cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Pengaruh Terpaan Iklan, Publisitas, dan Promosi Penjualan terhadap Loyalitas Konsumen Garuda Indonesia Luh Rani Wijayanti; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.494 KB)

Abstract

Penelitian ini berangkat dari data Laporan Tahunan Garuda Indonesia tahun 2012 dan 2013 yang menunjukkan bahwa meskipun jumlah anggota program Garuda Miles (program loyalitas Garuda Indonesia) terus meningkat, target kontribusinya belum tercapai. Sehingga diperlukan upaya yang terus menerus untuk mempertahankan loyalitas konsumen Garuda Indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan iklan, publisitas, dan promosi penjualan secara mandiri terhadap loyalitas konsumen Garuda Indonesia. Penulis masing – masing menggunakan Strong and Weak Theory dan Reinforcement Theory untuk menjelaskan pengaruh terpaan iklan dan publisitas terhadap loyalitas konsumen. Sedangkan, konsep promosi penjualan digunakan untuk menjelaskan pengaruhnya terhadap loyalitas konsumen. Populasi penelitian ini adalah konsumen Garuda Indonesia dan sampel yang diambil sebanyak 50 orang, dengan teknik accidental sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan Analisis Regresi Linier. Uji hipotesis menunjukkan nilai siginifikansi antara terpaan iklan dengan loyalitas konsumen Garuda Indonesia adalah 0,054, sehingga tidak terdapat pengaruh terpaan iklan terhadap konsumen Garuda Indonesia. Hasil uji hipotesis juga menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh terpaan publisitas terhadap konsumen Garuda Indonesia, karena nilai signifikansinya adalah 0,477. Begitu pula dengan terpaan promosi penjualan yang tidak memiliki pengaruh terhadap loyalitas konsumen Garuda Indonesia, karena nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05, yaitu 0,693.Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa baik terpaan iklan, publisitas, maupun promosi penjualan tidak memiliki pengaruh terhadap loyalitas konsumen Garuda Indonesia, sehingga ketiga hipotesis yang diajukan ditolak. 
Penggunaan Instagram sebagai Media Promosi Kuliner Kota Semarang (Studi Kasus pada Komunitas Online @jakulsemarang) Wafda Afina Dianastuti; Lintang Ratri Rahmiaji; Sri Budi Lestari; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.574 KB)

Abstract

Instagram adalah social media berbagi foto yang mulai banyak digunakan untuk kepentingan komunikasi pemasaran dengan ciri khasnya yang mengedepankan pesan visual dan interaktivitas yang tinggi. Pemasaran menggunakan media sosial sedang populer khususnya di bidang kuliner. Salah satunya adalah akun @jakulsemarang atau Jajanan Kuliner Semarang yang memanfaatkan Instagram untuk memberi ulasan mengenai kuliner Kota Semarang dan mempromosikannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan Instagram sebagai media promosi kuliner Kota Semarang dengan studi kasus pada komunitas online @jakulsemarang. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh dari studi dokumentasi unggahan akun @jakulsemarang serta wawancara dengan pemilik akun dan follower. Teori yang digunakan adalah Teori Media Baru dan The 7C Framework. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram sebagai media promosi memiliki fitur-fitur yang memenuhi enam aspek dari The 7C Framework, yaitu context, content, community, communication, connection, dan commerce. Context berperan dalam menarik minat, tetapi content merupakan penentu respon target sasaran. Community menyebarkan pesan secara luas dan personal, communication menjalin interaksi antara pemasar dengan target sasaran, connection memberi kemudahan akses informasi dalam sekali klik melalui tag dan hashtag, sedangkan commerce mendorong terjadinya pembelian. Kekuatan utama Instagram terletak pada content, community, dan connection. Satu-satunya aspek yang tidak terpenuhi adalah customization, tetapi ternyata aspek ini tidak berperan. Dalam kasus akun @jakulsemarang, respon followers terhadap kuliner yang dipromosikan sangat dipengaruhi oleh tren, selera, dan media habit. Followers paling aktif pada pukul 12.00-19.00 dan terutama sore hari. Keberhasilan terlihat ketika followers tertarik dengan foto yang diunggah, sehingga mereka mengklik like, menulis komentar, testimonial, merekomendasikannya kepada teman, mem-follow akun online shop yang dipromosikan, dan mengunjungi tempat kuliner tersebut. Keberhasilan juga dapat dibuktikan dengan klaim para klien bahwa jumlah followers dari akun online shop mereka bertambah dan pengunjung meningkat.
Hubungan antara Intensitas Mengakses Informasi Pariwisata Akun Instagram @indtravel dan Intensitas Komunikasi Word of Mouth dengan Minat Wisatawan Mancanegara Berkunjung ke Indonesia Arum Fatimah, Zahra; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 7, No 1: Januari 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.21 KB)

Abstract

Tourism industry is among the fast growing industry in Indonesia. The previous studies and surveys found that social media and word-of-mouth are usually used by tourists to look for information and recommendations about tourim destination and other tourism related information. This study aims to analyse the relation between intensity of accessing tourism-related information on @indtravel and word-of-mouth communication to the intention of foreign tourists to visit Indonesia. This explanatory-quantitative research used the basic concept of Theory Reasoned Action, Computer Mediated Communication (CMC) Model, and Theory of Uses and Gratification along with the previous journals to explain the relation between each of the independent variabels to the dependen variabel, which is the intention of foreigner to visit Indonesia. The data of the research was collected through online questionnaire, with the targeted sample size of 75 respondents. The method for the sampling technique is purposive sampling since the respondents are chosen by the nationality and those who are actively following @indtravel on Instagram. The econometric computer software SPSS, is used to statistically analyzed the data collected through survey. The results of this study shows that there is a relation between the intensity of accessing tourism-related information on @indtravel and word-of-mouth communication to the intention of foreign tourists to visit Indonesia.
PRODUKSI PROGRAM KEBUDAYAAN GAMBANG SEMARANG PADA PROGRAM ACARA SLUMAN SLUMUN CAKRA SEMARANG TV Gilang Wicaksono; Yanuar Luqman; Nurul Hasfi; Hedi Pudjo Santosa; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.35 KB)

Abstract

Gambang Semarang merupakan sebuah kesenian tradisional kerakyatan yang berkembang dikota Semarang sejak tahun 1930, hal ini berdasarkan peneltian yang dilakukan oleh tim peneliti kesenian Gambang Semarang, fakultas Ilmu Budaya, Universitas Dipongoro. Dalam sejarahnya kesenian Gambang Semarang merupakan sebuah kesenian yang berasal ataupun memiliki kemiripan dengan Gambang Kromong yang berasal dari Ciputat, dan ini menjadi sebuah perdebatan dalam asal-usul kesenian Gambang Semarang itu sendiri. Walaupun menjadi sebuah perdebatan, kini Gambang Semarang diamini oleh warga kota Semarang sebagai kesenian khas kota Semarang. oleh karena itu juga, tim peneliti kesenian Gambang Semarang FIB mengangkat kesenian gambang Semarang sebagai identitas budaya Semarang.Mengapa kemudian Gambang Semarang di anggap menjadi sebuah kesenian khas dan menjadi identitas kesenian kota Semarang, hal tersebut berdasarkan melalui proses sejarah, dimana Gambang Semarang memiliki sejarah yang panjang di kota ini, berkembang dan mendapat apresiasi dari warga kota Semarang. Dalam perkembangannya, Gambang Semarang mendapat penataan tari yang menggambarkan keadaan geografis kota Semarang. Tidak hanya tari, penataan alat musik turut serta dikembangkan baik itu bentuk, rupa, notasinya serta penggunaan lagu-lagu yang bernuansa Semarang. tidak hanya unsur musik dan tari, kesenian gambang semarang juga memiliki unsur lawak.Beragam kesenian dikota semarang sejatinya tidak bisa terlepas dari berbagai etnis yang berada di kota Semarang Yakni, etnis Jawa, Arab dan Cina. Ini juga yang terlihat dalam kesenian Gambang Semarang, dimana didalamnnya terdapat unsur Cina dan Jawa, baik itu dari segi peralatan dan juga pemainnya. Tak kadang pula perkembangan kesenian tersebut merupakan buah usaha dari berbagai etnis dalam melahirkan, mempertahankan hingga melestarikannya. Oleh karena itu gambang semarang memiliki visi misi sebagai kesenian yang membawa misi akulturasi, hibridasi dan juga asimiliasi.Dalam perkembangannya kesenian gambang semarang mengalami pasang surut, dan keadaan surut paling dirasakan pada tahun 2010, sebagian besar pemain Gambang Semarang klasik telah meninggal dunia. Agar tetap ada yang bisa melestarikan maka terbentuklah sebuah komunitas ang bernama Gambang Semarang Art Company. Melaui komunitas tersebutlah kesenian Gambang Semarang bisa terus ada, dan menjadi sebuah kesenian khas dan identitas kesenian di kota Semarang.Kata kunci : Identitas, Gambang Semarang, perkembangan, pelestarian.
Intensity of Use Gadget Against Learning Achievement Among Children In Elementary School Students Ridhoni Adriyanto; Dra. Taufik Suprihartini, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.18 KB)

Abstract

The development of technology is currently experiencing rapid growth. This can be evidenced by the many innovations - innovations that have been made in this world. One example is the simplest form that gadget. Habits of children who use the gadget has an influence on the brain's ability to capture information. One of them is when they are at school and get a lesson given by the teacher. Due to the influence of the habit of using the gadgets of children - child trouble when understanding what is conveyed by the teacher. This study aims to determine the relationship of the intensity of the use of the gadget on the learning achievement of children. In addition to explaining the conditions of use of gadgets among elementary school students. The rationale used is the theory Media Equation by Byron Reeves and Clifford Nass (1996). This type of research is quantitative descriptive. That is the kind of research that is intended to create a picture of systematic, factual and accurate about the facts and the properties of certain populations. The population used are elementary school students who attend school in SDN Gayamsari 02. Sampling in this study using total sampling technique. samples used are students - who attend class V SDN Gayamsari 02 totaling 71 people. Analysis of the data used is the t test with SPSS 20. The t-test is basically indicates how far the influence of independent variables on the dependent variable. Hypothesis test results showed t value of 1.367 with sig 0.176 or greater than 0.05. It shows that there is a negative correlation between the intensity of use of gadgets on the learning achievement of children. This proves our hypotheses rejected. The conclusion was that the use of the gadget does not affect the learning achievement of children. Due to the use of the gadget is not one of the factors that cause the learning achievement of children is lowered. Factors affecting the learning achievement of children is the factor that comes from within and outside the child's environment. This was reinforced by the R-square value of 2.6% which implies that the effect of variable intensity of the use of the gadget as an independent variable is 2.6% so as not to affect the learning achievement as the dependent variable.
PEMAKNAAN AUDIENCE TERHADAP STAND-UP COMEDY INDONESIA DENGAN MATERI SUKU, AGAMA, RAS & ANTAR GOLONGAN (SARA) Tegar Gigih Yudhanataru
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.479 KB)

Abstract

Seperti yang dilakukan di kebudayaan Barat, sebagian besar Stand-UpComedy di Indonesia berisi tentang hal yang sifatnya menyinggung Suku,Agama, Ras dan Antar golongan (SARA). Komedian (comic) memandang haltersebut perlu berfungsi mengungkapkan kegelisahan seorang comic yangdihadapi sehari-hari. SARA adalah hal yang meresahkan membuat sensitif apabiladiperbincangkan apalagi dengan menyindir. Melalui humor adalah cara untukmengungkapkan menerima hal-hal yang meresahkan diri denganmenertawakannya. Penonton yang belum terbiasa melihat Stand-Up Comedytentunya akan lebih sensitif terhadap pembicaraan SARA maupun sindiranmasalah sosial dibandingkan yang lebih modern atau terbuka.SARA akhir-akhir ini muncul sebagai masalah yang dianggap menjadisalah satu menyebab gejolak sosial di negara kita. Ada beberapa hal yang perludicermati dalam masalah SARA adalah pemicu potensial timbulnya konflik sosialmenuju fanatisme kedaerahan, yang menggangap suku asalnya eksklusifdibanding lainnya, hal ini menimbulkan perpecahan dan kaum minoritas menjaditertekan dalam hidupnya.Melalui format Stand-Up Comedy, yang merasa dalam pihak minoritasatau sebagian kaum tertekan bisa menyuarakan apa saja keresahan yang dialami.Banyak comic membawakan materi SARA-nya, seperti Ernest Prakasa, seorangWNI keturunan Cina selalu membuka materi Stand-Up dengan materi tentangCina, Boris T. Manulang menceritakan bagaimana orang Batak distereotipkan dikota besar ataupun Pandji dengan menyindir perilaku umat muslim di Indonesia.Inilah menariknya Stand-Up Comedy atau komedi tunggal seringkalimeyinggung hal-hal yang berhubungan dengan identitas kesukuan, kelompok danagama. Kehadiran Stand-Up Comedy untuk menyegarkan dunia komedi diIndonesia, tapi juga menyadarkan kita untuk tidak sensitif terhadap kehidupankita. Stand-Up Comedy ini penuh dengan kritik tajam namun disampaikan dengankomedi yang segar.Masyarakat Indonesia berlatar belakang budaya yang berbeda, maka takterhindarkan terjadinya perbedaan gagasan dan budaya. Para pelaku Stand-UpComedy Indonesia membawa misi perjuangan agar masyarakat Indonesiaberpikiran terbuka terbiasa mendengar hal hal yang sebelumnya tabudiperbincangkan, menjadi tidak sensitif terhadapa unsur SARA, mengakui adanyarealitas kehidupan dan tidak berpura-pura bersembunyi dalam kemunafikan.Justru dengan maksud para penggagas Stand-Up ini apakah Stand-UpComedy Indonesia lantas membawa perubahan yakni berupa menyajikan komedidengan membawa pikiran terbuka sehingga bisa diterima masyarakat Indonesiaatau justru menimbulkan konflik antar budaya bagi masyarakat Indonesia.Terdapat pendapat yang beragam menyikapi hal tersebut yang dipengaruhi olehlatar belakang sosial, pengalaman dalam hidup serta budaya dapat berperanterhadap terciptanya makna yang beragam tentang Stand-Up Comedy denganmateri SARA.PEMBAHASANAudience telah melihat apa yang ditampilkan dalam Stand-Up Comedydengan materi-materi SARA. Dalam komedi ini dikonstruksikan bahwa segalanyamungkin dilakukan untuk menghibur penonton. Mengkritisi kehidupan sosialbermasyarakat, menyindir tentang umat beragama lain, sampai ke arahmengumpat dengan kasar yang ditujukan agama dan etnis tertentu. Komedimenjadi media ampuh mengungkapkan sesuatu baik itu untuk menghibur maupunsebagai penyampaian pesan yang diterima oleh penonton. Audience mungkin akanmemiliki pemaknaan yang kepada serupa dengan apa yang disampaikan comicdalam Stand-Up Comedy ini. Hasil dari latar belakang kultural dan hasil interaksidengan lingkungan mempengaruhi pemaknaan informan.Audience memiliki pemahaman masing-masing dalam memaknai informasi,namun pengetahuan yang mereka terima dan latar belakang kultural yangmempengaruhi hal itu. Barker mengatakan bahwa penonton adalah penciptakreatif makna dalam kaitannya dengan televisi, yang berlaku juga untuk mediayang lain (mereka tidak sekadar menerima begitu saja makna-makna tekstual) danmereka melakukannya berdasarkan kompetensi kultural yang dimiliki sebelumnyayang dibangun dalam konteks bahasa dan relasi sosial (Barker, 2008 : 286).Ketika menyentuh ranah yang sensitif masyarakat dengan begitu mudahbereaksi jika identitas agama atau etnisnya disinggung. Rahardjo mengatakanmasyarakat Indonesia yang multikultur secara demografis maupun sosiologisberpotensial terjadinya konflik, karena masyarakat terbagi ke dalam kelompokkelompokberdasarkan identitas kultural mereka. Menurut Ting-Toomey(1999:30), identitas kultural merupakan perasaan (emotional significance) dariseseorang untuk ikut memiliki atau berafiliasi dengan kultur tertentu. Masyarakatyang terbagi ke dalam kelompok-kelompok itu kemudian melakukan identifikasikultural, yaitu masing masing orang mempertimbangkan diri mereka sebagairepresentasi dari sebuah budaya partikular (Rahardjo, 2005: 2).Di dalam materi Stand-Up Comedy, realitas sosial yang dialami oleh comicyang menuangkan cerita-cerita dalam keseharian dalam setiap materinyakomedinya mempunyai kesamaan terhadap apa yang dialami oleh penontonsehari-hari, namun comic mampu menuangkan perspektif lain sehingga materinyabisa membuat yang melihatnya tertawa. Materi seperti Pandji membawakantentang fakta perilaku umat muslim di Indonesia serta sindirannya terhadaporganisasi masyarakat berkedok agama, Ernest membawa pesan kehidupan etnisCina yang ada di Indonesia, Mongol yang menyindir tentang etnis Batak ataupundi Indonesia timur dan Soleh Solihun tentang sindiranya terhadap homoseksualdan agama Kristen. Melalui materi tersebut audience mempunyai pandangantersendiri apa yang pantas dan tidak pantas yang terpengaruh oleh latar belakangbudayanya. Audience kemudian memaknai isu SARA dalam Stand-Up Comedytersebut yang telah diberi tanda atau signifikansi dalam materi yang dibawakanoleh comic Stand-Up Comedy tersebut.Keempat informan dapat mengidentifikasi adegan yang menggambarkanSARA. Informan mengidentifikasi materi yang menyinggung dan dapatmecederai umat tertentu yang ditampilkan dalam komedi ini melalui sindiran,sarkasme, kritik yang pedas. Adegan Soleh Solihun menyinggung denganmenggunakan agama Kristen dan kaum homoseksual sebagai bahan tertawaan.Kemudian adegan Mongol mengeneralisir bahwa etnis Batak dan yang beragamaKristen yang ada di Indonesia adalah sebagian besar berprofesi sebagai pencopetdan menganggap semua orang batak berwajah seperti bodat (monyet). Ataupunadegan Pandji menampilkan materi tentang perilaku kehidupan umat Islam diIndonesia dengan menyindir khatib-khatib yang ada di mesjid maupun memelintirayat-ayat Alquran sebagai bahan untuk komedi. Informan menganggap semuanyabanyak yang memakai unsur SARA. Adegan Mongol dengan mengeneralisir etnisBatak sebagai pencopet oleh informan 4 dianggap sebagai tindakanmengeneralisir yang tidak disertai dengan bukti yang empiris. Menurut (Helitzer,2005: 63), humor adalah suatu kecaman atau kritik, yang terselubung sebagaihiburan, dan diarahkan kepada target yang spesifik. Ia berpendapat humor harusterdiri dari kebenaran dan sesuatu yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan.Tanggapan mengenai memakai isu SARA dalam Stand-Up Comedydipandang oleh informan sebagai sesuatu yang bagus karena bisa mendapatkanperspektif baru dalam memaknai humor dan keadaan realitas sosial yang terjadi.Dengan menyinggung SARA audience mendapat perspektif baru tentang apayang dirasakan oleh etnis lain sehingga bisa memahami dan saling menghargai.Stand-Up Comedy sebagai budaya Barat yang hadir di Indonesia tentunya masihmenyisakan adat-adat yang masih belum bisa diterima oleh masyarakat. Informanmasih terjebak dalam stereotyping yang berlaku di masyarakat, Stand-Up Comedyselain harus beradaptasi dengan budaya di Indonesia juga harus mengetahuibatasan-batasan agar tidak menyimpang dari tradisi masyarakat Indonesia. Olehinforman 2 dipandang sebagai sesuatu yang harus dipikirkan matang-matangjangan sampai materi tersebut menimbulkan kecaman. Menurut (Blake, 2005:13),komedi mempunyai 2 fungsi yaitu (1) untuk mengejek, sebuah parodi untukmenyindir kesombongan, sebuah cara melepaskan emosi. (2) sesuatu untukmembuatnya lebih kreatif, bagaimana informan memandang materi dalam Stand-Up Comedy adalah hasil dari pengamatan comic dan dibawakannya secara kreatifsebagai bahan untuk menghibur.Para informan menganggap munculnya Stand-Up Comedy di Indonesiaadalah suatu warna baru yang memberikan masyarakat hiburan karena mungkinbosan dengan komedi yang sudah ada di Indonesia. Informan lainnya berpendapatharus disesuaikan dengan adat ketimuran, dan melihat konteks Indonesia sebagaisebuah negara yang multietnis dipandang masih dinilai sebagai suatu negara yangsensitif apabila menerima hal baru yang tidak sesuai dengan kepercayaannya.Abdullah berpendapat ciri-ciri yang berbeda dapat saja kemudian tidakdinilai sebagai faktor pembeda yang memisahkan satu etnis dengan etnis laintetapi diangggap seagai variasi yang memperkaya lingkungan sosial mereka.Pengayaan-pengayaan akan terjadi pada saat penyerapan bentuk-bentuk ekspresisatu etnis diadopsi oleh etnis lainnya yang seringkali dipakai dalam kehidupansehari-hari sebagai bagian dari ekspresi seseorang atau sekelompok orang. Prosessemacam ini memiliki potensi di dalam pembauran antaretnis dalam lingkungansosial tertentu. Ruang-ruang publik yang tersedia dalam bentuk memungkinkankomunikasi budaya berlangsung dengan baik (Abdullah, 2007: 88).Dalam memakai materi SARA dalam komedi ada batasan-batasan yangdikemukakan oleh para informan dalam penelitian ini. Batasan-batasan terbentukkarena pengalaman proses sosial yang dialami oleh informan semasa hidupnyadan latar belakang budaya yang dibawa semasa kecil. Informan berpendapat tidaksemua bisa dijadikan bahan komedi, maka ketika menyinggung SARA, makayang disinggung adalah seseorang, atau etnis yang secara fisik dan mental tidakmempunyai kekurangan, namun lebih ditujukan kepada segala perilakunya bukanmenyinggung tentang fisik. Oleh informan 1 orang cacat fisik dan cacat mentaladalah orang yang tidak pantas dijadikan bahan komedi karena orang-orangseperti itu dianggap lemah sehingga tidak pantas apabila dijadikan bahan.Informan 4 menganggap adegan atau materi yang vulgar atau sarkas tidakdikonsumsi oleh anak dibawah umur, sehingga harus pintar menempatkan waktu.Stand-Up Comedy dengan materi SARA bukan hanya memiliki nilaipositif, namun menimbulkan dampak pada audience yang memandang berbeda,seiring jalannya waktu terdapat nilai negatif yang akan muncul. Informanmenganggap banyak sekali pertentangannya karena nilai-nilai kebanggan terhadapsukunya masih mendarah daging, informan lainnya berpendapat bahwa dampakkepada comicnya sendiri karena comic mencerminkan sebagai seseorang yangmempresentasikan etnisnya menyinggung etnis lain. Menurut informan 4 apabilaStand-Up Comedy dibawakan di daerahnya yaitu Ambon maka yang terjadiadalah pelemparan batu. Etnis Ambon masih begitu kental rasaeksklusivitasannya.Dibalik semua kontroversi dan perdebatan yang terjadi, walaupun Stand-Up Comedy menggunakan materi yang sensitif, Informan mengakui di dalamkomedi ini mempunyai nilai edukasi selain sebagai menghibur masyarakat.Diantaranya oleh informan 1 menganggap Stand-Up Comedy adalah kegitanmendidik dengan menghibur, di dalamnya terdapat pandangan baru agar terlepasdari fanatisme yang berlebihan, kemudian juga etnis atau agama yang ada diIndonesia menghilangkan batasan yang dibuat sendiri dan agar memahami danmenghargai keanekaragaman yang ada bukan hanya mengakui. Informan 3mengakui bahwa materi dalam Stand-Up Comedy sesuai dengan realitas terjadidekat dengan kebenaran yang ada sehingga dibuat sebagai pencerahan. Menurut(Abdullah, 2007: 170), penerimaan dan pengesahan terhadap nilai yang berbedatidak hanya mengubah tata nilai, tetapi juga memiliki dampak yang luas dalampemaknaan sosial.Penelitian ini merupakan sebuah bentuk studi untuk melihat bagaimanaaudience membangun makna apa yang dikonstruksikan oleh media. Konsepaudience dalam penelitian ini berdasar pada konsep studi resepsi, menurut IenAng (dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds.], 1990: 160-162) Khalayak dianggap sebagai producer of meaning, bukan hanya sebagaikonsumen dari isi media. Khalayak memaknai dan menginterpretasi teks mediasesuai dengan kondisi sosial dan keadaan budaya mereka dan juga dipengaruhioleh pengalaman pribadinya. Dalam menanggapi Stand-Up Comedy denganmateri SARA, informan menanggapi secara beragam tentang makna dibalik itusemua.PENUTUPProses identifikasi yang dilakukan oleh masing-masing informanmenunjukkan mereka semua terbuka pada perbedaan identitas etnis atau agama disekitarnya. Semua informan menganggap isu perbedaan identitas SARA sebagaisesuatu yang wajar dan menjadi ciri khas yang dimiliki Indonesia, namun masihbelum dipahami secara nyata dan belum menemukan potensinya maksimalnya.Pengalaman dan pengetahuan yang berbeda membuat informan memaknaiSARA dalam Stand-Up Comedy Indonesia secara beragam. Sebebas apapuninforman dalam menanggapi SARA dalam Stand-Up Comedy, mereka masihberpendapat terjebak pada stereotipe norma atau budaya yang berlaku diIndonesia.Semua informan menganggap komedi di masa depan harus memiliki nilaiedukasi sehingga mempunyai makna kedepannya. Munculnya Stand-Up Comedymembawa arti penting perkembangan industri hiburan. Indonesia penuh denganpermasalahan yang kompleks sehingga butuh hiburan yang mempunyai ciri khastertentu.DAFTAR PUSTAKAAbdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ang, Ien. 1990. The Nature of the Audience. Dalam Downing, John, AliMohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi [eds]. QuestioningThe Media: A Critical Introduction. California: SAGE PublicationInc.Barker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta:Kreasi Wacana.Blake, Marc.2005. How to be a Comedy Writer. Great Britain:Summersdale Publishers Ltd.Helitzer, Melvin. 2005.Comedy Writing Secrets. Ohio: F+W Publications,Inc.Rahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Pemaknaan Peran Perempuan di Parlemen(Analisis Semiotika dalam Berita Online Tempo.co dan Kompas.com) Niken Siregar; Much. Yulianto; Dr Sunarto; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.051 KB)

Abstract

Penelitian ini berdasarkan pada tidak tercukupinya kuota 30% pada kebijakanaffirmative action. Kurangnya keterwakilan perempuan di kursi parlemendiakibatkan oleh rendahnya tingkat elektabilitas perempuan. Media sebagai saranainformasi dan edukasi memberitakan perempuan di parlemen dengan tidakseimbang. Pemberitaan tentang perempuan di parlemen tidak berkaitan dengankontribusi dan potensi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisiperempuan yang ditampilkan melalui teks berita dari kedua portal berita tersebutdan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakangi terjadinyapenggambaran perempuan tersebut.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk padaparadigma kritis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori EkologiMedia, konsep cultural studies, dan konsep feminisme liberal. Teknik analisisyang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes yang mengacu padalime kode pembacaan. Subjek penelitian yaitu sepuluh teks dari portal beritaonline Tempo.co dan Kompas.com.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam teks berita online tersebutpemberitaan perempuan tidak fokus pada hasil kontribusi perempuan pada saatmenjabat sebagai anggota parlemen. Berita perempuan di parlemen tidaktermasuk dalam berita headline atau berita utama. Pemberitaan tentangperempuan lebih banyak masuk dalam kategori berita hiburan. Kontribusi danpencapaian perempuan di parlemen hanya dibahas sekilas dalam berita, yangmenjadi fokus dalam pemberitaan yaitu kehidupan pribadi, penampilanperempuan, dll. Selain itu, bahasa yang digunakan dalam pemberitaan tersebutmenggunakan bahasa yang bermakna halus tetapi kesan yang timbul dalam beritajustru negatif. Terdapat modal ekonomi, modal sosial dan modal kultural dalampemberitaan peran perempuan di parlemen. Modal yang paling sering munculdalam pemberitaan tersebut yaitu modal kultural, dimana penampilan dan statusperempuan menjadi syarat penting untuk menjadi anggota legislatif. Pemberitaanmenampilkan seolah-olah perempuan tidak mampu duduk di kursi parlemen tanpamodal-modal tersebut.
PENGALAMAN INTERAKTIF PENGGUNAAN KARAKTER ‘QUIET’ DALAM PERMAINAN METAL GEAR SOLID V: THE PHANTOM PAIN MUTIA ADI CAHYANI, REZA; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.508 KB)

Abstract

Metal Gear Solid V: The Phantom Pain is the game that has been known even before its launch date by their unique character ‘Quiet’, a sniper that will accompany players as a buddy along the mission. ‘Quiet’ has become a popular character between both men and women player. From the total 657 member, around 184 women’s player as a part of discussion group on Kaskus site using ‘Quiet’ as their buddy By using a qualitative approach, with constructivism paradigm, and analyzed through phenomenological method, this study aims to understand player experience by using ‘Quiet’ character in the Metal Gear Solid V: The Phantom Pain game and the effect caused by using the character upon themselves. Flow theory is a main theory to apprehend this research. 6 informants were taken as a part of the study that consist of 3 men and 3 women that has played using ‘Quiet’ as their buddy with 100% bond meter. The result of the study found that the immersive process require a sense of human sensory and graphical display of the game. The control itself is a main part to enhance the ability of immersive experience to be felt especially for fan service features that allow players to take control over camera is one of the reason men players using Quiet as their buddy whilst women players tend to utilize Quiet for gameplay matter. Proteus effect shows to certain player where the de individuation occurs where the game character characteristic induced to on how they behave in reality. Personal experience and the ability to mod the game are triggering the proteus effect into the players.
Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik” Ginanjar Saputra; Djoko Setiabudi; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.571 KB)

Abstract

Nama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088Judul : Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik” Abstrak Koperasi Sekar Arum sebagai sebuah lembaga koperasi dibawah naungan TP – PKK Kota Semarang yang salah satunya fokus terhadap batik semarangan, tentu harus dapat melestarikan dan mengembangkan produk batik semarangan sehingga dapat menjadi produk andalan dari Kota Semarang. Akan tetapi terjadi permasalahan dimana produk batik semarangan ini belum banyak dikenal oleh warganya sendiri khususnya para generasi muda yaitu pelajar di Kota Semarang. Melalui pendekatan IMC, promotion mix, marketing communication, dan AIDDA, strategi Brand Activation menjadi kegiatan komunikasi pemasaran batik semarangan yang efektif dalam meningkatkan awareness dan minat terhadap batik semarangan. Dengan mengambil tema kegiatan “Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline acara “Fit on Youth”, acara dikemas dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan minat pelajar di Kota Semarang terhadap batik semarangan. Acara ini diisi dengan kegiatan utama pelatihan batik dengan nama “Melu Mbatik” dan pertunjukan musik akustik dengan nama “Batikustik” dimana peserta diwajibkan mengenakan batik pada saat tampil diatas panggung. Dan pada akhir dari event, dibentuk Komunitas Batik Semarangan sebagai kegiatan PR denga tujuan untuk menimbulkan efek yang berkelanjutan. Melalui kegiatan brand activation ini, diharapkan pengetahuan para pelajar SMA dan sederajat di Kota Semarang sebagai target audien terhadap batik semarangan dapat meningkat, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan minat untuk melestarikan batik semarangan. Berdasarkan hasil riset post event, sebanyak 41% target audien sudah tidak lagi menganggap batik itu mempunyai kesan kuno, meningkat sebesar 28% dari sebelumnya 13%. tingkat pengetahuan target audien mengenai batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Sementara itu yang menyatakan tertarik untuk memakai batik semarangan sebesar 32%,. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 15% dari sebelum event dilaksanakan. Kata Kunci : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, marketing communication, “Cah Semarang Duwe Batik”.Nama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088Judul : Batik Semarangan Brand Activation through “Cah Semarang Duwe Batik” Event. Abstract Koperasi Sekar Arum as an organization below the authority of Semarang‟s TP – PKK which one of their focus is Semarangan‟s batik, they have to conserve and develop Semarangan‟s batik into one of the top notch product from Semarang. Nevertheless the problem of Semarangan‟s batik is not so well known in its own city especially between the youth or the student in Semarang. Through IMC, promotion mix, marketing communication and AIDDA approaches, Brand Activation strategy become effective marketing communication for Semarangan‟s batik in order to raise awareness and also gain the interest in Semarangan‟s batik With “Cah SemarangDuwe Batik” as our event‟s theme and “Fit on Youth” as our event‟s tagline, this event is set to increase knowledge and interest for Semarangan‟s batik between the student in Semarang. This event is consist several activities such as, the main activity is teaching student how to draw batik which called “MeluMbatik” and also acoustic music performance named “Batikustik” which every contestant required to wear batik when they were performing on stage, and in the end of the event they KoperasiSekar Arum established Semarangan‟s Batik Community as a PR activity that aimed to get the continuous effect. Through this brand activation event, it is expected the knowledge of student especially high school in Semarang as a target audience may enhanced, so they will have sense of belonging into Semarangan‟s batik and also to conserve it. Refer to post event research result, 41% of target audience is not perceived Semarang‟s batik is old fashioned anymore, raised 28% from 13 % on early research. Level of knowledge of the target audience about Semarangan‟s batik enhanced 52% from the previous research is 17% to 69%. Meanwhile, target audience who stated that they wants to use Semarangan‟s batik is 32%, this data shows that there are 15% gain according from the previous research. Key Word : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, Marketing Communications, “Cah Semarang Duwe Batik”Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik”(Project Officer) Karya Bidang Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro PenyusunNama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013PENDAHULUAN Batik semarangan adalah batik khas dari Semarang yang mempunyai corak dan motif yang unik dan mempunyai ciri khas tersendiri berupa ikon-ikon kota semarang, dan bersifat natural atau pesisiran. Batik semarangan mempresentasikan tentang Kota Semarang baik flora, fauna, ikon-ikon Kota Semarang seperti ukiran di gedung-gedungnya, atau lawang sewu yang menjadi ciri khas kota, tugu muda, legenda-legenda, serta kuliner yang ada di Semarang, dan biasanya ada motif daun asem sebagai ciri khasnya. Ragam corak dan warna batik semarangan banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Pada awalnya, batik semarangan yang memiliki ragam corak tradisional dan warna yang terbatas terpengaruh oleh kebudayaan asing yang dibawa oleh para pedagang asing dan juga para penjajah. Popularitas batik kembali muncul setelah UNESCO menetapkan batik sebagai salah satu budaya yang ada di Indonesia, berbagai fashion yang bertema batik bermunculan, masyarakat Semarang sadar akan budaya batik yang sedang menjadi tren. Walaupun popularitas batik sedang meningkat, akan tetapi kesadaran mereka akan adanya batik semarangan dan minat untuk memakai batik masih rendah. Popularitas batik semarangan sendiri masih kalah dengan batik di kota lain, hal ini diakibatkan karena apresiasi masyarakat kota semarang terhadap batik semarangan masih rendah. Masyarakat kota Semarang cenderung lebih memilih batik dari luar Semarang seperti Batik Pekalongan, Batik Yogyakarta maupun Batik Solo.Fenomena tren batik yang sedang berkembang di Kota Semarang tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan adanya batik semarangan, sehingga minat mereka untuk memakai batik semarangan sebagai apresiasi terhadap Budaya KotaSemarang pun belum muncul. Padahal disamping itu, batik akan menjadi budaya di suatu masyarakat apabila masyarakat tersebut mengenakan batik di setiap hari mereka berkegiatan. Akan tetapi pada kenyataanya batik masih dipakai pada saat tertentu yang bersifat formal. Misal pada saat menghadiri pesta pernikahan, acara resmi yg lain, Atau pada hari jumat untuk instansi pemerintahan. Itupun kareda ada aturan pemerintah. Hal ini menyebakan penjualan batik semarangan mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Budaya Fashion yang menjadi tren di kalangan pelajar karena mereka mengacu kepada artis idola mereka, sebagai contohnya, misal budaya K-pop yang sedang populer saat ini. Dari gaya berpakaian, para pelajar akan menirukan gaya berpakaian idola mereka, mengenakan fashion bergaya korea, karena tren budaya yang sedang hype mempunyai kesan modern dan up to date sedangkan batik menurut mereka masih sebagai fashion yang kuno, Dari masalah tesebut dapat dikatakan bahwa pelajar masih mencari identitas dirinya dan membutuhkan role model sebagai acuan mereka untuk menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik. Banyak pelajar SMA di Semarang yang tidak mengetahui adanya batik semarangan. Tidak mengetahui ciri-cirinya, contoh motifnya, harga, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Budaya batik yang masih terkesan kuno di kalangan pelajar menyebabkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka terhadap batik khususnya batik semarangan. Hal ini dibuktikan dengan riset yang telah peneliti lakukan pada bulan April 2013 bahwa 87% responden masih menganggap bahwa batik itu terkesan kuno dan mereka tidak mau memakainya, 17% responden tidak aware terhadap batik semarangan, 79% responden tidak mempunyai minat terhadap batik semarangan.Masih rendahnya kesadaran pelajar terhadap batik semarangan tersebut berakibat pada rendahnya popularitas batik semarangan apabila dibandingkan dengan batik-batik dari kota lain. Hal ini berdampak pada menurunnya penjualan batik semarangan. Maka dari itu, Karya Bidang ini berfokus untuk mempromosikan batik semarangan yang bertujuan untuk meningkatkan awareness serta minat pelajar terhadap Batik Semarangan kepada pelajar SMA di Kota Semarang dengan melakukan kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik dengan tagline FIT ON YOUTH dengan pendekatan brand Activation ISI Dengan menggunakan pendekatan brand activation yang didukung oleh teori Komunikasi Pemasaran, AIDDA, IMC, dan komunitas dan berifat Experiental Event Marketing agar para audiens dapat sepenuhnya terlibat dengan produk yang dipasarkan. Salah satu cara efektif dalam menyampaikan pesan sebuah brand adalah melalui pendekatan brand activation. Brand activation adalah salah satu bentuk promosi merek yang mendekatkan dan interaksi merek dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktifitas publik yang menarik perhatian lainnya.Brand activation merupakan aktifitas dua arah yang dilakukan suatu brand untuk berinteraksi lebih dekat dengan target market, atau target audiens. Berbeda dengan aktifitas iklan, baik lini atas maupun lini bawah, aktifitas yang terjadi hanyalah satu arah. Salah satu bentuk pendekatan brand activation adalah event marketing activity. Dalam penelitiannya, Duncan menjelaskan bahwa, “event marketing is a significant situation orpromotional happening that has a central focus and chapters the attention and involvement of the target audiens” Pendekatan brand activation merupakan aktifitas komunikasi pemasaran yang harus tetap didukung dengan aktifitas komunikasi pemasaran lainnya, seperti publikasi, kegiatan public relations, sales promotion, publisitas dan tools promosi lainnya. Brand activation merupakan jawaban atas konsep promosi modern karena dapat meningkatkan brand awareness dan mengangkat citra dari suatu brand. Strategi ini dirasa efektif dalam membangun sebuah brand karena brand activation adalah salah satu bentuk promosi brand yang mendekatkan dan membangun interaksi brand dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktivitas publik yang menarik perhatian lainnya (Shimp, 2003:263). Selain itu dalam perspektif membangun brand awareness, brand activation mempunyai banyak peluang untuk mencapai keberhasilan. Ini karena event pada dasarnya diselenggarakan dalam kemasan yang menarik dan untuk menciptakan suasana hati yang santai dan menyenangkan. Pada saat itulah orang lebih mudah menerima pesan persuasi yang disampaikan pemilik merek (Shimp, 2003:263).Peneliti ingin menyelenggarakan kegiatan yang bertema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline “ Fit On Youth”. Penyelenggara mengambil tema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki para generasi muda khususnya pelajar SMA di Kota Semarang untuk melestarikan batik salah satunya dengan cara memakainya. Tagline „ Fit On Youth” berarti ingin menyampaikan pesan bahwa batik itu cocok untuk para generasi muda khususnya paa pelajar untuk menjadi fashion mereka dan bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik. Tujuan kegiatan “ Cah SemarangDuwe batik” sendiri bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik, meningkatkan awareness batik Semarangan, dan meningkatkan minat terhadap Batik Semarangan salah satunya dengan cara memakainya dan tujuan tersiernya adalah untuk meningkatkan penjualan Batik Semarangan di kota Semarang. Kegiatan Brand Activation Batik Semarangan dikemas dengan konsep yang menarik karena target audiens dari kegiatan ini adalah pelajar di kota Semarang serta membawakan role model yang bertujuan untuk dijadikan panutan bagi mereka untuk mengenakan batik sehingga bisa menghilangkan kesan kuno batik di generasi muda.Role Model yang dibawakan pada kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik” adalah Jazz Ngisoringin yang mempunyai banyak penggemar di Kota Semarang khususnya para generasi Muda Kota Semarang yang menjadi target audiens dari kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik”. Acara “Cah Semarang duwe Batik” yang dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 26, 27 dan 28 Juli 2013 mempunyai konsep acara sebagai berikut : a. Melu mbatik Melu mbatik merupakan ajang bagi pengunjung acara yang ingin mencoba belajar batik pada kain batik sepanjang 1x1 meter yang telah tergambar pola batik semarangan, yang disediakan oleh panitia dan telah didampingi oleh para pengrajin batik yang sudah berpengalaman dan ahli dari Koperasi Sekar Arum. b. Galeri Batik SemaranganGaleri Batik Semarangan merupakan sarana bagi para perajin batik untuk mempromosikan produknya, selain melakukan penjualan dengan memberikan diskonkhusus, perajin tersebut juga akan membimbing paserta “melu mbatik” mengenai cara dan langkah-langkah yang baik dalam membuat batik. c. Batikustik Band SMA merupakan sarana untuk mengekspresikan jiwa seni pelajar SMA. Diharapkan dengan para pelajar akan dapat lebih mengapresiasi budaya batik sebagai budaya yang tidak lagi kuno. Parade band ini bertema akustik, dan mengenakan batik pada saat pentas. d. Batikustik Jazz Ngisoringin. Jazz Ngisoringin yang menjadi band yang sudah populer di Kota Semarang bisa menjadi role model pelajar SMA bahwa batik itu tidak berkesan kuno. e. Wisata Air Pengunjung yang datang pada kegiatan tersebut, selain dapat mengunjungi booth pameran yang disediakan oleh panitia juga dapat menikmati wahana wisata air dan keindahan sungai banjir kanal. f. Komunitas Cah Semarang Duwe Batik Setelah kegiatan terlaksana, akan dibentuk sebuah komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” yang beranggotakan para pelajar SMA di Kota Semarang. Komunitas ini bertujuan untuk mengenalkan batik semarang kepada teman-teman di sekolahnya, teman-teman di luar sekolah ataupun keluarga mereka. Komunitas ini dibentuk sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga.“Cah Semarang Duwe Batik” adalah rangkaian event yang berisi kegiatan untuk memperkenalkan batik semarangan, mengenai jenis-jenis motifnya, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Selain itu melalui event ini pihak Koperasi Sekar Arum dapat melihat kondisi target audiens secara langsung, bagaimana antusias audien mengikuti rangkaian kegiatan dapat menjadi pacuan dalam memperluas pasarnya kepada target pasar yang dituju, yaitu pelajar SMA di Semarang. Berdasarkan hasil riset, tingkat pengetahuan target audien mengenai Batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Hal tersebut melampaui target yang ditentukan sebelumnya, yaitu sebesar 50%. Untuk peningkatan minat batik naik sebesar 15% dan telah melampaui target yang sebelumnya hanya 13% dan akhirnya minat batik menjadi 36%. Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” dibentuk setelah kegiatan dilakuan, tujuan dari komunitas ini adalah sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga. Komunitas “Cah Semarang duwe Batik” mempunyai kartu tanda anggota sebagai kartu pengenal keanggotaan dan berfungsi juga sebagai kartu untuk memperoleh potongan harga di toko batik yang sudah ditunjuk oleh panitia dan juga mempunyai katalog yang dipegang oleh masing-masing anggota yang berguna untuk mempromosikan batik semarangan kepada teman-temannya di sekolah. Evaluasi mengenai jalannya acara dapat dilihat pada indikator berikut ini :a. Tujuan komunikasi awal tercapai dengan baik, yaitu untuk meningkatnya awareness dan minat audien terhadap batik semarangan, terbukti dengan terbentuknya Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” di beberapa SMA di Kota Semarang. b. Proses loading-in dan loading-out, serta jalannya acara secara keseluruhan berjalan lancar sesuai dengan rundown yang telah dibuat. c. Jumlah peralatan dan perlengkapan terpenuhi, meskipun ada beberapa perlengkapan yang belum lengkap pada saat persiapan, akan tetapi hal tersebut dapat diatasi pada hari pertama pelaksanaan acara. e. Segala bentuk publikasi terdistribusi dan terpasang dengan baik. f. Terbinanya hubungan baik dengan pihak-pihak yang terlibat dalam acara “Cah Semarang Duwe Batik” seperti Koperasi Sekar Arum, LEMPPAR, dan sekolah-sekolah yang berpartisipasi. g. Anggaran dana yang dibutuhkan dapat terpenuhi dan didapatkan dari sponsorship, dan mendapatkan surplus sebesar Rp. 3.130.000,- h. MC sepanjang jalannya acara menyampaikan pesannya dengan baik, memaparkan informasi secara persuasif, sehingga audien lebih tertarik dan dapat mengingat pesan yang disampaikan.PENUTUP Dalam bab ini, dijelaskan mengenai implikasi yang terjadi atau ditimbulkan dari penyelenggaran event “Cah Semarang Duwe Batik” yang bertujuan untuk memperkenalkan batik semarangan serta saran yang dapat digunakan untuk keberhasilan penyelelnggaraan event serupa berikutnya. Kesimpulan Dari seluruh rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik” yang telah dilaksanakan dan pembahasan yang dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : a. Strategi dengan menyelenggarakan experiental event marketing dan berinteraksi secara langsung kepada target audien serta menampilkan role model menjadi cara yang efektif umtuk menghilangkan kesan kuno batik sebanyak 28%, dari semula 13% meningkat menjadi 41% yang menganggap bahwa batik tidak lagi terkesan kuno berdasarkan riset yang dilakukan setelah event. b. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan awareness target audien tentang batik semarangan sebesar 52% serta meningkatkan minat sebesar 15% berdasarkan riset yang dilakukan setelah event. c. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan minat warga Kota Semarang untuk melakukan pembelian pada saat kegiatan berlangsung, hal ini dibuktikan dengan total penjualan batik semarangan selama kegiatan total sebesar Rp. 9.150.000 d. Dalam publikasi event “Cah Semarang Duwe Batik”, 50% responden mengetahui acara “Cah Semarang Duwe Batik” melalui media poster yang dipasang.e. Dari 100 orang yang dijadikan sebagai responden, 21% responden mengetahui event “Cah Semarang Duwe Batik” melalui flyer. f. Publikasi melalui social media, karena lingkaran sosial yang dimiliki oleh penyelenggara belum menjangkau target audien, sehingga publikasi belum menjangkau secara langsung kepada target audiens yang dituju, publikasi melalui social media hanya menjangkau 10,52 %. Dari kesimpulan yang telah dihasilkan, serta pengamatan terhadap jalannya rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik”, berikut saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan apabila diadakan kegiatan-kegiatan serupa pada waktu yang akan datang : a. Pemilihan akun social media sebagai komunikator sebaiknya menggunakan akun yang telah mempunyai lingkaran sosial yang sesuai dengan target audien yang hendak dituju. b. Sebelum melakukan kegiatan pemasaran, sebaiknya penyelenggara telah mendalami product knowledge tentang produk yang akan dipasarkan, sehingga terpaan informasi yang diterima target audien dapat menimblkan efek yang lebih besar. c. Masing-masing penerapan strategi publikasi media yang akan digunakan, sebaiknya diukur menggunakan perhitungan yang tepat untuk mengetahui strategi publikasi mana yang paling efektif umtuk mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Belch, George, Michael A. Belch 2001. Advertising & Promotion: An integrated Marketing Communications Perspective, New York : McGraw Hill. Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Gunarsa, Singgih. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia Jack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc Bussines Books. Jasmadi (2008). Membangun komunitas online secara praktis dan gratis. Jakarta: Elex Media Komputindo. Kotler, Philip, Gary Armstrong. (2001). Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid 2. (Damos Sihombing. Alih Bahasa).Jakarta : Penerbit Erlangga. Laudon, Kenneth, Traver, and Carol Guercio (2003). E-commerce : business, technology, society. Addison-Wesley Littlejohn, Stephen W. (2009). Teori Komunikasi (Theories of Human Communication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors, Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Shimp, Terence A. (2000). Periklanan Promosi: Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jilid I. (Revyani Syahrial. Terjemahan) Jakarta: Penerbit Erlangga. Siswanto, Fritz Kleinsteuber, (2002). Strategi Manajemen Pemasaran. Jakarta: Damar Melia Pustaka. Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Tjiptono, Fandy, dkk. (2007). Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Penerbit Andi.2. Website : (Advertising and Promotion and Integrated Marketing Communications Perspective, http://hfs1.duytan.edu.vn/upload/ebooks/5183.pdf, diakses pada 21 Mei 2012). (Brand Activation by Paul Morel, Peter Preisler and Anders Nyström www.metro-as.no/pdf/fagartikler/Brand%20Activation.pdf. diakses pada 5 Mei 2012).
Political Public Relations Campaign for Election of Mayor and Deputy Mayor of Solok Period 2016-2020 Division Project Officer feby mangireta .; Agus Naryoso .
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This thesis field work is Political Public Relation Campaign in the Election of Mayor and Deputy Mayor of Solok Period 2016-2021. This thesis work was made by the Public Relations team under the guidance of Mr. Agus Naryoso, S.sos, M.si Department of Communication Studies Program Strata 1 (S1), Communication Science Diponegoro University. This thesis field works aimed to win a political party teams Irzal Ilyas H. and H. ALfauzi Bote known as “Kita Sahabat Imam” Campaign, in the election of mayors and deputy mayor of Solok using public relations. Public relation political campaign strategy used in “Kita Sahabat Imam” Campaign is event, blusukan, community relations, third party endorser, and digital public relations. The final evaluation in this thesis works indicates that the PR campaign strategies were implemented successfully because it reaches all the indicator needed. The major constraint was the black campaign strategy from the other rival party. Suggestion for the futher works / research in this field are, a more comprehensive understanding about political strategy “Kita Sahabat Imam” campaign. It needed more research in volving the study of various disciplines, such as Psychology and Law.

Page 55 of 157 | Total Record : 1563