penguatan Profesional Kepustakawanan Non Kependidikan (P3KNK) at the Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) of Bandung City is a practical training program that provides students with direct experience in library management and services. The program was implemented over 40 working days and included shelving, circulation services, children’s and youth services, user assistance, information searching, weeding, and restoration of library materials. Students also applied Information and Communication Technology (ICT) using computers, spreadsheets, web browsers, email, and INLIS Lite. The program was carried out in three phases: pre-implementation, implementation, and post-implementation. The results indicate that the P3KNK program supports library services by assisting librarians with routine operational activities and improving service delivery, particularly in collection organization and user services. However, several challenges were identified, including limited human resources, the absence of written guidelines for preservation activities, constraints in information retrieval, user misunderstandings regarding loan extensions, and limited internship duration. These challenges were addressed through coordination with librarians and collaboration among student participants. Overall, the implementation of the P3KNK program contributed to student professional development while simultaneously supporting the continuity of library services at Disarpus Bandung City.   Abstrak Program Penguatan Profesional Kepustakawanan Non Kependidikan (P3KNK) di Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung merupakan program praktikum yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam pengelolaan dan layanan perpustakaan. Program ini dilaksanakan selama 40 hari kerja dengan berbagai kegiatan, seperti penjajaran koleksi (shelving), layanan sirkulasi, layanan anak dan remaja, pendampingan pemustaka, penelusuran informasi, weeding, serta restorasi bahan perpustakaan. Mahasiswa juga menerapkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui penggunaan komputer, spreadsheet, web browser, email, dan INLISLite. Pelaksanaan program meliputi tiga tahap, yaitu pra pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program P3KNK mendukung layanan perpustakaan melalui bantuan tenaga dalam pelaksanaan tugas operasional rutin dan kelancaran alur layanan, khususnya pada penataan koleksi dan layanan pemustaka. Namun, terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan sumber daya manusia, ketiadaan panduan tertulis dalam kegiatan preservasi, permasalahan temu balik informasi, kesalahpahaman pemustaka mengenai perpanjangan peminjaman, serta keterbatasan waktu magang. Kendala tersebut diatasi melalui koordinasi dengan pustakawan dan kerja sama antar praktikan. Secara keseluruhan, pelaksanaan program P3KNK berkontribusi pada pengembangan kompetensi profesional mahasiswa sekaligus mendukung keberlangsungan layanan perpustakaan di Disarpus Kota Bandung. Kata Kunci: Disarpus Kota Bandung; layanan perpustakaan; praktikum kepustakawanan

Page 11 of 13 | Total Record : 122