cover
Contact Name
Ahmad Arifuddin
Contact Email
arifuddin@uinssc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alibtida@uinssc.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
Core Subject :
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a high-quality peer-reviewed journal published by Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia in collaboration with Indonesian Islamic Elementary Education Lecturers Association (Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia). Publishing twice a year, in June and October and already have a registration number p-ISSN: 2442-5133 and e-ISSN: 2527-7227. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is the leading journal in Islamic educational institutions concerning Islamic elementary education. The journal promotes research and scholarly discussion concerning Islamic Elementary education in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about curriculum development, teaching and learning, learning methodologies, instructional technologies, teacher competences, and assessments.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Strengthening Students' Islamic Character Education through Ecopedagogic-Based Learning; Case Study at Darul Huffadz Primary School Dodi Kurniawan; Slamet Firdaus; Ilman Nafia; Septi Gumiandari
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i1.18881

Abstract

AbstractThe increasing neglect of moral and character education in the era of digitalization highlights the urgent need for ecopedagogy as a transformative approach to foster ecological awareness and prevent environmental degradation. This research aims to determine (1) the concept of ecopedagogics in natural school-based Islamic character education; (2) the application of ecopedagogic-based learning models at Daarul Huffadz Primary School; and (3) the implications of ecopedagogics in strengthening natural school-based Islamic character education at Daarul Huffadz Primary School. This research uses a qualitative analytical descriptive approach. Data was obtained through interview techniques with 7 school administrators, observation of learning activities in class III, totaling 28 students, and documentation studies through the Lesson Plan and intra-school student organization syllabus as comparison material with other formal schools. The research results found (1) the ecopedagogic concept in Islamic character education is applied using the concept of learning with nature referring to three core curricula and four basic foundations, namely moral, leadership, scientific logic, and entrepreneurship developments; (2) the implementation of learning refers more to the achievement of development and character formation of students which is determined through attitudinal or affective assessments; (3) the development of ecopedagogical education as character education has eight main character pillars as a reference for student outcomes. These findings highlight that ecopedagogic education integrates environmental awareness with character development, providing a holistic approach that shapes students into responsible, ethical, and environmentally conscious individuals.Keywords: ecopedagogic, Islamic character education, natural school. AbstrakMeningkatnya pengabaian pendidikan moral dan karakter di era digitalisasi menyoroti kebutuhan mendesak akan ekopedagogi sebagai pendekatan transformatif untuk menumbuhkan kesadaran ekologis dan mencegah degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) konsep ekopedagogi dalam pendidikan karakter Islam berbasis sekolah alam; (2) penerapan model pembelajaran berbasis ekopedagogi di Sekolah Dasar Daarul Huffadz; dan (3) implikasi ekopedagogi dalam penguatan pendidikan karakter Islam berbasis sekolah alam di Sekolah Dasar Daarul Huffadz. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitis kualitatif. Data diperoleh melalui teknik wawancara dengan 7 administrator sekolah, observasi aktivitas pembelajaran di kelas III yang berjumlah 28 siswa, dan studi dokumentasi melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan silabus organisasi siswa intra sekolah sebagai bahan perbandingan dengan sekolah formal lainnya. Hasil penelitian menemukan (1) konsep ekopedagogi dalam pendidikan karakter Islam diterapkan menggunakan konsep belajar dengan alam mengacu pada tiga kurikulum inti dan empat landasan dasar, yaitu pengembangan moral, kepemimpinan, logika ilmiah, dan kewirausahaan; (2) pelaksanaan pembelajaran lebih mengacu pada pencapaian pengembangan dan pembentukan karakter peserta didik yang ditentukan melalui penilaian sikap atau afektif; (3) pengembangan pendidikan ekopedagogi sebagai pendidikan karakter memiliki delapan pilar karakter utama sebagai acuan capaian peserta didik. Temuan ini menyoroti bahwa pendidikan ekopedagogi mengintegrasikan kesadaran lingkungan dengan pengembangan karakter, memberikan pendekatan holistik yang membentuk peserta didik menjadi individu yang bertanggung jawab, beretika, dan sadar lingkungan.Kata kunci: ecopedagogic, pendidikan karakter Islam, sekolah alam.
Development of the Value Inquiry Learning Model to Improve Conceptual Understanding and Social Attitudes in Thematic Learning Ani Siti Anisah; Sapriya Sapriya; Kama Abdul Hakam; Ernawulan Syaodih; Nordin bin Mamat
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.18934

Abstract

AbstractSchool learning is seen as emphasizing the achievement of cognitive aspects, while affective aspects tend to be neglected. Thus causing imbalances in the formation of students' overall competence. To answer these challenges, a Value Inquiry learning model was developed that can balance cognitive and affective aspects integrated in thematic learning. This research used a modified Research & Development approach through three stages of implementation: preliminary study, model development, and model validation test. This research involved five elementary schools in Garut Regency. The instruments used included expert validation questionnaires, observation sheets, attitude questionnaires, and learning outcome tests. The limited and broad trials showed a significant increase in both concept understanding and students' social attitudes, it was shown by the results of the N-Gain analysis with an increase of 29.48% in the limited experimental class test with a low interpretation, 69.06% in the broad test phase I, 69.98% in phase II, and 70.10% in the validation test with a moderate interpretation. The effectiveness test results with a value of 0.701 which indicates that the Value Inquiry learning model is quite effective in improving students' concept understanding and social attitudes. Thus, this model is very relevant and practical to be applied.Keywords: learning models, value inquiry, social attitudes, characteristics of elementary school students.AbstrakPembelajaan di sekolah dipandang lebih menekankan pada pencapaian aspek kognitif, sementara aspek afektif cenderung terabaikan. Sehingga menyebabkan ketimpangan dalam pembentukan kompetensi utuh siswa. Untuk menjawab tantangan tersebut dikembangkan model pembelajaran Value Inquiry yang dapat menyeimbangkan aspek kognitif dan aektif yang terintegrasi dalam pembelajaran tematik. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research & Development yang dimodifikasi melalui tiga tahap pelaksanaan: studi pendahuluan, pengembangan model, dan uji validasi model. Penelitian ini melibatkan lima sekolah dasar di Kabupaten Garut. Instrumen yang digunakan melipui angket validasi ahli, lembar observasi, angket sikap, dan tes hasil belajar. Pada uji coba terbatas dan luas menunjukkan peningkatan yang signifikan baik dalam pemahaman konsep maupun sikap sosial siswa, hal itu ditunjukkan oleh hasil analisis N-Gain dengan peningkatan sebesar 29,48% pada uji kelas eksperimen terbatas dengan interpretasi rendah, 69,06% pada uji luas tahap I, 69,98% pada tahap II, dan 70,10% pada uji validasi dengan interpretasi sedang. Hasil uji efektivitas dengan nilai 0,701 yang menunjukkan bahwa model pembelajaran Value Inquiry  cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep dan sikap sosial pesrta didik. Dengan demikian, model ini sangat relevan dan praktis untuk diterapkan.Kata kunci: model pembelajaran, value inquiry, sikap sosial, karakteristik siswa sekolah dasar.
Improving Elementary School Students' Essays Writing Skills by Using The Brainwriting Learning Model Assisted by Storybird Tiana Dara Lugina; Prana Dwija iswara; Asep Saefudin; Arie Rakhmat Riyadi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.18953

Abstract

AbstractThis study aims to determine the effect of the Brainwriting learning model assisted by storybird on narrative essay writing skills of phase C elementary school students in grade 5. This study used a quasi-experiment method of one group pretest-posttest design with purposive sampling. This research was conducted at Public Elementary School (SDN) 015 Kresna, Bandung City, West Java Province with a sample of 30 people. Data collection was carried out using test and non-test instruments. The test carried out is writing a narrative essay with a narrative essay assessment rubric consisting of 5 indicators, namely content, organizational structure, linguistic aspects, linguistic characteristics and types of narrative essays. The collected data were analyzed using IBM SPPS 29 to analyze the hypothesis with parametric statistics, namely paired sample t-test and non-parametric Wilcoxon test. First, normality and homogeneity tests were conducted with Shapiro-Wilk analysis. The results of data analysis show that significant (2-tailed) <0.05 so that H0 is rejected and H1 is accepted. It can be concluded that there is a significant difference between before and after the treatment of the Brainwriting learning model assisted by storybird.Keywords: brainwriting, narrative essay, storybird, writing skills.                                                               AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Brainwriting berbantuan storybird terhadap keterampilan menulis karangan narasi siswa sekolah dasar tahap C kelas 5. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest dengan purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 015 Kresna Kota Bandung Provinsi Jawa Barat dengan sampel sebanyak 30 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes dan non tes. Tes yang dilakukan adalah menulis esai naratif dengan rubrik penilaian esai naratif yang terdiri dari 5 indikator yaitu isi, struktur organisasi, aspek kebahasaan, ciri kebahasaan dan jenis esai naratif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan IBM SPPS 29 untuk menganalisis hipotesis dengan statistik parametrik yaitu uji t sampel berpasangan dan uji non parametrik Wilcoxon. Pertama, uji normalitas dan homogenitas dilakukan dengan analisis Shapiro-Wilk. Hasil analisis data menunjukkan signifikansi (2-tailed) < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan menulis karangan narasi siswa antara sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan model pembelajaran Brainwriting berbantuan storybird.Kata kunci: brainwriting, karangan narasi, storybird, keterampilan menulis.
Social Adjustment among in-School Adolescents with Learning Disabilities: Do Parental Socioeconomic Status and Peer Influence Play Any Role? Temilade Silifatu Ayo; Kelechi Uchemadu Lazarus
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.19408

Abstract

AbstractSocial adjustment, a crucial aspect of everyone’s life, is needed to cope with one’s engagement with others in society and overall social life.  However, reports have shown that many in-school adolescents, particularly in Oyo State secondary schools, exhibit poor social adjustment. Therefore, this study investigated the predictive influence of parental socioeconomic status and peer influence on the social adjustment of in-school adolescents with learning disabilities. The study adopted the descriptive survey research design of the correlational type. The multistage sampling procedure was used. The three Senatorial Districts in Oyo State were enumerated. Twenty-seven public senior secondary schools (three from each local government area) were randomly selected. The Screening Inventory for Learning Disabilities was adopted to identify 452 in-school adolescents with learning disabilities. The instruments used were Peer Influence (r=0.76), Parental Socioeconomic Status (r=0.73), and Social Adjustment (r=0.92) scales. Data were analyzed using descriptive statistics and Pearson product moment correlation at the 0.05 level of significance. The findings showed that there was a significant relationship between peer influence and social adjustment (r=0.46) as well as between parental socioeconomic status and social adjustment (r=0.27) of in-school adolescents with learning disabilities. Based on the findings, the researchers made some recommendations for relevant stakeholders. However, the study calls for special educators and stakeholders to identify and support students with learning disabilities early, in order to enhance their social skills and long-term well-being.Keywords: adolescents’ social engagements, learning disabilities, peer influence, socio-economic status of parents.  AbstrakPenyesuaian sosial, aspek penting dari kehidupan setiap orang, diperlukan untuk mengatasi keterlibatan seseorang dengan orang lain dalam masyarakat dan kehidupan sosial secara keseluruhan. Namun, laporan telah menunjukkan bahwa banyak remaja di sekolah, khususnya di sekolah menengah Oyo State, menunjukkan penyesuaian sosial yang buruk. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki pengaruh prediktif status sosial ekonomi orang tua dan pengaruh teman sebaya pada penyesuaian sosial remaja di sekolah dengan disabilitas belajar. Penelitian ini mengadopsi desain penelitian survei deskriptif dari jenis korelasional. Prosedur pengambilan sampel multitahap digunakan. Tiga Distrik Senatorial di Negara Bagian Oyo dihitung. Dua puluh tujuh sekolah menengah atas negeri (tiga dari setiap wilayah pemerintah daerah) dipilih secara acak. Inventaris Skrining untuk Disabilitas Belajar diadopsi untuk mengidentifikasi 452 remaja di sekolah dengan disabilitas belajar. Instrumen yang digunakan adalah skala Pengaruh Teman Sebaya (r=0,76), Status Sosial Ekonomi Orang Tua (r=0,73), dan Penyesuaian Sosial (r=0,92). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan korelasi momen produk Pearson pada tingkat signifikansi 0,05. Temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengaruh teman sebaya dan penyesuaian sosial (r=0,46) serta antara status sosial ekonomi orang tua dan penyesuaian sosial (r=0,27) pada remaja di sekolah dengan disabilitas belajar. Berdasarkan temuan ini, para peneliti memberikan beberapa rekomendasi bagi para pemangku kepentingan terkait. Namun, studi ini menghimbau para pendidik khusus dan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi dan mendukung siswa dengan disabilitas belajar sejak dini guna meningkatkan keterampilan sosial dan kesejahteraan jangka panjang mereka.Kata kunci: keterlibatan sosial remaja, kesulitan belajar, pengaruh teman sebaya, status sosial ekonomi orang tua.
Cultural Capital and Learning Strategies: A Bourdieuian Perspective on Elementary Education Muhammad Amin; Raharjo Raharjo; Shodiq Abdullah; Ahmad Fuad Hasyim Hafid Suyuthi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.19467

Abstract

Abstract This study aims to explore the relationship between cultural capital and teaching strategies in the context of primary education, employing a Bourdieuian perspective. The focus of this research is on teachers at Madrasah Ibtidaiyah Negeri in Magelang Regency. A qualitative method was utilized, with data collected through in-depth interviews and classroom observations. The findings reveal that teachers’ cultural capital, including their knowledge, values, and experiences, significantly influences their choice and implementation of teaching strategies in the classroom. Teachers with a rich cultural capital tend to adopt more innovative and adaptive strategies, which enhance student engagement in the learning process. Furthermore, the study identifies challenges faced by teachers in integrating cultural capital into their teaching practices. These findings provide helpful guidance in the development of educational policies and teacher training programs, ultimately improving the quality of education in Madrasah Ibtidaiyah.Keywords: cultural capital, teaching strategies, Bourdieuian perspective, Madrasah Ibtidaiyah. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara modal budaya dan strategi pembelajaran dalam konteks pendidikan dasar, dengan pendekatan perspektif Bourdieu. Fokus penelitian ini adalah pada guru-guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri di Kabupaten Magelang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal budaya yang dimiliki oleh guru, seperti pengetahuan, nilai-nilai, dan pengalaman, berdampak dalam menentukan pilihan dan penerapan strategi pembelajaran di kelas. Guru yang memiliki modal budaya yang kaya cenderung menggunakan strategi yang lebih inovatif dan adaptif, yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh guru dalam mengintegrasikan modal budaya ke dalam praktik pembelajaran. Temuan ini dapat memberikan wawasan bagi pengembangan kebijakan pendidikan dan pelatihan guru, serta meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah.Kata kunci: modal budaya, strategi pembelajaran, Bourdieuian perspective, Madrasah Ibtidaiyah.
Students - Teachers Communication Patterns in Islamic Elementary Schools: Analyzing the Hierarchical Context of Standpoint’s Theory Eti Nurhayati; Yayah Nurhidayah
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 9 No. 2 (2022): October 2022
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v9i2.19488

Abstract

AbstractThis study aims to identify the patterns of student-teacher communication in learning as perceived by teachers from the perspective of Standpoint Theory. This descriptive research uses questionnaires distributed to teachers. The results of this research show that first, the most dominant attitude in student communication is the desire to always please the teacher; second, the most common language use in student communication is frequent complaints; third, the most dominant verbal communication style of students is always speaking politely; fourth, the most prevalent nonverbal communication style is frequent eye contact, active listening, and silence; and fifth, the most dominant personality attitude in student communication is a lack of willingness to make sacrifices. These findings indicate that student-teacher communication remains hierarchical. Teachers are perceived to have more power compared to students, maintaining the stigma of teachers as figures to be "obeyed and emulated." This results in students being more passive, hesitant to take initiative, dependent, and primarily focused on pleasing the teacher.Keywords: students-teachers communication pattern, Islamic elementary school, Standpoint theory. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi siswa-guru dalam pembelajaran yang dipersepsi oleh guru ditinjau dari teori Standpoint. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang kepada guru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, sikap dalam berkomunikasi siswa yang paling dominan adalah selalu ingin menyenangkan guru; kedua, penggunaan bahasa dalam komunikasi siswa yang paling dominan adalah sering komplain; ketiga, gaya komunikasi verbal siswa yang paling dominan adalah selalu berbicara sopan; keempat, gaya komunikasi nonverbal siswa yang paling dominan adalah sering melakukan kontak mata, lebih banyak mendengar, dan diam; dan kelima, sikap kepribadiaan siswa dalam berkomunikasi yang paling dominan adalah jarang mau berkorban. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi guru-siswa masih bersifat hierarkis. Guru dianggap memiliki kekuasaan lebih besar dibandingkan siswa, sehingga stigma guru masih dipertahankan sebagai figur yang harus "dipatuhi dan ditiru". Hal ini mengakibatkan siswa menjadi lebih pasif, ragu untuk mengambil inisiatif, tergantung, dan lebih berfokus untuk menyenangkan guru.Kata kunci: pola komunikasi siswa-guru, sekolah dasar Islam, teori Standpoint.
Development of the Ethnomathematics-Based Mathematics Teaching Materials to Improve Conceptual Understanding of Madrasah Ibtidaiyah Students in Lombok, Indonesia Naili Lumaati Noor; Eva Luthfi Fakhru Ahsani; Awwalina Ainurrokhimah; Muhamad Miftah Farid
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.19553

Abstract

AbstractMathematics learning requires real situations that students often face. Using the context around students can make mathematics learning easy for students to understand. This research aims to develop ethnomathematics-based mathematics teaching materials to improve the conceptual understanding of Madrasah Ibtidaiyah/Islamic elementary school students in Lombok, Indonesia, that are feasible and practical. This research is research and development with the development of a 4D model consisting of defining, designing, developing, and disseminating. The resulting product is ethnomathematics-based mathematics teaching materials for grade IV students of Madrasah Ibtidaiyah in Lombok, Indonesia. The results of the development of teaching materials at the level of feasibility from the validation of material experts obtained a score of 39.5 with a feasible category, cultural experts obtained a score of 19.5 with a feasible category, and media experts obtained a score of 40.8 with a very feasible category. From the results of the product trial, it is known that the resulting product falls into the practical criteria, namely from student responses obtaining an assessment of 91% with a very positive category. The implications of the research are expected to increase the mathematical conceptual understanding of madrasah ibtidaiyah students to strengthen national cultural identity.Keywords: ethnomathematics, sasak culture, teaching materials, madrasah ibtidaiyah students.AbstrakPembelajaran matematika memerlukan situasi nyata yang sering dihadapi oleh siswa. Dengan menggunakan konteks yang ada di sekitar siswa, membuat pembelajaran matematika mudah dipahami oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar matematika berbasis etnomatematika untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa Madrasah Ibtidaiyah di Lombok, Indonesia yang layak dan praktis. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan dengan pengembangan model 4D, terdiri atas define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Produk yang dihasilkan adalah bahan ajar matematika berbasis etnomatematika untuk siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah di Lombok, Indonesia. Hasil pengembangan bahan ajar pada tingkat kelayakan dari validasi ahli materi diperoleh skor 39,5 dengan kategori layak, dari ahli budaya diperoleh skor 19,5 dengan kategori layak, dan dari ahli media diperoleh skor 40,8 dengan kategori sangat layak. Dari hasil uji coba produk diketahui bahwa produk yang dihasilkan masuk dalam kriteria praktis, yaitu dari respon siswa memperoleh penilaian 91% dengan kategori sangat posititf. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa madrasah ibtidaiyah, sehingga memperkuat jati diri budaya bangsa.Kata kunci: etnomatematika, budaya sasak, bahan ajar, siswa madrasah ibtidaiyah.
Model-Eliciting Activities on Students' Mathematical Literacy by Reviewing Differences in Self-Regulated Learning Ika Nada Fajriyah; Mohammad Faizal Amir; Mahardika Darmawan Kusuma Wardana; Mohd Nazri Abdul Rahman
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.19683

Abstract

AbstractThe mathematical literacy of students is still relatively low. However, it remains a goal and a necessity to develop mathematical literacy as a fundamental skill for solving problems in various contexts, particularly in formulating, employing, and interpreting mathematics. Previous studies have proven that model-eliciting activities effectively enhance mathematical literacy. On the other hand, mathematical literacy is influenced by differences in self-regulated learning. Therefore, this study answers whether implementing model-eliciting activities regarding self-regulated learning differences affects students' mathematical literacy. This study employed a quasi-experimental non-equivalent pretest and posttest design that involved 55 fourth-grade primary students. Data collection used a mathematical literacy test and a self-regulated learning questionnaire. The levels of self-regulated learning were categorised as low, medium, and high. The data analysis was a two-way analysis of variance test followed by the Tukey test. The study showed that implementing model-eliciting activities by considering differences in self-regulated learning affected students' mathematical literacy. Another finding is that students with high self-regulated learning are better at mathematical literacy than those with low self-regulated learning.Keywords: model-eliciting activities, mathematical literacy, self-regulated learning. AbstrakLiterasi matematika siswa masih tergolong rendah, namun sampai saat ini masih menjadi tujuan dan kebutuhan sebagai keterampilan fundamental untuk menyelesaikan masalah dalam berbagai konteks khususnya dalam hal merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika. Peneliti-peneliti sebelumnya telah membuktikan model-eliciting activities efektif untuk meningkatkan literasi matematika. Disisi lain, literasi matematika dipengaruhi oleh perbedaan self-regulated learning. Oleh karena itu, penelitian menjawab rumusan masalah mengenai apakah implementasi model-eliciting activities dengan memperhatikan perbedaan self-regulated learning berpengaruh terhadap literasi matematika siswa. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental non-equivalent pretest dan posttest desain dengan melibatkan 55 siswa kelas empat sekolah dasar. Pengumpulan data menggunakan tes literasi matematika dan kuisioner self-regulated learning. Perbedaan tingkat self-regulated learning dikategorikan sebagai rendah, sedang, dan tinggi. Analisis data yang digunakan adalah uji analisis varians dua arah dan dilanjutkan uji Tukey. Temuan penelitian menunjukkan implementasi model-eliciting activities dengan memperhatikan perbedaan self-regulated learning berpengaruh terhadap literasi matematika siswa. Temuan lainnya adalah siswa yang memiliki self-regulated learning tinggi lebih baik dalam literasi matematika dibanding siswa yang memiliki self-regulated learning rendah.Keywords: model-eliciting activities, literasi matematika, self-regulated learning.
The Effectiveness of Problem-Based Learning Assisted by Powtoon Media on the Activeness and Learning Outcomes of Pancasila Education in 4th-Grade Elementary School Students Faradina Hibatul Haqqi; Kurotul Aeni; Raed Abdullah Albalushi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.19688

Abstract

Abstract Low learning outcomes and student engagement result from ineffective learning models and media in actively involving students. This study analyzes the effectiveness of the problem-based learning (PBL) model combined with Powtoon media in enhancing student participation and learning outcomes. A quantitative method with a quasi-experimental design was used, involving 4th-grade elementary students divided into an experimental class (IV A, 33 students) and a control class (IV B, 30 students) using a conventional model. Engagement data were collected through observation, and learning outcomes were assessed via evaluation tests. Data analysis used SPSS 26 with normality, homogeneity, t-test, N-Gain, and engagement score tests. The results showed a significant t-test value of 0.000 < 0.05, indicating a significant difference in engagement and learning outcomes between the two groups. The N-Gain percentage was 61% (moderately effective) in the experimental class and 43% (less effective) in the control class. The highest engagement category in the experimental class was visual activities (87.87%), while in the control class, it was mental activities. These findings demonstrate that the PBL model combined with Powtoon media effectively enhances student engagement and learning outcomes.Keywords: problem-based learning, Powtoon media, activeness, and learning outcomes.AbstrakRendahnya capaian pembelajaran dan keterlibatan siswa disebabkan oleh model dan media pembelajaran yang kurang efektif dalam melibatkan siswa secara aktif. Penelitian ini menganalisis efektivitas model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang dipadukan dengan media Powtoon dalam meningkatkan partisipasi dan capaian pembelajaran siswa. Metode kuantitatif dengan desain quasi eksperimen digunakan, melibatkan siswa SD kelas 4 yang dibagi menjadi kelas eksperimen (IV A, 33 siswa) dan kelas kontrol (IV B, 30 siswa) dengan menggunakan model konvensional. Data keterlibatan dikumpulkan melalui observasi, dan capaian pembelajaran dinilai melalui tes evaluasi. Analisis data menggunakan SPSS 26 dengan uji normalitas, homogenitas, uji-t, N-Gain, dan skor keterlibatan. Hasil penelitian menunjukkan nilai uji-t signifikan sebesar 0,000 < 0,05, yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam keterlibatan dan capaian pembelajaran antara kedua kelompok. Persentase N-Gain sebesar 61% (cukup efektif) pada kelas eksperimen dan 43% (kurang efektif) pada kelas kontrol. Kategori keterlibatan tertinggi pada kelas eksperimen adalah aktivitas visual (87,87%), sedangkan pada kelas kontrol adalah aktivitas mental. Temuan ini menunjukkan bahwa model PBL yang dikombinasikan dengan media Powtoon efektif meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar siswa.Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, media Powtoon, keaktifan, dan hasil belajar.
The Effectiveness of Problem Based Learning assisted by Educaplay on Pancasila Education Learning Outcomes of Elementary School Students Aulli Qzara Ainun Nisa Mufi Dayanti; Kurotul Aeni; Daniyal Manzoor Khan
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i1.19723

Abstract

AbstractLearning models that do not actively involve students in the learning process are one of the factors causing low learning outcomes. This research aims to test and analyze how effective the problem-based learning model, which utilizes Educaplay media, is on student learning outcomes. The method used by researchers is a quasi-experimental design with a nonequivalent control group. The subjects of this study were 85 fifth-grade students of Jatisari state elementary School, Semarang City, Indonesia i.e. 28 students of class VB as the experimental class, and 28 students of class VC as the control class. Learning outcomes data were obtained from test techniques and non-test techniques. Data analysis used SPSS 25, consisting of normality, homogeneity, t-test, and N-Gain tests. The results indicated that the significant value in the independent t-test was 0.000 < 0.05, so Ha was accepted and H0 was rejected. This data indicates a significant difference in the learning outcomes between the students in the experimental and control classes. N-Gain percent was 66% (moderately effective) in the experimental class and 39% (ineffective) in the control class. This study indicates that the application of the PBL model based on Educaplay media is effective in improving student learning outcomes.Keywords: educaplay, effectiveness, learning outcomes, PBL, pancasila education. AbstrakModel pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis seberapa efektif model pembelajaran berbasis masalah yang memanfaatkan media Educaplay terhadap hasil belajar siswa. Metode yang digunakan peneliti adalah quasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Jatisari sebanyak 85 orang, yaitu kelas VB sebanyak 28 orang sebagai kelas eksperimen, dan kelas VC sebanyak 28 orang sebagai kelas kontrol. Data hasil belajar diperoleh dari teknik tes dan teknik non tes. Analisis data menggunakan SPSS 25 yang terdiri dari uji normalitas, homogenitas, uji t, dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada uji t independen sebesar 0,000 < 0,05, sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Data ini menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Persentase N-Gain adalah 66% (cukup efektif) di kelas eksperimen dan 39% (tidak efektif) di kelas kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL berbasis media Educaplay efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.Kata kunci: educaplay, keefektivan, hasil belajar, PBL, pendidikan pancasila.