cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan Televisi Niki Hapsari Fatimah; Wiwid Noor Rakhmad; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan TelevisiABSTRAKFenomena ustaz/ustazah masuk dalam ranah dunia entertaiment di Indonesiatidaklah menjadi hal yang tabu bahkan sudah menjadi trend. Termasuk keikutsertaanustaz/ustazh sebagai endorser untuk produk-produk komersial. Menunjukanbagaimana representasi figur ustaz/ustazah dalam iklan Larutan Penyegar Cap KakiTiga dan provider Telkomsel, peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan olehJohn Fiske dalam buku Television Culture, yaitu tentang The Codes of Television.Setelah melakukan analisis sintagmatik pada level reality dan level representation,peneliti kemudian melakukan analisis secara paradigmatik untuk level ideology.Analisis paradigmatik dilakukan untuk mengetahui makna terdalam dari teks iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihat hubungan eksternalpada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisis paradigmatik juga berfungsiuntuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lain yang mungkin bersifatabstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik, makadidapat beberapa temuan penelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbolkeislaman, di mana figur ustaz/ustazah di jadikan sebagai komoditas, representasiustaz/ustazah sebagai icon dunia konsumsi, serta mitos di balik representasi figurustaz/ustazah pada iklan televisi. Temuan-temuan penelitian yang didapat olehpeneliti menjelaskan bahwa ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orangatau pun penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai iconkonsumsi dan tidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintangfilm, penyanyi, dsb.Kata Kunci: Iklan, Representasi, Simbol-simbol keislaman, Ustaz/ustazah, Semiotika.ABSTRACTThe phenomenon ustaz/ustazah entered in the realm of entertainment world inIndonesia is not a taboo even has become a trend. Including participationustaz/ustazah as endorser of commercial products. Researcher use John Fiske‟s ideain Television Culture, about The Codes of Television to show how ustaz/ustazahfigure representation on Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercialads. After conducted syntagmatic analysis at the level of reality and level ofrepresentation, researcher then conduct a paradigmatic analysis to the level ofideology. Paradigmatic analysis conducted to know meaning of text in LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercial ads within looking at eksternalrelation on a symbol with another. Besides, paradigmatic analysis usefull to show thesecond meaning and another reality that may be abstract behind some ideas whichindentified with sintagmatic analysis.After conducting sintagmatic analysis and paradigmatic analysis, then thereare some research finding, that is Islamic symbol exploitation where ustaz/ustazahfigure used as commodity, ustaz/ustazah representation as communication icon, andthe myth behind ustaz/ustazah figure representation on television ads. Researchfindings which obtained explain that exposed ustaz/ustazah on commercial tv ads byadvertiser is not the ustaz whom people know as role models/knowledgeable personwhose their advice obeyed/connector of God‟s revelation which accepeted by theprophet anymore, but as the commercial icon and hasn‟t difference from anotherendorsers fo movie stars, singers, ect.Keywords: Ads (advertising), Representation, Islamic symbols, Ustaz/ustazah,SemioticI. PendaguluanSekarang ini banyak sekali iklan di layar televisi yang menawarkan berbagaimacam produk dengan variasi dan kreativitas bermacam-macam. Pada umumnyaiklan televisi menampilkan model iklan wanita yang cantik, atau jika pria yangditampilkan berparas tampan. Seringkali iklan-iklan televisi menggunakan modeliklan yang dikenal oleh masyarakat seperti bintang film, bintang sinetron, penyanyi,peragawati atau peragawan, musisi, pelawak hingga tokoh ustaz/ustazah yangmerupakan simbol keislaman bagi masyarakat Indonesia. Pengiklan dalam hal iniprodusen memang menganggarkan dana untuk promosi dalam bentuk iklan televisidan sesuai kebutuhan dari produknya masing-masing.Popularitas televisi kemudian membuat televisi tidak lagi dipandang sebagaiseperangkat kotak elektronik yang berkemampuan audio visual, tapi lebih dari itu,televisi merupakan seperangkat media transfer nilai, ideologi serta budaya yang saratakan kepentingan dan perebutan pengaruh/kekuasaan. Popularitas juga dirasakan olehustaz/ustazah di ranah pertelevisian dengan memiliki banyak jamaah pada gilirannyamenyeret tokoh masyarakat tersebut untuk ikut terlibat dalam iklan-iklan produkkomersial. Sayangnya, ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orang,penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai icon konsumsi dantidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintang film, penyanyi,dsb.Masyarakat di Indonesia sejatinya mengenal ustaz adalah pemuka masyarakat,karena dianggap sebagai orang yang berilmu dan nasehatnya diturut oleh banyakorang. Masyarakat menetapkan siapa yang bakal menjadi 'ustaz' mereka.Ustaz/ustazah yang merupakan simbol keislaman muncul di layar televesi tidak lagihanya berada di balik mimbar untuk berdakwah, melainkan menjadi endorser iklanproduk-produk yang bersifat komersial, seperti iklan untuk produk helm GM, AXIS,Ekstra Joss, Fresh Care yang dibintangi oleh ustaz Jefri Al Buchori (Uje), iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga, “Bintang Toedjoe Masuk Angin” oleh MamahDedeh, serta iklan Telkomsel, oleh ustaz Maulana, dan beberapa iklan produkkomersial lainnya. Kemuculan ustaz/ustazah pada iklan-iklan tersebut bukanlahsebuah kebetulan, melainkan tanda pada media iklan televisi yang bisa dikaji denganperspektif semiotika.Secara teoretis semua teks media termasuk iklan merupakan representasi darirealitas. Namun realitas tersebut bukan realitas yang sesungguhnya, akan tetapirealitas dalam versi si pembuat teks, yakni realitas yang dibentuk oleh pihak-pihakyang terlibat dalam proses mediasi teks. Demikian pun representasi figur paraustaz/ustazah merupakan realitas yang dikemas sesuai kebutuhan si pembuat iklan.Akan banyak arti ‟kedua‟ yang muncul dari tanda berupa representasi ustaz/ustazahyang ada pada iklan Telkomsel versi Ustaz Maulana, serta Larutan Penyegar CapKaki Tiga oleh Mamah Dedeh. Pada penelitian ini, peneliti akan membahas masalahseperti yang telah dirumuskan yaitu, bagaimana figur ustaz/ustazah sebagai simbolkeislaman direpresentasikan pada iklan televisi?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna ‟kedua‟ atau maknakonotatif dari representasi ustaz/ustazah sebagai simbol keislaman di dalam iklantelevisi.II. Kerangka Teori dan Metode Penelitian.Mengungkap makna di balik repesentasi ustaz/ustazah dalam iklan televisiartinya mengkaji tentang tanda. Ilmu tentang tanda yang mampu menemukan maknatersembunyi di balik sebuah teks seperti pada iklan yang melibatkan ustaz/ustazahadalah bidang semiotika. Semiotika adalah cabang ilmu yang berhubungan denganpengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistemtanda dan proses yang berlaku bagi pengguna tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotika yangmengulas masalah-masalah, katakanlah, tanda tanpa disengaja dan konotasi dikenaldengan semiotika konotatif. Seperti munculnya figur ustaz/ustazah pada iklan televisitentu saja tidak kemudian diartikan sebagai siar agama seperti halnya ketikaustaz/ustazah tersebut berdiri di balik mimbar. Ada arti „kedua‟ di balik representasiustaz/ustazah sebagai simbol keislamaan.Memaknai representasi melibatkan faktor-faktor yang kompleks. Representasididefinisikan sebagai penggunaan “tanda-tanda” (gambar, suara, dan sebagainya)untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindrakan, dibayangkan, ataudirasakan dalam bentuk fisik. Representasi bergantung pada tanda dan citra yangsudah ada dan dipahami secara kultural, dalam pemahaman bahasa dan penandaanyang bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbal balik (Hartley, 2004: 265).Kemunculan Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh pada iklan televisi misalnya,merupakan bentuk representasi, yakni mewakili suatu fakta figur ustaz/ustazah yangdikenal masyarakat sebagai pemuka agama. Melalui fungsi tanda „mewakili‟ kitamempelajari realitas.Agama memainkan peranan yang sangat penting di dalam mempertahankanikatan anatara individu dan kelompok yang lebih luas, baik sebagai dasar persekutuanmaupun sebagai sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang di hayati bersama(Raho, 2013: 77). Ilmu sosiologipun memiliki pendekatan teoritis untuk mempelajariAgama di tengah masyarakat. Sosiolog Prancis Emile Durkheim mengidentifikasisalah satu fungsi utama agama untuk operasi masyarakat, adalah membangun kohesisosial. Agama menyatukan orang melalui simbolisme bersama, nilai-nilai, dan norma.Pemikiran keagamaan dan ritual mendirikan aturan fair play, mengatur kehidupansosial kita.Simbol merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupanberagama. Hubungan yang suci tidak dapat dilakukan tanpa simbol-simbol. Simbolsimbolkeagamaan tersebut membangkitkan perasaan keterikatan dan kesatuan padaanggota-anggota pemeluk agama yang sama. Memiliki simbol yang sama merupakancara efektif untuk semakin memperkuat rsa persatuan di dalam kelompok pemeluk.Dalam budaya dominan yang telah mapan di masyarakat. Indonesia yangmayoritas beragama islam, ustaz/ustazah sebagai simbol agama merupakan figuryang memiliki pengaruh terhadap pengikutnya. Tokoh agama seperti misalnyaustaz/ustazah adalah figur yang dijadikan panutan dan memiliki pengaruh pada parajamaah, ummat, atau pengikutnya dan dianggap memiliki kharisma. Kharismamerupakan suatu kualitas tertentu dalam kepribadian seseorang dengan mana diadibedakan dari orang biasa dan diperlakukan sebagai seseorang yang memilikanugrah kekuasaan adikodrati, adimunusiawi, atau setidaknya kekuatan/ kualitas yangsangat luar biasa.Ustaz/ustazah di mana istilah tersebut merupakan salah satu status yang ada ditengah masyarakat dan memiliki peranan. Sosiologi menggunakan duaistilah, status dan peran, untuk menggambarkan bentuk dasar interaksi dalammasyarakat (Kimmel & Aronson, 2010: 76). Status Ustaz/ustazah merupakanpencapaian status yang dianggap begitu penting sehingga membayangi, mendominasidan mengendalikan posisi di masyarakat serta menjadi status master.Peran sosial adalah set perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menempatistatus tertentu. Peran sebagai tokoh masyarakat dalam hal ini ustaz/ustazah, tentunyamerupakan representasi dari adanya sifat-sifat tanggung jawab, mampumenyampaikan pesan-pesan agama.Iklan adalah sebuah message, artinya bahwa iklan mengandung suatu sumberyang mengeluarkannya, yaitu perusahaan yang menghasilkan produk yangdiluncurkan dengan semua keunggulannya, suatu titik resepsi-penerimaan, yaitupublik, dan suatu saluran transmisi, yang disebut media (Barthes, 2007: 281).Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, bisa dikaji lewat sistemtanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baikyang berupa verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks,terutama dalam iklan radio, televisi, dan film.Menunjukkan bagaimana representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi,peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan oleh John Fiske dalam bukuTelevision Culture, yaitu tentang The Codes of Television. John Fiske menyatakanbahwa untuk menganalisis iklan di media televisi dibagi menjadi tiga level, yaitulevel reality, level representation dan level ideology. Pada level reality kode-kodeyang diamati dapat berupa penampilan, pakaian, riasan, lingkungan, gaya bicara, danekspresi. Sedangkan pada level kedua, yaitu representation meliputi kamera,pencahayaan, musik dan suara, penarasian, dialog, karakter, dan pemeranan. Danpada level terakhir, level ideology yaitu berusaha menampilkan kode-kode yangtersembunyi dalam sebuah gambar seperti patriarki, kelas, individu, feminisme danjuga kode-kode di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan produk komersialdi televisi (Fiske, 2001: 4-5).Tiga level tersebut diurai dalam dua bagian, yakni analisis sitagmatik danparadigmatik. Pada analisis sintagmatik menjelaskan tanda-tanda atau makna-maknayang muncul dalam shot atau adegan dari berbagai aspek teknis yang merujuk padarepresentasi figur ustaz/ustaz pada iklan televisi pada level reality dan levelrepresentation. Level ideology akan diuraikan dengan analisis paradigmatik, dimanaanalisis paradigmatik berusaha mengetahui makna terdalam dari sebuah teks denganmelihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Analisisparadigmatic berguna dalam penelitian representasi, dan khususnya untukmemastikan tanda apa yang telah dipilih pada pengeluaran yang lain (Hartley, 2004:221).III. PembahasanAnalisis sintagmatik menguraikan tanda-tanda atau makna-makna yangmuncul dalam shot-shot dan adegan-adegan yang terjalin dari berbagai kombinasiaspek teknis yang merujuk pada representasi figur ustaz/ustazah pada iklan LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga yang dibintangi oleh Mamah Dedeh dan juga iklanTelkomsel yang dibintangi oleh Ustaz Maulana. Secara sintagmatik, iklan-iklantersebut akan dianalisis sebatas tanda-tanda yang muncul dari hal-hal teknis produksiiklan.Kode sosial dalam sebuah iklan televisi terlihat jelas dan nyata pada level ini,sehingga pemirsa bisa lebih dekat dengan unsur-unsur yang ada dalam iklan. Sepertisaat pemirsa melihat penampilan yang ditunjukkan oleh para endorser iklan.Penampilan yang ditambah dengan kostum dan riasan yang digunakan dan dipakaioleh para pemain akan memperjelas karakter seseorang dalam sebuah iklan.Lingkungan yang menjadi latar dalam iklan juga memberikan pengaruh yang sangatpenting dalam iklan. Bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh para pemain melalui mimikmuka dan ekspresi dapat membuat para pemirsa lebih memahami perasaan sangtokoh.Hal-hal dalam level reality telah diencode secara elektronik oleh kode-kodeteknis (technical code), sedangkan dalam level ke-2, yaitu level representation.Seperti halnya dalam produksi film, yang penting dalam sebuah iklan adalah gambardan suara, tanpa gambar dan suara yang mendukung maka tidak akan tercipta sebuahiklan yang bagus. Oleh sebab itu, untuk mendukung terciptanya gambar dan musikyang bagus terdapat beberapa aspek penting yang dibutuhkan. Aspek-aspek yangterdapat dalam level representation sebuah iklan bisa merepresentasikan pesan atauide yang ingin diutarakan oleh sutradaranya.Misalnya dalam level ini terdapat aspek kamera. Pengambilan gambar olehkamera akan membawa pemirsa kepada gambar-gambar yang dapatmerepresentasikan pesan dari sebuah iklan. Sebuah gambar dengan menggunakanteknik-tekniknya dapat membawa pemirsa mengenal tokoh-tokoh, tempat dansuasana dalam sebuah iklan. Dengan didukung pencahayaan yang baik, maka akanmenghasilkan gambar yang baik. Pencahayaan bertujuan untuk lebih memperjelasmaksud dari sebuah gambar. Demikian juga pada musik yang dapat mendukungterciptanya suasana dalam iklan. Dialog dan konflik juga menjadi aspek pentingdalam sebuah iklan. Dengan adanya konflik dan dialog yang menarik, maka akantercipta jalan cerita yang juga menarik.Secara garis besar pada level reality Mamah Dedeh dan Ustaz Maulana ditampilkan sesuai dengan statusnya di masyarakat, yakni dengan busanamuslim/muslimah sesuai dengan identitas agama islam, gaya bicara yang santun danpenuh ajakan, setting dan suasana yang akrab dengan statusnya sebagai ustaz/ustazahseperti tanah suci Mekah, dsb. Tetapi, masuk pada level representation aspek-aspekdi dalamnya mengerucut pada kepentingan si pembuat iklan. Seperti, pengambilangambar yang didominasi gambar produk komersial, dialog yang mengarah pada pesanpromosi produk, dsb.Berikutnya, pada analisis paradigmatik, berusaha mengetahui makna terdalamdari teks iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihathubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisisparadigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lainyang mungkin bersifat abstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasidalam analisis sintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik darirepresentasi figur ustaz/ustazah pada kedua iklan, maka didapat beberapa temuanpenelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbol keIslaman, di mana figurustaz/ustazah, tempat peribadatan, busana yang merupakan identitasmuslim/muslimah di jadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untukmendapat keuntungan. Kemudian, ustaz/ustazah yang muncul dalam iklan televisitidak lain adalah penanda dan memiliki kesamaan dari dunia konsumsi itu sendiri.Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh hadir dalam iklan-iklan tersebut hanyalahmewakili dunia pemakaian atau penggunaan produk-produk yang mereka iklankan,dengan kata lain representasi ustaz/ustazah pada iklan televisi hanya sebagai icondunia konsumsi. Temuan berikuntya adalah adanya mitos yang menganggap bahwasemua pesan yang disampaikan ustaz/ustazah adalah benar dan pantas dijadikanpanutan di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi.IV. KesimpulanTeori semiotika konotatif milik Barthes membawa peneliti menemukan arti„kedua„ di dalam iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel, dimanaMamah Dedeh dan ustaz Maulana yang merupakan figur ustaz/ustazah hadir dalamiklan televisi justru bukan sebagai penyampai pesan agama yang melainkanmenyampaikan pesan-pesan untuk mempromosikan produk komersial.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersialpada akhirnya menggeser peran ustaz/ustazah di masyarakat. Jika peran merupakanset perilaku yang diharapkan pada seseorang yang memiliki status, dalam hal iniustaz/ustazah dengan perannya menyampaikan pesan Tuhan, maka representasiustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersial pesan ustaz/ustazah adalahmenyampaikan pesan promosi produk komersial yang diiklankan.Agama menurut Email Durkheim diidentifikasikan sebagai pembangun kohesimasyarakat salah satunya melalui simbol. Ustaz/ustazah merupakan salah satu bentuksimbol agama Islam dimana figur tersebut juga menjadi alat untuk membangunkohesi di masyarakat. Teori tersebut kemudian digunakan pembuat iklan untukmenggiring jamaah dari ustaz/ustazah yang memiliki kohesi tersebut untukmenggunakan produk yang sama atau yang digunakan oleh panutannya seperti yangdirepresentasikan dalam iklan.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi yang diperlihatkan peneliti,serta temuan-temuan penelitian yang didapat, diharapkan mampu membuat pembacasebagai penikmat televisi untuk lebih berfikir kritis ketika akan memaknai pesanpesaniklan televisi yang kenyataannya sarat akan kepentingan.Daftar PustakaBarthes, Roland. 2007. Petualang Semiologi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.Fiske, J. 2001. Television Culture. London: Methuen & Co. Ltd.Hartley, John. 2004. Communication, Cultural, & Media Studies.Yogjakarta:Jalasutra.Kimmel, Michael. Amy Aronson. 2010. Sociology now: the essentials (2nd ed.).Boston: Allyn & Bacon.Stout, Daniel A. 2006. Encyclopedia of Religion, Communication, and Media.London and New York: Routledge.Zoest, Art Van. 1993. Semiotika. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
Pengaruh Terpaan Iklan HiLo School di Televisi dan Tingkat Konformitas Kelompok Sebaya Terhadap Persepsi Anak Tentang Tubuh Tinggi. ., Luthfiana Dewi; S.Sos, M.Si, Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.057 KB)

Abstract

Tingginya intensitas iklan pada jam tayang anak menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan mengingat anak-anak merupakan khalayak yang rentan terhadap pengaruh iklan televisi karena kemampuan kognitif mereka yang terbatas. Karena keterbatasan inilah maka anak-anak merupakan kelompok yang sangat mudah dipersuasi. Namun, iklan di televisi bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk dan mempengaruhi persepsi khalayak, persepsi juga bisa muncul karena tingkat konformitas kelompok sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara terpaan iklan HiLo School di televisi ( ) dan tingkat konformitas kelompok sebaya ( ) terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi (Y). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Advertising Exposure Theory dengan teori pendukung Priming Theory dan Social Comparison Theory. Tipe penelitian dalam penelitian ini adalah ekplanatori. Teknik sampel yang digunakan untuk menentukan sampel adalah non probability sampling, dengan total sampel 50 responden. Alat yang digunakan untuk analisi data adalah uji satistik regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan variabel terpaan iklan memiliki pengaruh sebesar 4,1% terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi. Namun pengaruh antara terpaan iklan hilo school dan persepsi anak tentang tubuh tinggi tidaklah signifikan. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi sebesar 0,160 dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,526. Hasil penelitian ini menolak Advertising Exposure Theory dan teori pendukung Priming Theory. Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan variabel tingkat konformitas kelompok sebaya memiliki pengaruh sebesar 24,7 % terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi. Pengaruh antara tingkat konformitas kelompok sebaya terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi merupakan pengaruh yang signifikan. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi sebesar 0,000 dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,295. Dengan demikian semakin tinggi tingkat konformitas kelompok sebaya, semakin baik/positif persepsi anak tentang tubuh tinggi. Hasil penelitian ini mendukung Social Comparison Theory.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ORANG TUA – ANAK KETIKA MENYAKSIKAN TAYANGAN ANAK-ANAK DI MEDIA SOSIAL TIK TOK Abdulhakim Arrofi; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.399 KB)

Abstract

This study aims to understand how the parent-child communication experience when watching children's shows on social media Tik Tok. This research is motivated by the emergence of a social media phenomenon that is widely used by the community, Tik Tok, whose presence makes various types of controversies in the form of video content that is not suitable for consumption by children. This research was conducted through a phenomenology approach and with a qualitative descriptive method. The main theory used in this study is the Phenomenology Theory of Alferd Schutz. Data collection techniques were carried out by in-depth interviews with 8 informants. The results of this study found that parents understand that Tik Tok social media contains negative content for children. In addition, parents can give examples of negative content, namely vulgar shows, erotic, lipsync adult songs. In communicating with children about shows in Tik Tok parents do it based on two motives namely future motives (in order motive) and past motives (because motive). Future motives in the form of motives to be achieved, namely aiming that children do not do negative things, understand the boundaries in social media and foster the creative nature of children in the future, in doing that communication parents do it by discussing and proposing appropriate shows age of child. Past motives are the reason for parents to communicate with children. Parents' experience derived from an understanding of social media Tik Tok makes parents communicate the programs on social media Tik Tok and apply actions in the form of regulations, among others, by limiting time to access, accompanying children and discussing shows with children.
Analisis Bingkai: Konstruksi Koruptor di Majalah Detik Rossa Oktaviyani; Hapsari Dwiningtyas; Dr Sunarto; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.023 KB)

Abstract

Media massa cenderung menggambarkan perempuan pelaku kejahatan seperti pembunuhanmaupun pelecehan seksual dengan menonjolkan penderitaan mental, psikologis dan cacatfisik. Lain halnya jika laki-laki yang melakukan tindak kejahatan, media lebih berfokus padakorbannya, motif pelaku, atau modus kejahatannya. Fenomena yang terjadi sekarang adalahbanyaknya perempuan yang bekerja di sektor publik namun melakukan tindak kejahatankorupsi. Media sebagai sumber informasi turut mengambil andil dalam membentukkonstruksi masyarakat tentang para koruptor iniPenelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana sikap Majalah Detikdalam mengemaspemberitaan laki-laki dan perempuan pelaku korupsi. Teori yang digunakan diantaranya teorikonstruksi realitas sosial, teori konstruksi sosial media massa, konsep media and crime danmaskulinitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatananalisis framing model Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki. Analisis framing model inidibagi menjadi empat struktur, yaitu: struktur sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Berdasarkan struktur sintaksis diperoleh frame yang menunjukkan perempuanmanipulator kalah yang sedang menjalani karma dan laki-laki playboy yang bersalah namunmasih berani melawan. Struktur skrip diperoleh frame perempuan manipulator yang jelasbersalah dan sedang menjalani karma dan laki-laki agresor masih berani melawan. Strukturtematik diperoleh frame perempuan manipulator kalah yang sedang menjalani karma danlaki-laki agresor masih berani melawan. Struktur retoris diperoleh frame perempuan cantikyang tidak benar sebagai simbol komersialisme yang sedang menjalani karma dan laki-lakiplayboy yang bersalah namun masih berani melawan. Dari keempat struktur tersebut dapatdiperoleh frame utama yaitu perempuan pelaku korupsi layak mendapatkan hukumansedangkan bagi laki-laki pelaku korupsi frame utamanya adalah laki-laki yang masihmemiliki kekuatan untuk melawanKata kunci: framing, konstruksi, korupsi, Majalah Detik
THE CORRELATION OF BUZZ MARKETING EXPOSURE OF EVENTSMGID AND EDUCATIONAL LEVEL OF FOLLOWER WITH FOLLOWER DECISION TO COME TO EVENTSMGID MEDIA PARTNER Maulana, Ahmad; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.946 KB)

Abstract

Holding an event is one of marketing communication tool that conducted by a company, institution, or organization to achieve certain goals. In the implementation, to reach the desired targets of visitors, event organizer can invite buzzer media partner as third party to promote their event, including in Semarang city. One of buzzer media partner form that exist in Semarang is EVENTSMGID. EVENTSMGID have done media buzzing well to attract consumers. However, in reality there are some events which are cooperate and trusting marketing strategy through social media to EVENTSMGID could not reach the visitors that they want so they loss.Therefore, this research aim to know whether buzz marketing of EVENTSMGID is correlated with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner. Beside buzz marketing exposure, this research also examining the correlation of Educational Level of Follower with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner. The theory used in this research is Elaboration Likelihood Theory. This is explanatory research that will explaining cause and effect among variables. Sample of this research are active followers of EVENTSMGID during one last year. The amount of respondents are 96 peoples took based on purposive sampling. Data analysis used in this research is Kendall Tau-B analysis. The results of this research showed that the exposure of buzz marketing has positively correlated with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner and the educational level of follower has negatively correlated with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner.
PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITI ENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSI PERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIA TERHADAP MINAT BELI PRODUK Yuaristi Ekantina; Agus Naryoso; Yanuar Luqman
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITIENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSIPERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIATERHADAP MINAT BELI PRODUKOleh : Yuaristi EkantinaIlmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas DiponegoroSemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketepatan penggunaan selebriti endorser Oreo IceCream orange dan frekuensi perbincangan iklan di jejaring sosial media terhadap minat beli produktersebut. Penelitian kuantitatif ini merupakan tipe penelitian explanatory. Subjek penelitian adalahremaja SMA di Kota Semarang. Data diperoleh melalui wawancara, dan kuesioner. Teknikpengambilan sampel dengan menggunakan random sampling, sebanyak 90 responden. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan uji statistik menggunakan rumus konkordansi Kendall. Teoriyang mendasari penelitian ini adalah Model VisCAP dan teori WOM (Word of Mouth). Uji korelasidiantara ketiga variabel menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 yang artinya diantara ketiga variabelmemiliki hubungan yang sangat kuat, di mana antara variabel saling mempengaruhi satu sama lain.Penggunaan endorser yang tepat dalam sebuah iklan serta terjadinya fenomena word of mouthterbukti efektif dalam mempengaruhi minat konsumen untuk membeli produk.Kata Kunci : Selebriti Endorser, Perbincangan Iklan, Minat Beli, model VisCAP, Word Of MouthABSTRACTThis research aims to know the influence appropriate uses selebrity endorser Oreo Ice Cream Orangeand conversation frequency of advertising in social media network to purchase intention these product.This quantitative research is a type of explanatory. The underlying theory this research is VisCAPmodels and theories WOM (Word of Mouth). Subjects are high school students in Semarang. Datawere obtained through interviews and questionnaire. Sampling technique using random sampling, totalof 90 respondents. This study uses quantitative statistical test using the formula Kendall concordance.Test the correlation between these three variables showed a significance of 0.000, which means thesethree variables has a very strong correlation, in which the variables influence each other.Anappropriately used celebrity in advertisement as well as the phenomenon of word of mouth provedto be effective in influencing consumer intention to buying the product.Keywords : Selebrity Endorser, Conversation of Advertising, Purchase Intention, VisCAP model,Word of Mouth1. PENDAHULUANDi zaman yang semakin modern ini,persaingan bisnis semakin dinamis, kompleks,dan serba tidak pasti. Setiap perusahaan dalamindustri ini berusaha untuk menarik perhatian(calon) konsumen melalui pemberianinformasi tentang produk. Dalam hal ini,periklanan merupakan salah satu bentukpembeian informasi mengenai produk sebagaifungsi komunikasi dalam melakukanpemasaran. Saat ini, banyak produk yangsaling berlomba-lomba untuk menarik minatkonsumennya melalui penyampaian iklan yangmenarik. Berbagai stretegi periklananditerapkan untuk menarik minat masyarakatterhadap produk yang diiklankan. Bintangtelevisi, aktor film, dan atlit terkenal saat inibanyak digunakan dalam iklan majalah,maupun TV komersial untuk mendukung suatuproduk. Selain itu selebriti dapat jugadigunakan sebagai alat yang cepat untukmewakili segmen pasar yang dibidik (Royan,2005:12). Dalam hal ini produk Oreo IceCream Orange yang menyasar untuk anakanakdan remaja sebagai target market mereka,menggunakan Afika sebagai endorser produkOreo Ice Cream Orange, dalam iklan tersebutsosok Afika digambarkan sebagai sosok yangperiang, cerdas dan sangat menggemaskandengan gaya dan tingkah anak-anak seusianya.Dalam tayangan iklan Oreo Ice Cream Orangedimana terdapat dua gadis cilik, yaitu Afikabersama temannya sedang menikmatipengalaman mereka dalam merasakan sensasidingin Oreo Ice Cream Orange. Iklan tersebutmenggambarkan keceriaan, keseruan dankelucuan mimik muka mereka, dengan atributpakaian perlengkapan dingin serta ritual“diputar-dijilat-dicelupin” dalam menikmatibiskuit tersebut. Dalam hal ini iklan Oreo IceCream Orange menggunakan teknikadvertising Slice of life yang dimaksud adalahiklan oreo ini berhasil menstimulasimasyarakat dalam situasi kehidupansebenarnya (real life). Slice of slice advertisingini terlihat dalam gambar, dimana Afika yangsedang belajar di rumah (seperti kegiatan anakkecil pada umumnya), kemudian diajakbermain oleh temannya selain itumenggunakan teknik Vignettes dan Sittuation.Menurut Russel dan kawan-kawan, produkprodukyang sering menggunakan teknikseperti ini adalah minuman, permen, danproduk-produk lain yang sering dikonsumsidalam kehidupan sehari-hari. Gambar yangditampilkan menunjukkan sejumlah orangyang tengah asik menikmati suatu produk,seperti layaknya menikmati hidup (Kasali,1995:95).Berikut merupakan grafik perbincangan Afikayang sempat menjadi trending topic di linimasa Twitter :Gambar 1.1 (sumber :http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adeledan-afika , 4 Maret 2012, 21:33 WIB)Dari grafik diatas dapat kita lihatpekan ketiga Februari yang lalu (13-19Februari 2012), dari 15 topik yang terjaring diSalingsilang.com, terdapat empat topik yangpaling populer: Hari Valentine, AngelinaSondakh (politisi Partai Demokrat), Adele dariajang Grammy Awards, dan bintang iklanOreo, Afika. Topik lainnya datang dari ajangsepakbola, dan peristiwa dari acara televisi dankehidupan sehari-hari.Gambar 1.5 (sumber :http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afikabila/,4 Maret 2012, 22:45 WIB)Tanda merah di sebelah kiri grafik,dengan kata Bantu iklan oreo, justru kata-kataAfika mendapatkan urutan lebih tinggi dalamanalisa terhadap 499 Twitter pada 21 Februari2012 pukul 17.08 WIB. Dengan adanya datadatadi atas tersebut, membuktikan bahwasosok Afika sangatlah populer di dunia mayakarena membintangi produk Oreo Ice CreamOrange di televisi banyak orang menyukaiwajahnya yang imut dan tingkahnya yang amatmenggemaskan. Bahkan justru nama Afikalebih dikenal oleh masyarakat dibandingkandengan produk iklan yang ia bintangi, yaituvarian rasa baru dari biskuit Oreo. Kata kunci(key word) pencarian tidak secara langsungmerujuk kepada produk “Oreo”, akan tetapijustru lebih merujuk kepada endorser “Afika”.Bahkan dengan adanya perkembangan socialmedia sekarang ini, hampir di semua socialmedia terjadi “Demam” Afika. Sering kita lihatfoto-foto yang sudah mengalami olah digital,dimana dialog antara Afika dan temannyadalam iklan Oreo diplesetkan menjadi sebuahcerita bergambar yang lucu. Kepolosan Afikaini dijadikan komik strip oleh para penggunaInternet. Hal inilah yang akhirnya membuatnama Afika semakin berkibar. Komik yangkebanyakan dapat membuat kita tersenyumtersebut bahkan sempat menghebohkan duniamaya. Namun yang perlu digaris bawahiadalah bahwa salah satu tujuan iklan jamansekarang adalah menjadikan iklan tersebutbahan perbincangan di situs jejaring sosialkarena itu akan menjadi media promosi gratisuntuk mereka. Di era ini, komunikasipemasaran diwarnai dengan makinmembludaknya data dan makin cerdasnyakonsumen. Facebook, Twitter, Google telahmembawa banyak orang ke dalam duniapercakapan online. Social media merupakansumber informasi tentang berbagai macamperistiwa dan update, bahkan pemantauan dirisendiri oleh jutaan pengguna di seluruh dunia.Social media juga menjadi tools untuk bereaksiterhadap peristiwa yang terungkap di mediasecara real time. Fenomena ini membuat socialmedia makin powerful dan hanya masalahwaktu sebelum beralih ke komunitasriset sebagai sumber informasi sosial,pemasaran komersial, dan politik yang kaya.(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)Fenomena sosial media jugamelahirkan selebriti baru di luar jalurkonvensional seperti yang terjadi pada limaatau sepuluh tahun lalu. Banyak orang tiba-tibamenjadi terkenal dan sukses karena sosialmedia. Mereka kini menjadi brand ambassadoryang dengan segala kreativitasnya berhasilberimprovisasi mengemas pesan-pesanmenjadi sangat menarik dan interaktif sesuaidengan target market brand. Implikasinyaadalah perusahaan semakin ketat memantaudan menjaga bagaimana caranya supaya pesanyang disampaikan oleh para ambassadortersebut sesuai dengan positioning merek.Tentunya setiap endorser pasti memiliki gayakomunikasinya masing- masing.Oreo Ice Cream Orange merupakanvarian rasa baru dari biskuit Oreo yangmemiliki cream dengan sensasi dingin sepertiIce Cream rasa jeruk. Target marketnya adalahanak-anak mulai usia 6-12 tahun, serta remajausia 13-19 tahun. Harga Oreo sangatlahterjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat.Oreo sebagian besar didistribusikan pada minimarket ataupun toko didaerah perkotaan. Oreokental dengan ciri khas ritualnya “Diputar-Dijilat-Dicelupin” yang disebut juga sebagai‘Momen Oreo’. Biskuit Oreo merupakan salahsatu merek biskuit yang cukup dikenal diIndonesia. Kondisi ini terlihat jelas padaperolehan top brand index biskuit Oreo selamaempat tahun terakhir. Berikut disajikan padaTabel 1.2 di bawah ini.Gambar berikut merupakan TopBrand Index beberapa produk biskuit selamaempat tahun terakhir :Gambar 1.6 (sumber :http://www.topbrand-award.com/topbrand-survey/survey-result/top-brandresult-2012/#, diunduh : 12 Maret, 15:43WIB)Dari grafik di atas tersebut dapatdilihat bahwa produk biskuit Oreo memilikibeberapa kompetitor yang cukup kuatkedudukannya, yaitu produk biskuit Biskuatdan Roma yang selalu menduduki peringkattop brand award, dengan top brand indexminimum sebesar 10%.Dalam hal ini, Top Brand Indexdiukur dengan menggunakan 3 parameter,yaitu top of mind awareness (yaitu didasarkanatas merek yang pertama kali disebut olehresponden ketika kategori produknyadisebutkan), last used (yaitu didasarkan atasmerek yang terakhir kali digunakan/dikonsumsi oleh responden dalam 1 repurchasecycle), dan future intention (yaitudidasarkan atas merek yang ingin digunakan/dikonsumsi di masa mendatang). Top BrandAward diberikan kepada merek-merek didalam kategori produk tertentu yangmemenuhi dua kriteria, yaitu merek-merekyang memperoleh Top Brand Index minimumsebesar 10%, dan merek-merek yang menuruthasil survei berada dalam posisi top three didalam kategori produknya.Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis pengaruh ketepatan penggunaanselebriti endorser dan frekuensi perbincanganmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange di05101520253035RomaBiskuatKhongGuanRegalOreoMondeBetterjejaring sosial media terhadap minat beliproduk.Tayangan iklan televisi produk Oreoversi Afika cukup tenar di dunia maya, banyakorang yang memperbincangkan kelucuan dankeluguan afika dalam iklan tersebut. Oranglebih tertarik untuk memperbincangkan sosokdan tingkah afika yang lucu danmenggemaskan dibandingkan dengan produkOreo Ice Cream Orange yang ia bintangi.Selayaknya seeorang endorser berfungsi untukmemasarkan produk yang ia iklankan, akantetapi tak jarang yang terjadi justru sebaliknya,dimana ia memperoleh ketenaran ataupopularitas melalui iklan yang ia bintangi,seperti halnya dalam kasus ini. Oleh karena itujika hal tersebut terjadi akan dapatmengakibatkan endorser akan lebih dikenaldan disukai masyarakat, sementara produkakan tertinggal serta penjualan tidakmeningkat, atau tidak berpengaruh terhadapminat beli masyarakat terhadap produk yangdiiklankan.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Dalam buku “AdvertisingCommunication and promotion management”tulisan John Ressiter dan Larry Percy,disebutkan bahwa selebriti dapat digunakanoleh pemasar untuk melakukan boostingterhadap satu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang. Attraction lebihmenitikberatkan pada daya tarik sang bintang,personality, tingkat kesukaan masyarakatkepadanya (nge-fans), dan kesamaan dengantarget user. Power adalah kemampuan selebritidalam menarik konsumen untuk membeli(Royan, 2005:15).Bintang iklan Afika cukup banyakmenarik perhatian masyarakat. Seperti halnyadi Jejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Sebenarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth dilahirkan justruuntuk kepentingan komunikasi pemasaranyang lebih efisien dan credible. Word of mouthditujukan untuk menggantikan programkomunikasi pemasaran konvensional sepertiiklan yang sudah kehilangan kredibilitas danterlalu memakan biaya. Keberhasilan WOMtidaklah tunggal. WOM juga dipengaruhi olehperan public relations, media iklan, yangmempunyai peran untuk membangunawareness akan sebuah produk atau merek.Jika konsumen datang ke point of purchaseuntuk memutuskan membeli barang atau tidak,WOM menjadi sebuah faktor yangmenentukan. Advertising membangkitkankesadaran orang. Namun, orang yang inginmembeli produk dipengaruhi oleh referensidari orang lain.Banyak orang dan juga komponenyang terlibat dalam menciptakan saranapromosi bagi suatu brand atau produkmenggunakan social media, kesemuanya ituharus mampu memunculkan influence ataupengaruh. Influence dideskripsikan sebagaikemampuan dalam membentuk dan mengubahpesan yang mampu menarik perhatian orangorangdan menginspirasi orang-orang untukmengambil tindakan dari atensi yang berhasildimunculkan. Influencer ini harus mampumembentuk ikatan yang sangat kuat ataudiistilahkan dengan Engagement. Engagementmengandung arti keterikatan yang dibangunsecara langsung atau tidak langsung dari tujuanutamanya untuk memberikan perhatian padaproduk atau brand juga memungkinkanterjadinya interaksi di dalamnya, ini dilakukansecara virtual karena social medialah sebagaitool-nya (Juju&Sulianta, 2010:10-11).Keberadaan selebriti dalam iklanyang dapat berjalan selaras dengan frekuensiperbincangan iklan dalam media jejaring sosialakan memunculkan minat beli konsumen.Minat membeli merupakan tahap awal dariperilaku konsumen. Engel (1994:3)mndefinisikan perilaku konsumen sebagaitindakan yang langsung terlibat dalammendapatkan, mengkonsumsi danmenghabiskan produk dan jasa, termasukproses keputusan yang mendahului danmenyusuli tindakan ini.Minat membeli merupakan aktivitaspsikis yang timbul karena adanya perasaan danpikiran yang diikuti oleh perasaan senang dancenderung untuk mencari terhadap suatu objekyaitu barang atau jasa yang diinginkan danmerupakan tahapan sebelum terjadi keputusanmembeli (Marx dalam Engel, 1994: 201).Hipotesis penelitian dimana terdapathubungan positif antara variabel pengaruhketepatan penggunaan selebriti endorser OreoIce Cream Orange dan frekuensi perbincanganiklan di jejaring sosial media terhadap minatbeli produk, artinya semakin tepat selebritiyang digunakan dalam sebuah iklan Oreo IceCream Orange, maka semakin tinggi minat beliterhadap produk tersebut. Serta semakin seringfrekuensi perbincangan iklan yang dilakukandi jejaring sosial media , maka semakin tinggiminat beli terhadap produk tersebut.2. METODETipe penelitian yang digunakanadalah eksplanatory (penjelasan), yaitu untukmejelaskan ada tidaknya hubungan danpegaruh dua gejala atau lebih(Singarimbun,1995 : 5). Yang dimaksudkandalam penelitian ini untuk menegetahui sejauhmana pengaruh ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli Produk.Sampel dari penelitian ini adalahsiswa SMA Negeri 1 Semarang kelas X dan XIyang memiliki akun jejaring sosial dan masihaktif menggunakannya dalam ±5 bulanterakhir. Dan yang menjadi sample riil yangdidapat menggunakan rumus Slovin adalahsebanyak 90 siswa.Teknik sampling yang digunakanadalah teknik random sampling, yaitu teknikpengambilan sample yang memberi peluangatau kesempatan sama bagi setiap unsur atauanggota populasi untuk dipilih menjadisample, dengan kata lain penentuan sampelberdasarkan tidak berdasarkan pertimbanganatau kriteria responden tertentu. Alat danteknik pengumpulan data yang digunakanuntuk memperoleh data dalam penelitian iniadalah interview dan kuesioner.3. PEMBAHASANBerdasarkan hasil perhitunganstatistik konkordasi Kendall diperoleh nilaikoefisien sebesar 0,909 dengan tarafsignifikansi sebesar 0,000. Hasil uji hipotesismembuktikan bahwa ketika ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange dan frekuensi perbincangan iklan dijejaring sosial media bersama-sama,mempengaruhi minat beli produk tersebut.Dengan demikian, hipotesis yang menyatakanbahwa terdapat hubungan positif antaravariable pengaruh ketepatan selebriti endorserOreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di sosial media terhadapminat beli terhadap produk dapat diterima.Selebriti dapat digunakan olehpemasar untuk melakukan boosting terhadapsatu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti, Afika dinilai cukuppopular karena dia sebelumnya memenangkankontes Bebelac Star dan membintangi iklanBebelac “You are my everything”. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang, serta layak dan dapatdipercaya. Tokoh Afika dinilai respondencukup kedible, selain karena dia merupakantokoh anak-anak yang polos, aktingnya pundinilai cukup memuaskan dan tidak dibuatbuat.Attraction lebih menitikberatkan padadaya tarik sang bintang, personality, tingkatkesukaan masyarakat kepadanya (nge-fans),dan kesamaan dengan target user. Afikadengan tingkahnya yang lucu danmenggemaskan banyak disukai olehmasyarakat, selain itu wajahnya yang cantikdan imut-imut juga memiliki daya tariktersendiri. Dan yang terakhir adalah Poweryang merupakan kemampuan selebriti dalammenarik konsumen untuk membeli (Royan,2005:15).Pengalaman manusia hanyamerupakan perubahan sikap yang temporersifatnya ketika dipersuasi melalui jalurperiferal dibandingkan dengan perubahan yangbersifat tetap yang dialami dalam jalur utama.Sikap yang dibentuk melalui jalur utama akanrelatif tetap dan bertahan terhadap perubahan.Seperti yang juga dijabarkan dalam hipotesispertama (H1) hasil uji korelasi dijelaskanbahwa nilai koefisien bertanda positif yangberarti terjadi hubungan positif, namun beradapada kondisi yang lemah karena nilai koefisienkorelasi < 0,5. Yang berarti ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange terbukti memiliki pengaruh dankorelasi dalam menarik minat konsumen untukmembeli produk, hanya saja tidak terlalu besar.Secara komparatif, ketika kecenderunganelaborasi rendah (karena topik komunikasitidak terlalu relevan dengan penerima pesan),perubahan sikap dapat terjadi, namun sifatnyatemporer kecuali jika konsumen dihadapkansecara kontinu (Shimp, 2003:248). Afikamemang pernah memenangkan kontes BebelacStar yang di tayangkan di Televisi, akan tetapiberdasarkan wawancara peneliti, repondenkurang mengenal sosok Afika sebelum iamembintangi Iklan Oreo Ice Cream Orange.Nama Afika booming dan banyak dibicarakansetelah ia membintangi produk Oreo IceCream Orange.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Fenomena Afika cukupmenghebohkan dunia maya, seperti halnya dijejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Pada dasarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional. Sepertihalnya banyak pula yang membuat ‘komikstripplesetan’ perbincangan Afika dalam iklanOreo Ice Cream Orange. Consumer generatedadvertising adalah bentuk baru yang menarikdari keterlibatan pelanggan yangmemanfaatkan kemampuan komunikasidigital.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Seperti fenomena yang terjadi dalamkasus ini, beberapa orang yang mengunduhtentang iklan Oreo Ice Cream Orange tersebut,baik berupa video, komik strip dan lainsebagainya ke berbagai jejaring sosial media,cukup banyak menggundang tanggapan dankomentar dari pengguna jejaring sosial medialainnya. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Seperti halnya ketika Afika dalam iklan OreoIce Cream menjadi perbincangan (TrendingTopic) di Twitter, Serta banyaknya yangmelihat dan me likes video iklan Oreo IceCream Orange di youtube atau bahkanbanyaknya like fanspage Afika di Facebook.Bahkan banyak pula yang membuat konten‘tiruan’ mengenai profil Afika di Facebook.Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth yang berawal darisesuatu yang natural dan tidak terencanaakhirnya berkembang menjadi bagian daripromotion mix yang dapat didesain dandirencanakan layaknya melakukan rencanakomunikasi pemasaran lainnya seperti iklandan even. Dalam hal ini banyaknya masyarakatyang membicarakan iklan tersebut di jejaringsosial media secara tidak langsung telah terjadiWOM (word of mouth) yang memiliki peluanguntuk mempersuasi calon konsumen untukmembeli produk yang dibicarakan, yangtermasuk dalam level Word of mouth yangmembuat konsumen yang mempromosikanproduk perusahaan, namun kegiatan promosidan komunikasi seperti ini biasanya tidakterlalu mempengaruhi penjualan selain hanyamenambah kehebohan dan menambah jumlahantrian (Harjadi&Fatmasari, 2008:75). Sepertiyang juga dijabarkan dalam hipotesis kedua(H2) hasil uji korelasi dijelaskan bahwa nilaikoefisien bertanda positif yang berarti terjadihubungan positif, namun berada pada kondisiyang lemah karena nilai koefisien korelasi <0,5. Yang berarti frekuensi perbincangan iklandi jejaring sosial media terbukti memilikipengaruh dan korelasi dalam menarik minatkonsumen untuk membeli produk, hanya sajatidak terlalu memiliki pengaruh yang besar.Oreo merupakan produk yang cukupdiminati oleh masyarakat, terutama anak-anakdan remaja. Walaupun persaingan produk Oreodengan beberapa produk biskuit lainnya tinggi.Keseluruhan responden tetap memilih produkOreo. Hal ini di sebabkan karena produk Oreomerupakan produk yang dipercaya olehkonsumen, baik segi kualitas rasa, dan lainsebagainya. Minat membeli merupakanaktivitas psikis yang timbul karena adanyaperasaan dan pikiran yang diikuti olehperasaan senang dan cenderung untuk mencariterhadap suatu objek yaitu barang atau jasayang diinginkan dan merupakan tahapansebelum terjadi keputusan membeli (Marxdalam Engel, 1994: 201).4. KESIMPULANDiantara ketiga variable yang diteliti,dimana Ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli produk memiliki korelasisangat kuat. Hasil uji korelasi antara variableX1, X2, dengan Y diperoleh signifikansisebesar 0,000 yang menunjukkan bahwahubungan antar variable sangat signifikan. Jikanilai signifikansi < 0,05 berarti pengaruh antarvariable sangat signifikan. Maka hipotesisditerima. Dimana penggunaan selebriti yangtepat dalam iklan Oreo Ice Cream Orange,menjadikan iklan tersebut banyakdiperbincangkan di jejaring sosial media, yangmana secara tidak langsung dapatmempengaruhi sikap seseorang untuk tertarikmembeli produk tersebut.Pemanfaatan ketenaran endorserAfika dalam membintangi iklan tersebutmemiliki peluang dalam merubah sikapkonsumen, namun sifatnya temporer kecualijika konsumen dihadapkan secara kontinudengan menampilkan bintang iklan tersebutdalam iklan-iklannya. Dengan dihadirkannyaendorser yang tepat secara kontinu tentunyaakan dapat merubah sikap calon konsumenagar tertarik untuk membeli produk tersebut.5. DAFTAR PUSTAKAAndeas, Diki. 2010.Chickenstrip:Why Did The Chicken BrowseThe Social Media?. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoArens, William F. 2006.Contemporary Advertising. New York:McGrawHill/Irwin.Durianto, Darmadi., Sugiarto & ToniSitinjak. 2001. Strategi Menaklukan Pasar:melalui riset ekuitas dan perilaku merek.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka UtamaEngel, J.F., Roger D. Blackwell &Paul W. Miniard. 1994. Perilaku konsumen(Edisi keenam Jilid 1). Alih Bahasa: Drs.Budijanto. Jakarta: Binarupa Aksara.Griffin, EM. 1997. A First Look AtCommunication Theory (Third Edition). TheMcGraw-Hill Companies, IncHasan, Ali. 2008. Marketing.Yogyakarta: MedPress.Holmes, David. 2005.Communication Theory: Media, Technology,Society. London, Thousand Oaks, New Delhi:Sage Publications.Ibnu Widiyanto. 2008. Pointers :Metodologi Penelitian. Semarang: BP UndipJuju, Dominikus & Feri Sulianta.2010. Branding Promotion with SocialNetwork. Jakarta: PT. Elex MediaKomputindo.Kardes, Frank R., Maria L. Cronley,and Thomas W. Cline. 2010. ConsumerBehaviour. USA : Cengage LearningKurniawan, Albert. 2009. BelajarMudah SPSS Untuk Pemula. Jakarta : PT.Buku Kita.Littlejohn, Stephen W., and Karen A.Foss. 2009. Encyclopedia of CommunicationTheory. London: Sage Publications.McQuail, Denis. 2000. Mediaperformance; mass communication and thepublic interest. London: Sage Publications.Nunnally dalam Ghozali, Imam.2001. Aplikasi Analisis Multivariate denganProgram SPSS, Badan Penerbit UniversitasDiponegoro, Semarang.Royan, Frans M. 2005. MarketingSelebritis. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoShimp, Terence A. 2000/2003.Advertising Promotion and Supplement Aspectof Integrated Marketing Communication 5thEdition ; Alih Bahasa : Periklanan Promosidan Aspek Tambahan Komunikasi PemasaranTerpadu, edisi ke-5 , Terjemahan: ReyvaniSyahrial. Jakarta : ErlanggaSuprapti, Ni Wayan, Sri. 2010.Perilaku Konsumen Pemahaman Dasar danAplikasinya dalam Strategi Pemasaran. Bali :Udayana University PressThurlow, Crispin dan kawan-kawan.2004. Computer Mediated Communication :Social Interaction and The Internet. London :Sage Publications.Trompenaars, Fons dan PeterWoolliams. 2004. Marketing Across Cultures.West Sussex, England: Capstone PublishingLtd.JurnalHarjadi, Dikdik & Dewi Fatmasari.,2008. Word of mouth (WOM) communicationsebagai alternatif kreatif dalam komunikasipemasaran. Equilibrium Vol 4 No.8, 72-78Internet(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)(http://dc204.4shared.com/doc/N6ZM5ijl/preview.html (Majalah MARKETING –Edisi Khusus TOP BRAND / 2008), diaksespada tanggal 22 Oktober, pukul 01.34 WIB)(http://www.mayora.com/ourcompany/mayora-at-a-glance/, diakses padatanggal 23 Oktober, pukul 20.00 WIB)(http://www.khongguan.co.id/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=6&Itemid=54, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 20.28 WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-result/top-brand-result-2012/#,diakses pada tanggal 12 Maret, pukul 15:43WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-report/, diakses pada tanggal 13November 2012, pukul 01:52 WIB)(http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afika-bila/,diakses pada tanggal 4 Maret 2012, pukul22:45 WIB)(http://www.scribd.com/doc/111639637/Kraft-Foods-Company, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 18:49 WIB)(http://poppyfriscilla.blogspot.com/2012/04/analisis-iklan-oreo-terbaru-dengan.html, diaksespada tanggal 18 Juni 2012, pukul 05:09 WIB)(http://www.hanyaoreo.com/products.php,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:45 WIB)(http://www.idnewsblast.com/foto-profil-afikaiklan-oreo-ice-cream.html, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:21 WIB)(http://antumfiqolbi.wordpress.com/2012/03/19/kumpulan-komik-afika-update/, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:07 WIB)(http://salingsilang.com/baca/ketika-afikabernyanyi-paman-datang, diakses pada tanggal4 Maret 2012, pukul 21:36 WIB)(http://blogsiffahartas.blogspot.com/2011/07/produk-biskuit-oreo-produksi-pt-kraft.html,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:17 WIB)(http://balakampret.blogspot.com/2012/02/kumpulan-komik-strip-lucu-afika-oreo.html,diakses pada tanggal 05 Maret 2013, pukul02:54 WIB)(http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adele-danafika,diakses pada tanggal 4 Maret 2012,pukul 21:33 WIB(http://salingsilang.com/baca/pola-marketingdi-media-sosial, diakses pada tanggal 18 Juni2012, pukul 05:31 WIB)(http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_kreasi_konsumen, diakses pada tanggal 05 Maret2013, pukul 02.20 WIB)
Pemaknaan Jilbab Kreatif bagi Perempuan Muslim sebagai Identitas Diri Mar&#039;atul Hanifah; Wiwid Noor Rakhmad; Taufik Suprihartini; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.699 KB)

Abstract

Peminat menggunakan jilbab meningkat setelah model-model jilbab kreatif mulai hadirmenghiasi ranah fashion. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan jilbab sebagai trend fashiontelah membuat sebagian perempuan muslim lainnya menjadi dapat berkreasi mengenai modeljilbab seperti apa yang ingin dikenakannya. Karena jilbab yang dahulu dikenal denganmodelnya yang polosan dan ukuran yang besar atau lebar, telah berubah menjadi jilbab yangserba modern dan dinamis. Hal ini bergantung pada pengetahuan dan pengalaman perempuanmuslim dalam memaknai jilbab. Penampilan masih terus berperan penting dalammencerminkan identitas pemakainya, serta berdampak pada orang lain dalam menentukansikap terhadap orang tersebut. Meskipun sebagian orang tidak memperdulikannya, dan hanyamengubah penampilan sesuai tren yang sedang berkembang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemaknaan mengenai jilbab yangdipahami oleh perempuan muslim sebagai sarana mempresentasikan diri. Penelitian inimerupakan penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Sedangkan teknik analisis datadilakukan berdasarkan model analisis data fenomenologi dari Von Eckartsberg. Penelitimenggunakan teori dari Erving Goffman tentang presentasi diri yang menjelaskan beberapahal seperti busana yang dipakai, tempat tinggal, cara berjalan, berbicara, dan lain-laindigunakan untuk presentasi diri. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakanindepth interview kepada lima informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni perempuanmuslim yang menggunakan jilbab syar’i, menggunakan jilbab kreatif, dan belummenggunakan jilbab.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan muslim memaknai jilbab kreatifsebagai pakaian yang modis, elegan, dan menjadikan penggunanya terlihat lebih cantik.Meski alasan mereka menggunakan jilbab adalah karena jilbab merupakan pakaian wajibbagi perempuan muslim, terkadang secara sadar ataupun tidak, jilbab kreatif tersebutmengabaikan beberapa aturan berjilbab dalam Islam dan lebih terpusat pada perkembangantren. Meski demikian, adanya variasi model, bahan, dan aksesoris jilbab membuat perempuanmuslim tertarik untuk mengenakannya.Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa kehadiran trend fashionjilbab kreatif menimbulkan bermacam makna mengenai jilbab. Namun, jilbab kreatif lebihmemperhatikan aspek kecantikan dan tren yang sedang berkembang. Jilbab kreatif membuatbeberapa perempuan muslim merasa lebih nyaman melaksanakan kewajiban berjilbab dengantetap terlihat cantik dan modern.
KOMPETENSI KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS DALAM MENJALIN HUBUNGAN DENGAN STAKEHOLDER Fajrina Aulia Arumdhani; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.874 KB)

Abstract

Pertamina MOR IV memiliki divisi Communication & CSR dengan salah satu tugas yang dijalankan yaitu pengelolaan hubungan dengan stakeholder baik internal maupun eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kompetensi komunikasi yang dimiliki public relations Pertamina MOR IV dalam menjalin hubungan dengan stakeholder. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan teori kompetensi komunikasi dari Spitzberg & Cupach dan teori kompetensi interpersonal. Public relations Pertamina MOR IV memiliki kompetensi komunikasi yang terdiri dari motivasi, pengetahuan dan keterampilan yang berada pada tahap conscious competence, dimana praktisi public relations telah memahami karakteristik stakeholder. Kompetensi interpersonal unit manager berada pada level atas yaitu mampu untuk berkomunikasi secara diplomasi dan memperlakukan stakeholder secara hormat. Staf public relations berada pada level menengah yaitu mampu untuk membangun hubungan dengan stakeholder secara konstruktif berdasarkan bidangnya.
HUBUNGAN MENGAKSES MEDIA MASSA DENGAN ADOPSI OLAHRAGA FLAG FOOTBALL Agraha Dwita Sulistyajati; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.751 KB)

Abstract

Berdasarkan pada teori Powerfull Effect, penelitian ini berasumsi bahwa terdapat hubungan antara media massa dengan adopsi olahraga. Peneliti bertujuan untuk menentukan hubungan intensitas membaca komik Eyeshield 21, intensitas menonton film Hollywood yang memuat olahraga American Football, dan intensitas memainkan video game Madden NFL dengan adopsi olahraga Flag Football. Target penelitian adalah 83 orang anggota komunitas Indonesian Flag Football Association di Semarang. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dan menggunakan uji normalitas dengan uji Kendall’s Tau-b untuk memeriksa hubungan diantara variabel.Hasil data menunjukkan bahwa intensitas membaca komik Eyeshield 21 tergolong tinggi. Intensitas menonton film bertemakan American Football tidak terlalu tinggi. Sedangkan Intensitas memainkan video game Madden NFL terbilang rendah. Meskipun begitu, intensitas mengadopsi olahraga Flag Football tergolong tinggi. Mayoritas responden memainkan olahraga Flag Fooball.Uji normalitas menunjukkan bahwa data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal, sehingga peneliti menggunakan analisis non parametrik. Uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara komik Eyeshield 21 dan adopsi olahraga Flag Football. Sebaliknya, film bertemakan olaharaga American Football dan video game Madden NFL memiliki hubungan dengan adopsi 2olahraga Flag Football, meskipun hubungannya lemah. Hasil ini mengungkapkan bahwa media tidak memiliki efek powerfull di setiap kondisi. Pada beberapa kasus, media hanya memberi implikasi kecil kepada khalayak. Orang juga lebih mempercayai kerabat dekat dibandingkan media. Peneliti menggunakan teori minimalis efek dan teori kontrol sosial untuk menjelaskan temuan penelitian.Keyword : intensitas, media, komik, film, video game, hubungan, adopsi, olahraga
The Influence of Internet Advertising, Sales Promotion and Peer Group on Interest Buying of Fashion Product in Online Fashion Store Angga Andaru, Yanu; Pradekso, M.Sc, Drs. Tandiyo
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.806 KB)

Abstract

Businesses operating online fashion stores take advantage of the promotional mix of online advertising and sales promotion in marketing their products. Advertisement and sales promotion perform intensively, causing the liability of their consumers exposed to its online messages advertising and sales promotion. The exposure may have an impact on the emergence of consumer interest to purchase fashion products at online fashion store. There also other factor that can give impacts is the exposure of peer group persuasion. The purpose of this research is to determine the influence of internet advertising, sales promotion and peer group against interest of buying fashion products in online fashion store. The research theory of this thesis used the Advertising Exposure Theory, Behavioral Learning Theory and Darley, Blankson and Luethge's Model. This research using purposive type of non-probability sampling technique with total 50 samples whose minimum age requirement is 18-25 years old living in Semarang City; who can access the internet, seen the advertisement online fashion store, and never purchased fashion products at online fashion store before. The results of simple linear regression analysis showed that internet advertising has a positive and significant influence on the interest of buying fashion products in the online fashion store; it proofed from the significant value in the amount of 0.000 which is smaller than 0.01 and the regression coefficients showed a positive value in the amount of 0.304. Sales promotion also has a positive and significant influence on the interest of buying fashion products in the online fashion store; it proofed from the significant value in the amount of 0.000 which is smaller than 0.01 and the regression coefficients showed a positive value in the amount of 0.633. The last is peer group exposure that also has a positive and significant influence on the interest buyer of fashion products in the online fashion store; it proofed from the significant value in the amount of 0.000 which is smaller than 0.01 and the regression coefficients showed a positive value in the amount of 0.818. Contributions effect of internet advertising and peer group is considerable enough to the interest of buying fashion products in online fashion store, while the contributions of sales promotion had not considerable enough to the interest of buying. With the results of that, the advice that can be given is online fashion businessman preferably have to make the design of sales promotion more varied, interesting and easy to understand; so the information can be absorbed by the consumers; and the online fashion store businesses have also reduce the amount of administration of sales promotion by the form of discount and voucher, this had to be done as an effort to reduce costs in product marketing because less effective and to minimize loss value that will be suffer by online fashion businessman.

Page 20 of 157 | Total Record : 1563