cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
KAJIAN TERAPAN TEKNOLOGI UAV DAN SIG DALAM PEMBUATAN PETA DESA SKALA 1:1000 UNTUK WILAYAH RW-04 KELURAHAN TEMBALANG TAHUN 2017 Naryoko Naryoko; Yudo Prasetyo; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.625 KB)

Abstract

Pemetaan desa dilakukan sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial dan Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Di definisikan bahwa Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengelolaan potensi desa yang meliputi alam, sosial dan ekonomi sangatlah penting bagi pembangunan desa. Maka dari itu menggunakan UAV dan aplikasi SIG di sini ditujukan sebagai alat untuk melaksanakan proses pembuatan, perencanaan dan validasi data peta. Pemetaan menggunakan UAV dan aplikasi SIG tergolong sebagai pengukuran secara fotogrametris dimana pengukuran ini memanfaatkan foto udara untuk pengambilan datanya. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta yang akurat dan mempunyai ketelitian yang tinggi (orthometrik) yang dapat digunakan acuan dalam proses pembangunan. Informasi perencanaan pembangunan, perencanaan tata ruang, perencanaan investasi dan bisnis perekonomian, sangatlah membantu untuk perkembangan desa. maka pemetaan desa menggunakan UAV sangat tepat untuk dilakukan.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) UNTUK PEMETAAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA SEMARANG BERBASIS WEB Sylvia Tri Yuliani; Bambang Sudarsono; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.681 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Pasar tradisional merupakan pasar yang berperan penting dalam memajukan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan memiliki keunggulan bersaing secara alamiah. Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah hingga kini masih mempertahankan keberadaan pasar tradisional ditengah pertumbuhan pasar modern yang semakin pesat. Penyediaan informasi mengenai pasar tradisional kepada masyarakat menjadi hal yang sangat penting guna menyosialisasikan keberadaan pasar-pasar beserta informasi didalamnya. Penelitian ini berupa aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) pasar tradisional di kota Semarang berbasis web.                WebGIS adalah aplikasi sistem informasi geografis yang dapat diakses secara online melalui website. Pembuatan aplikasi ini memanfaatkan software XAMPP sebagai localhost, Dreamweaver dan Notepad++ untuk membuat desain website serta proses coding. Google Maps sebagai peta online yang menampilkan lokasi pasar-pasar.                Hasil akhir penelitian ini berupa aplikasi SIG untuk pemetaan pasar tradisional di kota Semarang berbasis web yang dapat diakses oleh masyarakat secara online. Aplikasi ini juga menampilkan fitur rute terdekat serta fitur pencarian pasar terdekat sehingga kebutuhan informasi untuk setiap pengguna dapat terpenuhi.  Kata kunci : Pasar Tradisional, Semarang, WebGIS, Google Maps  ABSTRACT                 Traditional market is a market that has important role to promoting economic growth in Indonesia. It has a natural competitive advantage. Semarang city as the capital of Central Java is still maintaining the traditional markets while the modern market is rapidly increasing. Provision of information about traditional markets becomes very important to socialize its location and information to the public. This study attempt to create an application of Geographic Information System (GIS) web based about traditional market in Semarang.                WebGIS is a geographic information system applications that can be accessed online through the website. This application using the software XAMPP as localhost, Dreamweaver and Notepad ++ to create a website design and coding process. Google Maps as an online map that displays the location of markets.                 The final result of this research is the application of GISbased web for mapping the traditional market in the city of Semarang that is accessible to the public by online. This application also features by the location of market routes nearby to provide an information for public as well as their needs. Keyword : Traditional Market, Semarang, WebGIS, Google Maps *) Penulis, Penanggung Jawab
Penentuan Resiko Dan Kerentanan Tsunami Di Kebumen Dengan Citra Alos Faiz Islam; Sawitri Subiyanto; L. M. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.109 KB)

Abstract

Indonesia is the country that has the potential for major natural disasters due to a ring of fire around . One of the risk is tsunami . Kebumen is a district in Central Java has the potential to be exposed to the risk of a tsunami . Kebumen geographically located at 7 ° 27 ' - 7 ° 50 ' south latitude and 109 ° 22 ' - 109 ° 50 ' which has 35 km along the southern coast . Prevention needs to be a systematic way of determining the risks and vulnerabilities to prevent the disaster victims .The method used in this study is the determination of risk is the Run - Up Regulation of the Minister of Public Works No.06/PRT/M/2009 . In addition to satellite imagery used is the image of ALOS ( Advanced Land Observing Satellite ) is from Japan . Vulnerability parameters to be obtained in the form Slope , population density , distance from the coast .Vulnerability of the parameters obtained will be weighted by Pairwise Comparison method . After that it will be overlay by risk . Then formed Vulnerability and Risk maps Kebumen tsunami . Then formed Vulnerability and Risk Tsunami in Kebumen . From result that area in kebumen have impact with tsunami for elevation run-up 0-16 m is 44,16%, then area save from tsunami is 56,484%. Mirit, Ambal, Buluspesantren, Kuwarasan and Ayah is districk with more risk than any other  area.Keywords : Kebumen, , Run-Up, Tsunami, Vulnerability, risks
PEMBUATAN PROGRAM PENENTUAN KONSTANTA HARMONIK DAN PREDIKSI DATA PASANG SURUT DENGAN MENGGUNAKAN VISUAL BASIC FOR APPLICATION (VBA) MS. EXCEL Fadhilla Shara Denafiar; Arief Laila Nugraha; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.021 KB)

Abstract

ABSTRAKPengamatan pasang surut air laut merupakan pengamatan yang dilakukan dengan mengukur nilai ketinggian naik-turunnya air laut. Hasil ketinggian yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan komponen konstanta harmonik, chart datum, grafik pasut hingga prediksi pasang surut air laut. Data pasang surut didapatkan dari pengukuran di pinggir pantai dan pengolahannya dapat dilakukan dengan berbagai metode perhitungan.Penelitian pasang surut ini menggunakan metode kuadrat terkecil dalam pengolahannya hingga didapatkan konstanta harmonik, chart datum dan prediksi pasang surut, sehingga dalam perhitungannya dibutuhkan teknologi komputer dengan program perhitungan yang memiliki ketelitian tinggi. Program yang digunakan pada penelitian tugas akhir ini adalah program macro dengan bahasa pemograman Visual Basic For Application (VBA) pada Microsoft Excel yang bernama Tidal v.1.0, hasil pengolahan data akan dibandingkan dengan software SLP64 dan T-Tide v.1.3.Hasil dari penelitian ini adalah program pengolahan data ketinggian pasut dengan menggunakan VBA pada Ms. Excel. Pada program pengolahan ini dapat dihasilkan nilai konstanta harmonik, chart datum, grafik data, dan ketinggian prediksi pada 2 tahun mendatang. Hasil perbandingan konstanta harmonik antara Tidal v.1.0 dengan SLP64 dan T-Tide v.1.3 memiliki selisih terbesar 0,131 m dan selisih terkecil 0,000 m, pada perbandingan hasil chart datum memiliki selisih terbesar 0,084 dan selisih terkecil 0,000 m, serta perbandingan hasil prediksi pada SLP64 memiliki nilai selisih rata-rata sebesar 0,106 m dan pada T-tide sebesar 0,227 m. Pada uji signifikansi terdapat korelasi dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara Tidal dengan SLP64 karena nilai korelasi sebesar 0,947 dan nilai perbedaan sebesar 0,871, serta terdapat korelasi dan ada perbedaan yang signifikan antara Tidal dengan T-Tide karena nilai korelasi sebesar 0,818 dan nilai perbedaan sebesar 0,000. Pada uji usability menghasilkan nilai efektifitas sebesar 81,67% dan nilai kepuasan pengguna sebesar 83,67%.
APLIKASI WebGIS PARIWISATA MENGGUNAKAN GOOGLE MAP API DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR Hasan Basyri; Andri Suprayogi; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.013 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan teknologi sekarang ini sudah cukup maju terutama di bidang jaringan tanpa kabel. Mulai dari alat yang digunakan hingga kecepatan jaringan tanpa kabel yang ada. Informasi yang ada di suatu daerah dapat tersebar dengan mudah ke daerah lain hanya dalam hitungan detik. Hal ini sangat memudahkan komunikasi di era yang serba maju sekarang ini.  Akan tetapi informasi yang ada jika tidak dikelola dengan baik tentu saja akan menyulitkan komunikasi tersebut. Untuk itu diperlukan sebuah sistem yang mengatur informasi tersebut atau lebih dikenal dengan sistem informasi.Sistem informasi ada yang sebatas tulisan saja dan ada yang dilengkapi dengan gambar maupun peta.Sistem informasi yang dilengkapi dengan peta ini disebut dengan Sistem Informasi Geografis.Lombok Timur merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi pariwisata yang besar.Namun potensi pariwisata ini tidak dapat diketahui oleh wisatawan, dikarenakan kurangnya informasi tentang pariwisata Kabupaten Lombok Timur.Disamping itu, Informasi yang disediakan selama ini hanya bersifat statis. Mengacu pada pemahaman tersebut maka penelitian ini mengkaji Potensi Pariwisata Kabupaten Lombok Timur dengan menciptakan aplikasi WebGIS  menggunakan Google Map API.Kata kunci: WebGIS, Pariwisata dan Lombok Timur.  ABSTRACTThe developments of technology have already moved forward specially in wireless and network technology. The movement in fact is begine from hardware tools used and the speed of network. However, this movement of technology could make communication easier, an information in a place or in a village sould dissapear in only some second time. But an information has to be handled well to make it easier to be understood by many people. Because of that, the need of aspecial good system is highly needed to manage the information wich called information system. There are information system with only in words or writing and others with pictures or maps. The system with map called Geographic Information System.East Lombok has big tourism potency, however this potency is un known by tourist, because the lack of information. Currently information prouded is only in static character. And this research aims to determine this potency in East Lombok by creating WebGIS Application Using Google Maps API.Keywords: WebGIS, Tourism and East Lombok. *) Penulis, Penanggungjawab
KAJIAN AKURASI CITRA SATELIT WORLDVIEW 4 PADA PEMBUATAN PETA DASAR PENDAFTARAN TANAH Naufal Ilyas Abdul Hakim; L M Sabri; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.098 KB)

Abstract

Tanah merupakan suatu sumber daya alam yang dapat dimiliki. Persediaan tanah yang terbatas dapat menimbulkan konflik kepentingan atau sengketa atas tanah. Pada tahun 2017 pemerintah memulai lagi pemetaan lengkap melalui PTSL. Metode pengukuran dan pemetaan yang digunakan dalam PTSL telah mengakomodir metode penginderaan jauh untuk mempercepat proses pengukuran di lapangan maupun proses pemetaan lengkap dalam suatu wilayah desa atau kelurahan. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengkaji akurasi citra WorldView 4 dalam pembuatan peta dasar pendaftaran tanah. Proses pengolahan citra dilakukan dengan menggunakan metode Toutin’s , Thine plate spline, dan Polynomial. Hasil orthorektifikasi ketiga metode tersebut dibandingkan akurasinya berdasarkan Perka BIG Nomor 15 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar  dan PNMA Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar Pendaftaran. Citra dengan akurasi terbaik digunakan untuk menganalisis perbedaan luas dan pergeseran bidang tanah antara gambar ukur dengan delineasi luas pada citra. Nilai akurasi horizontal (CE90) hasil ortorektifikasi metode Toutin’s , Thine plate spline, dan Polynomial masing-masing yaitu 0,438 meter, 0,559 meter dan 0,565 meter sedangkan, nilai RMSE ketelitian planimetrisnya 0,183, 0,206 dan 0,210. Dari pengujian yang dilakukan, seluruh metode orthorektifikasi yang dihasilkan memenuhi standar ketelitian geometri peta RBI serta ketelitian planimetrik peta dasar pendaftaran. Pada uji luas bidang terdapat 7 sampel bidang pada permukiman, 7 sampel bidang pada persawahan dan semua sampel bidang pada kebun yang tidak memenuhi toleransi. Rata-rata pergeseran nilai X permukiman sebesar ±1,759 meter, sedangkan rata-rata pergeseran nilai Y sebesar ±1,463 meter. Pada kategori persawahan didapatkan hasil pergeseran rata-rata nilai X sebesar ± 1,876 meter dan pergeseran nilai Y sebesar ±1,719 meter. Pada kategori kebun pergeseran rata-rata nilai X sebesar ± 1,017 meter dan pergeseran nilai Y sebesar ±1,738 meter.
ANALISIS SPASIAL ARAH KIBLAT KOTA SEMARANG Satrio Wicaksono; Moehammad Awaluddin; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.7 KB)

Abstract

ABSTRAKDalam melaksanakan ibadah umat muslim diharuskan menghadap kiblat di Masjidil Haram Kota Mekkah. Pengukuran arah kiblat kemudian menjadi permasalahan ketika lokasi suatu tempat jauh dari Ka’bah karena tidak dapat dilakukan pengamatan penglihatan secara langsung. Permasalahan tersebut pada saat ini masih terjadi dalam masyarakat di Indonesia khusus nya di Kota Semarang, sehingga dalam penentuan arah kiblat masih ditemukan cara praktis yaitu menetapkan arah kiblat ke arah barat.Terkait dengan permasalahan tersebut, perlu adanya perhitungan arah kiblat bukan hanya sekedar arah barat. Melaikan dengan perhitungan yang teliti, perhitungan tersebut juga dilakukan pada bidang referensi yang digunakan sebagai acuan karena tiap bidang referensi (ellipsoid, bola dan datar) memberikan hasil arah yang berbeda, selain itu pengukuran  kiblat juga bisa dilakukan dengan mengamati bayangan benda saat terjadi peristiwa rasdhul kiblat dimana saat matahari berada tepat diatas Ka’bahPengukuran dengan metode ini bertujuan untuk mengetahui pola arah kiblat di Kota Semarang dan berapa besar akurasi di tiap bidang referensi terhadap arah kiblat hasil peristiwa rashdul kiblat. Pada hasil analisis yang dilakukan, didapat pola arah kiblat di Kota Semarang berubah tiap 154,166 meter sebesar 5 detik membesar ke arah barat daya dengan besar perubahan 5’ 26’’, dari nilai arah kiblat terkecil sebesar 294° 20' 38" berada di kecamatan genuk dan nilai arah kiblat terbesar 294° 20' 4" di kecamatan mijen.Sedangkan hasil hitungan pada bidang bola berlintang reduksi sebesar 294° 26' 26.69", bidang ellipsoida terreduksi balik sebesar 294° 25' 4.16 dan bidang datar sebesar 292° 12' 8.61", dari hasil tersebut  bidang datar mempunyai perbedaan arah kiblat yang jauh dengan dua bidang refrensi lainnya sebesar 2°14' 18.08" terhadap bidang bola dan 2°11' 7.38" terhadap bidang ellipsoida .Untuk arah kiblat hasil pengamatan peristiwa rashdul kiblat sebesar 294° 33' 39.22",  dari hasil tersebut terlihat metode dengan akurasi paling mendekati hasil rashdul kiblat ialah metode hitungan dengan bidang bolar berlintang reduksi dengan perbedaan nilai hasil sebesar 0° 7' 12.31". Kata Kunci : Kiblat, Ellipsoida, Bola, Datar , Rashdul Kiblat ABSTRACTIn conducting praying, moslems are required to facing Qibla in Masjidil Haram at City of Mecca. Measurement Qibla direction then becomes a problem when the location of a place far away from the Ka’ba because it can not be observed directly eyesight. The problems at the moment still occurs in Indonesian people especially in City of Semarang, so that in determining the direction of Qibla still found a practical way to set the direction of Qibla at west direction. Related to these problems, the need for calculation of the direction of Qibla is not just at west direction. But by a careful calculation, the calculation is also performed on the reference plane used as a reference for each field of reference (ellipsoid, sphere and flat) results in a different direction, in addition to the measurement of Qibla can also be done by observing the shadows when the Rasdhul Qibla event occurs where the sun is right above the Ka’ba. This measurement method aims to determine the pattern of the direction of Qibla in Semarang and how substantial accuracy in each field of reference at Rashdul Qibla events to the direction of Qibla. On the results of the analysis, obtained pattern Qibla direction in Semarang changed every 154.166 meters by 5 seconds enlarged towards the southwest with large changes at 5‘26”, from the value of the smallest direction of Qibla of 294° 20' 38"located in the Genuk district and the value Qibla of 294° 20' 4 " in the Mijen district.Whereas the calculation results at the reducted latitude spherical field of 294° 26' 26.69", the turning reduced ellipsoid fields of 294° 25' 4.16” and the flat fields of 292 ° 12 '8.61". The results of the horizontal plane has different Qibla direction away with two other references fields by 2° 11'7.38" on the sphere field and 2°14'18.08" against ellipsoid field. For Qibla direction result of Rashdul Qibla event observed at 294° 33' 39.22", from these results seen the method closest accuracy to the result of Rashdul Qibla is the reducted latitude spherical field with the difference value results at 0°7'12.31". Keywords : Qibla, Ellpisoid, Sphere, Flat, Rashdul Qibla *) Penulis, penanggung jawab
ANALISIS KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) BERDASARKAN KEBUTUHAN OKSIGEN (STUDI KASUS : KOTA SALATIGA) Sri Purwatik; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.332 KB)

Abstract

ABSTRAK Fungsi hijau dalam ruang terbuka hijau (RTH) kota sebagai ‘paru-paru’ kota, merupakan salah satu aspek berlangsungnya fungsi daur ulang, antara gas karbondioksida (CO2) dan oksigen (O2). Lebih dari itu, masih banyak fungsi RTH termasuk fungsi estetika yang bermanfaat sebagai sumber rekreasi publik, secara aktif maupun pasif, yang diwujudkan dalam sistem koridor hijau sebagai alat pengendali tata ruang atau lahan dalam suatu sistem RTH kota.Pada penelitian ini menggunakan Citra Resolusi Tinggi dari Google Earth perekaman 5 Juni 2012, Peta Guna Lahan Kota Salatiga, Peta Jaringan Jalan, dan Peta Jaringan Sungai Kota Salatiga. Selain itu, data yang diguakan berupa data non spasial seperti data jumlah penduduk, jumlah ternak, dan jumlah kendaraan bermotor Kota Salatiga. Metode yang digunakan adalah digitasi on screen. Hasil dari digitasi adalah untuk mempermudah dalam interpretasi citra, terutama RTH dan vegetasi penghasil oksigen lainnya. Jenis RTH yang diteliti dalam peneitian ini adalah hutan kota, jalur hijau, pemakaman, sempadan sungai, kawasan perlindungan dibawahnya dan RTH Privat.Kota Salatiga memiliki 910,58 Ha Ruang Terbuka Hijau yang terdiri atas 72,37 Ha Hutan Kota, 4,09 Jalur Hijau, 53,19 Ha Pemakaman, 259,51 Ha Sempadan Sungai, 104,81 Ha Kawasan perlindungan dibawahnya, dan 423,08 Ha RTH Privat. Selain itu, dalam penelitian ini juga melakukan interpretasi vegetasi non Ruang Terbuka Hijau penghasil Oksigen yang terdiri atas Pertanian Lahan Kering seluas 2779,43 Ha, Perkebunan sebesar 327,26 Ha dan Pertanian Lahan Basah 895,52 Ha.Berdasarkan jumlah penduduknya, Kota Salatiga memerlukan Ruang Terbuka Hijau sebesar 372,174 Ha. Sehingga bila dilihat dari RTH yang luasnya 910,58 Ha sudah memenuhi. Namun, bila dilihat dari kebutuhan oksigen, Kota Salatiga memerlukan 3452,174 Ha Ruang Terbuka Hijau. Dengan demikian, luas RTH yang ada belum memenuhi standar kebutuhan oksigen. Namun, bila ditambah dengan vegetasi non RTH penghasil oksigen, luas penghasil oksigen menjadi 4912,79 Ha. Sehingga, luas yang ada sudah memenuhi batas minimum suplai oksigen.Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, Citra Resolusi Tinggi, Kebutuhan OksigenABSTRACTGreen function in a green open space (RTH) cities as 'lungs' of the city, is one of the aspects of the functioning of recycling, the gas carbon dioxide (CO2) and oxygen (O2). More than this, there are still a lot of open space functions including aesthetic functions that are useful as a source of public recreation, actively or passively, which is embodied in the system of green corridors as a means of controlling the spatial or land in a city green space system. In this study, using the High Resolution image from Google Earth recording June 5, 2012, Salatiga Land Use Map, Road Network Map, and River Network Map of Salatiga. In addition, we use non-spatial data such as population data, number of livestock, and the number of motor vehicles Salatiga. The method used was digitized on screen. The results of digitization is to facilitate the image interpretation, especially of green space and other oxygen-producing vegetation. RTH types examined in this fieldwork is the urban forest, green lanes, cemetery, river banks, protected areas and open space underneath Privat. Salatiga has 910,58 Ha of green open space which consists of 72,37 Ha of Forest City, the Green Line 4.09, 53,19 Ha Cemetery, River Border 259,51 Ha, 104,81 Ha protection area underneath, and 423,08 Ha RTH Private. In addition, this study also interpret non vegetation oxygen-producing green open space consisting of Dryland Agriculture area of 2779,43 hectares, 327,26 hectares of Plantation and Agricultural Wetlands 895,52 Ha.In this study, using the High Resolution image from Google Earth recording June 5, 2012, Salatiga Land Use Map, Road Network Map, and River Network Map of Salatiga. In addition, we use non-spatial data such as population data, number of livestock, and the number of motor vehicles Based on population, Salatiga city need green open space in wide 372,174 ha. So that when viewed from the RTH has wide 910,58 Ha has met. However, when viewed from oxygen needed, Salatiga require 3452,174 hectares of green open space. Thus, there is wide open space that have not met the needs oxygen. However, when coupled with non RTH vegetation producing oxygen, oxygen-wide into 4912,79 Ha. Thus, there has been widespread meet the minimum oxygen supply. Keywords: Green Open Space, High Resolution Image, Oxygen Supplies
APLIKASI PGROUTING UNTUK PENENTUAN RUTE ALTERNATIF MENUJU WISATA BATIK DI KOTA PEKALONGAN BERBASIS WEBGIS Ridwan Aminullah; Andri Suprayogi; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.324 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Pekalongan dikenal sebagai kota Batik karena kekayaan dan berbagai macam corak batik yang variatif di kota ini. Hal tersebut didukung dengan adanya berbagai tempat yang menarik untuk dikunjungi seperti Museum Batik, Kampung Batik Pesindon, Kampung Batik Kauman dan Batik Setono. Pariwisata batik tersebut dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung apabila didukung dengan adanya sistem informasi berbasis spasial web, salah satunya adalah penggunaan plugin aplikasi PgRouting. PgRouting merupakan pengembangan basis data geospasial dari aplikasi PostgreSQL/PostGIS untuk menyediakan atau menambahkan fungsi rute (perhitungan jarak terpendek dari data multilinestring dengan memperhitungkan nilai bobot) berdasarkan bahasa prosedural PostgreSQL/PostGIS. Fungsi routing pada penelitian ini menggunakan algoritma Dijkstra yaitu metode pencarian rute terdekat yang sangat berguna dalam menentukan rute alternatif yang dalam fungsinya memperhitungkan titik-titik kemacetan, jalur searah, dan waktu tempuh yang dapat dilalui oleh pengguna dengan menggunakan kendaraan bersatuan mobil penumpang dalam melakukan perjalanan menuju wisata batik di kota Pekalongan. Hasil dalam penelitian ini adalah WebGIS dengan fitur pgRouting wisata Batik di kota Pekalongan yang memuat informasi tentang sejarah, wisata batik, serta halaman WebGIS yang dilengkapi dengan fitur aplikasi pgRouting. Hasil validasi rute di lapangan pada penelitian ini diambil dari lima contoh rute menggunakan aplikasi Geo Tracking dengan sampling acak yang menghasilkan total selisih rata-rata jarak 50 meter yang dipengaruhi oleh faktor pembulatan (round) jarak dan algoritma pencarian noda terdekat source dan target, serta memiliki selisih waktu 32 detik yang dipengaruhi oleh faktor pembulatan (round) waktu dan kondisi kepadatan jalan yang bersifat dinamis di lapangan, serta untuk hasil kuisioner kelayakan sistem aplikasi dengan metode likert didapatkan tingkat efisiensi sebesar 77,7 % dan tingkat efektifitas sebesar 74,5 %. Hasil persentase tersebut membuktikan bahwa responden sudah merasa puas dengan hasil sistem aplikasi webgis pada penelitian ini.Kata kunci : Dijkstra, pgRouting, WebGIS,  Wisata Batik  ABSTRACT         Pekalongan City is known as the city of Batik because of the wealth and variety of batik pattern that varied in this city. It is supported by various interesting places to visit such as Batik Museum, Batik Pesindon Village, Batik Kauman Village and Setono Batik. Tourism batik can attract tourists to visit if the goverment supported by a web-based spatial information system, such as for this research using PgRouting application plugin. PgRouting is the development of geospatial databases of PostgreSQL / PostGIS applications to provide or add route functions (the shortest path calculation of multilinestring data by calculating weight values) based on PostgreSQL / PostGIS procedural languages. Routing function in this research using Dijkstra algorithm that is method of searching the nearest route which is very useful in determining alternative route which in its function calculating traffic density value, direct path, and travel time which passable by user with vehicle car unit in traveling to batik tourism in Pekalongan city. The result of this research is WebGIS with PGRouting Batik tourism feature in Pekalongan city that contains information about history, Batik tourism, and WebGIS web page which is equipped with pgRouting application feature. The result of the route validation in this study was taken from five examples of routes using Geo Tracking application with random sampling which resulted in a total difference distance is 50 meter which affected by rounding factor distance and nearest node source and target algorithm, the time difference is 32 seconds affected by time rounding factor and dynamic road density conditions in the field, and for the results of questionnaire application system with Likert method obtained the result an efficiency level of 77.7% and the level of effectiveness is 74.5%, from the results of these percentages prove that the respondents were satisfied with the results of webgis applications system in this study.Key Words : Dijkstra, pgRouting, WebGIS, Batik Tourism
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Aruma Hartri; Bambang Sudarsono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.312 KB)

Abstract

ABSTRAKNilai suatu wilayah laut beserta batas-batas pengelolaan wilayah lautnya bagi suatu pemerintah daerah merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Sehingga batas pengelolaan wilayah laut antara dua daerah yang berbatasan harus jelas. Oleh sebab itu, penelitian mengenai batas pengelolaan wilayah laut perlu dilakukan agar tidak terjadi konflik antar daerah yang berbatasan.Penelitian ini bertujuan untuk mempertegas batas pengelolaan wilayah laut Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengimplementasikan penggunaan citra satelit. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan setelah ditentukannya garis dasar dan garis klaim 12 mil laut. Kemudian penarikan batas pengelolaan wilayah lautnya dilakukan dengan menggunakan prinsip sama jarak (equidistance).Abrasi dan akresi mengakibatkan terjadinya perubahan batas pengelolaan wilayah laut Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini dapat dilihat dari adanya perubahan letak garis klaim 12 mil laut dan  perbedaan jumlah titik-titik penyusun ekuidistan. Jumlah titik batas pengelolaan wilayah laut Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2004 adalah 15 titik, sedangkan pada tahun 2014 adalah 12 titik. Sehingga dalam  kurun waktu sepuluh tahun luas area pengelolaan wilayah laut Daerah Istimewa Yogyakarta bertambah 2,889 Ha.  Kata Kunci : Batas Pengelolaan Wilayah Laut, Citra Satelit , Equidistance Line  ABSTRACTThe value of a sea area along the boundaries of the marine area management for a local government is very important note. So that the management of the territorial sea boundary between two adjacent areas should be clear. Therefore, research on the marine boundary zone management needs to be done in order to avoid conflicts between the adjacent areas.This study aims to reinforce the boundary sea area of Yogyakarta Special Region by implementing the use of satellite imagery. The determination of the boundary sea area made after the base line and the line of claim 12 nautical miles determined. Then the withdrawal limit of marine area management is done using equal distance principle (equidistance).Abrasion and accretion resulted in a change in the boundary sea area of Yogyakarta Special Region. It can be seen from the changes in the location of the line of claim 12 nautical miles and the difference in the number of dots making up equidistant. The number of points the boundary sea area of Yogyakarta Special Region in 2004 was 15 points, while in 2014 was 12 points. So that within ten years the area of management of marine areas of Yogyakarta Special Region increased 2,889 Ha. Keywords: Limit Sea Areas, Satellite Imagery, Equidistance Line  *)Penulis, Penanggung Jawab

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue