cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
POTENSI TAMBANG BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS KELIMPAHAN MINERAL BATUBARA MENGGUNAKAN CITRA HYPERION EO-1 DAN CITRA LANDSAT DI KOTA SAWAHLUNTO Jamilah, Mutiara; Prasetyo, Yudo; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.496 KB)

Abstract

Kota Sawahlunto merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Barat yang memiliki topografi bervariasi seperti dataran landai, danau, dataran tinggi dan pegunungan. Kota Sawahlunto terletak di atas Formasi Sawahlunto, batuan yang terbentuk pada zaman yang diberi istilah kala (epoch) Eocen sekitar 40 – 60 juta tahun yang lalu. Kondisi tersebut menjadikan Kota Sawahlunto memiliki potensi mineral dan hasil tambang. Salah satu tambang terbesar yang berpotensi di Sawahlunto adalah tambang batubara. Penentuan wilayah yang memiliki potensi batubara pada penelitian ini menggunakan metode Spectral Angle Mapper (SAM) dengan citra Hyperion EO-1 untuk mengetahui kelimpahan mineral guna mendapatkan delineasi mineral batubara. Penggunaan citra Landsat bertujuan untuk mengklasifikasikan perubahan kerapatan vegetasi pada area pertambangan  dengan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan mengklasifikasikan serta menghitung perubahan luas tutupan lahan dengan metode Supervised Classification serta penggunaan data SRTM resolusi 90m untuk perhitungan volume galian dan timbunan batubara dengan metode cut and fill  pada area yang berpotensi. Hasil penelitian membuktikan bahwa daerah yang berpotensi dijadikan tambang batubara adalah desa Salak, Sijantang, Batu Tanjung dan Ratih Kecamatan Talawi serta desa Lubang Panjang dan Saringan Kecamatan Lembah Segar. Hasil analisis kerapatan vegetasi pada area wilayah kerja pertambangan di area penelitian pada tahun 2008 didominasi oleh kerapatn vegetasi tinggi seluas 1414,68 Ha, sedangkan pada tahun 2018 didominasi oleh kerapatan vegetasi jarang seluas 1055,71 Ha. Hasil perubahan tutupan lahan kota Sawahlunto pada area penelitian dari tahun 2008 hingga tahun 2018 yang mengalami penambahan luas area tertinggi adalah kelas permukiman seluas 3823,40 Ha sedangkan yang mengalami penurunan luas area adalah kelas semak belukar seluas 2690,92 Ha. Hasil volume galian  menggunakan metode cut and fill pada tahun 2008 hingga 2013 adalah adalah 1898,96 Ha dan timbunan 3925,77 Ha di area wilayah kerja pertambangan pada area penelitian.
PEMETAAN MULTI BENCANA KOTA SEMARANG Rosika Dyah Pratiwi; Arief Laila Nugraha; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.024 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia, yang mempunyai tingkat rawan kebencanaan yang cukup tinggi. Beberapa bencana yang sering terjadi adalah banjir, banjir rob, tanah longsor dan kekeringan. Atas dasar kondisi tersebut, maka perlu dilakukan pemetaan multi bencana Kota Semarang sebagai salah satu upaya mitigasi bencana di Kota Semarang. Pemetaan multi bencana merupakan proses pembuatan peta yang memberikan gambaran potensi ancaman dari beberapa bencana, yaitu bencana banjir, banjir rob, tanah longsor dan kekeringan.Pemetaan multibencana Kota Semarang ini disusun denganmelakukan serangkaian tahapan yaitu membuat peta ancaman dari masing-masing bencana berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) kemudian digabungkan (overlay).Metodeyang digunakanadalahskoring danpembobotanserta overlayantarparameter penyusunnya menggunakan modifikasi rumusan penilaian risiko dari Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Alam (PERKA BNPB) untuk mendapatkan klasifikasi ancaman multi bencana Kota Semarang.Penelitian ini menghasilkan wilayah dengan tingkat ancaman rendah seluas 18.522,061 Ha yang tersebar di 11 kecamatan, tingkat ancaman sedang seluas 16.359,561 Ha yang tersebar di seluruh kecamatan dan tingkat ancaman tinggi seluas 3.602,182 Ha, tersebar di delapan kecamatan. Tingkat kesesuaian antara hasil analisis dengan hasil validasi diperoleh nilai sebesar 52,841% untuk ancaman bencana banjir, 85,227% untuk ancaman bencana banjir rob, 86,932% untuk ancaman bencana tanah longsor dan 41,143% untuk ancaman bencana kekeringan. Kata Kunci : Kota Semarang, Multi Bencana, Pemetaan, PERKA BNPB ABSTRACTSemarang is one of the largest city in Indonesia who have high enough risk disaster level. There are several disaster  which usually occur such as flood, tidal flood,landslide and drought. Based on the condition,it  needs multi hazards mapping for Semarang city for disaster mitigation in Semarang city. Multi hazard mapping is the process of making map which give description the potential risk from disaster, such as flood, tidal flood,landslide and drought. Multi hazards map is made with series of steps which is make the hazard map from each disaster based on Geographic Information Systems (GIS), then overlay all of them. The methods of hazard map are scoring, weighting, and overlay between the compiler parameters, using the modification of risk estimation from rules of Indonesia National Disaster Management Authority Chief(PERKA BNPB) to classify the multi hazard of the Semarang city.This research obtains low hazard level area of about 18522,061 Hectare on 11 sub-districts, medium hazard level area about of 16,359.561 Hectare on all of sub-districts. And high hazard level area about 3,602.182 Hectare on eight sub-districts. Fitness level between the result analysis and validation was resulted value around 52.841% for flood hazard, 85.227% for tidal flood hazard, 86.932% for landslide hazard and 41.143% for drought hazard. Keywords: :Semarang city, Multi hazard, Mapping, Rules of Indonesia National Disaster Management Authority Chief (PERKA BNPB)*)Penulis, PenanggungJawab
EVALUASI TATA LETAK BANGUNAN TERHADAP GARIS SEMPADAN JALAN DI KAWASAN CENTRAL BUSINESS DISTRICT KOTA SEMARANG Erlangga Putranindya; Sutomo Kahar; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.021 KB)

