cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP LIRIK LAGU FOREVER NO TO DOG MEAT DAN KRITIK SOSIAL GRUP MUSIK VOX MORTIS Farhan Rizky Muhammad; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to describe various audience receptions of “Forever No To Dog Meat” song lyrics and social criticism of Vox Mortis musical group. This research is qualitative descriptive study with interpretive paradigm and phenomenological approach. The research data was obtained by conducting indepth interviews with informants who are the members of Magelang Death Metal community. This research concludes that target audience of the song which intented to be divided into three groups of audience, which are people who run dog meat culinary business, dog meat consumers, and people who still gave beliefs about dog meat’s efficacy. Furthermore, the audience assume that the song lyrics were a form of criticism conveyed by a group of dog lovers who were furious with the practice of dog meat commercialization which involves torture and indications of criminal acts behind it. The audience tend to interpretate the topics and messages of the song lyrics differentyly based on their experiences and personal values. The audience consider that song lyrics can have a certain impact in the audience, as long as the message that contained in the song lyrics has strong relevance to the issues and problems that occur in society. The emotional involvement between the individual and the message that contained in the song lyrics are also be known as on of the influencing factors of the audiences.
HUBUNGAN TINGKAT KOMPETENSI LITERASI DIGITAL DAN INTENSITAS KONSUMSI MEDIA SOSIAL DENGAN TINGKAT KERENTANAN GENERASI MILENIAL DALAM MEMPERCAYAI INFORMASI PALSU TENTANG COVID-19 Sarah Nabila; S. Rouli Manalu; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 11, No 1: Januari 2023
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyebaran informasi palsu tentang COVID-19 beredar luas di media sosial dan diidentifikasi menjadi ancaman baru bagi dunia. Beberapa temuan mengungkapkan bahwa kualitas kemampuan literasi digital pada generasi milenial di Indonesia masih rendah dan berkontribusi terhadap penyebaran informasi palsu. Hal ini kemudian dapat mendorong kerentanan generasi milenial dalam mempercayai informasi palsu khususnya tentang COVID-19. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kompetensi literasi digital dan intensitas konsumsi media sosial terhadap tingkat kerentanan generasi milenial dalam mempercayai informasi palsu tentang COVID-19. Penelitian ini didasarkan pada analisis data kuantitatif yang dikumpulkan dengan menggunakan non-probabilty sampling dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 300 orang dewasa, berusia 22 – 44 tahun, berdomisili di Indonesia yang aktif menggunakan media sosial, dan pernah mengkonsumsi informasi COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kompetensi literasi digital dan tingkat kerentanan generasi milenial dalam mempercayai informasi bohong tentang COVID-19. Selanjutnya, terdapat hubungan antara intensitas konsumsi media sosial dan tingkat kerentanan generasi milenial dalam mempercayai informasi bohong tentang COVID-19. Studi ini juga menegaskan bahwa terdapat hubungan antara kompetensi literasi digital dan intensitas konsumsi media sosial dengan tingkat kerentanan generasi milenial dalam mempercayai informasi palsu tentang COVID-19.
MANAJEMEN KONFLIK DALAM KOMUNIKASI PASANGAN SUAMI-ISTRI BEDA ETNIS R. Milwanda Nadika S.; Turnomo Rahardjo; Joyo Nur Suryanto Gono
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan latar belakang budaya pada pasangan suami-istri beda etnis dapat memicu terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi dan hal tersebut dapat menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Pasangan melewati proses adaptasi budaya dan tantangan budaya sehingga perlu melakukan manajemen konflik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi yang terjalin pada pasangan suami-istri dengan melihat adaptasi budaya, tantangan budaya, dan manajemen konflik yang dilakukan pasangan suami-istri beda etnis. Teori yang digunakan adalah Teori Negosiasi Muka oleh Ting Toomey dan Teori Pengelolaan Identitas oleh Imahori dan Cupach. Jenis penelitian ini adalah tipe deskriptif kualitatif dan dilakukan dengan pendekatan fenomenologi yang berfokus pada pengalaman yang dimiliki oleh informan. Untuk menggali informasi mengenai pengalaman dalam manajemen konflik, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam (in depth interview) dalam proses pengambilan data. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pasangan Jawa-Koja, Jawa-Tiongoa, dan Jawa-Minang, ditemukan bahwa konflik dalam pernikahan beda etnis berkaitan dengan perbedaan latar belakang budaya, seperti kesalahpahamandalam berkomunikasi, perbedaan karakter, perbedaan cara merespon konflik dan sikap dalam menyelesaikan masalah, kesalahpahaman dalam berkomunikasi hingga perbedaan prinsip dalam mendidik anak. Model manajemen konflik yang digunakan oleh pasangan dalam penelitian ini yaitu, model manajemen konflik menghindar, mengutarakan perasaan, mendominasi, dan kompromi. Dalam hasil penelitian pada pernikahan beda etnis terjadi ancaman terhadap identitas budaya berupa kebekuan identitas dan dialektika rupa sendiri dan orang lain.
Pengalaman Komunikasi Antara Orang Tua Dan Anak Pada Kasus Seks Pranikah Di Kota Semarang Fikri Onasis; Wiwid Noor Rakhmad; Amida Yusriana
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja adalah masa dimana terjadi pertumbuhan fisik, psikologis, dan intelektual secara pesat. Perubahan fisik akan membawa perubahan aspek psikologis yang menyebabkan remaja memiliki tingkat keingintahuan tinggi mengenai suatu hal baru seperti menjalin hubungan yang lebih intim dengan lawan jenis. Hal inilah yang menyebabkan remaja cenderung melakukan seks bebas. Perilaku seks yang dilakukan sebelum terjadinya ikatan pernikahan disebut dengan istilah seks pranikah. Seks pranikah saat ini merupakan permasalahan sekaligus fenomena sosial. Seks pranikah juga dapat dikatakan bukan suatu penyimpangan dan hal yang tabu lagi di kalangan remaja, namun telah menjadi hal yang wajar karena telah menjadi kebiasaan bahkan trend. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kasus seks pranikah pada kelompok remaja dari tahun ke tahun. Karena dampak seks pranikah yang sangat besar inilah yang menjadikan orang tua seharusnya bertanggung jawab untuk memberikan pengawasan yang cukup agar terhindar dari perilaku menyimpang seperti seks pranikah. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi interpersonal, teori communication privacy management, dan teori family communication. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengalaman komunikasi antara orangtua dan anak pada kasus seks pranikah di Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengalaman komunikasi antara orang tua dan anak pada umumnya intens namun komunikasi yang terjadi diantara keduanya tidak terbuka, khususnya mengenai kehidupan pribadi anak. Hal ini dikarenakan terdapat batasan privasi antara orang tua dan anak seperti orang tua tidak boleh mengecek handphone anak, anak tidak terbuka mengenai gaya pacaran, anak tidak terbuka dengan aktifitas detailnya bersama teman – temannya.
Perlawanan Perempuan Terhadap Kekerasan di Dunia Maya (Sebuah Studi Fenomenologi Kritis Terhadap Pengguna Media Sosial) Aisya Nur Aziz; Sunarto Sunarto; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat saat pandemi Covid 19 menyebabkan meningkatnya jumlah kekerasan berbasis online yang banyak melibatkan perempuan sebagai korbannya. Kekerasan yang juga disebut sebagai Kekerasan Berbasis Gender Online sejatinya adalah kekerasan yang dilakukan secara daring dengan melibatkan tubuh dan seksualitas gender tertentu dalam hal ini adalah perempuan sebagai kelompok marjinal. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan esensi pengalaman perempuan korban kekerasan yang melakukan perlawanan dalam menghadapi kekerasan di media sosial. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kelompok bungkam yang menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan pendekatan fenomenologi kritis untuk memahami pengalaman perempuan yang pernah mengalami kekerasan dan juga perlawanan sekaligus. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah perempuan yang kerap di stereotipisasi sebagai makhluk yang lemah justru berani mendobrak stereotip tersebut dengan melakukan perlawanan ketika dihadapkan pada kekerasan yang diterimanya untuk menolak diposisikan sebagai korban yang tak berdaya. Dalam kasus ini, perempuan melakukan dua bentuk tataran perlawanan yang digunakan perempuan ketika menjadi korban kekerasan yakni perlawanan secara terbuka dan perlawanan tertutup. Terbuka adalah perempuan melakukan kekerasan secara frontal dengan mengkonfrontasi pelaku sedangkan tertutup adalah dengan mencari bukti kekerasan dan mengabaikan pelaku dengan membuat aktivitas daring seperti menulis, menari dan menjalin relasi positif.
Hubungan Electronic Word of Mouth Di @theswoonnetflix Dengan Minat Berlangganan Netflix Aulia Rahma Fadilla; Adi Nugroho; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Netflix made a new innovation with The Swoon, a community for fans of Korean Netflix shows around the world. Using Instagram to share things about Netflix’s Korean shows, The Swoon has succeeded in sparking online conversations or e-WOM. E-WOM has several dimensions, including intensity that related to involvement in e-WOM, content of e-WOM itself that related to attractiveness and positive valence. Even though it has succeded in triggering e-WOM, Netflix subscribers in Indonesia are still less than some other competitors. In fact, Netflix has several times failed to reach its target of increasing new subscribers and losing subscribers globally. The purpose of this research is to find out whether there is a relationship between involvement intensity, attractiveness and positive valence on electronic word of mouth at @theswoonnetflix with Netflix subscription intention. The population in this explanatory quantitative research is men and women who live in Indonesia, follow @theswoonnetflix on instagram, have seen or been involved in talks about Netflix and its Korean shows on @theswoonnetflix account, aged 18 – 44 years, and have never or not currently subscribed Netflix. The sample that used is 100 respondents with nonprobability sampling technique. The theory used is the Buyer’s Information Environment Theory. The test results using Kendall’s tau-b correlation test show the relationship between involvement intensity on e-WOM at @theswoonnetflix with Netflix subscription intention has a significance value of 0,000 which means it’s very significant and has the correlation coefficient of 0,690 which means both of them have a strong level of relationship. Then, the relationship between e-WOM attractiveness on @theswoonnetflix with Netflix subscription intention also has a significance value of 0,000 or very significant and has the correlation coefficient of 0,685 which means both of them have a strong level of relationship. Furthermore, the relationship between e-WOM positive valence on @theswoonnetflix with Netflix subscription intention has a significance value of 0.000 which means it’s very significant and has the correlation coefficient of 0.601 which means both of them have a strong relationship. All of the correlation coefficients from the three correlation tests above are positive, indicating a unidirectional relationship.
Pengaruh Terpaan Promosi Penjualan Dan Daya Tarik Brand Ambassador Terhadap Minat Beli Produk Kosmetik Wardah Fahrida Amalia Husna; Muhammad Bayu Widagdo; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wardah as one of the pioneers of cosmetics in Indonesia is experiencing a decline in sales from which previously ranked first to second. Even though Wardah has carried out various marketing communication strategies, namely intensively providing sales promotions and also collaborating with the Korean convert brand ambassador Ayana Jihye Moon. This study aims to determine the influence of sales promotion exposure and Brand Ambassador attractiveness to the Customer Buying Intention of Wardah Cosmetic Products. The theory used in this study is Advertising Exposure Theory by Batra, Myers, and Aaker and Source Attractiveness Theory by McGuire. In determining the sample, this study used a non-probability sampling technique with an accidental sampling technique. The number of samples is 100 people with an age range of 13- 22 years who have been exposed to Wardah's sales promotion and know Wardah's brand ambassador. The results indicated that the variable of sales promotion exposure with interest in buying Wardah cosmetic products had a significance value of 0.814 where the number was more than 0.05 which means it was not significant and it can be argued that sales promotion exposure had no effect on buying interest in Wardah cosmetic products. While the variable of brand ambassador attractiveness with the interest in buying Wardah cosmetic products obtained a significance value of 0.000 where the number is less than 0.05 which means that the brand ambassador attractiveness, influence the customer buying intention of Wardah cosmetic products.
Representasi Objektifikasi Seksualitas Wanita Pada Iklan Kondom Sutra Versi “Mantap – Mantap Makin Mesra” Di Antv Pada Pukul 02.00 WIB Malam Ratih Siswanti; Sunarto Sunarto; Amida Yusriana
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama ini banyak media yang mengeksploitasi perempuan sebagai objek seks yang pada akhirnya melahirkan masyarakat yang syarat dengan kekerasan terhadap perempuan. Sosok perempuan pada media dijadikan sebagai daya tarik, dan menggambarkan bahwa perempuan sebagai simbol seks, termasuk dalam Iklan. Objektifikasi gender, terutama objektifikasi perempuan adalah aspek paling suram dari iklan media massa. Perempuan yang di objektifikasi secara seksual untuk tujuan komersial salah satunya terlihat pada iklan Kondom Sutra. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ideologi gender dominan, representasi objektifikasi seksualitas, dan mengetahui bentuk – bentuk objektifikasi seksualitas wanita pada iklan Kondom Sutra tersebut. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes 5 kode pembacaan. Representasi tersebut dilihat dari berbagai leksia yang muncul dalam iklan dan memasukan kedalam setiap kategori 5 kode pembacaan yaitu Kode Hermeneutika, Kode Proaretik, Kode Simbolik, Kode Kultural, dan Kode Semik. Iklan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah iklan Kondom Sutra versi “Mantap Mantap Makin Mesra” di ANTV pada pukul 02.00 WIB malam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penggambaran komedi seksual di setiap adegan, dari setiap adegan menggambarkan adanya objektifikasi dan ideologi dominan. Ideologi dominan yang melandasi adalah ideologi patriarki dimana laki – laki lebih dominan dibanding perempuan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah muted group theory. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui representasi objektifikasi seksualitas wanita pada iklan yang ditayangan di televisi. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa di dalam iklan Kondom sutra versi “Mantap – Mantap Makin Mesra” bagaimana media merepresentasikan wanita sebagai objek seksualitas dan menggambarkan bagaimana laki – laki menjadi pihak yang mendominasi.
PENGARUH INTENSITAS BERMAIN GAME PUBG DAN PENGAWASAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU AGRESIF VERBAL REMAJA Atasa Yudha Ergana; Agus Naryoso; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Verbal aggressive behavior is violence with communication aimed at people, carried out intentionally with the intention of hurting, intimidating, and harming others indirectly or directly (Nindya and Margaretha, 2012: 2). There are several factors that make a person perform verbal aggressive behavior, especially in adolescents, namely the intensity of playing PUBG games and parental supervision. The intensity of playing the PUBG game can be concluded, namely the depth of an activity carried out with pleasure over the media that has a benchmark for how often a person plays the game within a certain period of time. Parental supervision is an effort that has a coercive nature on the emotional and psychological development of adolescents such as self-disclosure, thinking, emotions that are expressed into adolescent expressions and the closeness of parents. The theory used in this research is social learning theory and parental mediation. This study aims to determine the effect of the intensity of playing PUBG games and parental supervision on adolescent verbal aggressive behavior. The research population used is people aged 16-24 years, domiciled in the city of Semarang, and an unknown number of people play PUBG games. The sample is 60 respondents using non-probability sampling technique and purposive sampling method. This type of research uses explanatory. Data analysis using multiple linear regression analysis where there is a significant t test, f test, and coefficient of determination with SPSS 25 for Windows application. Using quantitative methods with a positivistic paradigm. The results of the t-test showed that the intensity of playing the PUBG game had an effect on the verbal aggressive behavior of adolescents with a sig value of 0.000 0.050. The results of the research on the f test showed that the intensity of playing the PUBG game and parental supervision has an effect on adolescent verbal aggressive behavior with a sig value of 0.00> 0.050. The results on the coefficient of determination, the influence of the intensity of playing PUBG games and parental supervision on adolescent verbal aggressive behavior have an R Square value of 0.289 with the meaning that the influence value is 28.9%.
INTERAKTIVITAS DALAM CUITAN AKUN TWITTER PARTAI POLITIK @GERINDRA PADA KASUS PEMERKOSAAN “SEMUA KEMBALI LAGI PADA KELUARGA KORBAN” Arlina Satiti Mugi Laras; Triyono Lukmantoro; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 10, No 4: Oktober 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interaktivitas menjadi salah satu karakteristik dari media sosial yang memungkinkan organisasi mengembangkan hubungan antara organisasi dan publik melalui dialog. Twitter digunakan sebagai alat komunikasi oleh parpol di Indonesia dalam membina hubungan dengan publik secara efektif, utamanya saat menjelang Pemilu. Partai Gerindra melalui akun Twitter-nya cenderung mengonstruksi suatu pandangan masyarakat melalui isu-isu yang berkembang dan membentuk pandangan-pandangan baru untuk bisa meraih suara publik. Metode yang digunakan adalah analisis Van Dijk yang meliputi struktur makro, superstruktur dan struktur mikro. Adapun, analisis tersebut berfokus pada permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat, yaitu kasus pemerkosaan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa telah terjadi sentimen negatif dari warganet akibat tanggapan @Gerindra soal kasus pemerkosaan. Partai Gerindra lebih banyak mewacanakan bahwa kasus pemerkosaan ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan partai. Artinya, dalam hal ini partai Gerindra tidak berupaya untuk meningkatkan citra partai dengan menunjukkan kelebihannya, melainkan lebih banyak menampilkan konten keengganan dalam mengawal kasus pemerkosaan dan bersikap tidak empati terhadap korban pemerkosaan. Penelitian ini juga menemukan bahwa reaksi partai politik terhadap kasus pemerkosaan dapat mempengaruhi tingkat elektabilitas sebuah partai. Pada kasus ini, warganet cenderung melihat moralitas kader partai melalui beberapa indikator, seperti sejauh mana partai bisa memberikan jaminan keamanan dan dukungan bagi korban kekerasan seksual dan seberapa besar kekuatan politis yang turut ikut campur dalam mempengaruhi proses penyelesaian hukum pidana. Temuan ini mengandung pemikiran bahwa para politisi punya kemampuan mengarahkan kehendak dan keinginan dari institusi tersebut. Sehingga, apabila publik telah mempersepsikan moralitas politisi itu buruk, maka publik akan menganggap bahwa partai tersebut tidak layak untuk dipilih, karena seorang kader dapat memberikan pengaruh tersendiri, termasuk citra dan elektabilitas lembaga politik, sebab mereka menjadi agen/perantara bagaimana partai politik tersebut berjalan.