cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS PERBANDINGAN IDENTIFIKASI KEKERINGAN LAHAN SAWAH METODE DROUGHT INDEX DAN VEGETATION INDEX PADA CITRA LANDSAT 8 (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH) Anggi Karismawati; Abdi Sukmono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.267 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Kendal merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang sebagian dari wilayahnya adalah pertanian atau sawah. Pada bulan Agustus 2018, di wilayah Kabupaten Kendal telah terjadi kekeringan yang menyebabkan lahan pertanian khususnya padi di wilayah tersebut terancam mengalami kerugian atau gagal panen. Hal tersebut disebabkan seiring terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu. Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalkan dampaknya jika mengetahui pola kekeringan dapat diketahui. Salah satu cara yang digunakan yaitu dengan menggunakan aplikasi penginderaan jauh dengan cara memantau kekeringan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Penelitian ini mencari metode yang terbaik dalam penentuan lahan kekeringan yang akan menggunakan 4 algoritma kekeringan  yaitu pengolahan dengan algoritma NDDI (Normalized Difference Drought Index), VHI (Vegetation Health Index), TVI (Temperature Vegetation Index) dan LSWI (Land Surface Water Index) dari citra Landsat dari tahun 2014,2015,2016,2017,dan 2018 dengan validasi bulan Agustus 2017 dan 2018. Berdasarkan hasil RMSE pengolahan validasi maka diperoleh tingkat akurasi dari keempat algoritma tersebut dan dapat disimpulkan bahwa metode yang lebih akurat digunakan dalam mengidentifikasi kekeringan lahan sawah di Kabupaten Kendal yaitu metode VHI yaitu dengan RMSE sebesar 0,949 tahun 2017 dan 1,373 ditahun 2018. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, NDDI, VHI,TVI, LSWI ABSTRACTKendal Regency is one of the regencies in Central Java where a part of its territory is agriculture or rice fields. In August 2018, in the Kendal Regency, a drought had occurred which caused agricultural land, especially rice in the region, to be threatened with loss or crop failure. That is caused by the occurrence of global warming and climate change that is uncertain. However, the impact can be minimized if you know the drought pattern can be known. One of the methods used is by using a remote sensing application by monitoring drought by using remote sensing technology. This research is looking for the best method in determining drought land that will use 4 drought algorithms, namely processing with NDDI (Normalized Difference Drought Index), VHI (Vegetation Health Index), TVI (Temperature Vegetation Index) and LSWI (Land Surface Water Index) from Landsat imagery from 2014,2015,2016,2017 and 2018 with validation in August 2017 and 2018. Based on the results of RMSE validation processing, the accuracy of the four algorithms is obtained and it can be concluded that a more accurate method is used in identifying drought in paddy fields in Kendal Regency is the VHI method that is with RMSE of 0.949 in 2017 and 1,373 in 2018.
ANALISIS KORELASI PREDIKSI PERUBAHAN GENANGAN ROB TERHADAP PREDIKSI PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN SEMARANG UTARA Ikhsan, Edi; Suprayogi, Andri; ., Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.985 KB)

Abstract

In the coastal region geomorphology process on going of a complex so that the is a dynamic system. Physical processes and human intervention to separate the pressure on coastal areas. Semarang coastal area including northern Semarang district has a sloping topography with a slope of 0-2%. With a sloping topography, the city of Semarang is very vulnerable to the impact caused by rising sea levels. One thing that often happens is that the flood tide (rob). If sea levels continue to rise, it can result in increasing the extent of inundation rob a place in the city of Semarang. So it can be assumed that the pool would rob correlated to the value of the land. This study used the mean sea  level data years 1985-2010 of  the final project Catur Julianto  in 2011, data reduction in the face of the land in Semarang, data from the spot height semarang topographic maps, data NJOP per meter of land in the district north Semarang years 1994-2011, and map of the zone  land value  in 2011.  This research will  rob  prediction  maps  generated  in 2015,  2020,  and 2025  in Semarang on Safe inundation scenarios, HHWL, MSL, and LLWL, rob our predictions in districts north Semarang  zone  land value,  the price of land according  to  land value zone code 2015, 2020, and 2025, and the correlation of changes rob a pool of predictions to changes in the soil zone. The results showed that the pool of rob in the city of Semarang each year will increase. The main cause is the decline in the face of earth is happening in the city of Semarang. While the value of land in areas prone to  rob  it  tends to go up  from  year  to year.  2015,  2020,  and 2025  is predicted to  be at  a maximum  price  of  AU  in the  village  code Dadapasari  and minimum  prices  are on  the  AW  code  Lor village  stage. While the  correlation of  changes in  the scenario  inundation  zone  rob  to changes in  the value of land in an area safe from inundation rob predicted by 94%, were flooded when HHWL by 82%, and were inundated when the MSL by 73%.
ANALISIS BATAS PROVINSI BALI DAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN METODE KARTOMETRIK Muhammad Fadhli Auliarahman; Bandi Sasmito; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.996 KB)

Abstract

ABSTRAK Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 pasal 27, bahwa daerah yang memiliki wilayah laut diberi kewenangan untuk mengelola wilayah lautnya. Ketentuan penetapan dan penegasan batas pengelolaan wilayah laut daerah telah diatur dalam Permendagri No. 76 Tahun 2012. Garis batas pengelolaan wilayah laut ditentukan dari titik-titik dasar yang sudah ditetapkan di darat yaitu pada garis pantainya. Kewenangan daerah provinsi untuk mengelola sumber daya alam di laut paling jauh 12 mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas. Jarak garis pantai antara Provinsi Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Barat yang kurang dari 24 mil laut menyebabkan adanya tumpang tindih batas wilayah. Maka dari itu penentuan batas secara akurat diperlukan untuk menentukan batas kedua provinsi tersebut.Penentuan batas dengan metode kartometrik bertujuan untuk mengetahui batas wilayah Provinsi Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Barat terkait dengan garis pangkal yang digunakan menggunakan data dari peta Lingkungan Pantai Indonesia dan citra Sentinel 2 menggunakan aplikasi ArcGIS. Adapun metode yang digunakan yaitu metode garis tengah karena kondisi garis pantai yang saling berhadapanDari penelitian diperoleh hasil yaitu penggunaan garis pangkal yang berbeda menyebabkan perbedaan luas klaim wilayah provinsi. Pada data peta LPI penggunaan garis pangkal normal menambah luas Provinsi Nusa Tenggara Barat seluas 0,463763 km2 , sedangkan jika menggunakan garis pangkal lurus akan menambah luas Provinsi Bali seluas 0,463763 km2. Pada data citra Sentinel 2 penggunaan garis pangkal normal menambah luas Provinsi Nusa Tenggara Barat seluas 0,226379 km2 , sedangkan jika menggunakan garis pangkal lurus akan menambah Provinsi Bali seluas 0,226379 km2. Kata Kunci : ArcGIS, Batas Wilayah, Kartometrik, ABSTRACTAerial photogrammetry mapping needs points that are known and have a ground reference coordinates of t              According to law number 23 year 2014 article 27, that region has a maritime territory were given authority to manage It’s maritime territory. Determination of condition and demarcation of the maritime territory has been set in Permendagri number 76 year 2012. Demarcation of maritime territory defined by the basepoint that have been defined on the coastline.Provincial authority to manage sea resources 12 nautical miles furthest measured from coastline towards the open sea. Coastline distance between Provinsi Bali and Provinsi Nusa Tenggara Barat that less than 24 nautical miles causing overlapping boundaries. Therefore accurate demarcation needed to determine boundaries between the two provincesMeasurements with carthometric method aims to discover boundaries between Provinsi Bali and Provinsi Nusa Tenggara Barat related to baselines are used using data from Lingkungan Pantai Indonesia map and Sentinel 2 images using ArcGIS software. The methods used is median line method because condition of coastline between two province are facing each other.From the research result that use different baselines causing different claims of Province area. On the LPI map data using normal baseline add Nusa Tenggara Barat Province area of 0,463763 km2, while if using straight baseline data will add Bali Province area of 0,463763 km2. On the Sentinel 2 image data using normal baseline add Nusa Tenggara Barat Province area of 0,226379 km2, while if using straight baseline data will add Bali Province area of 0,226379 km2.  Keywords : ArcGIS, Carthometric, Maritime Boundaries, 
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERSEBARAN JARINGAN AGEN BUS (AKAP) BERBASIS WEB (Studi Kasus : Po Bejeu (AKAP), trayek Jepara - Jakarta) Cholid, Muhamad Nurman; Yuwono, Bambang Darmo; Awaluddin, Moehammad -
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.528 KB)

Abstract

ABSTRAKPo Bejeu merupakan penyedia jasa transportasi umum ( Bus AKAP ) dengan trayek Jepara – Jakarta. Informasi mengenai lokasi agen Po Bejeu sangat diperlukan oleh konsumen, namun saat ini informasi mengenai lokasi agen hanya sebatas data informasi non spasial berupa alamat dan nomor telepon tanpa adanya data spasial berupa posisi geografis agen Po Bejeu tersebut. Maka dari itu perlu adanya suatu sistem atau aplikasi yang menampilkan informasi data spasial dan non spasial agen Po Bejeu dalam satu sistem  yang terpadu.Dalam penelitian ini menggunakan data spasial berupa koordinat posisi tiap agen yang didapat dari hasil survey menggunakan GPS Garmin CSx60 dan data atribut berupa foto, alamat, nomor telepon, petugas agen. Pembangunan aplikasi Sistem informasi Geografis berbasis web ini dimulai dengan pengumpulan data, pengolahan data, pembuatan basis data MySQL, pembangunan tampilan web, integrasi web dengan Google Maps API dan basis data MySQL untuk menampilkan peta persebaran agen Po Bejeu.Hasil dari penelitian berupa aplikasi Sistem informasi Geografis berbasis web yang menampilkan persebaran agen Po Bejeu di 13 wilayah dan dapat diakses di alamat www.bejeu.com/agen. Pengujian terhadap aplikasi ini menggunakan dua pengujian yaitu uji program dengan hasil bahwa aplikasi ini berhasil diakses melalui web browser Google Chrome, Mozilla Firefox, Opera Mini dan Internet Explorer, dan uji usability menggunakan kuisioner dengan hasil bahwa aplikasi ini mendapatkan penilaian 75.8% untuk komponen efektivitas, 77.4% untuk komponen kemudahan dan 81.5% untuk komponen kepuasan, dengan demikian aplikasi ini efektif, mudah dan sangat memuaskan.Kata Kunci: Po Bejeu, Agen, Web-GIS, Aplikasi ABSTRACTPo Bejeu is a provider of public transportation services (bus AKAP) with Jepara - Jakarta route. Information about the location of Po Bejeu agent is required by the consumer, but the current information on the location of the agent was limited to non-spatial information data such as addresses and phone numbers without spatial data such as the geographical position of the Po Bejeu agents. Thus the need for a system or application that displays information spatial data and non spatial agent Po Bejeu in one integrated system.In this study the use of spatial data (coordinates of the position of each agent) obtained from a survey using GPS Garmin CSx60 and attribute data (photographs, addresses, phone numbers, agency officials). Geographic information system application development starts with a web-based data collection, data processing, the manufacture of the MySQL database, web interface development, web integration with the Google Maps API and the MySQL database to display a map of the distribution agent PO Bejeu.The results of the study is an application of web-based Geographic Information System which displays the distribution of agents Po Bejeu in 13 regions and can be accessed at www.bejeu.com/agen. Testing of these applications using two kinds of testing metode. The first is a test program with the result that the application is successfully accessed via a web browser Google Chrome, Mozilla Firefox, Opera Mini and Internet Explorer, and the second usability testing using a questionnaire with the result that the application is getting 75.8 % for the assessment component of effectiveness, 77.4 % to 81.5 % of components for ease and satisfaction component, thus the application of effective, easy and very satisfying. Keywords : Po  Bejeu, Agent, Web-GIS, Application
ANALISIS PERSEBARAN DAN KEBUTUHAN TEMPAT IBADAH BERDASARKAN JUMLAH PENDUDUK BERBASIS SIG (Studi Kasus: 4 Kelurahan di Kecamatan Banyumanik) NOVAYA NURUL BASYIROH; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.424 KB)