Abstract

Abstrak            Central Business District (CBD) Kota Semarang yang terdiri dari Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, Jalan Thamrin, dan Jalan Gajahmada yang terletak pada Bagian Wilayah Kota I (BWK I) merupakan kawasan yang memiliki fungsi sebagai wilayah perkantoran, perdagangan, dan jasa. Dalam hal ini banyak bangunan atau kavling yang bangunan terluarnya (seperti pagar, dll) berdiri tidak sesuai dengan Perda No.14 Tahun 2011, maka dari itu menarik penulis untuk melakukan evaluasi bangunan-bangunan di kawasan tersebut yang melanggar/ tidak sesuai dengan Perda Kota Semarang No.14 Tahun 2011.            Evaluasi tata letak bangunan Garis Sempadan Jalan (GSJ) merupakan suatu proses penilaian tentang tata letak bangunan terluar dari kavling tersebut yang sudah diatur dalam Peraturan Daerah yang diatur dengan jarak tertentu suatu bangunan terluar dengan as jalan/ tengah jalan. Dalam melakukan tugas akhir ini penulis memerlukan data yang berkaitan dengan penelitian tersebut seperti: Citra Satelit; Peta Jaringan Jalan. Untuk data sekunder penulis melakukan digitasi dari tiap-tiap kavling yang didapat dari interpretasi Citra Satelit resolusi tinggi, serta membuat garis evaluasi dengan jarak tertentu dari as jalan.            Hasil penelitian tersebut nantinya akan memberikan informasi bangunan-bangunan yang melanggar dengan luas-an (m2) pelanggaran di Jl. Pemuda; Jl. Pandanaran; Jl. Thamrin; Jl. Gajahmada yang diatur dalam Perda Kota Semarang.Kata Kunci : Citra Satelit, Central Business District, Garis Sempadan JalanAbstract             Central Business District (CBD) consisting of Semarang City Pemuda, Pandanaran, Thamrin and Gajahmada street is located in the Urban Area Part I  is an area that has a function as an office area, trade, and services. In this case many of the buildings or building plots outer (such as fences, etc.) don’t stand in accordance with Regulation No.14 of 2011, and therefore interesting authors to evaluate buildings in the region that violates / does not comply with regulation Semarang No.14 of 2011.            For secondary data, the authors conducted digitization of individual plots obtained from the interpretation of high-resolution satellite imagery, as well as making a line of evaluation with a certain distance from the axle path.            Evaluation of building layout Line Border Roads  is a process of assessment of the outer building layout of the plots that have been on the local regulation is governed by a certain distance to the outer buildings as road / middle of the road. In doing this thesis the author requires data related to the study such as: Satellite Imagery; Road Network Map.            The results of these studies will provide information that violates buildings with an area (m2) violations at Pemuda; Pandanaran; Thamrin; Gajahmada street set forth in the regulation of Semarang.Keywords: Satellite Imagery, Central Business District, Line Border Roads*)Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN KOMODITAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN DI WILAYAH KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN METODE MATCHING Qomaruddin, Qomaruddin; Sukmono, Abdi; Nugraha, Arief Laila
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.936 KB)

Abstract

ABSTRAK   Banjarnegara dilihat dari kondisi lahannya memiliki potensi komoditas perkebunan dan komoditas kehutan yang sangat variatif sehingga perlu diadakannya penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan hasil komoditas yang memiliki manfaat ekonomis yang cukup tinggi. Untuk memaksimalkan potensi pengembangan Komoditas perkebunan dan komoditas kehutanan perlu diadakan analisis kesesuaian lahan agar dalam pengambilan kebijakan bisa disesuaikan dengan potensi daerah dan bisa lebih tepat sasaran. Komoditas perkebunan yang dianalisi pada penelitian ini adalah kopi arabika, kopi robusta, teh dan tebu. Sedangkan komoditas kehutanan yang dianalisis kesesuaian lahannya pada penelitian ini adalah kayu sengon, kayu mahoni dan kayu eucalyptus. Metode kesesuaian lahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode matching atau pencocokan kriteria tananman dengan keadaan wilayah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan Kecamatan Batur, Kecamatan Pejawaran, Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Kalibening, Kecamatan Karangkobar, Kecamatan Pandanarum, Kecamatan Pangentan, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Karangkobar dan Kecamatan Banjarmangu memiliki potensi dalam pengembangan komoditas kopi arabika dengan kelas terbaik yaitu kelas S3 (sesuai marjinal) dengan luas 9.364,758 Ha atau 64,3%, kopi robusta dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 3,951 Ha atau 0,02% dan teh dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 235 Ha atau 1,6%. Komoditas tebu paling cocok ditanam di Kecamatan Bawang, Kecamatan Rakit, Kecamatan Purwonegoro dan Kecamatan Susukan dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 1.547,745 Ha atau 10,6%. Komoditas kehutanan hampir semua daerah cocok untuk tanaman eucalyptus dengan kelas terbaik yaitu S2 (sesuai) seluas 15556,19 Ha atau 27,8%, mohoni dengan kelas terbaik yaitu S1 (sangat sesuai) seluas 448,71 Ha atau 0,8% dan sengon dengan kelas terbaik yaitu S3 (sesuai marjinal) seluas 31.340,19 Ha atau 56%. Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Komoditas Kehutanan, Komoditas Perkebunan, Metode Matching. ABSTRACT                    Banjarnegara seen from the condition of the land has the potential of plantation commodities and forest commodities are very varied so that the need for further research to develop commodity products that have high economic benefits. To maximize the development potential of forest plantation commodities and commodities, it is necessary to conduct land suitability analysis so that the policy can be adjusted to the potential of the region and can be more targeted. Plantation commodities analyzed in this study were arabica coffee, robusta coffee, tea and sugar cane. While the forestry commodities analyzed for land suitability in this study are sengon wood, mahogany wood and eucalyptus wood. The land suitability method used in this research is using matching method or matching of tananman criteria with the condition of research area. The results of this study show that Batur District, Pejawaran Subdistrict, Wanayasa Subdistrict, Kalibening District, Karangkobar Subdistrict, Pandanarum Subdistrict, Pangentan Sub-District, Punggelan Sub-District, Karangkobar Sub-District and Banjarmangu Sub District have potential in developing arabica coffee commodity with best grade of S3 (marginal) with an area of 9,364.758 Ha or 64.3%, robusta coffee with the best grade S1 (very suitable) of 3.951 Ha or 0.02% and tea with the best S1 (very suitable) class of 235 Ha or 1.6%. The most suitable sugarcane commodity is grown in Bawang District, Rakit District, Purwonegoro and Susukan Subdistricts with the best S1 (very suitable) class of 1,547,745 Ha or 10.6%. Forestry commodities of almost all areas suitable for eucalyptus plants with the best grade of S2 (appropriate) of 15556.19 Ha or 27.8%, mohoni with the best class of S1 (very appropriate) area of 448.71 Ha or 0.8% and sengon with the best grade of S3 (marginal fit) of 31,340.19 Ha or 56%. Keywords: Land Suitability, Forestry Commodity, Plantation Commodity, Matching Method.
VERIFIKASI KOORDINAT TITIK PATOK BATAS WILAYAH DENGAN NTRIP-CORS (Studi Kasus : Batas Kota Semarang Dengan Kabupaten Kendal) Muhammad Ilman Fanani; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.193 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan dengan total 34 provinsi, maka batas daerah merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan dalam informasi Geospasial. Batas antar daerah tersebut disajikan dalam daftar koordinat yang telah diatur dan dicantumkan dalam Peraturan Menteri dalam Negeri dan bentuk fisiknya dilapangan berupa pilar-pilar batas daerah. Namun pada kenyataannya sebenarnya pilar batas daerah tidak mungkin ditempatkan tepat pada koordinat batas daerah yang sebenarnya, sehingga menyebabkan adanya perubahan nilai koordinat, sehingga perlu dilakukan verifikasi.Terkait dengan masalah tersebut, maka pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengukuran pilar batas daerah dengan menggunakan sistem GNSS CORS (Global Navigation sattelite system Continuosly Operating Reference Stations) dengan metode RTK-NTRIP (Real Time Kinematik- Networked Transportasi  of  RTCM via Internet Protocol) yaitu metode pengukuran GPS yang mendapat koreksi secara Real Time dengan protokol stateless berdasarkan protokol HTTP yang selama ini pemanfaatannya masih terbatas pada pengukuran bidang tanah maupun pengukuran detail situasi.Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat nilai perbedaan antara nilai koordinat hasil pengukuran pilar batas daerah metode RTK-NTRIP terhadap koordinat batas daerah yang tercantum dalam Permendagri dengan nilai terbesar 74,5m, terkecil 1,8m dengan nilai simpangan baku 17,07m, hal ini dikarenakan nilai koordinat batas daerah yang tercantum dalam Permendagri merujuk pada batas daerah secara administratif, bukan nilai koordinat batas daerahnya dilapangan.  Kata Kunci : Batas Wilayah, CORS Undip, RTK-NTRIP, Verifikasi                                                                       ABSTRACT Indonesia is an archipelago with total of 34 provinces, the border is an absolute thing that must be considered in Geospatial information. Boundaries between regions are presented in the list of coordinates that have been set up and included in the Ministry of Internal Affairs and the physical form of the border is presented by pillars. But in fact the pillars of the boundary area may not be placed right on the actual coordinates from the border, causing the change in the value of the coordinates, so it’s need a verification.Related to these problems, then at this research the pillars of boundary area are measured using GNSS CORS (Global Navigation Sattelite system Continously Operating Reference Stations) systems with RTK-NTRIP (Real Time Kinematik- Networked Transport of RTCM via Internet Protocol) method, that is GPS measurement method that gets corrections by Real Time with stateless protocol based on HTTP protocol which is their use has limited in measurement and plot details of the situation .The results indicate that there is a difference in the value of the coordinate between the measurement of the pillars with RTK - NTRIP method to the boundary areas that listed in the Regulation with maximum value 74.5m, minimum value 1.8m, standar deviation 17.07m, because the value of the coordinates that listed in the Regulation refers to the administrative area boundaries, is not the coordinate value that refers to the field. Keywords : Borders, CORS Undip, RTK-NTRIP, Borders, Verification *) Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS POTENSI INVESTASI LOKAL SEBAGAI FASILITAS PENDUKUNG WISATA TELAGA WARNA Supriadi Sanjaya Purba; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.87 KB)

Abstract

ABSTRAK Kawasan pariwisata tentu memiliki peluang untuk mengembangkan suatu usaha yang mendukung kepariwisataan seperti penginapan, kuliner, toko oleh-oleh dan usaha lainnya yang dapat dikembangkan. Manajemen yang kurang baik dari pihak terkait akan berdampak pada usaha-usaha pariwisata. Dampak yang diberikan berupa terhalangnya perkembangan usaha-usaha pariwisata dan membuat usaha tersebut terkesan sepi pengunjung sehingga keuntungan yang dihasilkan tidak maksimal. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti ingin membuat suatu analisis potensi investasi lokal sebagai pendukung wisata di kawasan Telaga Warna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data primer seperti foto udara, wawancara dan survei toponimi. Data primer akan digabungkan menjadi sebuah geodatabase yang memuat informasi seputar usaha-usaha investasi lokal yang berada di Kawasan Telaga Warna. Geodatabase tersebut akan dianalisis dengan menggunakan analisis spasial pada ArcMap untuk mengetahui daerah yang berpotensi dengan metode scoring dan overlay. Hasil penelitian di klasifikasikan menjadi 4 kelas potensi, dari 199,07 ha kawasan Telaga Warna yang diteliti, terdapat 146,88 ha daerah yang memiliki potensi rendah, 35,13 ha daerah dengan potensi sedang, 15,14 ha daerah dengan potensi tinggi dan 1,93 ha daerah dengan potensi sangat tinggi. Kawasan Telaga Warna memiliki nilai ekonomi sebesar Rp 211.370.000 setiap bulannya. Nilai tersebut didapat dari akumulasi total penghasilan rata-rata penginapan, kuliner serta suvenir dan oleh-oleh setiap bulannya.
IDENTIFIKASI DAERAH RESAPAN AIR DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS: SUB DAS KEDUANG) Fajar Dwi Hastono; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.397 KB)

Abstract

Sub Watershed Keduang is part of the Upper Solo River Basin which includes the area of the river solo. Degradation of the territory of its recharge area is the cause of the damage of  Solo River Watersheds, especially upstream of Solo resulting in the decreasing availability of water resources in the area. The aims of this study is determine the conditions and potential water recharge areas are located in Sub Watershed Keduang. The methods that use in scoring and to overlay (Overlapping stacking) method between the type of soil maps, land use maps, maps of slope and rainfall maps. Watershed maps obtained from the four overlay map. Identification of water recharge areas is done using a Geographic Information System (GIS) that can be used as a material consideration to doing conservation and rehabilitation the land and the forest. The results showed that to all criteria conditions are scattered throughout the recharge area of river basin Sub Keduang but in general Sub Watershed Keduang have recharge conditions including the start of critical criteria. The results of the analysis area of Keduang Sub Watershed is 39736.44 Ha. The areas that have good conditions recharges area of 1489.77 ha (3.75%) and recharge areas that become critical condition of 13505.04 ha (33.99%). Watersheds are in critical condition a little area of 11407.5 ha (28.71%). Criteria of normal water absorption natural conditions, a critical and very critical that each area are 5816.7 ha (14.64%), 5187.24 ha (13.05%) are 2330.19 ha (5.86%). Potential areas in the recharge area of research in Keduang sub Watershed dispersed in good condition with a wide recharge area of 1489.77 ha (3.75%) and normal conditions of natural water recharge area with an area of 5816.7 ha (14.64%). Territory of its potential recharge area is scattrered in the District's area of 313.2 ha Jatiyoso and 1645.45 ha that is located in the District Jatiroto.
IDENTIFIKASI POTENSI TOKO MEBEL BERDASARKAN ANALISIS PEMENUHAN KEBUTUHAN MEBEL BERBASIS SIG (Studi Kasus: Perumahan Bertipe Sederhana di Kecamatan Banyumanik) Auliannisa Auliannisa; Hani’ah Hani’ah; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.459 KB)

Abstract

ABSTRAKKecamatan Banyumanik merupakan salah satu kecamatan di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, yakni 132,508 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2016). Oleh sebab itu, jumlah perumahan di kecamatan ini tergolong banyak begitupula dengan tipenya. Banyaknya jenis perumahan ini membuat peningkatan potensi industri mebel setempat. Banyak toko mebel setempat yang seharusnya memiliki potensi lebih besar karena tingkat pembangunan perumahan yang tinggi. Namun, hal tersebut perlu dikaji agar para industri mebel dapat mengetahui bagaimana potensi mebel terhadap perumahan bertipe kecil atau sederhana.Dalam penelitian ini digunakan data informasi toko mebel dan data survei opini kepada penghuni rumah tipe sederhana terhadap pembelian mebel. Dari data tersebut dilakukan pembobotan parameter menggunakan metode AHP (Analysis Hierarchy Process) dan diperoleh kriteria barang mebel yang paling tepat agar potensial dibeli penghuni perumahan bertipe sederhana yaitu meja makan/keluarga ukuran sedang sebesar 32%, sofa keluarga/tamu ukuran two seat sebesar 29% dan lemari baju ukuran dua pintu sebesar 69%.Kemudian dilakukan proses buffering terhadap perumahan bertipe sederhana dan jalan raya. Didapatkan hasil berupa persebaran toko mebel di Kecamatan Banyumanik dengan pola persebaran clustered (mengelompok) dipusat Kecamatan dan tersebar mendekati jalan raya serta presentase toko mebel terbesar terdapat di Kelurahan Srondol Wetan. Dari hasil data peta parameter, didapatkan potensi toko mebel di Kecamatan Banyumanik yaitu pada kelas sangat berpotensi terdapat 5 toko mebel, kelas berpotensi 3 toko mebel, kelas cukup berpotensi 6 toko mebel dan kelas kurang berpotensi 1 toko mebel. Kata Kunci : Perumahan Banyumanik, Mebel, Metode AHP (Analysis Hierarchy Process), Analisis buffering. ABSTRACTBanyumanik sub-district is one of many sub-districts in Central Java with the highest population of 132,508 people (Central Bureau of Statistics, 2016). Therefore, there are many housings with different types. The amount of these housings increases the potential of local furniture industries. The local furniture industries should have bigger potential because of the high level of housings development. However, it needs more study to find out the potential of furniture against very-simple or simple type housings.This study used data information of the furniture stores and the survey’s opinions of the modest type housings’ residents to the purchase of furniture. Based on the data, weighting parameter using AHP (Analysis Hierarchy Process) method has been done and obtained the most proper criteria for the furniture that was affordable for the residents of very simple type housing to simple type housing, they are medium size dining table which was 32%, two-seat family/guest, sofa  about 29% and two-door wardrobe about 69%.The buffering process of simple type housings and roadways was undergone. Then the result of Geospatial Information Systems analysis was the distribution of furnitures stores in Banyumanik sub-district with clustered pattern in sub-district’s center and spread near the roadways and the biggest percentage of furniture stores was in Administrative Village of Srondol Wetan. From the result of parameter map data, it is obtained that the potential of furniture stores in Banyumanik sub-district, there are 5 furniture stores in very potential level, 3 stores in potential level, 6 stores in fairly potential level and 1 store in less potential level.  Keywords: Banyumanik Housings, Furniture, AHP (Analysis Hierarchy Process) Method, Buffering Analysis..
STUDI REGISTRASI POINT CLOUD PADA PEMROSESAN DATA TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) (Studi Kasus : Jembatan Gading Batavia, Kelapa Gading, Jakarta Utara) Alfin Nandaru; Bambang Sudarsono; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.789 KB)

Abstract

ABSTRAKDalam metode pengukuran dengan menggunakan teknologi Terestrial Laser Scanner (TLS), proses registrasi sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas geometri model dan keakuratan data yang dihasilkan. Jika kualitas proses registrasi baik, maka  bentuk geometri dan dimensi ukuran dari objek yang diamati juga akan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya serta keakuratan data juga akan memenuhi toleransi ketelitian yang telah ditetapkan.Dalam penelitian tugas akhir ini, metode pengukuran Terrestrial Laser Scanner digunakan untuk pemindaian Jembatan Gading Batavia, Jalan Gading Batavia, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dengan proses akuisisi data lapangan dengan menggunakan Leica Scan Station C10 serta pengolahan data menggunakan software Cyclone Versi 8.1. Proses akuisisi data lapangan serta pengolahannya dilakukan menggunakan dua metode yaitu metode target to target registration dan metode cloud to cloud registration.Hasil akhir dalam penelitian ini adalah model space Jembatan Gading Batavia dari masing-masing metode pengukuran. Dimana kedua metode tersebut menghasilakan nilai RMS yang berbeda yaitu 0,0015 m untuk metode target to target registration dan 0,009 m untuk metode cloud to cloud registration. Pengujian hasil model space dari masing-masing metode juga dilakukan dengan membandingan jarak antar sisi jembatan dari hasil pengukuran Electronic Total Station. Nilai rata-rata kesalahan dari perbandingan jarak antar sisi jembatan melalui dua metode tersebut adalah sebesar 0,00581 m untuk metode target to target dan 0,0084 m untuk metode cloud to cloud.Kata Kunci : Terrestrial Laser Scanner, Registrasi, Jembatan Gading Batavia, Cyclone Versi 8.1 ABSTRACTIn measurement method by using Terestrial Laser Scanner (TLS) technology, registration process hugely affected in determining the quality of geometry model and the accuracy of data produced. If once the registration is good, the geometry shape and measurement dimension of an object observed will reflect the real condition and also data accuracy will pass tolerance accuracy that has been determined.In this research, Terrestrial Laser Scanner measurement method used for scrutinizing of Gading Batavia Bridge located on Gading Batavia street, Kelapa Gading, East Jakarta. Acquisition of the data processed with Leica Scan Station C10 whereas Cyclone Version 8.1 used as data processor. Acquisition of field data and data processing executed into two methods, target to target registration method and cloud to cloud registration method.This research results Gading Batavia Bridge model space for each measurement method. Both methods show different  RMS score, 0.0015 m  for target to target registration  method and 0.009 m for cloud to cloud registration method. Examination  of  model space for each method executed by comparing the distance between the bridge of Electronic Total Station result. Average error term of the comparison the distance between the bridge through both methods are 0.00581m for target to target method and 0.0084 m for cloud to cloud method.Keywords: Terrestrial Laser Scanner, Registration, Gading Batavia Bridge, Cyclone version 8.1
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH AKIBAT PERKEMBANGAN FISIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang) Swandi Sihombing; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1319.132 KB)

Abstract

Kecamatan Tembalang merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang. Pembangunan yang semakin meningkat menyebabkan kenaikan nilai tanah, seiring dengan waktu dan pertumbuhan penduduk. Kenaikan nilai tanah itu sendiri berbeda-beda, tidak sama di semua tempat. Salah satu penyebabnya adalah faktor fungsi lahan, perubahan penggunaan lahan, dan aksesibilitas. Untuk menggambarkan nilai tanah yang relatif sama, kita bisa membentuk Zona Nilai Tanah sesuai dengan Nilai Indikasi Rata-rata (NIR).Penelitian ini menggunakan peta digital tahun  2011 dan tahun 2017 untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan terbangun dan lahan tak terbangun. Untuk data nilai tanah diperoleh dengan cara melakukan survei lapangan. Kemudian melakukan digitasi peta digital tahun 2011 dan 2017, dan melakukan analisis overlay. Sedangkan data nilai tanah diolah untuk mendapatkan perubahan nilai tanah yang terjadi dalam rentang waktu tahun 2011-2017. Juga melakukan analisis linier berganda dengan menggunakan software SPSS untuk mengetahui variabel mana saja yang mempengaruhi nilai tanah. Dari hasil penelitian ini diperoleh 91 zona nilai tanah, dengan kenaikan nilai tanah tertinggi berada di kelurahan Tembalang pada zona 2 sebesar Rp10.333.900, sedangkan kenaikan persentase nilai tertinggi berada di kelurahan Sambiroto pada zona 55 sebesar 1149,68%. Hasil penelitian menunjukkan perubahan penggunaan lahan tak terbangun menjadi lahan terbangun sebesar 194,60 Ha. Perubahan panjang jalan bertambah sepanjang 79,166 km.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue