cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Sosok Perempuan Pelaku Kejahatan Pada Sampul Majalah Detik (Analisis Semiotika) Syarifa Larasati; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.669 KB)

Abstract

Kasus kejahatan hampir setiap hari menghiasi media massa dan belakangan semakin intensdiberitakan. Tidak hanya laki-laki, sederet nama wanita yang terjerat kasus tindak kejahatan terusbermunculan. Meningkatnya jumlah perempuan yang terlibat kasus kejahatan baik itu sebagai pelakumaupun korban sesungguhnya mewakili gejala sosial tertentu. Dalam pemberitaan media, sosok perempuanyang lemah dan emosional, menjadikan perempuan sebagai objek. Hal inilah yang melatarbelakangipenelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perempuan pelaku kejahatandigambarkan dalam majalah Detik.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Penelitian ini digunakan teori representasioleh Stuart Hall. Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melaluisistem penandaan yang tersedia. Semiotika Roland Barthes digunakan dalam penelitian ini untukmembedah teks sampul majalah Detik dan mengungkap mitos di dalamnya. Semiotika adalah salah satumetode yang paing interpretif dalam menganalisis teks. Penelitian ini menggunakan sampul pada lima edisiMajalah Detik yang dipilih dari beragam bentuk tindak kejahatan.Hasil penelitian ini ditemukan fakta bahwa Majalah Detik melakukan labeling pada perempuanpelaku kejahatan dalam sampulnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konstruksi perempuanpelaku kejahatan nampaknya tidak bisa lepas dari budaya patriarki, konsumerisme, dan romansa. Mitosyang muncul dalam penelitian ini adalah sosok perempuan androgini, sosok wanita pendosa dan istri yangburuk (bad wives), sosok perempuan penggoda, sosok perempuan manipulator dan penguasa yang semenamena.Selain itu, gejala meningkatnya kejahatan yang dilakukan oleh wanita tidak dapat dilepaskan dariperubahan nilai budaya dan meningkatnya peranan sosial wanita dalam kehidupan sosialImplikasi hasil penelitian ini dalam aspek teoritis ini adalah memberikan kontribusi bagi penelitiankomunikasi terkait konstruksi perempuan dalam media massa dalam sampul majalah. Implikasi praktis darihasil penelitian ini memberikan penjelasan tentang sebagai bahan evaluasi dan referensi industri mediayang bergerak di bidang serupa agar meminimalisir kecenderungan menggunakan labeling dalammemberitakan perempuan pelaku kejahatan. Sedangkan implikasi sosial dari penelitian ini adalah penelitianini dapat bermanfaat bagi masyarakat, dalam memilah produk media, masyarakat diharapkan sadar danlebih kritis untuk tidak menerima segala produk media mentah-mentah.
Hubungan Intensitas Melihat Instagram Story dan Intensitas Komunikasi Antar Pengguna dengan Perilaku Mengunggah Instagram Story Reyuni Adelina Br Barus; Hedi Pudjo Santoso
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.814 KB)

Abstract

The presence of the latest Instagram feature, the Instagram Story was able to attract the attention of its users from various circles. Instagram users are now competing to share their daily activities through this feature. Instagram Story is a sign that new media is able to create new behavior for its users and personal things became public consumption. The communication formed also becomes more complex than the direct interpersonal communication. The purpose of this research is to know the relation of intensity view Instagram Story and intensity of communication between user with behavior of uploading Instagram Story. Sampling in this research using purposive sampling. The population in this research were 18-35 year olds who were active users of Instagram. The number of samples researched were 50 respondents.Based on the hypothesis test conducted by Kendall's Tau-b correlation analysis, it shows that: first, there is a correlation between intensity view Instagram Story and behavior of uploading Instagram Story with significance value 0.000. It shows that there is a very significant relationship between the intensity of viewing Instagram Story and behavior of uploading Instagram. Second, there is a correlation between the intensity of communication between users and the behavior of uploading Instagram Story with a significance value of 0,000. It shows that there is a very significant relationship between the intensity of communication between users and the behavior of uploading Instagram. Advice given that the user should be more aware of the importance of understanding in sorting out things that are eligible to be published or not in social media, especially Instagram Story.
Representasi Rasisme Kaum Kulit Putih Terhadap Kulit Hitam dalam film 42 “Forthy Two” Bebby Rihza Priyono; M Bayu Widagdo; Taufik Suprihatini; Dr. Sunarto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.67 KB)

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan serta sekaligus menyebarkan ideologi kepada khalayak. Film banyak merepresentasikan kejadian-kejadian yang ada di dunia nyata dengan menyelipkan ideologi-ideologi dari para pembuat film. Di dalam film menyajikan sebuah tampilan visual yang berisi kode-kode serta mitos yang berasal dari kebudayaan. Film 42 “forthy two” merupakan film yang menggambarkan kebudayaan masyarakat Amerika yang lekat dengan hal rasisme kaum kulit putih Amerika dengan kaum Afro-Amerika. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana gambaran orang kulit hitam mendapat perlakuan dari orang-orang kulit putih yang direpresentasikan melalui tanda-tanda visual dan verbal. Penelitian ini juga ingin menunjukkan mitos yang ada di dalam film 42 “forthy two”. Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian milik Roland Barthes mengenai analisis semiotika.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa rasisme kaum kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika ditunjukkan dengan berbagai macam cara baik secara verbal seperti menghina dan meremehkan, maupun secara nonverbal seperti melempar kepala orang kulit hitam dengan bola. Tanda-tanda komunikasi tersebut diungkap melalui pergerakan kamera, dialog, serta kode-kode ideologi di dalam film 42 “forthy two” baik secara verbal maupun secara visual. Selain itu, penelitian ini menggunakan teori Standpoint dan metode penelitian dari Rolland Barthes yang mana menggunakan lima pengkodean untuk mengatahui ideologi apa yang terdapat di dalam film. Penelitian ini juga menunjukkan hasil bahwa rasisme dari dulu sampai sekarang masih tetap ada dan hal tersebut dikarenakan oleh sejarah yang mendasarinya yaitu kapitalisme. Tetapi tidak semua orang dapat terpengaruh dengan adanya rasisme. Ada orang yang memilih untuk mundur dan lari untuk menghindari masalah, tetapi juga ada orang yang tetap pada pendiriannya dan tetap bertahan ditengah-tengah situasi rasisme yang menghimpitnya. Dalam penelitian ini, menunjukkan hasil dengan memperlihatkan pada bagaimana seseorang bertahan ditengah situasi rasisme dan pada akhirnya tetaplah berujung dengan kapitalisme. Kaum dominan menggunakan istilah “memperjuangkan hak asasi manusia” sebagai bentuk mendapat keuntungan lebih dari dunia luar dengan memanfaatkan rasisme yang terjadi terhadap kaum marjinal. Kata kunci : Semiotika, Barthes, Film, Rasisme 
INCREASING AWARENESS AND READERSHIP OF TRIBUN JAWA TENGAH NEWSPAPER AS COMMUNICATION MANAGER Windariani Soeryo Handadari; Djoko Setyabudi, S.Sos, MM
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.044 KB)

Abstract

Tribun Jawa Tengah is a brand of newspaper which is a subsidiary of Kompas Gramedia Group. Established on January 17, 2011, Tribun Jateng has a early name Warta Jawa Tengah, and then turns into Tribun Jawa Tengah on 29 April 2013. Tribun Jawa Tengah has a vision to be the group's largest regional media publishing business, spread and leading in Central Java with the slogan "New Spirit of Java Central ". With the slogan and the vision, Tribun Jawa Tengah keep trying to increase awareness and readership Central Java society. This karya bidang is departing from desire of Tribun Jawa Tengah that want to expand its targets to young people aged 18-25 years and introducing Tribun Jawa Tengah on new distribution areas. Based on preliminary data owned by Tribun Jawa Tengah awareness and readership of target is still low. This is reinforced by the survey data that awareness and readership Tribun Jawa Tengah still low in amongs the target. Semarang Youth Community is an event that designed for young people by involving the community and music artists in Semarang. The purpose of Semarang Youth Community is to raise awareness and readership at young people aged 18-25 years. Jalan Sehat Tribun Jateng Melangkah bersama Paramex is an event held in Grobogan disctrict and is designed for the general public of all ages and backgrounds. The purpose of the event Jalan Sehat Tribun Jateng Melangkah bersama Paramex is to increase awareness and readership of Grobogan district residents about Tribun Jawa Tengah remember just reopen his newspaper's distribution area in this region. The results achieved from Semarang Youth Community 2016 event is increasing awareness in young adult from 71% to 91% and a readership from 52% to 82%. While the results of Jalan Sehat Tribun Jateng Melangkah bersama Paramex in Grobogan district is increasing awareness from 44% to 69% and a readership from 10% to 26% and increasing circulation from 400 copies to 600 copies per day. Communication Manager task in both events is to establish cooperation with other parties such as community, local government, media, and ticketbox, as well as take care of all matters relating to the publication of an event such as the creation of content publishing and monitoring publications.
STUDI PENGALAMAN NEGOSIASI IDENTITAS ANTARA ANAK YANG MELAKUKAN PERPINDAHAN AGAMA KEPADA ORANG TUANYA Devinta Hasni
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.8 KB)

Abstract

Memilih dan memeluk agama adalah hak asasi yang dilindungi undang-undang diIndonesia. Adanya fenomena menarik mengenai hal tersebut adalah fenomena pindah agama.Tetapi, pindah agama tetap menjadi fenomena yang mengejutkan, terutama di Indonesia.Tidak selalu terjadi pada individu yang melakukannya, bisa jadi terjadi pada keluarga, pihaklain yang bersangkutan, atau bahkan orang-orang disekitar lingkungan. Hal tersebut tentu sajamembutuhkan negosiasi identitas, dimana seseorang memiliki motivasi untuk menyampaikanharapan terhadap identitas yang yang mereka inginkan untuk dihargai oleh pihak lain.Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatanfenomenologi. Penelitian ini melibatkan pasangan orang tua dengan anak yang melakukanperpindahan keyakinan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengalaman negosiasiidentitas antara anak yang melakukan perpindahan agama kepada orang tuanya. Pendekatanteori dalam penelitian ini adalah Teori Pola Asuh Orang Tua (Le Poire, 2006) dan TeoriNegosiasi Identitas (Gudykunst, 2005). Melalui pendekatan fenomenologi dalam metodekualitatif, peneliti menggunakan indepth interview sebagai teknik pengumpulan data.Negosiasi identitas adalah proses interaksi transaksional yang berusahamenyampaikan, menegaskan, mempertahankan, mendukung atau mempertahankan citra diriyang diinginkan pihak-pihak yang terkait. Latar belakang masing-masing keluarga yangberbeda tentu saja menghasilkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan komunikasi yangberbeda-beda. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa ketaatan dalam beragama serta variasipribadi dan situasional anggota keluarga merupakan faktor yang paling berpengaruh dalamproses negosiasi identitas yang dilakukan. Pola asuh dalam keluarga juga mempengaruhinegosiasi identitas. Pola asuh yang mendukung terjadinya negosiasi identitas yang kompetenadalah pola asuh permisif dan otoritatif. Negosiasi identitas antara anak yang melakukanperpindahan agama dengan orang tuanya dapat dikatakan kompeten jika mampu melakukaninteraksi dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan interaksi yang baik danmelakukannya secara tepat dan efektif. Memiliki motivasi untuk terus-menerus berusahadapat dikatakan mencapai hasil yang memuaskan jika kedua belah pihak dapat salingmengerti, menghormati dan menghargai. Perasaan tersebut dapat ditunjukkan dengantindakan nyata seperti saling menghormati kegiatan agama satu sama lain dan tetap menjagahubungan yang baik dengan keluarga.Kata kunci : Agama, Pindah Agama, Negosiasi Identitas, Pola Asuh
Pemaknaan Khalayak terhadap Resistensi Seksualitas Perempuan dalam Film Lipstic Under My Burkha Ernest Wuri Indri Penny; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.866 KB)

Abstract

Active audience makes the text in a film become rich in meaning. That is because the audience actively produces meaning based on their background, experience, and daily life. Lipstick Under My Burkha is a film that seeks to offer alternatives to interpret female sexuality through the scenes in it. However, the meaning of active audiences is not necessarily in line with the idea of alternative meanings offered by the film. So this study aims to see the diversity of audiences against resistance by the four main female characters in the film. Using the type of qualitative research that refers to the critical paradigm with Stuart Hall's reception analysis method and Roland Barthes's semiotic data analysis. Theories used are Feminist Media and Film Theory, Hidden Transcript Theory and Reception Theory. This research has chosen nine preferred readings that display forms of women's resistance to the elements of sexuality contained in the film, namely elements of body image, intimacy, attraction and desire, fantacy, shared sexual behavior, and elements of partner or domestic violence. Resistance was raised by displaying female characters who liberated their sexuality to emerge from the myths of sexuality that had been exist. The results showed that almost all informants tended to be in a dominant position, but still negotiated the form of resistance in accordance with the values that the informant had previously believed. Informants tend to be in the dominant position of reading when confronted with the preferred reading of women's resistance through the elements of sexuality, body image, fantasy, shared sexual behavior, and partner or domestic violence. Where there are informants who have a similar situation with the main female character in the film and take the same resistance as the main characters in the film. Here, religious values are the most frequent reasons when informants will negotiate or reject the forms of resistance displayed by the Lipstick Under My Burkha film. Informants who are in negotiation or opposition positions tend to be active in diversity activities in their social environment, such as studies conducted at campus mosques. They also become followers of Islamic da'wah media accounts through their social media accounts. So, we can see that this alternative ideology for understanding women's sexuality is starting to have room to be accepted by Indonesian society.
PENGARUH INTENSITAS MENONTON SINETRON REMAJA DAN MEDIASI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU KEKERASAN Shahnaz Natasha Anya; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.125 KB)

Abstract

Maraknya sinteron remaja tidak hanya memberikan dampak positif saja, namun dapat membawa dampak negatif pula. Di dalam sinetron remaja banyak mengandung adegan kekerasan baik verbal maupun fisik di setiap episodenya. Hal ini tentu menghkhawatirkan karena penonton utamanya adalah para remaja. Remaja sangat mudah terpengaruh dan mencontoh apa yang mereka lihat. Disinilah peran mediasi orang tua dibutuhkan untuk menimimalisir dampak negatif dari sinetron remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton sinetron remaja dan mediasi orang tua terhadap anak ketika menonton sinetron remaja terhadap perilaku kekerasan. Dasar pemikiran yang digunakan adalah social learning theory dan parental mediation theory. Penelitian kuantitaif ini menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sample 73 siswa dan siswi dengan usia 13-14 tahun di SMP Islam Hidayatullah Kota Semarang. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana dan regresi linier berganda dengan bantuan spss 20. Uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa intensitas menonton sinetron remaja berpengaruh positif dan sangat signifikan (sig. =0,000) terhadap perilaku kekerasan dengan persamaan regresi linier sederhana Y= Y=2,679 + 0,451 . Hasil uji hipotesis kedua menunjukkann bahwa bahwa variable intensitas menonton sinetron remaja jika dihitung bersama-sama menggunakan teknik analisis regresi berganda berpengaruh terhadap perilaku kekerasan remaja dengan nilai signifikansi untuk intensitas menonton sinetron remaja sebesar (sig.=0,000). Sedangkan variabel mediasi orang tua tidak berpengaruh terhadap perilaku kekerasan dengan nilai signifikansi untuk mediasi (sig.=0,628). Kesimpulan dari uji hipotesis adalah intensitas menonton sinetron remaja berpengaruh positif terhadap perilaku kekerasan. Semakin rendah intensitas menonton sinetron remaja maka semakin rendah perilaku kekersaan. Sedangkan intensitas menonton sinetron remaja dan mediasi orang tua tidak berpengaruh terhadap perilaku kekerasan. Saran yang diberikan penelitian ini adalah untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan variable lain seperti faktor internal dari pribadi remaja dan faktor eksternal seperti interaski peer group, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Orang tua di sarankan menerapkan diet televisi bagi anak dan waspada terhadap tontonan anak.
Karya Bidang Program Radio “Jateng Pagi” di RRI PRO 1 Semarang (Produser) Galuh Perwitasari; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.521 KB)

Abstract

Radio Republik Indonesia (RRI) merupakan radio tertua milik pemerintah yang memiliki visi untuk mewujudkan lembaga penyiaran publik indonesia. RRI sebagai radio pembangun karakter bangsa, berkelas dunia memiliki jaringan yang sangat luas dari Aceh hinga Papua. Namun, masih banyak anak muda yang belum mengetahui Radio Republik Indonesia. Banyaknya radio-radio swasta yang bermunculan saat ini membuat popularitas RRI berkurang. Alasan utamanya adalah citra RRI sebagai radio berita yang sudah ketinggalan jaman, dan hanya berisi berita-berita yang sehinga bagi anak muda yang haus akan hiburan dan hal-hal terkini radio RRI kurang menarik untuk disimak Salah satu solusi adalah mengonsep kembali atau re-create program talk show “Jateng Pagi” dengan konsep yang baru. Penulis sebagai produser dalam acara “Jateng Pagi” ini mengkonsep kembali “Jateng Pagi” dengan melibatkan mahasiswa sebagai narasumber dalam program ini dan menyasar anak muda sebagai target pendengarnya, sehinga diharapkan dapat kembali meningkatkan pendengar radio khususnya RRI PRO 1 Semarang. Selama pelaksanaan program ini, penulis sebagai produser menentukan tema dan menghandel penentuan narasumber dan berhubungan dengan para penyiar RRI untuk berkonsultasi. Hasil kuisioner paska produksi menunjukkan melalui produksi program talk show “Jateng Pagi”, tim karya bidang berhasil meningkatkan jumlah pendengar program “Jateng Pagi” RRI PRO 1 Semarang menjadi 81 pendengar. Begitu pula dengan pendengar aktif, yang setiap episodenya hanya 3 orang, dengan konsep yang baru kini “Jateng Pagi” berhasil meningkatkan 8 – 19 pendengar aktif di setiap episodenya.
STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAI DESTINASI WISATA Lina Mustikawati; Yanuar Luqman; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.313 KB)

Abstract

STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAANSEBAGAI DESTINASI WISATAAbstrakPengembangan pariwisata menjadi salah satu fokus dalam peningkatan kualitashidup masyarakat melalui pendapatan daerah. Surakarta menjadi salah satu kota diIndonesia yang konsen terhadap sektor pariwisata karena memiliki potensi senidan budaya untuk dijadikan sebuah produk wisata yang dapat dijual kepadawisatawan.Saat ini, Surakarta menjadi sebuah kota wisata dengan konsep wisatabudaya. Tahun 2010 menjadi tahun dimana kota Surakarta mengoptimalkan brandpariwisatanya yaitu ’Solo, The Spirit of Java’ sejak diresmikan tahun 2003.Namun pada kenyataanya hingga saat ini, Surakarta masih belum dapat bersaingdengan kota-kota wisata lainnya seperti Bandung dan Yogyakarta dari segi jumlahwisatawan.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahuistrategi branding dan mengevaluasi proses branding kota Surakarta dalammengkomunikasikannya sebagai sebuah destinasi wisata. Fase-fase destinationbranding dan destination branding model menjadi dasar dalam evaluasi brandingpariwisata kota Surakarta. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakanadalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses branding yang dilakukan olehkota Surakarta masih belum sesuai dengan konsep branding sebuah destinasi,karena tidak ada keterpaduan antara tujuan pemasaran dan tujuan komunikasi.Surakarta cenderung menekankan pada hal-hal yang bersifat komersial untukkepentingan industri pariwisata sehingga mengesampingkan esensi sebenarnyadari konsep branding sebuah destinasi yaitu penyampaian pesan-pesankomunikasi brand pariwisata kota Surakarta.Kata Kunci : branding, Surakarta, destinasi, pariwisata, pemasaran, komunikasiviiiNama : Lina MustikawatiNIM : D2C009012SURAKARTA CITY’S BRANDING STRATEGIES IN MANAGEMENT ASA TOURISM DESTINATIONAbstractTourism development is one focus in improving quality of life through localrevenues. Surakarta became a city in Indonesia, concentrated on the tourism sectorbecause it has the potential of arts and culture to be used as a tourism product thatcan be sold to tourists.Currently, Surakarta became a city tour with the concept of culturaltourism. The year 2010 became the year in which Surakarta optimize its tourismbrand 'Solo, The Spirit of Java' since it was inaugurated in 2003. But the fact isuntil today, Surakarta still can not compete with other tourism cities such asBandung and Yogyakarta in terms of the number of tourists.The objectives of this research is to investigate and evaluate the process ofbranding strategies branding Surakarta in communicating it as a tourismdestination. Phases of destination branding and destination branding model thebasis for the evaluation of tourism branding Surakarta. Therefore, the researchmethod used was a qualitative research method with an evaluative approach.The results showed that the branding process conducted by the city ofSurakarta still not in accordance with the concept of branding a destination,because there is no coherence between the objectives of marketing andcommunication objectives. Surakarta tends to emphasize matters of a commercialnature for the benefit of the tourism industry to the exclusion of the true essenceof the concept of branding a destination that is delivering brand communicationmessages Surakarta tourism.Key words : branding, Surakarta, destination, tourism, marketing,communicationSTRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAIDESTINASI WISATA1. PendahuluanSurakarta atau Solo adalah kota di Jawa Tengah yang tengah menjadi salah satu ikon dalampromosi pariwisata Indonesia. Strategi komunikasi pariwisata kota Surakarta dikelola olehDinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta yang berkedudukan sebagai NationalTourism Organization (NTO). Berbagai kegiatan difokuskan pada kegiatan yang berujungpada kota MICE (Meeting, incentive, convention, and exhibition).Sebagai kota tujuan wisata, komunikasi branding kota Surakarta belum mampumencapai posisi teratas dalam kunjungan wisatawan. Surakarta baru mencapai targetkunjungan wisatawan tahun 2012 dengan kunjungan 2.133.848 orang. Sementara brandpariwisata dengan „Solo, The Spirit of Java‟ sudah berjalan semenjak tahun 2005, namunselama 5 tahun berjalan hingga tahun 2010, pariwisata kota Surakarta masih belummenunjukkan perkembangan untuk bersaing dengan kota-kota wisata lainnya. Tahun 2010,kepemimpinan Jokowi-Rudy periode kedua, Surakarta melakukan perubahan dari berbagaibidang, baik infrastruktur, kebijakan ekonomi, hingga pariwisata. Angin segar bagi pariwisataditunjukkan dengan peresmian badan promosi pada tahun 2010 yang khusus bertugasmempromosikan pariwisata kota Surakarta kepada calon-calon wisatawan di seluruh daerah.Kunjungan wisatawan menunjukkan adanya peningkatan, namun terkesan lambat untuksebuah kota wisata yang telah dibangun selama 7 tahun. Hal ini ditunjukkan denganpenurunan tertinggi terjadi pada wisatawan mancanegara yang datang melalui pintu masukbandara Adi Sumarmo sebanyak 9,31 persen dari kunjungan wisman tahun 2012 sebanyak8.044.062 pengunjung. (sumber : Berita resmi statistik, Perkembangan pariwisata, dantransportasi nasional 2012).Perkembangan pariwisata kota Surakarta pada tahun 2010ditandai dengan banyaknya penyelenggaraan berbagai event budaya dan promosi pariwisatadi dalam negeri maupun luar negeri, bahkan sempat dinobatkan oleh Indonesia TourismAward 2010 sebagai „kota Terfavorit‟ yang dikunjungi wisatawan, dan „Kota denganPelayanan Terbaik‟. Hal ini semestinya berdampak positif pada perkembangan jumlahwisatawan yang berkunjung ke kota tersebut. Mengamati kondisi tersebut, penelitian inibermaksud merumuskan permasalahan tentang bagaimana strategi branding yang dilakukankota Surakarta dalam pengelolaannya sebagai daerah destinasi wisata? Apakah dalam prosesmengkomunikasikan brandingnya sesuai dengan tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukanuntuk destinasi branding pariwisata?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi branding yang diterapkan olehkota Surakarta dalam pembangunan brand sebagai sebuah destinasi wisata, dan mengevaluasiproses strategi branding dalam mengkomunikasikan kota Surakarta sebagai sebuah destinasiwisata. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep destination branding, yaitu destinationbranding models yang dikemukakan oleh Cai (2002), destination branding phase, destinationbranding complexity. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodepenelitian kualitatif pendekatan evaluatif dimana evaluasi dilakukan secara deskriptifberdasarkan konsep ideal dari branding sebuah destinasi (destination branding).Tipe Penelitian ini tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan evaluatif program,yang berfokus pada proses dan hasil suatu perencanaan strategi program. Sumber data dalampenelitian ini meliputi data primer yang diperoleh secara langsung dari sumbernya melaluiwawancara mendalam (indepth interview) kepada narasumber terkait dan data sekunderdigunakan sebagai pendukung data primer yang dikumpulkan secara tidak langsung darisumber penelitian yaitu berupa tambahan sumber yang diperoleh peneliti secara tidaklangsung melalui media perantara.2. PembahasanEvaluasi dilakukan melalui analisis tentang proses dan kegiatan branding yang dilakukankota Surakarta untuk selanjutnya disesuaikan dengan konsep branding sebagai sebuahdestinasi. Hal ini didasarkan dengan analisis SOSTAC yang merupakan langkah-langkahdalam melakukan pemasaran branding yang nantinya akan terlihat apakah proses brandingkota Surakarta tersebut sesuai dengan konsep branding pariwisata yang seharusnya dilakukanuntuk menciptakan sebuah destinasi.Latar belakang yang dimiliki oleh kota Surakarta untuk dijadikan sebuah destinasi,sudah sesuai dengan konsep destination audit, yang meliputi daya tarik, kekuatan destinasi,dan jangkauan wisatawan. Ketiga faktor ini adalah sesuai dengan target audiens yang ingindicapai, yaitu wisatawan, baik asing maupun nusantara dengan segala fasilitas yang ada dapatmenikmati pariwisata di Surakarta. Branding destinasi wisata (destination branding)didefinisikan sebagai nama, simbol, logo, word mark atau gambaran lainnya yang dapatmengidentifikasi dan membedakan sebuah destinasi, selebihnya menjanjikan sebuahpengalaman wisata yang dapat diingat karena keunikan yang dimiliki oleh sebuah destinasiyang juga berfungsi dalam memperkuat ingatan kenangan yang mengesankan dari sebuahpengalaman destinasi (Ritchie, Ritchie; 1998). Definisi konsep branding destinasi wisata kotaSurakarta menunjukkan bahwa adanya kesesuaian, dimana Surakarta memiliki keunikansebagai pusat peradaban jawa yang berbasis seni dan kultur. Kekayaan yang dimiliki didalamnya seperti seni, budaya, kuliner dan wisata belanja memberikan pengalaman wisatayang menarik karena merupakan potensi khas kota Surakarta tidak dimiliki oleh kota-kotalainnya. Adapun tujuan (objective) branding destinasi kota Surakarta adalah (1) Keterbukaanakses yang lebih luas bagi wisatawan, (2) Perkembangan wisatawan yang signifikan setiaptahunnya (5-10%) untuk menghadirkan multiplier effect bagi sektor perdangangan danindustri pariwisata, (3) Keanekaragaman objek dan atraksi wisata yang dapat mendukunglama tinggal wisatawan, (4) Efisiensi sumber daya bagi pengembangan kepariwisataan(anggaran, SDM dan sumberdaya lainnya).Proses perencanaan meliputi penentuan strategi yang didahului dengan riset analisisSWOT dan Benchmarking kota Surakarta terhadap wilayah yang memiliki potensi serupaseperti Singapura dan Bali. Setelah itu dilakukan penentuan target audiens yang meliputiTarget Primer yaitu Wisatawan Nusantara, Target Sekunder yaitu wisatawan Malaysia,Singapura, dan Australia, dan target wisatawan tersier yang berdomisili selain target primerdan sekunder. Strategi branding dituangkan dalam Roadmap pariwisata yang didesain secaratematik sesuai dengan renstra meliputi Festive City, Theater of Community Arts, Pioneer ofEco Art, ArtEpolis.Kegiatan Implementasi dilakukan melalui kegiatan komunikasi pemasaran directmarketing dengan kegiatan promosi secara langsung seperti pameran pariwisata. Sedangkanindirect marketing dilakukan melalui kegiatan event seni budaya yang dilakukan dalam satutahun penuh. Selain itu dalam memperkuat brand equity, dilakukan maksimalisasi dalamberbagai komponen seperti brand identity melalui slogan dan logo, endorser melalui putradan putri Solo, dan kerjasama promosi melalui asosiasi terkait seperti Visit Jateng danWonderful Indonesia.Proses evaluasi dilakukan selama 1 tahun sekali, dimana ada indikator tertentu yangdigunakan untuk mengukur keberhasilan dari proses branding yang dilaksanakan, adapunindikator tersebut adalah The Number of Tourism, Length of Stay (LoS), Peredaran uang,Peningkatan jumlah akomodasi, dan penghargaan. Indikator keberhasilan kota Surakarta diatas belum sesuai dengan faktor ideal dalam mengukur keberhasilan branding sebuahdestinasi. Hal ini disebabkan karena tujuan utama yang ingin dicapai oleh kota Surakartaberfokus pada peningkatan jumlah wisatawan yang masuk ke kota Surakarta.3. PenutupBerdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dipaparkan kesimpulansebagai berikut :3.1 Proses perumusan konsep didasari dengan latar belakang kota Surakarta yangdijadikan pusat dari pengembangan pariwisata Solo Raya karena memiliki potensiyang ada sesuai dengan konsep branding sebagai sebuah destinasi wisata (destinationaudit) meliputi keragaman atraksi, kekuatan untuk disandingkan dengan destinasilainnya, dan jangkauan wisatawan. Perumusan konsep dilakukan oleh berbagai pihakdimulai dari organisasi pemerintah, badan eksekutif dan legislatif, tokoh seni danbudaya, serta stakeholder pariwisata. Namun media sendiri yang berkedudukansebagai pembentuk opini tidak dilibatkan di sini karena media dianggap sebagaichannel dari pihak eksternal yang berguna dalam penyampaian informasi mengenaiberbagai kegiatan dalam proses branding. Objektif dari branding kota Surakarta masihbergantung tujuan marketing dibandingkan tujuan komunikasi. Selain itu, targetaudiens kota Surakarta didasarkan aspek geografis saja, sedangkan dalam prosesbranding, penentuan target audiens, setidaknya harus didasarkan pada aspekpsikografis, karena berkaitan dengan minat dan ketertarikan target audiens terhadapkonsep wisata kota Surakarta sebagai kota Budaya, sehingga akan memudahkandalam penyerapan pesan branding.3.2 Perencanaan strategis dalam jangka panjang penting dilakukan oleh sebuah kotasebagai dasar untuk melakukan segala kegiatan branding. Strategi tersebut,diimplementasikan melalui sebuah manajemen yaitu manajemen produk, manajemenbrand, dan manajemen servis.3.3 Implementasi strategi branding kota Surakarta melibatkan NTO (National TourismOrganization) dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta denganberbagai stakeholder Internal pariwisata yaitu ASITA, PHRI, HPI, dan BPPIS. Dalamprosesnya, NTO mengikut sertakan para stakeholder pada setiap kegiatan promosiyang terdiri dari kegiatan direct marketing dan indirect marketing. Penetapan tolakukur keberhasilan kegiatan branding kota Surakarta masih belum sesuai denganfaktor-faktor penentu keberhasilan branding sebuah destinasi yang lebih menekankanpada komunikasi brand untuk selanjutnya dipahami oleh berbagai stakeholder dantarget audiens. Dalam membranding sebuah destinasi akan terlibat melalui berbagaiaspek, dimana faktor ini sewaktu-waktu akan menghambat dalam proses branding.Aspek Natural diatasi dengan perjanjian dalam MoU yang ditandatangani olehmasing-masing walikota dalam kerjasama promosi terhadap keunikan masing-masingdestinasi. Aspek politik yang merujuk pada isu kerusuhan diatasi hal ini,dilakukankirab budaya oleh walikota Surakarta dalam rangka menciptakan image kotaSurakarta yang aman dan nyaman. Kendala lain dari aspek ekonomis adalahbudgeting yang dinilai sangat kecil, dilakukan pendekatan untuk menumbuhkan senseof belonging pada stakeholder eksternal, dimana melalui perasaan tersebut akanmenekan budgeting yang harus dikeluarkan. Manusia menjadi salah satu aspek,dimana akan mempengaruhi dalam perencanaan branding karena bertindak sebagaipembuat keputusan. Hal ini dianggap sebagai perubahan selera masyarakat, dan untukmengatasinya, Surakarta memfasilitasinya dalam hal ini melalui wisata belanjadengan produk-produk tradisional sehingga menarik wisatawan seperti batik dansouvenir.DAFTAR PUSTAKABukuAaker , David A. 2000. Brand Leadership. New York : The Free Press.Aaker, David A . 1991. Managing Brand Equity: Capitalising on the Value of a Brand Name,London: the Free PressBungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta : Prenada Media Group.Cultures and Markets. Kogan Page Business BooksDreyfuss, Henry. 1972. Symbol Sourcebook : An Authoritative Guide to InternationalGraphic Symbols. McGraw-Hill Inc.Gelder, Sicco Van. 2005. Global Brand Strategy : Unlocking Brand Potential AcrossCountries,Gregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A StrategicApproach. Kogan Page Publisher.Kasali, Rhenald. 1998. Membidik Pasar Indonesia : Segmentasi, Targeting, dan Positioning.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Keller, Kevin Lane. 2003. Strategic Brand Management : Building, Measuring, andManaging Brand Equity. California : Prentice Hall.Kerzner, Harold. 2001. Strategic Planning for Project Management Using a ProjectManagement Maturity Model. WileyKotler Philip & Keller Kevin Lane, 2009, Manajemen Pemasaran, edisi ketiga belas, Jakarta:Erlangga.Kotler, P, Haider, DH & Rein, IJ . 1993. Marketing places: Attracting investment, industry,and Tourism to cities, States, and Nations.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Lesly, Philip. 1991. Lesly's Handbook of Public Relations And Communications. McGrawHill.Macnamara, Jim. 1996. Public Relations Handbook For Manager and Executive.Australia: Prentice Hall.McNally, David. Speak, Karl D. 2004. Be Your Own Brand. Jakarta : Gramedia PustakaUtama.Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.Morgan, N., Pritchard, A., & Pride, R. (2004). Destination Branding – Creating the UniqueDestination Proposition. (2ndEd). Oxford: Butterworth-Heinemann.Patton, Michael Quinn. 2009. Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Percy, Larry. 1987. Advertising Communication and Promotion Management. Mc Graw HillInc.Ries, A. and Trout,J. 1981. Positioning, The battle for your mind. New York : Warner Books– McGraw-Hill Inc.Sadat, Andi M. 2009. Brand Belief : Strategi Membangun Merek Berbasis Keyakinan.Jakarta : Salemba Empat.Schultz, Don. E and Barnes, Beth E. (1999). Strategic Brand Communication Campaigns.Lincolnwood, IL : NTC Business Books.Smith, Paul Russel. 2003. Great Answer Tough Marketing Quest. Koogan Page Publisher.Temporal, Paul. 2002. Advanced Brand Management : Managing Brand in A ChangingWorld. WileyTjiptono, Fandy. 2005. Brand Management & Strategy. Yogyakarta : Andi Offset.tourism to cities, states, and nations. New York: The Free Press.UNWTO and ETC. 2009. Handbook on Tourism Destination Branding. Madrid : The WorldTourism Organization and the European Travel Commission.Upshow, Lynn B. 1995, Building Brand Identity, A strategy for success in hostilemarketplace. John Wiley & Sons, Inc, pp. 15-16.Worthen, Blaine R. ,Sanders, James R. 1979. Practices and Problems in Competency-BasedMeasurement.PenelitianChaerani, R.Y. (2011). Pengaruh City Branding Terhadap City Image (Studi Pencitraan KotaSolo : „The Spirit of Java’). Laporan Penelitian. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.Illiachenko, Elena Y. 2005. Exploring Culture, History and Nature as Tourist DestinationBranding Constructs : The Case of a Peripheral Region in Sweden. Dipresentasikanpada Seminar Policy and marketing/ Destination image and marketing di Akureyri,Iceland (22-25 Sept 2005) :1-12Ionela Cretu. (2011) . Destination image and destination branding in transition countries :the Romanian tourism branding campaign ‘Explore the Caparthian Garden’ .Desertasi. University of York.Liestiandre, Hanugerah K. Analisis Positioning Bali Sebagai Destinasi Wisata. Tesis.Universitas Udayana Denpasar.Linh, Duong Thuy. (2012). Practice of Internet Marketing in Destination Branding.Bachelor’s Thesis. Savonia University.Morrison, A. M & Anderson, D. J. 2002. Destination Branding, Dipresentasikan padaSeminar the Annual Meeting of the Missouri Association of Convention and VisitorBureaus.Risitano, M. (2005). The role of destination branding in the tourism stakeholders system. TheCampi Flegrei case. Laporan Penelitian. Faculty of Economics: University of NaplesFederico II.Stufflebeam, Daniel L. (2003). The CIPP Model for Evaluation. Dipresentasikan padaAnnual Conference of The Oregon Program Evaluators Network (OPEN) di Portland,Oregon. (10 Maret 2003) : 2-68.Hassan,Suzan B., Mohamed Soliman A. Hamid, dan H. Al Bohairy. (2001). Perception ofDestination Branding Measures : A Case Study of Alexandria Destination MarketingOrganizations. Laporan Penelitian.Trost, Klaric, dan Ruzik. (2012). Events as a Framework For Tourist Destination Branding-Case Studies of Two Cultural Events in Croatia. Laporan Penelitian.JurnalArgenti, Paul A. , Howell, Robert A. , Beck, Karen A. 2005. The Strategic CommunicationImperative. MIT Sloan Management Review. 83-89.Armstrong, J. Scott. 1986. Strategic Planning Improves Manufacturing Performance.Marketing Papers. 127-129Cai, L. A. (2002). Cooperative branding for rural destination. Annals of Tourism Research.29 (3), 720 – 742.David A. and Kevin L. Keller (1990), “Consumer Evaluations of Brand Extensions,” Journalof Marketing, 54 (January), 27-41Lassar, W., Mittal B. , and Sharma A. (1995). Measuring Customer-Based Brand Equity.Journal of Consumer Marketing 12(4): 11-19.Lavidge and Steiner. (1961). A Model for Predictive Measurements of AdvertisingEffectiveness. Journal of Marketing (October 1961) : 59–64.Ritchie, J.R.B. and Ritchie, R.J.B. (1998). Branding of Tourism Destinations : pastachievements and future challenges. A basic report for presentation th the 1998Annual Congress of the International Association of Scientific Experts in Tourism,Marrakech, Morocco, September 1998.Schultz, D., and H. Schultz. 1998. Transforming marketing communication into the twentyfirstcentury.Journal of Marketing Communications 4, no. 1: 9–26.Yoo, Bonghee , Donthu, Naven, Lee, Sungho. (2000). An Examination of Selected MarketingMix Elements and Brand Equity. Journal of Academy Marketing Science . SagePublications, 28 ; 195.InternetBPPIS Solo Fokus Promosi ke Tiga Kawasan Potensial . (2013). Dalamhttp://www.harianjogja.com/baca/2013/02/01/bppis-solo-fokus-promosi-ke-tigakawasan-potensial-374585 . Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 12.59 WIB.EUROCITIES. 2010. A shared vision on city branding in Europe [electronic material].Dalamhttp://ddata.overblog.com/xxxyyy/1/19/97/12/eurocities/EUROCITIES_City_branding_final-SMUL.pdf. Diunduh tanggal 15 April 2013 pukul 9.05 WIBIndonesia Tampil Total dalam Pameran Wisata Berlin . (2013). Dalamhttp://www.antaranews.com/berita/359928/indonesia-tampil-total-dalam-pameranpariwisata-berlin. Diunduh pada tanggal diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul12.32 WIB.Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. (2013). Dalamhttp://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semarang.Meningkat . Diunduh pada 17 Februari 2013 pukul 22.43 WIB.Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. Dalamhttp://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semarang.Meningkat diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 11.10 WIB.Pertumbuhan Ekonomi Sragen Tertinggi di Surakarta. (2012). Dalamhttp://economy.okezone.com/read/2012/12/28/20/738578/2012-pertumbuhanekonomi-sragen-tertinggi-di-surakarta . Diunduh pada tanggal 17 Maret 2013 pukul18.00 WIBSurakarta targetkan 2 juta wisatawan per-tahun. Dalamhttp://www.wisatamelayu.com/id/news/12650-Surakarta-Targetkan-2-Juta-Wisatawan-Per-Tahun diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 12.07 WIB.Ulfah, Anita. (2012). ”Eco-Cultural” City Jokowi. Dalamhttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/07/26/194009/10/Ecocultural-City-Jokowi . Diunduh pada tanggal 16 Maret 2013 pukul 11.41 WIB.
Pengembangan Website Magazine jatengtravelguide.com (Divisi Fotografer, Reporter dan Editor) Dimas Setiawan Hutomo; M Bayu Widagdo; Musyafi Tribun Jateng; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.564 KB)

Abstract

Di era globalisasi dan modern dimana masyarakatnya membutuhukan banyak informasi, baik dalam bentuk berita maupun dalam bentuk pengetahuan dari internet. Pengguna internet yang mayoritas remaja cenderung memilih internet sebagai sumber informasi yang cepat dan dipercayai. Untuk memenuhi kebutuhan informasi ini, banyak versi online yang dibuat dari versi cetaknya. Salah satunya adalah website magazine jatengtravelguide.com yang memberikan informasi seputar wisata Jawa Tengah.Dengan menggunakan penulisan berita secara feature yang merupakan hasil reportase atau peliputan mengenai suatu hal, biasanya sifat berita feature ini timeless, atau lebih lama relevansinya dibandingkan dengan straight news. Sedangkan untuk teknik fotografi menggunakan atau memperhatikan fotografi yang bersifat fotografi travel yang lebih menonjolkan komposisi, ukuran , dan keindahan suatu objek atau perjalanan.Berdasarkan laporan hasil karya bidang, jatengtravelguide.com berhasil memenuhi goals audiens yaitu 6000 visitor dalam kurun waktu 2 bulan, yaitu tepatnya 9123 visitor serta sudah berhasil membuat artikel dan mengunggahnya sebanyak 60 artikel. Konsep yang diambil dalam website jatengtravelguide.com sudah dianggap cocok untuk mewakili anak muda dengan angka 86% dari segi tampilan ataupun gaya penulisannya..

Page 27 of 157 | Total Record : 1563