Abstract

Tempat ibadah merupakan sarana keagamaan yang penting bagi pemeluk agama di suatu tempat. Dengan begitu kebutuhan akan informasi tempat ibadah tentu sangat diperlukan oleh masyarakat. Hal ini berlaku juga untuk mengetahui persebaran dan kebutuhan tempat ibadah di Kota Semarang khususnya Kecamatan Banyumanik.Penelitian ini memanfaatkan data koordinat yang didapat dari survei lapangan dengan menggunakan GPS handheld, dan data jumlah tempat ibadah dari Badan Pusat Statistik. Langkah selanjutnya membuat peta persebaran lokasi tempat ibadah dengan menggunakan software SIG yaitu ArcGIS. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan buffering. Buffering dengan radius 300m untuk menganalisis angkauan pengeras masjid. Kemudian, buffering berdasarkan tempat ibadah berdasarkan kapasitas tempat ibadah terhadap jumlah pemeluk agama.Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Semarang, terdapat 57 titik tempat ibadah di  4 kelurahan di Kecamatan Banyumanik, namun dalam hasil observasi yang  dilakukan pada 4 kelurahan terdapat 61 titik tempat ibadah. Pada buffer pengeras suara masjid yang dilakukan dengan radius 300m di 4 kelurahan area yang tidak terbuffer seluas 1307348,397m2 dari keseluruhan luas 4 kelurahan 7546383,690 m2. Jangkauan  tempat ibadah di kelurahan padangsari yaitu masjid 90,4364 Ha, Gereja kristen 72,6735 Ha, Gereja Katholik 43,0705 Ha. Tempat ibadah di kelurahan srondol Wetan memiliki jangkauan masjid 175,0284 Ha, Gereja Kristen 106,4047. Tempat ibadah di Kelurahan Pedalangan memiliki jangkauan masjid 144,7114 Ha, Gereja Kristen 80, 9681Ha dan Gereja Katholik 34,5035 Ha. Sedangkan jangkauan tempat ibadah di kelurahan Sumurboto masjid 130,4098, Gereja Kristen 152,4710 Ha.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN LAND SUBSIDENCE MENGGUNAKAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) (STUDI KASUS: WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG) Ariella Arima Aniendra; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.283 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah pesisir Kota Semarang memiliki garis pantai dengan lebar 2,5 km-10 km. Aktifitas yang terdapat di wilayah pesisir cukup banyak antara lain sebagai pelabuhan, perumahan penduduk, industri, dan lain sebagainya. Hal tersebut memicu turunnya permukaan tanah yang berakibat adanya abrasi dan akresi. Kota Semarang memiliki nilai laju penurunan muka tanah yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, secara umum nilai laju penurunan muka tanah akan semakin besar jika mendekati pantai.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah atau land subsidence yang terjadi di Kota Semarang. Citra yang digunakan dalam penelitian adalah citra Landsat 8 tahun 2013-2019 dengan metode thresholding untuk mengekstrasi garis pantai. Laju perubahan garis pantai dihitung menggunakan software Digital Shoreline Analysis System (DSAS).Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan garis pantai di Kota Semarang mengalami penambahan sebesar 176,28 meter. Kecamatan yang mengalami akresi terbesar adalah Kecamatan Semarang Barat dengan akresi sebesar 483,34 meter, sedangkan kecamatan yang mengalami abrasi terbesar adalah Kecamatan Genuk dengan abrasi sebesar 486 meter. Hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah di Kota Semarang memiliki korelasi sebesar 0,43852. Hasil korelasi ditinjau berdasarkan tingkat hubungan korelasi termasuk korelasi hubungan yang cukup, sehingga jika perubahan garis pantai semakin mengalami kemunduran (abrasi) maka semakin tinggi nilai land subsidence di wilayah tersebut. Kata kunci: Abrasi, Akresi, Digital Shoreline Analysis System, Garis Pantai, Land Subsidence ABSTRACTThe coastal area of Semarang City has a coastline of 2.5 km-10 km. There are quite a lot of activities in the coastal areas, among others, as a port, residential population, industry, and so on. This triggers land subsidence which results in abrasion and accretion. The city of Semarang has a value of the rate of land subsidence that differs from one place to another, in general the value of the rate of land subsidence will be even greater if it approaches the coast.This study was conducted to determine the relationship of changes in coastline with land subsidence that occurred in the city of Semarang. The image used in the study is Landsat 8 in 2013-2019 with the thresholding method to extract the coastline. The rate of shoreline change is calculated using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) software.The results showed that the average change in coastline in the city of Semarang had increased by 176.28 meters. The sub-district that experienced the greatest accretion was the West Semarang sub-district with an accretion of 483.34 meters, while the sub-district that experienced the greatest abrasion was the Genuk sub-district with an abrasion of 486 meters. The relationship of shoreline changes with land subsidence in Semarang City has a correlation of 0.43852. Correlation results are reviewed based on the level of correlation, including sufficient correlation, so that if changes in the coastline experience a decline (abrasion), the higher the value of land subsidence in the region.
Analisis Perubahan Tutupan Lahan DAS Citanduy Dengan Metode Penginderaan Jauh Andhono Yekti; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.182 KB)

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy mempunyai peran yang besar dalam kelangsungan perkembangan ekosistem estuari Segara Anakan. Sungai Citanduy mensuplai air tawar yang sekaligus mengandung sedimen hasil erosi yang cukup besar dan juga polutan lain yang berasal dari rumah tangga dan pertanian. Minimnya luas hutan dan tingginya pembangunan tanggul-tanggul sepanjang sungai, membuat Citanduy diperkirakan memasok sedimen ke Segara Anakan 0,74 juta m3/ tahun, atau 74% dari seluruh sedimen yang masuk ke Segara Anakan (data dari Konsorsium LPM ITB, IPB, Unpad, dan Unigal dalam Apip dkk, 2004).                Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung dan menganalisis perubahan tutupan lahan dari tiga seri citra satelit Landsat dari tahun 1991 sampai 2010 dan membuat peta tutupan lahan dengan software ER Mapper dan ArcGIS. Penginderaan jauh dilakukan untuk memperoleh data spasial dalam waktu singkat dengan akurasi tinggi. Hal ini akan sangat memudahkan penggunanya untuk mendapatkan informasi tanpa harus melakukan survey di lapangan setiap saat.                Peta penggunaan lahan di DAS Citanduy dihasilkan dari klasifikasi terawasi dengan tipe klasifikasi Minimum Distance karena formula ini mengukur jarak dari nilai tengah (mean) training region. Pengolahan citra satelit Landsat tersebut dilakukan dengan menggunakan software ER Mapper. Dengan menggunakan software ArcGIS didapatkan hasil perhitungan luas tutupan lahan tiap seri tahun yang harus disimpan dalam bentuk Excel Workbook agar selanjutnya dapat diolah dan dianalisis bersama untuk mengetahui perubahan luas tutupan lahan dari tahun 1991  sampai 2010.                Dari penelitian ini perubahan tutupan lahan di DAS Citanduy dari tahun 1991 sampai 2010 menunjukkan penurunan kualitas pendukung DAS terutama berkurangnya luas hutan yang dapat mengganggu siklus hidrologi dalam DAS karena menurunnya penutup vegetasi berpengaruh terhadap karakteristik limpasan permukaan (run off). Peningkatan volume limpasan permukaan secara cepat pada periode waktu yang pendek menyebabkan peningkatan debit puncak dan banjir yang di daerah hilir.Kata Kunci : Daerah Aliran Sungai, DAS Citanduy, Segara Anakan, Tutupan Lahan, Sedimen, Penginderaan Jauh.
KAJIAN TEKNIS KONTROL KUALITAS TAHAP STEREOKOMPILASI PADA PEMBUATAN PETA RUPABUMI INDONESIA SKALA 1 : 5000 DENGAN MENGGUNAKAN DATA REVIEWER Diana Nukita; Sawitri Subiyanto; Hani'ah hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1184.04 KB)

Abstract

ABSTRAK Kontrol kualitas merupakan salah satu tahapan dalam pembuatan peta rupabumi Indonesia yang bertujuan untuk memantau pembuatan peta agar sesuai dengan prosedur pembuatan peta di Badan Informasi Geospasial (BIG) dan untuk mendapatkan rantai produksi terus menerus dengan meminimalisir kesalahan. Kontrol kualitas dilakukan salah satunya pada hasil stereokompilasi unsur rupabumi skala 1 : 5000. Pelaksanaan kontrol kualitas hasil stereokompilasi harus berdasarkan formulir QC yang dikeluarkan oleh BIG.Pelaksanaan kontrol kualitas ini dilakukan dengan menggunakan software Data Reviewer. Metode yang digunakan dalam pengolahannya yaitu dengan manual dan otomatis. Metode manual pada Data reviewer dilakukan oleh menu visual reviewer, sedangkan untuk metode otomatis dilakukan oleh menu automated reviewer dan batch reviewer.Berdasarkan kajian yang telah dilakukan pada data stereokompilasi NLP 1209-1349B Kabupaten Bogor, didapati beberapa objek yang tidak memenuhi parameter QC sehingga tidak lulus kontrol kualitas. Pengecekan itu dilakukan dengan metode manual dan otomatis. Agar pengecekan berjalan secara cepat dan efisien maka penggunaan batch reviewer sangat diperlukan, namun penggunaan visual reviewer juga diperlukan untuk pengecekan kelengkapan unsur. Parameter-parameter yang tidak sesuai adalah vertex jalan tidak di capture satu kali,sungai tidak satu segmen, bangunan kurang dari 6,25 m2 dilakukan plotting, jalan yang berpotongan memiliki vertek dengan ketinggian sama, sungai yang berpotongan memiliki vertex dengan ketinggian yang sama, elevasi vertex sungai turun secara konsisten dari hulu ke hilir dan garis tepi sungai kiri dan kanan harus memiliki elevasi yang sama.            Kata Kunci : Kontrol kualitas, parameter QC, Software Data Reviewer ABSTRACT Quality Control is one of the stages in indonesian topographic map making that is intended to monitor the map creation so it is correspondent with the map making prosedure in Badan Informasi Geospasial (BIG) and to get continuous product chain by minimazing errors. Quality control is done one of them on topographic stereokompilasi element results scaling 1 : 5000. The  enforcement of the stereokompilasi quality control has to based on the QC form released by BIG.Enforcement of quality control is done by using a data reviewersoftware. The method used in the processing is manually and automatically. The manual method on the data revieweris done by visual reciever menu, where as for the automatic method is done by automated reviewer and batch reviewer menu.From studies done on stereocompilation data NLP 1209-1349B  Bogor District, it is found a couple of objects that hasn't qualified QC parameter therefor not pass quality control. The checking is done by using manual and automatic methods. So that the checking can function quickly and eficiently the use of batch reviewer is highly needed, but the use of visual reviewer is also required to check the completeness of the elements. Parameters that are not in accordance is road vertex aren't captured once, rivers aren't one segment, plotting on buildings less than 6,25 m2, roads with crossroads having vertex with the same height, rivers that cross having vertex with the same height, vertex elevation of rivers descend consistently from the upstream to downstream and the outline of rivers left and right has to have same elevation. Keywords: Quality Control, QC’s parameters, Software Data Reviewer
PEMANFAATAN NILAI WILLINGNESS TO PAY UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN SITUS KERAJAAN MAJAPAHIT MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD ( Studi Kasus : Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur) Tri Rahmawati Winda Kusuma; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.522 KB)

Abstract

ABSTRAK           Situs Kerajaan Majapahit sebagai calon situs warisan dunia UNESCO (UNESCO world culture and heritage) memiliki potensi sebagai obyek wisata. Lokasi yang strategis  terletak di jalan utama Surabaya-Solo dan nilai sejarah yang dimiliki, membuat situs ini khususnya Candi Brahu, Museum Majapahit, Candi Bajangratu dan Candi Tikus menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) pada situs Kerajaan Majapahit untuk menduga  nilai ekonomi dan manfaat berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness To Pay: WTP) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut.          Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental, dimana responden merupakan siapa saja yang secara kebetulan/insidental ditemui di lokasi penelitian dan dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 14.            Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh hasil berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Candi Brahu dengan surplus konsumen sebesar Rp 633.234,- dan nilai WTP sebesar Rp 34.457,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Candi Brahu sebesar Rp 97.157.349.770,-. Museum Majapahit dengan surplus konsumen sebesar Rp 242.472,- dan nilai WTP sebesar Rp 41.532,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Museum Majapahit sebesar Rp 107.741.863.410,-. Sedangkan untuk Candi Bajangratu diperoleh surplus konsumen Rp 574.613 dan nilai WTP sebesar Rp 34.360,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Candi Bajangratu sebesar Rp 117.710.064.850,-. Selanjutnya untuk Candi Tikus diperoleh besaran surplus konsumen Rp 987.991,- dan nilai WTP Rp 39.842,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Candi Tikus sebesar Rp 162.503.279.320,-.(nilai surplus konsumen per individu dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2013). Kata kunci : Willingness To Pay, Zona Nilai Ekonomi Kawasan, Situs, Regresi Linear Berganda, Maple 14. ABSTRACT             Majapahit Empire Site as a  world culture and heritage UNESCO has potential as a tourist attraction. The location is strategically located on the main street of Solo and Surabaya which have historical value, makes this particular site Brahu Temple, Majapahit Museum, Bajangratu Temple and Tikus Temple became one tourist destination areas Mojokerto. Based on this, we need a  Zone Map Economic Value Areas (ZNEK) to the site of the Majapahit Kingdom to estimate the economic value and benefits based on willingness to pay (WTP) tourists and the people who benefit from the region            Sampling method (respondents) were used in this research is non probability sampling with incidental sampling technique, where respondents are those who by chance / incidental encountered in the study area and can be used as a sample, if it is deemed that the person who happened to be found suitable as a data source. Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculation software WTP using Maple 14.            In this research, the results obtained in the form of a map Zone Economic Value Area. The consumer surplus of Brahu Temple is Rp 633.234,-, and WTP value of Rp 34.457,- in order to obtain the total economic value of Brahu Temple Rp 97.157.349.770,-. Museum of Majapahit with consumer surplus of Rp 242.472,- and WTP value of Rp 41.532,-. in order to obtain the total economic value of Majapahit Museum is Rp 107.741.863410,-. As for the Bajangratu Temple consumer surplus obtained Rp 574.613,- and WTP value of Rp 34.360,- in order to obtain the total economic value is Rp 117.710.064.850,-. Further to the Tikus Temple gained massive consumer surplus Rp 987.991,- and the value of WTP Rp 39.842,- in order to obtain the total economic value of the Tikus  Temple area is Rp 162.503.279.320,-. (Consumer surplus value per individual multiplied by the number of visitors in 2013).
ANALISIS DAMPAKPERUBAHAN MUKA TANAH AKIBAT BENCANA TANAH LONGSOR TERHADAP KAWASAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN BANJARNEGARA MENGGUNAKAN METODE DInSAR WIWIT PURWANTI; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.192 KB)

Abstract

Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki topografi bervariasi seperti dataran landai, pegunungan dan dataran tinggi. Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang juga memiliki topografi bervariasi. Kondisi tersebut menjadikan Kabupaten Banjarnegara rawan bencana alam seperti tanah longsor. Tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara tidak hanya disebabkan oleh relief yang curam tetapi juga curah hujan yang tinggi, tataguna lahan di wilayah pegunungan yang tidak tepat dan jenis tanah di Kabupaten Banjarnegara.Penelitian ini menggunakan metode DInSAR, identifikasi kawasan permukiman dan overlay  (tumpang susun). Data yang digunakan yaitu citra Sentinel-1, citra Landsat 8, DEM SRTM, peta rawan bencana longsor, peta RTRW dan batas administrasiKabupaten Banjarnegara.Hasil overlay DInSAR tahun 2016 dan 2017 menunjukkan bahwa di kabupaten Banjarnegara terjadi perubahan muka tanah sebesar -0,35 sampai 0,34 meter/tahun. Hasil overlay DInSAR menunjukkan 1 kecamatan mengalami kenaikan muka tanah yaitu Kecamatan Karangkobar dan 19 kecamatan lainnya mengalami penurunan muka tanah. Hasil NDBI adalah sebesar 1,64% wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah permukiman, sedangkan 98,36% nya berupa non permukiman. Hasil identifikasi permukiman menggunakan algortima NDBI memiliki hasil yang kurang maksimal, sehingga digunakan data sekunder dari peta RTRW untuk identifikasi permukiman. Hasil overlay perubahan muka tanah dengan kawasan rawan bencana menghasilkan 5 kelas yaitu tidak rawan sebesar 7,44%, kurang rawan 29,79%, agak rawan 30,42%, rawan 29,96% dan sangat rawan 2,39%. Hasil overlay perubahan muka tanah pada kawasan rawan longsor dengan kawasan permukiman menghasilkan 3 kelas permukiman yaitu 799,73 ha kelas aman, 1.937, 61 ha kelas sedang dan 305,60 ha kelas bahaya.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue