cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Karya Bidang Program Tayangan Gitaran Sore-Sore PROTV (Divisi Business and Communication, dan Dokumentasi) Nadia Dwi Agustina; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.959 KB)

Abstract

Kehadiran televisi lokal memberikan tayangan yang berbeda dari tayangan televisi nasional yaitu dengan konten acara yang menitik beratkan kepada potensi budaya lokal yang ada di setiap daerah sehingga bisa menumbuhkan kedekatan antara penonton dengan sebuah tayangan.Hal ini merupakan kekuatan tersendiri dari Televisi lokal. Namun nyata-nya hal itutidak mampu membuat televisi lokal seperti PROTV dengan Tayangan Gitaran Sore Soremenjadi pilihan utama tontonan bagi masyarakat Semarang karena belum adanya jembatan antara masyarakat dengan Gitaran Sore Sore. Karya Bidang ini bertujuan untuk membangun sebuah jembatan dengan tujuan meningkatkan behavior menonton acara Gitaran Sore Sore dengan membawa pesan “Jelajah Dunia Semarang Lewat Obrolan”..Dengan memiliki pemahaman tentang kondisi psikografis dari masyarakat, kemampuaan berkoordinasi dengan baik, menjalin relasi dengan para stake holder maupun hal lainnya yang dilaksanakan secara tepat, Tugas yang dibebankan kepada penulis dapat dikatakan berhasil.Berdasarkan hasil riset yang dilaksanakan setelah kegiatan berlangsung goals frekuensi menonton (1 kali dalam seminggu) tayangan Gitaran Sore-Sore di jam tayang yang baru mampu mencapai 64% dari yang semula 31%. Berarti kenaikan yang dicapai yaitu 33%, melebihi target yang berjumlah 20%.Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk Divisi Produksi bisa dipenuhi serta mendapatkan surplus dari Sponsor yang di dapat oleh divisi promosi. Beberapa pengiklan pun tertarik untuk beriklan Maka dapat dikatakan Produksi Program Tayangan Gitaran Sore Sore berhasil, Kata Kunci : Media, Sponsor, Televisi lokal.
Alpha Female Representation as Ideal Women in Henry Manampiring’s The Alpha Girls Guide Haekal Muhammad; Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.917 KB)

Abstract

This research started from the hardship that women experience. Currently women are still being discriminated and face obstacles for life in a lot of sectors. One of the solution provided comes from Henry Manampiring who introduced the concept of Alpha Female in his book named The Alpha Girls Guide: Menjadi Cewek Smart, Independen, dan Anti-Galau. This research aimed to understand how Alpha Female Representation written in Henry Manampiring’s book work as a form of empowerment to women. Analysis done using Roland Barthes’ semiotic models and Naomi Wolf’s Power Feminism Theory. The analysis is targeted to the chapters in Alpha Girls’ Guide The research concludes that most of this book support women to be empowered by providing women with choices, supporting women in career and education sector, defending woman to be respected, and inviting wmen to inspire other woman to move forward. However, in certain parts Manampiring is still trapped in patriarchal concept that still chained women and failed to defend women’s choice that has differences with the concept that he suggest. The example is the ban on woman to initiate relationship first, the impression that shown woman as the only responsible actor in nurturing and educating children, and push to woman to beautify themselves even if its only done for their own self and not for others. More than that, Manampiring tends to use masculine language that may be hard to accept for some woman. Ultimately, Alpha Female representation as an ideal women lead to empowerment that still has some issues and can’t be applied to all women.
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku Menyalakan Lampu Utama Sepeda Motor Anggi Pramesthi Kusumarasri; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.388 KB)

Abstract

SUMMARY PENELITIANHubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat PemahamanPesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku MenyalakanLampu Utama Sepeda MotorBAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGMasalah sosial yang akhir-akhir ini banyak diberitakan media salahsatunya adalah kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas memakan korbantidak sedikit. Masalah ini memang merupakan masalah keselamatan berkendara dijalan. Namun menjadi masalah social kala menjadi sorotan dan perhatianmasyarakat. Polri sebagai salah satu lembaga pemerintahan yang bertugasmenangani langsung masalah lalu lintas tidak tinggal diam.Banyak upaya yang dilakukan oleh Polri dalam mengubah perilakumasyarakat agar lebih sadar tentang keselamatan berkendara. Bentuk kampanyePolri untuk menekan angka kecelakaan salah satunya yaitu kampanye sosial LightOn. Kampanye sosial Light On merupakan imbauan pada masyarakat penggunakendaraan sepeda bermotor untuk menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Asumsi dari menyalakan lampu sepeda motor pada siang dan malamhari tersebut adalah, sepeda motor akan lebih mudah terlihat oleh pengemudisepeda motor dan pengemudi kendaraan bermotor lainnya. Dengan demikian,pengemudi kendaraan bermotor lainnya akan lebih waspada dan berhati-hatisecara psikologis dalam berkendara (Lukas Adi Prasetya, 2009).Kewajiban menyalakan lampu tersebut sesuai dengan UU No 22/2009pasal 107, “Pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utamakendaraan bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisitertentu (1), Pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimanadimakusd pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari(2)”.Sejak disahkannya UU No 22/2009 pada 22 Juni 2009, kampanye sosialLight On disosialisasikan dan mulai diterapkan pada masyarakat. Namun, selamapertengahan tahun 2009 hingga akhir tahun 2010, Polri hanya memberikanimbauan pada masyarakat pengendara sepeda motor untuk menyalakan lampupada siang hari. Hingga akhirnya pada Januari 2011 mulai ada penindakan olehPolri dengan mengenakan sanksi pada pengendara yang tidak menyalakan lampumotor di siang hari.Meskipun telah intens dalam memberikan imbauan menyalakan lampumotor pada siang hari, masih banyak pelanggaran yang terjadi. Menurut datapelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dari Ditlantas Polda JawaTengah, Polresta Surakarta menyajikan data dengan pelanggaran tertinggi yaitu3.105 kasus.Berbanding terbalik dengan kondisi di Kota Solo, Kabupaten Magelangmenyajikan data pelanggaran dengan kasus paling rendah. Pelanggaran diKabupaten Magelang pada tahun 2011 berjumlah 10 kasus. Selisih angka antaraKota Solo dan Kabupaten Magelang cukup tinggi. Dengan cara sosialisasi yangsama, namun hasil dari kampanye sosial Light On berbeda di setiap kota. Bedakota tentunya berbeda pula kondisi demografinya.1.2 PERUMUSAN MASALAHMenurut data pelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dariDitlantas Polda Jawa Tengah, Polresta Surakarta menyajikan data denganpelanggaran tertinggi yaitu 3.105 kasus. Jumlah pelanggaran tersebut termasukangka yang tinggi mengingat sosialisasi yang dilakukan oleh Polri selama satusetengah tahun sudah sangat intens. Berbeda dengan Kota Surakarta, KabupatenMagelang memegang peringkat terendah terhadap jumlah pelanggaran Light Ondengan jumlah hanya 10 pelanggaran.Kondisi di tiap wilayah kota dan kabupaten di Jawa Tengah tentu saja berbedadari berbagai aspek. Salah satu perbedaan dari tiap daerah dapat diihat darikondisi demografisnya. Perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On juga yang mungkin membuat masyarakatberbeda perilaku mengenai kepedulian keselamatan berkendara.Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka timbullah pertanyaansebagai berikut, “apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkatpemahaman pesan kampanye social Light On dengan perilaku menyalakan lampusepeda motor?”BAB IIANALISIS HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DANPEMAHAMAN PESAN KAMPANYE SOSIAL LIGHT ON DENGANPERILAKU MENYALAKAN LAMPU SEPEDA MOTOR2.1 Landasan TeoriKecelakaan di jalan saat kita berkendara merupakan hal yang akhir-akhirini semakin sering terjadi. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh Polri untukmenanggulangi angka kecelakaan yang terus meningkat setiap tahunnya. Upayayang pernah dilakukan oleh Polri salah satunya adalah menggalakkan Light On,yaitu imbauan bagi pengendara menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Agar segala sesuatu tentang Light On ini diketahu oleh masyarakat,maka perlu diadakan sosialisasi melalui penyampaian pesan dan informasi.Kegiatan yang paling tepat dalam hal ini yaitu dengan diadakannya kampanyekomunikasi.Rogers dan Storey mendefinisikan kampanye sebagai serangkaiantindakan komunukasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentupada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurunwaktu tertentu. Merujuk pada definisi ini, maka setiap aktivitas kampanyekomunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yakni (1) tindakankampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu (2)jumlah khalayak sasaran yang besar (3) biasanya dipusatkan dalam kurun waktutertentu dan (4) melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi(Venus, 2009:7).Kampanye pada hakikatnya adalah tindakan komunikasi yang bersifat goaloriented (Venus, 2009:25). Semua kegiatan kampanye pasti ada tujuan yang ingindicapai oleh penyelenggara kampanye. Dalam menjalankan kampanye agar tujuandapat dicapai, tentu tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan atau perencanaan.Pelaksana kampanye harus menyusun manajemen kampanye secara sistematis danefektif. Manajemen kampanye adalah proses pengelolaan kegiatan kampanyesecara efektif dan efisien dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang adaguna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Apapun latar belakang kampanye, suatu gagasan pada akhirnya akandiwujudkan dalam bentuk yang bisa disampaikan kepada khalayak. Pesan-pesaninilah yang akan dipersepsi, ditanggapi, diterima atau ditolak oleh khalayak.Pesan-pesan kampanye dirancang secara sistematis agar dapat memunculkanrespon tertentu dalam pikiran khalayak. Agar respon tersebut muncul, mkaprasyarat yang harus dipenuhi adalah adanya kesamaan pengertian danpemahaman tentang symbol-simbol yang digunakan antara pelaku dan penerima(Venus, 2009:70)Kampanye sosial sebenarnya adalah kegiatan persuasi terhadap targetsasaran agar menimbulkan efek dari segi sikap dan perilaku. Namun perlu diingatbahwa membuat seseorang untuk bertindak adalah lebih sulit daripada mendorongmereka untuk berpikir tentang suatu hal. Setiap kegiatan kampanye memerlukanstrategi komunikasi yang merupakan perencanaan dan manajemen untukmencapai tujuan tertentu dalam praktik operasionalnya (Ruslan, 2007:38). Dalamkampanye sosial Light On ini tentu dibutuhkan strategi komunikasi yang baikuntuk menyampaikan pesan guna mencapai tujuannya, yaitu agar masyarakat maumenyalakan lampu sepeda motor.Pesan atau informasi yang berasal dari kampanye sosial Light Ondisampaikan kepada masyarakat sebagai sasaran yang dituju oleh programkampanye tersebut. Kampanye ini memakai media untuk menyampaikan pesanatau informasi tersebut. Mempertimbangkan bagaimana cara menyampaikan isipesan kampanye termasuk ke dalam manajemen kampanye. Penggunaan mediapada proses berlangsungnya kampanye sosial tidak akan pernah lepas sebagai alatuntuk menyampaikan pesan. Fungsi media massa adalah menyampaikan informasitentang keadaan disekitarnya kepada masyarakat. Fungsi menyampaikaninformasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagipembaca, pendengar atau pemirsa. Proses penyebaran informasi ini disebutdengan komunikasi massa.Mass communicatin is the process whereby media organizations produceand transmit messages to large publics and the process by which thosemessagse are sought, used, and influenced by audiences. Mediaorganizations distribute messages that affect and reflect the cultures ofsociet, and they provide information simultaneously to largeheterogeneous audiences, making media part of society’s institutionalforces (Littlejohn, 2004:273).Komunikasi massa adalah proses di mana media memproduksi danmengirim pesan-pesan kepada khalayak luas dan proses yang mana pesan tersebutdicari, digunakan, dan dipengaruhi oleh audiens. Media mendistribusikan pesanpesanyang mempengaruhi dan mencerminkan budaya masyarakat, dan pesanpesantersebut menyediakan informasi secara berkelanjutan pada audiens yangluas, membuat media bagian dari perangkat institusi masyarakat.Iklan-iklan layanan masyarakat mengenai Light On yang dikeluarkan olehPolri merupakan komunikasi massa melalui surat kabar, majalah, radio, televisi,leaflet, poster, spanduk, MMT, billboards, dan lain-lain. Dikategorikan sebagaikomunikasi massa (nonpersonal) karena perusahaan sponsor (penyelenggarakampanye) tersebut secara simultan berkomunikasi dengan penerima pesan yangberanekaragam, bukan kepada individu tertentu atau personal atau kelompok kecil(Shimp, 2003:5). Demikian pula dengan publisitas, hampir sama dengan iklannamun penyelenggara kampanye tidak mengeluarkan biaya untuk waktu danruang beriklan. Publisitas biasanya dilakukan dalam bentuk berita atau komentareditorial mengenai produk atau jasa dari perusahaan. Bentuk-bentuk ini dimuatdalam media cetak atau televisi secara gratis karena perwakilan mediamenganggap informasi tersebut penting dan layak ditampilkan kepada khalayakmereka (Shimp, 2003: 6). Misalnya sosialisasi Light On diberitakan dalam mediacetak,media menginformasikan kepada khalayak bahwa menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari penting untuk mengurangi angkakecelakaan. Data dari Polri mengenai turunnya angka kecelakaan yang diberitakandi media juga merupakan publisitas kampanye sosial Light On karena dianggapinformasi ini penting bagi masyarakat.Selain iklan dan publisitas, kampanye sosial Light On juga menggunakanambient media untuk melengkapi sarana penyampaian pesan kampanye. ambientmedia yang menyerupai bat untuk bermain tenis meja. Di kedua sisi bet tersebutterdapat tulisan “Nyalakan Lampu Sepeda Motor Anda”. Bat tersebut dipegangoleh polisi lalu lintas dan ditunjukkan pada pengendara sepeda motor. Penggunaanambient media ini saat patroli polisi lalu lintas pada pagi dan sore hari.Produk yang ditawarkan dalam kampanye Light On adalah perubahanperilaku pengendara sepeda motor. Tujuan utama dari kampanye ini adalahterwujudnya perubahan perilaku masyarakat, yang awalnya hanya menyalakanlampu sepeda motor pada malam hari, diharapkan menyalakan lampu sepedamotor pada siang hari juga guna mengurangi angka kecelakaan. Oleh karena itudalam menyelenggarakan kampanye, pesan-pesan kampanye harus diautrsedemikian rupa agar lebih efektif untuk diterima dan mempengaruhi targetsasaran. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Stuyek (1990) bahwa, penggunaansesuatu yang jelas dan bahasa yang sederhana dalam membuat pesan akanmembuat pesan tersebut lebih mudah dimengerti (Venus, 2009:81).Pemahaman pesan pada kampanye sosial Light On akan mempengaruhiperilaku khalayak sasarannya. Pada tahap afektif, muncul sikap seseorangterhadap apa yang sudah diketahui dan dipahami. Muncul sikap positif ataunegative, percaya atau tidak percaya dalam menanggapi manfaat menyalakanlampu sepeda motor ini. Hingga sampai pada tahap seseorang akan berperilaku(behavior) sesuai dengan apa yang dirasakan dan disadarinya, yaitu menyalakanlampu sepeda motor pada siang dan malam hari.Khalayak atau target sasaran kampanye yang terterpa kegiatan komunikasipemasaran merupakan sasaran dari penyampaian pesan dan diharapkanberperilaku seperti kegiatan yang sedang dikampanyekan. Khalayak adalahindividu-individu yang berpikir, memiliki perasaan, mengevaluasi, menentukan,beraksi dan bereaksi atas sesuatu (Venus, 2009:116). Karena alasan ini makapesan-pesan kampanye akan dipersepsi secara berbeda oleh setiap individu danakhirnya menghasilkan efek yang beragam pula. Para pelaku kampanyemenyadari bahwa khalayak sasaran mereka tidaklah homogen. Mereka memilikikeragaman dari segi demografis maupun psikografis. Keragamaan inilah yangmemunculkan perbedaan keinginan, kebutuhan, dan cara mereka meresponlingkungan. Dengan demikian masing-masing kelompok khalayak memerlukanpendekatan yang berbeda, mulai desain pesan, cara menyampaikannya hinggasiapa komunikator yang cocok menyampaikan pesan tersebut. Pernyataan tersebutsesuai dengan bauran komunikasi yaitu who says what in which channel to whomwith what effect. Ini artinya segmentasi perlu dilakukan dalam menentukankhalayak sasaran kampanye (Venus, 2009:124). Target sasaran yang sudahditentukan oleh penyelenggara kampanye diharapkan mendapat pengetahuan yangcukup tentang kampanye melalui media, sehingga pesan secara efektif dapatmempengaruhi audiens sampai ke tahap yang diinginkan. Menurut McQuail(1972), salah satu fungsi media bagi individu yaitu sebagai identitas pribadi untukmenemukan model perilaku (McQuail, 2005:72). Jadi, segmentasi khalayaksasaran atau audience dilakukan agar kampanye tepat sasaraan. Setelah pesanyang diberikan tepat sasaran, khalayak sasaran bisa paham mengenai isi pesankampanye. Lalu audience mempunyai pilihan, setuju untuk mengadopsi perilakudari isi pesan tersebut atau tidak.Masyarakat sendiri menanggapi pesan kampanye berbeda satu denganyang lainnya. Respon khalayak terhadap pesan kampanye dipengaruhi oleh prosespenerimaan dan pengolahan pesan atau informasi yang dilakukan khalayak(Venus, 2009:78). Maka dari itu pesan harus memiliki kemampuan tertentu yangdapat mendorong khalayak untuk memberikan respon positif sesuai harapanpelaku kampanye. Menurut Venus (2009), ada beberapa aspek yang perlumendapat perhatian dalam membaut pesan, yaitu :a. Penekanan terhadap apa yang akan dipersepsi orangb. Bagaimana pesan tersebut dapat menarik perhatian khalayakc. Serta bagaimana informasi dalam pesan itu disimpan dan diingat olehpenerimanya.Selain itu, masyarakat juga menerima pesan dengan selektif. Orang akanmelihat apa yang ia lihat, mendengar apa yang ingin ia dengar. Maka, setiap orangakan menginterpretasikan pesan sesuai dengan latar belakang dan pengalamanyang dimilikinya. Garnett (1992) menyatakan bahwa persepsi selektif ditentukanoleh latar belakang keluarga, karakteristik kepribadian fisik, tingkat pendidikan,perbedaan budaya, dan factor lainnya (Venus, 2009:80). Tingkat pendidikanmerupakan salah satu faktor penting dalam mengasah kemampuan danketrampilan. Proses pendidikan diharapkan dapat menciptakan manusia terdidikyang mempunyai pola tingkah laku yang sesuai dengan tujuan pendidikan.Olehkarena itu proses pendidikan dilakukan dalam suatu system. Pendidikanformal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri ataspendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.Pendidikan memberikan kontribusi besar dalam berinteraksi denganlingkungan, ketrampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui bangku sekolahmembantu memperlancar daya tangkap seseorang dalam berkomunikasi.Pendidikan masyarakat mempengaruhi persepsinya dan kemampuan konsepsinyamengenai pesan yang diterima. Pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadappengaturan pikiran dan perasaan ketika melaksanakan tanggapan ataumenyampaikan umpan balik kepada komunikator. Kemampuan yang dimiliki tiapindividu yang nantinya akan terlihat bagaimana ia berperilaku. Seluruh perilakumanusia adalah hasil belajar, artinya perubahan perilaku organisme sebagaipengaruh lingkungan (Rakhmat, 2007:21).Sesuai dengan aliran Behaviorisme, seluruh perilaku manusia selaininsting merupakan hasil belajar (Syam, 2011:75). Oleh para ilmuan Behaviorismealiran ini lebih dikenal dengan Teori Belajar, Behaviorisme hanya inginmengetahui bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh faktor-faktorlingkungan (Rakhmat, 2007:21). Salah satunya adalah media, sebagai salurankomunikasi massa yang menjadi perangkat institusi masyarakat. Media jugamerupakan salah satu media pembelajaran bagi manusia. Dalam kampanye sosialLight On, manusia belajar memahami pesan kampanye melalui media disekitarnya. Hasil belajar itu tidak semuanya sama. Semakin tinggi tingkatpendidikan seseorang, maka kualitas belajarnya juga semakin bagus. Semakinbanyak pula pengalaman yang diperoleh dari lingkungan belajarnya dan akanberpengaruh pada perilaku mereka. Demikian pula dalam kegiatan kampanyesosial Light On, para pengendara sepeda motor tidak serta merta menyalakanlampu sepeda motor. Namun merupakan hasil interaksi audiensnya denganlingkungan, yaitu melihat media yang berisi tentang imbauan menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari, serta pengetahuan manusia yangmerupakan hasil dari belajar dan pendidikan dalam memahami pesan tersebut.Dalam pertumbuhannya, manusia bukan saja mengalami perkembangandalam segi jasmaniahnya, tetapi juga rohaniahnya. Dan perkembangan inimembentuk jiwanya, sifat tabiat dan tingkahlakunya (Effendy, 1993:53). Lalumuncul berbagai sikap terhadap pesan atau rangsangan yang mereka terimaberupa sikap yang merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-caratertentu. Dengan kata lain, perilaku manusia adalah produk dari dorongandoronganlingkungan.Menurut De Fleur and Ball-Rokeach (1982) “Since individuals were notseen as socially active, psychological and biological factors became moreimportant than social ones in explaining the behavior of people in masssociety. For example, characteristics such as instincts and psychologicaldrives become crucial when describing audience members,” (Windahl,Signitzer with Olson, 2009:196)Menurut McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, apa yangdiungkapkan oleh DeFleur tersebut relevan bila dikaitkan dengan kerumitan pesanmedia umumnya dan bila dibandingkan dengan jenis rangsangan yang digunakandalam hampir seluruh percobaan psikologi. Kedua, semakin jelas bahwa reaksi ituberbeda-beda secara sistematis sesuai dengan kategori sosial penerima, yangantara lain berdasarkan usia, pekerjaan, gaya hidup, jenis kelamin, agama, dansebagainya (2005:235).Manusia satu sama lain tentu tumbuh dan berkembang di lingkungan yangberbeda-beda. Dari lingkungan yang berbeda inilah akan terbentuk sikap, nilainilai,serta kepercayaan individu yang mendasari kepribadian mereka, kemudianakan mempengaruhi cara mereka memandang dan menghadapi sesuatu, sehinggapersepsi mereka pun berbeda. Begitu juga dalam kampanye sosial Light On dalamrangka mengurangi angka kecelakaan, pesan yang disampaikan melalui mediamassa menimbulkan rangsangan berupa persepsi dan respon berbeda pada tiapindividu.Menurut DeFleur (1970), “Individuals differences theory argued that,because of people vary greatly in their psychological makeup and becausethey have different perceptions of things, media influence differs fromperson to person. More specifically, media messages contain particularstimulus attributes that have differential interaction with personalitycharacteristics of members of the audience” (Baran & Davis, 2006:149).Teori tersebut menegaskan bahwa, setiap orang akan menanggapi isi media massaberdasarkan dengan kepercayaan serta nilai-nilai sosial mereka. atas dasar bahwatiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaan maupunnilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasimassa juga berbeda. Dalam hal ini adalah proses pemahaman pesan darikampanye sosial Light On, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkahlaku (behavioral) khalayak sasarannya.BAB IIIPENUTUPBerbagai cara telah diupayakan oleh Polri untuk terus mengurangi angkakecelakaan. Banyak program dan terobosan yang digalakkan oleh Polri agar angkakecelakaan tidak semakin bertambah. Namun masyarakat seringkali tidakmengindahkan bahkan menganggap sepele program-program dari Polri tersebut.Polri pun terus mengupayakan cara yang lebih efektif dan diharapkan masyarakatmau menerimanya. Melalui program Light On inilah Polri berupaya mengurangiangka kecelakaan, terutama kecelakaan sepeda motor.Jarak pandang manusia terhadap benda sangat terbatas, terlebih jika bendatersebut bergerak dalam kecepatan tinggi. Sepeda motor bila dilihat dari kacaspion kendaraan lain akan terlihat kecil dan kadang tidak terlihat jelas. Apalagijika pengendaranya mengendarai dengan kecepatan tinggi. Hal inilah yang seringmenyebabkan terjadinya kecelakaan sepeda motor, tidak terlihat oleh pengendarakendaraan lainnya. Jika lampu utama sepeda motor tersebut selalu menyala akanmembantu penglihatan pengemudi kendaraan bermotor lainnya karena cahayamudah tertangkap oleh indera penglihatan manusia. Dengan demikian diharapkandapat menurunkan angka kecelakaan.3.1 SIMPULAN1. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor. Nilai korelasi antara tingkatpendidikan dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motorsebesar 0,328. Sedangkan pada Kota Surakarta tidak ada hubungan yangsignifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor, dan nilai korelasinya hanya sebesar -0,093.2. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesan kampanyesosial Light On) dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Begitu pula pada Kota Surakarta,terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesankampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utamasepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.3. Masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih banyak yang menyalakanlampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jika dibandingkandengan masyarakat Kota Surakarta.3.2 SARAN1. Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan lebih pada masyarakat di Kota Surakarta agar mereka lebihmemahami arti penting dari Light On ini. Cara kampanye danpenyampaian pesannya pun bisa lebih variatif agar bisa menarik perhatianmasyarakat. Namun sosialisasi yang dilakukan bisa dipertimbangkan darifactor lain karena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan denganperilaku masyarakat Kota Surakarta dalam menyalakan lampu utamasepeda motor. Sedangkan untuk Kabupaten Magelang yang masyarakatnyasudah lebih banyak yang menyalakan lampu utama sepeda motor padasiang dan malam hari tidak perlu ada sosialisasi lanjutan.2. Untuk penelitian yang akan datang disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penellitiselanjutnya juga bisa menambahkan variable keefektifan kampanye karenakeefektifitasan kampanye juga mempengaruhi pemahaman pesanmasyarakat mengenai kampanye tersebut.ABSTRAKKampanye sosial akhir-akhir ini semakin marak di kalangan masyarakat yangbertujuan untuk membawa perubahan sosial atau perilaku masyarakat ke arah yang lebihbaik. Polri pun turut serta menjadi salah satu penyelenggara kampanye sosial. Kampanyesosial dari Polri adalah kampanye yang bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan dijalan raya, khususnya untuk kecelakaan kendaraan kecil seperti sepeda motor. Namuntidak semua masyarakat berperilaku seperti apa yang diharapkan dalam kampanye ini,yaitu menyalakan lampu utama sepeda motor. Factor yang mempengaruhi perilakumasyarakat antara lain tingkat pendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosialLight On.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkatpendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu sepeda motor. Teori yang digunakan adalah teori Behaviorisme danIndividuals differences theory. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian iniadalah tipe explanatory dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Populasipenelitian ini adalah pengendara sepeda motor di Kabupaten Magelang dan KotaSurakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non-Random Sampling dengansampel masing-masing kota sebanyak 50 responden.Hasil penelitian pada Kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan antara tingkat pendidikan dan perilaku menyalakan lampu sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,328, dan terdapat hubungan antara tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Sedangkan hasil penelitian di Kota Surakartamenunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan tingkat pendidikan dan perilakumenyalakan lampu sepeda motor dengan nilai korelasi hanya -0,093. Namun terdapathubungan antara tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.Melihat hasil penelitian di dua kota yang berbeda dan hasil yang berbeda pula,dapat dilihat bahwa masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih patuh dan tertibdalam menyalakan lampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jikadibandingkan dengan masyarakat Kota Surakarta.Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan kepada masyarakat Kota Surakarta yang tidak berdasarkan tingkat pendidikankarena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor. Bagi penelitian selanjutnya disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penelliti selanjutnya jugabisa menambahkan variable keefektifan kampanye karena keefektifitasan kampanye jugamempengaruhi pemahaman pesan masyarakat mengenai kampanye tersebut.Kata Kunci : Tingkat Pendidikan; Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial LightOn; Perilaku Menyalakan Lampu Sepeda MotorABSTRACTNowadays, social campaign becomes more popular in the society which has apurpose to bring the social changing or the public's behavior to be better. The IndonesianNational Police Department joins and becomes one of the organizers of social campaigns.The social campaign of the police department is a campaign that aims to reduce thenumber of accidents on the highway, especially for small vehicle accidents, likemotorcycle. However, not all people behave as what is expected in this campaign, whichis turning the motorcycle's main lamp on. The factors that influence people's behavior arethe level of education and the message comprehension level of Light On social campaign.The purpose of this study is to recognize the relationship between the levels ofeducation and comprehension of the Light On social campaign message and the behaviorof turning the motorcycle's main lamp on. The theory that is used is the theory ofbehaviorism and the individuals differences theory. This type of research used in thisstudy is the explanatory type with quantitative research method approach. The populationof this research were the bikers in Magelang regency and Surakarta city. The samplingtechnique was non-random sampling with the sample of 50 respondents in each town.The results showed that, in Magelang regency, there was a relationship betweenthe education level and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.328, and also a relationship between the message comprehensionlevel of Light On social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lampon with a correlation value of 0.301. On the other hand, the results of the research inSurakarta showed that there was no correlation between the education level and thebehavior of turning the motorcycle's main lamp on with only -0.093 correlation value.However, there was no relationship between the message comprehension level of LightOn social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.414.Considering these results in two different cities with different results, it could beconcluded that the people of Magelang regency seemed to be more dutiful and orderly inturning on the motorcycle's main lamp on on day and night compared to Surakarta'speople.The suggestion for the Indonesian National Police Department as the organizer ofthis campaign is to have a non educational-base approach, because the education level hasno relation with the behavior of turning the motorcycle's main lamp on. To the nextresearch, it is suggested that it is not only researching about the relationship, but alsoabout the campaign's intensity influence. The next researcher can also add the campaigneffectiveness variable, because the campaign effectiveness also influences the people'smessage comprehension about that campaign.Key words: education level; comprehension level of the light on social campaignmessage; behavior of turning on the motorcycle's lampDAFTAR PUSTAKAAhmadi, Abu. 2006. Pengantar Ilmu Kependidikan. Jakarta : Rieneka CiptaMunib, Ahmad. 2001. Ilmu Kependidikan. Semarang : UPT MKK UNNESBaran, Stanley J & Dennis K. Davis. 2006. Mass Communication Theory, 4th Edition.USA : Thomson WadsworthEffendy, Onong Uchjana. 1993. Human Relations & Public Relations. Bandung : CV.Mandar MajuGregory, Anne. 2001. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations. Jakarta :ErlanggaGunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLittlejhon, Stephen.W & Foss, Karen.A. 2004. Theories of Human Communication; EightEdition. Canada : Thomson WadsworthMcQuail, Denis. 2005. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedua. Jakarta : ErlanggaNotoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : RinekaCiptaPriyanto, Duwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta : ANDIRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSarwono, Sarlito Wirawan. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: Balai PustakaSarwono, Sarlito Wirawan. 2004. Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaSeverin, Werner J. & Tankard, James W. 2005. Teori Komunikasi; Sejarah, Metode, danTerapan di Dalam Media Massa. Jakarta : KencanaShimp, Terence A. 2003. Periklanan Promosi, Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jilid I Edisike 5. Jakarta : ErlanggaSingarimbun, Masri & Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ESSiswoyo, Dwi dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY PressSugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. Bandung : CV. AlfabetaSyam, M.Noor dkk. 2003. Pengantar Dasar-dasar Pendidikan. Surabaya : Usaha NasionalVenus, Antar. 2009. Manajemen Kampanye, Panduan Teoritis dan Praktis dalamMengefektifkan Kampanye Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama MediaWindahl, Sven & Benno Signitizer. 2009. Using Communication Theory, 2nd Edition, AnIntroduction to Planned Communication. London : Sage PublicationsWitherington. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaPrasetya, Adi Lukas. 2009. Nyalakan Lampu Motor Siang Hari, Menekan Kecelakaan.http://www.kompas.com/lipsus052009/antasariread/2009/09/27/19553723/Nyalakan.Lampu.Motor.Siang.Hari..Menekan.Kecelakaan, diunduh pada tanggal 8Februari 2012Polres Wonogiri. 2009. Polwil Pantau Sosialisasi Light On dan Lajur Kiri.http://polreswonogiri.com/beritakepolisian/detail/34/polwil-pantau-sosialisasilight-on-dan-lajur-kiri diunduh pada tanggal 8 Februari 2012Hapsari, Esti Dwi. 2011. Pengaruh Kampanye Keselamatan berkendara (Safety Riding)Terhadap Persepsi Kedisiplinan dalam Berlalu Lintas.http://etd.eprints.ums.ac.id/15932/1/2._HALAMAN_DEPAN.pdf, diunduh padatanggal 30 Mei 2012Munawaroh, Siti. 2009. Efektivitas Komunikasi Kampanye Program Safety RidingPolantas Polda Metro Jaya untuk Meningkatkan Pengetahuan (Studi PelajarSMK Binakarya Mandiri di Kabupaten Bekasi ).http://digilib.mercubuana.ac.id/skripsi1.php?ID_Skripsi=0000014044&NIM=44205010060, diunduh pada tanggal 30 Mei 2012
Hubungan antara Terpaan Iklan, Promosi Penjualan, dan Citra Merek terhadap Loyalitas Konsumen Sabun Mandi Antiseptik Lifebuoy Sajidah, Aisah Putri; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.424 KB)

Abstract

Persaingan industri sabun antiseptik menyebabkan sabun Lifebuoy sebagai market leader merek sabun antiseptik di Indonesia mengalami penurunan pangsa pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa loyalitas konsumen sabun antiseptik Lifebuoy menurun selaras dengan penjualan yang menurun. Dari data yang diperoleh dari survey Top Brand Index, dijelaskan bahwa data Top Brand Index (TBI) sabun antiseptik Lifebuoy sangat fluktuatif dari tahun 2012 hingga 2015.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan terpaan iklan, promosi penjualan, dan citra merek secara mandiri terhadap loyalitas konsumen sabun mandi antiseptik Lifebuoy. Penulis masing – masing menggunakan Strong and Weak Theory dan Teori Pembelajaran Kognitif untuk menjelaskan hubungan terpaan iklan dan citra merek terhadap loyalitas konsumen. Sedangkan, prinsip operant conditioning dalam Behavioral Learning Theory digunakan untuk menjelaskan hubungan antara terpaan promosi penjualan dengan loyalitas konsumen. Populasi penelitian ini adalah Ibu rumah tangga di kota Semarang dan sampel yang diambil sebanyak 100 orang, dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan Analisis Rank Kendall. Uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai siginifikansi antara terpaan iklan dengan loyalitas konsumen Lifebuoy adalah 0,000 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,395. Hasil uji hipotesis antara terpaan promosi penjualan dengan loyalitas konsumen Lifebuoy nilai signifikansinya adalah 0,000 dengan nilai korelasi sebesar 0,379. Begitu pula dengan citra merek dengan loyalitas konsumen sabun mandi Lifebuoy mempunyai nilai signifikansi 0,000, dan nilai korelasi 0,375Kesimpulan dari penelitian ini adalah baik terpaan iklan, promosi penjualan, maupun citra merek memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen sabun mandi Lifebuoy, sehingga ketiga hipotesis yang diajukan diterima.
Dukungan Keluarga dalam Upaya Membangun Kepercayaan Diri Mantan Teroris Nafisa Nurul Adina; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.388 KB)

Abstract

Kasus terorisme menjadi kasus yang cukup mencolok sepanjang 2017-2018. Aksi teror terjadi di berbagai daerah di Indonesia dan menelan sejumlah korban jiwa. Selain dampak fisik, aksi terror juga menimbulkan ketakutan dan trauma berkepanjangan bagi masyarakat. Setelah para teroris berhasil ditangkap dan diproses secara hukum, pihak keluarga selalu terbuka bagi mereka, namun sulit bagi masyarakat untuk menerima mereka kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengkaji pengalaman komunikasi keluarga yang mendukung mantan teroris dalam upaya membangun kepercayaan dirinya. Penelitian ini menggunakan Social Support Theory, Uncertainty Reduction Theory, dan Self-Disclosure Theory yang menjadi teori dasar proses komunikasi dan dukungan keluarga. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara mendalam kepada 2 informan, yang masing-masing merupakan mantan narapidana terorisme dan tengah menjalani proses deradikalisasi. Temuan penelitian menunjukkan dukungan keluarga berupa komunikasi dengan pasangan dan anak, dorongan materi berupa tempat tinggal dan akomodasi, serta seringnya keluarga melakukan kunjungan mampu memberikan dampak positif bagi mantan teroris yang tengah membangun kepercayaan diri untuk hidup bermasyarakat. Menerima kondisi mantan teroris, membantu menunjukkan sikap yang baik di masyarakat, serta menjaga kedekatan melalui berbagai interaksi merupakan bentuk dukungan lainnya yang diberikan oleh keluarga. Komunikasi yang baik juga terus dijaga sejak informan masih mendekam di dalam lapas. Selain rutin berkunjung dan memberi bantuan materi, pihak keluarga juga kerap menceritakan hal-hal yang tidak diketahui informan selama mendekam di penjara. Pihak keluarga juga bersedia membantu proses bebas bersyarat dengan menjadi penjamin berkelakuan baik serta kerap mengantar informan untuk memberi laporan rutin kepada pihak Bapas. Dukungan yang diberikan terus-menerus menjadi hal yang esensial dalam proses individu membangun kepercayaan dirinya. Mantan teroris cenderung lebih percaya diri untuk menunjukkan perubahannya serta itikad melawan kasus terorisme di Indonesia.
PEJUAG HAK AAK DALAM PROGRAM TOKOH DI CAKRA SEMARAG TV Ghela Rakhma Islamey; Tandiyo Pradekso; Hedi Pudjo Santosa; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.434 KB)

