cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Hubungan antara Terpaan Berita Negatif BPJS Kesehatan di Media Massa dan Intensitas Komunikasi Word of Mouth di Masyarakat dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Kualitas Pelayanan BPJS Kesehatan Fatma Izzatussayidati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.034 KB)

Abstract

The efforts that made by the government to resolve the problem of health in Indonesia is not easy because it often gets negative news in various mass media, the news is a bit influential on the level of public confidence to BPJS Health Care's service quality that shown through the many circulation of negative word of mouth. The purpose of this research is to determine the relationship between news exposure and word of mouth intensity with the level of public confidence in BPJS Health Care's service quality. Sampling in this research is purposive sampling. The population in this study were all society in Semarang City who had seen, heard or read negative news about BPJS Health Care and ever talked about service quality of BPJS Health Care. The number of samples researched as many as 100 respondents.Based on the hypothesis conducted using data anlysis Pearson correlation analysis. The results showed that there was a negative correlation between news exposure in mass media and the level of public confidence in BPJS Health Care’s service quality starter with significance value 0,025 (<0,05). The results showed a negative relationship between the news exposure in mass media with the level of public confidence in BPJS Health Care's service quality with a significance value of 0.025 (<0.05) and Pearson correlation value of -0.224. Furthermore, Pearson's correlation test of word of mouth intensity and level of public confidence in BPJS Health Care's service quality showed a negative relationship with significance value of 0.000 (<0.001) and correlation value of -0.426. This means that the more intense word of mouth in society then the public confidence in BPJS Health Care's service quality will be lower. The suggestion that given is to build relationships with the mass media so that the negative issues can be confirmed in advance and not become a bad word of mouth in society.
Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Group dengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di Semarang Cantya Cantya Darmawan Purba Dewanta; Hedi Pudjo Santosa; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.727 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Groupdengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di SemarangNAMA : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087Kenaikan jumlah perokok wanita yang termasuk di dalamnya adalah mahasiswi semakinmeningkat dari tahun ke tahun, hal ini terjadi karena beberapa factor, salah satunya adalahindustry rokok mulai membidik wanita sebagai sasaran pasarnya, selain itu mahasiswi lebihsering untuk bersama sama peer groupnya sebagai kelompoknya daripada menghabiskanwaktunya dirumah. Hal ini tentu saja akan mendorong mahasiswi untuk menganggap bahwamerokok merupakan hal yang biasa dilakukan, terlebih lagi teman-teman sebayanya jugaperokok.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokokdikalangan mahasiswi di Semarang. Peneliti mencoba mewawancarai mahasiswi di Semarangsebanyak 40 orang untuk mengisi kuesioner penelitian untuk mengetahui hubungan antaraintensitas terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan mahasiswi perokok dimana dia memutuskan untuk terus merokok dan jugapengambilan keputusan merokok mahasiswi non-perokok dimana mereka memutuskan memulaimerokok atau tidak.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi non-perokok di Semarang. Dengan Y1 sebesar 0.000 dan nilai koefisienkorelasi Kendall‟s W adalah 0,906 maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangatsignifikan. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitaspeer group, maka semakin mendorong mahasiswi non-perokok untuk memulai merokok.Dan juga terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokokdi Semarang. Dengan Y2 sebesar 0.000 dan nilai koefisien korelasi Kendall‟s W adalah 0,776maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangat signifikan. Dimana semakin tinggiterpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitas peer group, maka semakinmendorong mahasiswi perokok untuk terus merokok.Key words : Terpaan iklan, Peer group, Pengambilan keputusan, MerokokABSTRACTTITLE : Corelation Between Cigarette Advertising Exposure and Peer Group Level OfConformity With The Decision Of Smoking Among Female Smokers CollegeStudent In Semarang.NAME : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087The number of women smokers were increasing from year to year, including the female college student,this happens due to several factors, one of that several factors is the cigarette industry started targetingwomen as a target market, furthermore most of female college students more frequently spend their timewith the same friend as a peer group rather than spend their time at home. It absolutely will encouragefemale college students to consider that smoking is a common thing to do, even more their peers are alsoa smoker.This research‟s goal is to determine how was the relationship between the intensity of cigaretteadvertising exposure and peer group level of conformity, with the decision of smoking, among the femalestudents in Semarang. Researcher tried to interview 40 female college students at Semarang, and askedthem to fill out a research questionnaire to determine how was the relationship between the intensity ofcigarette advertising exposure and peer group level of conformity with the decision of smoking, wherethey decided to keep smoking and also a non-smoker college student decided to start smoking or not.The results of this research shows that there is a positive relationship between cigarette advertisingexposure and peer group level of conformity with the decision of smoking among non-smokers collegestudent in Semarang. With Y1 of 0.000 and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.906then the relationship of the three tested are positive and highly significant. Where the higher cigaretteadvertising exposure and the higher peer group level of conformity, so it pushes a non-smokers collegestudents to start smoking.And also there is a positive relationship between cigarette advertising exposure and peer group level ofconformity with the decision of smoking among smokers college student in Semarang. With Y2 of 0.000and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.776 then the relationship of the three testedare positive and highly significant. Where the higher cigarette advertising exposure and the higher peergroup level of conformity, so it pushes a smoker college students to keep smoking continously.Key words: Exposure of advertising, Peer group, Decide, SmokingBAB IPENDAHULUANLatar BelakangMerokok sudah menjadi kebiasaan di masyarakat yang dianggap tidak berbahaya.Dewasa ini merokok merupakan hal biasa yang dilakukan oleh masyarakat. Tidak sulit bagi kitauntuk menemukan seseorang yang merokok, baik di dalam maupun diluar rumah.Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya, baikmenggunakan rokok maupun menggunakan pipa (Sitepoe dalam Fatimah N, 2010: 1). Perilakuini bisa diamati melalui aktifitas subyek berdasarkan pengakuan mereka mengenai volume,frekuensi, tempat, waktu, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari. Merokok sudahmenjadi kebiasaan tersendiri dalam masyarakat. Kegiatan ini bahkan telah menjadi suatukebutuhan bagi para pencandunya.Hal tersebut merupakan fenomena tersendiri karena setiap orang tidak dapat memungkiridampak negatif rokok. Tetapi dari tahun ke tahun jumlah perokok semakin meningkat, tingkatproduksi dan pemakaian rokok di dalam negeri terus meningkat (Danto,2010,http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok.Kian.Tak.Terbendung).Tabel 1.1Kenaikan Pasar Rokok NasionalJenis Rokok Kenaikan Di Tahun 2013Sigaret Kretek Tangan naik 4% menjadi 85 miliar batangSigaret Kretek Mesin Filter naik 2% menjadi 87 miliar batangSigaret Putih Mesin naik 5% menjadi 22 miliar batangSumber:anonim,2013,http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Penjualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotukKenaikan penjualan rokok tentu saja diikuti juga oleh naiknya jumlah perokok.Berdasarkan data dari World Health Organization tahun 2008, Indonesia menduduki posisiketiga di dunia setelah China dan India dengan jumlah perokok terbesar yakni lebih dari 68 jutapenduduk Indonesia. 4,8 persen dari 1,3 milyar perokok di dunia berasal dari Indonesia. Secarasosiologis bahkan kultural, masyarakat Indonesia adalah friendly smoking. Merokok dianggapsebagai budaya warisan, bukan sebagai masyarakat yang kecanduan.Kenaikan jumlah perokok aktif paling tinggi di kalangan perempuan remaja dan dewasa,lima kali lipat lebih dari 0,3% (2005) menjadi 1,6% (2010). Sedangkan pada laki-laki remajakenaikannya lebih dari dua kali lipat yaitu 14% pada 2005 menjadi 37% pada 2010. Dari dataWHO, rokok telah mengakibatkan kematian lebih dari 400 ribu orang per tahun di Indonesiasedangkan di dunia jumlah kematian adalah 5,4 juta atau satu kematian tiap 6,5 detik. Lebih dari80% perokok ada di negara sedang berkembang seperti Indonesia, dimana Riskesdas (RisetKesehatan Dasar) tahun 2010 menunjukkan prevalensi perokok adalah sebesar 34,7% (Antara,2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesia-naik-lima-kalilipat/).Peneliti juga menanyakan secara acak kepada 20 mahasiswi di semarang. Penelitimenanyakan “apakah anda merokok atau tidak?”. Hasil yang didapatkan adalah, diantara 20mahasiswi 14 diantaranya menjadi perokok aktif.Data yang diperoleh peneliti juga di dukung dengan data dari Dinas Kesehatan KotaSemarang pada tahun 2010 menyebutkan bahwa perokok anak atau remaja putri mencapai 4,0%dan perokok perempuan dewasa mencapai 4,5% dari jumlah penduduk kota semarang (Rika,2011.http://www.fkm. undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=4311).Dari tahun ke tahun jumlah perokok aktif semakin meningkat. Seseorang dipengaruhioleh dua faktor dalam menyikapi keberadaan suatu produk. Faktor tersebut terdiri dari pengaruhinternal dan eksternal. Pengaruh internal merupakan faktor dari dalam diri seseorang, sedangkanpengaruh eksternal dapat berupa komunikasi dengan media (komunikasi pemasaran), kelompokacuan, kelas sosial, budaya, dan sub budaya (Prasetijo, 2003: 165). Faktor keduanya inilah yangmempengaruhi tingkat pengetahuan seserorang tentang rokok dan mempengaruhi seseoranguntuk pertimbangannya dalam melakukan keputusan merokok.Analisis baru-baru ini tentang iklan rokok di Indonesia juga menekankan bahwa sejak2002 hingga saat ini sejumlah iklan merek rokok melibatkan perempuan, beberapa iklan rokokmenampilkan perempuan muda penuh gaya dan memberi pesan yang secara tersirat yangmembenarkan bahwa merokok untuk perempuan di era modern seperti sekarang ini sudah bisaditerima.Secara tidak langsung iklan rokok yang sering di tayangkan di televisi menunjukkanbahwa perempuan yang merokok terkesan keren, mewah, hura-hura, kelas sosial atas, keakraban,have fun, seru, pesta,dan gemerlap. Tentu saja terpaan iklan memberikan andil dalam mendorongseseorang yang terterpa oleh iklan tersebut tertarik untuk merokok.Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan merokok, selain iklan rokok jugafaktor teman sebaya juga mempunyai andil besar mempengaruhi remaja untuk mulai merokokataupun terus merokok. Seperti yang kita tahu bahwa mahasiswi lebih banyak menghabiskanwaktu dengan teman sebayanya dibanding dengan keluarganya. Khususnya bagi mahasiswi yangmerantau dari kota lain dan berkuliah di Semarang. Situasi ini lebih cenderung untuk membuatmahasiswi melakukan keputusan untuk memulai merokok bagi yang belum merokok ataupunterus merokok bagi yang sudah menjadi perokok, karena tingkat kebebasan yang tinggi danpengawasan orang tua yang kurang.Sikap mengenai rokok akan berbeda-beda bagi setiap mahasiswi tergantung dari seberapatinggi pengetahuan mahasiswi mengenai rokok. Secara sadar maupun tidak sadar seseorang akanmelakukan penginderaan lewat iklan yang menerpanya. Iklan merupakan pesan yangmenawarkan sebuah produk yang ditujukan kepada khalayak lewat suatu media yang bertujuanuntuk menciptakan pengetahuan dan mempersuasi khalayak agar mencoba dan akhirnyamembeli produk yang ditawarkan.Perumusan MasalahDalam penelitian ini akan mencari tahu bagaimanakah hubungan antara intensitas terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di semarang?Tujuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusanmerokok di kalangan mahasiswi di semarang, baik mahasiswi yang belum menjadi perokokmaupun yang sudah menjadi perokok.Kerangka TeoriSocial cognitive dari Albert BanduraDalam social cognitive theory keputusan akan terjadi jika seseorang melihat peristiwayang menarik perhatiannya dari model yang menampilkan suatu perilaku dan menghasilkan nilaidan sesuai harapan. Melalui hal tersebut, seseorang akan mengembangkan harapan-harapantentang apa yang akan terjadi jika ia melakukan perilaku yang sama dengan model. Harapanharapanini akan mempengaruhi hasil pengambilan keputusannya untuk berperilaku. Tetapi,proses ini akan bergantung oleh sejauh mana seseorang tersebut mengidentifikasi dirinya denganmodel dan sejauh mana ia merasa sesuatu yang dilakukannya sesuai dengan harapannya.Bandura menjelaskan dalam social cognitive theory terdapat empat tahapan proses:proses perhatian (attention), proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris(reproduction) dan proses motivasional (Rakhmat, 2007: 240).Populasi dan SampelPopulasiPopulasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi di Semarang yang pernah diterpa iklan rokok danmempunyai peer group yang merokok. Jumlah mahasiswi dalam populasi ini tidak diketahuijumlah pastinya.sebanyak 40 orang.Teknik Samplingnonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling accidental.Sumber DataData primerSumber data utama yang diperoleh langsung dari responden di lapangan, melalui wawancarauntuk mengisi kuesioner yang akan diisi oleh 40 responden.Data SekunderData yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dari dokumen dan arsip-arsip yang sudahdikumpulkan oleh pihak lain, serta sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi denganmasalah yang sedang diteliti.Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancaraTINGKAT TERPAAN IKLAN ROKOK, KONFORMITAS PEER GROUP, DANPENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGAN MAHASISWIDISEMARANG.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas instrument PenelitianSebelum suatu instrument digunakan untuk mengambil data maka terlebih dahulu akandilakukan uji coba atas instrument yang telah disusun. Hal ini bertujuan untuk menentukan butirbutirinstrument yang sah. Instrument yang valid berarti instrument tersebut dapat digunakanuntuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan instrument yang reliable adalahinstrument yang akan menghasilkan data yang sama bila digunakan untuk beberapa kali dalammengukur obyek yang sama.Penentuan butir yang sah menggunakan teknik konsistensi internal, yaitu denganmengkorelasikan skor tiap item dengan skor totalnya. Untuk mendapatkan koefisien korelasiantara skor total, digunakan teknik korelasi Product Momment dari Carl Pearson. Uji cobapenelitian ini dilakukan pada 40 mahasiswi. Setelah kuesioner terkumpul semua, maka langkahselanjutnya yang dilakukan peneliti adalah memberi skor pada tiap butir instrument dan skorkasar dari kuesioner tersebut kemudian dimasukkan dalam tabulasi untuk diuji validitas danreliabilitasnya.Pada penelitian ini perhitungan validitas dan reliabilitasnya menggunakan bantuan programSPSS 17. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r table untukdegree of freedom (df) = n-2,dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Jumlah sampel dalam ujicoba ini adalah (n) = 40 dan besarnya df dapat dihitung 40-2 = 38 dengan alpha 0,05 didapat rtable = 0,3120 (dengan melihat r table pada df 38 dengan uji dua sisi). Valid atau tidaknyapertanyaan diketahui dengan cara membandingkan Correlated Item- Totalcorrelation denganhasil perhitungan r table 0,3120. Jika r hitung lebih besar dari r table dan nilai positif, makapertanyaan itu dinyatakan valid.Pada pengukuran reliabilitas dilakukan dengan cara One Shot atau pengukuran sekali saja.Nugroho (2005: 72) menjelaskan bahwa SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitasdengan uji statistic Cronbach „ s Alpha > 0,60.Hasil uji validitas dan reliabilitas instrument-instrumen dalam kuesioner akanditampilkan dalam table 3.1 berikut :Table 3.1.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pertanyaan KuesionerNO INDIKATOR ITEM DITERIMA ITEM GUGUR TOTAL1 Kuantitas terpaan - 1 , 2 22 Kualitas terpaan 3 , 4 5 , 6 43 Kekompakan 10 , 11 , 14 , 15 , 16 , 17 1 , 2 , 12 , 13 104 Kesepakatan 6 , 7 , 8 9 45 Ketaatan 3 , 4 , 5 - 36 Keputusan MerokokNon Perokok1 , 2 , 3 - 37 Keputusan MerokokPerokok1 , 2 , 3 - 3TOTAL 23 8 29Sumber : Data primer yang diolah, 2013Kualitas Terpaan Iklan RokokKualitas terpaan iklan rokok merupakan aspek psikologis yang merupakan perhatian yangdiberikan seseorang terhadap suatu iklan rokok. Kualitas terpaan yang dimiliki oleh mahasiswi diSemarang tergolong tinggi terhadap terpaan iklan rokok.Gambar 3.1Hasil Jawaban Variabel Terpaan Iklan RokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Dari hasil penghitungan tersebut maka interval kelasnya tampak pada table 3.3 berikut :Tabel 3.3Pengelompokan Kelas Terpaan Iklan RokokINTERVAL INDIKATOR10 ≥ - ≤ 12 Tinggi7 ≥ - ≤ 9 Sedang4 ≥ - ≤ 6 RendahSumber : Data primer yang diolah, 20133.4 Tingkat Konformitas Peer GroupKonformitas merupakan suatu tuntutan yang tidak tertulis dalam kelompok teman sebayaterhadap anggotanya, namun memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menimbulkan perilakutertentu pada anggota kelompok tersebut. Seorang anak seringkali melakukan konformitas agarditerima dalam kelompok dan menjaga hubungan sosialnya agar tetap harmonis. Konformitasmempunyai tiga indicator antara lain kekompakan, kesepakatan, dan ketaatan.42% dari 40 responden mahasiswi di Semarang memiliki tingkat konformitas terhadappeer group yang tinggi. Sebanyak 40 % dari mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasyang sedang dan sisanya yaitu sebesar 18 % memiliki konformitas terhadap kelompoknyadengan tingkat yang rendah. Dapat dibuktikan pada gambar 3.5 di bawah ini ;Gambar 3.5Diagram Tingkat Konformitas terhadap Peer GroupSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasterhadap peer group mereka dengan kategori yang tinggi. Hal ini karena tingkat ketaatan dankekompakan yang mereka miliki sedang, meskipun hanya kesepakatan mereka terhadappendapat dan keputusan kelompok tinggi.3.5 Keputusan MerokokDalam menentukan pengambilan keputusan merokok, indicator yang digunakan adalahbagi mahasiswi perokok, mereka akan memutuskan untuk terus merokok. Sedangkan untukmahasiswi yang belum menjadi perokok atau non perokok, mereka akan mengambil keputusanuntuk memulai merokok.3.5.1 Mahasiswi Non-PerokokTabel 3.5Pengelompokan Norma Keputusan Merokok MahasiswiINTERVAL INDIKATOR9,5 ≥ - ≤ 15 Ya3 ≥ - ≤ 9,4 TidakSumber : Data primer yang diolah, 2013Dan hasil dari variable ini,memperoleh tanggapan 12 mahasiswi dari 40 responden diSemarang yang menjadi responden penelitian terhadap pengambilan keputusan merokok adalah75 % dari 12 responden mahasiswi non-perokok di Semarang memutuskan untuk tidak memulaiuntuk merokok. Sebanyak 25 % dari mahasiswi non-perokok tersebut memutuskan untukmemulai untuk merokok. Dapat dilihat lebih lanjut pada Gambar 3.6Gambar 3.6Diagram Keputusan Merokok Non-PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi non-perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk tidak memulai untuk merokok. Mungkin memang keberadaan peer groupyang merokok dan juga terpaan iklan kurang mampu untuk membuat mereka memutuskan untukmulai merokok.3.5.2 Mahasiswi PerokokBanyak responden yang dilibatkan dalam penelitian ini merupakan perokok, yaitu berjumlah 28mahasiswi dari 40 mahasiswi, dan hasil jawaban dari mereka adalah 93 % dari 28 respondenmahasiswi perokok di Semarang memutuskan untuk terus merokok. Sisanya sebanyak 7 % darimahasiswi perokok tersebut memutuskan untuk tidak meneruskan merokok. Dapat dilihat padagambar 3.7 di bawah ini :Gambar 3.7Diagram Keputusan Merokok PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk terus merokok. Hal ini dapat terjadi karena tingkat konformitas peer groupmereka yang tinggi dan terpaan iklan rokok yang sedang.HUBUNGAN TERPAAN IKLAN ROKOK DAN TINGKAT KONFORMITAS PEERGROUP DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGANMAHASISWI DI SEMARANGUntuk mencari hubungan antara dua variabel bebas (X) yaitu hubungan terpaan iklanrokok (X1) dan tingkat konformitas peer group (X2) yang dihubungkan dengan variabel terikatpengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiwi di Semarang baik yang sudah menjadiperokok (Y1) maupun mahasiswi yang belum menjadi perokok (Y2) peneliti menggunakananalisis korelasi dengan bantuan aplikasi komputer SPSS 17.Uji HipotesisUji hipotesis penelitian hubungan terpaan iklan produk rokok dan tingkat konformitaskelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok digunakan alat uji statistik Kendallmelalui program SPSS 17. Kriteria hasil uji statistik mengenai signifikansi hasil penelitiansebagai berikut :i. Jika nilai signifikansi < 0,01 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.ii. Jika nilai signifikansi < 0,05 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.iii. Jika nilai signifikansi > 0,05 : hubungan antar variabel tidak signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat ditolak.Untuk menentukan seberapa kuat hubungan diantara 3 variabel, akan digunakan pedomansebagai berikut (Santoso dan Fandy Tjiptono, 1997 : 177) :1. Korelasi antara 0 – 0,5 merupakan korelasi lemah.2. Korelasi antara 0,5 – 1 merupakan korelasi kuatHipotesis 1 (H1) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswiperokok di Semarang.Tabel 4.1Hasil Uji Kendall W Responden Non-PerokokN 40Kendall‟s W (a) .906Chi-Square 72.456Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 1 (H1) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang dapat diterima.Hipotesis 2 (H2) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswinon-perokok di Semarang.Tabel 4.2Hasil Uji Kendall W Responden PerokokN 40Kendall‟s W (a) .779Chi-Square 62.359Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 2 (H2) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang dapat diterima.Analisis dan InterpretasiMahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group yang tinggisecara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk terus merokok daripada mereka yangmemiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Begitu juga halnya denganmahasiswi non-perokok, Mahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peergroup yang tinggi secara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk memulai merokokdaripada mereka yang memiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Haltersebut menunjukkan bahwa terpaan iklan rokok yang diterima akan dapat menuntun mahasiswiuntuk tetap terus merokok atau memulai untuk merokok. Pada prakteknya iklan rokokmemelihara citra produk dan makna penawaran dalam benak konsumen. Pemasar memahamidan mengeksplorasi nilai yang melekat pada endorser, tag line dan visualisasi iklan dalambentuk citra positif. Citra positif tersebut selanjutnya ditransfer kepada merek produk rokoktersebut. Hal ini dilakukan dengan harapan konsumen mempersepsikan produk rokok denganasosiasi yang positif.Pandangan positif mahasiswi dari pengalaman merek tersebut akan dikembangkan melaluilingkungan sosialnya. Hal ini karena pembentukan sikap dan perilaku dipengaruhi oleh prosesbelajar (sosialisasi) berupa pergaulan atau interaksi sosial. Interaksi social ialah suatu prosesdimana individu memperhatikan dan merespon individu lain sehingga dibalas dengan suatuperilaku tertentu. Reaksi yang ditimbulkan mengindikasikan bahwa individu tersebutmemperhatikan orang yang memberi stimulus sehingga terjadi interaksi sosial. Salah satuinteraksi sosial yang dapat diamati adalah interaksi sosial dalam komunikasi kelompok berupakonformitas kelompok.Seorang mahasiswi mengamati peristiwa dari lingkungannya dan memperlajarinya melaluiproses perhatian (social learning). Peristiwa yang menarik perhatian adalah yang menonjol,sederhana, dan berulang-ulang seperti penayangan iklan rokok. Setelah mahasiswimemperhatikan informasi dari iklan, mereka menyimpan hasil pengamatan dalam memorimereka. Proses membuat gambaran mental terhadap peristiwa yang diamati (visual imagery) danmenunjukkan representasi dalam bentuk bahasa merupakan proses retention.Selanjutnya adalah proses reproduksi motoris (reproduction), menghasilkan kembaliperilaku yang diamati. Mahasiswi cenderung memulai merokok dan meneruskan tetap merokokapabila didukung oleh lingkungan peer group mereka. Pada akhirnya bila penerapan perilakuyang diamati menghasilkan nilai dan sesuai harapan, mereka akan mengadopsi perilaku tersebutdan mengulang kembali pada waktu yang akan datang.KesimpulanMenurut hasil penelitian hubungan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di Semarang mendapatkesimpulan sebagai berikut :1. Terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitaspeer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi nonperokokdi Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakintinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswi non-perokokuntuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi non-perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.2. Terdapat hubungan yang positif juga antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dansemakin tinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswiperokok untuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.Daftar PustakaArdianto, Elvinaro & Lukiati K E. (2007). Komunikasi Masa : Suatu Pengantar. Bandung :Remaja Rosdakarya.Bandura, A. 2001. Social Cognitive Theory: An Agentive perspective. Annual Review ofPsychology, 52, 1-26. Dalam Pulkkinen, Jyrki. 2003. The Paradigms of e-Education.Baron, R.A, & Byrne, D.(1994). Social Psychology : Understanding Human Interaction(edisi ke-7). Needham Heights, MA : Allyn & Bacon.Botvin, Gilbert J dkk. (1993).Smoking Behavior of Adolescents Exposed to CigaretteAdvertising. Public Health Report Vol.108 No 2. New York : Cornell University MedicalCollege.Bryant, Jennings dan Dolf Zillmann. (2002). Media Effects Advances in Theory andResearch. NJ : LEA.Bungin, Burhan. (2001). Erotika Media Massa. Surakarta : University Press.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta : Jalasutra.Durianto, Darmadi, dkk. (2001). Strategi Menaklukkan Pasar : Melalui Riset Ekuitas danPerilaku Merek. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.Effendi, Onong Ochjana. 2003. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakarya.Engel, James F, Roger P Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. Perilaku Konsumen Jilid2. Jakarta : Binarupa Aksara.Fatimah, Nurul. (2010).Hubungan Terpaan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Teman Sebaya Terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar Maju.Kasali, Rhenald. 1995.Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya di Indonesia.Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.Keller, Kevin Lane. (1998). Building Measuring and Managing Brand Equity. EnglewoodClifford, New Jersey : Prentice Hall Inc.Komalasari, Dian dan Avin F H.(2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok PadaRemaja. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/perilaku merokok_avin.pdf.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Mar‟at. (1981). Sikap Manusia dan Pengukurannya. Jakarta : PT Ghalia Indonesia.McQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Nugroho, Bhuono Agung. (2005). Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian denganSPSS. Yogyakarta : ANDI.Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : Cespur.Oktarinda, 2010, http://bataviase.co.id/node/2048Prasetijo, Ristiyani, dan John J.O.I Ihalauw.(2003). Perilaku Konsumen. Salatiga : FakultasEkonomi UKSW.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.Rasyid, Anuar, 2009. Pengaruh Sikap Siswa SMA Muhammadiyah Bangkinang terhadapBahaya Narkoba sebagai Efek Sosialis. Skripsi. Riau : Universitas Riau.Rika. 2011. Gambaran Perubahan Perilaku Merokok pada Mahasiswi KesehatanMasyarakat di Kota Semarang Tahun 2011. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.Santrock, John W. 1996. Adolescence, Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga.Sarwono, S.W. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta : Erlangga.Sears, D dan Peplau, L.A.(1994). Psikologi Sosial. Alih Bahasa : Michael, A. Jilit Kedua.Jakarta : Erlangga.Shadel, William G dkk. 2008. Exposure to Cigarette Advertising and Adolescents‟Intention to Smoke . The Moderating Role of the Developing Self Concept. Journal of PediatricPsychology vol 33 no 7. Oxford : Oxford University Press.Shimp, Terence. 2003. Periklanan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu.Jakarta : Erlangga.Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (editor). (1989). Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.Sugiyono, DR. 2000. Metode Penelitian. Bandung : CV Alvabeta.Sutisna. 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung : Rosdakarya.Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta : ANDI.Trisnanto, Adhy. 2007. Cerdas Beriklan. Yogyakarta : Galangpress.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoZen, Bambang Hakim. (2007). Hubungan Antara Sikap Tentang Pesan Bahaya Merokokdan Ketertarikan Personal Lingkungan Perokok dengan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuhlima-juta-orang-setiap-tahun.html) .(Anonim,2013, http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Pen jualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotuk).(Anonim,2012, http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/01/130124_majalahlain_perempuan_perokok.html ).(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuh-lima-juta-orang-setiap-tahun.html).(Antara, 2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesianaik-lima-kali-lipat/)(Danto, 2010, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok. Kian.Tak.Terbendung).(Nurmayanti, 2012, http://www.tembakausehat.com/index.php/berita/400-pangsa-pasarphilip-morris-diindonesia-naik-jadi-334)(Pramesthi, Olivia Lewi, 2012, http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05 /meningkatperokok-pemula-di-indonesia).(Rika, 2011. http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx =4311)(Sila Ananda, Kun, 2012, http://www.merdeka.com/sehat/wanita-perokok-ringan-berisikomati-mendadak.html).(Wahyuningsih, Merry, 2012, http://health.detik.com/read/2012/04/26/142725/1902318/763/ylki-di-indonesia-rokok-dijual-bebas-seperti-beras)(Yuliana, Rika, 2011.http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&i dx=4311)http://psycholocious.blogspot.com/2013/02/teori-belajar-sosial-albertbandura.htmlhttp://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Kognitif_Sosialhttp://odasamodra.wordpress.com/2013/02/25/teori-kognitif-sosial-bandura/http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39229/3/Chapter%20II.pdfhttp://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/11/pembuat-keputusan/http://oro.open.ac.uk/35093/http://www.youtube.com/watch?v=v-SFvtFCpjQhttp://www.youtube.com/watch?v=HBHng8zd5GIhttp://www.youtube.com/watch?v=FfgdKR9ZS94http://www.youtube.com/watch?v=Yr2sKIN0vo4http://www.youtube.com/watch?v=YUgz6EG9hs4
Pengaruh Self Disclosure Terhadap Stabilitas Hubungan Antar PSK di Lokalisasi Sunan Kuning Semarang Luky Endra Sadewo, Dimas; S.Sos, M.Si, Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.397 KB)

Abstract

Sunan Kuning merupakan lokalisasi di Kota Semarang yang dihuni oleh 369 pekerja seks komersial dengan kategori usia, daerah asal maupun karakter yang sangat beragam. Keberadaan dalam satu lingkup setiap harinya tidak membuat setiap PSK ini memiliki sikap terbuka (self disclosure) yang sama dengan PSK lainnya. Jika seharusnya seseorang semakin terbuka membuat hubungan mereka semakin stabil, ternyata di Sunan Kuning ditemukan bahwa karakteristik tertutup justru membuat hubungan mereka stabil, sedangkan bagi mereka yang memiliki sikap terbuka dengan teman di lingkungan Sunan Kuning justru memiliki hubungan yang tidak stabil. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada pengaruh self disclosure terhadap stabilitas hubungan antar PSK di Lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Analisis regresi sederhana digunakan untuk menguji hipotesis dengan melihat nilai signifikansi. Pengujian ini menghasilkan nilai signifikansi bagi self disclosure 0,007 dengan persentase memberikan pengaruh sebesar 14,2% terhadap stabilitas hubungan. Sementara sisanya sebesar 85,8% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Hasil penelitian ini memperlihatkan bagaimana self disclosure memang memiliki pengaruh, meskipun tidak dengan pengaruh yang besar, karena terbukti hubungan antar PSK telah stabil meskipun dengan adanya karakteristik yang tertutup, dan para PSK dapat meningkatkan hubungan mereka menjadi lebih stabil dengan terus meningkatkan self disclosure mereka.
MEMAHAMI FENOMENA CYBERBULLYING YANG DILAKUKAN USER TERHADAP SELEBRITI Ayu Mila Ningrum; S. Rouli Manalu
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.156 KB)

Abstract

This study aims to find out the reason why someone does cyberbully to celebrities and to describe the forms of cyberbullying itself. In addition, this research also aims to find out the celebrity’s view about cyberbullying and to find out the response given by celebrities. This is motivated by the rise of cyberbullying by users towards celebrities on social media. Cyberbullying is generally interpreted as an act of intimidation or verbal violence committed by perpetrators through the internet or social networks. This study using the phenomenology approach using qualitative descriptive analysis method. With the phenomenology approach, this study seeks to understand a phenomenon of cyberbullying through the perspective of the perpetrators and victims. The subject of this study consisted of six informants who were divided into four actors and two victims by conducting in-depth interviews. The findings of this study are seen from the perspective of the perpetrators and celebrities as victims. The conclusion of this research shows that cyberbullying is based on socio-economic jealousy, lack of activity, to justify certain circumstances and humor. The researcher concluded that the existence of social media, especially fake accounts, made the perpetrators ventured to commit cyberbullying and cyberbullying as joint actions. Furthermore, it shows that legal risk can limit the occurrence of cyberbullying, but there is a rationalization of the perpetrators to continue to do cyberbullying. And the latest findings from the point of view of the perpetrators indicate that the actions of cyberbullying can bring forth replies from victims to the perpetrators. From a celebrity's point of view, researchers found that the occurrence of cyberbullying was driven by technology. In addition, cyberbullying also affects the mentality of celebrities and becomes a scary specter. Furthermore, this study also found that celebrities showed apathy and self-evaluation as an action to protect celebrities from cyberbullying. Finally, cyberbullying is a circular cycle, in a sense; celebrities experiencing cyberbullying also do cyberbully.
RESEPSI KHALAYAK PEMBACA BERITA TRAGEDI ANAK (AQJ) PADA MEDIA ONLINE Rika Novitasari; Hedi Pudjo Santosa; Much Yulianto; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.104 KB)

Abstract

This research based on the rampant of news about children tragedy in mass media. Childrenare exploited and reported in news excessively, and the news ignore children’s right to beprotected from publicity. Online media is one of the public choice that reprimanded by presscouncil in reporting AQJ accident, because a lot of media showed the face and wrote hisidentity clearly and didn’t place him as vict im of the systemThis research aims to understand audiences’ reception of the purpose of online mediain AQJ accident news. The type of this research is qualitative research used receptionanalysis to discover the reception of the audiences with different experience and background.This research show three types of audience position on AQJ news. The majority of audiences are in negotiated and interpret AQJ accident news as important news because it harms to others, detailed information often expected but they thought that underage children need to be protected from publicity, related to their identity and another aspect that could bother their psychological. Audience who are in dominant reading, interpret the news as natural news that gives positive benefit and important to note audiences widely, and have to be reported in detail. While another audience who are in oppositional reading interpret that news about children tragedy didn’t need to be published, according to the audience news about children tragedy will violate children’s psychology who are still developing and the news about AQJ accident on online media as unobjective and excessive news.Keywords: News, Tragedy, Children, Reception
The Role of Social Media Coordinator and Reporter In Management of Enjoy Semarang Section In Tribun Jateng Website Ramadhan, Maulana; Pradekso, M.Sc, Drs. Tandiyo
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253 KB)

Abstract

The development of information technology has encouraged Tribun Jateng newspaper to form the website named jateng.tribunnews.com. There are various sections included in the website; one of them is travel section called Enjoy Semarang. In its management, Enjoy Semarang section does not work very well in attracting its visitors or viewers. Based on the observation, the number of Enjoy Semarang visitors is only about 1392 visitors. Moreover, the content included in the news does not represent the name and the region of where Tribun Jateng comes from. The published news on the website is mostly derived by copying news from the other incorporated media or adapting news from foreign media. Because of that reasons, there is some travel news that contains information from outside Semarang, Central Java or even Indonesia. Besides its content, the distribution of the news through social media has not been optimized yet. Online Tribun Jateng has three social media accounts; they are Facebook, Twitter, and Instagram. With regard to the distribution through social media, Tribun Jateng does not use a specific method so that most of the news is published in the same way. As we can see, tourism as one of the most interesting topics is potential to attract the website visitors. We have incorporated with Tribun Jateng to manage this section. This management is intended to provide new and original news and to share information about tourism world and culinary in Semarang and Central Java through Enjoy Semarang section that can be accessed by the public. Besides, we also have handled the editorial and the social media management to distribute news from Enjoy Semarang section which has now been renamed the Travel section. The total number that can be gotten from Tribun Jateng Travel section is 13,000 per two months. This number is more than the minimal target which is 4,329 visitors. Within a day, the number of the obtained traffic has reached 900 visitors. Tribun Jateng team has also succeeded in making 316 news which is higher than minimum target, 300 news for two months. During the project, Tribun Jateng Travel team has also succeeded in making two social media accounts; Instagram travel specialization and Line. Those two accounts have reached its target within 800 total followers. Travel section like Tribun Jateng Travel has huge potential to get a large number of visitors. The priority is to keep the quality of the news in order not to lose the visitors. The rise of the traffic number will impact on the existence of online media
Penerimaan Pemirsa Mengenai Pemberitaan Partai Nasdem di MetroTV Krisna Adhi Nugroho; Adi Nugroho; Muchammad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.155 KB)

Abstract

ABSTRAKSIDengan berkembangnya televisi di Indonesia, keberagaman acara di televisimenjadi ajang kesempatan bagi partai-partai politik yang ada untuk melakukanpemberitaan mengenai partainya di televisi, dan hal yang serupa juga dilakukanoleh Partai Nasdem melalui Metro Tv, Partai Nasdem mampu menyampaikaninformasi yang ada dalam partainya dalam berbagai pemberitaan-pemberitaanuntuk diberitahukan kepada masyarakat luas. Namun kegiatan di bidang mediamassa dewasa ini termasuk di Indonesia telah menjadi industri. Dengan masuknyaunsur kapital, media massa mau tak mau harus memikirkan pasar demimemperoleh keuntungan, baik dari penjualan maupun dari iklan. Dalam hal inimedia massa juga dapat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang suatupermasalahan atau pemberitaan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisiskeberagaman interpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDemdi MetroTV. Teori yang digunakan adalah Uses and Gratifications. Penelitian inimenggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis resepsikhalayak. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap pemirsayang secara aktif mengikuti berbagai segmen acara berita yang ditayangkanMetroTV. Para pemirsa kemudian dipilih berdasarkan tingkat pendidikan danjenis kelamin. Sehingga didapatkan makna yang berbeda-beda mengenaipemberitaan Partai Nasdem.Hasil dari penelitian ini menunjukkan gencarnya pemberitaan Partai Nasdemdi MetroTV mampu membentuk bahkan mengkonfigurasi resepsi Partai Nasdemdi mata khalayak. Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayakuntuk memberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV. Informan menginterpretasi teks mediasesuai dengan struktur pengetahuan dan pengalaman subjektif yang berkaitandengan situasi tertentu. Dalam proses konsumsi dan produksi makna yangdilakukan oleh informan, ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukanmerupakan faktor penentu informan dalam mengkritisi makna dominan yangditawarkan media. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belumtentu terpengaruh oleh isi berita yang disajikan.Kata Kunci : MetroTV, Pemberitaan Partai NasDem, Analisis ResepsiABSTRACTWith increasingly television in Indonesia, various programs in televisionbecome opportunity arena for political parties presence in order to carried outnews about their parties in television, NasDem party could deliver informationexist within their party within various news informed to wide societies. Butactivity within this adult mass media sector already industrial in Indonesia. Byincluding capital element, mass media have think the market in order to obtainprofit, both from sale or advertisement. In this case mass media also couldinfluence society perception about such problem or news.This research aimed to describe and analyze the diversity of interpretationsof the audience on report NasDem Party on MetroTV. Theory used was Uses andGratifications. This study used a qualitative descriptive approach to audiencereception analysis method. Researcher used depth interview technique toaudience that actively participate in various program news segments whichpresent by MetroTV. Audiences, then, elected based on education level andgender. Therefore obtained difference meanings about NasDem Party news.This research result showed news unceasing of Nasdem Party on MetroTVable to formed event configurate reception of NasDem Party in public view.Those news was influence most public to giving reception due to dominantreadingwhich expected by news maker, in this case was MetroTV. Informant wasinterpreted media text due to knowledge structure and subjective experiencerelated to certain situation. Within both consumption and meaning productionprocess carried out by informant, in fact background and education factor werenot informant determinant factor to criticizes dominant meaning offered by media.Informan who became target public of news and indefinite influence by newscontent provided.Keywords: MetroTV, Nasdem Party News, Reception AnalysisPENDAHULUANRumusan MasalahPemberitaan media massa begitu cepat dengan pemberitaannya yangbegitu bebas tanpa ada pembatasan dan juga sensor semakin memberikanalternatif seseorang untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Televisidengan kemampuan untuk menyediakan informasi dalam bentuk audio-visualmenjadikannya sebagai salah satu media pilihan masyarakat untuk mendapatkaninformasi dalam rangka memenuhi kebutuhan akan informasinya. Persainganyang ketat diantara stasiun televisi yang ada juga sangat menguntungkan pemirsa.Dengan kelebihan yang dimiliki televisi, informasi-informasi yang disampaikantampak begitu nyata dengan tampilan gambar dan suaranya.MetroTV sebagai salah satu televisi swasta di Indonesia tidak berbedadengan stasiun televisi yang lain, yang berdiri untuk memenuhi kebutuhankhalayak akan informasi. MetroTV lebih mengutamakan pemberitaan yang aktualdan terkini, hal ini dapat dilihat dari kebanyakan program acara di MetroTV yanghampir semuanya tidak lepas dari berita. Beragam tayangan berita disajikan olehMetroTV, baik itu berita kebudayaan, hukum, kriminal, dan politik. Keberagamanpemberitaan politik yang dikemas dalam berbagai segmen acara di MetroTVtentunya sedikit banyak akan menimbulkan terpaan pemberitaan politik terhadapaudiensnya.Pemirsa sebagai audiens yang aktif memaknai teks berita yang disuguhkantelevisi, tentu diharapkan dapat menyadari bahwa tidak semua tayangan beritamemiliki nilai-nilai positif, namun juga disusupi oleh kepentingan-kepentinganmedia untuk mendapat perhatian pemirsa dan upaya pembentukan opini publikterhadap sebuah pemberitaan. Begitu halnya dengan pemberitaan Partai NasDemyang terlalu sering ditayangkan oleh MetroTV, karena sedikit banyak akanmenimbulkan penerimaan dari pemirsa MetroTV yang berbeda-beda. Mengamatifenomena tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk merumuskanpermasalahan secara garis besar, yaitu bagaimana resepsi pemirsa terhadapgencarnya pemberitaan yang dilakukan oleh MetroTV mengenai Partai NasDem?Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisisinterpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDem di MetroTV.Kerangka TeoritisState of The ArtPenelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini telah banyakdilakukan, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Maya Monoarfapada tahun 2011 dengan judul Memahami Strategi Komunikasi Ormas NasionalDemokrat sebagai Embrio Partai Politik di Indonesia mempunyai tujuan untukmenganalisis strategi komunikasi yang digunakan ormas Nasional Demokrat,selain itu untuk menjelaskan strategi komunikasi apa saja yang diterapkan sebagaisarana bersosialisasi, memperkenalkan nama, tagline, serta lambing dari ormasNasional Demokrat. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif denganmenggunakan metode studi kasus. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebutmenunjukkan bahwa ormas Nasional Demokrat dalam menerjemahkan sebuahgagasan dengan sebuah gerakan yang bernama Restorasi Indonesia menggunakantiga strategi komunikasi, yaitu : pendekatan tematik, mediated, dan non mediated.Analisis Resepsi KhalayakAnalisis resepsi menyatakan bahwa teks dan penerimanya adalah elemenyang saling melengkapi dalam aspek-aspek komunikasi. Dengan kata lain, analisisresepsi mengasumsikan bahwa tidak akan ada akibat (effect) tanpa makna(meaning) (Jensen, 2002: 135). Pada akhirnya, masyarakat ingin mengetahuibagaimana efek media massa dan analisis resepsi dapat menjawab pertanyaantersebut. Wacana media terbuka atau bersifat polisemis dan dapat diposisikan olehkhalayak yang merupakan agen budaya yang berkuasa.Yang menarik menurut Hoijer dalam Hagen dan Wasko (2000: 200&202),tidak satupun pemirsa mempertanyakan realitas dari berita. Pemirsa dapatbersikap kritis dan menganggap berita sebagai bias, tetapi tidak ada keraguanbahwa berita dianggap representasi dari realitas. Menariknya lagi, status realitasgenre tampaknya meningkatkan daya emosionalnya. Penelitian resepsi secaralebih lanjut menunjukkan bahwa pemirsa juga menjadi terlibat secara emosionaldalam berita. Bahkan, dalam penelitian survei representatif, mayoritas penonton(57%) menyatakan bahwa mereka biasanya menjadi sangat menaruh perhatianketika menonton berita.Khalayak dianggap aktif dalam menginterpretasikan isi media, dalam halini berita. Terdapat beberapa tipe dari khalayak aktif, antara lain : 1) Selektifitas,khalayak aktif dianggap selektif dalam proses konsumsi media yang mereka pilih.Konsumsi media khalayak aktif didasari alasan dan tujuan tertentu. 2)Utilitarianisme, di mana khalayak aktif mengkonsumi media dalam rangkamemenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki. 3) Intensionalitas,yaitu penggunaan secara sengaja dari isi media. 4) Keikutsertaan, hal ini berartikhalayak secara aktif berpikir mengenai alasan mereka dalam mengkonsumsimedia. 5) Khalayak aktif dipercaya sebagai komunitas yang tahan dalammenghadapi pengaruh media dan tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri. 6)Khalayak yang terdidik, khalayak dianggap lebih bisa memilih media yangmereka konsumsi sesuai kebutuhan dibandingkan dengan khalayak yang tidakterdidik (Junaedi, 2007:82-83).Sebagai khalayak aktif, pemirsa televisi dalam menerima danmenginterpretasikan tayangan televisi menggunakan filter personalnya masingmasingdan tidak selalu sesuai dengan kemauan produsen. Begitu pula halnya saatpemirsa menonton tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv. Disatu sisi, media ingin menyampaikan pesan bahwa keterbukaan komunikasimengenai apa itu Partai Nasdem dan apa tujuan utama dengan dibentuknya PartaiNasdem, serta ingin menunjukkan model positif bagaimana berpolitik yang baiksesuai dengan arah Partai Nasdem. Namun, di sisi lain khalayak dapat menerimapesan tersebut dengan cara yang berbeda. Khalayak dengan frame of referencetertentu akan menganggap tayangan tersebut sekedar pencitraan Partai terhadappublik.Untuk mengetahui bagaimana penerimaan khalayak dapat berbeda-beda,dalam studi resepsi terdapat metode „encoding-decoding‟ milik Hall. Hallmenyebutkan bahwa teks berada di antara produsernya, yang menyusun maknadengan cara tertentu, dan khalayaknya, yang „men-decode‟ makna tersebutberdasarkan pada situasi sosial dan kerangka interpretasi yang berbeda. Transmisikomunikasi digambarkan sebagai sebuah loop yang meliputi rangkaian produksi,sirkulasi, distribusi/konsumsi, dan reproduksi (Hall, 1980 dalam O‟Shea, 2004:10).Hall menyebutkan, pesan yang komunikatif dibuat oleh pengirim danditafsirkan oleh penerima. Masalah timbul ketika ada ketidakcocokan antara kodeyang digunakan encoder dan decoder. Pesan-pesan media memikul berbagaimakna dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang berbeda. Teks akandistrukturkan dalam dominasi yang mengarah kepada makna yang dikehendaki,yaitu makna yang dikehendaki teks dari kita. Khalayak dikondisikan sebagaiindividu yang secara sosial akan dikerangkakan oleh makna budaya dan praktikyang dimiliki bersama. Sejauh khalayak berbagi kode budaya dengan produsenatau pengode, mereka akan mengkode pesan di dalam kerangka kerja yang sama.Namun, ketika khalayak ditempatkan pada posisi sosial yang berbeda (misalkelas, usia, pengetahuan) dengan sumber daya budaya yang berbeda, dia mampumengkode program dengan cara alternatif. Hall juga menghipotesis bahwa adatiga posisi potensial decoding, antara lain :a) Dominan-hegemonik, yaitu ketika pemirsa mencode dan menerima maknayang dikehendaki. Karena posisi decoder dekat dengan encoder, makadecoder akan mengiterpretasi dengan bingkai kode dominan.b) Negosiasi, yaitu ketika decoder menerima beberapa aspek maknadominan, tapi menolak dan mengubah makna lainnya, untukmenyesuaikannya dengan pengertian dan tujuan sendiri.c) Oposisional, yaitu ketika posisi decoder berlawanan dengan encoder,mereka menciptakan cerita versi mereka sendiri dengan perhatian yangberbeda. Jadi decoder memaknai teks berlawanan dengan makna dominandari sudut pandang oposisional (Hall, 1980: 174-175).Gagasan Hall tersebut membuktikan adanya kesadaran untuk memikirkan teoriideologi dan kesadaran palsu. Dengan gagasan ini mereka diarahkan untukmeneliti potensi dari „differential decoding‟ yang menunjukkan adanyaperlawanan terhadap pesan media dominan. Selain itu, dapat dilihat bahwa mediamempunyai peran dalam mentransmisikan pesan-pesan dalam tayangan yangbergenre hiburan. Bagaimana masyarakat memaknai tayangan tersebut tentunyaakan beragam sesuai dengan latar belakang pengetahuan dan pengalamannya.Begitu pula tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv yangmungkin dimaknai secara berbeda-beda oleh individu yang berbeda.Berita Sebagai RealitasKehadiran program siaran berita yang dikemas dalam paket informasi olehtelevisi swasta memiliki banyak keunggulan dibanding media cetak. Beritatelevisi otomatis lebih cepat. Keistimewaannya lagi adalah gambar lebih hidupdengan dukungan suara yang persuasif dari para reporter televisi. Stasiun televisiswasta pantas bangga karena menyiarkan berbagai peristiwa secara audio danvisual.Selisih waktu yang hanya beberapa jam antara peristiwa dan penayangansudah cukup menjadikan kekuatan televisi swasta tak tertandingi media cetak.Tayangan televisi jelas lebih hidup, karena sifatnnya yang audio visual. Pemirsatidak perlu lagi bergantung pada wartawan Koran. Paket informasi berita televisimampu menjangkau banyak pemirsa bukan hanya karena kemampuanteknologinya saja, tetapi juga karena dalam menonton televisi pemirsa takmemerlukan keahlian apa-apa. Artinya mereka yang buta huruf pun dapatmengkonsumsi tayangan program televisi (Kuswandi, 2008:101-102).Birgitta Hoijer (Hagen dan Wasko, 2000:21) melaporkan dari beberapastudi tentang konsumsi audiens, tiga genre populer di televisi : berita, fiksi sosialrealitas,dan opera sabun prime-time. Hoijer menjelaskan bagaimana narasi tidakhanya dapat ditemukan dalam teks, tetapi adalah bentuk umum pengorganisasianpengalaman dalam pikiran. Dia menggambarkan bagaimana harapan penontonfiksi berbeda dari harapan mereka terhadap berita.Pemirsa berita televisi menginginkan prinsip berita harus singkat, jelas,sistematis, dan berpijak pada budaya tutur (story telling). Penyebaran beritasebagai salah satu bentuk industri informasi menyebabkan pemirsa televisi dapatmemperoleh berita tanpa harus membeli, seperti halnya media cetak.Dalam membuat berita, reporter harus mampu membedakan antarakejadian (fact) dan pendapat (opinion), agar penyiaran berita menjadi lebihobjektif. Kekhawatiran terjadinya subjektifitas antara kejadian (fact) dan pendapat(opinion) dalam berita yang dibuat reporter, bias mengakibatkan rusaknya proseskomunikasi sosial. Reporter dilarang memasukkan opini dalam membuat berita,agar tidak terjadi bias bagi audiens dalam menerima informasi atau berita. Sistempers Indonesia yang bebas dan bertanggung jawab bermakna bahwa arti bebasialah, berita reporter tidak „disusupi‟ unsure kepentingan golongan atau pribadidan institusi tertentu. Dalam hal ini, reporter bukan hanya sebagai sosok penyebarinformasi, tetapi sekaligus „penyaring‟ berita-berita yang layak terbit atau tidak.Sedangkan bertanggung jawab mengandung sisi etika sosial. Hal ini secaraetis menentukan posisi reporter untuk memahami dan menyadari bahwa hasilkaryanya (berita) mempunyai efek sosial. Dalam membuat berita, reporter dituntutobjektif. Tetapi karena sulitnya masalah objektivitas berita, pada akhirnya beritayang dibuat, bersifat „ganda‟ (objektivitas yang subjektif). Ini disebabkan reportertidak bisa menghindari unsur-unsur opini dalam membuat berita. Landasanobjektivitas dalam membuat berita, berhubungan erat dengan konsep etika, yaituselalu melihat tindakan manusia yang dibenarkan secara moral (Kuswandi,2008:84-86).Wartawan kenamaan Peter Arnett menegaskan bahwa pada dasarnyapenyajian berita dan penjelasan masalah aktual tidak lain adalah “…just to presentthe fact and opinion…!” reporter tidak boleh memasukkan opininya kedalam faktayang disusunnya (Kuswandi, 2008:98).Berita televisi adalah genre nonfiksi lain yang bersifat jelas tetapi genre iniakan tampak lebih fiktif ketika kita secara cermat menyelidikinya. Tokoh-tokohminor dalam program berita ini adalah reporter, subjek bintang dari peristiwaperistiwadunia, pakar, dan saksi mata. Alur kisah utama program berita inimemiliki fluktuasi drama seperti halnya kisah yang lain. Kisah-kisah individualdidramatisasi pada tingkat tertentu, memiliki pelbagai kualitas konflik dan akhiryang menggantung sehingga kita menonton episode berikutnya untuk melihatsiapa yang akan menang. Situasi-situasi minor ada karena program berita tersebutmemiliki pelbagai konvensi dan presentasi seperti halnya genre yang lain.Konvensi-konvensi ini berfungsi sebagai nilai-nilai berita (Burton, 2008:112).PenutupKesimpulanBerdasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap informan dapatditarik beberapa kesimpulan :1. Pada penelitian ini, terdapat tiga tipe pemaknaan oleh informan. Pertama,informan membaca dan memaknai pemberitaan Partai NasDemberdasarkan makna dominan yang ditawarkan. Mereka tidak melakukankritisi terhadap tayangan dan menerima teks apa adanya (tipe dominanthegemonic).Informan memaknai Partai NasDem sebagai sebuah partaialternative yang sangat cocok bagi pemilu 2014 ditengah berkurangnyakepercayaan khalayak dengan situasi politik dan partai politik yang ada diIndonesia sekarang ini. Kedua, informan melakukan tipe pembacaan yangbersifat negosiatif (negotiated reading). Meski mengkonstruksi PartaiNasdem sesuai dengan konsep pemberitaan, informan juga menciptakanalternatif makna baru berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yangmereka miliki. Ketiga, informan melakukan pembacaan secara berlawanan(oppositional reading). Informan ini bersikap lebih kritis dan tidakmenerima konstruksi Partai Nasdem sesuai dengan yang diberitakan.Informan dalam tipe ini tidak mempercayai apa yang digambarkanpemberitaan karena tidak sesuai dengan kenyataan.2. Gencarnya Pemberitaan Partai NasDem di MetroTV mampu membentukbahkan mengkonfigurasi resepsi Partai NasDem di mata khalayak.Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayak untukmemberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV.3. Informan menginterpretasi teks media sesuai dengan struktur pengetahuandan pengalaman subjektif yang berkaitan dengan situasi tertentu. Dalamproses konsumsi dan produksi makna yang dilakukan oleh informan,ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukan merupakan factorpenentu informan dalam mengkritisi makna dominan yang ditawarkanmedia. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belum tentuterpengaruh oleh isi berita yang disajikan.4. Penelitian menganjurkan bahwa teks media yang sama tidak mutlak akandimaknai secara sama oleh individu dari status sosial yang sama. Tingkatpendidikan dan kondisi sosial yang sama masing memungkinkanterjadinya perbedaan pemaknaan. Maka dapat dikatakan bahwa latarbelakang yang paling menentukan sikap informan dalam memaknai teksmedia adalah faktor psikologis yang berupa selera dan kebiasaanmenonton televisi atau media yang lain.SaranPemberitaan di media merupakan salah satu cara efektif untukmendapatkan perhatian dari khalayak luas. Pemberitaan politik, memainkanperanan strategis dalam political marketing. Berikut ini peneliti ingin memberikanbeberapa saran yaitu :1. Khalayak dalam membaca pemberitaan partai politik, harusmengkaitkannya dengan konteks yang ada saat ini, track record dan latarbelakang partai, terbentuknya partai, serta tokoh yang berada di dalamnyaserta informasi terkait lainnya. Selain itu audience hendaknya mencariinformasi tentang partai politik yang bersangkutan tidak hanya di satumedia saja, tetapi bisa mencari di media yang netral sehingga audiencetidak terjebak dalam pemberitaannya.2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan, acuan, dan pengetahuantambahan bagi khalayak media, sehingga di masa mendatang masyarakatdapat turut serta mengawasi isi media dan lebih kritis terhadappemberitaan media demi kemajuan di bidang komunikasi massa sertamenjadi kontribusi bagi partai politik dalam memberikan danmengarahkan pendidikan politik khalayak.Daftar PustakaReferensi BukuBaran, Stanley J. & Dennis K. Davis. (2000). Mass Communication Theory.Belmont: WadsworthBungin, Burhan. (2008). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindoPersadaBurton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaKajian Televisi. Yogyakarta: JalasutraBurton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi Di Balik Media; Pengantar KepadaKajian Media. Yogyakarta: JalasutraCangara, Hafied. (2007). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja GrafindoPersadaDowning, John,Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. (1990).Questioning The Media: A Critical Introduction. California: SAGEPublication.Gordon, A. David. (1999). Controversies in Media Ethics. Addison-WesleyLongman Educational Pub;ishers IncHagen, Ingunn & Janet Wasko. (2000). Consuming Audience? Production andReception In Media Research. New Jersey: Hampton Press, Inc\Hall, Stuart. (1980). “Encoding Decoding”. Stuart Hall, Dorothy Hobson, AndrewLowe, and Paul Willis (eds). Culture, Media, Language. London:Hutchinson.Hamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta:GranitHaryatmoko. (2007). Etika Komunikasi. Yogyakarta: KanisiusHill, Annette. (2005). Reality TV Audiences and Popular Factual Television.London and New York: Routledge.Jensen, Klaus Bruhn. (2002). “Media Audiences Reception Analysis: MassCommunication as The Social Production of Meaning”. Klaus BruhJensen and Nicholas W. Jnkowski. A Handbook of Qualitative Methodologies forMass Communication Research. USA: Routledge.Junaedi, Fajar. (2007). Komunikasi Massa Pengantar Teoretis. Yogyakarta:Santusa.Kuswandi, Wawan. (2008). Komunikasi Massa : Analisis Interaktif BudayaMassa. Jakarta: Rineka CiptaLittlejohn, Stephen W. (2008). Theories of Human Communication. California:Thomson WadsworthLivingstone, Sonia. (1998). Making Sense of Television: The Psychology ofAudience Interpretation. London: RoutledgeMcQuail, Denis. (1987). Teori Komunikasi Massa, Agus Dharma (terj.). Jakarta:Erlangga.McQuail, Denis. (1996). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: ErlanggaMulyana, Deddy. (2008). Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori, dan Aplikasi.Bandung; Widya PadjajaranNimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik. Bandung: Rosda KaryaPawito. (2008). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiSRakhmat, Jalaluddin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT RemajaRosdakaryaStrauss, A.L & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: techniques andprocedures for developing grounded theory. Thousand Oaks, CA: SageSukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya.Warren, Samuel D and Louis D. Brandeis. (1980). The Right To Privacy. BostonWinarni. (2003). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM Press.Wright C.R. (1985). Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: CV. PenerbitRemadja KaryaReferensi JurnalAfdjani Hadiono & Soemirat Soleh. (2010). Makna Iklan Televisi (StudiFenomenologi Pemirsa Di Jakarta Terhadap iklan Televisi Minuman“KUKU BIMA ENERGI” VERSI KOLAM SUSU ). Bandung: UniversitasPadjajaranAgus Setianto, Widodo. (2012) Penerimaan Khalayak Terhadap Berita-BeritaPolitik di Internet. Yogyakarta: Universitas Gajah MadaMichelle, Carolyn. (2009). Recontextualising Audience Receptions of Reality TV.Participations Journal of Audience & Reception Studies. New Zealand: Universityof Waikato.O‟Shea, Catherine Mary. (2004). Making Meaning, Making A Home: StudentsWatching Generations. Rhodes UniversityReferensi Internet:Priyatna, Adri. (2012). Berita dan Konstruksi Realitas.http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/04/18/berita-dankonstruksi-realitas. Diakses 5 Mei 2012Gustia, Firdha Yuni. (2011). Konstruksi Harian Media Indonesia terhadap PartaiGolkar dalam Berita Hak Angket Kasus Mafia Pajak.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26233/6/Cover.pdf.Diakses 5 Mei 2012Anonim. (2012). Surya Paloh : Saatnya Kader NasDem Bersikap Tegas.http://www.metrotvnews.com/mobilesite/read/newsvideo/2012/02/26/146084/Surya-Paloh-Saatnya-Kader-Nasdem-Bersikap-Tegas. Diakses 6 Mei 2012Ramli, Gusti. (2011). Berdirinya Partai Nasional Demokrat.http://politik.kompasiana.com/2011/03/28/berdirinya-partai-nasionaldemokrat-351150.html. Diakses 2 April 2013Tampubolon, Jimmy. (2010). Deklarasi Nasional Demokrat.http://r-panuturi.blogspot.com/2010/02/deklarasi-nasional-demokrat.htmlDiakses 2 April 2012
PEMBUATAN WEBSITE BERITA www.seputarpewarta.com (Fotografer dan Designer Grafis) KARYA BIDANG Fransiscus Anton Saputro; M Rofiuddin; Triyono Lukmantoro; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.308 KB)

Abstract

Berkembangnya teknologi elektronik dari waktu ke waktu memaksa media ikut serta dalam perkembangan ini. Dimulai dari media konvensional, kemudian berkembang menjadi media penyiaran seperti radio dan televisi. Terlebih lagi, saat ini mulai muncul istilah “media baru”. Media baru atau media online berisikian situs-situs berita, jejaring sosial, dan masih banyak lagi situs informasi lainnya. Perkembangan situs website lebih tersegmentasi. Ada situs tertentu yang membahas soal kesehatan, gaya hidup, olahraga, dan lainnya. Sangat jarang ditemui situs website yang memberitakan lebih dari satu tema. Melihat peluang ini, website berita www.seputarpewarta.com hadir untuk memberikan informasi seputar isu-isu dan kegiatan jurnalis khususnya yang ada di Kota Semarang.Pada website www.seputarpewarta.com, seorang reporter bertugas menentukan jadwal liputan, membuat berita, dan mengirim berita itu pada editor. Editor bertugas melakukan editing pada tulisan sebelum di tampilkan di website. Selain itu, terdapat pula fotografer dan designer grafis. Fotografer bertugas mendokumentasikan kegiatan yang mana menjadi ilustrasi dari berita yang ditulis reporter. Designer grafis bertugas melakukan design pada tampilan website, melakukan edit foto, dan juga menampilkan berita di website www.seputarpewarta.com. Banyak kendala selama proses pengembangan website seperti jadwal yang berubah, narasumber tidak bisa dihubungi, dan informasi yang kurang saat liputan.Dari data statistik, banyak pengguna internet yang mengunjungi Konten Berita sebagai salah satu rujukan informasi. Namun, ada beberapa berita yang kurang diminati pengguna internet. Terbukti dari jumlah pengunjung di bawah pengunjung berita lainnya.
Hubungan Intensitas Menonton Televisi dan Bermain Video Game terhadap Perilaku Kekerasan oleh Anak Miqdad Aly Fahmy Al Imani; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.832 KB)

Abstract

Tingginya kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak baik dalam bentuk verbal dan nonverbal yang didukung oleh muatan kekerasan di media anak baik televisi dan video game. Intensitas yang tinggi dalam mengonsumsi kedua media tersebut, menunjukkan kedekatan dan ketergantuan anak terhadap media tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton televisi dan bermain video game terhadap perilaku kekerasan. Kerangka teori yang digunakan adalah social learning theory dan general aggression model (GAM). Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik non-probability sampling dan purposive sampling dengan jumlah sampel 200 responden dengan usia 9-12 tahun di Kota Semarang. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis korelasi Pearson. Uji hipotesis intensitas menonton televisi menunjukkan hasil yang positif dan signifikan dengan nilai signifikansi 0,022 dan koefisien korelasi 0,162 terhadap perilaku kekerasan. Begitu pula dengan uji hipotesis intensitas bermain video game dengan nilai signifikansi 0,000 dan koefisien korelasi 0,336 terhadap perilaku kekerasan yang menunjukkan adanya hubungan positif dan searah. Kesimpulannya adalah semakin tinggi intensitas menonton televisi ataupun bermain video game maka semakin tinggi pula perilaku kekerasan oleh anak. Oleh karena itu perlu penegakan regulasi dan pengawasan yang ketat terhadap muatan penyiaran dan jenis permainan yang layak dikonsumsi anak. Saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah menggunakan variabel bebas lain seperti faktor internal dan eksternal berupa interaksi dengan peer-group, lingkungan sosial, dan pola pendampingan orang tua.
Wisata Keluarga dalam Program Acara Jateng Exotic di Cakra Semarang TV Bareta Hendy Pamungkas; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; Djoko Setyabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.914 KB)

Abstract

Program berita feature dianggap paling tepat dalam menggambarkan potensi wisata karena memiliki pengertian sama dengan softnews, demikian juga dengan cara membuatnya. Namun karena program berita feature bukan merupakan informasi yang harus cepat disajikan agar tidak basi informasinya, maka proses produksi program berita feature sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan dapat disiarkan kapan saja, sehingga memproduksinya dapat disesuaikan dengan kesiapan tim produksi dan kebutuhan slot program.Produksi program berita feature pada karya bidang ini dibuat dengan tiga posisi pekerjaan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, sutradara, dan juru kamera. Program ini dibuat empat episode dengan tiga segmen tiap tayangnya. Konsep yang diambil adalah wisata keluarga satu hari penuh tanpa menghabiskan banyak waktu, dimana tempat-tempat yang diangkat antara lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Kuliner Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea Pantai Cahaya, Kuliner Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Wisata Air Water Blaster Semarang, Pusat Oleh-Oleh Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Kuliner Toko Oen, Wisata Sejarah Kota Lama, Kuliner Malam Pasar Semawis Semarang.Pengerjaan tayangan melalui tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi di mana media Cakra Semarang TV sebagai sarana publikasi dengan cara mengisi slot program pariwisata yang telah ada yaitu Jateng Exotic. Tayang setiap hari Minggu pada tanggal 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014, diharapkan karya ini dapat memperkenalkan, memberitakan, dan menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang dan sekitarnya.Kata kunci: wisata keluarga, jateng exotic, feature, jurnalistik

Page 29 of 157 | Total Record : 1563