cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Hubungan Terpaan Iklan Televisi Kosmetik Wardah dan Citra Merek dengan Minat Membeli Frida Asih Pratiwi; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.275 KB)

Abstract

Iklan televisi masih digemari oleh para produsen untuk mempromosikan dan mengkomunikasikan produknya ke khalayak. Salah satunya yaitu Kosmetik Wardah. Wardah menampilkan berbagai informasi ke dalam iklan televisinya. Dengan iklan televisinya tersebut, Wardah bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan yang nantinya akan merangsang minat untuk membeli prduk kosmetik Wardah. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji hubungan terpaan iklan televisi kosmetik Wardah dan citra merek dengan minat membeli produk kosmetik Wardah. Teori yang digunakan adalah Teori Respon Kognitif (Cognitive Response Approach) dan Teori Pemrosesan-Informasi (Information Processing Theory)dari McGuire. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian explanatory(penjelasan). Sedangkan Teknik pengambilan sampelnya adalah Randomdengan total sampel sebanyak 85 responden. Alat yang digunakan untuk analisis data adalah uji statistik Kendall’s tau_b.Hasil penelitian pada pengujian hipotesis pertama menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara terpaan iklan televisi kosmetik Wardah dengan minat membeli produk kosmetik Wardah. Ditunjukkan pada angka signifikan sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi0.333. Hasil pengujian hipotesis kedua yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara citra merek dengan minat membeli produk kosmetik Wardah. Hipotesis kedua ini ditunjukkan dengan hasil signifikan yaitu sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi 0,670. Kata Kunci : Iklan Televisi Kosmetik Wardah, Citra Merek, dan Minat Membeli
Hubungan Intensitas Penggunaan Jejaring Sosial dan Faktor Pendorong Kehadiran Publik terhadap Partisipasi Politik dalam Perbincangan Politik Berbentuk Meme Anggita Pratita Sandya; Drs. Wiwid Noor Rakhmad, M.I.KOm
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.496 KB)

Abstract

Publik memiliki peran penting dalam penentuan kebijakan politik pemerintah melalui partisipasi politik, baik yang disampaikan melalui komunikasi kepada pemerintah oleh publik dan sebaliknya. Beragam cara kritik maupun dukungan yang digunakan publik untuk mempengaruhi pemerintah merupakan bentuk partisipasi politik. Dalam proses komunikasi politik oleh publik dilakukan dalam beragam jenis media yang merupakan bagian partisipasi politik, sebagai kegiatan warga negara biasa dalam mempengarui proses pembuatan dan pelaksaan kebijakan umum untuk ikut menentukan pemimpin pemerintahan. Perkembangan teknologi internet dan jejaring sosial di era web 2.0 muncul perubahan gaya dan pergeseran ranah berkomunikasi masyarakat. Sehingga dengan perkembangan dan kemudahan akses dan pembuatan konten yang dilakukan oleh pengguna jejaring sosial salah satunya adalah fenomena internet meme. Internet meme dan segala cirinya menjadi bahasa baru bagi para pengguna jejaring sosial untuk berinteraksi dan mengembangkan satu isu. Dan salah satu isu yang diperbincangkan melalui internet meme di Indonesia adalah isu politik. Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang hubungan intensitas penggunaan jejaring sosial dan faktor pendorong kehadiran publik terhadap partisipasi politik dalam perbincangan politik berbentuk meme, secara eksplanatori kuantitatif dengan kajian teori pembelajaran sosial, faktor internal yang diambil dari teori uses and gratification dan self determination. Hasil penelitian yang dilakukan kepada 100 responden dari 5 kota dengan jumlah peredaran meme tertinggi di Indonesia menunjukkan bahwa; 1) Intensitas penggunaan jejaring sosial memeiliki hubungan signifikan terhadap partisipasi politik dalam perbincangan politik berbentuk meme tetapi dengan korelasi yang lemah. 2) Faktor pendorong kehadiran publik terhadap memiliki hubungan signifikan terhadap partisipasi politik dalam perbincangan politik berbentuk meme tetapi dengan korelasi yang kuat.
Pengaruh Terpaan Peringatan Pesan pada Iklan Rokok terhadap Sikap untuk Berhenti Merokok pada Remaja Zainul Asngadah Fatmawati; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.719 KB)

Abstract

Peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan terbukti memiliki pengaruh yang positif dalam menurunkan angka prevalensi merokok. Peringatan kesehatan berbentuk gambar ternyata diperhatikan daripada peringatan kesehatan yang hanya berbentuk tulisan atau teks saja. Studi di berbagai negara membuktikan bahwa peringatan kesehatan berbentuk gambar adalah efektif untuk meningkatkan kesadaran perokok dan bukan perokok akan bahaya merokok bagi kesehatan. Hal tersebut sekaligus memberikan pendidikan yang efektif mengenai dampak buruk yang diakibatkan karena merokok, serta meningkatkan niat untuk berhenti merokok. Berdasarkan PP No 28 tahun 2013, mulai awal Januari 2014 peraturan mengenai peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan telah diberlakukan pada media iklan, dan mulai tanggal 24 Juni 2014 peringatan berbentuk gambar tersebut mulai diberlakukan pada seluruh bungkus rokok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan peringatan pesan kesehatan yang tercantum pada iklan rokok terhadap sikap untuk berhenti merokok pada kalangan remaja. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Protection Motivation Theory (PMT) dari Rogers dan Cognitive Response dari Greenwald. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan desain static groupcomparison. Sedangkan teknik pengambilan sampelnya adalah non random samplingdengan total sampel 65 responden yang terdiri dari 30 responden sebagai kelompok treatment dan 35 responden sebagai kelompok kontrol. Alat yang digunakan untuk analisis data adalah uji statistik Mann Whitney U Test.Hasil penelitian pada pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh antara terpaan peringatan pesan pada iklan rokok terhadap sikap untuk berhenti merokok pada remaja. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi hasil pengujian hipotesis sebesar 0,000. Selanjutnya hasil uji Mann Whitney U Test menunjukkan adanya perbedaan sikap berhenti merokok pada kelompok treatment dan kelompok kontrol. Nilai rata-rata (mean) sikap berhenti merokok pada kelompok treatment lebihtinggi dibandingkan nilai rata-rata (mean) pada kelompok kontrol. Hal tersebut menunjukkan bahwa terpaan peringatan pesan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan yang ada pada iklan rokok berpengaruh terhadap sikap untuk berhenti merokok pada remaja. Oleh karena itu pemerintah, produsen rokok, dan masyarakat hendaknya ikut berperan aktif mensosialisasikan peringatan pesan berbentuk gambar dan tulisan agar seluruh masyarakat mengetahui informasi bahaya merokok, sehingga dapat memberikan pengetahuan yang pada akhirnya mendorong masyarakat untuk berpikir dan termotivasi untuk berhenti merokok. Kata Kunci: Terpaan Peringatan Pesan pada Iklan Rokok, Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar dan Tulisan, Sikap untuk Berhenti Merokok pada Remaja.
Pemaknaan Khalayak Terhadap Androgini Pada Akun Instagram Andreas Lukita Hizarani Lailan Saadah Sihombing; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.549 KB)

Abstract

This research is about the appearance of androgyny male beauty influencer from Indonesia named Andreas Lukita with Instagram account @alphamakeup. This research is interesting because the concept of beauty has been attached to women. Andreas Lukita is a male beauty influencer who looks androgynous through his instagram offers an alternative idea that not all men must look according to the standards of masculinity that apply in society and not all feminine criteria can only be owned by women. However, the meaning of active audiences is not necessarily in line with the alternative ideas that media texts are trying to offer on Andreas's Instagram. Thus, this study aims to describe the meaning of active audiences for androgyny in a photo uploaded by Andreas Lukita. Using a descriptive qualitative approach and the analysis method of the Stuart Hall reception, and the theory of Gender Performativity. The results of the study chose four preferred readings featuring Andreas Lukita's androgyny. The preferred reading shows the position of the informant who has a tendency to interpret negotiations. This is because the informants interpret the appearance of androgyny in a dilemma, where almost all informants approve and accept texts describing Andreas androgyny through the use of attributes that have strong associations with women such as makeup, fashion, and gestures. Informants interpreting androgyny is a form of performance carried out by Andreas Lukita because his profession as a beauty influencer, however, ignorance of androgyny, background, and cultural values makes stereotypes and representations that adversely participate in the process of interpreting informants. The informant said that they were still the same as the general public who polarized masculine and feminine gender based on sex. Thus, the androgyny presented by Andreas is seen as a form of male imitation of feminine gender, and is outside the normal conception prevailing in society. This shows that audiences can agree and negotiate men with androgyny appearance that is quite different from the dominant masculinity portrayal they were previously familiar with and that the public is active because they do not directly accept and interpret media messages, but are negotiated according to their background and conditions each audience.Meanwhile, without distinguishing sexes the phenomenon of beauty influencers is also inseparable from the presence of capitalism and industrial products.
Mengidentifikasi faktor-fakto afektif pada Mobile Advertising Oki Adi Saputra; Hedi Pudjo Santosa; Djoko Setyabudi; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.835 KB)

Abstract

Mobile advertising merupakan media yang sangat diminati para pengiklan saat ini.Diindonesia sendiri berdasarkan data belanja perusahaan yang diambil olehNelsien pada tahun 2007, total biaya yang dikeluarkan sampai dengan 20 triliununtuk mobile advertising.Hal tersebutkarena SMS ads dianggap sebagai media iklan yang bias menjangkau konsumen melalui channel personal, yaitutelepon selular mereka. Untuk mengukur efek iklan pada penelitian ini peneliti menggunakanTeoriHierarchy Of Effects Model (Model Hirarki-Efek). Iklan mempengaruhikonsumen melalui beberapa tahapan dalam urutan, dimulai dari kesadaranpertama mengenai produk atau jasa hingga tahap pembelian yang sesungguhnya.Hasil penelitian ini menemukan beberapa faktor yang dapat meningkatkan efektivitas mobile advertising sehingga dapat meningkatkan affective effect yang pada konsumen yang membuka mobile advertising. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor faktor afektif pada mobile advertising
Analisis Strategi Kampanye Public Relations Perubahan Pola Konsumsi BBM (Bahan Bakar Minyak) Premium Menuju Pertalite PT.PERTAMINA (Persero) YUDHA PRASTYA, DENDIE
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.194 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penilitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus, . Studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi (komunitas) atau peristiwa secara sistematis.Hasil penelitian menunjukkan tujuan yang ditetapkan oleh PT.PERTAMINA (Persero) distribusi Jawa Tengah dan DIY dalam mengatasi strategi kampanye public relations diterapkan hingga level afeksi atau attitudes and opinion karena PT.PERTAMINA (Persero) distribusi Jawa Tengah dan DIY bertujuan untuk meningkatkan publisitas positif produk pertalite melalui berbagai programnya. Serta pada tahap penentuan pesan PT.PERTAMINA (Persero) distribusi Jawa Tengah dan DIY dalam menentukan pesan dengan mengambil persepsi yang ada, merubah persepsi, menggunakan menggunakan positive appeals disertai unsur format dan nuansa. Hal ini terlihat dengan penggunaan diksi singkat yang menarik disertai pemilihan warna khusus dalam berbagai poster dan iklan yang diterbitkan.
Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus. Daniel Dwi Listantyo; Tandiyo Pradekso; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.305 KB)

Abstract

Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiardengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus.AbstraksiRadio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsi orang setiap hari baik untukmendapatkan informasi maupun hiburan. Di radio Ichthus terdapat program acara ZOOMdengan format siaran yang disesuaikan segmentasinya supaya menarik loyalitas pendengaruntuk mendengarkan program acara tersebut. Selain format siaran yang sesuai, kredibilitaspenyiar menjadi faktor lain untuk membuat program acara ZOOM lebih menarik dan lebihhidup. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian format siaranprogram acara ZOOM dan kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acaraZOOM di radio Ichthus. Peneliti menggunakan teori dari Geller yang menyatakan, Pendengaritu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah. Orangorangingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, dan merekajuga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35), Kita membentuk gambaran tentang dirikomunikator dari pengalaman langsung dengan komunikator itu atau dari pengalamanwakilan (vicarious experiences), misalnya karena sudah lama bergaul dengan dia dan sudahmengenal integritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat atau mendengarnyadalam media massa (Rakhmat, 2009 : 258).Populasi dari penelitian ini adalah anak muda beragama kristen yang berusia 15-25 di kotaSemarang. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 50 orang. Uji hipotesisdilakukan dengan menggunakan uji statistik Kendal Tau untuk melihat hubungan antarakesesuaian format siaran (X1) dan kredibilitas penyiar (X2) dengan loyalitas mendengarkan(Y). Hasil pengujian hipotesis adalah hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilaikoefisien korelasi kesesuaian format siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428.Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti keduavariabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengandemikian, dapat dinyatakan bahwa “ada hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan”. Sedangkan hubungan antara kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperolehhasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilai koefisienkorelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal ini dapatdikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabel tersebuttidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa “tidak adahubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”.Keywords: kesesuaian, kredibilitas, loyalitasRelationship Between Compliance Programs Broadcast Format Zoom and Broadcaster Credibilitywith Loyalty Zoom Programs Listening On Radio Ichthus.AbstractionRadio as a mass media consumed a good person every day for information and entertainment. AtIchthus radio programs are broadcast format ZOOM with customized listener loyalty segmentationso interesting to listen to the event program. In addition to the appropriate broadcast format,broadcasters credibility is another factor to make the program more attractive ZOOM and morealive. This study was aimed to investigate the relationship between compliance programs broadcastformat ZOOM broadcaster with credibility and loyalty listening to radio programs in Ichthus ZOOM.Researchers used the theory of Geller stated, the audience liked the format. Format provides thestructure, such as the wall of a house. People want to know who and what they are hearing, andthey also want to know the time (Geller, 2007: 35), we form a picture of yourself communicatorsfrom direct experience with the communicator or representation of experience (vicariousexperiences), eg because it had long been hanging out with him and get to know the integrity of hispersonality or because we've seen or heard in the mass media (Rachmat, 2009: 258).The population is young people aged 15-25 who are Christians in the city of Semarang. Accidentalsampling conducted as many as 50 people. Hypothesis testing is done by using a statistical testKendal Tau to see the relationship between the suitability of the broadcast format (X1) and thecredibility of the broadcaster (X2) with loyalty listening (Y).Results of hypothesis testing is the relationship between the broadcast format compatibility withloyalty programs ZOOM listening using Kendall Tau calculation, the result that the significance valueof 0.001 then there is a relationship. Correlation coefficient values conformity with loyalty listeningto the broadcast format of 0.428. It can be said that the significance value of 0.001 <0.01 whichmeans that there is a relationship between the two variables are highly significant and thehypothesis is accepted. Thus, it can be stated that "there is a relationship between the broadcastformat compatibility with loyalty programs ZOOM listening". While the relationship betweencredibility and loyalty listening broadcasters using Kendall Tau calculation, the result that thesignificance value of 0.189 then there is no relationship. Correlation coefficient broadcaster withcredibility listening loyalty of 0.174. It can be said that the significance value of 0.189> 0.05, whichmeans that the two variables are not significant and the hypothesis is rejected. Thus, it can be statedthat "there is no relationship between the broadcaster with credibility listening loyalty".Keywords: suitability, credibility, loyaltyHubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Program Acara ZOOM danKredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program AcaraZOOM di Radio Ichthus.PENDAHULUAN : Peranan komunikasi massa melalui media massa pada saat sekarangsemakin penting dimana masyarakat berkaitan erat dengannya, media massa merupakansumber informasi bagi masyarakat. Dalam kehidupannya manusia tidak terlepas dari mediamassa yang setiap hari mengelilinginya. Orang cenderung menggunakan media seperti suratkabar, majalah, radio, televisi untuk menghubungkan diri mereka sendiri dengan masyarakatatau dengan kata lain untuk mendapatkan informasi tentang dunia diluar dirinya dan jugauntuk mendapatkan hiburan. Sama halnya dengan bentuk-bentuk media massa yang lainseperti koran, televisi, majalah, film. Radio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsiorang setiap hari baik untuk mendapatkan informasi maupun hiburan. Radio termasuksebagai media mekanis, karena media ini menggunakan saluran tertentu secara teknis yaknipemancar. Melalui program-program siarannya, radio menjalankan fungsi-fungsi sebagaimedia massa. Fungsi media massa pada umumnya antara lain adalah memberi informasi,mendidik, membujuk dan memberi hiburan. Untuk media radio fungsi hiburan memiliki porsiyang lebih besar dibandingkan fungsi-fungsi yang lainnya. Jumlah media radio, khususnyaradio siaran swasta, sekarang ini semakin banyak dan semakin tersegmentasi. Seperti diSemarang, terdapat 5 radio rohani diantaranya : Ichthus FM, Goodnews FM, Agape FM,Rhema FM dan BeFM dengan segmentasi audiens merupakan umat Nasrani yang berbedabedadari segi usia, kelas ekonomi maupun jenis kelamin. Radio Ichthus adalah salah saturadio siaran swasta yang berdomisili di Semarang dengan segmentasi audiens umat Nasrani.Sebagai radio yang memiliki segmentasi audiens tertentu, maka program-program siaranyang disajikan disesuaikan terhadap pendengar. Seperti lagu-lagu yang diputar, topik-topikyang menjadi bahasan, informasi yang diberikan serta program siaran khusus, contohnyaacara siraman rohani yang menjadi mayoritas acara di radio Ichthus (radio rohani) dalammenjaga dan menumbuhkan iman para pendengar yang beragama Nasrani. Radio rohanimerupakan radio atau media yang dipakai sebagai perantara akan firman Tuhan bagi parapendengarnya yang kebanyakan umat Nasrani. Media ini mempunyai daya tarik tersendiridikalangan pendengar dikarenakan mempunyai kesamaan akan batin serta keyakinan.Terlebih lagi media radio rohani ini menjadi pilihan bagi umat Nasrani yang terlalu sibukakan pekerjaannya sehingga belum bisa meluangkan waktu untuk beribadah digereja. Selamaperjalanannya, pada tahun 2005 beberapa penyiar senior di radio Ichthus pindah ke radiorohani lain yang merupakan pesaing dari radio Ichthus itu sendiri, sehingga tidak jarangsebagian anggota monitor radio Ichthus yang dulu sering masuk on air sudah jarang sekaliterdengar saat ini dikarenakan mereka (pendengar) lebih mengikuti penyiar kesayangannyapergi. Radio Ichthus memperhitungkan jumlah anggota monitor yang ikut bergabung setiapbulannya, baik anggota monitor tersebut aktif atau pasif. Jumlah pendengar yang seringmasuk atau on air mempengaruhi pendapatan Ichthus melalui iklan karena pihak pengiklantidak mau mengiklankan produknya di radio yang sepi pendengar. Dengan adanya jumlahpendengar yang bergabung mempengaruhi pihak pengiklan untuk memakai jasa radioIchthus. ZOOM (Zona Orang-Orang Muda) merupakan sebuah program acara yang adadalam radio Ichthus. Fungsi dari acara ini yaitu berusaha mempererat hubungan anak mudaKristiani di kota Semarang dan sekitarnya bahkan siapa saja yang mendengarkan Ichthus.Selain tujuannya mempererat jalinan kasih, acara ini juga sebagai ajang untuk mengontrolkehidupan anak muda dalam bergereja serta kehidupan sosialnya, antara lain berupa prestasiatau segala hal yang berhubungan dengan luar gereja. Pendengar acara ini disebut Zoomers,karena acara ini bertema anak muda maka kata Zoomers yang berarti “pecinta ZOOM”dipakai untuk memberi semangat bagi para pecinta acara ini. Acara ZOOM hadir setiap hariSenin hingga Sabtu dengan tema yang berbeda-beda. Format siaran program acara ZOOMdisesuaikan dengan segmentasinya yaitu anak muda. Format siaran terbagi dalam 4 hal yaitu :acara, musik, informasi dan iklan yang ada pada sebuah acara. Acara ZOOM memiliki temayang yang berbeda dalam tiap harinya selama 6 hari mengudara. Acara yang membahasmengenai kehidupan anak muda, mengenai gaya berpakaian, teknologi, hobby serta prestasiyang diperoleh entah di akademik maupun di kalangan professional. Acara Zoom merupakanacara di radio Icthus yang memiliki rating tinggi dikarenakan feedback dari pendengar yangsangat antusias. Dibandingkan dengan acara lainnya, acara Zoom selalu mendapat respondalam bentuk telepon secara on air dan SMS terbanyak di setiap acara berlangsung. Karenaacara Zoom merupakan acara untuk anak muda, maka penyiarnya juga disesuaikan berusiasekitar 15-25 tahun. Penyiar Zoom yang telah melebihi usia 25 tahun di pindah ke acara yanglain, sehingga secara otomatis penyiar junior menggantikan posisi para seniornya. Dalampergantian beberapa penyiar senior dengan penyiar junior, acara Zoom pernah mengalamipenurunan feedback dalam bentuk telepon maupun SMS pada saat on air. Selama mengudarakredibilitas penyiar pada Acara Zoom di radio Ichthus juga sering mendapat kritikan daripendengar yang menelepon ke studio pada saat off air. Beberapa kritikan yang disampaikankepada sebagian penyiar antara lain : artikulasi kurang jelas, banyak bicara pada saat siaran /banyak bercanda, kurang pintar mengolah kata-kata, materi siaran kurang dipahami sehinggapenyampaian menjadi bias, terlalu cepat berbicara, lupa memutarkan lagu yang di request dll.Beberapa hal tersebut menjadi tolak ukur bagi Radio Ichthus sendiri untuk meningkatkankualitas penyiarnya. Meski program acara ZOOM di radio Ichthus memiliki rating tinggikarena feedback yang antusias, tidak berarti program acara tersebut akan selalu baik apabilaIchthus kurang jeli dan teliti dalam menjaga program acara di radio Ichthus. Dengan formatsiaran yang dimiliki program acara ZOOM bukan berarti acara ZOOM telah memenuhisemua keinginan audiens. Penurunan jumlah pendengar terjadi pada acara ZOOM di akhirtahun 2009 hingga 2011. Kenyataan ini dapat dilihat dari penerimaan SMS dan telepon secaraOn Air yang tidak stabil. Penyiar program acara ZOOM juga sering mendapat mendapatkritikan dari para pendengar, diantaranya terlalu banyak berbicara pada saat siaran,membahas topik-topik yang dirasa tidak perlu, banyak bercanda, kurang memahami materisiaran, kurang pintar mengolah kata-kata artikulasi kurang jelas, terlalu cepat berbicara lupamemutarkan lagu yang di-request dan lain-lain. Jika dilihat dari format siaran program acaraZOOM dan kredibilitas penyiar, mungkinkah ada ketidaksesuaian dengan kebutuhanpendengar sehingga mempengaruhi loyalitas? Dari hal tersebut, muncullah pertanyaanapakah ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dan kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan acara ZOOM di radio Ichthus?PEMBAHASAN : Komunikasi Radio, Para pelaku industri radio harus paham betulmengenai teori-teori komunikasi jika ingin menguasai pasar dan mendapat banyakpendengar. Pada intinya semua media termasuk radio adalah sarana penyampai pesan untukpara komunikan. Teori klasik yang berkatian dengan hal ini adalah sebuah teori yangdikemukakan oleh Aristoteles. Dia menyebutkan bahwa unsur sebuah komunikasi adalapembicara (speaker), dalam hal ini adalah penyiar (jika di media radio), kemudian pesantermasuk hasil menulis di radio (message), dan materi siaran serta pendengar (listener)(Prayudha, 2006 : 3). Kemudian sebuah teori yang umum dan sangat terkenal dari Lasswellyang menyebutkan bahwa who says what in which channel to whom with what effects. Modeltersebut lebih menitikberatkan pada kelompok khusus yang bertanggung jawab dalammelaksanakan fungsi korelasi. Misalnya, dalam lingkungan radio siaran, seorang penyiarmembantu mengkorelasikan atau mengumpulkan respon orang-orang teradap informasi baru.Jika teori tersebut diaplikasikan dalam siaran radio, model Lasswell terdiri dari atas unsurpengirim (who - komunikator/ penyiar) yang merangsang pertanyaan mengenai pengendalianpesan, unsur pesan (say what – pesan/ bahan) untuk analisis isi siaran radio, salurankomunikasi (in which cannel – media) yang dikaji dalam analisis media radio, unsurpenerima (to whom – receiver/ pendengar) yang dikaitkan dengan analisis khalayak, danunsur pengaruh (with what effect – influence akibat)yang ditimbulkan pesan komunikasi padapendengar (Prayudha, 2006 : 7). John R. Wenburg dan William W. Wilmot mengemukakantiga konseptualisasi komunikasi, yaitu komunikasi sebagai tindakan satu arah, interaksi (duaarah) dan transaksi. Komunikasi yang terjadi pada media, seperti radio dan televisimerupakan bentuk konseptualisasi komunikasi interaksi, yaitu komunikasi dengan suatuproses sebab akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian (Mulyana, 2003 : 65). Sebagaicontoh di dunia radio, ketika penyiar memberikan topik atau bahasan kepada pendengarnya,hal itu menandakan bahwa penyiar sedang memberikan aksi atau sebab. Ketika pendengarmulai memberikan feedbacknya berupa SMS atau telepon, hal itu menandakan adanya reaksiatau akibat. Radio memiliki karakteristik yang unik. Meskipun hanya bisa didengarkanternyata efek mendengarkan radio tidak kalah dengan media audio visual yaitu televisi. Radiobisa menjadi media penyampaian pesan yang sangat efektif. Sculberg dalam bukunya RadioAdvertising – The Authoritative Handbook, mengatakan bahwa para ahli psikologi telahmenyimpulkan bahwa memori ingatan yang berasal dari aspek pendengaran manusia,ternyata jauh lebih kuat daripada ingatan yang diperoleh dari indera penglihatan ataupenciuman (Prayudha, 2006 : 12). Radio memiliki kekuatan yang dapat memunculkan theaterof mind bagi para pendengarnya. Radio dapat membuat pendengar merasa akrab dan dekatseperti seorang teman atau sahabat yang sedang mengajak bicara, juga dapat berinteraksimelalui SMS ataupun telepon. Memberi masukan ataupun sekedar membagi informasi danopini untuk pendengar lainnya dapat menjadi alternatif. Selain itu, juga dapat mendengarkanmusik favorit dari radio. Format Siaran Radio, Perkembangan media massa khususnyaradio yang semakin maju, merupakan tantangan bagi pelaku industri media massa untukmengembangkan media tersebut. Perkembangan ini kemudian menimbulkan persaingan yangketat sehingga konsekuensi bagi pelaku industri media adalah keharusan untuk menyajikanprogram acara dan lagu yang menarik dan diminati audien. Seiring dengan perkembanganjaman, saat ini industri radio sudah menjadi sebuah komoditi bisnis yang menguntungkan.Hal ini dikarenakan, radio memang dirancang untuk memiliki sebuah penataan format acaradan format musik yang sedemikian rupa, sehingga mampu menarik pendengar dari berbagaimacam latar belakang (Schament, 2002 : 811). Seperti yang sudah disinggung sebelumnya,bahwa format adalah penyajian program dan musik yang memiliki ciri-ciri tertentu olehstasiun radio. Secara lebih sederhana dapat dikatakan format stasiun penyiaran atau formatsiaran radio dapat didefinisikan sebagai upaya pengelola stasiun radio untuk memproduksiprogram siaran yang dapat memenuhi kebutuhan audiensnya (Morrisan, 2009 : 220). MenurutMorrisan dalam bukunya Pringle Starr McCavitt menjelaskan bahwa : the programming ofmost station is dominate by one principal content element or sound, known as format.Artinya, program sebagian besar stasiun radio didominasi oleh satu elemen isi atau suarayang utama yang dikenal dengan format (Morrisan, 2009 : 220). Geller mengatakan bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, danmereka juga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35). Artinya, pendengar lebih nyamanmemilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya. Siapa penyiar dan informasiapa yang disampaikan semuanya jelas dan mudah dimengerti. If you can create qualityprogramming, consistently stick with a host, program, or format over the time it takes to findits audience, you will likely have your own success story (Geller, 2007 : 5). Artinya, jikasebuah stasiun radio mampu menciptakan program yang berkualitas termasuk program yangkreatif di dalamnya, selain itu dengan penyiar yang konsisten dan format yang sesuai, makadengan sendirinya pendengar akan menjadi konsumen yang loyal bagi radio tersebut danakan memunculkan persepsi bahwa format siaran radio tertentu sesuai dengan dirinya.Kredibilitas Penyiar, Penyiar adalah orang yang bertugas membawakan atau memanduacara di radio, menjadi ujung tombak radio dalam berkomunikasi atau berhubungan langsungdengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara dengan parameter jumlah pendengardan pemasukan iklan utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakansekaligus menghidupkan acara tersebut (Rosalia, 2010 : 28-29). Penyiar merupakan ujungtombak keberhasilan sebuah radio. Melalui seorang penyiar, radio menyampaikan visi misi,informasi dan berita untuk kebutuhan dan konsumsi pendengar. Ibarat bermain film, penyiarmerupakan aktor yang memerankan suasana sebuah siaran radio. Sebagai aktor, penyiar harusmengendalikan empat senjata utama, yaitu pikiran, perasaan, suara dan raga (Masduki, 2004 :117). Sementara itu, modal yang harus dimiliki seorang penyiar adalah suara, percaya diri,hobi dan bakat (ngobrol-ngobrol dan bakat menghibur), wawasan dan pergaulan luas,penguasaan studio yang baik (Ningrum, 2007 : 23-27. Selain itu, penyiar juga dituntutmemiliki beberapa keterampilan yang mendukung performa siarannya. Secara umum ada tigaketerampilan yang harus dikuasai para DJ dan penyiar. Pertama announcing skill,keterampilan menuturkan segala sesuatu menyangkut musik, kata atau lirik lagu yangdisajikan. Kedua, operating skill, yaitu keterampilan mengoperasikan segala peralatan siaran.Ketiga, musical touch, yaitu keterampilan merangkai musik dalam tatanan yang menyentuhemosi pendengar, bercita rasa dalam seleksi, harmonis dalam rangkaian (Masduki, 2004 :119). Sedangkan dari segi kepribadian, announcer atau penyiar perlu membentuk sikap(attitude), bahasa (language), memiliki wawasan professional (knowledge). Sikap yang harusdimiliki adalah (1) sopan di udara sesuai dengan kebutuhan situasi acara, (2) menghargaiwaktu, (3) bertanggung jawab, rendah hati, (4) tidak mengurai (Masduki, 2004 : 120). Uraiandiatas menunjukan bahwa banyak sekali yang harus dipersiapkan dan dimiliki oleh seorangpenyiar. Hal ini dikarenakan seorang penyiar memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar.Departemen perburuhan AS dalam paparan seputar lowongan pekerjaan diradio siaran diAmerika Serikat menggambarkan penyiar radio sebagai sosok dengan banyak aktivitas atautugas kerjanya, beberapa tugasnya adalah sebagai berikut (Masduki : 2004 : 121-122).Loyalitas Mendengarkan, Loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalamuntuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secarakonsisten di masa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaranmempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku (Hartiti, 2003 : 129). Masihdalam buku yang sama, Griffin menjelaskan bahwa loyalitas lebih mengacu pada wujudperilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terusmenerus terhadap barang atau jasa suatu perusahaan yang terpilih. Sama halnya denganperusahaan radio, ketika ada seorang pendengar yang dengan setia mendengarkan dari waktuke waktu, hal itu merupakan indikasi seorang pendengar yang loyal. Hal Ini menunjukkanbahwa usaha maksimal yang dilakukan oleh radio berhasil. Produk yang diproduksi olehradio berupa informasi atau berita, penyiar yang menyenangkan dan musik yang disajikandalam suatu program mampu menarik hati para pendengar. Kunci keberhasilan sebuah radioadalah kelokalan itu sendiri, sehingga bisa mempengaruhi hati pendengarnya. Sifat radioyang sangat pribadi seakan-akan mampu me-maintainance atau melayani pendengar denganperhatian yang maksimal. Geller mengatakan, bahwa the key to personality radio is logically,having a personality. This means having rich, full life and drawing or all of your experiences.How you relate to life is how your audience will relate to you. The best broadcaster are greatoservers of life. They filter what they see going on around them through their unique creativeproses and send it back to the world. Artinya, kunci radio secara logika, memilikikepribadian. Hal ini berarti kaya makna, penuh arti kehidupan dan gambaran akan semuapengalaman Anda. Bagaimana Anda berhubungan dengan kehidupan adalah bagaimanaaudiens Anda akan berhubungan dengan Anda. Penyiar terbaik adalah pembagi pengalamandalam kehidupan. Mereka menyaring apa yang mereka lihat, atau yang terjadi di sekitarmereka melalui proses kreatif yang unik dan memberikan kembali pada dunia (Geller, 2007 :3). Radio mampu menjadi teman sejati bagi pendengar, membagikan banyak sekalipengalaman (penyiar) dan memberikan gambaran hidup yang kadang berarti bagi pendengar.Dengan ini akan ada kedekatan emosi antara radio dan juga pendengarnya. Terlebih lagidengan sajian lagu-lagu yang banyak sesuai dengan hati sehingga membuat pendengarnyamakin nyaman. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatori (penjelasan) karenamenjelaskan hubungan antara tiga variabel penelitian. Variabel itu meliputi kesesuaianformat siaran program acara ZOOM, kredibilitas penyiar dan loyalitas mendengarkanprogram acara ZOOM pada radio Ichthus. Populasi dalam penelitian ini adalah anak mudayang beragama Nasrani di kota Semarang berusia sekitar 15-25 tahun yang pernah atau seringmendengarkan siaran radio Ichthus terutama tentang program acara Zoom (Zona Orang-Orang Muda). Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 50 orang, sesuai denganteori Gay & Diehl (1992 : 146) mengenai ukuran sampel yang dapat diterima. Merekamengemukakan bahwa untuk penelitian korelasi, secara minimum tolok ukurannya sekitar 30subyek sebagai obyek penelitian (Ruslan, 2003 : 47). Karena besarnya populasi yang tidakdapat dketahui secara pasti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling, yaitu metode sampling yang tidak memberi kesempatan atau peluangyang sama bagi setiap unsur atau populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik pengambilansampel menggunakan metode sampling Accidental, merupakan teknik penentuan sampelberdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ incidental bertemu denganpeneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itucocok sebagai sumber data (Kriyantono, 2006 : 156). Adapun kriteria orang yang cocokmenjadi sampel adalah : beragama Kristen, berusia 15-25 tahun, pernah mendengarkanAcara Zoom di Radio Icthus. Uji Hipotesis, Analisis ini menggunakan tes statistik korelasiuntuk menguji apakah terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatdengan menggunakan rumus Kendal Tau (τ) karena data yang digunakan memakai skalaordinal. (Sugiyono, 2006 : 237). Perhitungan menggunakan SPSS 18. Berdasarkan hasil ujistatistik hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperoleh hasil bahwa nilaisignifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilai koefisien korelasi kesesuaianformat siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428. Hal ini dapat dikatakan bahwanilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubunganyang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan”. Teori yang digunakan juga sesuai, seperti yang dikatakan Geller bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, karenapendengar lebih nyaman memilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya.Terbukti bahwa format siaran program acara ZOOM yang bertema anak muda sesuai denganpendengar, mulai dari pembahasan acara, informasi, musik dan iklan disukai oleh pendengarsehingga membuat mereka (pendengar) loyal dalam mendengarkan program acara tersebutsecara bertahap atau berkali-kali. Sedangkan, berdasarkan hasil uji statistik hubungan antarakredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilaikoefisien korelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal inidapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabeltersebut tidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“tidak ada hubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”. Dengankata lain dalam penelitian ini, walaupun pendengar acara ZOOM telah mendengarkan secaralangsung ketika penyiar melaksanakan siaran, termasuk mengetahui kemampuan yangdimiliki oleh seorang penyiar mulai dari kompetensi, atraktif atau dinamis, kepercayaan dankesungguhan saat siaran, belum tentu menjamin mereka (pendengar) untuk loyal terhadappenyiar tersebut, melainkan pendengar loyal dalam mendengarkan program acara ZOOMkarena format siaran acara ZOOM telah sesuai dengan apa yang diinginkan pendengar, tidakpeduli siapapun penyiar yang membawakan program acara tersebut. PENUTUP : Karenaformat siaran program acara ZOOM ada hubungan dengan loyalitas mendengarkan maka halyang kurang sesuai dalam format siaran seperti iklan, untuk disesuaikan dengan segmentasiprogram acara ZOOM yaitu anak muda. Untuk itu kesimpulan dari pengujian hipotesis ialahTerdapat hubungan positif yang signifikan antara kesesuaian format siaran program acaraZOOM dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, hal tersebut ditunjukkandengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Sehingga semakin sesuai format siaran program acaraZOOM maka pendengar semakin loyal mendengarkan program acara ZOOM di radioIchthus. Sedangkan hasil uji variable selanjutnya tidak terdapat hubungan yang signifikanantara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, haltersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,189 atau melebihi dari ketentuanstandar siginifikasi 0,05. Sehingga hipotesis ditolak, dan beberapa hal untuk menilai ataumeneliti mengenai kredibilitas penyiar bisa dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain yang tidakditeliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA : Bramson, Robert. 2005. CustomerLoyaliti : 50 Strategi Ampuh Membangun dan Mempertahankan loyalitas Pelanggan. Jakarta: PT Prestasi Pustaka. Geller, Valerie. 2007. Creating Powerful Radio : Getting, Keeping &Growing Audiences. Jordan Hill Oxford : Elsevier Inc. Gray, Frank dan James, Ross. 1997.Radio Programming Roles; FEBC Perspectives. Yaski. Hartiti. 2003. Loyalitas Pelanggan.Bandung : Yayasan Nuansa Cendikia. Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis RisetKomunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Masduki. 2001. Jurnalistik Radio;Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar. Yogyakarta : LKIS. Masduki. 2004.Menjadi Broadcaster Profesional. Yogyakarta : LKIS. McQuail, Denis. 1987. TeoriKomunikasi Massa . Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. Morrisan, MA. 2009. ManajemenMedia Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta : Kencana Prenada MediaGroup. Ningrum, Fatmasari. 2007. Sukses Menjadi Penyiar, Scriptwriter dan Reporter Radio.Depok : Penebar Swadaya. Prayudha, Harley. 2004. RADIO; Suatu Penghantar untukWacana dan Praktik Penyiaran. Malang : Bayumedia Publishing. Prayudha, Harley. 2006.Radio : Penyiar It’s not just a talk. Malang : Bayumedia Publishing. Rakhmat, Jalaluddin.2009. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Rakhmat, Jalaluddin. 2007.Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Sumarwan, Ujang.2003. Perilaku Konsumen; Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran. Jakarta : GhaliaIndonesia. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:CV Alfabeta. Sunyoto, W. Daniels Handoyo. 1978. Seluk Beluk Programa Radio.Yogyakarta : Penerbitan Yayasan Kanisius. Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa.Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Wardhana, Ega. 2009. Sukses Menjadi PenyiarRadio Profesional. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Pembuatan Program Talk Show Sore Binggo (Sebagai Pengarah Acara) Frans Agung Prabowo; Triyono Lukmantoro; Lintang Ratri Rahmiaji; Titiek Hendriama
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.81 KB)

Abstract

Radio merupakan salah satu media yang bertahan cukup lama dan bisa bertahan meskipun muncul media-media baru yang lain dalam memberikan informasi dan hiburan. Radio Republik Indonesia (RRI) mulai berdiri sejak 11 September 1945 yang merupakan salah satu radio tertua di Indonesia. Radio Republik Indonesia Semarang juga merupakan radio yang cukup tua dibanding radio-radio swasta lainnya. Radio dengan empat programa ini memiliki programa yang dikhususkan untuk pendengar yang segmentasinya anak muda. Programa tersebut adalah Pro 2 RRI. Pro 2 RRI itu sendiri memiliki program unggulan, salah satunya adalah Sore Binggo.Program Sore Binggo sudah berjalan di Pro 2 RRI Semarang selama 7 bulan dan merupakan salah satu program unggulan di Pro 2 RRI Semarang. Inilah alasan penulis memilih program Sore Binggo untuk dikembangkan lagi. Selain karena program yang baru, penulis juga ingin merubah pandangan pendengar yang mengatakan bahwa RRI merupakan radio orang tua dan hanya berisi berita saja.Tugas penulis adalah sebagai pengarah acara yang bertugas menjalankan acara sesuai dengan run down dan sesuai konsep yang telah dibuat oleh pengarah kreatif serta telah disetujui oleh produser. Promosi dengan menggunakan media sosial seperti twitter, instagram, Line, whatsapp dilakukan sebelum acara berlangsung dan selama acara berlangsung.
Strategi Personal Branding Young Lex melalui Pembentukan Imej Negatif dan Pengelolaan Haters Viali Tobing, Luki; Dwiningtyas Sulityani, Hapsari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.183 KB)

Abstract

Ada berbagai cara bagi public figure di dunia hiburan untuk mengembangkan karirnya. Salah satunya adalah strategi personal branding dari seorang artis itu sendiri. Young Lex adalah salah satu nama terdepan di industri hiburan berbasis internet zaman sekarang, khususnya di bidang musik hip hop. Namun, nama Young Lex dekat dengan kontroversi dan haters. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi personal branding yang dilakukan Young Lex dengan menggunakan studi kasus. Teori yang digunakan adalah Teori Dramatisme dari Kenneth Burke yang menggunakan Pentad Dramatisme. Teori Dramatisme sendiri adalah teori retorika konvensional yang cenderung memusatkan perhatian pada bagaimana wacana memengaruhi cara orang berpikir. Pentad Dramatisme adalah sebuah metode utama dari Teori Dramatisme yang digunakan untuk menganalisis penggunaan simbol pada komunikasi untuk mengidentifikasi diri seseorang dengan khalayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi personal branding yang dilakukan Young Lex terjadi melalui lima aspek Pentad Dramatisme yang saling berkaitan. Diantaranya adalah agen, agensi, adegan, tindakan, dan tujuan. Young Lex sebagai agen, melakukan tindakan melalui bermacam-macam agensi pada adegan yang berbeda-beda namun tetap dengan konsistensi tujuan yang sama. Konsistensi tujuan ini sebenarnya ia jadikan sebagai strategi personal branding. Maka dari itu, imej negatif dan pengelolaan haters yang Young Lex lakukan, terjadi karena pembentukan karakter dari Young Lex, sang agen itu sendiri.
PRODUKSI PROGRAM KULINER PADA PROGRAM ACARA WISATA JALAN KULINER CAKRA SEMARANG TV (Peran dan Pertanggungjawaban sebagai Penulis Naskah dan Pemandu Acara) Theresia Dita Anggraini; Hedi Pudjo Santosa; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.705 KB)

Abstract

Kuliner adalah segala hal yang berhubungan dengan konsumsi makanan seharihari.Kuliner merupakan bagian dari gaya hidup dan untuk itu menarik untukdiangkat menjadi sebuah tayangan televisi. Wisata Jalan Kuliner adalah salah satuprogram acara di stasiun TV lokal Cakra Semarang TV yang mengangkat temaini. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai kuliner yang enak danmenarik baik dari sisi historis maupun cita rasa. Diharapkan acara ini mampumenjadi referensi bagi penonton yang ingin menambah wawasan dan pengalamandalam menikmati makanan di Semarang. Untuk itu penulis beserta tim membuatnews feature ini ke dalam acara tersebut. Dengan tujuan yang kurang lebih sama;untuk mengemas informasi mengenai bagaimana cara menikmati, menampilkanproses pembuatan secara mendalam, serta nilai historis dari berbagai jajanan diSemarang.Jajanan klenyem, timus, lumpia, tahu isi rebung, wingko babat, gandos, wedangrempah, dan wedang kacang tanah merupakan jajanan di semarang yang masihdiminati oleh sebagian besar masyarakat. News feature ini dibuat dalam empatepisode, yang tayang sekali setiap minggunya selama empat minggu berturut-turutdan dibagi berdasarkan bahan dasar jajanannya. Di tiap episode penulis besertatim mewawancarai narasumber yang berkaitan dengan jajanan yang dibahas.Narasumber tersebut seperti penjual, pembuat jajanan, konsumen, maupun pendapat masyarakat umum.Kata kunci: Kuliner, wisata, televisi

Page 18 of 157 | Total Record : 1563