cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
PEMAKNAAN PEROKOK TERHADAP PICTORIAL HEALTH WARNING (PHW) PADA KEMASAN ROKOK Cokky _; Primada Qurrota Ayun; Hapsari Dwiningtyas; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.22 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka perokok yang ada di negara Indonesia, sehingga pemerintah melalui Kementrian Kesehatan (Kemenkes) menerapkan peraturan setiap kemasan rokok harus dicantumi gambar peringatan kesehatan (PHW). Yang menjadi masalah pada penelitian ini, bagaimana perokok memaknai gambar ini, apakah makna yang ditawarkan oleh gambar sesuai dengan keberagaman makna yang ada pada informan. Metode yang digunakan adalah analisis resepsi dengan proses coding dan encoding versi Stuart Hall untuk melihat posisi makna pada informan, serta menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik versi Saussure untuk mencari makna yang ditawarkan oleh gambar.Hasil dari penelitian ini didapatkan ketika peneliti mencari makna yang ditawarkan oleh gambar peringatan, kemudian melakukan wawancara, dan Focus Group Discussion. Sehingga mendapatkan data yang menjelaskan bahwa pada gambar “merokok membunuhmu” informan yang berada pada kategori usia tua memiliki kecenderungan pemaknaan yang berada pada posisi makna dominan. Ketika memaknai gambar “merokok sebabkan kanker mulut” kecenderungan pemaknaan informan kategori usia tua berada pada posisi makna dominan. Gambar “kanker sebabkan kanker tenggorokkan” informan yang berprofesi di dunia medis memiliki makna pada posisi makna negosiasi. Gambar yang keempat “kanker sebabkan kanker paru-paru” kebanyakan informan pada kategori pendidikan tinggi memiliki makna yang berada di posisi makna dominan. Serta gambar yang terakhir “merokok dekat anak-anak bagi mereka” seluruh informan memiliki makna pada posisi dominan.
PENGARUH TERPAAN IKLAN SHOPEE DI TELEVISI DAN INTERAKSI REFERENCE GROUP TERHADAP MINAT BERTRANSAKSI SECARA ONLINE Tiara Tanca, Jhenika; Budi Lestari, Sri
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.088 KB)

Abstract

In Indonesia, the growth of e-commerce is grown rapidly use for human daily needs. One of the e-commerce companies in Indonesia is Shopee. To attract and seize their consumer, they used advertising as their promotion tools. In fact, Shopee is one of the e-commerce which often appear in television. Beside that, the number of people downloading the Shopee application has increased more than 100% on 2015-2018 period. Based on that explanation above, this research will discuss about the influence of Advertising Exposure of Shopee on Television Toward The Intention in Online Transacting. In addition to advertising exposure, this research will discuss about reference group interaction as well. This research used Strong Advertising Theory and Darley, Blankson and Luethge’s Model. The population of this research are men and women in the age of 18 until 30, who domicile in Semarang and have experienced in watching the Shopee advertisement on television. The sum of sample are 50 which have been taken by purposive sampling technique. Analysis of the data is used multiple linear regression with computer analized by IBM SPSS. The result of the first hypotesys shows that the advertising exposure of Shopee on television is significantly influencing towards the intention of online transacting with regression coefficient 0.603 meaning that every variable increment of advertising exposure of shopee on television (X1) is 1 unit. Hence, the variable of intention in online transacting (Y) is increased by 0.603, as well. Besides that, the variable of the advertising exposure of shopee on television has that impact by 60.3% towards the variable of the intention in online transacting. The Significance value X1 (0.047 < 0.050) so that the advertising exposure of shopee on television takes charge in affecting the intention in online transacting of a customer. The result of the second hypotesys shows that reference group interaction is significantly influencing towards the intention of online transacting with regression coefficient 0.755 meaning that every variable increment of reference group imteraction (X2) is 1 unit. Hence, the variable of intention in online transacting (Y) is increased by 0.755 as well. Besides that, the variable of reference group interaction has that impact by 75.5% towards the variable of the intention in online transacting. The Significance value X2 (0.031 < 0.050) so that the reference group interaction takes charge in affecting the intention in online transacting of a customer.
PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEER EDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIV Maharani Easter; Tandiyo Pradekso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.634 KB)

Abstract

PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEEREDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIVAbstrakSosialisasi menjadi komunikasi persuasif yang paling sering dipilih oleh LSM maupunpemerintah dalam mempersuasif masyarakat atas isu-isu tertentu seperti pencegahan HIVmelalui penggunaan kondom, sayangnya mensosialisasi penggunaan kondom bagi para WanitaPenjaja Seks (WPS) tidak semudah mensosialisasikannya pada kelompok masyarakat lainnya.Sikap skeptis ditunjukkan WPS akibat tanggapan masyarakat atas pekerjaan mereka sertabanyaknya salah kaprah mengenai penyakit HIV yang membuat WPS menutup diri dariinformasi luar. Hadirnya Peer Educator (PE) yang merupakan WPS juga dalam program peereducation diharapkan dapat membantu mempersuasi WPS menggunakan kondom. masalahyang muncul: Bagaimana cara PE tersebut mempersuasif WPS lainnya hingga tujuan merubahperilaku dapat tercapai?Tujuan penelitian ini menggambarkan pengalaman komunikasi WPS sebagai PE dalammempersuasif WPS lainnya untuk menggunakan kondom 100% dalam upaya pencegahan HIVserta bagaimana seorang PE menjadi persuader yang baik. Upaya untuk menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan teori dialog dan retortikaajakan serta teori kompetensi komunikasi. Penelitian ini bertipe deskriptif kualitatif denganmetode fenomenologi untuk mengungkap pengalaman komunikasi PE kepada peer-nya.Hasil dari penelitian menunjukkan bagaimana komunikan bertipe skeptis seperti WPSdapat menerima informasi dari pihak luar dengan cara persuasif menggunakan ajakan sertadialog dimana dalam interaksi tersebut WPS dapat mengemukakan pendapat, alasan, sertapandangannya terhadap isu yang diangkat seperti penggunaan kondom untuk mencegah HIV.Selain itu kompetensi komunikasi PE sangat mempengaruhi keberhasilan komunikasi persuasifdimana ketiga faktor: pengetahuan, motivasi, serta keterampilan menjadi satu kesatuan yangharus dimiliki PE secara maksimal. Perlu adanya pemahaman mengenai peran PE oleh setiapWPS sehingga peran WPS tidak hanya penyedia kondom melainkan sesuai dengan tujuanadanya PE yaitu mengedukasi dan mempersuasif sesamanya untuk merubah perilaku.Kata kunci : Peer Educator; WPS; kompetensi komunikasiTHE EXPERIENCE OF WPS COMMUNICATION AS PEER EDUCATORIN PREVENTION OF HIVAbstractThis research aims to describe the communication between WPS (Wanita Pekerja Seks) as PeerEducator (PE) and her peer, the another WPS about using condom to prevention of HIV and toexplain how to be a good persuader in this situation. This research based on the experiencecommunication of female sex worker in Resosialisasi Argorejo, Semarang. Using the TheoryRhetoric of Persuasion, Theory Dialog and Theory Communication Competence for answer thequestion of this research. The type of this research is qualitative descriptive by usingphenomenology method. Phenomenological approach is used to reveal experiencecommunication of PE to her peer.The result of this research is how to persuade the communicant of skeptic type like WPS toaccept the information from the others is with persuasion and dialog in interaction so WPS cantell what her opinion, reason, and perspective, about using condom for prevention of HIV.Moreover, communication competence of PE is affective for the success of persuasivecommunication, which three factors of communication competence : knowledge, motivation,and skill is union and PE must have them maximum. There needs to be an understanding of therule that PE by any WPS, that PE isn’t only just a condom providers but according to purposeof PE is to educate and persuasion the other.Keywords: Peer Educator; WPS; communication competenceI. PENDAHULUANSosialisasi merupakan bentuk komunikasi persuasif yang sering dipilih pemerintah maupunLembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kepada masyarakat dalam berbagai isu penting. Meskibegitu, tidak sedikit dari sosialisasi tersebut yang menciptakan polemik dimasyarakat karenamenimbulkan pro dan kontra. Salah satunya adalah sosialisasi penggunaan kondomdimasyarakat. Ada yang mendukung tindakan tersebut, namun tidak sedikit yang mengecamtindakan tersebut.Human Immunedefficiency Virus atau yang disingkat HIV adalah penyakit mematikanyang menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. BerdasarkanDitjen PP dan PL Kemenkes RI pada laporan statistik HIV/AIDS di Indonesia, jumlah kasusbaru HIV/AIDS pada 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2012 adalah 21.511 kasus HIVdan 5.686 kasus AIDS. Provinsi Jawa Tengah pun tidak luput dari penyakit mematikan ini.Dalam artikel berita di lensaindonesia.com, Jawa Tengah malahan menjadi peringkat ke-6nasional dari segi jumlah kasus HIV/AIDS setelah Bali, dengan jumlah penderita hingga Juni2012 yang baru terungkap mencapai 5.301 orang dari estimasi sebanyak 10.815 kasus.Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Jateng, Ridha Citra Turyanimengatakan, jumlah penderita tersebut masih separuh ditemukan karena penyakit yangmematikan ini masih sangat sulit terdeteksi bagaikan gunung es. (Gawat! 436 Ibu RumahTangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. (2012). Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jateng-terjangkithivaids.html diunduh 3 September 2013 pukul 20.30 WIB)Terdapat banyak penyebab penularan HIV, antara lain : ibu hamil dan pemberian ASI dari ibuyang menjadi penderita HIV kepada bayi, penggunaan jarum suntik, transfusi darah, dan yangmenduduki persentase terbesar (70%-80%) adalah hubungan seksual. Menteri KesehataNafsiah Mboi menanggapi bahwa salah satu penyebab mengapa angka penderita HIB masihtinggi adalah karena masih rendahnya kesadara masyarakat terhadap seks berisiko. Tingginyapenulara HIV dan AIDS disebabkan oleh banyaknya pria dewasa yang memelihara kebiasaan“belanja seks” dan kurangnya penggunaan kondom. Menurutnya perilaku negatif inimenyebabkan 1,6 juta penduduk menikah dengan pria berisiko menderita HIV dan AIDS.(HIV/AIDS Tinggi karena Pria Doyan Jajan Seks. (2012) dalamhttp://www.tempo.co/read/news/2012/06/25/173412771/HIVAIDS-Tinggi-karena-Pria-Doyan-Jajan-Seks diunduh 3 September 2013 pukul 20.35 WIB).Sosialisasi penggunaan kondom yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSMkhususnya bidang kesehatan guna mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit HIVakibat “kebiasaan jajan pria” ini sayangnya tidak berjalan mulus, timbulnya pro dan kontramembuat sosialisasi ini kurang berdampak untuk menekan angka penderita HIV. Kini tindakansosialisasi penggunaan kondom sebagai pencegahan penyakit HIV dilakukan di beberapatempat lokalisasi (atau saat ini disebut resosialisasi), dengan kegiatan peer education.PE sebagai komunikator dalam kegiatan komunikasi berupa peer education yangdipaparkan diatas, menunjukkan betapa penting peranannya dalam mencapai keberhasilandalam mempengaruhi perilaku seseorang/kelompok, dalam hal ini yaitu WPS maupun PSK.LSM Griya Asa PKBI Kota Semarang yang merupakan salah satu LSM yang bergerakdi bidang Keluarga Berencana (KB), pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) danHIV/AIDS di Kota Semarang. PKBI Semarang telah mendampingi wanita yang dikategorikankelompok Risiko Tinggi (RisTi) di wilayah Kota Semarang. Salah satu bentuk kegiatanpencegahan HIV yang dilakukan oleh LSM Griya Asa PKBI bekerjasama dengan FHI (FamilyHealth International) pada tahun 2003 adalah mengunakan peer education sebagai salah satustrategi komunikasi dalam pencegahan HIV di Lokalisasi Sunan Kuning. Alasan awal mengapadibentuk PE karena PE yang berasal dari sesama WPS, karena WPS sendiri memilikikecendurungan menutup diri, namun lebih terbuka dengan lingkungan dalamnya, khususnyasesama WPS. Hal tersebut tentu akan memudahkan LSM dalam mempengaruhi WPS untukmerubah tingkah lakunya sesuai dengan program pencegahan HIV. Selain itu, pemikiranlainnya bahwa tidak selamanya LSM Griya Asa ada di daerah lokalisasi tersebut. Harapannya,dengan adanya PE, edukasi mengenai program pencegahan HIV akan terus berlangsung meskiLSM tidak lagi ada disana.Sayangnya terdapat lack of communicator di Lokalisasi Sunan Kuning. Sejakdibentuknya kegiatan peer education pada tahun 2003 hingga saat ini 2013, tercatat sebanyak60 WPS sebagai PE. Namun kenyataannya dari 60 WPS tersebut, kurang lebih hanya 15 orangyang aktif sebagai PE.Peer Educator yang terdapat di Lokalisasi Sunan Kuning mempunyai fungsi untukmengajak dan mengedukasi sesama WPS, untuk menjaga kesehatan reproduksi denganmenggunakan kondom dan menjalani scanning secara rutin. Sayangnya fungsi tersebut kiniberalih. “PE di Lokalisasi Sunan Kuning kini hanyalah penyetok kondom saja,” pengakuan Ari,salah satu relawan LSM Griya Asa yang mengikuti program ini sejak awal. Menurutnyadibutuhkan peran aktif dan dukungan penuh dari para pengurus resos dalam menjalankanprogram PE tersebut.Masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana interaksi yang dilakukan WPSsebagai PE dalam mempersuasif sesama WPS serta bagaimana kompetensi komunikasi yangseharusnya dimiliki WPS tersebut sebagai persuader yang baik. Dalam menjawab pertanyaantersebut peneliti melakukan penelitian kepada 6 (enam) WPS sebagai informan dimana merekaterdiri dari 2 (dua) orang yang berperan sebagai peer, 2 (dua) orang yang berperan sebagai PEnon aktif, dan 2 (dua) orang yang berperan sebagai PE aktif. Penelitian ini sendiri dilakukan diLokalisasi Sunan Kuning, dimana peer education pertama kali diterapkan dilingkunganlokalisasi di Semarang. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang menggunakanmetode fenomenologi dengan paradigma interpretif. Paradigma interpretif dapat dimengertimerupakan proses aktif dalam pemberian makna dari suatu pengalaman. Peneliti menggunakanparadigma ini dan berusaha mengungkapkan dan memahami pengalaman WPS sebagai peer PEdalam upaya pencegahan HIV.Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif berupa catatan di lapangan dan hasilwawancara (Denscombe, 2007:289). Studi ini berusaha mendeskripsikan pemahaman wanitaWPS sebagai PE dan menyimpulkan pentingnya peran peer educator sebagai komunikatorkhususnya dalam upaya merubah tingkah laku sebagai tujuan pencegahan HIV. Sehingga dapatdirumuskan pengalaman WPS sebagai PE dalam upaya pencegahan HIV.II. ISISetelah melakukan depth interview, peneliti kemudian melakukan deskripsi tekstural danstruktural dari hasil wawancara tersebut. Setelah individual textural-structural descriptiontersusun, maka dibuat suatu composite description dari makna dan esensi pengalaman sehinggamenampilkan gambaran pengalaman kelompok sebagai satu kesatuan. Sehingga tahap akhirdari studi fenomenologi adalah mempersatukan pandangan dari deskripsi tekstural danstruktural guna membangun sintesis makna dan intisari dari sebuah fenomena dan pengalaman(Moustakas, 1994:181).Dalam penelitian didapatkan pemahaman WPS mengenai peran PE sangatmempengaruhi keputusannya untuk mengikuti arahan dari PE atau tidak. Ketika seorang WPSmenganggap PE hanyalah seorang “penyetok” kondom maka dirinya merasa tidak perluterbuka kepada PE mengenai kesehatan reproduksinya. Baginya keputusan menggunakankondom merupakan keputusan pribadi dimana tidak seorang pun berhak mendiktenya.Selain pemahaman peran PE di lingkungan resos, penelitian ini juga mendapatibagaimana interaksi yang dilakukan antara PE dan WPS. Dalam mempersuasif WPS, PE perlumemulai interaksi dengan menyatakan pandangannya mengenai kegunaan kondom, bagaimanamanfaat dari penggunaan kondom 100%, dan bagaimana dampak yang dirasakan PE secarapribadi selama menggunakan kondom 100%. Penjelasan tersebut dilakukan PE sebagai bentukpersuasif menggunakan kalimat mengajak dimana PE tidak serta merta memaksa WPSmenggunakan kondom, tapi sebaliknya membiarkan WPS memutuskan menggunakan kondom100% secara pribadi meski harapan dari PE mereka mengikuti program pencegahan tersebut.Ketika timbul konflik diantara PE dan WPS, PE dan PE, bahkan PE dengan pihak LSMmaupun resos, dialog menjadi pilihan utama sebagai problem solving, dimana setiap pihak yangberselisih paham dapat bebas mengutarakan pendapat dan alasannya sesuai dengan konteksyang menjadi masalah. Seperti halnya ketika ada WPS yang menolak menggunakan kondom,PE akan menanyakan alasan mengapa ia tidak mau menggunakan kondom. Terjepitnya WPSakan kebutuhan yang semakin meningkat serta kondisi sepi tamu membuat WPS seringkaliberkompromi dalam menggunakan kondom atau tidak. Setelah mendengarkan penjelasan WPStersebut, PE kemudian memilih mengutarakan alasan-alasan yang rasional mengapa WPS tetapharus menggunakan kondom, seperti bagaimana penyakit HIV saat ini belum ada obat yangdapat menyembuhkannya, sehingga berapa pun uang yang dimiliki WPS tidak akan bisamenyembuhkannya ketika terjangkit HIV. Dengan penjelasan-penjelasan yang rasional sertamenyertakan contoh dan trik-trik (merayu tamu menggunakan kondom atau menggunakankondom wanita) akan membuat WPS mau terbuka atas pendapat orang lain (PE) dan mengikutiapa yang PE sampaikan karena merasa itu juga untuk kesehatan reproduksi WPS itu sendiri.Kompetensi komunikasi yang harus dimiliki oleh seorang PE dapat dipenuhi ketikafaktor-faktor dari kompetensi komunikasi tersebut dimiliki secara keseluruhan. pengetahuan,motivasi, serta keahlian komunikasi harus dimiliki PE untuk dapat menjadikannya seorangpersuader yang berhasil. ketika seorang PE kurang memiliki kompetensi komunikasi makadirinya pun masuk kedalam kategori PE non aktif. Adanya trauma yang dimiliki ketikamenghadapi respon negatif WPS ketika sedang dipersuasif menjadi salah satu alasan mengapaseorang PE menjadi non aktif.III. PENUTUPKomunikasi merupakan cara terbaik dalam mempersuasif seseorang agar mau merubahperilakunya sesuai dengan harapan yang diinginkan. Meski demikian tidak semua komunikasidapat berhasil. Banyaknya elemen dalam komunikasi memiliki peran tersendiri dalam mecapaikeberhasilan, namun dalam komunikasi persuasif, peran seorang komunikator mengambil andilpaling besar dibandingkan elemen komunikasi yang lainnya.Keberhasilan seorang WPS sebagai PE didalam mempersuasif WPS untuk mengikutiprogram pencegahan HIV dengan cara menggunakan kondom 100% perlu didukung olehsegala pihak, tidak hanya bagaimana seorang PE menjalankan tugas dan tanggungjawabnya,melainkan juga respon positif dari WPS lain sebagai peer-nya serta bagaimana LSM sertapengurus resos yang konsen dalam memberdayakan PE dimana terus meng-upgrade PEkhususnya agar memiliki kompetensi komunikasi adalah faktor penentu keberhasilan programpeer education di lingkungan resosialisasi.DAFTAR PUSTAKAAw., Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha IlmuJans, Molly. (1999). Comm 3210: Human Commucation Theory, Martin Buber’s DialogicCommunication. Research Report. University of Colorado at BoulderKuswarno.Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung:Widya PadjadjaranLittlejohn, Stephen W. & Foss, Karen A. (2009). Theories of Human Communication (9thedition) Teori Komunikasi (diterjemahkan oleh : Mohammad Yusuf Hamdan) . Jakarta:Salemba HumanikaMiller, Robert and Williams, Gary. (2004). The 5 Paths To Persuasion: The Art of Selling YourMessage. Summaries.comMoleong, Lexy J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. London: SAGE Publications,Inc.Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : Lembaga Kajian Islam danSosial (LKIS)Rahmat, Jalaluddin. (1999). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetTubbs, Stewart L. & Moss, Sylvia. (1994). Human Communication:Prinsip-Prinsip Dasar.(diterjemahkan oleh: Dr. Deddy Mulyana). Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Theory: Analysis and Application (3rdedition). (diterjemahkan oleh: Maria Natalia Damayanti Maer). Jakarta : SalembaHumanikaJurnalAgustina, Rakhmawati. (2011). Pelaksanaan Kegiatan Peer Educator Dalam Upaya Pencegahan HIVdan AIDS di SMK Ibu Kartini Kota Semarang. Skripsi. Semarang : Universitas DiponegoroIka Setya Purwanti dan Rika Suarniati, The Indonesian Journal of Public Health vol. 2 no. 3, Mar.2006 : 98Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan danKompetensi Komunikasi Dalam Organisasi. 370-375Murti, Elly Swandewi,dkk. (2006). Efektivitas Promosi Kesehatan Dengan Peer Education PadaKelompok Dasawisma Dalam Upaya Penemuan Tersangka Penderita TB Paru. BeritaKedokteran Mayarakat, Vol. 22 No. 3 September 2006, hal 128-134Zuhriyyah, L.Z. Penggunaan Kondom pada Wanita Pekerja Seks (WPS) Di Kawasan ResosialisasiGambilangu Kabupaten Kendal Tahun 2010. Skripsi. Semarang : Universitas NegeriSemarangInternetIndah,dkk. (2009). Peran Komunitas AIDS Peduli HIV/AIDS. Dalamhttp://theonlinejournalism.blogspot.com/2009/01/hivaids-siapkah-solomelawan_13.html 21/05/2013. Diunduh pada 20 Mei 2013 pukul 20.45 WIBFarihah. (2010). Dampak Psikologis PSK. Dalamhttp://ulfahfarihah51.blogspot.com/2011/07/dampak-psikologis-yang-dialami-psk.html.Diunduh pada 23 Mei 2013 pukul 18.30 WIBPeer Education (2000). Dalam http://www.unicef.org/lifeskills/index_12078.html. Diunduh 2Juni 2013 pukul 17.20 WIBIriyanto,Yuwana. (2011). Ibu Rumah Tangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jatengterjangkit-hivaids.html. Diunduh 3 September 2013 pukul 23.00 WIB
Relationship of Parental Discipline, Intensity of Peer Group Communication, and Suitability of The Election Department, on FISIP Undip Student Achievement Yoga Aprillianno .; Drs. Hj. Sri Widowati Herieningsih, MS
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.402 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of parental discipline, the intensity of communication in the peer group, and the suitability of the election department, on FISIP Undip student achievement. The theory of reasoned action, theory of reference groups and problematic integration theory is used to explain the relationship of parental discipline, intensity of communication within the peer group, and the suitability of the election department, on FISIP Undip student achievement. The population used was a 90 students S1 FISIP Undip, with a random cluster sampling technique. Pearson correlation analysis is used to test the hypothesis. Hypothesis test showed the value of variable significance of parental discipline of 0.294, the significant value of the variable intensity of communication in the peer group for 0.977, and the value of variable significance suitability election majors of 0.077, or all of the significant value smaller than α (0.05), so all the variables do not affect the variable FISIP Undip students achievement. The study then provide advice to the parents of students and groups of friends of students to be able to further improve and provide motivation to get better learning achievement.
KOMUNIKASI KELUARGA DAN PENGGUNAAN SMARTPHONE OLEH ANAK Isti Prabandari, Ayu; Ratri Rahmiaji, Lintang
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.148 KB)

Abstract

Berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, kelompok usia 10-24 tahun menduduki peringkat ketiga terbanyak pengguna internet di Indonesia. Sementara itu, sebesar 47,6 % pengguna internet di Indonesia mengakses internet dengan menggunakan perangkat mobile atau telepon pintar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi keluarga dan penggunaan telepon pintar oleh anak dengan orang tua bekerja maupun tidak bekerja. Peneliti menggunakan Digital Parental Mediation sebagai dasar teori berpikir dalam penelitian ini. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis metode fenomenologi. Subyek penelitian ini adalah keluarga dengan anak yang menggunakan telepon pintar dengan variasi orang tua bekerja dan tidak bekerja. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan telepon pintar anak baik dalam keluarga dengan orang tua bekerja maupun tidak bekerja mengurangi efektifitas komunikasi keluarga dilihat dari intensitas, komunikasi dua arah, sikap mendengarkan, empati dan perhatian. Di satu sisi keberadaan telepon pintar pada anak dengan orang tua bekerja menjadi solusi masalah komunikasi atas keterbatasan waktu dan jarak yang dimiliki keduanya. Akan tetapi kebiasaan penggunaan telepon pintar anak yang tidak mendapat kontrol yang baik dari orang tua dapat mengurangi kesempatan komunikasi langsung antara anak dengan orang tua di rumah. Dimana anak masih sering menggunakan telepon pintar di malam hari, padahal itu merupakan waktu yang dimiliki anak dan orang tua bekerja untuk berkumpul. Begitu pula anak dengan orang tua tidak bekerja. Keberadaaan telepon pintar justru menjadi faktor pengurang porsi komunikasi langsung dalam keseharian anak dan orang tua. Orang tua yang tidak memberikan pengaturan yang baik pada penggunaan telepon pintar anak membuat anak dapat bermain telepon pintar sesuai keinginannya, termasuk kebiasaan anak menghabiskan banyak waktu bermain telepon pintar di dalam kamar. Di samping intensitas komunikasi berkurang, kualitas komunikasi (respon, sikap keterbukaan) anak kepada orang tua juga dapat menurun. Temuan lain, yang membedakan efektivitas komunikasi keluarga bukan pada kondisi orang tua bekerja atau tidak bekerja tetapi lebih kepada sikap orang tua terhadap penggunaan telepon pintar anak (pengaturan batasan waktu, pengawasan). Baik orang tua bekerja maupun tidak bekerja sebaiknya berfokus pada literasi penggunaan telepon pintar pada anak agar komunikasi keluarga tetap berlangsung baik.
LAPORAN EVENT MARCOMM TOURING MERDEKA YZF R-25 (Jabatan Marketing Communication) Farisa Dian Utami; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.813 KB)

Abstract

PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), yang merupakan perusahaan otomotif asal Jepang meluncurkan produk terbaru yaitu YZFR-25. Sebagai salah satu wujud apresiasi YIMM terhadap konsumennya, YIMM membuat rangkaian event berupa touring dan launching yang bernama Touring Merdeka YZF R-25. Event ini melibatkan 20 konsumen indent online terpilih untuk touring dari Bali ke Solo dengan YZF R-25 secara gratis. Tujuan diselenggarakan rangkaian event tersebut adalah untuk menjaga konsistensi komunikasi dengan para konsumen dan memberi pengalaman langsung kepada masyarakat terhadap YZF R-25.Tujuan dari event ini tercapai karena rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” merupakan alat marketing yang efektif karena fokus pada pengalaman konsumen (experimental) dan mendorong terjadinya proses konsumsi secara emosional dan rasional.Di dalam rangkaian acara “Touring Merdeka YZF R-25” keterlibatan konsumen indent online yang merupakan riders selama touring sangat berpengaruh, karena kesan dan penilaian mereka terhadap acara dan YZF R-25 dapat mempengaruhi pandangan dari calon konsumen mengenai YZF R-25. Selain itu, adanya test ride di area launching YZF R-25 juga sangat efektif untuk mendorong calon konsumen untuk memutuskan pembelian. Tak sekedar mendapatkan pengetahuan produk dari sales promotion, tetapi melalui test ride calon konsumen juga dapat merasakan langsung performa dari YZF R-25 sehingga dapat meyakinkan calon konsumen untuk memutuskan pembelian.Kata kunci : event, marketing, promotion.
The Channel Management of Enjoy Semarang in Tribun Jateng News Website Shela Kusumaningtyas; S. Rouli Manalu, Ph.D
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.605 KB)

Abstract

Tribun Jateng Newspaper has its official website, jateng.tribunnews.com. It is built as the media convergence. On the website, there is a section called Enjoy Semarang. This section should focus on the travel news. As for its management, Enjoy Semarang section could not attract a lot of visitors. Based on the observation, the visitors of this section per month is only around 1,392. The news appearing on the website also covers the news of another region and abroad, and this is not appropriate with the name of the section. Not all published reports were written by reporters. There is some news which is adapted from foreign news websites or copied from websites coming from the same company group. None reporters deal with this section specifically. We have worked with Tribun Jateng to manage this section. The objective of this study is to provide the latest news and information about Central Java culinary, travel, and tips through accessible website. Moreover, we have handled the editorship management in the online media and the policy with regard to the selection of the news. The accumulative total of Tribun Jateng Travel visitors for two months is 13,000, exceeding the minimum target which is 4,329. In a day, the minimum obtained traffic is 900. The total of published articles for two months is 316 news, exceeding the minimum target, 300 articles. The published articles are fulfilled the editorial criteria and proper with the topics. Tribun Jateng Travel section has great potential to compete with hard news section. The quality and quantity of the content must be considered as priority. The increase of the traffic should be followed by the adherence of the rules of journalistic writing.
RESEPSI KHALAYAK TENTANG TAYANGAN STAND UP COMEDY YANG MENGANDUNG UNSUR DISKRIMINASI Titis Ponco Setiyoko; Dr. Sunarto; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKarakteristik masyarakat Indonesia yang plural menyebabkan timbulnya berbagaimacam stereotype pada setiap kultur budaya yang ada. Tindakan-tindakandiskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalam berbagai bentuk, salah satunyaditayangkan dalam bentuk hiburan stand up comedy dengan comic sebagaipenyampai pesan.Penelitian ini merupakan sebuah bentuk studi untuk melihat bagaimanaaudience membangun makna apa yang dikonstruksikan oleh media, melalui risetkhalayak melalui 6 informan dengan rentang usia 17-24 tahun dan berasal dariberbagai kota.Sebagai sebuah hiburan yang ditayangkan di media televisi yang merupakansalah satu sarana komunikasi, yang dinikmati oleh masyaraat dengan kultur yangbervariasi, oleh karena itu comic harus memahami komunikasi antar budaya dankomunikasi interpersonal dengan baik, karena stand up comedy adalah komedi yangdiadopsi dari luar dengan aliran bebas dan terbuka maka dituntut adanya tanggungjawab sosial dari media, hamper esmua informan menyatakan bahwa terdapat unsurunsurdiskriminasi yang disampaikan oleh comic dalam tayangan stand up comedymeskipun telah melalui tahap sensor dan editing, hal ini dapat dikonstruksikan bahwasegala hal mungkin dilakukan untuk menghibur penonton.Akhirnya dapat dismpulkan bahwa Sebagian besar informan berada pada posisidominant dimana penonton menerima makna-makna yang disodorkan oleh tayangan,Unsur diskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuanagar audience lebih open mindedness dalam menyikapi realita kehidupan denganidentitas kultural yang berbeda, Stand up Comedy merupakan humor intelektualkarena pesan yang disampaikan memerlukan daya tangkap dan pemikiran tertentuuntuk dicerna.Untuk itu disarankan Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapatmenggunakan pendekatan etnografi dengan lebih melihat pada latar belakang suku,agama, dan ras informan dengan harapan diperoleh resepsi khalayak yang lebihbervariatif, untuk media hendaknya menganut teori sosial responsibility (tanggungjawab sosial), dan hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitaskultur yang ada dengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebihberorientasi pada isi pesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.Kata Kunci: Stand Up Comedy,DiskriminasiABSTRACIndonesian’s plural characteristics cause many kinds of stereotypes on every existingcultures. Acts of discrimination still present in many forms, one of it which isbroadcast in the form of stand-up comedy entertainment with the comic as amessenger.This research is a form of study to see how audiences construct meaning from what isconstructed by the media, using audience research through 6 informants with an agerange of 17-24 years and come from various cities.As an entertainment which aired on television as one of the communication means,which is enjoyed by people with varying cultures, therefore comic should understandintercultural communication and interpersonal communications well, because standupcomedy is a comedy adopted from foreign culture with free and open mindedbackground so it is required a social responsibility from the media, almost everyinformants stated that there are elements of discrimination in the impressionsconveyed by stand up comedy comic though it has been through the stages ofcensorship and editing, it can be constructed that everything possible to entertain theaudience.Finally it can be concluded that most of the informants are in a dominant positionwhich the audience accept the meanings offered by shows, Elements ofdiscrimination presented in stand up comedy shows, aims to make the audience moreopen-mindedness in addressing the realities of life with a distinct cultural identity,Stand up Comedy is an intellectual humor because the message requires a certainperception and thought to digest.It is recommended for future studies to use an ethnographic approach by focusing onethnic background, religion, and informant race in the hope to obtained a more variedaudience reception, the media should embrace the theory of social responsibility, andthe public should be more open to the reality of the existing culture to assessobjectively the message and more oriented to message content, along with seekinginformation from various sources.Key words: Stand Up Comedy, DiscriminationPendahuluanPermasalahan penelitianDiskriminasi terhadap kaum minoritas merupakan salah satu fenomena sosial yangtidak terpisahkan dari Negara Indonesia. Karakteristik masyarakat Indonesia yangplural menyebabkan timbulnya berbagai macam stereotype pada setiap kultur budayayang ada. Tindakan-tindakan diskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalamberbagai bentuk dan telah merambah ke berbagai bidang kehidupan bangsa dandianggap sebagai hal yang biasa dan wajar serta tidak menganggap bahwa haltersebut merupakan suatu bentuk diskriminasi. Seperti halnya yang terjadi padamereka yang memeluk agama Kristen. Diskriminasi terhadap agama Kristen diIndonesia telah terjadi sangat lama dan tidak terlihat adanya penyelesaiaan dari pihakpemerintah, terlihat dari tidak adanya buku-buku pelajaran dalam sekolah-sekolahumum yang mengupas sejarah kedatangan dan perkembangannya di Indonesia.Kebanyakan buku-buku pelajaran yang ada hanyalah seputar agama Hindu, Budha,dan Islam dan perkembanganya di Indonesia. Ataupun kasus Gereja Yasmin yangterjadi di daerah Bogor yang sampai saat ini masih menimbulkan konflik antarberbagai pihak. Pelarangan pendirian gereja di wilayah tersebut menuai konflik yangberkepanjangan antar umat Kristen dan Islam disana. BerdasarkanTEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia enggan menyelesaikan kasuspelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berkaitan dengan kebebasan beragamawalaupun sudah diperingatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). KomisionerHAM PBB pada April 2011 menyampaikan surat diplomasi kepada KementerianLuar Negeri. Dalam surat itu pemerintah didesak agar segera menyelesaikan kasuskekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan penyerangan terhadap GKI TamanYasmin.(http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB, tanggal akses 27 februari 2012, Ananda W.Teresia)Berdasarkan Wahid Institute dalam www.bennisetiawan.blogspot.com,tercatat di tahun 2011 telah terjadi 92 kasus pelanggaran kebebasan beragama danberkeyakinan. Jumlah itu meningkat 18 persen dari tahun sebelumnya, 62 kasus.Pelarangan dan pembatasan aktivitas keagamaan atau kegiatan ibadah tercatat 49kasus. Disusul tindakan intimidasi dan ancaman kekerasan oleh aparat negara (20kasus), pembiaran kekerasan (11 kasus), kekerasan dan pemaksaan keyakinan sertapenyegelan dan pelarangan rumah ibadah (masing-masing 9 kasus). Pelanggaran lainadalah kriminalisasi atau viktimisasi keyakinan (4 kasus).(http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-nama-agama.html,tanggal akses 9 maret 2012, Benni Setiawan)Praktik diskriminasi yang telah banyak terjadi di masyarakat justru dihadirkankembali oleh media dengan representasi media. Dimana masalah-masalah tersebutselalu dihadirkan dalam tayangan-tayangan berjenis hiburan, sehingga khalayak yangmenonton lupa akan realitas yang sebenarnya. Inilah bentuk kekerasan simbolik yangdihadirkan oleh media pada khalayak. Belum lama ini Metro TV, menampilkansebuah acara baru dengan kategori hiburan, yaitu tayangan standup comedy show.Tayangan ini merupakan tayangan komedi yang bersifat lepas atau bebas. Bebasberarti, para komedian yang tampil dalam standup comedy bebas untuk membawakanmaterinya tanpa ada batasan, Tergantung dari point of view yang dimiliki olehseorang comic (sebutan untuk komedian standup comedy) terhadap suatu masalah.Bisa masalah sehari-hari, fenomena sosial, “uneg-uneg” maupun keresahan danketegangan yang dimiliki oleh seorang comic, bahkan sampai isu-isu yang sensitifbaik itu agama, suku, ras, dll.Bila dilihat kembali, humor-humor yang mengarah pada diskriminasi dansarkasme telah ada dalam keseharian masyarakat Indonesia baik dalam komunikasipersonal ataupun kelompok namun yang terjadi sekarang ini jelas sekali bertentanganperaturan dan perundangundangan yang ada karena pengungkapan kata yangseharusnya tidak layak didengar justru disiarkan oleh media dengan skala nasional.Dengan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang masih rendah, dan kurangkritisnya khalayak terhadap isi pesan di media menjadikan khalayak kita hanyamemakan pesan secara buta tanpa mengetahui arti dan makna yang sesungguhnyadari sebuah pesan di media.Tujuan penelitianAdapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana resepsi khalayak terhadap tayangan standup comedy yang di dalamnyamengandung unsur–unsur diskriminasiMetodologi PenelitianPenelitian ini menggunakan metode analisis resepsi. Metode ini digunakan untukmelihat bagaimana informan memaknai tayangan stand up comedy yangmengandung usur diskriminasi. Riset khalayak menurut Stuart Hall (1973: 123)membagi khalayak dalam 3 kategori pemaknaan yaitu: dominant, negotiated, danoppositional. Dalam kode dominan, penonton menerima makna-makna yangditawarkan oleh tayangan. Dalam kode negosiasi, penonton tidak sepenuhnyamenerima makna-makna yang ditawarkan tapi mereka melakukan negosiasi danadaptasi sesuai nilai-nilai yang dianutnya, sementara kode oposisi, penonton tidakmenerima makna yang diajukan dan menolaknya”.Teori Stuart Hall juga digunakan sebagai analisis data dalam penelitian iniHasil penelitianImplikasi teoritisPemaknaan khalayak dalam tayangan stand up comedy yang mengandung unsurdiskriminasi terbagi menjadi dua kategori yaitu negotiated dan dominant.Dalam kategori negosiasi (negotiated) informan berada pada posisi mengakui danmenyetujui preffered reading yang ditawarkan oleh media yaitu bahwa stand upcomedy adalah humor yang cerdas dan unsur diskriminasi yang ada di dalamnyaadalah hal yang wajar, tetapi khalayak juga menolak preffered reading tersebutartinya sebaiknya unsur diskriminasi tidak dimasukkan dalam humor apapunalasannya, dan dengan penyampaian yang halus sekalipun karena pola pikir danpemaknaan yang muncul setiap orang berbeda-beda. Ketika pesan diterima olehkhalayak dan pesan tersebut dirasakan kurang tepat, maka ia akan membuat negosiasidalam pemaknaannya. Sehingga pada posisi ini khalayak berada di tengah-tengahyaitu mengakui dan juga menolak preffered reading yang ditawarkan oleh acara standup comedy tersebut.Pada posisi ini semua diskriminasi ditampilkan secara wajar di media yaitudiskriminasi agama, ras, suku, tingkat ekonomi, dan kondisi fisik, karena hanyabertujuan untuk memeriahkan suasana tanpa adanya maksud untuk menyakitisiapapun bahkan membuka cakrawala pemirsa bahwa negara ini terdiri darimasyarakat yang beragam dengan latar belakang yang berbeda-beda, namun karenapola pikir masing-masing pribadi berbeda-beda maka ditakutkan akan menimbulkankonflik untuk ke depannya karena diskriminasi ditujukan untuk golongan minoritasseperti Nasrani, Thionghoa, Batak, Bias Gender (Waria), dan lain-lainSebagian khalayak menyatakan bahwa meskipun stand up comedy adalah sebuahhumor yang cerdas namun adanya unsur diskriminasi yang terdapat didalamnyaadalah hal yang wajar. Meskipun hal ini tidak seiring dengan tingkat pendewasaanmasyarakat sehingga untuk beberapa hal dapat memicu konflik. Diskriminasi dalamsebuah acara humor adalah bumbu yang membuat suatu acara menjadi lebih menarik,dan selama ini diskriminasi dalam humor merupakan hal yang sangat umum danberlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.Sebagian besar khalayak mengakui adanya pemaknaan dominant dan iamenerima teks yang ditawarkan media yaitu bahwa stand up comedy adalah komedicerdas dan mengandung unsur diskriminasi yang meliputi perbedaan prinsip,penyampaian, pola pikir, pemaknaan, dan lain-lain. Sehingga pada posisi ini khalayakberada di posisi mengakui preffered reading yang ditawarkan oleh acara stand upcomedy. Dalam hal ini diskriminasi pada humor adalah hal yang wajar meskipununtuk beberapa hal dirasa kurang tepat khususnya untuk humor yang cerdassebaiknya tidak menyakiti pihak lain.Diskriminasi sendiri muncul karena adanya unsur latar belakang sejarah,perkembangan sosio kultural dan situasional, faktor kepribadian, dan perbedaankeyakinan, kepercayaan, dan agama. Unsur-unsur tersebut terlihat dari latar belakangcomic yang beragam sehingga dalam setiap penyampaian materi humor mereka jugamemiliki pola pikir, respon, dan penyampaian yang berbeda. Diskriminasi dalamhumor dapat diterima oleh khalayak dengan syarat diskriminasi tersebut ditujukanuntuk membuat suasana menjadi meriah, disampaikan dengan bahasa yang baik,berdasar pada latar belakang si comic, tetap mempertahankan sisi humor yang munculsehingga memperkecil terjadinya konflik, perlu adanya proses sensor sehingga halhalyang sangat sensitif dapat diminimalisir seperti humor yang mengandungdiskriminasi agama karena hal ini bersifat sangat pribadi.Komunikasi antar budaya akan terjalin setelah adanya komunikasi antarpribadi antara comic dan audience¸dalam hal ini pesan yang ingin disampaikan olehseorang comic melalui tema komedi dibawakan akan menjadi efektif jika adakomunikasi interpersonal yang baik, dalam stand up comedy komunikasiinterpersonal yang terjalin adalah comic menyampaikan aspek kepribadiannyamelalui pengalaman hidup dan cerita kehidupannya yang dibawakan dalam bentukkomedi dengan harapan audience juga mempunyai pemikiran yang sama dengan apayang dia sampaikan sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik(Rakhmat, 2005: 122)Dalam studi komunikasi antar budaya, ketidaktulusan dalam menjalininteraksi dicerminkan oleh sebuah konsep yang dikenal dengan mindlessness, yaituorang yang sangat percaya pada kerangka referensi yang sudah dikenal, kategorikategoriyang sangat rutin dan cara-cara melakukan sesuatu yang sudah lazim (Ting-Toomey, dalam Mulyana, 2008: 11). Artinya ketika melakukan kontak antar budayadengan orang lain (stranger), individu yang berbeda dalam keadaan mindlessmenjalankan aktivitas komunikasinya seperti automatic pilot yang tidak dilandasidengan kesadaran dalam berpikir (conscious thinking).Individu tersebut lebih berada pada tahapan reaktif daripada proaktif. olehkarena itu untuk mencapai keadaan mindfull dalam komunikasi antarbudaya, makaseseorang perlu menyadari bahwa ada perbedaan-perbedaan dan kesamaan-kesamaandalam diri masing-masing anggota kelompok budaya, pihak-pihak yangberkomunikasi merupakan individu-individu yang unik. Dalam deskripsi yang lebihkonkrit, Langer mengatakan bahwa mindfulness terjadi ketika seseorang 1) memberiperhatian pada situasi dan konteks; 2) terbuka terhadap informasi baru; 3) menyadariadanya lebih dari satu perspektif (Mulyana, 2008:12)PenutupBerdasarkan hasil dari penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar informan berada pada posisidominant hegemonic position. Adanya unsur diskriminasi yang dimunculkan dalam stand upcomedy tidak merubah pemaknaan informan terhadap sebuah humor stand up comedy. Unsurdiskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuan agar audiens lebih openminded dalam menyikapi realita kehidupan dengan identitas kultural mereka, melalui sebuah humorjenis verbal seperti stand up comedy unsur diskriminasi berfungsi dalam menciptakan keadaan yangmindfullnesSaranUntuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan pendekatan yangberbeda dengan lebih melihat pada latar belakang informan dengan harapan diperolehresepsi khalayak yang lebih bervariatif. Agar tidak menimbulkan persepsi yangnegatif di masyarakat, maka media hendaknya menganut teori sosial responsibility(tanggung jawab sosial), seiring dengan perkembangan media massa maka menuntutpara pelakunya untuk memiliki suatu tanggung jawab sosial. Para pemilik danpengelola pers menentukan siapa-siapa, fakta yang bagaimana, versi fakta yangseperti apa yang dapat disiarkan kepada masyarakat dengan menghindari topik yagrasis, gender, atau humor yang audience akan berkeberatan mendengarkannya.Hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitas kultur yang adadengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebih berorientasi pada isipesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.DAFTAR PUSTAKABukuAbdullah, Irwan. (2001). Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, Tarawang Press,YogyakartaAbdullah, Irwan. (2007). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta:Pustaka PelajarBarker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta:Kreasi WacanaBlake, Marc. (2005). How to be a Comedy Writer. Great Britain: SummersdalePublishers LtdDarminto, M. Sudarmo. (2004). Anatomi Lelucon Indonesia. Jakarta: ParhumiDenzin, Norman dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarFakih, Mansour. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, PustakaPelajar, YogyakartaHelitzer, Mel, dan Mark Shatz. (2005). Comedy Writing Secret. (2nd edition). Writer'sDigest Books,Hall, Stuart. (1973). ‘The Television Discourse : Encoding and Decoding’, dalamCulture, Media, Language ed Stuart hall, Dorothy Hobson, Andrew Lowe andPaul Willis. London : Hutchinson, 1980Haryatmoko, (2007), Etika Komunikasi, Yogyakarta : Penerbit KanisiusJ. Lexy, Moleong, (2004) Metodologi Penelitian Kualitatif. (edisi 4). Bandung:Remaja RosdakaryaLefcourt, H.M, (2005), Humor, dalam Handbook of Positif Psychology by Snyder &Lopez, New York: Oxford University PressLittlejohn, S.W, (1996), Thories of Human Communication (fifth edition), WadsworthPublishing Company, Belmont, CaliforniaLeggat, Alexander, (2002). The Cambridge Companion To Shakespearean Comedy.United Kingdom: Cambridge University PressMcQuail, Dennis. (2002). Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh Agus Darmadan Aminudin Ram, Erlangga, JakartaMindess, (1991), The Antioch Humor Test. New York: Avon BooksMulyana, Deddy, (2008), Komunikasi Humoris. Simbosia rekatama Media, BandungRahardjo, Turnomo, (2005), Menghargai Perbedan Kultural, Yogyakarta: PustakaPelajarRakhmat, Jalaluddin. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rayner, Philip, Peter Wall, and Stephen Kruger. (2004). Media Studies: The EssentialResource. London and New York: RoutledgeRogers, Everett, M. (1986). Communion Technology, London: The Free Press, CollierMacmillan PbliRuben, Brent, D, dan Lea P Stewart, (1996). Communication and Human Behavior,Allan & bacon A. Viacom Company, USA. Edisi IVRudy, May,Teuku. (2005). Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional.Bandung: PT Refika AditamaSarlito,(1996), Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan BintangSarwono, Sarlito Wirawan, (1999). Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori,Jakarta: Balai Pustaka.Setaiti. Eni.(2005). Ragam Jurnalistik baru dalam Pemberitaan. Jogyakarta : CVAndi Offset.Sudibyo, (2004). Ekonomi Politik Dunia Penyiaran. Yogyakarta: LKISSuhadi,M. Agus, (1989). Humor itu Serius. Jakarta: PT Pustaka Karya GrafikatamaSullivan, Tim O’ et all. (1994). Key Concept in Communication and Cultural Studies.second edition. London and New york: RoutledgeSuranto, (2010), Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta. Graha IlmuSuyanto, Bagong. (2006). Metodologi Penelitian sosial, Jakarta, KencanaWiryanto. (2006). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Grasindo.Wibowo, Fred. (1997). Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta, GramediaWidiasarana IndonesiaWest, Richard. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Teori dan Aplikasi. Jakarta:Salemba HumanikaMakalah dan JurnalAudrieth, Anthony L. (1998). The Art of Using Humor in Public Speaking, Psicologyof HumorAyuningtyas, Retno. (2010). Analisis Resepsi Pemirsa tentang Diskriminasi Genderdalam Tayangan Bukan Empat Mata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Universitas DiponegoroEnggaringtyas, Arum. (2011). Stereotip dan diskriminasi gender terhadap wartawanperempuan di Harian Surya. Universitas Kristen PetraFatt, James. (1998). Why do we laugh?, Communication World. Vol.15 No. 9Hidayat, Dedy, N. (1999). Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi,"Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. No. 3 (April, 1999), hal. 34-35Martin, Rod A. (2003). Sense of Humor. In S. J. Lopez and C. R. Snyder. (Eds.).Possitive Psycological Assessment: University Of Western Ontario LondonMunandar. (1996). Humor: Makna Pendidikan dan Penyembuhan. Suatu TinjauanPsikologis. Makalah. (Dalam Seminar Humor Nasional). SemarangNasir. (2004). Perubahan Struktur Media Massa Indonesia dari Orde Baru ke OrdeReformasi, Kajian Media Politik-Ekonomi. DisertasiPurnama, Indah Dwi. (2009). Film Nagabonar Karya Asrul Sani dan FilmNagabonar Jilid 2 Karya Musfar Yasin: Analisis Resepsi. Fakultas Sastra,Universitas Sumatera Utara,Puspitasari, Aprilia. (2010). Resepsi Khalayak atas Sosok Idola dalam TayanganTelevisi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas DiponegoroSaraswati. (1999). Hubungan Sense of Humor dengan Penyesuaian Diri. Yogyakarta:Universitas Islam IndonesiaSutedjo, Hadiwasito. (1996). Penyusunan Pesan, Makalah Pendidikan Creative danAccount , PPPI Jawa Tengah, 3-4 Mei 1996Tripuspitarini, Hana. (2010). Naturalisasi Kekerasan dalam Komedi Opera Van Java,Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro.InternetAritonang, Philemon. (2012). Kompasiana: Stand Up Comedy Berbau Sara. Dalam,http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/23/stand-up-comedy-di-metro-tvberbau-sara/. Diunduh pada 14 maret 22.11 WIBArinjaya, I Dw Gd Erick Krisna. (2013). Tips Humor yang Cerdas. Dalam,http://blogdoodey.blogspot.com/2011/04/tips-humor-yang-cerdas.html.Diunduh pada 7 Maret pukul 19.50 WIBHang, yeni. (2012). Diskriminasi Pendidikan Untuk Tionghoa. Dalam,http://yinnihuaren.blogspot.com/2011/10/diskriminasi-pendidikan-untuktionghoa.html. Diunduh pada 9 maret pukul 21.38 WIBJinggaberseri: Stand Up Comedy Indonesia. (2012). Dalam,http://www.squidoo.com/Stand-Up-Comedy-Indonesia-Jinggaberseri.Diunduh pada 2 Juli pukul 22.20 WIBKoran Jakarta. (2012). Stand Up Comedy. Dalam,http://m.koranjakarta.com/?id=75503&mode_beritadetail=1. Diunduh pada27 februari 20.48 WIBLynch, Owen. H. (2002). Humorous Communication: Finding a Place for Humor inCommunication Research. international communication. vol 12, p. 423-44.Dalam,http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.14682885.2002.tb00277.x/abstractManuputty, Cavin R., dan Basfin Siregar. (2013). Lintang Atiku: Sejarah PerjalananStand Up Comedy Indonesia. Dalam,http://www.lintangatiku.com/2013/01/sejarah-perjalanan-stand-upcomedy-indonesia.html. Diunduh pada 3 Januari pukul 23.21 WIBSetiawan, Beny. (2012). Berperang atas Nama Agama. Dalam,http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-namaagama.html. diunduh pada 9 maret pukul 21.45 WIBSiahaan, Samuel hasiholan. (2012). Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. BukuTamu, dalamhttp://www.pgi.or.id/index.php?option=com_rsmonials&Itemid=28. Diunduhpada 11 maret pukul 20.28 WIBSetyawan, Dharma. (2012). Komunitas Hijau: Khotbah Stand Up Comedy. Dalamhttp://www.dharmasetyawan.com/2011/11/media-sosial-dan-kotbah-standup-comedy.html. tanggal akses 14 maret pukul 22.18 WIBSido, Fandy. (2012). Kompasiana: Tayangan Humor Indoensia Sarkatis. Dalam,http://hiburan.kompasiana.com/humor/2011/08/05/tayangan-humorindonesia-sarkastis-385608.html. Diunduh pada 14 maret pukul 22.23 WIBTeresia, Ananda W. (2012). Tempo: GKI Yasmin: Pmerintah Tak Peduli. Dalam,http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB. Diunduh pada 27 februari pukul 20.30WIBUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002. (2012). Dalam,http://www.kemenkumham.go.id/attachments/article/170/uu39_1999.pdf.Diunduh pada tanggal 27 Februari 21.00 WIBWirodorono, Sunardian. (2012). Jurnal Sunardian: Stand Up Comedy Indonesia.Dalam, http://sunardian.blogspot.com/2012/03/stand-up-comedy-indonesiayah.html. Diunduh pada 14 maret 2012 pukul 22.14 WIBZuhri, Syaripudin. (2013). Humor Itu Mencerdaskan Bukan Merendahkan. Dalamhttp://hiburan.kompasiana.com/humor/2012/10/23/humor-itumencerdaskan-bukan-merendahkan-503542.html. Diunduh pada 27 Februari2013. 21.10 WIBZulfikar, Ahmad (2012). Gudang Materi: Stand Up Comedy di Indonesia dan Dunia.Dalam, http://www.gudangmateri.com/2012/01/stand-up-comedy-diindonesia-dan-dunia.html. Diunduh pada tanggal 14 maret 22.20 WIBFerfei. (2012). Stand Up Comedy: Canda Tawa Berdiri Sampai Mati. Dalam,http://light.mindtalk.com/StandUpComedy/post/4e9ea719f7b73028df00039f. Diunduh pada 14 Juli 2012 pukul 13.23WIB
Resolusi Konflik Pada Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) Di Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) FISIP Undip Annie Renata Siagian; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.332 KB)

Abstract

Tujuan penelitian mengetahui pengalaman individu kelompok dalamresolusi konflik pada Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) di PersekutuanMahasiswa Kristen (PMK) Universitas Diponegoro.Penulis menggunakan Teori yang digunakan ialah Interaction AnalysisTheory dan Roles Theory untuk melihat bagaimana kegiatan komunikasikelompok yang melibatkan peran masing-masing anggota dalam kelompok.Penelitian ini menggunakan metoda penelitian perspektif interpretative kualitatifdan menggunakan pendekatan fenomenologi untuk melihat pengalaman individudalam resolusi konflik KTB. Informan yang digunakan dalam penelitian inisejumlah 6 (enam) orang dengan karakteristik merupakan tergabung dalamkelompok KTB minimal 1 tahun, memiliki status sebagai kakak pembimbing dantidak rutin melakukan komunikasi langsung dengan kelompok dan dapatdiwawancarai.Hasil penelitian berdasarkan lama mengikuti KTB dan status kakakpembimbing menunjukkan konflik kelompok yang bergabung 1 – 2, 5 tahunbersumber dari jarangnya kelompok berkumpul yang berakibat pada tingkatkenyamanan, keterbukan dan kepercayaan diri kepada kelompok rendah baikantar adik KTB maupun adik dengan kakak KTB. Hambatan datang pada masaawal-awal terbentuknya kelompok karena perbedaan latar belakang pendidikan,pandangan, etnis dan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Para informanmelakukan adaptasi untuk mempertahankan interaksi dan pemeliharaan interaksidan pemeliharaan hubungan kelompok. Konflik yang terjadi seperti pembatalanjadwal KTB, tidak pernah KTB dan salahpaham. kesibukan masing-masingmenjadi konflik utama dalam kelompok KTB. Penyelesaian konflik yangdilakukan informan ini menggunakan strategi manajemen konflik win-winsolution dan kemauan untuk berkomunikasi. Pada penyelesaian konflikmenggunakan strategi “win-win solution” sebagian informan menyatakankeinginannya untuk menyelesaikan konflik.
Pengaruh Intensitas Menonton Channel Youtube Reza Oktovian dan Pengawasan Orang Tua terhadap Perilaku Agresif yang dilakukan Remaja Sekolah Menengah Pertama Aryatama Wibawa, Michael; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.04 KB)

Abstract

Based on the data of communication and information ministry, there are 322 casese about violence in teenager triggered by the social media and internet in 2014 and the cases are still increasing compared to 100 cases in 2011. Youtube is one of the social media platform that mostly accesed by Indonesian people by 49%. Social learning theory and parental mediation theory are used in this case. Respondents are Junior High School teenagers aged 14-15 years old who are also Reza Oktovian Youtube channel subscribers. Based on the regression analysisi test to the intensity variable of watching Reza Oktovian Youtube Channel (X1) to the verbal agressive attitude to the teenagers (Y), the determination coefficient result is 31,7%, while the parental guide (X2) to the teenagers aggresive attitude (Y), the determination coefficient result is 36,6% eith the significance rate = 0,000 means > significance criteria (0,05). It means the regression model the variable effect of X to Y is high and signicancy between variable based on the research is very significant. Therefore it show that there are some effect between the intensity of watching Reza Oktovian youtube channel and the parental guide to the aggresive attitude which are done by teenagers. The higher intensity in watching Reza Oktovian youtube channel, the higher aggresive attitude by teenagers, in the other hand, the higher parental guide, the lower aggresive attitude by teenagers.

Page 62 of 157 | Total Record : 1563