cover
Contact Name
Ahmad Arifuddin
Contact Email
arifuddin@uinssc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alibtida@uinssc.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
Core Subject :
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a high-quality peer-reviewed journal published by Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia in collaboration with Indonesian Islamic Elementary Education Lecturers Association (Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia). Publishing twice a year, in June and October and already have a registration number p-ISSN: 2442-5133 and e-ISSN: 2527-7227. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is the leading journal in Islamic educational institutions concerning Islamic elementary education. The journal promotes research and scholarly discussion concerning Islamic Elementary education in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about curriculum development, teaching and learning, learning methodologies, instructional technologies, teacher competences, and assessments.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
The Effect of Mastering Pedagogical Competence on the Prospective Elementary School Teachers Teaching Readiness Muhammad Shabir Umar; Muljono Damopolii; Fitriani Nur; Suharti Suharti
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7211

Abstract

AbstractThis study aims to determine the description of mastering pedagogical competence, map the teaching readiness, and analyze the significant effect of mastering pedagogical competence on teaching readiness of the prospective elementary school teachers at State Islamic University (UIN) Alauddin Makassar, Indonesia. This research was ex-post-facto quantitative research. The research variables were pedagogical competence and the readiness to be a teacher. The population and sample were all of the final semester students, consisting of 80 students of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education Department at UIN Alauddin Makassar who had taken the Field Experience Practice program using simple random sampling. The instrument used was a Likert scale-based questionnaire. A basic linear regression was employed to analyze the data. The following are the results of this study: (1) the mean score of prospective elementary school teachers' pedagogical competence was 70.62, indicating that the pedagogical competency score was in the high category; (2) the mean score of prospective elementary school teachers' teaching readiness mapping was 72.25, indicating that the mapping score of teaching readiness was in the high category; (3) the mean score of prospective elementary school teachers' pedagogical competence was 70.62, indicating that the pedagogical competency score was in the high category.  As a result, prospective elementary school teachers' teaching preparation was influenced by their knowledge of pedagogical competence. Accordingly, prospective elementary school teachers' teaching preparation is needed to be trained by developing pedagogical competency by constructing a learning program in the Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education Department.Keywords: pedagogical competence, teaching readiness, prospective elementary school teachers.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan kompetensi pedagogik, memetakan realitas kesiapan mengajar, dan mengetahui signifikansi pengaruh penguasaan kompetensi pedagogik terhadap kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif jenis ex-post facto. Variabel penelitian yaitu kompetensi pedagogik dan kesiapan menjadi guru. Populasi dan sampel yaitu seluruh mahasiswa semester akhir program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Alauddin Makassar yang telah mengambil program praktik pengenalan lapangan (PPL), dengan sampel random sampling sejumlah 80 orang. Instrumen yang digunakan yaitu angket berbasis skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa: (1) rata-rata skor kompetensi pedagogik calon guru sekolah dasar adalah 70.62 yang berarti secara umum skor kompetensi pedagogik berada pada kategori tinggi, (2) rata-rata pemetaan kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar adalah 72.25 yang berarti skor pemetaan kesiapan mengajar berada pada kategori tinggi, dan (3) terdapat pengaruh yang signifikan kompetensi pedagogik terhadap kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penguasaan kompetensi pedagogik mempengaruhi kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar. Oleh karena itu, kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar perlu dipersiapkan secara matang melalui penguatan kompentesi pedagogik baik melalui penyiapan kurikulum pembelajaran pada jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.Kata kunci: kompetensi pedagogik, kesiapan mengajar, calon guru sekolah dasar.
A Children's Music Therapy to Enhance the Self-Esteem of Children with Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) in Elementary School Abdul Sholeh; Asep Supena
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7459

Abstract

AbstractElementary school students with Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) possessed   low self-eesteem that impacted on their academic failure. This study aims to describe the use of a children’s music therapy to enhance the self-esteem of ADHD students. Using a qualitative case study to garner the data from ADHD students, this study included pre-field stages, activities during the field, and post empirical stages. Data were analyzed using observations and interviews. The results of the research show that the children’s music therapy can be used as an alternative in developing the self-esteem of ADHD children in an elementary school. It can be seen from their  development of several aspects including ability (competence), meaning (significance), goodness (virtue), and strength (power). Therefore, elementary school teachers are advised to use the music therapy to enhance the self-esteem of ADHD children. As a medium of healing and to overcome anxiety, such therapy could allow students to gain self-acceptance, get acceptance by others, be able to complete tasks, be able to make decisions, be able to control themselves, and have better self-awareness.Keywords: a children's music therapy, self-esteem, attention deficit hyperactivity disorder.AbstrakSiswa sekolah dasar dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memiliki harga diri yang rendah yang berdampak pada kegagalan akademik mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan terapi musik anak untuk meningkatkan harga diri siswa ADHD. Menggunakan studi kasus kualitatif untuk mengumpulkan data dari siswa ADHD, penelitian ini meliputi tahap pra-lapangan, kegiatan selama lapangan, dan tahap pasca empiris. Teknik analisis data menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi musik anak dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam mengembangkan harga diri anak ADHD di sekolah dasar. Hal ini dapat dilihat dari perkembangannya dari beberapa aspek antara lain kemampuan (competence), makna (significance), kebaikan (virtue), dan kekuatan (power). Oleh karena itu, guru sekolah dasar disarankan untuk menggunakan terapi musik untuk meningkatkan harga diri anak ADHD. Sebagai media penyembuhan dan mengatasi kecemasan, terapi tersebut dapat memungkinkan siswa untuk memperoleh penerimaan diri, mendapatkan penerimaan oleh orang lain, mampu menyelesaikan tugas, mampu mengambil keputusan, mampu mengendalikan diri, dan memiliki kesadaran diri yang lebih baik.Kata kunci: terapi musik anak, harga diri, attention deficit hyperactivity disorder.
Teaching Collaborations in Elementary Schools: Teachers' Understanding, Strategies, and Obstacles Ulin Nuskhi Muti'ah; Heri Retnawati; Anwar Senen; Gulzhaina K. Kassymova
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7519

Abstract

Abstract Collaborative skills are becoming mandatory in the 21st century. There have been many studies that show the effectiveness of the collaborative learning (CL) approach on students' collaboration and interaction abilities. In Indonesia, through the implementation of 2013 curriculum, group learning is encouraged. This study aims to describe the implementation of collaborative learning by describing the teachers' understanding of collaborative skills and collaborative learning models, the strategies teachers use to teach collaborative skills, and the constraints that prevent teachers from using collaborative learning models. This qualitative research involved 13 elementary school teachers in the Special Region of Yogyakarta Province. Data collection was carried out through in-depth interviews. Data were analyzed using the Bogdan and Biklen models. The results show that 1) the teachers' understanding of collaborative skills still needs to be improved, especially in the collaboration aspect, 2) the teachers' knowledge about collaborative learning models is still lacking, 3) the obstacles that cause teachers not to use CL are teachers' lack of knowledge, teachers’ lack of motivation to improve their knowledge, teachers’ hesitance to try new learning models, and teachers' concerns that it will be difficult for students to use CL. Therefore, the teachers need to increase their understanding and open themselves to new learning models. This can be a concern for principals and teacher education managers to provide intensive education and training related to collaborative learning approach.Keyword: collaborative learning, teachers’ understanding, elementary schools. AbstractKeterampilan kolaboratif menjadi keterampilan wajib di abad ke-21. Telah banyak penelitian yang menunjukkan efektivitas pendekatan pembelajaran kolaboratif terhadap kemampuan kolaborasi dan interaksi siswa. Di Indonesia, melalui penerapan kurikulum 2013, pembelajaran kelompok digalakkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran kolaboratif dengan mendeskripsikan pemahaman guru tentang keterampilan kolaboratif dan model pembelajaran kolaboratif, strategi yang digunakan guru untuk mengajarkan keterampilan kolaboratif, dan kendala yang menghalangi guru menggunakan model pembelajaran kolaboratif. Penelitian kualitatif ini melibatkan 13 guru SD di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan model Bogdan dan Biklen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pemahaman guru tentang keterampilan kolaboratif masih perlu ditingkatkan terutama pada aspek kolaborasi, 2) pengetahuan guru tentang model pembelajaran kolaboratif masih kurang, 3) kendala yang menyebabkan guru tidak menggunakan pembelajaran kolaboratif adalah kurangnya pengetahuan guru, kurangnya motivasi guru untuk meningkatkan pengetahuannya, keengganan guru untuk mencoba model pembelajaran baru, dan kekhawatiran guru akan kesulitan siswa dalam menggunakan pembelajaran kolaboratif. Oleh karena itu, guru perlu meningkatkan pemahaman dan membuka diri terhadap model pembelajaran baru. Hal ini dapat menjadi perhatian bagi kepala sekolah dan pengelola pendidikan guru untuk memberikan pendidikan dan pelatihan secara intensif terkait dengan pendekatan pembelajaran kolaboratif.Kata kunci: pembelajaran kolaborasi, pemahaman guru, sekolah dasar.
Learning Designs for the Addition and Subtraction of Two-Digit Numbers based on Realistic Mathematics Education Principles Using Snakes and Ladders Game Irfan Fauzi; Rohma Mauhibah; Al Jupri
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7741

Abstract

Abstract Students have difficulties in understanding addition and subtraction of numbers. These difficulties need to be anticipated in order to find ways to reduce them. This research aims to develop the learning designs for addition and subtraction of two-digit numbers using the Realistic Mathematics Education (RME) approach. The snakes and ladders game was used as the learning media, while the language of arrows was used as the context of learning. Using educational design research, this study involved a total of 29 first graders of one of the elementary schools in Bandung City, Indonesia. The sample in this study was selected using purposive sampling. The data were collected through tests and observations. The results of this research indicated that the learning designs had a positive impact on the students’ understanding of the addition and subtraction of two-digit numbers. The students' average score after learning the addition and subtraction of two-digit numbers was 70.62. The principles of Realistic Mathematics Education (RME) are the key to student success in understanding mathematical concepts. This research could be used as a reference for developing mathematics learning designs using the RME approach in elementary schools.Keywords: learning designs, addition and subtraction of numbers, realistic mathematics education.Abstrak Siswa mengalami kesulitan dalam memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan. Kesulitan-kesulitan tersebut perlu diantisipasi agar dapat ditemukan cara untuk menguranginya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan dua digit dengan menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Permainan ular tangga digunakan sebagai media pembelajaran, sedangkan bahasa panah digunakan sebagai konteks pembelajaran. Menggunakan educational design research, penelitian ini melibatkan total 29 siswa kelas satu salah satu sekolah dasar di Kota Bandung, Indonesia. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui tes dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain pembelajaran berpengaruh positif terhadap pemahaman siswa tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Nilai rata-rata siswa setelah mempelajari penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka adalah 70,62. Prinsip-prinsip Realistic Mathematics Education (RME) menjadi kunci keberhasilan siswa dalam memahami konsep matematika. Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan desain pembelajaran matematika dengan pendekatan RME di sekolah dasar.Keywords: desain pembelajaran, penjumlahan dan pengurangan bilangan, realistic mathematics education.
Writing Skills Development: A Balancing Perspective of Brain Function in Elementary Schools Ririen Wardiani; Indrya Mulyaningsih; Siriporn Maneechukate
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7795

Abstract

AbstractWriting is a skill that involves creativity. It can be triggered by using a stimulating activity of both hemispheres of the brain. This study aims to describe the improvement of narrative writing skills by using a learning model based on the balancing of the functions of the right and left hemispheres of the brain. The research method used is classroom action research through three implementation cycles from January – December 2019 in three elementary schools in Ponorogo, Indonesia. The sample of this study was 72 students of grade 4. The data collected through using tests, observations, and interviews were then analyzed both qualitatively and quantitatively. The results showed that to produce good writing, students need to be guided and given a lighter. After balancing the functions of the cerebral hemispheres, 86% or 62 students met the minimum completeness score. The students' ability in writing narratives has increased significantly, especially in the aspects of content, content organization, vocabulary, grammar, and spelling.Keywords: narrative writing; the balancing of the functions of the cerebral hemispheres; the brain learning model.AbstrakMenulis merupakan keterampilan yang melibatkan kreativitas. Ini dapat dipicu dengan menggunakan aktivitas stimulasi kedua belahan otak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis keseimbangan fungsi belahan otak kanan dan kiri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas melalui tiga siklus pelaksanaan dari Januari – Desember 2019 di tiga sekolah dasar di Ponorogo, Indonesia. Sampel penelitian ini adalah 72 siswa kelas 4. Data yang dikumpulkan melalui tes, observasi, dan wawancara kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menghasilkan tulisan yang baik, siswa perlu dibimbing dan diberi pemantik. Setelah dilakukan penyeimbangan fungsi belahan otak, 86% atau 62 siswa memenuhi nilai ketuntasan minimal. Kemampuan siswa dalam menulis narasi meningkat secara signifikan, terutama dalam aspek isi, organisasi isi, kosa kata, tata bahasa, dan ejaanKata kunci: menulis narasi; menyeimbangkan fungsi belahan otak; model pembelajaran otak.
Disclosure of Student Ability in Working on Higher-Order Thinking Skills Questions through Rasch Modeling Ade Yulianto; Aan Yuliyanto; Ghullam Hamdu; Lutfi Nur; Desi Fitriani; Noorhisham Hamzah
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7865

Abstract

AbstractInformation on students' ability in higher-order thinking obtained during the learning process can certainly provide an overview for teachers to evaluate appropriate and effective learning. In this context, how can a teacher properly carry out diagnostic and remedial teaching based on the information on student abilities obtained? Therefore, this study aims to provide a disclosure analysis technique for the acquisition of students' abilities in higher-order thinking. This research is one of the stages of Design-Based Research (DBR), which is a reflection to produce design principles and perfect their implementation. Determination of the research sample is done by using the purposive sampling technique. Data collection of students' ability in higher-order thinking was done through HOTS-based test questions developed based on the cognitive hierarchy adopted from Bloom's taxonomy. The results of the acquisition of students' abilities in higher-order thinking were then analyzed through Rasch modeling with the help of the Winsteps 3.75 application. Based on the results of Rasch modeling, it was obtained that the students' abilities were grouped into high, medium, and low categories and had a level of suitability of abilities that did not need to be reviewed, and there were no biased student abilities. The results of data processing and analysis of students' ability in higher-order thinking have implications for teacher actions in carrying out appropriate and effective learning evaluations as well as mapping students' abilities in higher-order thinking with unbiased conformity.Keywords: student ability, HOTS-based test questions, rasch modeling. AbstrakInformasi kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi yang diperoleh selama proses pembelajaran tentunya dapat memberikan gambaran bagi guru untuk melakukan evaluasi pembelajaran yang tepat dan efektif. Dalam konteks tersebut, bagaimana seorang guru dapat secara tepat melakukan diagnostic and remedial teaching berdasarkan informasi kemampuan siswa yang diperoleh?. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan teknik analisis pengungkapan pemerolehan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini merupakan salah satu tahapan dari Desain Based Reaserch (DBR), yakni refleksi untuk menghasilkan prinsip-prinsip desain dan menyempurnakan implementasinya. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi dilakukan melalui pengerjaan soal tes berbasis HOTS yang dikembangkan berdasarkan hirarki kognitif yang diadopsi dari taksonomi Bloom. Hasil pemerolehan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi kemudian dianalisis melalui pemodelan rasch dengan berbantuan aplikasi winsteps 3.75. Berdasarkan hasil pemodelan Rasch diperolehlah pengelompokkan kemampuan siswa dengan kategori tinggi, sedang, dan rendah serta memiliki tingkat kesesuaian kemampuan yang tidak perlu ditinjau ulang dan tidak terdapat kemampuan siswa yang bias. Hasil pengolahan dan analisis data kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi berimplikasi pada tindakan guru dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran yang tepat dan efektif serta pemetaan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi dengan kesesuaian yang tidak bias.Kata kunci: kemampuan siswa, soal tes berbasais HOTS, pemodelan rasch.
The Analysis of Creativity and Misconceptions of Elementary School Student Teachers in Science Learning through the Mind Map in Virtual Classrooms Nur Inayah Syar
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 9 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v9i1.8010

Abstract

AbstractThis research aimed at assessing the student teachers’ creativity and detecting their misconceptions about the material of Organism Reproduction. This descriptive research involved a total of 28 students of MI/elementary school student teachers. The Mind Map was used as a tool to assess the students' creativity and misconceptions. The data were then analyzed descriptively with scoring techniques based on the Creative Mind Map Rubric. The creativity assessment was categorized into four aspects including fluency, flexibility, originality, and elaboration. Of these four aspects, the highest level of achievement was on the fluency aspect (60.72%). Meanwhile, the lowest level of achievement was on the originality aspect (3.57%). The category of students’ creativity was “Almost Not Creative” with the percentage of 39.29%. It means that on average each student only acquired one to two aspects of creativity. The students’ misconceptions were detected almost in each sub material of Organism Reproduction. However the highest number of misconceptions was found in the material of Animal Reproduction, 21 times on the generative reproduction of vertebrates and invertebraes animals. This study provided an evaluation of alternative instruments to measure the students’ creativity and misconceptions in science learning.Keywords: mind map, creativity, misconception, virtual classrooms. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menilai kreativitas mahasiswa calon guru dan mendeteksi miskonsepsi mereka pada materi Perkembangbiakan Makhluk Hidup. Penelitian deskriptif ini melibatkan 28 orang mahasiswa calon guru MI/SD. Mind map digunakan sebagai alat untuk menilai kreativitas dan miskonsepsi mahasiswa. Data kemudian dianalisis secara deskriptif dengan teknik penskoran berdasarkan creative mind map rubric. Penilaian kreativitas dibagi menjadi empat aspek, yaitu fluency, flexibility, originality dan elaboration. Dari keempat aspek tersebut fluency memiliki tingkat ketercapaian yang paling tinggi (60,72%). Sementara itu, aspek terendah adalah originality (3,57%). Tingkat kreativitas mahasiswa berada pada kategori “almost not creative” dengan persentase 39,29%. Ini berarti bahwa rata-rata setiap mahasiswa hanya menguasai satu hingga dua aspek kreativitas. Miskonsepsi mahasiswa terdeteksi hampir di setiap sub materi Perkembangbiakan Makhluk Hidup. Namun demikian, jumlah miskonsepsi tertinggi ditemukan pada sub materi Perkembangbiakan Hewan, yaitu sebanyak 21 kali pada konsep perkembangbiakan generatif mengenai hewan vertebrata dan invertebrata. Penelitian ini memberikan alternatif instrumen evaluasi yang mampu mengukur kreativitas serta miskonspsi mahasiswa pada pembelajaran IPA.Kata kunci: mind map, kreativitas, miskonsepsi, kelas virtual.
Aggressive Behaviour Among Adolescents with Mild Intellectual Disability: Do Parental Conflicts, Peer Influence, and Socio-Environmental Deprivation Play a Role? Udeme Samuel Jacob; Jace Pillay; Ifedolapo Oyewumi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.8036

Abstract

AbstractAggressive behaviour is a major characteristics among adolescents with mild intellectual disability due to their inability to effectively use verbal communication to express their needs. This study, therefore, investigated the role of parental conflicts, peer influence, and socio-environmental deprivation in predicting aggressive behaviour among the study participants. The theory of planned behaviour, which states that individual behaviour is determined by corresponding expectations, was the theoretical framework used in this study. A descriptive correlational research design was adopted. The sample consisted of 50 participants (43% males, 57% females) aged between 13 and 18 (median of 15.5; the standard deviation of 1.20). The participants were adolescents with mild intellectual disability who lived in the Ibadan Metropolis, Nigeria and were conveniently selected for the study. The Children’s Perception of Inter-parental Conflict Scale, Resistance to Peer Influence Questionnaire, socio-environment deprivation scale and Aggressive Behaviour Scale were used for data collection. Analysis of variance was used for data analysis. The results revealed that there was no significant relationship between the independent variables (parental conflicts, peer influence and socio-environmental deprivation) and aggressive behaviour among adolescents with mild intellectual disability. The joint contribution of parental conflict, peer influence and environmental deprivation to the aggressive behaviour was 5.5%. This was not significant. The study has shown that parental conflicts, peer influence and socio-environmental deprivation do not play a role in increasing aggressive behaviour among adolescents with mild intellectual disability.Keywords: aggressive behaviour, adolescents with mild intellectual disability, parental conflicts, peer influence, socio-environmental deprivation.AbstrakPerilaku agresif merupakan karakteristik utama pada remaja dengan disabilitas intelektual ringan karena ketidakmampuan mereka untuk menggunakan komunikasi verbal secara efektif untuk mengungkapkan kebutuhannya. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki peran konflik orang tua, pengaruh teman sebaya, dan deprivasi sosial-lingkungan dalam memprediksi perilaku agresif di antara peserta penelitian. Teori perilaku terencana yang menyatakan bahwa perilaku individu ditentukan oleh ekspektasi yang sesuai merupakan kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini. Sebuah desain penelitian korelasional deskriptif diadopsi. Sampel terdiri dari 50 peserta (43% laki-laki, 57% perempuan) berusia antara 13 dan 18 (median 15,5; standar deviasi 1,20). Para partisipan adalah remaja dengan disabilitas intelektual ringan yang tinggal di Ibadan Metropolis, Nigeria dan dipilih dengan mudah untuk penelitian ini. Persepsi Anak-Anak tentang Skala Konflik Antar Orangtua, Kuesioner Resistensi terhadap Pengaruh Teman Sebaya, skala deprivasi sosio-lingkungan dan Skala Perilaku Agresif digunakan untuk pengumpulan data. Analisis varian digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel independen (konflik orang tua, pengaruh teman sebaya dan deprivasi sosial lingkungan) dengan perilaku agresif pada remaja dengan disabilitas intelektual ringan. Kontribusi bersama dari konflik orang tua, pengaruh teman sebaya dan perampasan lingkungan terhadap perilaku agresif adalah 5,5%. Ini tidak signifikan. Penelitian telah menunjukkan bahwa konflik orang tua, pengaruh teman sebaya, dan deprivasi sosial-lingkungan tidak berperan dalam meningkatkan perilaku agresif di kalangan remaja dengan disabilitas intelektual ringan.Kata kunci: perilaku agresif, remaja dengan disabilitas intelektual ringan, konflik orang tua, pengaruh teman sebaya, perampasan sosial lingkungan.
Analysis of the Internship Program "Merdeka Belajar Kampus Merdeka" Perspectives of Primary School Teachers’ Teaching Readiness Muhamad Afandi; Sari Yustiana; Sri Wahyuningsih
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 9 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v9i1.8071

Abstract

AbstractThe purpose of this study is to analyze the “Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)” program from the perspective of teachers’ teaching readiness. The study used a qualitative approach carried out at one elementary school in Wonosobo Regency, Central Java during the early days of learning activities from August to December 2021. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires distributed to participants, which included teachers, students, and pre-service elementary school teachers of Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Besides, the secondary data were obtained from books, journal articles, and other sources. The findings revealed that relating to teachers’ teaching readiness, there were 40% of educators mastered the concept of the MBKM program, while another 60% of them understood the term MBKM program from the existing information provided by media. In mastering Information and Communication Technology (ICT), 63% of educators stated that they had mastered ICT and were accustomed to using some social media for learning activities, while 37% of educators had not mastered ICT well but they only used ICT for certain purposes such as teaching the MBKM program although with a relatively low understanding.Keywords: merdeka belajar, internship program, teachers’ readiness, primary school. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) dari perspektif kesiapan mengajar guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah pada masa-masa awal kegiatan pembelajaran, yaitu Agustus-Desember 2021. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan angket kepada partisipan yang meliputi guru, siswa, dan mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung Semarang sebagai calon guru SD. Selain itu, data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dan sumber lainnya. Hasil temuan mengungkapkan bahwa terkait kesiapan guru dalam mengajar, terdapat 40% pendidik yang menguasai konsep program MBKM, sedangkan 60% lainnya hanya memahami istilah program MBKM dari media informasi yang ada. Dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), 63% pendidik menyatakan telah menguasai TIK dan terbiasa menggunakan beberapa media sosial untuk kegiatan pembelajaran, sedangkan 37% pendidik belum menguasai TIK dengan baik, hanya menggunakan TIK untuk tujuan tertentu seperti mengajar dan berkomunikasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa para pendidik sudah siap mengajar dalam program MBKM meskipun dengan pemahaman yang relatif rendah.Kata kunci: merdeka belajar, program magang, kesiapan guru, sekolah dasar.
Developing Ancermat (Anthology of Mathematics Story) Digital Learning Media to Improve Students’ Problem-Solving Ability Nuhyal Ulia; Mohamad Hariyono; Imam Kusmaryono; Rida Fironika Kusumadewi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 9 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v9i1.8072

Abstract

AbstractThe use of digital-based learning media is very necessary for teachers.  The existing limited media becomes the main reason why Ancermat (anthology of mathematical stories) learning media is developed and expected to be able to improve elementary school students’ problem solving skills. This study aims to describe the stages of the development of Ancermat learning media and find out whether it meets valid, practical criteria, and its effectiveness. The method used was the development research. The data analysis comprised of validity test analysis, practicality test analysis, and analysis of Ancermat media effectiveness using descriptive statistics and gain normalization test. The results showed that Ancermat learning media met the valid score of 4.53 with very high criteria and fulfilled the practicality test based on the students’ responses reaching an average score of 4.41 with very good criteria. Based on the gain test, it reached 0.580 with moderate criteria and met the minimum criteria of mastery learning with t count = 27.33> t table = 2.042, meaning that the average score of the problem-solving skill tests met the minimum criteria of mastery learning. So, it can be concluded that the Ancermat learning media meets the criteria of being valid, practical, and effective in improving the mathematical problem solving abilities of elementary school students.Keywords: ancermat, learning media digital, problem solving skills, elementary school students. AbstrakPenggunaan media pembelajaran berbasis digital sangat diperlukan bagi para guru. Keterbatasan media yang ada menjadi alasan utama dikembangkannya media pembelajaran Ancermat (antologi cerita matematika) dan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan pengembangan media pembelajaran Ancermat dan mengetahui apakah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Metode yang digunakan adalah penelitian pengembangan. Analisis data meliputi analisis uji validitas, analisis uji kepraktisan, dan analisis efektivitas media Ancermat menggunakan statistik deskriptif dan uji normalisasi Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran Ancermat memenuhi skor valid sebesar 4,53 dengan kriteria sangat tinggi dan memenuhi uji kepraktisan berdasarkan respon siswa mencapai skor rata-rata 4,41 dengan kriteria sangat baik. Berdasarkan hasil uji n-gain mencapai 0,580 dengan kriteria sedang dan memenuhi kriteria ketuntasan minimal dengan t hitung = 27,33 > t tabel = 2,042, artinya skor rata-rata tes keterampilan pemecahan masalah matematika siswa memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran Ancermat memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar.Kata kunci: ancermat, media pembelajaran digital, keterampilan pemecahan masalah, siswa sekolah dasar.