cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DENGAN METODE NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX DAN SOIL ADJUSTED VEGETATION INDEX MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SENTINEL-2A (Studi Kasus : Kabupaten Demak) Sulaiman Hakim Sinaga; Andri Suprayogi; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.311 KB)

Abstract

ABSTRAKRuang terbuka hijau merupakan area memanjang/jalur dan/atau mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Peraturan menteri pekerjaan umum tahun 2008 menyatakan bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama ruang terbuka hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan. Kawasan perkotaan seharusnya memiliki minimal 30% ruang terbuka hiijau dari luas keseluruhan Kota tersebut. Yakni 30% tersebut meliputi 20% untuk ruang terbuka hijau publik dan 10% ruang terbuka hijau privat. Berdasarkan hasil analisis luasan ruang terbuka hijau yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan oksigen di Kabupaten Demak, hasilnya luasan ruang terbuka hijau yang ada saat ini masih memenuhi yaitu sebesar 61.800 Ha dan luasan ruang terbuka hijau yang dibutuhkan adalah sebesar 31.593,3Ha. kebutuhan oksigen berdasarkan jumlah hewan setiap harinya 1.188.896 (kg/hari), kebutuhan oksigen masyarakat Demak pada tahun 2017 adalah 985.468,896(kg/hari), sedangkan untuk kebutuhan ruang oksigen kendaraan bermotor setiap harinya 1.024.457,3 (kg/hari). Bisa diperhatikan bahwa kebutuhan oksigen paling banyak setiap harinya adalah kebutuhan oksigen pada golongan hewan ternak. Jika dilihat dari hasil luasan ruang terbuka hijau yang diperoleh, metode SAVI memperoleh luasan RTH sebesar 40.907 Ha, sedangkan metode NDVI memperoleh luasan RTH 61800. Selisih hasil kedua metode tersebut bisa digolongkan sangat jauh yakni 20.893 Ha. Jika dilihat dari hasil Matriks konfusinya metode NDVI merupakan metode yang lebih baik dalam penentuan luasan ruang terbuka hijau dengan nilai overall acuracy 87,2951 % sedangkan metode SAVI memiliki nilai overall acuracy 84,0164 %. Hasil ini menunjukkan bahwa metode NDVI lah yang terbaik dalam penentuan luasan ruang terbuka hijau dengan menggunakan metode indeks kehijauan. Kata Kunci : Citra Sentinel-2A, NDVI, Permen PU, Ruang Terbuka Hijau, SAVI  ABSTRACTGreen open space is an elongated / lane and / or clumped area with more open use, where plants grow, both naturally grown and intentionally planted. Minister of public works Regulation in 2008 states that the quantity and quality of open space public, especially green open space (RTH) is currently experiencing a very significant decrease and resulted in decreased urban environmental quality. Urban areas should have at least 30% green open space from the total area of the City. That is 30% of covers 20% for public green open spaces and 10% for private green open space. Based on the result of the green open space analysis  about oxygen demand are needed in Demak Regency, the result of analysis is gained that the availabel of green open space still coul fulfill the required green open space with area 61.800 and the required arei is 31.593 Ha. oxygen demand based on the number of animals per day is 1.188.896 (kg / day), Demak community oxygen demand in 2017 is 985.468,896 (kg / day), while for the daily needs of motor oxygen space is 1.024.457,3 (kg / day). It should be noted that the dayli oxygen demand that mostly neede is in the need for oxygen in the livestock class. When viewed from the results of green open space obtained, SAVI method obtain 40.907 Ha of RTH area, while the NDVI method to obtain 61.800 Ha of RTH area. Difference in the results of both methods can be classified very far ie 20.893 Ha. When viewed from the results of the Configuration Matrix NDVI method is a better in determining the extent of green open space with the value of overall acuracy 87,2951% while SAVI method has an overall value of acuracy 84,0164%. In this research these result indicates that the NDVI method is the best in determining the extent of green open space by using the greenish index method.Keywords : Sentinel-2A Image, NDVI, Permen Pu, Green Open Space, SAVI
ANALISIS PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH BERDASARKAN STATUS TANAH MENGGUNAKANSISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen) Muhammad Ibnu Munadi; Arwan Putra Wijaya; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.482 KB)

Abstract

ABSTRAKKecamatan Kebumen merupakan salah satu daerah yang strategis. Ini dikarenakan Kecamatan Kebumen dilewati oleh jalur selatan yang menghubungkan Provinsi DIY dan Jawa Barat. Dilain sisi, berdasarkan informasi BPN Kanwil Jateng yang dimuat Suara Merdeka tahun 2014 bahwa terdapat 80,42% tanah di Kabupaten Kebumen belum bersertifikat. Oleh karena itu diperlukan analisis berapa jumlah tanah yang sudah memiliki sertifikat  dan bagaimana penggunaan tanah di Kecamatan Kebumen.Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang pemetaan dan informasi spasial, akan lebih mudah mengetahui bagaimana sebaran penggunaan tanah dan sebaran status tanah. Teknologi Sistem Informasi Geografis merupakan teknologi survey dan pemetaan yang dapat digunakan untuk mengambil, menyimpan, memperbaharui, analisis dan menampilkan seluruh bentuk informasi yang memiliki referensi geografis.Penelitian ini menghasilkan informasi bahwa masih terdapat 77,48% tanah di Kecamatan Kebumen belum bersertifikat dan juga penggunaan tanah yang sudah bersertifikat  didominasi oleh pemukiman dengan persentase 36,4%. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi yang dapat dikembangkan untuk pengelolaan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan di masa yang akan datang.Kata Kunci : Kecamatan Kebumen,Penggunaan tanah, Sistem Informasi Geografis ABSTRACTKebumen sub-district is one of the strategic areas because the Kebumen sub-district passed by the southbound lanes linking Yogyakarta and West Java. In other news, based on information contained BPN Regional Office of Central Java on Suara Merdeka in 2014 that there were 80.42% of the land in Kebumen has not been certified. Therefore, it is necessary to analyze how the amount of land that already has a certificate and how to use land in the district of Kebumen.Along with technological advances in the field of mapping and spatial information, it will be easier to know how the distribution of land use and distribution of land status. Geographic Information System technology is a survey and mapping technology that can be used to retrieve, store, update, manipulate, analyze and display all forms of information that have a geographical reference.The result of this study has information that there are 77.48% of the land in the Kebumen Sub-District has not been certified and also the use of land that has been certified in Kebumen Sub-District dominated by housing place with a percentage of 36.4%. It was expected the information from this study can provide useful informations and hopefully this research can be developed in the future.Keyword : Geographic Information System, Kebumen Sub-district, Land use *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS PERBANDINGAN POTENSI ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN BERDASARKAN TOTAL NILAI EKONOMI DENGAN MEMANFAATKAN NILAI KEBERADAAN DAN NILAI GUNA LANGSUNG ( STUDI KASUS : PANTAI WIDURI DAN PANTAI BLENDUNG KABUPATEN PEMALANG) Kanti Ismawati; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.391 KB)

Abstract

ABSTRAKKawasan wisata merupakan aset yang tidak ada nilai pasar sehingga perlu perhitungan dengan metode pendekatan. Penelitian ini perlu dilakukan untuk membantu penentuan pengembangan suatu kawasan. Pada penelitian ini penghitungan zona nilai ekonomi kawasan menggunakan metode Contingent Valuationt Method (CVM) dan Travel Cost Method (TCM). Data yang digunakan dalam perhitungan sebanyak 130 responden untuk TCM Pantai Widuri, 120 responden untuk TCM Pantai Blendung dan 120 responden untuk CVM Pantai Widuri, 110 responden CVM untuk Pantai Blendung. Data responden TCM adalah pengunjung wisata yang ada di kedua kawasan pantai, sedangkan responden data CVM adalah orang-orang yang memanfaatkan pantai kawasan penelitian seperti pedagang dan pekerja di sekitar kawasan pantai. Teknik pengambilan sample dengan metode Non Probability Sampling artinya setiap anggota populasi mempunyai peluang terpilih tidak sama. Analisis data yang di lakukan dengan memanfaatkan nilai keberadaan dan nilai guna langsung. Data yang sudah terkumpul dilakukan uji asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas), validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 20 untuk mengetahui tipe data yang digunakan. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan menggunakan software excel dan software Maple 17. Hasil penelitian adalah total nilai ekonomi Pantai Widuri Rp. 33.655.483.296, total nilai ekonomi Pantai Blendung Rp. 1.869.729.929. Potensi wisatai dipengaruhi oleh jarak, jumlah pengunjung wisata dan jumlah penduduk kabupaten/kota. Interaksi spasial tertinggi ada pada Pantai Widuri dan Kabupaten Pemalang yang menunjukan potensi Pantai Widuri lebih besar dibanding Pantai Blendung. Kunci : CVM, Pantai Blendung, Pantai Widuri, TCM, ZNEK. ABSTRACTTourist area is an asset that has no market value so it needs to be calculated using the approach method. This research needs to be done to help determine the development of an area. In this research calculation of  zone economic value using the Contingent Valuationt Method (CVM) and Travel Cost Method (TCM).  calculation tcm 130 respondents for Widuri Beach, 120 respondents for Blendung Beach and cvm 120 respondents for Widuri Beach, 110 CVM respondents for Blendung Beach. TCM respondent are visitors in areas,  CVM respondents are people who use the area beaches such as traders and workers around the area. The sampling technique is the Non Probability Sampling method, meaning the opportunity for each member of the selected population is not the same. analysis by utilizing the existence value and direct value. The collected data is tested by classical assumptions (normality, autocorrelation, heteroscedasticity, and multicollinearity), validity and reliability using SPSS 20 to find out type data. processing method used multiple linear regression analysis and calculation using Maple 17. The results of the study total economic value of Widuri Beach Rp. 33,655,483,296,  total economic value of Blendung Beach Rp. 1,869,729,929. Tourism potential is influenced by distance, number of tourist visitors and the number of residents of the district / city. The highest spatial interactions in Widuri Beach and Pemalang District. Keywords: Blendung Beach, CVM, TCM, Widuri Beach, ZNEK.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN TERHADAP KOMODITAS PERTANIAN KABUPATEN CILACAP Bayu Pradana; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.347 KB)

Abstract

Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Cilacap, khususnya di daerah kabupaten Cilacap bagian barat. Namun dalam praktiknya, kegiatan pertanian di daerah Cilacap bagian barat masih terdapat beberapa permasalahan yang memerlukan arahan pemanfaatan lahan yang tepat. Kecamatan Karangpucung, Kecamatan Cimanggu dan kecamatan Majenang dianggap mampu menggambarkan keadaan pertanian di kabupaten Cilacap karena dari ketiga kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang mengutamakan pertanian dalam kegiatan ekonominya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Deskriptif yaitu menjelaskan dan mendeskripsikan data hasil pengukuran dan pengamatan yang telah diukur di lapangan maupun yang dianalisis di laboratorium. Metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya random, pengambilan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Kuantitatif untuk menghitung produktivitas tanaman padi, ubi kayu, jagung, dan kacang tanah. Berdasarkan analisis fisik lahan, diketahui bahwa terdapat semua kelas kesesuaian yang ada pada pengklasifikasian kesesuaian lahan yaitu Sangat Sesuai (S1), Cukup Sesuai (S2), Sesuai Marginal (S3) dan Tidak Sesuai (N). Berdasarkan analisis ekonomi, semua komoditas terpilih layak untuk dikembangkan di wilyah studi, karena memiliki nilai ekonomi yang cukup baik. Berdasarkan analisis sosial, petani di wilayah studi masih sedikit yang memperhatikan faktor fisik lahan dengan banyaknya kegiatan pertanian di wilayah yang memiliki tingkat kesesuaian lahan pertanian Tidak Sesuai (N). Untuk itu perlu diadakan penyuluhan tentang hal ini kepada masyarakat di wilayah studi dalam kegiatan pertaniannya. Kata kunci : Analisis kesesuaian lahan pertanian, karakteristik fisik, ekonomi dan sosial.
PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK PEMETAAN KAWASAN POTENSI SUMBER PLTS DI PULAU JAWA Rina Emelyana; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.753 KB)

Abstract

ABSTRAK Peningkatan kepadatan penduduk yang dialami Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, sosial dan politik disebabkan oleh persebaran penduduk yang tidak merata.Hal ini menyebabkan melonjaknya kebtuhan-kebutuhan vital, diantaranya yaitu kebutuhan listrik.Energi listrik dengan sumber energi baru dan terbarukan belum mencapai optimalisasi yang tinggi, salah satunya adalah energi surya.Pemetaan potensi sumber PLTS di Pulau Jawa diperlukan untuk mempercepat identifikasi kawasan-kawasan yang berpotensi.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebaran letak potensi sumber PLTS dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan SIG yaitu metode klasifikasi, tumpang tindih, pemberian skor dan bobot setiap parameter.Parameter yang digunakan yaitu akumulasi curah hujan bulanan, rata-rata persebaran awan bulanan, peta klasifikasi suhu permukaaan bumi, peta klasifikasi tata guna lahan dan peta klasifikasi kelerengan.Pada curah hujan dan persebaran awan dilakukan tumpang tindih data raster untuk mendapatkan satu kabupaten di Pulau Jawa yang paling berpotensi.Penetapan sebaran potensi sumber PLTS pada kabupaten terpilih dilakukan pembobotan pada parameter suhu permukaan bumi, tata guna lahan dan kelerengan.Pengelompokan potensi dibagi menjadi empat kelas yaitu berpotensi sangat rendah, berpotensi rendah, berpotensi sedang dan berpotensi tinggi.Berdasarkan hasil klasifikasi curah hujan bulanan dan klasifikasi persebaran awan bulanan diperoleh 4 kabupaten dengan bulan kering dan daerah bebas awan terbanyak yaitu Kabupaten Gresik, Lamongan, Rembang, Sampang.Dengan melihat jumlah curah hujan sebenarnya dari keempat kabupaten tersebut diperoleh bahwa Kabupaten Rembang memiliki jumlah curah hujan terendah dalam satu tahun periode yang ditentukan.Analisis spasial dan penambahan bobot serta skor pada parameter suhu permukaan bumi, tata guna lahan dan kelerengan dilakukan hanya dalam lingkup Kabupaten Rembang.Hasilnya daerah dengan potensi sangat rendah seluas 2.085,153 Ha(2%).Daerah berpotensi rendah seluas 70.877,295 Ha(69%).Daerah berpotensi sedang seluas 3.509,407 Ha(3%).Daerah berpotensi tinggi seluas 27.162,458Ha(26%). Kata Kunci : Klasifikasi, penginderaan jauh, PLTS, SIG, tumpang tindih. ABSTRACT The increasing population density which happened in Java Island as central of government, education, social and politics is caused by inequality distribution of population. Those are led to bump the vital needs, one of them is eletric current. Electric energy wtih the new and renewable resources has not yet reach the optimization, one of them is solar energy. The mapping of solar power energy generator potential is needed for accelerate identification potential areas.The purpose of reasearch is get distribution solar power energy generator location with remote sensing and GIS. The methods which will be used are classification method, overlay, scoring and weighting each parameters. Parameters which is used are monthly rainfall accumulation, monthly average cloud distribution, land surface temperature class map, land use map, and slope map. Determination of solar power energy generator potential on chosen regency is computed by weighting land surface temperature parameter, land use and landslide in 4 classes potential.These classes  were defined very low potential, low potential, medium potential, and high potential.Based on monthly rainfall accumulation and cloud distribution overlay are resulted 4 regencies with drought month and most cloud free area Gresik, Lamongan, Rembang, and Sampang regency. From the rainfall accumulation, Rembang regency is the lowest rainfall accumulation on one year periode. Spatial analysis, weighting addition, and also scoring on land surface temperature, land use and land slide are done only on Rembang regency.  The results are 2,085.153Ha or 2 % very low potential area, 70,877.295 Ha or 69% low potential area, 3,509.407Ha or 3% medium potential area, 27,162.458 Ha or 26% high potential area. Keywords: Classification, GIS, overlay, remote sensing, solar power energy reactor.
ANALISIS PERBANDINGAN NILAI NDVI LANDSAT 7 DAN LANDSAT 8 PADA KELAS TUTUPAN LAHAN (Studi Kasus : Kota Semarang, Jawa tengah) Dita Rizki Amliana; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.642 KB)

Abstract

ABSTRAKLandsat 8 merupakan misi kelanjutan dari satelit Landsat yang telah menyediakan lebih dari 40 tahun citra untuk penelitian jangka panjang. Namun, sangat penting untuk diketahui bahwa fitur spektral dari Landsat 8 sendiri hampir sama dengan citra Landsat sebelumnya yaitu citra Landsat 7 karena citra Landsat 8 memiliki kanal-kanal yang sempit terutama kanal-kanal yang digunakan pada perhitungan NDVI (Normalized Difference Vegetation Index ) yang mana merupakan metode perhitungan indeks vegetasi yang paling sering digunakan. Pada penelitian ini Nilai NDVI  digunakan untuk mengetahui indeks vegetasi guna menghitung perbandingan spektral antara nilai NDVI Landsat 7 dan nilai NDVI Landsat 8, dan bisa juga untuk menghitung perubahan tutupan lahan berdasarkan nilai NDVI.Dalam penelitian ini nilai NDVI dari citra Landsat 8 dibandingkan dengan NDVI Landsat 7 yang berasal dari titik titik sampel 7 kelas tutupan lahan yang diambil pada saat bulan yang sama dengan perekaman citra Landsat 7 dan Landsat 8 di Kota Semarang. 7 kelas tutupan lahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah air, pemukiman, industri, lahan kosong, kebun, tegalan, dan sawah. Untuk perubahan tutupan lahan pada tahun 2013,2014, dan 2015 di Kota Semarang sendiri menggunakan 4 kelas tutupan lahan yaitu air, lahan terbangun, vegetasi jarang dan vegetasi rapat.Hasil korelasi spektral antara Landsat 7 dan Landsat 8 dengan metode NDVI pada 7 kelas tutupan lahan di Kota Semarang tahun 2015 didapatkan persamaan y= 0,7171x + 0,0682 dengan R2=0,631 dan koefisien korelasi sebesar0,7943  yang memiliki pengertian bahwa pengaruh variabel Landsat 7 terhadap Landsat 8 adalah sebesar 63% yang menunjukan adanya korelasi positif dan kuat, jika nilai NDVI pada Landsat 7 naik maka nilai ndvi Landsat 8 pun naik. Pada hasil perubahan tutupan lahan Kota Semarang menggunakan NDVI didapatkan hasil perubahan yang signifikan dari tahun 2013-2015 pada kelas lahan terbangun yang luasnya meningkat  setiap tahunnya dan vegetasi yang luasnya semakin turun setiap tahunnya.Kata Kunci : Landsat 7, Landsat 8, NDVI, Tutupan Lahan, Vegetasi , Korelasi ABSTRACTLandsat 8, the on going mission of the Landsat satellites that have provided over 40 years of images, continues to benefit long-term research. However, it is important to know if the spectral features of Landsat 8 are the same standard as previous Landsat imagery because Landsat 8 images have narrower bands, especially because of the normalized difference vegetation index (NDVI) calculation which is the most popular vegetation index. In this study, NDVI value is used to determine the vegetation index for calculating the spectral ratio between the value of NDVI Landsat 7 and the value of NDVI Landsat value of 8 , and it could be to calculate changes in land cover based on NDVI values .In this research the value of NDVI  of Landsat 8 imagery compared with NDVI Landsat 7 derived from sample points 7 land cover classes are taken at the same month recording of Landsat 7 and Landsat 8 in Semarang. Seven (7) land cover classes used in this research are water, residential, industrial, barren land, garden, fields, and rice fields. For land cover changes in 2013, 2014 and 2015 in Semarang itself uses four classes of land cover: water, built-up land, infrequent vegetation and frequent vegetation.The results of spectral correlation between Landsat 7 and Landsat 8 with the method of NDVI in seven (7)  classes of land cover in Semarang city by 2015 are obtained by the equation y = 0, 7171x + 0.0682 with R2 = 0,631 which has the definition that the influence of variable Landsat Landsat 7 against Landsat 8 is 63% and corellation coefficient (r) is 0,7943 which shows a strong positive correlation and, if Landsat 7 NDVI values increase, Landsat 8 NDVI values will increase too. On the results of Semarang land cover changes using NDVI showed a significant change from the year 2013-2015 on the extent of built up land class increase every year and vegetation is getting down every year.Keywords: Landsat 7, Landsat 8, NDVI, Land Cover, Vegetation, correlation *) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI UNGARAN TIMUR DAN UNGARAN BARAT PASCA PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG – SOLO Tito Wisnu Pramono Aji; Fauzi Janu Amarrohman; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.881 KB)

Abstract

ABSTRAKTerdapat pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo sepanjang 72,64 km oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk pada tahun 2009. Jalan tol tersebut melalui Kabupaten Semarang dan terdapat exit tol di Ungaran. Pembangunan tersebut menimbulkan perubahan lahan untuk kebutuhan pembanganunannya serta perkembangan penggunaan lahan pada area sekitar exit tol. Penelitian ini menggunakan data peta administrasi Kecamatan Ungaran Barat dan Ungaran Timur, citra Worldview 2 pada tahun 2015, citra Quickbird pada tahun 2008 dan 2010, serta citra Spot 6 pada tahun 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Digitasi On Screen dan Overlay dengan mengoverlay peta penggunaan lahan tahun 2008, 2010, 2015, dan 2019, serta adanya analisis tetangga terdekat. Berdasarkan hasil pengolahan, Exit Tol Ungaran memberi dampak pada lahan terbangun, sebelum adanya Exit Tol Ungaran terdapat 2,974 Ha, sedangkan lahan tidak terbangun sebesar 34,205 Ha, setelah dibangunnya Exit Tol Ungaran lahan terbangun menjadi sebesar 41,883 Ha sedangkan lahan tidak terbangun 3,935 Ha, sehingga lahan terbangun berkembang setelah adanya Exit Tol Ungaran. Pola perkembangan pada Ungaran Barat dan Ungaran Timur berpola mengelompok setelah dibangunnya jalan tol dan arah perkembangan pada penelitian ini mengarah ke arah Kecamatan Ungaran Timur sesuai dengan hasil pembobotan. Kata Kunci : Perubahan Penggunaan Lahan, Penggunaan lahan, Jalan Tol, Ungaran ABSTRACTThere was a 72.64 km Semarang-Solo Toll Road construction by PT Jasa Marga (Persero) Tbk in 2009. The toll road passes through Semarang Regency and there is a toll exit at Ungaran. The development has led to changes in land for development needs and the development of land cover in the area around the toll exit. This study uses administrative map data for West Ungaran and East Ungaran Subdistricts, Worldview 2 imagery in 2015, Quickbird imagery in 2008 and 2010, and Spot 6 imagery in 2019. The methods used in this study are Digitizing On Screen and Overlay by overlaying maps of land cover in 2008, 2010, 2015 and 2019, and an analysis of the nearest neighbors. Based on the results of processing, the Ungaran Toll Exit gives impact to the developed land, before the Ungaran Toll Exit there is 2,974 Ha, while the non-built land is 34,205 hectares, after the construction of the Ungaran Toll Exit the built land becomes 41,883 hectares while the land is not built 3,935 Ha, so developed land developed after the Ungaran Toll Exit. The pattern of development in West Ungaran and East Ungaran has a patterned grouping after the construction of the toll road and the direction of development in this study leads to the District of East Ungaran in accordance with the results of the weighting.
PEMANFAATAN SIG UNTUK MONITORING KEBOCORAN JARINGAN PIPA PDAM DI KABUPATEN DEMAK Herlin A., Rr. Yossia; Nugraha, Arief Laila; Kahar, Sutomo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.586 KB)

Abstract

Kebocoran memang merupakan masalah yang umum dihadapi oleh PDAM. Di Indonesia tingkat kebocoran air pada saluran distribusi PDAM saat ini masih cukup tinggi yaitu diantara 20-30% di tiap daerah. Penanganan kebocoran sangat berkaitan erat dengan informasi jaringan yang kemudian disajikan ke dalam SIG (Sistem Informasi Geografis) sebagai representasi informasi pemetaan jaringan pipa distribusi di PDAM secara geometris.Untuk mendapatkan SIG jaringan pipa distribusi PDAM, dilakukan pemetaan jaringan distribusi pipa menggunakan GPS navigasi dan didukung atribut-atribut informasi perpipaan seperti diameter dan panjang pipa. Selanjutnya untuk menganalisis jaringan distribusi pipa menggunakan software EPANET 2.0, dari kedua metode tersebut dapat dianalisis kondisi jaringan eksisting yang ada untuk mengetahui daerah yang mengalami rawan kebocoran.Hasil yang diperoleh dari analisis EPANET jaringan pipa eksisting (kondisi jam puncak), mengalami pressure tertinggi sebesar 59,91 m, head tertinggi sebesar 89,92 m 2, flow (debit aliran) tertinggi sebesar 8,54 LPS, velocity (kecepatan aliran) tertinggi sebesar 0,92 m/s, Unit headloss (kehilangan tekanan) tertinggi sebesar 35,70 m/km. Hasil simulasi EPANET disajikan pada SIG berupa peta jaringan distribusi dan perhitungan kebocoran dengan membandingkan jumlah air distribusi dan air terjual, yang menunjukkan tingkat kehilangan air/kebocoran tertinggi pada tahun 2012 terdapat pada bulan Desember yaitu sebesar 10785 m3 dan pada tahun 2013 terdapat pada bulan Januari yaitu sebesar 6298 m3.Kata kunci: Kebocoran, PDAM, SIG, EPANET
ANALISIS PENGARUH PEMILIHAN PETA DASAR TERHADAP PENENTUAN BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT SECARA KARTOMETRIS (STUDI KASUS : KABUPATEN SUMENEP, JAWA TIMUR) Ajeng Kartika Nugraheni Syafitri; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.894 KB)

Abstract

ABSTRAK Sesuai dengan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kabupaten/kota memiliki kewenangan penuh untuk mengelola wilayahnya. Hal ini menjadikan batas wilayah sebagai sesuatu yang penting. Ketentuan penetapan dan penegasan batas wilayah baik darat maupun laut telah diatur dalam Permendagri No. 76 Tahun 2012, termasuk mengatur mengenai peta dasar yang digunakan untuk menentukan batas pengelolaan wilayah laut. Pada wilayah kabupaten, peta dasar yang digunakan adalah Peta LPI. Namun belum semua wilayah di Indonesia mempunyai Peta LPI, sehingga perlu dikaji agar diketahui peta dasar yang dapat digunakan untuk penentuan batas pengelolaan wilayah laut sebagai alternatif dari Peta LPI.Peta dasar yang akan diolah dan dianalisis dalam penelitian ini adalah peta RBI, citra satelit Landsat 8, dan peta LPI. Pengolahan dengan metode kartometrik dengan penarikan batas antara Kabupaten Sumenep dan Pamekasan menggunakan garis ekuidistan. Adapun garis dasar yang digunakan adalah garis dasar normal, garis dasar lurus, dan garis penutup teluk. Pengolahan menggunakan software  arcGIS, autocad, dan ENVI.Dari hasil pengolahan, diperoleh koordinat titik batas dan luas pengelolaan wilayah laut. Wilayah dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga area untuk untuk mempermudah dalam perhitungan luas. Namun pada peta LPI hanya terdapat dua area karena pada area ketiga (Kepulauan Masalembu) belum terpetakan. Pada citra satelit secara keseluruhan 666.125,240 Ha dengan rincian luas area I sebesar 332.218,013 Ha; luas area II sebesar  253.719,973 Ha; dan luas area III sebesar 80.187,254 Ha. Pada peta RBI secara keseluruhan 759.487,316 Ha dengan rincian luas area I sebesar 333.848,076 Ha; luas area II sebesar 345.730,540 Ha; dan luas area III sebesar 79.908,700 Ha. Sedangkanpada peta LPI secara keseluruhan 608.340,895 Ha dengan rincian luas area I sebesar 333.958,828 Ha dan luas area II sebesar 274.382,067 Ha.            Kata Kunci : Garis Ekuidistan, Kartometrik, Landsat 8, LPI, RBI ABSTRACT According to Law number 23 year 2014 about Regional Government, districts/regency have full authority to manage its territory. This Law makes boundary become an important thing. Rule about determination and affirmation of district boundaries both land and sea have been regulated in Permendagri number 76 year 2012, including regulate the base map that used to determine the maritime boundary. Determination boundary within district/regency coverage, base map used is the LPI Map. However, not all regions in Indonesia have LPI Map, so it’s important to do research in order to know the base map that can be used for the determination of maritime boundary as an alternative of LPI Map.The base maps to be processed and analyzed in this study are RBI map, Landsat 8 satellite images, and LPI map. Processing use cartometric method, and drawing boundary between Sumenep and Pamekasan regency using equidistant line. The base line used is the normal base line, straight base line, and bay closing line. Processing use arcGIS software, autocad, and ENVI. From the results of processing, obtained coordinates of boundary point and dimension of maritime boundary. The area in this study is divided into three areas to simplify the calculation of area. However on the LPI map there are only two areas because in the third area (Masalembu Islands) has not been mapped. Dimension of maritime boundary of satellite image overall 666.125,240 Ha with details of area I 332.218,013 Ha; area II 253.719,973 Ha; and area III  80.187,254 Ha. On the map of RBI as a whole 759.487,316 Ha with details of area I 333.848,076 Ha; area II 345.730,540 Ha; and area III  79.908,700 Ha. While on the LPI map in overall 608.340,895 Ha with details of area I 333.958,828 Ha and area II of 274.382,067 Ha.Keywords: Equidistant Line, Cartometric, Landsat 8, LPI, RBI
SEMARANG CHARITY MAP, PENYAJIAN PETA DONASI SOSIAL KOTA SEMARANG BERBASIS BLOGGER JAVASCRIPT Rohim, Wahyu Nur; Awaluddin, Moehammad; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.049 KB)

