cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
The Correlation of Watching “Anak Jalanan” Drama Series and Perceived Reality with Children’s Violent Behavior Miranti Januarizky; Dra. Sri Widowati Herieningsih, MS
Interaksi Online Vol 5, No 1: Januari 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.231 KB)

Abstract

Lots of violent cases which been done by kids towards other kids because they are imitating those violent scenes from television. One of those television programs that contains quite amount of violent is “Anak Jalanan”. The high intensity of watching television enable them to imitate those violent scenes instantly. Besides, children could not entirely differ reality, so they will perceive those scenes as reality which is happens in our daily life. This research’s objective is to reveal the correlation between watching “Anak Jalanan” drama series on television and perceived reality with children’s violent behavior. Social learning and perceived reality theories are used to support the research. This is an explanatory kind of research, using 100 children (age 7-12) in Semarang as research sample which are collected using non probability sampling technique. While data analysis has been done using Kendall Tau-b correlation test. Hypotheses test results show there is a relation between watching “Anak Jalanan” drama series on television with children’s violent behavior, with significancy number as much as 0,033 and correlation coefficient as much as 0,151. Those results showing a weak relation with positive relation. As of, if the intensity of watching “Anak Jalanan” drama series is high, then the violent behavior will be high as well. Otherwise, if if the intensity of watching “Anak Jalanan” drama series is low, then the violent behavior will be low as well. Furthermore, hypotheses test result showing significancy number of “perceived reality” variable is as much as 0,104 and correlation coefficient number is as much as -0,114. Those mean, there is no significant relation between perceived reality with children’s violent behavior. Parents are suggested to make efforts in restricting children’s tv watching consumptions and practicing an active mediation kind of supervision, so that parents should have media consumption effect awareness in order to minimized negative effect caused by television, especially violent behavior effect.
Analisis Deskriptif Penggemar K-pop sebagai Audiens Media dalam Mengonsumsi dan Memaknai Teks Budaya Meivita Ika Nursanti; Triyono Lukmantoro; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.251 KB)

Abstract

Kemunculan grup musik Seo Taji and Boys di Korea Selatan pada tahun 1992menjadi sebuah titik balik bagi industri musik populer Korea. Fenomena tersebutterus berkembang dan telah menjadi salah satu fenomena budaya pop yang hadir,tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat saat ini. K-pop (dalambahasa Korea 가요, Gayo) (singkatan dari Korean pop atau Korean popularmusic) adalah sebuah genre musik terdiri dari pop, dance, electropop, hip hop,rock, R&B dan electronic music yang berasal dari Korea Selatan.Banyak orang menyebut serbuan K-pop sebagai hallyu (한류) ataugelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjinganorang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak mudaAsia kemudian mengenal K-pop dan menggilainya. Maklum, K-pop tidak hanyamemanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebritiKorea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kinibanyak anak muda yang ingin "dicetak" seperti selebriti Korea. Banyak anakmuda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncakgunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.Dalam perkembangannya, K-Pop telah tumbuh menjadi sebuah subkulturyang menyebar secara luas di berbagai belahan dunia. Idol group dan solo artisseperti BoA, Rain, DBSK, JYJ, Super Junior, B2ST, Girls‟ Generations,BIGBANG, Wonder Girls, 2NE1, 2PM, 2AM, Miss A, KARA, SHINee, f(x),After School, Brown Eyed Girls, Se7en, CNBLUE, F.T. Island, Secret, MBLAQsangat terkenal di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Jepang,Malaysia, Mongolia, Filipina, Indonesia, Thailand, Taiwan, Singapura, China, danVietnam (Cerojano, 2011).Kehadiran internet beserta jejaring sosial yang terdapat di dalamnya dapatdikatakan sangat membantu industri musik K-pop dalam menjangkau audiensyang lebih luas. Pengamat musik, Bens Leoseperti dikutip dalam sebuah portalkomunitas dan berita online tnol.co.idmengatakan musik K-pop yang telahmasuk ke Indonesia sekitar tahun 2009 berhasil populer di Indonesia berkatjaringan informasi dan teknologi internet, di mana kemudian masyarakat dapatdengan mudah mengakses dan melihat secara audiovisual. K-pop tidak hanyamengenalkan musik, tetapi K-pop juga mengenalkan budaya lewat gaya rambut,pakaian, maupun kostum (Nopiyanti, 2012).Pop culture yang beroperasi melalui fashion, musik, film maupun televisi inisangat dekat dengan dunia konsumsi di mana masyarakat dapat berekspresi didalamnya. Perilaku konsumsi individu maupun masyarakat yang terus menerus inipada akhirnya dapat menimbulkan sebuah sindrom fanatisme akibat hasilkomoditas budaya pop.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2009 (KBBI), fanatismeadalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran(politik, agama, dsb). Seseorang yang bersikap fanatik ini seringkali dijulukisebagai penggemaratau yang dalam skripsi ini disebut sebagai fans selebritis,serial televisi, band, dan komoditas budaya pop lainnyaseperti halnya dalamindustri K-pop.Henry Jenkins dalam Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture (1992) menjelaskan mengenai kata “fan” (penggemar) yang merupakanabrevasi dari “fanatic”, yang berasal dari kata Latin “fanaticus”. Secara literal,“fanaticus” berarti “Dari atau berasal dari sebuah pemujaan; pelayan suatupemujaan; seorang pengikut” (“Of or belonging to the temple, a temple servant, adevotee”) (Oxford Latin Dictionary). Dalam perkembangannya, “fanatic”diartikan sebagai suatu bentuk kepercayaan religius yang berlebihan danmenyembah kepada setiap “antusiasme yang salah dan berlebihan”, yang padaakhirnya banyak menimbulkan kritik karena melawan kepercayaan dan dianggapsebagai suatu kegilaan yang timbul dari suatu posesi atas dewa atau iblis (OxfordEnglish Dictionary).Fenomena yang kemudian terjadi adalah menjamurnya fans K-pop di seluruhbelahan dunia. Fans yang berasal dari berbagai macam fandom idolgroupseperti misalnya ELF (Ever Lasting Friends) yang merupakan sebutanbagi penggemar Super Junior, B2UTY untuk penggemar B2ST, atau pun VIP bagipenggemar BIGBANGmenjadi sebuah kesatuan besar di bawah naunganfandom K-pop.Bagi kebanyakan orang, fandom K-pop dikenal dengan stereotip yangmelekat pada diri fans atau penggemarnya. Fans K-pop dianggap selalu bersikapberlebihan, gila, histeris, obsesif, adiktif, dan konsumtifketika mereka sangatgemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli merchandise idola maupunmengejar idolanya hingga ke belahan dunia mana pun.Menurut Casey dalam Television Studies – The Key Concepts (2002: 91), fansselalu diasumsikan sebagai „canggung secara sosial dan kumpulan orang tidakberguna yang terbuai akan budaya populer, melalui sebuah media tertentu, dimanamenawarkan mereka kepuasan sintetis dan pelarian dari hidup mereka yangmenyedihkan.Stereotip tersebut salah satunya dapat dilihat dalam kehidupan di duniamaya. Mereka secara terang-terangan dapat menyatakan rasa cinta kepada idoladengan menggunakan fungsi mention pada Twitter dan ditujukan langsung keakun Twitter sang idola. Melalui dunia maya, mereka dapat dengan bebasmengungkapkan dan mencurahkan isi hati mereka kepada sesama fans K-popdengan posting pada blog maupun forum. Melalui dunia maya pula, fans K-popmelakukan sebuah aktivitas yang disebut dengan fangirling (berasal dari katafangirl. Fans lelaki disebut dengan sebutan fanboy. Fangirl dan fanboy seringdibedakan karena praktik tertentu yang mereka lakukan di dalam fandom. Namunpada dasarnya fans/penggemar/konsumen adalah sama) (Jenkins, 2007).Fangirling adalah sebutan yang digunakan untuk mendeskripsikankegembiraan berlebih atau bahkan ekstrim terhadap fandom tertentu. Internet telahmenjadi, bagi kebanyakan orang, sebuah sumber alternatif untuk informasi danhiburan, pada tingkat suatu bentuk media yang lebih “mapan” ketimbang televisidan media cetak (Rayner, Wall, Kruger, 2004: 104). Mereka sering menghabiskanwaktunya di depan komputer selama berjam-jam untuk berdiskusi mengenai objekkesenangan mereka hingga ke perilaku obesesif yang berlebihan yaitu stalking(istilah yang digunakan untuk mengacu pada perhatian obsesif yang tidakdiinginkan oleh seorang individu atau grup yang dilakukan oleh orang tertentu.Perilaku stalking sering dikaitkan dengan pelecehan dan intimidasi termasukmengikuti sang korban ke mana pun ia pergi dan memonitor segala perilakunya(http://www.thehistoryofastalker.com/stalkers-psychological-file).Melalui media seperti TV, dan terutama internet pula, fans K-pop dapatmemenuhi rasa „rindu‟ mereka. Mereka mengunduh video klip dan berbagaimacam variety show yang dibintangi idola mereka, mereka bertukar informasi dangossip terbaru melalui fanboard maupun bentuk media internet lainnya. Hal inibagi mereka adalah sebuah forum untuk mengekpresikan keluhan mereka, berbagiinformasi, dan mengesahkan identitas mereka sebagai fans (Rayner, Wall, Kruger,2004: 147).Bagi mereka fandom K-pop adalah sesuatu yang besar. Mereka memilikinama masing-masing, warna tertentu yang menunjukkan identitas mereka (warnabiru safir bagi fan Super Junior, warna merah untuk penggemar DBSK, dan lainlain),dan bahkan diakui secara resmi oleh label atau manajemen yang menaungiidola kesayangan mereka. Fandom K-pop telah berfungsi hampir menyerupaisebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnya seakan-akan telahdihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknya seorang dewa.Menurut Joli Jenson (dalam Storey, 2006:158), literatur mengenai kelompokpenggemar dihantui oleh citra penyimpangan. Penggemar selalu dicirikan sebagaisuatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemardilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. Jensonmenunjukkan dua tipe khas patologi penggemar, „individu yang terobsesi‟(biasanya laki-laki) dan „kerumunan histeris‟ (biasanya perempuan).Para penggemar ditampilkan sebagai salah satu liyan yang berbahaya dalamkehidupan modern. “Kita” ini waras dan terhormat; “mereka” itu terobsesi danhisteris. Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dan patologis mediamassa. Penggemar tidak bisa menciptakan jarak di antara dirinya dan objekkesenangannya.Para khalayak pop dikatakan memamerkan kesenangan mereka hinggamenimbulkan ekses emosional, sementara budaya resmi dan budaya dominansenantiasa mampu memelihara jarak dan kontrol estetik yang terhormat.Kelompok penggemar itu disebut-sebut hanya melakukan aktivitas kulturalkhalayak pop, sementara kelompok-kelompok dominan dikatakan memiliki minat,selera dan preferensi kultural. Hal ini diperkuat oleh objek-objek kekaguman.Budaya resmi atau dominan menghasilkan apresiasi estetik; kelompok penggemarhanya pas untuk pelbagai teks dan praktik budaya pop.Fans K-pop juga dikenal selalu loyal terhadap idolanya. Mereka tak seganseganuntuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membeli segala macampernak-pernik tentang idolanya. Mereka juga tidak sayang untuk mengeluarkankocek yang besar untuk membeli hingga sepuluh CD album, saat idolanya merilisalbum baru, agar idola mereka dapat memenangkan penghargaan di berbagaiajang penghargaan musik. Merchandise sendiri terkadang memiliki harga yangtidak masuk akal bagi kebanyakan orang, terutama di luar fandom K-pop.Tidak hanya konsumsi merchandise atau pernak-pernik yang berhubungandengan idolanya, penggemar K-pop tentu tidak bisa dilepaskan dari konsumsimenonton konser. Di Indonesia sendiri, Showmaxx, selaku promotor yangmendatangkan Super Junior untuk konser di Indonesia, sampai harusmemperpanjang jadwal konser yang bertajuk Super Junior World Tour: SuperShow 4, menjadi tiga hari. Sebuah situs berita K-pop online, dkpopnews,memberitakan bahwa 60% audiens yang hadir di perhelatan konser Super Junior(Super Show 3: Super Junior the 3rd Asia Tour) di Singapura adalah penontonIndonesia. Mereka bahkan menyelenggarakan sebuah project dengan memberikansepuluh medali emas yang dipesan khusus untuk para anggota Super Junior.Masing-masing medali seharga sekitar $ 442.77 (Lee, 2011).Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa fandom K-pop telah berfungsihampir menyerupai sebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnyaseakan-akan telah dihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknyaseorang dewa. Obsesi mereka terhadap para idolanya sering dianggap berlebihandan melampaui batas.Casey (dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 146) melihat bagaimana fansdalam representasinya seringkali ditolak dalam masyarakat. Casey menjelaskanbagaimana fans sering ditolak. Fans yang obsesif muncul karena telah „diambil‟oleh teks, dimana mereka (non-fans) tidak. Mereka (non-fans) mengkonstruksikanposisinya sebagai „normal‟ di mana sangat bertolak belakang dengan perilakufans. “Walaupun kita juga menikmati teks, „mereka‟ sangat berbeda dengan„kita‟.”Fans dan fandom sebagai salah satu area populer dalam studi mengenaiaudiens menjadi lebih layak dianalisis dalam studi kritikal ketika dalamperkembangannya, keberadaan fans telah dipengaruhi oleh teknologi dan media.Asumsi awal mengenai fans selalu dilihat sebagai mereka yang „obsesif‟, „anorak‟(seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat pada suatu hal, mungkin obsesifdan ketertarikan tersebut tidak dapat dipahami oleh orang lain; british slang,Oxford Dictionaries tahun 2012), dan „aneh‟, yang ketertarikan obsesinya adalahpada sebuah objek budaya tertentu sebagai „tameng‟ untuk mengejarkecanggungan atas kehidupan sosial mereka.Dewasa ini, representasi fandom telah mengalami perubahan. Jenkins (dalamRayner, Wall, Kruger, 2004: 147) mendeskripsikan bahwa fandom adalah sesuatuyang positif dan memberdayakan. Fandom adalah salah satu cara di manakhalayak dapat menjadi aktif dan berpartisipasi dalam mengkreasikan makna darisebuah teks dalam media.Penelitian ini akan berfokus pada bagaimana fans K-pop sebagai audiensmedia mengonsumsi dan memaknai teks di dalam media terkait dengan perilakufanatisme di dalam fandom yang mereka ikuti. Lebih lanjut, penelitian ini jugaakan membahas mengenai perilaku produksi yang dilakukan oleh penggemarsebagai hasil dari aktivitas konsumsi dan pemaknaan yang mereka lakukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku penggemar K-pop, berkaitandengan motif yang mendorong mereka untuk melakukan aktivitas konsumsiadalah motif yang didasari oleh motif kepuasan. Konsumsi yang mereka lakukandidasari oleh keinginan mereka sendiri akan perasaan puas yang timbulsetelahnya. Kecintaan mereka terhadap idola menghapuskan rasa sayang untukmenghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit bagi kegiatan kegemaranmereka. Konsumsi yang mereka lakukan bukanlah diukur dari berapa banyakwaktu maupun biaya yang mereka keluarkan atau pun bagaimana lingkungansosial menilai mereka. Konsumsi yang mereka lakukan lebih berbicara mengenaikenikmatan yang dicapai sebagai pelampiasan akan hasrat atau perasaan rinduyang terpendam terhadap sang idola. Perilaku konsumsi yang dilakukan olehpenggemar K-pop umumnya meliputi mengunduh video, membeli merchandise,dan menonton konser. Video yang mereka unduh adalah video-video berupa videoklip, potongan-potongan scene, hingga video variety show. Sedangkan mengenaikonsumsi merchandise dapat bermacam-macam bentuknya seperti CD, kaos,photo book, dan light stick. Aktivitas menonton konser adalah aktivitas yangpaling ditunggu-tunggu. Hal ini disebabkan oleh satu tujuan utama yang samayaitu untuk bertatap muka langsung dengan idola.Selain itu, penggemar K-pop tidak hanya melakukan konsumsi, merekasenantiasa juga melakukan pemaknaan terhadap teks di media. Ketika merekamengonsumsi, mereka memaknai. Pemaknaan yang dilakukan oleh penggemartidak hanya dilakukan berdasarkan pengalaman mereka secara individu namunjuga secara kolektif, misalnya ketika sedang berada di dalam kelompok ataukomunitas penggemar. Perilaku pemaknaan secara kolektif ini, salah satunyadapat dilihat dengan seberapa sering penggemar saling berdiskusi, bertukarinformasi atau berdebat mengenai pengetahuan objektif yang tidak diketahui olehorang awam.Penggemar, selain melakukan aktivitas konsumsi, ternyata juga melakukanaktivitas produksi kreatif sebagai bentuk fanatisme. Aktivitas produksi adalahefek yang timbul dari kegiatan mengonsumsi teks di media secara terus-menerus.Serupa dengan motif penggemar dalam mengonsumsi, motif produksi teks budayayang dilakukan oleh penggemar K-pop juga didasari atas pemenuhan kebutuhanafeksi dan emosi mereka. Selain untuk mencapai kepuasan (satisfaction), produksiteks juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai manusia sosial,yaitu kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan untuk mencari identitas sertakebutuhan akan pemenuhan diri. Contoh produksi yang dilakukan oleh penggemarK-pop adalah fan fiction dan fan art. Hasil produksi ini kemudian akan diunggahke media (internet) untuk kemudian dishare dengan sesama penggemar. Tidakhanya sampai di situ, penggemar lainnya yang turut mengonsumsi produksitersebut juga ditemukan memberikan feedback bagi si produser; seperti misalnyameninggalkan komentar atau kritik yang membangun.Media yang telah menjadi sebuah wadah utama bagi mayoritas penggemarK-pop adalah internet. Selain membantu mereka dalam kegiatan kegemaran(fangirling), internet juga membantu mereka dalam berkomunikasi serta bertukarinformasi dengan sesama penggemar lainnya di dunia maya walau belum pernahdilakukan tatap muka di antara keduanya. Penggemar K-pop biasanya memilikiforum-forum khusus yang memungkinkan mereka untuk melakukan sharingsecara beramai-ramai. Forum-forum ini umumnya adalah situs yang dibuat olehpenggemar dan diperuntukkan bagi penggemar pula. Tidak hanya melalui forum,tetapi situs-situs jejaring sosial seperti twitter dan tumblr juga memudahkanmereka dalam melakukan kegiatan fangirling. Melalui forum/jejaring sosialmereka bisa membicarakan berbagai macam hal, dari mulai video klip yang barukeluar hingga gaya rambut sang idola yang terus berganti-ganti.DAFTAR PUSTAKAAnda, Atri, et. Al. 2012. Jalan-Jalan K-pop. Jakarta: Gagas Media.Casey, Bernadette, et. Al. 2008. Television Studies: The Key Concepts, SecondEdition. Oxon: Routledge.Cheonsa, Choi. 2011. Hallyu: Korean Wave. Klaten: Cable Book.Engel, James F, Roger .D Blackwell, dan Paul W. 1995. Perilaku Konsumen.Jakarta: Binarupa Aksara.Featherstone, Mike. 2007. Consumer Culture and Postmodernism Second Edition.London: SAGE Publications Ltd.Friedman, Jonathan. 2005. Consumption and Identity. Singapore: HarwoodAcademic Publishers.Genosko, Gary. 1994. Baudrillard and Signs: Signification Ablaze. London:Routledge.Gray, Jonathan, Cornel Sandvoss, dan C. Lee Harrington (ed.). 2007. Fandom:Identities and Communities in A Mediated World. New York & London:New York University Press.Hellekson, Karen, dan Kristina Busse (ed.). 2006. Fan Fictions and FanCommunities in the Age of the Internet. Jefferson: McFarland & Company,Inc.Hills, Matt. 2002. Fan Cultures. London: Routledge.Jenkins, Henry. 1992. Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture. New York & London: Routledge.Kelly, William. W (ed.). 2004. Fanning the Flames: Fans and Consumer Culturein Contemporary Japan. Albany: State University of New York Press.Korean Culture and Information Service. 2011. Contemporary Korea No. 1 TheKorean Wave: A New Pop Culture Phenomenon. Seoul: Koreean Cultureand Information Service Ministry of Culture, Sports and Tourism.Kuswarno, Engkus. 2009. Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: WidyaPadjadjaran.Mackay, Hugh (ed.). 1997. Consumption and Everyday Life. London: SagePublications Ltd.Moran, Dermot. 2000. Introduction to Phenomenology. London: Routledge.Neuman, Lawrence W. 2007. Basics of Social Rasearch: Qualitative andQuantitative Approaches Second Edition. Boston: Pearson Education Inc.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda.Rayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssential Resource. London & New York: Routledge.Ritchie, Jane dan Jane Lewis. 2003. Qualitative Research Practice: A Guide forSocial Science Students and Researchers. London: SAGE Publications.Rusbiantoro, Dadang. 2008. Generasi MTV. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.Sastranegara, Arif. 2012. Boyband dan Girlband Korea: 21 Grupband KoreaSuper Populer. Surabaya: Citra Publishing.Schacht, Richard. 2005. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif.Jakarta: Jalasutra.Storey, John. 2006. Pengantar Komprehensif, Teori, dan Metode: CulturalStudies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Storey, John. 2009. Fifth Edition Cultural Theory and Popular Culture: AnIntroduction. Harlow: Pearson Education Ltd.Yuanita, Sari. 2012. Korean Wave: Dari K-Pop Hingga Tampil Gaya Ala Korea.Yogyakarta: IdeaTerra Media Pustaka.Referensi SkripsiPujarama, Widya (2008). Kisah Harry Potter yang Menjadi Mitos: Studi Etnografiterhadap Penggemar Kisah Harry Potter dalam Situswww.harrypotterindonesia.com. Skripsi. Universitas Brawijaya.Qisthina (2010). Budaya Penggemar Musik Pop Korea (Studi Pada PolaKonsumsi dan Produksi ELF Super Junior di Kalangan Pelajar KotaMalang). Skripsi. Universitas Brawijaya.Sandika, Edria (2010). Dinamika Konsumsi dan Budaya Penggemar KomunitasTokusatsu Indonesia. Tesis. Universitas Indonesia.Referensi InternetCerojano, Teresa. (2011). K-pop‟s Slick Productions Win Fans Across Asia.dalam http://lifestyle.inquirer.net/14895/k-pops-slick-productions-winfans-across-asia. diakses tanggal 17 November pukul 17:45.Grossman, Lev. (2011). The Boy Who Lived Forever. dalamhttp://www.time.com/time/arts/article/0,8599,2081784-1,00.html. diaksestanggal 15 Januari 2013 pukul 21:00.Halim, Denny F. (2012). My Jakarta: Wina and Siska, K-pop Fans. dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/myjakarta/my-jakarta-wina-and-siska-kpop-fans/504997. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 23:15.Jenkins, Henry. (2007). Gender and Fan Culture (Round Fifteen, Part Two: BobRehak and Suzanne Scott. dalamhttp://henryjenkins.org/2007/09/gender_and_fan_culture_round_f_4.html.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 24:00.Kamil, Ati. (2012). “Gelombang Korea” Menerjang Dunia. dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/01/15/18035888/.Gelombang.Korea.Menerjang.Dunia. diakses tanggal 17 November 2012 pukul 23:00.Lee, Dajeong. (2011). 10 Gold Medals for Super Junior from Indonesian ELF.dalam http://www.dkpopnews.net/2011/01/photos-10-gold-medals-forsuper-junior.html. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 21:00.Nopiyanti. (2012). Bens Leo: K-pop Penyelamat Musik Indonesia!. dalamhttp://www.tnol.co.id/film-musik/12710-bens-leo-k-pop-penyelamatmusik-indonesia.html. diakses tanggal 24 April 2012 pukul 20:10.Pasandaran, Camelia. (2012). „Gangnam Style‟ Star Psy to Ride Into Jakarta.dalam http://www.thejakartaglobe.com/entertainment/gangnam-style-starpsy-to-ride-into-jakarta/553423. diakses tanggal 16 November 2012 pukul21:45.Subi. (2012). K-pop Merchandising: Exploiting the Consumer. dalamhttp://seoulbeats.com/2012/01/k-pop-merchandising-exploiting-theconsumer/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 23:45.Suwarna, Budi dan Frans Sartono. (2010). Super Korea, Super Tampang. dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2010/12/12/03182533/. diakses tanggal16 November 2012 pukul 19:05.Third Jakarta Show Added For K-pop Band Super Junior. (2012). dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/entertainment/third-jakarta-show-addedfor-k-pop-band-super-junior/512038. diakses tangal 23 April 2012 pukul22:00.Today’s K-pop Fan Groups: Too Obsessive?. (2011). dalamhttp://seoulbeats.com/2011/11/todays-k-pop-fan-groups-too-obsessive/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 22:00.Referensi Media CetakBurhanudin, Tony. (2012, Juli). Imitator Jepang yang Sukses. Marketing: 66-67.Burhanudin, Tony. (2012, Juli). K-pop Sebagai National Branding Bangsa Korea.Marketing: 58-59.Ladjar, Angelina M. (2012, Juli). Tidak Sembarang Artis K-pop. Marketing: 76-77.Mulyadi, Ivan. (2012, Juli). Samsung as Global Brand. Marketing: 74-75.Tanoso, Harry. (2012, Juli). Harga Sinetron Korea Jauh Lebih Murah dariSinetron Lokal. Marketing: 82-83.Purwaningsih, Ike dan Miftah N. (2012, Oktober 7). Korea Masih Bikin Kepincut.Suara Merdeka: 21.
Hubungan Motivasi dan Intensitas Orang Tua yang Bermain Game dengan Perilaku Menyimpang dalam Keluarga Rizka Arsianti; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.11 KB)

Abstract

Perkembangan penggunaan game yang kian pesat didukung oleh jumlahgame yang semakin banyak, akses yang mudah dengan berbagai platform,membuat game dikonsumsi oleh segala lapisan umur tidak terkecuali orang tua.Perlu disadari bahwa game tidak hanya membawa dampak positif saja namun jugadampak negatif. Motivasi dan intensitas dari seorang pemain game kemudianmemiliki andil dalam pembentukan perilaku, sehingga ada kekhawatiran berujungpada perilaku menyimpang. Keluarga sebagai lingkungan terdekat dari seorangindividu dimana orang tua menjalankan norma-normanya, tidak luput terkenadampak negatif dari game.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori,yang bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasidanintensitas orang tua yangbermain game denganperilakumenyimpangdalamkeluarga.Teori yang digunakanadalah Self Determination Theory, dan Teori Belajar Sosial. Penelitian inimenggunakan teknik non random sampling dengan metode purposive samplingdan jumlah sampel sebanyak 100 responden orang tua yang bermain game di kotaSemarang.Hasil dari analisis korelasi Pearson dengan bantuan SPSS 22 menunjukanbahwa antara motivasi bermain game dengan perilaku menyimpang memilikihubungan yang signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar0,025 dimana tingkat signifikansinya lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisienkorelasinya sebesar 0,197. Sedangkan intensitas dengan perilaku menyimpangmemiliki hubungan yang juga signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilaisignifikansi sebesar 0,015 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dan nilaikoefisien korelasinya sebesar 0,217.Keluarga sebagai lingkungan terdekat dari individu dalam hal ini orang tuasebaiknya melakukan tindakan preventif dengan mengarahkan orang tua yangbermain game ke aktivitas yang lebih positif dan mencari kesibukan lain yangmembuat orang tua yang bermain game dapat bersosialisasi denganlingkungannya, sehingga dapat meminimalisir motivasi dan intesitas bermaingame agar terhindar dari perilaku menyimpang.
Memahami Manajemen Konflik dalam Perkawinan Beda Bangsa Yobelta Kristi Ayuningtyas; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan budaya dalam diri pasangan perkawinan beda bangsa bisa memicu timbulnya konflik di dalam rumah tangga. Pasangan perlu melakukan manajemen konflik yang efektif agar menghasilkan keluaran konflik yang menguntungkan kedua belah pihak. Penelitian ini bertujuan memahami manajemen konflik yang dilakukan pasangan perkawinan beda bangsa di dalam rumah tangga. Teori yang digunakan yaitu Teori Gaya Manajemen Konflik oleh R. R. Blake dan J. Mouton dalam konteks hubungan antar pribadi, serta Teori Negosiasi Muka oleh Stella Ting-Toomey. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa objek konflik dalam perkawinan beda bangsa tidak hanya yang berkaitan dengan urusan domestik rumah tangga seperti jadwal kegiatan pekerjaan pasangan dan tanggung jawab mengurus anak, objek konflik juga bersumber dari perbedaan budaya seperti dalam hal bahasa, gaya berkomunikasi, serta cara mendidik anak yang tidak sama. Lalu gaya manajemen konflik yang digunakan oleh pasangan dalam penelitian ini yaitu, gaya manajemen konflik kompromi dan menghindar. Informan dengan budaya individualistik memandang muka diri (self face) lebih penting sehingga upaya pemeliharaan muka dilakukan ketika menghadapi konflik. Informan dengan budaya kolektivistik, sementara itu, lebih cenderung melakukan upaya penyelamatan muka untuk melindungi dan memperbaiki muka diri dan muka lain (other face).
Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76 Diandini Nata Pertiwi; Hedi Pudjo Santosa; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.782 KB)

Abstract

Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76ABSTRAKPenelitian berjudul “Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76”dengan subjek penelitian versi Matre, versi Pingin Sugih dan Ganteng, versi Ketipu,versi Takut Istri, versi Gayus, versi Ketiduran dilakukan untuk mengetahuibagaimana orang Jawa dan mitologi orang Jawa direpresentasikan dalam iklantersebut. Penelitian ini berlandaskan pada teori representasi dari Stuart Hall, teorisemiotika dari Roland Barthes, dengan menggunakan analisis Sintagmatik sebagaipemaknaan tataran pertama terhadap rangkaian teks. Penelitian ini jugamenggunakan analisis Paradigmatik untuk proses penggalian makna tataran keduayang bersifat konotatif dengan mengungkapkan mitologi, dan kode-kode ideologisdalam iklan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa orang Jawa dalam iklan Djarum76 tampil sebagai sosok yang merusak kerukunan, tidak memiliki keutamaan yangsangat dihargai oleh orang Jawa, tidak menjalankan tuntutan kerukunan yangdibebankan kepadanya sebagai orang Jawa dewasa, matre, sombong, mencerminkanfalsafah Jawa yaitu, inggah inggih ora kepanggih dan yen djiwit lara aja njiwit, tidakmawas diri, mencerminkan teori humor superioritas dan meremehkan, bersifatangkaramurka yang dibarengi dengan ungkapan umuk keblithuk, pemalas. Hal inisangat berseberangan sekali dengan stereotip yang ada di masyarakat. Penelitian inijuga berhasil mengungkapkan kepercayaan orang Jawa terhadap mahluk halus untukmengatasi masalah hidup.Kata kunci: Orang Jawa, Representasi, Iklan Djarum 76ABSTRACTResearch called representation the javanese in television commercial djarum 76 withthe subject of study version Matre, version Pingin Sugih dan Ganteng, versionKetipu, version Takut Istri, version Gayus, version Ketiduran conducted to determinehow The Javanese and mythology The Javanese represented in those ads. Thisresearch based on the theory of representation of the Stuart Hall, a theory ofsemiotics Roland Barthes, by using Sintagmatik analysis as the first level ofdefinition of the range of text. Research is also using analysis paradigmatik to thesecond process of extracting entendres a connotative by with reveals the mythology,and the ideological codes in ads. The results of this research show that the Javanesein ad Djarum 76 appeared as a destructive figure of harmony, Not having theprimacy of which is highly prized by The Javanese, don ' t run demands harmonycharged to him as The Javanese adult, matre, arrogant, reflecting of philosophy Javathat is, inggah inggih ora kepanggih, and yen djiwit lara is njiwit, not introspective,reflecting the humor theory of superiority and underestimate, spatiallyangkaramurka and as with expressions of umuk keblithuk, and a lubber. It isopposite the existing stereotypes in society. This research also managed to reveal inconfidence The Javanese against being ethereal to solve the problems of life.Keywords: The Javanese, Representation, Advertising Djarum 76PENDAHULUANA. Latar BelakangOrang Jawa adalah penduduk asli bagian tengah dan timur Pulau Jawa yang bahasaibunya adalah bahasa Jawa (Magnis-Suseno, 1991: 12). Rokok (udud) dan kebiasaanmerokok (ngudud) telah mewarnai kehidupan orang Jawa di berbagai lapisan.Aktivitas ngudud sudah menjadi bagian dari hidup bagi orang Jawa. Rokok dijadikansarana untuk melepas kepenatan permasalahan yang dihadapi dalam hidup seharihari.Beban psikologis yang dialami orang Jawa seakan-akan terasa berkurang danketentraman batin pun didapatkan setalah merokok. Selain itu, rokok juga dijadikansebagai media untuk memanggil makhluk yang tidak kasat mata untukmenyelesaikan masalah dalam kehidupan.Ritual orang Jawa ini diadopsi oleh Djarum 76 dalam pembuatan iklannya.Ritual orang Jawa dipilih oleh Djarum 76 untuk iklannya karena tembakau yangdipakai untuk memproduksi Djarum 76 semua berasal dari temanggung, danpengikut setia Djarum 76 kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, dan Jawa Timur.Sosok orang Jawa yang dihadirkan dalam bentuk jin dalam iklan Djarum 76menggambarkan sisi religi Jawa yang masih menganut kepercayaan Kejawen, yangmenggunakan rokok sebagai media untuk memanggil makhluk ghaib. Iklan Djarum76 menggambarkan unsur etnisitas Jawa dengan menghadirkan sosok jin yangdirepresentasikan menggunakan baju adat Jawa, bahasa Jawa, dialek Jawa,karakteristik Jawa, dan lain sebagainya. Iklan rokok Djarum 76 berbeda sekalidengan iklan rokok pada umumnya. Iklan rokok pada umumnya menggambarkanimage maskulinitas atau syarat akan kebersamaan, dan persahabatan.Media televisi merupakan pilihan terbaik bagi kebanyakan pengiklan diIndonesia. Televisi merupakan salah satu media komunikasi yang sangat efektifuntuk memberikan informasi dibandingkan dengan media lainnya. Kelebihan mediatelevisi dalam menyampaikan pesan adalah pesan-pesan yang disampaikan melaluigambar, dan suara secara bersamaan, serta memberikan suasana hidup sehinggasangat mudah diterima oleh pemirsa. Siaran televisi juga memiliki sifat langsung,simultan, intim, dan nyata (Mulyana, 1997: 169). Budaya yang direpresentasikansecara terus-menerus dalam iklan televisi Djarum 76 akan mengakibatkan orangorangyang menonton iklan Djarum 76 memiliki stereotype bahkan prasangkaterhadap orang Jawa bahwa sikap, sifat, dan karakteristik orang Jawa itu seperti apayang direpresentasikan oleh sosok kedua jin itu. Padahal streotype yangmembuahkan prasangka tidak baik dihadirkan karena akan menghadirkan penilaianbaku yang tidak dapat diubah untuk satu etnis tertentu.B. Perumusan MasalahOrang Jawa dalam iklan Djarum 76 direpresentasikan melalui sosok jin yangmengenakan pakaian, dan juga menggunakan dialek Jawa. Tidak hanya di satu iklansaja namun direpresentasikan di beberapa iklan Djarum 76, sosok jindirepresentasikan secara terus menerus membuat orang memiliki asumsi ataupenilaian terhadap orang Jawa seperti apa yang digambarkan oleh jin dalam iklanDjarum 76. Oleh karena itu, rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanaorang Jawa dan mitologinya direpresentasikan dalam iklan televisi Djarum 76?C. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui mitologi orang Jawa, dan bagaimana orang Jawadirepresentasikan dalam iklan televisi Djarum 76.D. Kerangka Pemikiran Teoritis1. Representasi, dan orang JawaRepresentasi menurut Stuart Hall (1997: 15), “representasi menghubungkan makna,dan bahasa dengan budaya. Yang berarti menggunakan bahasa untuk mengatakantentang sesuatu, atau untuk mewakili dunia yang penuh arti, kepada orang lain.Representasi merupakan bagian penting dari proses di mana makna diproduksi, dandipertukarkan antara anggota suatu budaya. Ini melibatkan penggunaan bahasa,tanda-tanda, dan gambar yang berdiri untuk atau mewakili sesuatu”. Representasi inipenting untuk kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita memahami lingkungan kita dansatu sama lain. Pemahaman dihasilkan melalui campuran kompleks latar belakang,selera, kekhawatiran, pelatihan, kecenderungan, dan pengalaman, semua dibuat nyatabagi kita melalui prinsip-prinsip, dan proses representasi bahwa frame, dan mengaturpengalaman kami berada di dunia. Apa yang kita lihat adalah bukan apa yang ada,tapi apa tradisi sosial budaya, dan konteks melihat itu (Webb, 2009: 2).Iklan Djarum 76 juga menggunakan penandaan dalam produksi iklannya.Iklan Djarum 76 yang diproduksi dengan berbagai versi di dalamnyamerepresentasikan sosok orang Jawa. Orang Jawa diatur dalam pola pergaulannya dimana ada kaidah-kaidah yang harus diperhatikan. Hildred Greertz (dalam Magnis-Suseno, 1991: 38) mengatakan, “ada dua kaidah yang paling menentukan polapergaulan dalam masyarakat Jawa. Kaidah pertama disebut dengan rukun. Kaidahkedua disebut dengan prinsip hormat” Prinsip kerukunan tidak menyangkut suatusikap batin atau keadaan jiwa, melainkan penjagaan keselarasan dalam pergaulan.Yang perlu dicegah konflik-konflik yang terbuka. Ketentraman dalam masyarakatjangan sampai diganggu, jangan sampai nampak adanya perselisihan, danpertentangan. Oleh karena itu, Hildred Geertz menyebut keadaan rukun sebagaiharmonious social appearances. Mencegah terjadinya emosi-emosi yang bisamenimbulkan konflik atau sekurang-kurangnya dapat mencegah jangan sampaiemosi-emosi itu pecah secara terbuka (Magnis-Suseno, 1991: 40-41). Prinsip hormat,membawa diri sesuai dengan tuntutan-tuntutan tata krama sosial harus dilakukan.Mereka yang berkedudukan lebih tinggi harus diberi hormat. Sedangkan sikap yangtepat terhadap mereka yang berkedudukan lebih rendah adalah sikap kebapaan ataukeibuan, dan rasa tanggung jawab (Magnis-Suseno, 1991: 60-61).Orang Jawa memiliki watak nrima. Nrima adalah menerima segala sesuatudengan kesadaran tanpa merasa kecewa di belakang. Namun nrima tidak berartitanpa upaya gigih. Mereka tetap berpedoman jika masih ada hari, rezeki tentu ada,dan setiap orang yang mau bekerja tentu akan meraih rezeki (Endraswara, 2013: 35).Selain itu, orang Jawa dikenal memiliki sifat dermawan atau kanthong bolong.Kanthong bolong berarti memiliki sifat suka memberi. Kanthong bolong, kuncinyapada ikhlas, tulus, dan penuh perhatian (Endraswara, 2013: 51). Orang Jawa jugamempunyai karakteristik buruk yang biasa disebut dengan watak angkaramurka.Angkaramurka adalah watak yang didorong oleh keinginan, dan rasa ingin serba dariorang lain. Watak angkaramurka sering berbarengan dengan watak julig (licik) orangJawa (Endraswara, 2013: 37). Di setiap diri orang Jawa pun terdapat sifat sombong.Selalu merasa lebih dari orang lain, ingin dipuji, dan semua itu dilakukan untukmenaikan harga dirinya. Ungkapan umuk keblithuk, artinya yang sombong akancelaka (Endraswara, 2013: 101).2. Representasi dalam IklanIklan menurut Danesi (2009: 12), “Iklan berisikan pengumuman publik, promosi,dukungan, atau dukungan produk, layanan, bisnis, seseorang, suatu peristiwa, danlain-lain dalam rangka untuk menarik atau meningkatkan minat. Saat ini, iklan telahberubah menjadi bentuk dominan wacana sosial mempengaruhi gaya hidup,pandangan dunia, sistem ekonomi, politik, dan nilai-nilai bahkan tradisional, karenadirancang untuk menunjukkan bagaimana orang-orang terbaik yang bisa memenuhikebutuhan mereka dan mencapai tujuan mereka.” Iklan yang menampilkan gayahidup, trend, dan nilai-nilai sosial yang dianut oleh sebuah masyarakat dipercayadapat meningkatkan penjualan. Dengan cara seperti ini maka mengaburkan garisantara nilai guna produk dengan kesadaran sosial.Iklan merupakan suatu peralatan untuk membingkai ulang makna untukmenambah nilai komoditas (Goldman, 1994: 188). Tanda-tanda yang digunakaniklan merupakan praktek dari representasi. Representasi menggunakan bahasa agarbaik pengirim atau penerima memiliki pemahaman yang sama terhadap teks yangditampilkan. Bahasa yang mengandung tanda-tanda dalam suatu iklan yangmengakibatkan stereotip. Dengan bahasa yang digunakan iklan, iklan dapatmenunjukan dengan sengaja siapa, dan seperti apakah kita. Menurut Goddard (2001:62), “stereotipe bekerja pada tanda-tanda yang diberikan atas representasi sesuatudalam iklan”.E. Metoda Penelitian1. Tipe PenelitianTipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang mengacu pada pendekatansemiotika untuk mengungkap makna di balik tanda-tanda yang ditampilkan olehiklan yang dipilih peneliti. Penelitian ini menggunakan salah satu metode penelitiankualitatif yaitu studi analisis semiotika Roland Barthes dengan menggunakan teorirepresentasi Stuart Hall.2. Subyek PenelitianIklan Djarum 76 dengan berbagai versi yaitu versi Matre, versi Pingin Sugih, danGanteng, versi Jin Ketipu, versi Jin Takut Istri, versi Gayus, dan versi Jin Ketiduran.3. Jenis Data dan Sumber DataData Primer adalah data yang diperoleh langsung melalui pengamatan terhadapsubyek penelitian yaitu teks dan gambar audio visual dari iklan Djarum 76. DataSekunder, diperoleh dari pengumpulan data sekunder antara lain melalui berbagaibuku, jurnal atau pun literatur yang sesuai dengan tema penelitian ini.4. Teknik Analisis DataDidasarkan pada konsep The Codes of Television. The Codes of Television berartiperistiwa yang akan disiarkan telah dienkode oleh kode-kode sosial. Kode-kodetersebut terdiri dari beberapa level, sebagai berikut (Fiske, 1987: 4-5): level 1:“Reality”, level 2: “Representation”, level 3: “Ideology”.5. Unit AnalisisTampilan audio, video serta teks dalam iklan Djarum 76 dengan berbagai versi yaituversi Matre, versi Pingin Sugih dan Ganteng, versi Jin Ketipu, versi Jin Takut Istri,versi Gayus, dan versi Jin Ketiduran.PEMBAHASANA. HASIL PENELITIAN1. Aladdin Dengan Kepercayaan JawaJin yang keluar dari kendi, kemudian memberikan penawaran permintaan kepada“tuannya” (orang yang mengeluarkannya dari kendi), diadopsi dari budaya TimurTengah, yaitu kisah 1001 malam (Aladdin). Diadopsinya cerita Aladdin oleh iklan inidikarenakan, orang-orang Jawa juga mempercayai bahwa terdapat makhluk haluspenunggu suatu tempat yang dapat mengatasi masalah dalam hidupnya, danmenjadikan hidupnya menjadi lebih baik. Cerita Aladdin dalam iklan ini tidakdiadopsi secara penuh. Dalam iklan ini, tampilan jin diubah menjadi kejawaandengan mengenakan pakaian adat khas Jawa, memasukan karakteristik orang Jawa,dan lain sebagainya. Selain tampilan jin yang diubah, dalam iklan ini bentuk fisik,tempat di mana jin tersebut keluar juga diubah, dan cara mengeluarkan jin pundiubah. Jin tersebut dideskripsikan memang benar-benar memiliki perawakan sepertimanusia, yaitu tidak bertubuh raksasa, tidak seram, dan mempunyai bentuk fisikmanusia. Bentuk fisiknya sama seperti orang Jawa kebanyakan, yang tergolong rasmongoloid. Hal ini membuat jin dalam iklan ini dapat disebut dengan manusia,manusia yang merepresentasikan orang Jawa. Selain itu, identitas kejawaan jugadapat ditandai dalam penggunaan bahasa yang digunakan. Percakapan dalam iklanini banyak menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa dengan dialek Jawa, danunggah-ungguh yang merupakan ciri orang Jawa. Dengan begitu, kita dapat melihatjati diri jin dalam iklan ini adalah orang Jawa karena bahasa tidak dapat dipisahkandari identitas pembicaranya.2. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi MatreKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Jin perempuan yang dapatdikategorikan dewasa sesuai dengan bentuk fisiknya, tidak mampu memprediksireaksi jin laki-laki dari pembicaraan yang dikeluarkannya, dan tingkah lakunya. Halini menyebabkan jin laki-laki mengambil sikap konfrontatif. Jin laki-laki jugaseharusnya tetap tenang, dan tidak menunjukan rasa kaget sehingga dirinyamenjalankan tuntutan yang dibebankan terhadap orang Jawa dewasa. Hawa nafsu jinperempuan akan harta disebut dengan serakah ataupun matre sesuai dengan watakangkaramurka yang dimiliki orang Jawa. Watak angkaramurka menyebabkankeserakahan yang menjadi-jadi pada jin perempuan. Jin perempuan tidak lagi mampumembungkus prakatanya dalam menyebutkan tuntutan-tuntutannya. Jin laki-lakiyang terpancing emosinya mengatakan berita yang tidak enak secara langsungkepada jin perempuan. Hal ini menyebabkan jin perempuan, dan laki-laki tidakmemiliki keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa.Keduanya dalam iklan ini berbicara, dan bertingkah laku sesuai dengankedudukan sosial. Kendi jin perempuan yang bergoyang terlebih dahulu sehinggamenyebabkan kendi keduanya terjatuh, dan mereka bisa terbebas dari dalam kendi.Oleh karena itu, jin perempuan menduduki hierarki sosial sebagai tuan. Dia memilikiderajat yang lebih tinggi, sehingga dia menggunakan tata krama ngoko ketikaberbicara. Jin laki-laki yang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati jinperempuan. Hal ini terlihat pada saat dia menawarkan permintaan, dia menggunakanunggah-ungguh Jawa, dan mempersilahkan dengan tata krama bahasa Jawa kramahalus. Pada saat jin perempuan menyebutkan permintaannya, terjadi perubahanhierarki sosial. Jin laki-laki menduduki hierarki sosial yang lebih tinggi dibandingkanjin perempuan. Hal ini membuat laki-laki tersebut bersikap sombong. Ketikaberbicara, jin laki-laki menggunakan ngoko, terlebih jin laki-laki kesal karena jinperempuan matre atau serakah. Permintaan-permintaan jin perempuan tidakdikabulkan oleh jin laki-laki. Hal tersebut mencerminkan falsafah atau sebutan orangJawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu, inggah inggih ora kepanggih,dalam bahasa Indonesia berarti ya, ya tetapi tidak terlaksana.3. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi PinginSugih, dan GantengKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Jin tersebut memiliki karakter tidakmawas diri, sombong. Sifat sombongnya membuat dia tidak dapat mawas diri,sehingga dia tidak mampu melakukan self examination dengan baik. Jin tidakmencerminkan falsafah yen dijiwit lara aja njiwit, artinya jika dicubit sakit janganlahmencubit. Jin tidak dapat menjalankan tuntutan-tuntutan yang dituntut dari orangJawa dewasa. Sifat sombong yang mendominasi dalam dirinya membuat dirinya jugatidak memiliki keutamaan orang Jawa. Dalam iklan ini jin bertindak kasar dengancara memegang wajah laki-laki tersebut, dan langsung mengatakan hal yang tidakenak, dan juga berita buruk. Sifat sombongnya membuat dia tidak membungkusperkataannya.Perilaku, dan tutur kata jin sudah sesuai dengan kedudukan sosialnya. Jinyang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati laki-laki yangmengeluarkannya dari kendi. Laki-laki tersebut menduduki posisi sebagai tuan darijin tersebut. Layaknya tuan yang harus dihormati maka jin tersebut berperilakudengan unggah-ungguh Jawa, dan mempersilahkan dengan tata krama bahasa Jawa,yaitu krama halus. Namun, ketika laki-laki tersebut mengatakan permintaannyakepada jin terjadi perubahan hierarki sosial. Kedudukan hierarki sosial jin menjadilebih tinggi. Jin mulai bersikap sombong. Jin tersebut juga menggunakan padananngoko ketika menjawab permintaan dari tuannya. Permintaan kedua dari laki-lakitersebut dijawab dengan perkataan “ngimpiii”. Ngimpiii merupakan sinisme karenamuka laki-laki tersebut terlampau jelek sehingga permintaan ganteng untuk laki-lakiitu mustahil untuk dikabulkan. Kalau sudah jelek, jelek saja.Permintaan kedua dari laki-laki tersebut tidak dikabulkan oleh jin. Haltersebut mencerminkan falsafah orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011)yaitu, inggah inggih ora kepanggih. Jin yang tertawa setelah melihat lebih dekatwajah laki-laki tersebut, berkata “ngimpiii”, memberi penekanan bahwa itu adalahsuatu bentuk humor. Humor yang digunakan dalam iklan ini termasuk ke dalam teorihumor superioritas, dan meremehkan. Jin yang sedang berada dalam posisi super(hierarki sosialnya tinggi) menertawakan laki-laki yang merasa terhina, dandiremehkan. Jin tertawa karena di laki-laki di depannya saat dilihat dengan jelasternyata sangat jelek, jeleknya di luar kebiasaan.4. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinKetipuTindak-tanduk jin dalam iklan ini tidak mencerminkan tuntutan rukun. Watakangkaramurka yang mendominasi jin tersebut yang menyebabkan jin untuk tidakmau kalah dari lawannya. Hal tersebut karena diri jin juga didominasi oleh karaktersombong. Ungkapan umuk keblithuk terjadi pada iklan ini. Sifat sombong danangkaramurkanya dimanfaatkan oleh kedua laki-laki untuk memancing jin agar jinmemberikan penawaran lebih sesuai yang diinginkan oleh kedua laki-laki tersebut.Jin dalam berbicara, dan bertingkah laku sudah sesuai dengan derajatkedudukannya. Jin yang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati laki-lakiyang mengeluarkannya dari kendi. Laki-laki tersebut menduduki posisi sebagai tuandari jin tersebut. Layaknya tuan yang harus dihormati maka jin tersebut berperilakudengan unggah-ungguh Jawa, jin dibuat kesal dengan tingkah laku sosok yang miripdengan dirinya dari seberang. Jin yang kesal menggunakan padanan ngoko.Penggunakan padanan ngoko juga karena perubahan hierarki sosial. Laki-laki dansosok yang serupa dengan jin tersebut telah menduduki hierarki sosial yang lebihrendah daripada jin tersebut karena dianggap sebagai penipu.5. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinTakut IstriPerilaku jin perempuan mengganggu keselaran, dan ketenangan. Keduanya tidakdapat menjaga emosinya sehingga perselisihan, dan pertentangan di antara keduanyanampak kepermukaan, terlebih lagi disaksikan oleh laki-laki di depannya, sehinggaharmonious social appearances dapat terwujud. Hal di atas juga membuat jinperempuan, dan jin laki-laki tidak memiliki tuntutan rukun yang dituntut kepadaorang Jawa dewasa. Jin perempuan tidak membungkus perilakunya menjadi lebihsopan sehingga nampak kasar. Hal itu membuat dia tidak memiliki keutamaan orangJawa. Dalam iklan ini jin laki-laki memiliki suatu keutamaan yang dimiliki orangJawa yaitu suatu permintaan tidak langsung ditolak dan dijawab dengan inggih yangsopan.Perilaku, dan tutur kata jin sudah sesuai dengan kedudukan sosialnya. Dalamiklan ini hanya jin laki-laki yang berbicara, hal ini sesuai dengan konstruksi sosial dimasyarakat jika laki-laki yang selalu menjadi pemimpin dalam hal apa pun, danmempunyai kekuatan lebih besar. Namun, pada saat mempersilahkan laki-lakimenyebutkan satu permintaannya, jin tersebut tidak mempersilahkan dengan tatakrama krama halus, dan tidak membungkukkan badan, karena jin sudah merasacukup menghormati tuannya dengan perilakunya yang mencerminkan kesopananJawa. Sifat sombong yang mendasar pada dirinya membuat dia merasa gengsi untukmerendahkan diri lebih rendah karena di sampingnya terdapat jin perempuan.Perubahan hierarki sosial yang terjadi saat laki-laki tersebut menyebutkanpermintaannya menyebabkan jin tersebut menggunakan tata krama ngoko. Tatakrama ngoko yang digunakan jin dalam mengatakan, “sorry yo, aku yo weddi”merupakan bahasa tandingan dari laki-laki karena laki-laki tersebut menyebut bebiuntuk panggilan pacarnya. Hal tersebut untuk menaikan harga dirinya dihadapan jinperempuan. Permintaan dari laki-laki tersebut tidak dikabulkan olehnya. Hal tersebutmencerminkan falsafah orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu,inggah inggih ora kepanggih.6. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi GayusKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Terlebih lagi sikap dan tutur katanyaketika menjawab permintan dari laki-laki tersebut, menjawab dengan kelicikan, dankesombongan. Hawa nafsu membuatnya tidak dapat membungkus kata-kata.Perilaku dan tutur kata jin tersebut tidak mencerminkan tuntutan yang dituntutkepada orang Jawa dewasa, dan keutamaan yang dimiliki oleh orang Jawa. Jin dalamiklan ini sudah bertingkah laku, dan bertutur kata sesuai dengan kedudukan sosialmereka di masyarakat. Jin yang baru keluar dari kendi menduduki hierarki sosialyang lebih rendah dibandingkan laki-laki yang berada di depannya. Laki-laki tersebutmenjadi tuan dari jin tersebut, karena laki-laki tersebut sudah mengeluarkan jin daridalam kendi. Rasa hormat terhadap tuannya membuat jin menggunakan tata kramakrama halus sewaktu mempersilahkan laki-laki tersebut menyebutkanpermintaannya.Ketika laki-laki tersebut mengatakan permintaannya kepada jin terjadiperubahan hierarki sosial. Jin yang merasa derajatnya sekarang lebih tinggidibandingkan laki-laki itu, mulai bersikap sombong. Jin tersebut juga menggunakanbahasa ngoko. Permintaan kedua dari laki-laki tersebut dijawab dengan perkataan“wani piro”. Wani piro berarti bayar berapa. Jin tersebut dapat mengabulkanpermintaan laki-laki jika laki-laki itu dapat membayarnya. Hal ini menggambarkankorupsi dapat dihilangkan dengan korupsi kembali. Menyiratkan bahwa tidakmanusia Jawa, dan jin Jawa sama-sama melakukan korupsi untuk mempermudah,dan mempercepat segala urusan. Sifat jin ini mencerminkan sifat angkaramurka yangdimiliki oleh orang Jawa. Watak angkaramurkanya dibarengi dengan sifat julig(licik). Permintaan laki-laki tersebut tidak dikabulkan, hal ini mencerminkan falsafahatau sebutan orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu, inggah inggihora kepanggih.7. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinKetiduranJin yang tertidur saat kerja mengganggu keselarasan, dan ketenangan yang sudahada. Karakter malas ini sangat bertolak belakang dengan karakter orang Jawa yangidentik dengan kerja keras. Orang Jawa yang kerja keras sampai dengan usahamaksimalnya, sehingga orang Jawa dapat mensyukuri hasil kerja kerasnya tersebuttanpa mengeluh. Hal ini mencerminkan watak nrima. Orang Jawa berfikiranbagaimana dia mau meraih rezeki yang cukup jika dia bersifat malas. Jin yangterkejut karena bangun dengan cara dikagetkan membuat sikapnya menjadi tidaktenang, gugup, dan bingung. Jin tidak berlaku sesuai dengan tuntutan rukun yangdibebankan kepada orang Jawa dewasa.PENUTUPA. KESIMPULANReresentasi jin perempuan dalam iklan ini adalah sebagai berikut: perilaku, dan tuturkatanya merusak kerukunan, tidak menjalankan tuntutan rukun yang dibebankanterhadapnya sebagai orang Jawa dewasa, tidak memiliki keutamaan yang sangatdihargai oleh orang Jawa, memiliki sifat matre atau serakah sebagai cerminan watakangkaramurka, emosional, bertingkah laku sesuai dengan kedudukan social, sosokyang agung, wibawa, dan dominan. Representasi jin laki-laki dalam iklan ini adalahsebgai berikut: perilaku dan tutur katanya merusak kerukunan, tidak menjalankantuntutan rukun yang dibebankan kepadanya sebagai orang Jawa dewasa, tidakmemiliki keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa, bersifat sombong,mencerminkan falsafah Jawa, ya, ya tetapi tidak terlaksana, tidak mawas dirisehingga tidak dapat melakukan self examination, dan tidak mencerminkan falsafahJawa (jika dicubit sakit janganlah mencubit), memandang rendah sesuatu di luarkebiasaan, misalnya laki-laki jelek pada iklan Djarum 76 versi Pingin Sugih, danGanteng, mencerminkan teori humor superioritas dan meremehkan, bersifatangkaramurka yang dibarengi dengan ungkapan umuk keblithuk, licik (julig),pemalas, tidak mencerminkan watak nrima, perilaku dan tutur katanya sesuai dengankedudukan sosialnya di masyarakat, sosok yang agung, berwibawa, dan dominan.Representasi jin Jawa dalam iklan Djarum 76 berlawanan dengan stereotip, danterjadi demitologi, yaitu meninggalkan hal-hal yang bersifat mitologi, representasiorang Jawa tidak sesuai dengan mitos yang ada di masyarakat.B. DISKUSIPenelitian selanjutnya dapat meneliti kebahasaan yang ditampilkan dalam iklan ini,sehingga peneliti selanjutnya dapat memahami apa yang ingin disampaikanpengiklan melalui representasi bahasa dalam iklan Djarum 76.DAFTAR PUSTAKAAnderson, Sandra, Heather Bateman, Emma Harris dan Katy McAddam. 2006.Dictionary of Media Studies. London: A & C Black.Barker, Chris. 2004. SAGE Dictionary of Cultural Studies. London: SAGEPublication Ltd.Baskoro, Haryadi dan Sudomo Sunaryo, 2010. Catatan Perjalanan KeistimewaanYogya: Merunut Sejarah, Mencermati Perubahan, Menggagas Masa Depan.Pustaka Pelajar: Yogyakarta.Chandler, Daniel. 2007. Semiotics The Basics. London: Routledge.Danesi, Marcel. 2009. Dictionary of Media and Communications. London: M. E.Sharpe.Danesi, Marcel. Pesan, Tanda, dan Makna : Buku Teks Dasar Mengenai Semiotikadan Teori Komunikasi. Terjemahan Evi Setyarini, dan Lusi Lian Piantari.Yogyakarta: Jalasutra, 2004.Endraswara, Suwardi. 2013. Ilmu Jiwa Jawa: Etika dan Citarasa Jiwa Jawa.Penerbit Narasi: Yogyakarta.Fiske, John. 1987. Television Culture. London: Routledge.Fletcher, Winston. 2010. Advertising a Very Short Introduction. New York: OxfordUniversity Press.Odih, Pamela. 2007. Advertising in Modern and PostmodernTimes. London: SAGE Publications Ltd.Goldman, 1994.Geertz, Clifford. 2013. Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam KebudayaanJawa. Jakarta: Komunitas BambuGoddard, Angela. 2001. The Language of Advertising. London: Routledge.Hall, Stuart dkk. 1980. Culture, Media Language. London: RoutledgeHall, Stuart. 1997. Representation. London: SAGE Publication Ltd.Kothari, R. C.. 2004. Research Methodology. New Delhi: New Age InternationalLtd.Magnis-Suseno, Franz. 1991. Etika Jawa. Jakarta: PT GramediaMartin, Bronwen dan Felizitas Ringham,. 2000. Dictionary of Semiotics. London:Cassel.Moleong, J. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Mulyana, Deddy. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Neuman, Lawrence W.. 2007. Basic of Social Research. Amerika: PearsonEducation.Rosidi, Ajip. 1977. Roro Mendut. PT Gunung Agung: JakartaSamovar, Larry A., Porter E Richard dan McDaniel Edwin R.. 2010.Communication between Culture. USA: Wadsworth.Santosa, Budhi Imam. 2012. Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup.Manasuka: Yogyakarta.Suwondo, Bambang. 1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah IstimewaYogyakarta. Balai Pustaka: JakartaWebb, Jen. 2009. Understanding Representation. London: SAGE Publication Ltd.Winarno, Bondan. 2008. Rumah Iklan. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.Nor, Russin Mariani Md., Sufean. 2004. Dasar Warga Sihat: Isu Psikologi FaktorRemaja Sekolah Merokok. http://www.scribd.com/doc/19784071/faktorremaja-merokok. Universitas Malaya. Diunduh 12 April 2013. Pukul 20. 35WIB.Patria, Asidigisianti Surya. 2 September 2011. Iklan Djarum 76 Tema Jin: KajianStruktur Dan Makna.asidigisiantipatria.cv.unesa.ac.id/bank/.../IklanDJARUM76_97-110__.pdf.Diunduh 5 Oktober 2013. Pukul 18. 48 WIB.Rahmanadji, Didiek. 2 Agustus 2007. Sejarah, Teori, Jenis, Dan Fungsi Humor.http://sastra.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/Sejarah-Teori-Jenis-dan-Fungsi-Humor.pdf. Diunduh 23 November 2013. Pukul 19.28 WIB.Tanudjaja, Bing Bedjo. Kreativitas Pembuatan Iklan Produk Rokok Di Indonesia.Januari 2002. http://dgi-indonesia.com/wpcontent/uploads/2009/05/dkv02040108.pdf. Diunduh 13 Juli 2013.Universitas Kristen Petra. Pukul 07.05 WIB.Utama, Anggi Adhitya. 2012. Representasi Budaya Korupsi Dalam Iklan RokokDjarum 76 Versi Korupsi, Pungli dan Sogokan Di Media Televisi.jurnal.unpad.ac.id ejournal article download 1163 pdf . UniversitasPadjajaran. Diunduh 14 Juli 2013. Pukul 13.33 WIB.A., NURUL U. CHARISNA. 30 December 2012. Analisis Iklan DJARUM 76 dalamSemiotika Roland Barthes. http://nurul-u-c-fib09.web.unair.ac.id/. Diunduh14 Juli 2013. Pukul 12. 47 WIB.Aditya, Ivan. 9 Juli 2013. Antara Ritual dan Seks di Makam Roro Mendut.http://krjogja.com/read/179509/antara-ritual-dan-seks-di-makam-roromendut.kr. 20 Juli 2013. Diunduh 20 Juli 2013. Pukul 20. 19 WIB.Ahmeedalle. 29 November 2012. Aladdin Sinopsis.http://ahmeedalle.wordpress.com/2012/11/29/aladin-sinopsis/. Diunduh 18November 2013. Pukul 19.30 WIB.Ando, Cress. 2 Maret 2013. RORO JONGGRANG - LEGENDA CANDIPRAMBANAN (Cerita dari Jawa Tengah).https://www.facebook.com/notes/cress-ando/roro-jonggrang-legenda-candiprambanan-cerita-dari-jawa-tengah/429237253817823. Diunduh 19 Juli2013. Pukul 21.30 WIB.Anita. 30 Mei 2013 18:07 WIB. Komnas PA Desak Larangan Iklan Rokok.http://nasional.tvonenews.tv/berita/view/70846/2013/05/30/komnas_pa_desak_larangan_iklan_rokok.tvOne. Diunduh 13 Juli 2013. Pukul 06. 35 WIB.Asih, Reni. 25 November 2010. Sejarah vw combi camper.http://reninyip.blogspot.com/. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 22. 42 WIB.Bella, Aisah. 13 Maret 2013. Kisah Roro Mendut.http://mediaroromendot.blogspot.com/2012/03/kisah-roro-mendut.html.Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 21.17 WIB.Diputra, Oka Jaya Made. 2012. Tiga Perusahaan Rokok Terbesar Di Indonesia.http://dablugen.blogspot.com/2012/04/3-perusahaan-rokok-terbesar-di.html.Diunduh 14 April 2013. Pukul 19. 55 WIB.Fitriya, Fahruddin. 22 April 2011. Manfaat Merokok Bagi Manusia.http://www.inouvetra.blogspot.com/2011/04/manfaat-rokok-bagimanusia.html?m=1.. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul19. 43 WIB.http://www.djarum.com/index.php/en/brands/domestic/4. Diunduh 30 Mei 2013.Pukul 7.30 WIB.http://www.jogjakota.go.id/index/extra.detail/21, Sejarah Kota Yogyakarta. Diunduh21 Juli 2013. Pukul 20.07 WIB.Ifam. 19 Mei 2013. Menikmati Hidup Dengan “Ngudud”.http://berdiriberlari.blogspot.com/2013/05/menikmati-hidup-denganngudud.html. Diunduh 31 Mei 2013. Pukul 18.42 WIB.Ito. 9 Januari 2013. Tingwe, Bukan Sekedar Udud.http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/09/ngudud-tingwe-516656.html.Diunduh 1 Juni 2013. Pukul 08.56 WIB.Labib, Zainul. 22 Novemer 2013. Macam-macam Ras Yang Ada Di Dunia.http://zain-corp.blogspot.com/2013/11/macam-macam-ras-yang-ada-didunia.html. Diunduh 22 November 2013. Pukul 21.00 WIBLynette. 12 Desember 2001. A Brief History of the VW Type II Bus, Edited by SillyWilly. http://www.bbc.co.uk/dna/ptop/plain/A649181. Diunduh 19 Juli 2013.Pukul 22.18 WIBMuhammad Yusuf. 2012. Televisi Menuju Online.http://inet.detik.com/read/2012/09/10/095558/2013074/398/televisi-menujuonline.Diunduh, Rabu 24 April 2013. Pukul 7. 47 WIB.Ninaa. 4 April 2012. Sinopsis Tentang Cerita Aladdin dan Lampu Ajaib.http://nseptianii.blogspot.com/2012/04/sinopsis-tentang-cerita-aladindan.html. Diunduh 18 November 2013. Pukul 19. 35 WIB.Rahinanugrahani. 16 April 2013. Citra Wanita Dalam Media Promosi Rokok DiIndonesia Tahun 1930-an.http://rahinanugrahani.blogspot.com/2013/04/citra-wanita-dalam-mediapromosi-rokok.html. Diunduh 12 Juli 2013. Pukul 09. 54 WIB.Robin. 20 April 2011. Buruh pabrik rokok PT Gudang Garam pulang kerja denganmengendarai sepeda di Kediri, Jawa Timur, 1989.http://store.tempo.co/foto/detail/P2004201100269/buruh-pabrik-rokok-ptgudang-garam-kediri. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 20. 30 WIB.Tia. 3 Maret 2005. Aladdin & Lampu Ajaib.http://dongeng1001malam.blogspot.com/2005/03/aladin-lampu-ajaib.html.Diunduh 18 November 2013. Pukul 20.00 WIB.Wibiono. 6 Oktober 2012. MaknaDan Filosofi Pakaian Adat Jawa Tengah: KebayaKartinian Dan Kain Jarik Batik.http://duniasosbud.blogspot.com/2012/10/makna-dan-filosofi-pakaian-adatjawa_6.html. Diunduh 2 Oktober 2013. Pukul 09.21 WIB.Widyastuti, Dhyah Ayu Retno. 29 mei 2012. Gerakan Anti Rokok Vs Iklan Rokok.http://fisip.uajy.ac.id/2012/05/30/gerakan-anti-rokok-vs-iklan-rokok/.Diunduh 12 Juli 2013. Pukul 10. 00 WIB.www.autolite.com. VW Combi. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 23.30 WIB.www.pustaka-kampar.com. Kegunaan Rokok. 22 Oktober 2012. Diunduh 1Sepetember 2013. Pukul 12.48 WIB.www.youtubedownloader.com. Iklan Djarum 76 Tahun 2007-2012. Diunduh 1 April2013. Pukul 05. 15 WIB.
REALITY DISTORTION OF CHINESE AND JAVANESE ETHNIC IN ADIT DAN SOPO JARWO CARTOON ANIMATION FILM Risang Endra Satria; Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.318 KB)

Abstract

Adit dan Sopo Jarwo is a cartoon animation film which represent cultural diversity of ethnic groups that exist in Indonesia. This study aimed to describe the reality distortion gainst ethnic Chinese and Javanese featured in Adit dan Sopo Jarwo film. This study also wants to reveal the ideology and values of the dominant contained in the film. The theory used include the representation theory of Stuart Hall, the theory of Public Opinion Walter Lippman, Antonio Gramsci's theory of hegemony, as well as some related concepts such as marginalization, meaning fashion and body language in the film. Data were analyzed using analysis of John Fiske television code. The results showed that the text of the mass media, especially Adit dan Sopo Jarwo cartoon animation film distorting the reality of the ethnic Chinese and Javanese. Text animated cartoons showing feudalism of the Chinese community as well as the marginalization of ethnic Javanese. Distortion of reality at the level of the reality of marginalized ethnic Javanese, in particular through the elements of body language, expression, background, and style of speaking. At the level of representation, distortion of reality appears in the narrative element, conflict, dialogue, and characterization. Both of these levels to clarify the Javanese into the non-dominant. Distorted reality at the level of reality, favor ethnic Chinese. Ideology of feudalism offered by the media, which displays that ethnic Chinese are the ones who are always right, and the Javanese persons subject to the ethnic Chinese. In addition, the dominance of the ideology of Islam as a conflict resolution strategy also appears in the text of the film. The conclusion of this study indicate that the reality distortion is inevitable in the representation in the mass media, especially movies. Then the media in representing the ethnic diversity is expected to not only see from a partial truth, but rather shows the elements of ethnic identity in a more comprehensive and diverse. This research can be a reference for other researchers who discuss about ethnicity, stereotypes, and media representation, particularly media animated cartoons.
ANALISIS KEMAMPUAN PUBLIC SPEAKING DAN KOMUNIKASI KONVERGENSI HOST PADA ACARA TALK SHOW MATA NAJWA METRO TV Yeni Setyowati; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.161 KB)

Abstract

The study aims to describe and understand the public assessment of public speaking skills and conversgence of the host on The Mata Najwa talk show. The methods of research used is quantitative and qualitative combination (mixed method) methods with an approach to case studies. The theory used to support this study was the rhetorical theory of Aristotle and the accommodation theory of communication. The results of this study were found that public speaking and convergence communication of Najwa Shihab overall was good. Everyone has the characteristics, tastes and also educational factors that can influence the public judgment on the poverty of Najwa Shihab. The suggestion Najwa should still retain its trademark as a host with a sharp, bold, and firm style, while paying attention to communication ethics.
Representasi Perempuan dalam Film I Don’t Know How She Does It Dyah Mayangsari Puspaningrum; Nuriyatul Lailiyah; Dr Sunarto; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.784 KB)

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang menyampaikan pesan yang terkandung dalam film kepada khalayak luas. Film mengangkat realitas -realitas soial yang terjadi di kehidupan masyarakat dan terselip ideologi -ideologi para pembuat film. Dalam sebuah film menyajikan tampilan audiovisual yang berisikan kode-kode serta mitos yang berasal dari kebudayaan masyarakat dalam film tersebut. Film I Don’t Know How She Does It merupakan film yang menggambarkan kehidupan perempuan pekerja dalam kebudayaan Amerika Serikat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana representasi permasalahan yang dialami oleh kaum ibu pekerja di Amerika melalui tanda -tanda yang terdapat dalam film dan mengetahui ideologi yang terkandung dalam film yang dianalisis menggunakan metode penelitian analisis semiotika milik Roland Barthes. Penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan perempuan pekerja ditunjukkan dengan berbagai konflik yang tercipta seperti konflik di lingkungan keluarga, persoalan dilematis dan pelabelan negatif. Tanda-tanda tersebut diungkapkan melalui pergerakan kamera, dialog serta kode-kode ideologi yang tedapat di dalam film I Don’t Know How She Does It. Selain itu, penelitian ini menggunakan teori Sikap dan lima kode pembacaan Roland Barthes untuk mengetahui tujuan dari penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab permasalahan pada kaum ibu pekerja disebabkan oleh ideologi kapitalisme yang membuat perempuan bekerja keras agar dapat berkarya di sektor publik. Kapitalisme juga menyebabkan kaum perempuan menjadi alat produksi bagi pemilik modal untuk memperoleh keuntungan dengan membuat perempuan bekerja dengan keras dan mempertaruhkan hamper seluruh waktunya untuk bekerja sehingga tidak memberikan waktu perempuan untuk mengurusi kehidupan sektor domestiknya. Kata kunci : Semiotika, Barthes, Film, Feminisme
RESISTENSI PEREMPUAN DALAM MUSIK POP KOREA (Analisis Semiotika Lagu I Don’t Need A Man) Citra Safira; Dr.Sunarto . M.Si
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.315 KB)

Abstract

Korea Selatan sebagai negara yang dikenal dengan Korean Wave, telah sukses menyebarkan tidak hanya teknologi namun juga produk hiburan, salah satunya adalah Kpop. Meski telah sukses mengembangkan negaranya, nyatanya masih banyak masyarakat Korea Selatan yang masih menganut kepercayaan terdahulu yaitu ajaran Konfusianisme. Dalam ajaran tersebut salah satunya mengatur tentang bagaimana menjadi perempuan yang baik yaitu perempuan yang selalu berada di rumah. Kemunculan girlband menjadi salah satu faktor kesuksesan Kpop, sekaligus menjadi sebuah contoh bahwa perempuan juga bisa berkarya. Girlband miss A mengajak masyarakat khususnya perempuan melakukan perlawanan terhadap budaya patriarki yang telah melekat di Korea Selatan, salah satunya adalah lagu dari miss A – I Don’t Need A Man. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarakan bentuk-bentuk resistensi yang terdapat dalam lirik lagu I Don’t Need A Man. Didukung dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Michael Riffaterre melalui tahapan pembacaan heuristik, hermeneutik, matriks, model, dan varian, serta hipogram dengan tujuan mengetahui makna yang terkandung dalam lagu tersebut. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teori standpoint sebagai landasan teori. Hasil penelitian berdasarkan pembacaan heuristik menunjukkan terdapat bentuk perlawanan yang digambarkan dengan ketidakpatuhan pencipta lagu dalam menulis lirik sesuai dengan struktur linguistik Korea Selatan (predikat selalu berada di akhir kalimat). Di sini terdapat beberapa syair yang tidak sesuai dengan struktur linguistik Korea Selatan, sehingga dinilai sebagai suatu bentuk perlawanan. Kedua, pembacaan hermenutik menunjukkan terdapat bentuk perlawanan yang digambarkan dengan struktur lagu yang berbeda dengan struktur lagu pada umumnya. Jika struktur lagu umumnya diawali dengan verse, namun lagu ini langsung diawali bagian refrain. Struktur lagu yang berbeda ini dilihat sebagi bentuk perlawanan. Ketiga, model dari lagu ini adalah kemandirian karena lagu ini menceritakan tentang perempuan mandiri dengan kehidupan yang dijalaninya, kemudian pada varian ditemukan indikator-indikator yang kemandirian dalam lagu ini yaitu mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan kepercayadirian, sedangkan matriks atau tema dari lagu ini adalah resistensi, sesuai dengan hasil kedua pembacaan sebelumnya. Terakhir, hipogram adalah membandingkan lagu I Don’t Need A Man dengan lagu sebelumnya (Goodbye Baby) dengan penyanyi yang sama. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan antara lagu sebelumnya dengan lagu yang sekarang. Hasilnya adalah kedua lagu tersebut memang menceritakan tentang perempuan. Lagu Goodbye Baby menceritakan tentang perempuan yang putus cinta kemudian bangkit dan mencari laki-laki lain, namun pada lagu I Don’t Need A man menceritakan tentang perempuan yang tidak butuh laki-laki, yaitu laki-laki yang tidak bisa serius dan menghargai dirinya. Di sini sifat kedewasaan perempuan lebih ditekankan.
Bintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor Indonesia Wilis Windiasih; Taufik Suprihatini; Triono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.433 KB)

Abstract

Bintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor IndonesiaWilis Windiasih (D2C009061)AbstrakMenonjolkan pornografi dan menggunakan bintang film dewasa, seperti Rin Sakuragi, Maria Ozawa, Sora Aoi, Tera Patrick, Sasha Grey, dan Vicky Vette, dalam film horor Indonesia menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Adanya seks dan bintang film dewasa mengubah film horor menjadi film yang penuh dengan adegan vulgar dan erotis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proses pembuatan film horor dan alasan utama yang mendasari industrialis perfilman memproduksi film horor berbau seks dengan melibatkan bintang film dewasa. Teori yang digunakan yaitu Culture Industry (Theodor W. Adorno, 1991) dan Star System (Paul McDonald, 2000). Tipe penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan dikaji dengan analisis ekonomi politik media. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview kepada producer, casting manager, script writer, dan general manager Maxima Pictures.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bintang film dewasa yang terlibat dalam pembuatan film horor Indonesia melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga kerja spesialis dalam sebuah industri. Oleh karena itu, keterlibatannya sangat berpengaruh pada pemasaran dan penjualan film baik pada saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja spesialis, bintang film dewasa diperlakukan istimewa dibandingkan tenaga kerja lainnya baik dari segi bayaran maupun fasilitas yang didapat. Seks dan bintang film dewasa dalam industri film horor menjadi bisnis yang mendatangkan keuntungan berlimpah. Seks muncul dalam film horor dikarenakan adanya pangsa pasar di mana masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal yang berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dikarenakan pada waktu itu sedang digandrungi dan populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Hasil lainnya, yaitu industrialis perfilman tetap memperhatikan nilai, tema, dan pesan dalam memproduksi film horor berbau seks yang melibatkan bintang film dewasa. Namun, ketiga hal tersebut sangat kecil kemungkinannya tersampaikan kepada penonton karena film dibuat semata-mata untuk kepentingan komersil. Industrialis perfilman juga memperhatikan kode etik di mana dialog, adegan, dan penyampaiannya yang tidak mendetail saat menampilkan adegan seks dalam film horor.Kata kunci: ekonomi politik media, industri film horor, seks, bintang film dewasaPorn Star as a Commodity in Indonesian Horror MoviesWilis Windiasih (D2C009061)AbstractHighlight the use of pornography and porn stars, like Rin Sakuragi, Maria Ozawa, Sora Aoi, Tera Patrick, Sasha Grey, and Vicky Vette, in Indonesian horror movies become promising business field. The existence of sex and porn stars alter horror movies into a film filled with vulgar and erotic scenes. The purpose of this study are to determine the process of making horror movies and the main reason underlying the film industrialist producing sexist horror movies involving porn stars. The theory used the Culture Industry (Theodor W. Adorno, 1991) and the Star System (Paul McDonald, 2000). This type of research is a qualitative descriptive phenomenological approach and studied by analysis of the political economy of media. Data is collected by in-depth interview to producer, casting manager, script writer, and general manager of Maxima Pictures.These results indicate that porn stars are involved in the manufacture of Indonesian horror movies to perform his duties as a labor specialist in an industry. Therefore, their involvement are very influential in the marketing and sales of both films during preproduction, production, postproduction, distribution, and exhibition. Because as a labor specialist, porn stars are treated more special than other workers in terms of pay and facilities acquired. Sex and porn stars in the horror movie industry become a profitable business abound. Sex appeared in horror movies because of where the market share of Indonesian society with things like that pornography. The involvement of porn stars because at the time they are loved and popular among the people of Indonesia. Other results, the movie industralist still consider the values, themes, and messages in producing sexist horror movies involving porn stars. However, three things are much less likely conveyed to the audience because the films are made solely for commercial purposes. The movie industrialist also pay attention to the code of ethics in which dialogue, scenes, and delivery time are not detailed while displaying sex scenes in horror movies.Keywords: political economy of media, horror movie industry, sex, porn starBintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor IndonesiaWilis Windiasih, Dra. Taufik Suprihatini, M. Si (dosen pembimbing I), Triyono Lukmantoro, S.Sos, M.Si (dosen pembimbing II)PENDAHULUAN: Salah satu fungsi film (film horor) adalah sebagai media hiburan. Film horor merupakan salah satu genre film yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Melihat peluang tersebut, para industrialis perfilman berlomba-lomba memproduksi film horor dengan kemasan semenarik mungkin. Karena begitu digemari oleh masayarakat luas, maka perkembangannya pun begitu pesat. Hingga akhirnya film horor mengalami masa keemasan, yaitu di era 80-an dan 2000-an. Masa keemasan di sini tidak hanya ditandai oleh banyaknya penonton yang antusias terhadap film di era tersebut, tetapi juga kualitas dari film itu sendiri. Di era 80-an, film horor Indonesia lebih banyak dibintangi oleh Suzanna Martha Frederika van Osch, seperti film Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Telaga Angker (1984), dan Malam Jumat Kliwon (1985). Tahun 2000-an ditandai dengan munculnya film Jelangkung (2001) yang mencapai penonton hingga 5,7 juta dan Kuntilanak (2006) dengan 2,4 juta penonton (Cheng dan Barker, 2011: 200). Karena begitu ketatnya persaingan dalam industri film horor, maka sang produser mencari inovasi dan gebrakan baru terhadap film horor, sehingga filmnya berbeda dengan lainnya. Muncullah bintang film dewasa dari Jepang, seperti Rin Sakuragi, Maria Ozawa, dan Sora Aio yang digunakan oleh rumah produksi Maxima Pictures dengan Produsernya Ody Mulya Hidayat, serta bintang film dewasa dari Amerika, seperti Tera Patrick, Sasha Grey, dan Vicky Vette yang dikontrak oleh rumah produksi K2K Production dengan produsernya yaitu KK Dheeraj.Adanya bintang film dewasa yang terlibat dalam film horor Indonesia, maka perannya pun sangat dekat dengan hal-hal yang berbau pornografi. Jadi, film horor tersebut menonjolkan seks di dalamnya. Menurut Karl Heider seks merupakan salah satu dari tiga formula ampuh yang digunakan dalam film horor Indonesia, yaitu seks, komedi, dan religi (Rusdiarti, 2009: 11). Adanya perpaduan seks dan bintang film dewasa, ternyata menarik perhatian banyak penonton. Akhirnya, industrialis dapat menikmati keuntungan yang mereka peroleh dari penjualan filmnya. dapt dikatakan bahwa film merupakan menjadi salah satu produk dari industri budaya (culture industry). Dalam memasarkan produknya, industri budaya menggunakan strategi penggunaan seorang bintang (star system). Kemudian bintang tersebut mengalami komodifikasi tenaga kerja. Melihat fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan film yang melibatkan bintang film dewasa dalam film horor Indonesia dan ingin mengetahui alasan utama yang mendasari industrialis perfilman memproduksi film horor berbau seks dengan melibatkn bintang film dewasa.PEMBAHASAN: Menurut Carrol horor dapat diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk membangkitkan ketakutan dan hal yang menjijikkan yang ditujukan langsungkepada sebuah monster yaitu makhluk yang dianggap mengancam. Definisi monster yang dimaksud oleh Carroll adalah makhluk-makhluk yang mengerikan. Sedangkan menurut Freeland, horor diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk mengeksplorasi segala bentuk kejahatan (Livingston dan Plantinga, 2009: 46). Jadi film horor, menurut Vincent Pinell, diartikan sebagai film yang penuh dengan ekspoitasi unsur-unsur horor yang bertujuan untuk membangkitkan ketegangan penonton (Rusdiarti, 2009: 2). Menurut Charles Derry, film horor dibagi menjadi tiga subgenre, yaitu horror of personality (horor psikologis), horrof of armageddon (horor bencana), dan horror of demonic (horor hantu) (Rusdiarti, 2009: 2-3). Horor of personality dihadapkan pada tokoh-tokoh manusia biasa yang tampak normal, tetapi di akhir film mereka memperlihatkan sisi “iblis” atau “monster” mereka. Biasanya mereka adalah individu-individu yang “sakit jiwa” atau terasing secara sosial. Horror of armageddon adalah jenis film horor yang mengangkat ketakutan laten manusia pada hari akhir dunia atau hari kiamat. Manusia percaya bahwa suatu hari dunia akan hancur dan umat manusia akan binasa. Horror of demonic merupakan film yang paling dikenal dalam dunia perfilman horor. Menurut Derry, film jenis ini menawarkan tema tentang dunia (manusia) yang menderita ketakutan karena kekuatan setan menguasai dunia dan mengancam kehidupan umat manusia. Subgenre horor hantu inilah yang sering digunakan dalam film horor Indonesia. Hantu yang sering digunkanan adalah jenis hantu kuntilanak dan pocong.Dalam perkembangannya, film horor mengalami modifikasi dan muncullah konsep sex-horror-comedy. Film horor Indonesia antara tahun 2009 hingga 2011 lebih banyak didominasi film-film yang menonjolkan pornografi di dalamnya, seperti Suster Keramas yang dimainkan oleh Rin Sakuragi, Hantu Tanah Kusir oleh Maria Ozawa, dan Suster Keramas 2 oleh Sora Aoi. Ketiga film tersebut merupakan produksi Maxima Pictures. Adanya seks dalam film horor mereka karena masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dari Jepang karena memang ketiga bintang tersebut sedang digandrungi oleh masayarakat Indonesia. Fenomena semacam ini disebut sebagai culture industry. Film horor kini menjadi salah satu produk industri budaya. Artinya, film horor merupakan sebuah fenomena yang diangkat dari budaya yang ada di masyarakat Indonesia. Kemudian, film horor tersebut dijadikan sebuah konsumsi massa. Jadi, produk industri budaya tidak ada dengan sendiri, melainkan telah melalui proses perencanaan yang dibuat oleh para industrialis yaitu produser. Dapat dikatakan bahwa industri budaya (culture industry) merupakan sebuah komodifikasi dan industrialisasi budaya, dikelola dari atas dan diproduksi untuk mendatangkan keuntungan (Schement, 2002: 209). Dalam memasarkan produknya, industri budaya menggunakan salah satu strategi yaitu penggunaan seorang bintang. Jadi, Maxima Pictures untuk memasarkan filmnya menggunakan star system dalam produksinya. Dalam rangkaian pertukaran komersial, bintang menjadi bentuk modal yang merupakan aset untuk membuat dan mendapatkan keuntungan dalam pasar hiburan. Bintang film dewasa yang berasal dari Jepang menjadi aset yang berharga karena dengan nama besarnya dan ketenarannya di dunia pornografi, industri film akan meraup keuntungan yang berlimpah. Dapat dikatakan bahwa bintang film dewasa dianggap sebagai sebuah citra, sebagai modal, dan sebagai tenaga kerja dalam indsutri film horor Indonesia.Bintang sebagai citra dibangun dalam berbagai kategori teks, yang tidak hanya penampilan bintang film, tetapi juga bentuk-bentuk publisitas dan promosi (McDonald, 2000: 7). Faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap citra bintang adalah karakter yang mereka mainkan dan gaya kinerja mereka gunakan untuk menggambarkan peran itu. Citra Rin Sakuragi, Maria Ozawa, dan Sora Aoi terbentuk dari dunia pornografi. Peran dan kinerjanya dalam memainkan adegan-adegan seks dalam blue film membawa namanya hingga ke kancah internasional. Melihat peluang tersebut, Maxima Pictures memanfaatkan ketiga bintang film tersebut karena mereka merupakan ikon dalam dunia pornografi. Dengan demikian, Maxima Pictures tidak bersusah payah untuk mendapatkan market filmnya karena dengan adanya bintang film dewasa secara otomatis akan menarik perhatian penonton.Bintang juga menjadi bentuk modal karena dalam komersial industri film, ia adalah aset berharga bagi sebuah perusahaan produksi. Bintang adalah bentuk investasi yang digunakan dalam produksi film sebagai penjaga terhadap kemungkinan kerugian. Upah bintang sebagian besar dari anggaran setiap film dan bintang juga merupakan alat pemasaran, yang citranya dipromosikan dengan maksud untuk mempengaruhi pasar hiburan. Cathy Klaprat melihat nilai dari bintang melalui prinsip-prinsip ekonomi produk diferensiasi dan inelastisitas permintaan (McDonald, 2000:11). Klaprat berpendapat bahwa diferensiasi bintang secara teoritis bisa menstabilkan permintaan, menciptakan konsistensi kinerja box office untuk sebuah bintang film, sehingga memungkinkan distributor untuk menaikkan harga produk mereka terhadap exhibitors. Diferensiasi bintang itu menjadi strategi yang berharga karena menawarkan cara untuk tidak hanya menstabilkan harga film tetapi juga meningkatkan harga terhadap produk tertentu. Bintang film dewasa yang ada dalam film horor Maxima Pictures memang menjadi aset yang berharga. Bintang film dewasa tersebut diharapkan akan membawa keuntungan bagi Maxima Pictures. Keuntungan di sini tentulah keuntungan materi yang akan diperoleh industri tersebut. Hal tersebut akan berdampak pada penjualan tiket di bisokop 21 di seluruh nusantara. Tingginya penjualan yang diperoleh film horor yang dibintangi oleh bintang film dewasa, maka film Maxima Pictures dapat bertahan satu setengah bulan untuk diputar di bioskop tersebut.Bintang adalah orang yang bekerja di dalam industri film dan dengan demikian mereka merupakan bagian dari tenaga kerja dari produksi film. Peran bintang dalam industri tersebut tidak hanya terbatas pada fungsi mereka dalam proses pembuatan film, tetapi juga pada proses distribusi dan pameran (McDonald, 2000: 5). Oleh karena itu, bintang film dewasa yang digunakan oleh Maxima Pictures sebagai alat promosi yang akan membantu pemasaran dan penjualannya baik saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja, seorang bintang mengalami sebuah komofidikasi tenaga kerja. Komodifikasi tenaga kerja direproduksi melalui proses eksploitasi absolut (memperpanjang hari kerja) dan eksploitasi relatif (intensifikasi proses kerja) yang memperdalam ekstraksi nilai lebih (Mosco, 2009: 131). Hal tersebut melibatkan perpanjangan hari kerja untuk upah yang sama dan untuk mengintensifkan proses tenaga kerja melalui kontrol yang lebih besar atas penggunaan waktu kerja, termasuk pengukuran dan sistem pemantauan untuk mendapatkan lebih banyak tenaga kerja keluar dari unit waktu kerja. Dengan kata lain, dalam komodifikasi tenaga kerja telah menciptakan nilai absolut dan relatif. Komodifikasi mengacu pada proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar, dariproduk transformasi yang nilainya ditentukan oleh kemampuan pemilik modal untuk memenuhi individu dan kebutuhan sosial ke dalam produk yang nilainya ditetapkan oleh harga pasar mereka (Mosco, 2009: 132).Dalam pembagian kerja, bintang dikategorikan sebagai spesialis kinerja di mana bintang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu (McDonald, 2000: 9). Apa yang dilakukan oleh bintang film dewassa merupakan tanggung jawab spesialis bintang dalam pembagian perburuhan. Bintang dapat dikategorikan sebagai spesialis kinerja, tetapi posisi mereka dalam industri juga ditandai dengan status hierarkis mereka. Dane Clark menjelaskan perbedaan antara bintang dan pemain biasa dalam hal kekuatan perbedaan kerja (McDonald, 2000: 10). Bagi Clark, setiap pemahaman tentang sistem bintang tidak bisa berkonsentrasi secara eksklusif pada pemain dengan status bintang, tetapi harus melihat bintang sebagai posisi relatif dalam kondisi tenaga kerja. Meskipun istilah star system mengacu pada hirarki kelembagaan yang dibentuk untuk mengatur dan mengontrol pekerjaan dan penggunaan semua aktor, bintang telah menjadi kelas istimewa dalam pembagian kerja. Melihat sistem bintang dengan cara ini menuntut pertimbangan daya yang melekat pada bintang dalam industri film. Bintang film dewasa yang turut main dalam film horor Maxima Pictures, posisinya lebih istimewa dibanding dengan pemain maupun tim lapangan lainnya. Hal tersebut terlihat pada bayaran yang diterima oleh bintang film dewasa mencapai 1,5 milyar rupiah dan fasilitas yang diperoleh, seperti penyambutan dengan polisi, hotel bintang lima, dan ke mana-mana dikawal oleh bodyguard. Keistimewaan tersebut dikarenakan bintang film dewasa mempunyai nama yang terkenal dan menjadi ikon, meski mereka menjadi ikon dalam blue film bukan dalam public film. Daya yang melekat pada ketiga bintang tersebut sebagai seorang bintang film dewasa, yaitu molek, seksi, menggoda, dan menggairahkan.Fenomena film horor sebagai sebuah industri budaya yaitu dengan menggabungkan unsur horor dan seks yang lebih dominan, menjadi bisnis yang menjanjikan bagi perusahaan Maxima Pictures. Untuk menarik perhatian penonton, mereka tidak tanggung-tanggung dalam memproduksi film horornya yaitu dengan melibatkan bintang film dewasa untuk memainkan adegan-adegan syur dan erotis. Dengan kata lain, Maxima Pictures menggunakan star system dalam film horor Suster Keramas, Hantu Tanah Kusir, dan Suster Keramas 2. Apa yang dilakukan oleh industri tersebut hanyalah memanfaatkan peluang yang ada dengan dasar melihat apa yang sedang tren pada waktu itu. Bintang film dewasa dari Jepang begitu populer pada saat itu. Secara cerdik Maxima Pictures langsung mengadakan kontrak kerjasama dengan manajemen bintang film dewasa tersebut. Tentulah masyarakat penasaran terhadap film horor tersebut karena ingin mengetahui seperti apa bintang film dewasa ketika main dalam film yang bersifat publik.Walau Maxima Pictures melihat berdasarkan tren yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat, tetapi film horor yang disuguhkan tidak semata-mata untuk memenuhi keinginan khalayak. Tujuan utama Maxima Pictures adalah untuk kepentingan komersil dengan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Film yang diproduksi lebih mengarah pada kemauan industri tersebut yaitu mencampurkan pornografi di dalamnya untuk diperankan oleh bintang film dewasa. Maxima Pictures yakin bahwa filmnya akan laku keras di pasaran. Alhasil, film horornya booming, sehingga menghasilkan pundi-pundi materi yang berlimpah. Hasil film horor tersebutmemang spektakuler, tetapi adegan seks di dalamnya terlalu berlebihan yaitu adanya adegan menanggalkan baju yang hampir terlihat telanjang bulat.Adegan seks dalam film Maxima Pictures telah melanggar Kode Etik Penyensoran Indonesia karena mengarah pada: (1) Adegan seorang pria atau wanita dalam keadaan atau mengesankan telanjang bulat, baik dilihat dari depan, samping, atau dari belakang. Bintang film dewasa beradegan yang mengesankan telanjang bulat terlihat pada Rin Sakuragi yang beradegan sedang mandi di air terjun dan mandi di kamar mandi. Maria Ozawa saat berganti pakaian di kamar tidurnya karena bajunya tersiram sayur dan di dalam rumah tua karena bajunya basah kuyup akibat hujan di mana ia akan menggantinya dengan kain sarung. Sora Aoi melepaskan pakaian di toilet atas anjuran lawan main pria untuk mengusir setan. (2) Close up alat vital, paha, buah dada, atau pantat, baik dengan penutup maupun tanpa penutup. Dalam film horor Maxima Pictures bagian dada dari ketiga bintang film dewasa sering di-close up hingga beberapa kali, sehingga memperlihatkan nafsu para pemain prianya. (3) Adegan, gerakan, atau suara persenggamaan, atau yang memberikan kesan persenggamaan, baik oleh manusia maupun oleh hewan, dalam sikap bagaimanapun, secara terang-terangan atau terselubung. Rin Sakuragi beradegan minum es lilin dan kemudian d jilat-jilat serta menjulurkan lidahnya secara terselubung memberikan kesan persenggamaan. Begitupun dengan Sora Aoi yang menunjukkan keinginannya untuk pergi ke tempat karaoke kepada pemain prianya. Sedangkan suara persenggamaan, seperti mendesah, dimainkan oleh Shinta Bachir.PENUTUP: Bintang film dewasa yang terlibat dalam pembuatan film horor Indonesia melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga kerja spesialis dalam sebuah industri. Oleh karena itu, keterlibatannya sangat berpengaruh pada pemasaran dan penjualan baik pada saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja spesialis, bintang film dewasa diperlakukan lebih istimewa dibandingkan tenaga kerja lainnya baik dari segi bayaran maupun fasilitas yang didapat. Seks dan bintang film dewasa dalam industri film horor menjadi bisnis yang menjanjikan. Seks muncul dalam film horor dikarenakan adanya pangsa pasar di mana masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal yang berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dikarenakan pada waktu itu sedang digandrungi dan populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Perpaduan kedua hal tersebut membuat industri film meraup keuntungan yang berlimpah.DAFTAR PUSTAKA: Adorno, Theodor W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture. New York: Routledge.; Livingston, Paisley dan Carl Plantinga. (2009). The Routledge Companion to Philosophy and Film. New York: Routledge.; McDonald, Paul. (2000). The Star System: Hollywood’s Production of Popular Identities. London: Wallflower Publishing.; Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication. 2nd Edition. London: Sage Publications.; Rusdiarti, Suma Riella. (2009). Film Horor Indonesia: Dinamika Genre. Universitas Indonesia.;Schement, Jorge Reina. 2002. Encyclopedia of Communication and Information. New York: Gale Group.

Page 26 of 157 | Total Record : 1563