cover
Contact Name
Ahmad Arifuddin
Contact Email
arifuddin@uinssc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alibtida@uinssc.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
Core Subject :
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a high-quality peer-reviewed journal published by Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia in collaboration with Indonesian Islamic Elementary Education Lecturers Association (Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia). Publishing twice a year, in June and October and already have a registration number p-ISSN: 2442-5133 and e-ISSN: 2527-7227. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is the leading journal in Islamic educational institutions concerning Islamic elementary education. The journal promotes research and scholarly discussion concerning Islamic Elementary education in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about curriculum development, teaching and learning, learning methodologies, instructional technologies, teacher competences, and assessments.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Bridging Artificial Intelligence Literacy and Technology Acceptance Among Elementary School Teachers: Evidence from a Structural Equation Model Hamdan Husein Batubara; Mahfudz Siddiq; Amalia Risfianti; Amelinda Saharani
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.20259

Abstract

AbstractThis study investigates the correlation between artificial intelligence (AI) literacy and acceptance among Indonesian elementary school teachers using a structural equation model. A cross-sectional survey of 409 teachers indicated elevated AI acceptance and literacy levels. AI literacy strongly predicted acceptance and vice versa, suggesting a bidirectional relationship between these two variables. Demographic factors exerted minimal influence, whereas the frequency of AI use showed a moderate correlation between the two constructs. The structural equation model revealed that social influence, facilitating conditions, and the progressive development of AI competencies significantly influenced teachers' behavioral intentions and ethical awareness. These findings underscore the necessity of comprehensive, experiential professional development programs that promote deep, reflective, and ethical engagement with AI technologies. This study advocates for a systemic, culturally responsive approach to AI integration in elementary education, aligning training, infrastructure, collaborative culture, and personalized support to prepare teachers for effective and responsible AI utilization.Keywords: artificial intelligence, AI literacy, UTAUT, teacher acceptance, elementary education. AbstrakPenelitian ini menyelidiki korelasi antara literasi dan penerimaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kalangan guru sekolah dasar di Indonesia dengan menggunakan model persamaan struktural. Sebuah survei cross-sectional terhadap 409 guru mengindikasikan adanya peningkatan tingkat penerimaan dan literasi AI. Literasi AI secara kuat memprediksi penerimaan dan sebaliknya, menunjukkan adanya hubungan dua arah antara kedua variabel ini. Faktor demografis memberikan pengaruh yang minimal, sedangkan frekuensi penggunaan AI menunjukkan korelasi yang moderat antara kedua variabel tersebut. Model persamaan struktural mengungkapkan bahwa pengaruh sosial, kondisi yang memfasilitasi, dan perkembangan kompetensi AI secara signifikan mempengaruhi niat perilaku dan kesadaran etis guru. Temuan ini menggarisbawahi perlunya program pengembangan profesional yang komprehensif dan berbasis pengalaman yang mendorong keterlibatan yang mendalam, reflektif, dan etis dengan teknologi AI. Studi ini mengadvokasi pendekatan sistemik dan responsif secara budaya terhadap integrasi AI dalam pendidikan dasar, menyelaraskan pelatihan, infrastruktur, budaya kolaboratif, dan dukungan pribadi untuk mempersiapkan guru dalam pemanfaatan AI yang efektif dan bertanggung jawab.Kata kunci: kecerdasan buatan, literasi AI, UTAUT, penerimaan guru, pendidikan dasar.
Strengthening Cultural Literacy Through Cirebon Folk Tales Incorporating Religious Moderation Values Nurhannah Widianti; Agus Nuryatin; Teguh Supriyanto; Rahayu Pristiwati
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.20349

Abstract

AbstractThe limited integration of local cultural values and religious moderation in elementary education has hindered the development of students’ character and their understanding of diversity. Although Indonesia possesses rich cultural heritage embedded in regional folklore, these stories are often underutilized as pedagogical resources for fostering tolerance, mutual respect, and harmonious interfaith relations. This study aims to describe the condition of cultural literacy in elementary schools, identify Cirebon folk tales that contain religious moderation values, and examine the implementation of cultural literacy strengthening. Using a qualitative descriptive design, data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings show that cultural literacy is inconsistently introduced in schools, that Cirebon folk tales such as Azan Pitu, Klenteng Jamblang, Babad Cirebon, and Nadran contain strong moderation values, and that the strengthening of cultural literacy is implemented through the P3 framework, the School Literacy Movement, and Pancasila Student Profile activities. These results highlight the importance of utilizing local folklore as a culturally grounded medium for cultivating national commitment, tolerance, non-violence, and cultural accommodation among young learners.Keywords: folklore, cultural literacy, religious moderation. AbstrakIntegrasi nilai-nilai budaya lokal dan moderasi agama yang terbatas dalam pendidikan dasar telah menghambat perkembangan karakter siswa dan pemahaman mereka terhadap keragaman. Meskipun Indonesia memiliki warisan budaya yang kaya yang tertanam dalam folklore regional, cerita-cerita ini seringkali kurang dimanfaatkan sebagai sumber daya pedagogis untuk menumbuhkan toleransi, saling menghormati, dan hubungan antaragama yang harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi literasi budaya di sekolah dasar, mengidentifikasi dongeng-dongeng Cirebon yang mengandung nilai-nilai moderasi agama, dan mengkaji implementasi penguatan literasi budaya. Dengan desain deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi budaya diperkenalkan secara tidak konsisten di sekolah, bahwa dongeng-dongeng Cirebon seperti Azan Pitu, Klenteng Jamblang, Babad Cirebon, dan Nadran mengandung nilai-nilai moderasi yang kuat, serta bahwa penguatan literasi budaya dilaksanakan melalui kerangka kerja P3, Gerakan Literasi Sekolah, dan kegiatan Profil Siswa Pancasila. Hasil ini menyoroti pentingnya memanfaatkan folklore lokal sebagai media yang berakar pada budaya untuk menumbuhkan komitmen nasional, toleransi, non-kekerasan, dan akomodasi budaya di kalangan pelajar muda.Kata kunci: cerita rakyat, literasi budaya, moderasi agama.
It’s Not a Miscalculation - It’s a Misconception! Uncovering Epistemological Obstacles in Preservice Teachers’ Mathematical Literacy Tasks Sukma Murni; Febri Restu Widianto; Cucun Sutinah
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.20410

Abstract

AbstractThis study identified and analyzed epistemological obstacles experienced by prospective elementary school teachers in solving mathematical literacy tasks on plane geometry material. This study employed a case study method, involving 24 students from a university, which was located in Cimahi City, West Java. The diagnostic test served as the research instrument and the data were analyzed using a thematic analysis approach to uncover various epistemological obstacles encountered by undergraduate students, including misconceptions regarding the properties of plane figures and difficulties in applying geometric concepts to mathematical literacy tasks. Epistemological obstacles arise due to the students' inability to connect abstract concepts with practical contexts, as well as their limited understanding of basic geometric concepts. These obstacles primarily stem from misconceptions about fundamental concepts of plane figures, difficulties in applying geometric concepts in contextual situations, and procedural learning approaches that lack conceptual depth. This research contributes to developing geometry learning strategies at the elementary school level, which can ultimately improve the overall quality of mathematics education.Keywords: epistemological obstacle, mathematical literacy, plane geometry. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hambatan epistemologis yang dialami oleh mahasiswa calon guru sekolah dasar dalam menyelesaikan tugas literasi matematis pada materi geometri bidang datar. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan melibatkan 24 mahasiswa dari sebuah universitas yang berlokasi di Kota Cimahi, Jawa Barat. Test diagnostik digunakan sebagai instrument penelitian, dan data dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik untuk mengungkap berbagai hambatan epistemologis yang dialami oleh mahasiswa, termasuk miskonsepsi terhadap sifat-sifat bangun datar dan kesulitan dalam menerapkan konsep geometri pada tugas literasi matematika. Hambatan epistemologis muncul karena ketidakmampuan mahasiswa dalam menghubungkan konsep-konsep abstrak dengan konteks praktis, serta keterbatasan pemahaman terhadap konsep dasar geometri. Hambatan-hambatan ini terutama berasal dari miskonsepsi mengenai konsep dasar bangun datar, kesulitan dalam menerapkan konsep geometri dalam situasi kontekstual, dan pendekatan pembelajaran prosedural yang kurang mendalam secara konseptual. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pembelajaran geometri di tingkat sekolah dasar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan matematika secara keseluruhan.Keywords: hambatan epistemis, literasi matematis, bangun datar.
Development of Math Fun: An Android-Based learning Media Assisted by iSpring for Elementary Mathematics Rodiah Faturohmah; Inne Marthyane Pratiwi; Yayan Carlian; Dadan F. Ramdhan; Hilman Mangkuwibawa
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.20743

Abstract

AbstractThe limited availability of mathematics learning media and the growing tendency of students to prefer smartphones over textbooks, presents challenges to the elementary learning process. Furthermore, advances in digital technology also offer opportunities to develop more engaging and interactive instructional media. Therefore, this research sought to design and evaluate a learning application, Math Fun, focused on the topic of two-dimensional (2-D) shapes for fourth-grade elementary students, as well as to assess its feasibility and user responses. The research employed a Research and Development (R&D) approach following the ADDIE instructional design model. Data were collected through observation, interviews, validation questionnaires, user response questionnaires, and a post-learning test. Validation results demonstrated a high level of feasibility, with scores of 89.58% from the material expert, 91.67% from the media expert, and 90% from the IT expert, each categorized as feasible. A limited trial involving 22 fourth-grade students from an elementary school in Garut Regency, West Java yielded a student response rate of 91.43% (excellent) and an average post-test score of 77.14, indicating that the learning objectives were successfully achieved. The findings confirm that Math Fun is a feasible and effective Android-based interactive learning medium for teaching 2-D shapes to fourth-grade elementary students.Keywords: android, mathematics learning media, math fun. AbstrakKeterbatasan ketersediaan media pembelajaran matematika dan meningkatnya kecenderungan siswa yang lebih memilih smartphone daripada buku teks, menghadirkan tantangan bagi proses pembelajaran di sekolah dasar. Di samping itu, kemajuan teknologi digital juga menawarkan peluang untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya merancang dan mengevaluasi aplikasi pembelajaran, Math Fun, yang berfokus pada topik bentuk dua dimensi (2-D) untuk siswa sekolah dasar kelas empat, serta menilai kelayakannya dan respons pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) mengikuti model desain instruksional ADDIE. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner validasi, kuesioner respons pengguna, dan tes pasca-pembelajaran. Hasil validasi menunjukkan tingkat kelayakan yang tinggi, dengan skor 89,58% dari ahli materi, 91,67% dari ahli media, dan 90% dari ahli TI, yang masing-masing dikategorikan layak. Uji coba terbatas yang melibatkan 22 siswa kelas empat SD di Kabupaten Garut, Jawa Barat menghasilkan tingkat respons siswa sebesar 91,43% (sangat baik) dan skor rata-rata postes sebesar 77,14, yang menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran telah tercapai. Temuan ini menegaskan bahwa Math Fun merupakan media pembelajaran interaktif berbasis Android yang layak dan efektif untuk mengajarkan bangun ruang dua dimensi kepada siswa SD kelas empat.Kata kunci: android, media pembelajaran matematika, math fun. 
Exploration of Mathematical Concepts on Interpretation the Principal of Ukhuwah Islamiyah through Autoethnographic Study Amrul Huda Fathir; Neni Mariana; Naif Mastoor Alsulami
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.21149

Abstract

AbstractMathematics is a fundamental science that extends beyond the classroom and plays a crucial role in daily life, including within religious contexts, like the principle of Ukhuwah Islamiyah in Islam. Divergent perspectives often overlook this principle, which aims to unite Muslims, thereby impacting children's understanding of diversity. This study explores how mathematical concepts can be interpreted through the lens of Ukhuwah Islamiyah to reinforce both the principle and mathematical thinking. Using a qualitative method with an autoethnographic approach, the researcher (first author) reflects on personal experiences related to Qur'anic and Hadith teachings. Data were collected through narrative writing, narrative inquiry, document analysis, and expert interviews and validated using trustworthiness and authenticity criteria. The findings highlight various mathematical concepts linked to Ukhuwah Islamiyah, such as numbers and operations, geometry (lines and angles), building nets, and the alignment of lines and angles in congregational prayer. These insights provide a basis for integrating Islamic values into elementary mathematics education, fostering meaningful learning experiences. In conclusion, these mathematical elements provide valuable opportunities for classroom instruction, promoting character development, enhancing mathematical reasoning, and reinforcing the principle of Ukhuwah Islamiyah. Keywords: mathematics education, Islamic teachings, ukhuwah islamiyah.AbstrakMatematika adalah ilmu fundamental yang melampaui ruang kelas dan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konteks keagamaan, seperti prinsip Ukhuwah Islamiyah dalam Islam. Perspektif yang berbeda sering mengabaikan prinsip ini, yang bertujuan untuk menyatukan umat Muslim, sehingga memengaruhi pemahaman anak-anak tentang keragaman. Studi ini mengeksplorasi bagaimana konsep matematika dapat diinterpretasikan melalui lensa Ukhuwah Islamiyah untuk memperkuat prinsip dan pemikiran matematis. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan autoetnografi, peneliti (penulis pertama) merefleksikan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadits. Data dikumpulkan melalui penulisan naratif, penyelidikan naratif, analisis dokumen, dan wawancara ahli, serta divalidasi menggunakan kriteria kepercayaan dan keaslian. Temuan menyoroti berbagai konsep matematika yang terkait dengan Ukhuwah Islamiyah, seperti angka dan operasi, geometri (garis dan sudut), membangun jaring, dan penyelarasan garis dan sudut dalam salat berjamaah. Wawasan ini memberikan dasar untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pendidikan matematika dasar, sehingga mendorong pengalaman belajar yang bermakna. Kesimpulannya, unsur-unsur matematika ini memberikan peluang berharga untuk pengajaran di kelas, mendorong pengembangan karakter, meningkatkan penalaran matematika, dan memperkuat prinsip Ukhuwah Islamiyah.Kata kunci: pendidikan matematika, ajaran Islam, ukhuwah islamiyah.
The Impact of Academic Service System Management on Enhancing the Quality of Islamic Elementary Teachers Imam Sibaweh; Aan Komariah; Diding Nurdin; Nur Aedi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.21481

Abstract

AbstractThis study aims to investigate the impact of academic service system management on enhancing teacher quality at Al Ihsan Japura Lor Islamic Elementary School, Cirebon. The study focuses on four indicators of academic service system management (efficiency, accessibility, reliability, and technological innovation), as well as four indicators of quality improvement (student satisfaction, learning effectiveness, accreditation improvement, and productivity). The research method uses a quantitative approach with a sample of 33 teachers. The research instrument is a closed questionnaire with tested validity, which is then analyzed using the Pearson product-moment correlation technique. The results of the study indicate that all indicators of academic service system management have a significant effect on improving teacher quality, with correlation values ranging from 0.87 to 0.93, far exceeding the r table value at a significance level of 5%. This finding confirms that an efficient, accessible, reliable, and innovative academic service management system can improve student satisfaction, learning effectiveness, accreditation quality, and teacher productivity in madrasah. This study provides an important contribution to the development of academic management strategies for improving teacher quality, especially in rural community-based madrasahs.Keywords: academic service management, teacher quality, Islamic elementary school. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki dampak manajemen sistem pelayanan akademik terhadap peningkatan kualitas guru di MI Al Ihsan Japura Lor, Cirebon. Penelitian ini berfokus pada empat indikator manajemen sistem pelayanan akademik (efisiensi, aksesibilitas, keandalan, dan inovasi teknologi), serta empat indikator peningkatan kualitas (kepuasan siswa, efektivitas pembelajaran, peningkatan akreditasi, dan produktivitas). Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel 33 guru. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup dengan validitas teruji, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik korelasi momen produk Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua indikator manajemen sistem pelayanan akademik memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas guru, dengan nilai korelasi berkisar antara 0,87 hingga 0,93, jauh melebihi nilai r tabel pada tingkat signifikansi 5%. Temuan ini menegaskan bahwa sistem manajemen pelayanan akademik yang efisien, mudah diakses, andal, dan inovatif dapat meningkatkan kepuasan siswa, efektivitas pembelajaran, kualitas akreditasi, dan produktivitas guru di madrasah. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan strategi manajemen akademik untuk meningkatkan kualitas guru, khususnya di madrasah berbasis komunitas di daerah pedesaan.Kata kunci: manajemen layanan akademik, kualitas guru, Madrasah Ibtidaiyah.
Empowering Mathematical Problem Solving in Elementary Classrooms: Challenges and Opportunities in Society 5.0 Eliva Sukma Cipta; Nurainiyah Nurainiyah; Neneng Sulastri; Usep Suherman; Dick Dick Maulana
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.21701

Abstract

AbstractThe Society 5.0 era demands the world of education to equip students with critical, creative, and solution-oriented thinking skills in dealing with real problems. This study aims to explore the level of elementary school students' mathematical problem-solving abilities and identify the challenges and opportunities faced by teachers in building these skills in the Society 5.0 era. This study uses a mixed method approach with a sequential explanatory model. Quantitative data were obtained through problem-solving tests given to 60 fifth-grade students from two public elementary schools in Bandung Regency who were selected using stratified random sampling. The results showed that students' problem-solving abilities were in the moderate category (average = 21.6 out of a maximum score of 32), with the highest performance at the "implementing the plan" stage and the lowest at the "re-checking" stage. Qualitative data was obtained through interviews and observations of four mathematics teachers. Thematic analysis revealed challenges in the form of limited time, reflective materials, and the use of technology. However, teachers also saw opportunities through contextual approaches and digital platforms. These results demonstrate the importance of innovative, reflective, and technology-integrated mathematics learning designs to equip students with 21st-century skills.Keywords: problem solving, elementary classrooms, society 5.0.AbstrakEra Society 5.0 menuntut dunia pendidikan untuk membekali peserta didik dengan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan berorientasi solusi dalam menghadapi permasalahan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar dan mengidentifikasi tantangan serta peluang yang dihadapi guru dalam membangun keterampilan tersebut di era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan model eksplanatori sekuensial. Data kuantitatif diperoleh melalui tes pemecahan masalah yang diberikan kepada 60 siswa kelas V dari dua sekolah dasar negeri di Kabupaten Bandung yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa berada pada kategori sedang (rata-rata = 21,6 dari skor maksimum 32), dengan kinerja tertinggi pada tahap "melaksanakan rencana" dan terendah pada tahap "memeriksa ulang". Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dan observasi terhadap empat guru matematika. Analisis tematik mengungkap tantangan berupa keterbatasan waktu, materi reflektif, dan penggunaan teknologi. Namun, guru juga melihat peluang melalui pendekatan kontekstual dan platform digital. Hasil-hasil ini menunjukkan pentingnya desain pembelajaran matematika yang inovatif, reflektif, dan terintegrasi dengan teknologi untuk membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21.Kata kunci: pemecahan masalah, sekolah dasar, society 5.0.
The Role of Instructional Leadership in Enhancing Teacher Performance in Primary Schools Moses Adeleke Adeoye; Abdulrazak Mohammed; Olawale Abayomi Onikoyi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.21775

Abstract

AbstractThe pursuit of quality education, as highlighted in Sustainable Development Goal 4, underscores the importance of instructional leadership in enhancing teacher performance in primary schools. Despite the literature's affirmation of its significance, context-specific practices in socioeconomically diverse settings have received limited attention. This research explores how instructional leadership influences teacher effectiveness and student outcomes in primary education. A quantitative approach was adopted, using secondary data from peer-reviewed journals, government reports, and educational databases. Correlational analysis supported by descriptive statistics revealed that key practices—vision setting, instructional support, professional development, collaborative culture, data-driven decision-making, and fostering a positive school climate—significantly improve teacher performance. These practices enhance classroom management, teaching methodologies, and student achievement. Findings suggest that instructional leadership tailored to local contexts is essential for teacher growth and equitable learning outcomes. By identifying actionable strategies and aligning them with measurable performance indicators, the research contributes to a deeper appreciation for leadership in resource-constrained environments. The research offers insights for policymakers, school leaders, and practitioners seeking evidence-based approaches to strengthen teacher effectiveness and promote excellence in primary education.Keywords: instructional leadership, teacher performance, student outcomes, primary education, collaborative practices. AbstrakUpaya mencapai pendidikan berkualitas, sebagaimana disoroti dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4, menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan instruksional dalam meningkatkan kinerja guru di sekolah dasar. Meskipun literatur menegaskan signifikansinya, praktik-praktik spesifik konteks dalam lingkungan sosial ekonomi yang beragam masih kurang mendapat perhatian. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan instruksional memengaruhi efektivitas guru dan hasil belajar siswa di pendidikan dasar. Pendekatan kuantitatif diadopsi, menggunakan data sekunder dari jurnal peer-review, laporan pemerintah, dan basis data pendidikan. Analisis korelasional yang didukung oleh statistik deskriptif mengungkapkan bahwa praktik-praktik utama—penetapan visi, dukungan instruksional, pengembangan profesional, budaya kolaboratif, pengambilan keputusan berbasis data, dan pembinaan iklim sekolah yang positif—secara signifikan meningkatkan kinerja guru. Praktik-praktik ini meningkatkan manajemen kelas, metodologi pengajaran, dan prestasi siswa. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional yang disesuaikan dengan konteks lokal sangat penting bagi pertumbuhan guru dan hasil belajar yang merata. Dengan mengidentifikasi strategi yang dapat ditindaklanjuti dan menyelaraskannya dengan indikator kinerja yang terukur, penelitian ini berkontribusi pada apresiasi yang lebih mendalam terhadap kepemimpinan di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini menawarkan wawasan bagi para pembuat kebijakan, pemimpin sekolah, dan praktisi yang mencari pendekatan berbasis bukti untuk memperkuat efektivitas guru dan meningkatkan keunggulan dalam pendidikan dasar.Kata kunci: kepemimpinan pembelajaran, kinerja guru, hasil belajar siswa, pendidikan dasar, praktik kolaboratif.
Promoting Religious Moderation through Multicultural Problem-Based Learning: A Study in Elementary Education Apip Rudianto; Bunyamin Maftuh; Mubiar Agustin; Ernawulan Syaodih; Anas Salahudin
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.21890

Abstract

AbstractIndonesia is a country with immense diversity in religion, culture, and ethnicity. This diversity serves as both a wealth and a challenge in building a harmonious and tolerant society. In social reality, unmanaged differences could lead to prejudice, discrimination, and even intergroup conflict. The objectives of this study were to examine the effectiveness of multicultural problem-based learning, to identify teachers' perceptions, and to assess the contribution of this approach in fostering a tolerant, inclusive, and diversity-appreciating character in line with religious moderation values in primary education. The research employed a mixed-methods approach, presenting qualitative data gathered from interviews and quantitative data collected through a Google Form questionnaire distributed to elementary school (SD) and Islamic elementary school (MI) teachers in Kuningan Regency, West Java, Indonesia. The findings demonstrated that multicultural problem-based learning was viewed very positively by SD and MI teachers, as it effectively familiarised students with the values of diversity, tolerance, and inclusiveness while strengthening their character and 21st-century skills. This approach was deliberately strategic in promoting religious moderation, attitudes, and building a peaceful and inclusive educational ecosystem.Keywords: multicultural education, problem-based learning, religious moderation attitude.AbstrakIndonesia adalah negara dengan keragaman agama, budaya, dan suku yang sangat besar. Keragaman ini berfungsi sebagai kekayaan sekaligus tantangan dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran. Dalam realitas sosial, perbedaan yang tidak terkelola dapat menyebabkan prasangka, diskriminasi, dan bahkan konflik antarkelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji efektivitas pembelajaran berbasis masalah multikultural, mengidentifikasi persepsi guru, dan mengkaji kontribusi pendekatan ini dalam menumbuhkan karakter yang toleran, inklusif, dan menghargai keragaman yang sejalan dengan nilai-nilai moderasi beragama di pendidikan dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, menyajikan data kualitatif yang dikumpulkan dari wawancara dan data kuantitatif yang dikumpulkan melalui kuesioner Google Form yang disebarkan kepada guru sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Indonesia. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah multikultural dipandang sangat positif oleh guru SD dan MI, karena secara efektif membiasakan siswa dengan nilai-nilai keragaman, toleransi, dan inklusivitas sekaligus memperkuat karakter dan keterampilan abad ke-21 siswa. Pendekatan ini sengaja dibuat strategis dalam mempromosikan moderasi beragama, sikap, dan membangun ekosistem pendidikan yang damai dan inklusif.Kata kunci: pendidikan multikultural, pembelajaran berbasis masalah, sikap moderasi beragama.
The Effect of Cooperative Learning Model on Elementary School Students’ Affective Learning Outcomes: A Meta-Analysis Ma'as Shobirin; Fitria Martanti; Ummu Jauharin Farda; Ersila Devy Rinjany
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.22002

Abstract

AbstractThis meta-analysis aims to examine the effect of cooperative learning on elementary school students’ affective learning outcomes after the implementation of the cooperative learning model. 40 relevant studies, through online databases, including Google Scholar, DOAJ, ERIC, Springer, Elsevier, and ResearchGate, were identified. Of these, 12 studies met the inclusion criteria and provided usable data, yielding 16 artifacts. Data from 16 artifacts, including sample sizes, means, and standard deviations, were collected using descriptive analysis. The data analysis utilized meta-analysis techniques, including effect size calculation, heterogeneity testing, summary effect estimation using a random-effects model, and the assessment of potential publication bias through forest plots. Those analyses utilized JASP software. The results showed that: (1) The effect size (ES) for affective learning outcomes of elementary school students was 77.06, with a 95% confidence interval (CI) ranging from 73.34 to 81.77. The hypothesis test produced a z value of 0.4035, which is smaller than the critical value (z = 1.96), leading to the acceptance of the null hypothesis (H₀) and the rejection of the alternative hypothesis (Hₐ); (2) Although there is a slight asymmetry in the funnel diagram indicating potential publication bias, the statistically insignificant Egger regression test (z = -0.1078, p = 0.914) supports the robustness of the meta-analysis, which confirms that the cooperative learning model produces moderate to high affective learning outcomes in elementary school students. This finding indicates that although cooperative learning can positively influence students' affective learning outcomes, the observed effect size is not statistically significant at α = 0.05. Thus, it is recommended that future studies refine the design and implementation of cooperative learning strategies to increase their effectiveness and achieve statistically significant improvements in elementary school students' affective learning outcomes.Keywords: affective learning outcomes, cooperative learning, meta-analysis.AbstrakMeta-analisis ini bertujuan untuk menguji pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar afektif siswa sekolah dasar setelah penerapan model pembelajaran kooperatif. Sebanyak 40 studi relevan, melalui basis data daring, termasuk Google Scholar, DOAJ, ERIC, Springer, Elsevier, dan ResearchGate, diidentifikasi. Dari jumlah tersebut, 12 studi memenuhi kriteria inklusi dan menyediakan data yang dapat digunakan, menghasilkan 16 artefak. Data dari 16 artefak, termasuk ukuran sampel, rata-rata, dan deviasi standar, dikumpulkan menggunakan analisis deskriptif. Analisis data menggunakan teknik meta-analisis, termasuk perhitungan ukuran efek, pengujian heterogenitas, estimasi efek ringkasan menggunakan model efek acak, dan penilaian potensi bias publikasi melalui plot hutan. Analisis tersebut menggunakan perangkat lunak JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Besarnya efek (ES) terhadap hasil belajar afektif siswa sekolah dasar adalah 77,06, dengan interval kepercayaan (CI) 95% berkisar antara 73,34 hingga 81,77. Uji hipotesis menghasilkan nilai z sebesar 0,4035, yang lebih kecil daripada nilai kritis (z = 1,96), sehingga menyebabkan diterimanya hipotesis nol (H₀) dan ditolaknya hipotesis alternatif (Hₐ); (2) Meskipun terdapat sedikit asimetri pada diagram corong yang mengindikasikan potensi bias publikasi, uji regresi Egger yang secara statistik tidak signifikan (z = -0,1078, p = 0,914) mendukung kekokohan meta-analisis, yang menegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif menghasilkan hasil belajar afektif sedang hingga tinggi pada siswa sekolah dasar. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pembelajaran kooperatif dapat memengaruhi hasil belajar afektif siswa secara positif, besarnya efek yang teramati tidak signifikan secara statistik pada α = 0,05. Oleh karena itu, disarankan agar penelitian masa depan menyempurnakan desain dan implementasi strategi pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan efektivitasnya dan mencapai peningkatan yang signifikan secara statistik pada hasil belajar afektif siswa sekolah dasar.Kata kunci: hasil pembelajaran afektif, pembelajaran kooperatif, meta-analisis.