Abstract

AbstrakKebingungan seringkali dialami oleh para pegiat sosial, soal keterbatasan informasi mengenai kegiatan sosial, panti sosial, komunitas sosial dan data penyandang masalah kesejahteraan sosial yang selanjutnya kami sebut donasi sosial di Kota Semarang sedikit banyak menghambat mereka dalam melakukan manajemen donasi. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan seperti berapa jumlah panti sosial di Kota Semarang, panti sosial mana yang paling dekat dari rumah, petunjuk jalan dari suatu tempat menuju lokasi kegiatan sosial, panti sosial dan komunitas sosial tertentu,berapa estimasi waktu tempuhnya dan berapa pulaestimasi jarak tempuhnya.Dalam penelitian tugas akhir ini dilakukan penyajian data donasi sosial ke dalam sebuah sistem informasi geografis online dengan menggunakan platform blogger dalam membangun situs dengan bahasa pemrograman Javascript dan HTML.Dalam pembuatan peta utama, peta panti sosial dan peta komunitas sosial, peneliti menggunakan software ArcGIS Desktop 10.sp1untuk mengelola basis data agar menjadi sebuah data vektor spasial.Data vektor spasial tersebut selanjutnya dikelola di ArcGIS Developer untuk menampilkanya ke dalam sebuah peta online dasar atau Web Map di situs ArcGIS Online.Beberapa fitur Web Map Application tersedia di dalam situs ArcGIS Online, salah satunya adalah fitur Directions. Sebuah fitur yang mampu memberikan informasi petunjuk jalan secara terperinci, estimasi jarak dan estimasi waktu kepada  pengguna dengan menggunakan nilai koordinat lintang bujur sebagai parameternya. Maka fitur Directions peneliti pilih untuk menyajikan peta online dasar donasi sosial. Setelah memastikan bahwa fitur Directionspada peta dasar online donasi sosial bekerja dengan baik, kemudian menampilkannya ke dalam situs dengan menggunakan bahasa pemrograman HTML memanfaatkan fungsi i frame. Sebelum situs di terbitkan, alamat situs dengan ekstensi .blogspot.com diubahke alamat pantisemarang.info. Kata Kunci: Peta Donasi Sosial, Semarang, ArcGIS Developer, Blogger, Javascript AbstractSocial workers often get stuck in confusion, limited information about social events, social house, social community and the data about social prosperity matter later named social donation in Semarang alittle bit more dragging them in conducting the donation management. Therefore, a number of questions come up such as how many social houses in semarang, which social house is closer to the housing, the path sign from a certain place to the events location, social houses, and certain social community, and also how much the time estimation and how many the distance estimation.In this final assignment research, the social donation data is presented in an online geographical information system by using the blogging platform in working out a site using the JavaScript and HTML programming system. In the process of making the main map, the social houses map, and the social community map, the researcher uses ArcGIS Desktop 10.sp1 software to manage the basis data to be a spatial vector data. The spatial vector data is processed by ArcGIS Developer to show it in the basic online map or Web Map in ArcGIS Online site.Some Web Map Application features is available in the ArcGIS Online site, one is the direction feature. A feature gives the path sign information in detail, the distance estimation and time estimation to the user by using the number of longitude-latitude coordinate as the parameter. After ensuring that the direction feature of the social donation basic online map works well, later it is showed in the site using the HTML programming system of frame function. Before the site is published, the site address of .blogspot.com extension is changed into pantisemarang.info. Keywords: Social Donation Mapping, Semarang, ArcGIS Developer, Blogger, Javascript

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue