cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Hubungan Kompetensi Komunikasi Herbalife Independent Distributor dan Citra Merek terhadap Loyalitas Konsumen Nutrisi Kesehatan Herbalife Mayangsari .; Hedi Pudjo Santoso
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.211 KB)

Abstract

Persaingan nutrisi kesehatan di Indonesia bertumbuh tahun demi tahunnya. Salah satunya adalah Herbalife dengan penjualan secara langsung. Menurut survey dari majalah top brand, pada tahun 2016 top brand index Herbalife meningkat menjadi 15,2% dari tahun sebelumnya yang hanya 5,8%. Namun, kenaikan top brand index ini belum mampu membuat Herbalife menempati posisi pertama dan menggeser pesaing utama mereka yaitu WRP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kompetensi komunikasi Herbalife Independent Distributor dan citra merek terhadap loyalitas konsumen produk nutrisi kesehatan Herbalife. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 60 responden. Hasil penelitian dari analisis korelasi Kendall tau_b menjelaskan bahwa kompetensi komunikasi Herbalife Independent Distributor dengan loyalitas konsumen produk nutrisi kesehatan Herbalife menghasilkan nilai signifikansi 0,001 dan nilai korelasi 0,333. Hal ini dapat diartikan kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang positif dengan keeratan yang lemah. Sedangkan, hasil citra merek dengan loyalitas konsumen produk nutrisi kesehatan Herbalife memiliki nilai signifikansi 0,002 dan nilai korelasi 0,315. Hal ini dapat diartikan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang positif namun keeratan yang dihasilkan lemah. Dengan hasil tersebut disarankan kepada Herbalife Independent Distributor lebih meningkatkan kompetensi komunikasi yang dimiliki mereka terutama pada variabel motivasi karena motivasi merupakan titik lemah dari Herbaife Independent Distributor karena apabila motivasi, pengetahuan dan keterampilan semuanya dapat ditingkatkan lagi oleh Herbalife Independent Distributor maka loyalitas konsumen juga akan meningkat.
Interpretasi Khalayak terhadap Berita Konflik Papua di Televisi Bayu Ardyantara; Muchamad Yulianto; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.961 KB)

Abstract

Sumary PenelitanInterpretasi Khalayak terhadap Berita Konflik Papuadi Televisi1. PendahuluanBeberapa waktu terjadi pemogokan hampir dua bulan lamanya, berbagaikerusuhan di Puncak Mulia , jalur Freeport-di blokir,penembakan di Abepura,kekerasan dalam Kongres Rakyat Papua ke 3 , penembakan terhadap Kapolsek Mulia,serta sekarang terjadi lagi kasus serupa di Bandara Mulia.Sekelompok orang tidakdikenal menembaki pesawat Trigana yang menewaskan penumpangnya, serta melukailainnya. Penganiayaan orang tak dikenal terhadap aparat juga terjadi lagi di Sentaniyang menewaskan salah satu anggota kepolisian Polres Keerom. Anehnya lagiberbagai penembakan tersebut sampai sekarang belum bisa diungkapkan siapapelakunya yang berada di balik penembakan tersebut.Fakta merupakan dinamika yang lahir melalui interaksi antar manusia. Seringjurnalis merasa hanya berkepentingan untuk menangkap interaksi ini tanpa perlumempersoalkan kualitas dari interaksi tersebut. Karenanya pada sisi lain kemudianmuncul dorongan untuk mengajak jumalis menumbuhkan penghayatan atas posisiperson yang diceritakan.Realitas konflik menjadi sangat dilematis bagi media. Hukum pasar yangbertumpu pada diktum never ending circuit of capital accumulation mendorong mediauntuk menyajikan informasi semenarik dan sedramatis mungkin. Meskipun jarangsekali diakui, bahkan selalu disangkal, ramuannya cukup jelas: bad news is goodnews. Ramuan inilah yang menyebabkan realitas konflik (perang, pertikaian politik,kerusuhan, tawuran, demonstrasi yang anarkhis, dst) selalu menjadi primadonapemberitaan. “Konflik adalah oase yang tak pernah kering bagi kerja-kerjajurnalistik,” begitu kata George Wangtang. Konflik selalu menyajikan sensasi dandaya magnetik yang besar bagi publik. Liputan konflik dapat secara signifikanmenaikkan oplah, rating, hit,everage sebuah media.Pemberitaan konflik yang terjadi dipapua yang terakhir kali yaitu mengenaipembunuhan aparat keamanan yang berdinas di Polresta oleh sekelompok orang takdikenal dan penembakan kapolsek Muliya di bandara serta penembakan pesawatkomersil di daerah wamena.pembeitaan tersebut menimbulkan berbagai persepsi dibenak khalayak. Pemberitaan mengenai konflik Papua oleh media massa dapatmenimbulkan berbagai prasangka dalam benak khalayak yang diterpa ataupunmenyaksikan pemberitaan tersebut.Prasangka sosial (Manstead dan Hewstone, 1996) didefinisikan sebagai suatukeadaan yang berkaitan dengan sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan. Yaitu, ekspresiperasaan negatif, penunjukkan sikap bermusuhan atau perilaku diskriminatif terhadapanggota kelompok lain. Beberapa kasus tertentu yang berhubungan dengan rasismejuga dianggap sebagai prasangka. Prasangka sosial yang pada mulanya hanyamerupakan sikap-sikap perasaan negatif itu, lambat-laun menyatakan dirinya dalamtindakan-tindakan yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk golonganyang diprasangkai itu, tanpa terdapat alasan-alasan yang objektif pada pribadi orangyang dikenakan tindakan-tindakan diskriminatif.Pengalaman kebudayaan Amerika, yang dianggap sebagai kampiundemokrasi, juga tidak terlepas dari prasangka dan stereotipe sosial. Publikasipenelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association (Dovidio et. al,2002) menjelaskan bahwa di abad global-modern ini saja masih terdapat bias persepsipada diri orang kulit putih dalam perilaku verbal terhadap orang Negro. Orang-orangkulit putih ternyata lebih ramah dan bersahabat terhadap kalangan mereka sendiri.Hochschild (Dovidio et. al, 2002) menjelaskan bahwa perilaku orang-orang kulit putihyang kadang-kadang berbeda dan kontradiktoris terhadap orang kulit hitam dalaminteraksi antar-ras dapat memberikan kontribusi iklim yang miskomunikatif,mispersepsi, dan ketidakpercayaan di Amerika Serikat. Bahkan menurut Anderson(Dovidio et al, 2002) mayoritas orang kulit hitam di Amerika dewasa ini memilikiketidakpercayaan yang sangat besar terhadap polisi dan sistem hukum, terutamaketidakpercayaan terhadap orang-orang kulit putih.Kekerasan yang dibahas dalam pemberitaan konflik seputar Papua tidak lagisemata-mata untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai konflik yangterjadi di tanah Papua. Namun, kekerasan tersebut sudah masuk ke bisnis industrimedia yang mengikuti selera pasar yang tertarik pada berita-berita dengan unsurkekerasan didalamnya. Melihat fenomena di atas, penulis tertarik untuk menelitibagaimana interpretasi khalayak terhadap masyarakat Papua setelah menyaksikanpemberitaan mengenai konflik yang terjadi di Papua.2. Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana interpretasi khalayakmengenai pemberitaan konflik Papua yang disajikan oleh televisi.3. Landasan TeoriDalam analisis resepsi disebutkan bahwa khalayak akan menginterpretasikanteks berita sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan pengalaman subjektifyang dimiliki masing-masing khalayak. Perbedaan latar belakang membuatinterpretasi terhadap isi berita menjadi berbeda-beda. Berita di media massa,diinterpretasi oleh khalayak dengan dipengaruhi tiga kondisi antara lain :a) BudayaInformasi yang disampaikan komunikator melalui media massa akan diberi arti yangberbeda-beda yang sesuai dengan latar belakang budaya khalyak.b) PsikologiPesan komunikasi massa yang disampaikan media massa akan diberi arti sesuaiframe of reference (ruang lingkup pandangan) dan field of experience (ruang lingkuppengalaman) khalayak.c) FisikKondisi fisik khalayak baik internal maupun eksternal akan mempengaruhikhalayak dalam mempersepsi esan komunikasi massa melalui media massa. Kondisifisik internal dimaksudkan sebagai keadaan kesehatan seseorang. Jika komunikandalam keadaan tidak sehat, ia akan mengabaikan pesan apapun walaupun pesantertentu biasanya sangat menarik minatnya. Kondisi fisik eksternal dimaksudkankeadaan lingkungan disekitar khalayak ketika ia menerima pesan dari media massa.Misalnya khalayak merasa tidak nyaman ketika membaca surat kabar didalamkendaraan umum ketika berjalan. Atau khalayak merasa nyaman ketika menontontelevisi pada sorehari sambil meminum teh hangat (Winarni, 2003:18).Selain faktor latar belakang budaya, sosial, pendidikan, pengetahuan,yangdapat mempengaruhi interpretasi khalayak pada berita-berita dimedia massa,interpretative communities juga memberi pengaruh terhadap interpretasi khalayak.Stanley Fish (dalam Littlejhon, 1999 : 209) menyatakan bahwa pembaca bagian dariinterpretative communities, akan membangun pemaknaannya terhadap realita darihasil interaksi kelompoknya dan akan digunakannya saat membaca teks berita dimedia. Jadi bagaimana khalayak memaknai teks media, akan tergantung juga olehinterpretative communities dari pembaca itu sendiri.Untuk itu, Stuart Hall (dalam Baran dan Dennis K. Davis, 2000:262),membagi tiga tipe utama pemaknaan atau pembacaan khalayak terhadap teks media(dominant reading, negotiated meaning, oppositional decoding) :• Dominant readingKetika khalayak memaknai isi media sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuatpesan atau media. Jika seseorang melakukan pemaknaan sesuai dengan maknadominan (preferred reading) yang ditawarkan oleh teks media.• Negotiated meaningKetika khalayak membuat pemaknaan alternatif atau pemakanaan sendiri pada pesanmedia yang berbeda dari preferred reading sesuai dengan kondisi mereka.• Oppositional decodingKetika khalayak menghasilkan pemaknaan atas isi media yang langsung berlawanandengan preferred reading.4. Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah kualitatif. Penelitan kualitatif adalah penelitian yangbermaksud untuk memahami fenomena yang dialami subjek penelitian misalnyaperilaku, persepsi, motifasi, tindakan, dll secara holistik, dan dengan cara deskripsidalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dandengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2007:6).Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis resepsi.Analisis resepsi meneliti bagaimana khalayak mengkonstruksi makna keluar dari yangditawarkan oleh media.5. Hasil PenelitianAdapun hasil penelitian tersebut merupakan hasil dari wawancara mendalamdengan enam informan. Informan yang dipilih berdasarkan perbedaan jenis kelamin,latar belakang sosial-budaya dan tingkat pendidikan yang beragam. Pertanyaan yangdiajukan kepada informan mengacu pada interview guide yang telah dibuat., yaituseputar resepsi terhadap berita-berita konflik Papua di televisi. Tiap-tiap informanmemiliki interpretasi yang berbeda-beda terhadap pemberitaan konflik Papua ditelevisi, karena masing-masing informan memiliki latar belakang budaya, sosial,maupun pendidikan yang berbeda-beda.Konflik Papua dengan segala peristiwa yang terjadi didalamnya, diinterpretasioleh informan dengan sudut pandang dan pendekatan yang bervariasi. Terdapatkesamaan dan perbedaan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadainforman. Interpretasi informan terhadap konflik Papua pada pemberitaan ditelevisi,melihat konflik Papua sangat dekat dengan kekerasan, pembunuhan dan hal-hal lainyang berhubungan dengan kekerasan. Selain itu konflik Papua juga dalampemberitaannya selalu dikaitkan dengan unsur kekerasan dan anarkisme. Hal inimenyebabkan penggambaran terhadap masyarakat Papua oleh informan menjadikurang baik dalam kehidupannya. Perangai yang keras, tidak bisa diatur dan sadismerupakan salah satu dari sekian citra negatif dalam pemberitan media mengenaimasyarakat Papua.6. PembahasanDari fokus permasalahan yang telah diteliti peneliti, yaitu menelusuripemaknaan yang diberikan audience televisi terhadap pemberitaan konflik Papua,ternyata peneliti menemukan resepsi yang dilakukan para informan terhadappemberitaan konflik Papua sangat beragam.Informan pertama bernama Gentur, masuk dalam posisi negotiated reading,gentur membuat pemaknaan alternatif atau pemaknaan sendiri pada berita konflikPapua. Meskipun Gentur melihat konflik Papua terjadi antara pemerintah dengansebagian warga Papua, Gentur juga memberikan penilaian bahwa konflik Papuaterjadi karena faktor kesenjangan ekonomi antara pendatang dan pribumi. Selain itugentur melihat konflik yang terjadi menyebabkan timbulnya banyak korban, akantetapi gentur menilai sebagian besar pihak yang berkonflik sudah memulai dialogdamai antar pihak pemerintah dengan pemuka adat. Gentur berada ditengah-tengahyang melihat konflik dari sisi negatif namun tetap memberikan penilaian positifberupa dialog damai dalam rekonsiliasi konflik Papua. Gentur yang memiliki latarbelakang sebagai polisi, tidak mudah terpengaruh dengan pemberitaan diberbagaimedia termasuk televisi. Gentur memiliki pendapatnya sendiri dalam memandangkonflik Papua. pengalaman, pengetahuan, dan latar belakang sosialnya tersebutmembuat Gentur memnculkan maknanya sendiri saat menginterpretasi berita konflikPapua yang diterimanya.Informan kedua adalah Zamzuri, menempati posisi dominant reading,Zamzuri memaknai berita konflik Papua yang dilihatnya, sesuai dengan maknadominan (prefered reading) yang ditawarkan oleh pemberitaan di televisi. Zamzurimelihat konflik Papua sebagai konflik bersenjata antara aparat dengan OrganisasiPapua Merdeka. Zamzuri melihat konflik selalu diliputi oleh berbagai kekerasanseperti penembakan dan pembunuhan. Unsur kekerasan yang ditonjolkan oleh televisidan melekat dengan dengan masyarakat Papua dalam pemberitaan konflik Papua,dimaknai sama oleh Zamzuri. Interpretasi yang dilakukan oleh zamzuri dipengaruhioleh latar belakang budaya dan sosialnya. Zamzuri yang tinggal dilingkungan barakbatalyon TNI selalu menganggap setiap permasalahn konflik berujung padakekerasan. Latar belakang dan kerangka pemikiran ini ikut mempengaruhipemikirannya dalam memandang konflik Papua. Konflik antara pemerintah denganmasyarakatnya sendiri menurut Zamzuri justru membuat stabilitas negara menjaditerganggu dan dengan itu harus diselesaikan dengan cepat.Informan ketiga bernama Sahrian, ia masuk dalam dominant reading. Sahrianmelihat konflik Papua sebagai upaya kurang perhatiannya pemerintah terhadapwarganya sendiri tanpa adanya penyelesian masalah dari pemerintah dan solusi.Sahrian menganggap kekerasaan yang terjadi di Papua lebih banyak menimbukankorban jiwa. Selain itu Sahrian menganggap kinerja aparat tidak maksimal dan tdakdapat menangkap pelaku kekerasan seperti yang diberitaka oleh media televisi dalampemberitaannya. Interpretasi Sahrian dipengaruhi oleh latar belakang budayasosialnya. Sahrian tinggal dikeluarga yang hangat dan tidak menyenangi konflikterbuka. Jika ada suatu masalah, Sahrian terbiasa untuk menyelesaikan baik-baiktanpa perlu bersitegang secara langsung. Latar belakang itu mempengaruhipemikirannya dalam menyikapi konflik yang terjadi di Papua.Informan keempat bernama Niko, ia termasuk dalam posisi oppositionalreading. Niko menilai konflik yang terjadi di Papua hanya protes warga terhadappemerintah hanya saja caranya yang berbeda dan tidak ditanggapi dengan baik olehpemerintah. Niko juga menilai bahwa orang Papua itu kehidupannya sama sajadengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Niko memaknai berita konflik Papuayang diterimanya, berbeda dengan makna dominan yang dihasilkan pengelolapemberitaan ditelevisi. Niko sangat mudah bergaul dengan siapapun salah satunyadengan beberapa orang Papua yang ada di Semarang. Kebiasaan inilah yang membuatNiko tidak mudah terpengaruh denagn pemberitaan yang disajikan media televisidalam mengangkat peristiwa yang terjadi diPapua. Pengalaman bergaul dengan orangPapua inilah yang lebih dipercayai Niko daripada pemberitaan yang ada.Informan kelima adalah Meida, ia masuk dalam posisi negotiated reading.Menurut Meida kehidupan masyarakat Papua masih terbelakang namun mereka tidakbuta akan informasi. Konflik di Papua menurut Meida tidak pernah lepas dari aksikekerasan. Meida menilai konflik yang terjadi dipapua karena sebagian masyarakatPapua ingin memisahkan diri dari NKRI. Meida juga menambahkan selainmasyarakat Papua ingin memerdekakan diri, masyarakat Papua juga ingindiperhatikan seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Banyaknya koruptor yangmerajalela menjadi salah satu alasan terjadinya konflik di Papua. Meida membuatpemaknaan sendiri pada berita konflik papua yang disaksikannya. Interpretasi Meidadipengaruhi oleh latar belakang Meida sebagai seoang guru yang dituntut untukmemiliki wawasan dan pengetahuan meskipun dari media massa.Informan keenam adalah Nia, ia masuk kedalam posisi dominant reading,karena Nia menginterpretasikan berita konflik Papua yang disaksikan sesuai denganmakna dominan yang dihadirkan media televisi. Ia memaknai konflik yang terjadi diPapua selalu diliputi oleh kekerasan. Hal yang sering muncul dalam pemberitaankonflik Papua seperti pembunuhan, penembakan dan penyerangan yang ditujukanoleh aparat dan warga sipil oleh orang tak dikenal. Ia memandang negatif citramasyarakat Papua dan kehidupan masyarakat Papua sangat terbelakang dantemperamental. Secara keseluruhan Nia menilai konflik di Papua lekat dengananarkisme dan kekerasan. Interpretasi Nia tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosialdan latar belakang budaya. Nia yang sangat kental dengan kebudayan Jawa ningratsangat tidak suka dengan hal-hal yang berbau kekerasan dan konflik.7. PenutupInterpretasi khalayak merupakan wujud interaksi antara khalayak denganmedia. Khalayak akan memaknai kembali informasi yang diterima melalua mediamassa sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, pengetahuan, dan pendidikan yangmereka miliki. Begitupun dengan berita konflik Papua yang ditayangkan mediatelevisi, khalayak akan menginterpretasikannya sesuai dengan latar belakangnya yangberbeda.ABSTRAKSINama : Bayu ArdyantaraNIM : D2C606009Judul : Interpretasi Khalayak terhadap Pemberitaan Konflik Papua di TelevisiPascareformasi, Papua sering dilanda konflik. Konflik Papua rupanya memilki dayatarik tersendiri bagi media massa untuk mengengkatnya menjadi berita. Televisi, merupakansalah satu media yang memberitakan konflik Papua sebagai pemberitaannya. Akan tetapi,Televisi mengidentikan konflik Papua yang terjadi dengan kekerasan pada berita yangdihasilkan. Kata-kata penembakan, pembunuhan, dan kekerasan selalu ada dalam beritakonflik Papua di televisi.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana interpretasi khalayakterhadap berita- berita konflik Papua di Televisi. Tipe penelitian ini adalah kualitatif denganmenggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi, khalayak dipandangsebagai produser makna, tidak hanya menjadi konsumen isi media. Khalayak akan menerimaberita konflik Papua yang diterimanya sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, danpengetahuan mereka. Penelitian ini juga menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall,untuk menjeelaskan jalannya proses encoding dan decoding berita-berita konflik Papua.Hasil penelitian menunjukan bahwa khalayak aktif dalam menginterpretasi beritakonflik Papua yang diterimannya. Interpretasi khalayak terbagi dalam tiga posisi pemaknaan;dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading. Khalayak yang masuk posisidominant reading, memaknai konflik Papua identik dengan kekerasan didalamnya. Khalayaktersebut memaknai berita konflik Papua sesuai dengan makna dominan yang dihadirkanmedia televisi. Sementara khalayak dengan posisi negotiated reading, memaknai konflikPapua dengan pemaknaannya sendiri. Khalayak ini tidak memandang konflik Papua dari segikekerasannya saja tetapi dia lebih menonjolkan positif daripada konflik tersebut. Sedangkankhalayak yang masuk dalam posisi oppositional reading memaknai konflik Papua sama sekaliberbeda dengan makna dominan dari pemberitaan televisi.Penelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dari sudut pandang dan metode yangberbeda. Penelitian serupa dengan memaknai pendekatan yang berbeda, diharapkan dapatdapat menambah dan menyempurnakan penelitian yang sudah ada.Key words : kekerasan, media massa, resepsi, interpretasi
Meaning lyrics Slank As Media Communication Social Criticism Adydhatya Della Pahlevi; Drs. Joyo Nur Suryanto Gono, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.087 KB)

Abstract

Music is used as a medium to convey the aspirations of social, political, and even become one of the media propaganda (information / opinions) to launch an ideological movement (idea / ideas). The lyrics is one of verbal communication media that have meaning in it. Research on the band Slank song "Gossip Streets" is a study that aims to describe the concept of the "Mafia" in the lyrics of the song and to explain the meaning of social criticism depicted. The paradigm used in this study is a critical paradigm. The theory used is the standpoint theory that provides a framework for understanding the power system. Another theory is the Critical Theory to understand the conditions that limit ratio (common sense). This research method is qualitative method in which data is interpreted (the view) through the analysis of the meaning of words written or oral form are observed. The analysis used in this research is the analysis of semiotics by Roland Barthes. Based on a study of "mafia" in the lyrics gossip streets, there is a conclusion that the mafia is described as having the properties wanted power and money have the power to set a lot of things to be achieved. In addition, the "mafia" also dare take action in the form of physical or unlawful behavior as an act of violence (hitting / slapping) and pay bribes to authorities by providing some money.
Subjektivitas Seksualitas Perempuan Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami Elianna, Yoana Putri; Sunarto, Dr; Dwiningtyas, Hapsari; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.899 KB)

Abstract

Pada hakikatnya setiap orang diciptakan sebagai subjek yang unik, baik laki-laki maupun perempuan. Namun realita dalam masyarakat patriarki seakan menempatkan lelaki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang subjektivitas seksualitas perempuan, proses terjadinya, serta gagasan dominan dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang (PEPL) karya Ayu Utami. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya teori standpoint; feminis posmodern dan woman writing; teori subjektivitas, identitas, dan seksualitas; teori representasi dan semiotika, serta ideologi.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika naratif yang dikembangkan Algirdas Julien Greimas. Analisis semiotika naratif terdiri atas analisis struktur luar dan analisis struktur dalam yang berisi makna serta manifestasi nilai dalam teks. Analisis struktur luar dilakukan dengan analisis aktansial dan fungsional yang menghasilkan sebuah aktan utama. Sedangkan pada analisis struktur dalam diperoleh hasil bahwa subjektivitas seksualitas perempuan merupakan hasil dari wacana kekuasaan patriarki. Subjektivitas seksualitas adalah adalah sikap yang diambil seseorang, dengan kesadaran penuh, sebagai subjek dalam menentukan peranannya dalam masyarakat. Ciri-ciri subjektivitas seksualitas perempuan adalah merasa telah menempatkan diri sebagai subjek secara sadar, memiliki kepercayaan diri, berani mengambil keputusan (risiko), memiliki suatu kebanggaan tersendiri, memiliki eksistensi di ranah privat dan publik, sehingga posisi perempuan sebagai istri dalam rumah tangga keluarga yang dibangun pun setara dengan suaminya. Ideologi dominan yang melahirkan subjektivitas seksualitas dalam novel adalah patriarkisme, kapitalisme, dan liberalisme. Patriarkisme berperan dalam menciptakan kesadaran tokoh A dalam novel PEPL sebagai perempuan yang teropresi. Kapitalisme memunculkan wacana ‘nilai’ pada suatu hal sehingga diagung-agungkan oleh masyarakat. Kemudian liberalisme menumbuhkan kesadaran tokoh A untuk memperoleh kesetaraan sesuai dengan sesamanya, yakni laki-laki. Ideologi-ideologi tersebut memiliki pengaruh penting untuk tokoh utama dalam novel PEPL untuk secara sadar memilih menjadi subjek. Baik sebagai subjek yang berkuasa maupun subjek yang tertundukkan oleh subjektivitas dominan.Penelitian ini membuka paradigma bahwa perempuan memiliki pilihan dalam hidup. Meskipun sangat sulit untuk mengaktualisasikan kebebasannya, perempuan harus tetap berusaha menjadi subjek atas dirinya sendiri. Kata kunci: subjektivitas, seksualitas, perempuan, woman writing, novel, semiotika naratif
MAKNA IDENTITAS FANS KLUB SEPAK BOLA (CHELSEA INDONESIA SUPPORTERS CLUB) Ika Adelia Iswari; Triyono Lukmantoro; Turnomo Rahardjo; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.857 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan visi dan misi yang cenderung untuk bergabung ke dalam suatu lingkaran. Lingkaran tersebut diwujudkan dengan terbentuknya suatu komunitas. Komunitas fans klub sepak bola merupakan hal yang biasa ditemui di lingkungan kita. Bermulai dari kegemaran dengan olahraga sepak bola kemudian munculnya keinginan untuk mengenal lebih dalam klub sepak bola yang didukung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana individu bisa memutuskan untuk bergabung ke dalam lingkungan yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru dan bagaimana individu tersebut membentuk identitas dirinya yang pada awalnya hanya merupakan penggemar sepak bola menjadi salah satu supporter klub sepak bola tertentu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Sintalitas Kelompok, Teori Perbandingan Sosial, dan Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dan konsep identitas diri. teknik analisis data kualitatif yang mengacu pada penelitian fenomenologi dari Clark Moustakas. Subjek penelitian ini adalah setiap orang (laki-laki dan perempuan) yang merupakan pendukung Chelsea, merupakan anggota komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan proses identitas sosial di dalam komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) yang dialami oleh setiap individu yang merupakan anggota komunitas terjadi karena banyak faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah keluarga, dan kelompok-kelompok sekunder seperti teman. Individu menginginkan adanya kesamaan visi dan misi yang menurut mereka akan memudahkan dalam berinteraksi. Proses pengambilan keputusan di dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh individu yang tergabung ke dalam komunitas Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) tidak selalu dipengaruhi oleh interaksi antar sesama individu di dalam komunitas. 
HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI DOSEN DAN INTENSITAS KOMUNIKASI DALAM PEER GROUP, TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA FEB UNDIP Yunie Kartika Sari Binti Choirul; Hedi Pudjo Santoso
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.227 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini di dasari oleh pentingnya prestasi belajar yang di dapat oleh mahasiswa selama proses belajar mengajar, namun masih di dapati 41 mahasiswa FEB Undip yang mempunyai IPK dengan angka < 2,25. Membuat peneliti tertarik untuk mengkaji hubungan pola komunikasi dosen (X1) dan intensitas komunikasi dalam peer group (X2) terhadap prestasi belajar mahasiswa FEB Undip (Y) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola komunikasi dosen dan intensitas komunikasi dalam peer group terhadap pretasi belajar mahasiswa FEB Undip. Teori matematis dan teori kelompok rujukan digunakan untuk menjelaskan hubungan pola komunikasi dosen, intensitas komunikasi dalam peer group, terhadap prestasi belajar mahasiswa FEB Undip. Penelitian ini merupakan penelititian kuantitatif dengan tipe eksplanatori. Sampel yang digunakan berjumlah 88 mahasiswa S1 FEB Undip angkatan 2016, dengan teknik cluster random sampling. Hasil penelitian dari analisis Kendall Tau_b menjelaskan bahwa pola komunikasi dosen dan prestasi mahasiswa FEB Undip menghasilkan nilai signifikansi 0,000 dan nilai korelasi 0,501. Hal ini dapat diartikan kedua variable tersebut memiliki hubungan yang positif dengan keeratan kuat. Sedangkan, hasil intensitas komunikasi dalam peer group dengan prestasi belajar mahasiswa FEB Undip memiliki nilai signifikansi 0,000 dan nilai korelasi 0,416. Hal ini dapat diartikan kedua variable tersebut memiliki hubungan yang positif dengan keeratan kuat. Dengan hasil tersebut penelitian ini kemudian memberikan saran kepada dosen dan kelompok pertemanan mahasiswa untuk dapat lebih meningkatkan dan memberikan motivasi dalam mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik.
Representasi Kekuasaan Kulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika Amerika Dalam Film A Time to Kill Laurentius, Michael; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.178 KB)

Abstract

1ABSTRAKSINama : Michael LaurentiusNIM : D2C007056Judul : Representasi Kekuasaan Kulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika AmerikaDalam Film A Time to KillAdapun tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penulisan ilmiah ini adalahuntuk mengetahui adanya representasi kekuasaan dan mengetahui visualisasi rasismemelalui pembagian kelas yang ada di film ini. Pemaknaan kedamaian positif yang ingindisampaikan melalui film A Time to Kill seakan seperti selaput yang menutupi superioritaskulit putih Amerika terhadap masyarakat kulit hitam.Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika.Pengertian dasar semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Untuk mengkaji makna tandayang terkandung pada film, penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yangmengacu pada teori C.S. Peirce dengan identifikasi relasi segitiga antara tanda, penggunadan realitas eksternal sebagai suatu keharusan model untuk mengkaji makna. Representasidan semiotika memiliki suatu hubungan dalam pembahasan kebudayaan. Kedua hal inimerupakan sistem yang muncul dalam setiap pembahasan terkait dengan budaya atauculture. Perlu diketahui bahwa budaya terbentuk dari proses pembagian atau pertukarandari banyak makna. Kekuatan dalam representasi (power in representation) menunjukkanbagaimana kekuasaan dapat memberi tanda atau nilai tertentu, menetapkan danmengklasifikasi. Kekuasaan tidak hanya harus dimengerti dalam terminologi eksploitasiekonomi dan paksaan fisik, tapi juga harus dipahami lebih luas dalam sudut pandangkultural dan terminologi simbolik.Oleh karena itu perlu dipahami secara kritis akan cara kerja representasi kekuasaandan rasisme dalam film meskipun film tersebut bertujuan positif dengan menampilkan sisikemanusiaan. Bisa jadi terdapat ketidaksamaan kekuatan (power) yang mencolok antara2kelompok yang satu dengan yang lain, ada pihak yang lemah dan ada pihak yang lebih kuatserta mendominasi banyak hal hingga pada akhirnya terciptalah sebuah konsep pandanganumum tentang adanya perbedaan kekuatan atau kekuasaan.3ABSTRACTIONName : Michael LaurentiusStudent Number : D2C007056Title : Representation of American White Power Against The AfricanAmerican in A Time to Kill MovieThe research objectives to be achieved in scientific writing is to know therepresentation of power and knows racism visualization through class divisions that exist inthis film. Meaning of a positive peace which is to be conveyed through “A Time to Kill”movie as if such membranes covering the white American superiority against the blackcommunity.Method of approach used in this study is semiotics. Basic understanding ofsemiotics is the study of signs. To assess the meaning of the sign is contained in the film, thisstudy uses a semiotic analysis method refers to the CS Peirce theory with the identificationof triangular relations between signs, users and external reality as a necessity model toexamine meaning. Representation and semiotics have a relationship in the discussion ofculture. Both of these are systems that arise in any discussion related to the culture. Keep inmind that the culture formed by the division or exchange of a lot of meaning. Power inrepresentation shows how power can mark or a specific value, specify and classify. Powermust be understood not only in terms of economic exploitation and physical coercion, butalso must be understood in the broader perspective of cultural and symbolic terms.Therefore, it will be critically important to understand how the representation ofpower and racism in the movie even though the movie aims to show the positive side ofhumanity. It could be that there is inequality strength (power) striking between the groupswith each other, there are those who are weak and there are those who are stronger anddominate many things and eventually created a concept of the common view of thedifference in strength or power.4REPRESENTASI KEKUASAAN KULIT PUTIH AMERIKA TERHADAP KAUMAFRIKA AMERIKA DALAM FILM A TIME TO KILL1.1 Latar BelakangLatar waktu pada film tepatnya diatur memasuki tahun 1982. Dimana padawaktu ini sang penulis John Grisham sebelum menjadi novelis yang sebelumnyamerupakan seorang pengacara pernah menangani kasus serupa. Novel pertamanya, ATime to Kill, terinspirasi dari kesaksian seorang perempuan berusia 10 tahun yangdibelanya yang menjadi korban perkosaan dan penganiayaan. Grisham begituterobsesi dengan perkara tersebut. Grisham menuturkan,”Apa yang akan terjadi jikaayah si gadis cilik itu membunuh para pemerkosanya. Saya akan menuliskannyakembali.”(http://sosok.kompasiana.com/2013/05/05/grisham-pengacara-yang-sukses-jadi-novelis-557505.html)Peneliti melihat novel populer ini sangat kontroversial dan sangat beranidengan judul yang sama dengan filmnya. John Grisham berani memutar ceritaberdasarkan pengalamannya dengan memposisikan seorang kulit hitam membunuhdua orang kulit putih karena dendam demi kehormatan dan keadilan. Ada maknayang ingin disampaikan John Grisham melalui novel ini berdasarkan judulnya, yaitumomentum seorang individu (kulit hitam) yang merasa sudah seharusnya membunuhorang kulit putih karena telah menghancurkan masa depan putrinya yang ia sayangi ,tidak akan ada waktu yang tepat bila kita menunggu karena waktu yang tepatditentukan oleh kita sendiri. Pemeran kulit hitam seakan diceritakan oleh JohnGrisham akhirnya sebagai pengambil keputusan, “sudah waktunya saya bertindak dansudah waktunya saya harus membunuh bila kehormatan dan keadilan tidak bisadiselamatkan” (A Time to Kill).Namun dibalik tujuan menggambarkan sebuah kerjasama antar ras terdapatbias yang terjadi dalam film ini yang bukan terkait makna kerjasama antar rasmelainkan ada makna tanda lain yang lebih dominan mengangkat citra kulit putih dansecara visual membentuk sikap rasis yang semuanya itu digambarkan secarakompleks melalui permainan dan kontrol kekuasaan yang didominasi oleh kulit putih.Oleh karena itulah, penulis sangat tertarik untuk mengangkat masalah ini sebagaibahan pembuatan penulisan ilmiah dengan memberi judul “Representasi KekuasaanKulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika Amerika dalam Film A Time to Kill”.5Film A Time to Kill juga memunculkan salah satu terminologi sosiologisberupa pembentukan kaum mayoritas dan minoritas. Dalam kehidupanbermasyarakat, hampir dimana ada kelompok mayoritas, baik di bidang agama,ekonomi, moral, politik, dan sebagainya. Minoritas lebih mudah ditindas dan lebihsering mengalami penderitaan karena tekanan oleh pihak mayoritas. Hubungan antarakaum mayoritas-minoritas sering menimbulkan konflik sosial yang ditandai olehsikap subyektif berupa prasangka dan tingkah laku yang tidak bersahabat(Schwingenschlögl, 2007). Secara umum, kelompok yang dominan cenderungmempertahankan posisinya yang ada sekarang dan menahan proses perubahan sosialyang mungkin akan mengacaukan status tersebut. Ketakutan akan kehilangankekuasaan mendorong mereka untuk melakukan penindasan dan menyia-nyiakanpotensi produktif dari kaum minoritas (Griffiths, 2006).1.2 Rumusan MasalahSecara visual umum film A Time To Kill menggambarkan perjuangan seorangkulit hitam, dimana dia harus membunuh dengan cara main hakim sendiri yaitumenembak dengan membabi buta kedua pelaku pemerkosa putrinya. Eksekusi dengandasar dendam ini dilakukan di aula pengadilan di muka umum saat dimana parapelaku pemerkosa tersebut akan diadili. Tindakan tersebut dilakukan oleh kulit hitamyang mengeksekusi dua orang kulit putih yang mana berdasarkan visualisasi latarbelakang waktu film ini digambarkan masih dalam era rasisme Amerika.Penggambaran film ini memperlihatkan bagaimana kasus ini diproses secara hukumdan di dalamnya secara jelas memperlihatkan dominasi tokoh kulit putih dalammenyelesaikan kasus pembunuhan interasial ini. Pengacara kulit putih dan timnyayang bersedia membela dan datang sebagai “pahlawan”, pengacara yang cerdas, danpantang menyerah. Berbeda dengan tokoh utama kulit hitam yang digambarkansebagai buruh, main hakim sendiri, emosional, dan pasrah terhadap kasus yangsedang dijalaninya kepada pengacaranya.Dalam merumuskan masalah ini, penulis akan mengemukakan beberapapermasalahan yang berkaitan dengan penjelasan di atas, yaitu sebagai berikut :1. Bagaimana representasi kekuasaan kulit putih dalam film A Time to Kill terjadi ?2. Bagaimana visualisasi rasisme dipraktikkan dalam peran dan tokoh film A Time toKill ?61.3 Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui adanya representasi kekuasaan kulit putih di Amerika dalamfilm A Time to Kill.2. Untuk mengetahui visualisasi rasisme dan pembagian kelas di Amerika yang adadalam film A Time to Kill.1.4 Maanfaat Penelitian1. Secara Teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan danmenggambarkan bagaimana proses terjadinya konstruksi sosial di dalam mediakhususnya dalam film A Time to Kill. Dalam film ini terdapat konstruksi sosialyang divisualisasikan antara kelompok mayoritas dengan minoritas yang jugadikaitkan dengan sebuah permainan kekuasaan serta rasisme disertai pemisahankelas yang secara tidak langsung dilakukan pihak mayoritas di balik tujuan untukmembantu minoritas.2. Secara Praktis, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikankesadaran kepada masyarakat agar dapat memahami bagaimana kekuasaan itudapat dimainkan di dalam kehidupan khususnya melalui media dengan berbagaibentuk baik itu dilakukan secara negatif ataupun di balik perilaku kekuasaan yangpositif. Masyarakat pun harus paham akan bagaimana kekuasaan baik dalam mediaataupun tidak melalui media dapat menciptakan suatu pembedaan dalammasyarakat itu sendiri bisa dalam hal paham, keyakinan atau agama, ras dan lainsebagainya. Khalayak luas pun harus dapat memahami secara kritis dan bijakterhadap pembedaan yang menciptakan perbedaan tersebut.1.5 KERANGKA TEORI1.5.1 State of The ArtPenelitian terkait representasi rasisme dalam penelitian melalui film sudahdilakukan oleh peneliti sebelumnya. Peneliti sebelumnya menjelaskan danmenggambarkan lebih mendalam terkait representasi rasisme dan kelas yangdiceritakan dalam film. Fenomena sosial seperti rasisme memang sering munculdan diangkat dalam media massa khususnya melalui film.7Penelitian sebelumnya hanya fokus pada representasi rasisme dan belumbanyak mengaitkan faktor representasi kekuasaan yangmembentuk pencitraanrasisme dan stereotyping suatu kelas dalam film. Ada hal menarik untuk ditelitilebih lanjut yaitu adanya bentuk representasi kekuasaan tersembunyi yangdilakukan oleh pihak dominan (di dalam film) sehingga menciptakan suatustereotyping kelas dan semuanya itu dicitrakan dalam beberapa film yangumumnya melibatkan tokoh-tokoh yang berbeda latar belakang budaya, agama,warna kulit, dan lain sebagainya.1.5.2 Fungsi Media (Film) Dalam Semiotika KomunikasiFungsi film yang bersifat audio visual atau bahkan dengan tambahan teksakan memudahkan makna dari tanda (sign) muncul ke permukaan sehinggapenonton dapat memahami semiotika komuikasi yang bisa jadi terlalu rumit dansulit dipahami maknanya. Penonton film yang mendengar dan melihat, memilikipemahaman tanda yang lebih cepat dimaknakan dibandingkan seorang pendengaraudio saja (contoh: radio) atau seorang yang hanya melihat secara visual tanpa teks(contoh: gambar poster).1.5.3 Representasi dan SemiotikaRepresentasi dan semiotika memiliki suatu hubungan dalam pembahasankebudayaan. Kedua hal ini merupakan sistem yang muncul dalam setiappembahasan terkait dengan budaya atau culture. Perlu diketahui bahwa budayaterbentuk dari proses pembagian atau pertukaran dari banyak makna (sharedmeanings) (Hall, 1997:1). Dalam pendekatan semiotika, sebuah representasidimengerti sebagai basis jalur kata-kata yang berfungsi sebagai tanda yangterdapat di dalam bahasa (Hall, 1997:42). Representasi dalam semiotika lebihmemikirkan pada representasi sebagai sebuah sumber produksi pengetahuan sosialatau social knowledge. Pengetahuan sosial ini merupakan sistem yang lebihterbuka, serta terhubung lebih banyak dan mendalam di setiap praktek-prakteksosial.Kekuasaan tidak hanya harus dimengerti dalam terminologi eksploitasiekonomi dan paksaan fisik, tapi juga harus dipahami lebih luas dalam sudutpandang kultural dan terminologi simbolik, termasuk juga kekuasaan untukmerepresentasikan seseorang atau sesuatu dengan cara tertentu, hingga dapatdikatakan terdapat „rezim reperesentasi‟ di dalamnya (Hall, 1997:259). Hal initermasuk dalam penggunaan simbol kekuasaan (symbolic power) melalui praktek8praktek representasional. Stereotyping adalah elemen kunci dalam penggunaan„simbol kekejaman‟.1.5.4 Diskursus Dalam MediaSinema atau film dapat dikatakan merupakan salah satu institusi mediatekstual yang berperan menampilkan berbagai bentuk nilai sosial atau tanda dalambentuk imaji audio dan visual hingga dapat memproduksi efek realitas tertentu dimasyarakat. Diskursus dalam media erat kaitannya dengan kekuasaan yang munculdalam percakapan.1.5.5 Stereotype dan KekuasaanStereotype adalah citra mental yang melekat pada sebuah grup ataukelompok. Pengertian lain dari stereotype adalah penilaian terhadap seseoranghanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapatdikategorikan. Stereotype merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secaraintuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks danmembantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.Bias dalam film A Time to Kill terlihat mengarah pada penggunaankekuasaan kaum dominan yaitu orang kulit putih Amerika. Ada suatu gambaranpendiktean oleh sebuah kekuasaanyang dianggap lebih pintar dan bijak dalammenyelesaikan masalah rasisme serta dapat menjadi solusi terbaik. Kekuasaanbijak tersebut seakan direpresentasikan melalui tokoh-tokoh orang kulit putih.Dalam psikologi sosial interpersonal dan intergroup terdapat penjelasan dariSusan Fiske yang dibantu oleh kolega-koleganya (berdasarkan pengaruh teoriDacher Keltner) telah mengembangkan teori power as control (PAC) melaluiberbagai penelitian lab, survey, dan bidang neuroscientific (Dowding, 1996:504).Dalam hal ini PAC dapat diteliti berdasarkan gambaran kondisi dan situasi yangmemungkinkan suatu kekuasaan atau power muncul, dan melalui beberapadiskusi terkait bagaimana kekuasaan itu digunakan apakah untuk tujuan yang baikatau untuk menyakiti.91.5.6 Konsep Marxisme Dalam Media (film) Melalui Kode Konsepsi KelasBentuk metodologi Marxis dan kritiknya terhadap formasi sosialmenciptakan sebuah kelas. Berikut ini merupakan penjelasan serta contoh kasuspemetaan kelas yang divisualisasikan dalam sebuah film populer yang bersumberdari buku Marxism and Media Studies.1.5.6.1 Memetakan kelas (mapping class)Pembelajaran sekarang mengenai kelas sosial telah difokuskan padakelas menengah white-collar/kerah putih yang tidak manual dan kelas pekerjablue-collar manual. Kelas-kelas tersebut sering dibagi lagi dalam berbagaitingkatan dalam bentuk kategori-kategori pekerjaan. Klasifikasi khususnyaadalah sebagai berikut:Kelas menengah : profesional yang lebih tinggi, manajerial dan administrative,Ahli/profesional yang lebih rendah, manajerial danadministratifKelas pekerja : kemampuan manual (Skilled Manual) Kemampuan semimanual(semi-skilled manual)  Tidak memiliki kemampuan manual (unskilledmanual) (Haralambos 1985:48)1.6 Metodologi Penelitian1.6.1 Tipe PenelitianPenelitian tentang bias kekuasaan kaum kulit Amerika dalam film A Timeto Kill merupakan studi yang menggunakan pendekatan interpretif (subjektif)kritis dengan desain penelitian deksriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif bertujuanuntuk mempersilahkan pembaca mengetahui apa yang terjadi dalam penelitiantersebut dan bagaimana subjek memandang atau bahkan menilai kejadian tertentu.Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong,2004:3) mengemukakan metode kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kataatau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapatdiamati.101.6.2 Subjek PenelitianSubjek penelitian yang digunakan dalam penelitian berikut adalah film ATime to Kill yang rilis di Amerika tahun 1996. Film ini diangkat dari novel dengandengan judul serupa karya John Grisham yang secara garis besar menceritakankrisis dan konflik rasial antara kulit putih Amerika dengan kaum kulit hitam AfrikaAmerika.1.6.3 Metode RisetMetode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalahsemiotika. Pengertian dasar semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Studitentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya,hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya olehmereka yang menggunakannya. Menurut Preminger (2001), ilmu ini menganggapbahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tandatanda(Kriyantono, 2006:265). Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan,konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita; tandamengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri; dan bergantung pada pengenalanoleh penggunannya sehingga bisa disebut tanda (Fiske, 2011:61)Fokus penelitiannya adalah bagaimana bias kekuasaan direpresentasikandalam film A Time to Kill. Untuk mengkaji makna tanda-tanda yang terkandungpada film, penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yang mengacupada teori Roland Barthes dengan model semiotika berupa signifier(penanda/teks), signified (petanda/konteks), sign (tanda).Stereotype negatif yang dilekatkan pada tokoh kulit hitam di film ini seakansudah menjadi mitos sejarah yang terus terpelihara dan dibenarkan sebagai budakdengan gambaran tanda atau sign kehidupan yang “kumuh”, “kurang terdidik”,“kasar / barbar” dan “sumber masalah”. Sedangkan tokoh-tokoh kulit putih (peranpengacara dalam film ini) secara dominan digambarkan secara lebih positif, “punyakuasa”, “berpenampilan rapih”, “lebih terdidik”, dan “seorang yang dapat mengontrolsituasi”, layaknya gambaran tuan tanah yang berusaha mengatasi aksi protes budakkulit hitam di masa sejarah rasisme.Denotasi yang muncul dari cuplikan gambar berupa seorang kulit hitamdengan penampilan lusuh menembakkan senjata, kemudian berada di penjara.11Ditambah lagi dalam gambar pemeran kulit hitam tersebut sempat berkata keras dankasar di persidangan yang ditujukan pada para pemerkosa yang sudah ia tembaksampai mati, “Yes, they deserve to die, and I hope they burn in Hell” (ya, merekapantas mati, dan saya berharap merek terbakar di neraka). Peran kulit putih adagambar selanjutnya digambarkan rapih, bersih, dan terpelajar (sebagai pengacara).Konotasi positif muncul pada peran kulit putih yang “jas dan berdasi” denganpekerjaan sebagai pengacara sehingga dimaknakan “punya kuasa atau berkuasa”untuk bertindak.1.6.4 Jenis DataSumber data penelitian ini adalah data teks, dimana data kualitatifberasal dari teks-teks tertentu. Penggunaan data ini disesuaikan denganpendekatan sistem tanda di dalam proses penelitian khususnya analisis semiotik.Berdasarkan buku Riset Komunikasi (Kriyantono, 2006:38), dalam kajiankomunikasi segala macam tanda adalah teks yang di dalamnya terdapat simbolsimbolyang sengaja dipilih, di mana pemilihan, penyusunannya, danpenyampaiannya tidak bebas dari maksud tertentu, karena itu akan memunculkanmakna tertentu. Sistem analisis yang dikembangkan yaitu sistem konotasi dandenotasi. Kata konotasi berasal dari bahasa latin “Connotare” menjadi tanda danmengarah kepada makna- makna kultural yang terpisah atau berbeda dengankata dari bentuk-bentuk komunikasi. Kata konotasi melibatkan simbol –simbol,historis dan hal – hal yang berhubungan dengan emosional. Denotasi dankonotasi menguraikan hubungan antara signifier dan referentnya. Denotasimenggunakan makna dari tanda sebagai definisi secara literal atau nyata.Konotasi mengarah pada kondisi sosial budaya dan emosional personal.1.6.5 Sumber DataData yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu :a. Data Primer, data ini diperoleh langsung dari objek penelitian yaitu dari filmA Time To Kill, yaitu akting, dialog, dan alur cerita.b. Data Sekunder, yang diperoleh dari sumber lain yaitu studi kepustakaandalam bentuk buku atau melalui situs internet, baik teori maupun informasiyang berkaitan dengan film A Time to Kill.121.6.6 Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang dilakukan adalahdengan studi dokumenter(documentary study).Studi dokumenter merupakan suatu teknik pengumpulan datadengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen,baik dokumentertulis,gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh kemudiandianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasilkajian yang sistematis, padu dan utuh. Dalam penelitian ini film A Time to Killadalah objek utama penelitian yang nantinya akan dibantu dengan data-datapustaka atau dokumen lainnya terkait tujuan pembongkaran tanda-tandarepresentasi kekuasaan dan stereotype yang bersifat rasis.1.6.7 Teknik Analisis DataKode televisi sebuah acara atau film yang ditayangkan sudah dikodekan olehkode-kode sosial dalam beberapa tingkatan (Fiske, 2001:7-13) mulai dari;Tingkat satu:Reality, Tingkat dua : Representation, Tingkat tiga :Ideology (Ideologi)Realitas:Pengaturan Kamera (Camera Work), Pencahayaan (Lightning), Editing, Music,Casting, Setting and Costume, Tata Rias (Make Up), Action, Percakapan(Dialogue), Ideological Codes.1.6.8 Unit AnalisisUnit analisis dalam penelitian ini adalah teks visual dan audio yang ada dalambeberapa adegan dari film yang mencangkup gambar, narasi / copywriting, musik,warna, serta konteks cerita A Time to Kill.KesimpulanSetelah dilakukan penelitian dan kajian pustaka tentang film A Time to Killmemang dapat disimpulkan adanya nilai kemanusiaan yang kental melalui visualisasicerita. Tapi peneliti tidak melihat hanya dari nilai kemanusiaan yang menjadi intisaridari film ini, hal lainnya yang dapat digali lebih dalam untuk mengetahui kenyataanyang terlihat semu. Berdasarkan perumusan masalah maka peneliti dapat mengambil13beberapa kesimpulan bahwa film A Time to Kill secara keseluruhan penuh denganrepresentasi kekuasaan mutlak akan “kekuatan” yang lebih dominan yaitu orang kulitputih terhadap kaum negro. Saat peneliti mengesampingkan nilai kemanusiaan dalamfilm ini dan mencoba melihat lebih dalam dibalik “topeng” kemanusiaan itu sendiri.14DAFTAR PUSTAKABerger, Arthur Asa. 1982. Media Analysis Techniques.California. Sage Publications.Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PTRajagrafindoPersada.Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.Davis, Kenneth C. 2003. Don’t Know Much About History. New York: Harper-Collins Publishers.Dowding, Keith. 1996. Encyclopedia of Power. London: Sage Publications.Fiske, John. 2001. Television Culture. London: The Taylor and Francis Group elibrary.Fiske, John. 2011. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Foucault, Michel. 1997. Seks dan Kekuasaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representation and Signifying Practies.London: Sage Publications.Kriyantono, Rachmat. 2006. Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group.Mulyana, Deddy. 2006. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Remaja RosdakaryaThwaites, Davis dan Warwick Mules. 2009. Introducing Cultural and Media Studies.Yogyakarta: Jalasutra.Wayne, Mike. 2003. Marxism and Media Studies: Key Concept and ContemporaryTrends. London: Pluto Press.15
Audience Interpretation of Humor Style on Redaksiana Crime News Maulana Khalidin .; Triyono Lukmantoro .; Taufik Suprihartini .; Turnomo Rahardjo .
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.549 KB)

Abstract

Until now, television in Indonesia is still become primary mass media for audience. They make television as an information resources, entertainment, education, and reflection of our society for social control. Humor has became main part of entertainment on our television since a long time ago. Almost all of the television stations has made humor program, and Redaksiana is one of them. A program that broadcasted by Trans 7 is a news crime which is interspersed with humor. But, humor element that used by Redaksiana exploits a group in our society. So, this research aims to know about audience interpretation of humor style on Redaksiana. This research was a descirptive type of research with qualitative. The subjects are five informant with different social and culture.This study used preferred reading theory by Stuart Hall. In reception analysis, the findings research that derived from interview would raised three main types of interpretation. That findings research is there are two informants who performs dominant hegemonic reading that interpreted Redaksiana as an entertainment and informative program. The oppositional reading consist of one person has made critical interpretation that Redaksiana is not entertaining, informative and has exploited the lower classes. Meanwhile, negotiated reading group has two informants has made two side of interpretation, that is lower classes exploitation is awful action. But, they assume that is fair because media institutions is profit oriented. So, they tend to do hegemonic and negotiated reading. The study of humor style interpretation on Redaksiana news can be made as a foundation for the next researches and study in active audience field adds study about preferred rading theory.
Pengaruh Terpaan Iklan Sampo Clear dan Kelompok Referensi terhadap Keputusan Pembelian Sampo Clear Florensia Sonia Haniswari; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.175 KB)

Abstract

Clear is a shampoo brand that focuses on the problem of dandruff that promotes its products through advertising on various media, but sales of Clear shampoo have always declined over the past five years with an average decline of 1.06% annually. This study aims to analyze the effect of Sampo Clear advertising exposure and reference groups on the decision to purchase Clear Shampoo. The theory used is Advertising Exposure Theory to support the influence of Clear Shampoo exposure and Social Influence Theory to support the influence of reference groups on Clear Shampoo purchasing decisions. This research is a type of descriptive research with non probability incidental sampling technique. The study was conducted on 100 respondents aged 18-35 years who lived in Semarang, had seen Sampo Clear advertisements, knew about Sampo Clear products, and had considered buying Clear Shampoo. Data analysis was carried out by a simple linear regression test using SPSSS which was done twice to test each hypothesis. The results of the study show that consumers have a fairly good understanding of the contents of Clear Shampoo ads. However, from the hypothesis test, the results show that the exposure of Clear Shampoo (X1) does not have a significant effect on the purchase decision of Clear Shampoo (Y), which is indicated by a significance value> 0.05, which is 0.654, so the first hypothesis is not accepted. While the reference group (X2) has a very significant influence on the decision to purchase Clear Shampoo (Y) because the test results show a positive correlation and a significance number of 0,000 so that the second hypothesis is accepted. So the researchers suggested Clear to use a more creative promotion strategy to encourage people to talk about Sampo Clear, which then directed them to purchase, but did not eliminate the advertisement because the reminding function and the informing went well.
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP KONSTRUKSI REALITAS DALAM ACARA PARODI POLITIK SENTILAN SENTILUN Karina Puspadiati; Turnomo Rahardjo; Much Yulianto; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.199 KB)

Abstract

Seiring dengan adanya kebebasan pers khususnya penyiaran di Indonesia, semakin banyak media yang memproduksi tayangan di televisi dengan berbagai konsep yang menarik. Talk show bertemakan parodi politik salah satunya yang kini menghiasi program di berbagai stasiun televisi di Indonesia. Masyarakat yang kini sudah mulai jenuh dengan kegiatan politik praktis, menjadikan acara parodi politik sebagai salah satu pilihan acara hiburan yang sekaligus memberikan pendidikan politik. Acara Sentilan Sentilun merupakan salah satu acara parodi politik yang dikemas dengan konsep teater yang membahas mengenai isu sosial politik di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai pemaknaan khalayak terhadap konstruksi realitas dalam acara parodi politik Sentilan Sentilun. Berangkat dari persoalan tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi. Dalam pelaksanaannya, proses penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam secara tatap muka dengan empat informan. Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang pernah menonton acara Sentilan Sentilun. Keempat informan tersebut memiliki tingkat pendidikan dan lingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara tersebut informan sebagai penghasil makna menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Sentilan Sentilunsecara beragam.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa para informan memiliki kemampuan untuk memfilter diri dari apa yang disajikan oleh media massa. Para informan memiliki dasar sebagai khalayak aktif, mereka dapat memilih dan mengambil keputusan sesuai kehendaknya masing-masing dalam penggunaan media apa dan media mana yang diinginkannya. Dalam mengkonsumsi media didasari dengan alasan dan tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai isu sosial politik yang ada di Indonesia. Terdapat kesamaan pendapat dari para informan bahwa acara Sentilan Sentilun mampu menyampaikan informasi mengenai isu sosial politik yang selama ini terkesan kaku dan berat dengan penyampaian pesan yang lebih santai dan mudah dimengerti oleh khalayak.Kata kunci: parodi politik, Sentilan Sentilun dan konstruksi realitas.

Page 79 of 157 | Total Record : 1563