Abstract

Program acara televisi dalam bentuk news features dipilih untuk menceritakan kisah pengajar anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan. Bentuk news features pengemasan informasinya ringan dan mudah dicerna oleh masyarakat sehingga seberat apapun materi yang diangkat pemirsa dapat menikmatinya dengan rileks.             News features pada karya bidang ini masuk dalam program Tokoh di Cakra Semarang TV dengan dua episode yakni “Pengajar Manusia Murni” dan “Merajut Asa Anak Jalanan”.  Posisi pekerjaan dibagi berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, reporter, juru kamera, dan editor.            Konsep tayangan dalam news features ini, menyesuaikan program Tokoh yang sudah ada sebelumnya di Cakra Semarang TV. Namun, ada tambahan beberapa bagian yang berisi talkshow, liputan dengan voice over, interview, dan juga voxpop. Tema yang diangkat untuk news features ini adalah human interest, yakni menampilkan profil orang yang mengabdikan hidupnya untuk berkecimpung di dunia sosial. Narasumber yang diangkat yaitu Drs. Ciptono, Kepala SLBN Semarang dan Yuli Sulistyanto (BDN), fasilitator anak dari Yayasan Setara Semarang.            Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan melalui Cakra Semarang TV pada hari Senin, tanggal 14 Mei dan 21 Mei 2014, pukul 18.00 WIB. Diharapkan tayangan ini dapat menjadi media untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli serta lebih mengerti pola asuh dan perlakuan yang baik bagi penyandang disabilitas maupun anak jalanan. Kata kunci: news features, human interest, Tokoh, anak berkebutuhan khusus, anak jalanan
Performance Communications Medical Services and Non- Medical In-Process Medical Treatment Islamic Hospital Sultan Agung Semarang Putri Tristanti, Juita; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.561 KB)

Abstract

Failure to communicate is one of the root causes of the most common causes of patient safety incidents. Communication determining success in helping to resolve the patient's health problems. Performance communication services medical or nonmedical personnel in the process of medical treatment is part of a health communication. Health communication is a communication process that involves health messages, elements or participant communication. Semarang Sultan Agung Islamic Hospital is a private hospital grade B. The hospital is able to provide services of medical specialists and subspecialists limited. The purpose of this study was to determine the communication performance of medical and non medical services in the process of medical treatment RSI Sultan Agung Semarang. The theory of reputation used to determine how performance should be owned by a health-care facility, which especially its RSI Sultan Agung Semarang as research objects. The population used is the patient who is in Islam Sultan Agung Hospital Semarang with criteria outpatients from a specialist, and already control at least 3 times, which in total amounted to 97 people. Research shows the majority of respondents expressed satisfaction with the communication performance of medical and non medical services RSI Sultan Agung. However, there are also consumers RSI Sultan Agung Semarang who felt unserved optimal communication of medical or non-medical RSI Sultan Agung Semarang. The study then provides suggestions for RSI Sultan Agung Semarang can further improve the performance of the communication performance of medical and non medical personnel to give more comfort to patients and consumers as a whole.
Hubungan antara Iklim Komunikasi Suportif dan Motivasi Berorganisasi dengan Komitmen Afektif Anggota Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA JT) Muhammad Nur Ahadi
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main aim of this sudy is to determine the relationship between supportive communication climate and organizational motivation with affective commitment of the members of RISMA JT. The population are the members of RISMA JT focused on V, VI, and VII generations amounting to 335 people. The results showed that there is a significant relationship between supportive communication climate and affective commitment (R=0,397 p=0.011). Organizational motivation has a significant relationship with affective commitment (R=0,314 p=0,043). Furthermore, the correlation test results between supportive communication climate and organizational motivation with affective commitment using statistical techniques Kendall-W test showed a probability value of 0.191 (> 0.05) meaning that there’s not simultaneously significant relationship between the three variables. Key Words: Supportive Communication Climate; Organizational Motivation; Affective Commitment
Penulisan Naskah Program Berkah Islami di Kompas TV Jawa Tengah Istiqomah Sheyla Al Kautsar; Yanuar Luqman
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.412 KB)

Abstract

Television is still ranked as the highest mass media consumed by the public. The development of the increasingly rapid television industry also invited local television to take part in filling Indonesia's glass screens. One of the local television stations in Central Java, especially Semarang, which still exists on air until now is Kompas TV in Central Java. Kompas TV Jawa Tengah became a television station that featured news programs and information that were accurate, fast, informative, trusted, educating and inspiring. The making of the Berkah Islami program stems from the lack of religious programs that raise adab and sunnah regarding minor issues in human daily life based on the Koran and Hadith which are discussed lightly and can be applied so that they are easily understood by the public. So that it becomes a challenge for the script writer to pour his ideas into a piece of paper that is presented in accordance with good writing procedures for television programs, so that the content presented in a program can be a reference and make it easier for all parties involved in the execution process both in front or behind the scenes to produce shows that are interesting, informative, and can educate the public. The "Berkah Islami" program is presented in a talkshow format which is present to give knowledge to the public about adab and sunnah in Islam and its application in daily life based on the Koran and hadith for thirteen (13) different themes in each episode. The Berkah Islami Program airs every Sunday at 05.00 WIB on Kompas TV Central Java with a duration of 21-24 minutes and airs from September 1 to November 23 2019. Work on the production of the work program "Berkah Islamic" program involves four production teams and one marketing person . This report focuses on describing the tasks of the script writer from the production, production, and post-production stages along with the obstacles and solutions. Through the Islamic Blessings program it is expected that the script writer can pour his ideas into a writing as a document that can be a reference for the director and work relatives (crew) in completing the production of television programs, in providing informative religious shows and educating Muslim communities in applying the customs and sunnah taught by Islam thus brings blessing.
Pengaruh Intensitas Bermain Game Online dan Mediasi Restriktif Orang Tua terhadap Perilaku Antisosial Remaja Apriani Rahmawati; Hedi Pudjo Santosa; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.294 KB)

Abstract

Masa remaja menjadi periode yang rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang diterimanya. Pengaruh ini dapat memunculkan perilaku -perilaku yang kurang disukai atau bahkan sama sekali tidak dikehendaki oleh masyarakat, perilaku ini dikenal dengan perilaku antisosial. Game online merupakan tempat bermain bagi remaja, dimana di dalamnya terdapat berbagai macam jenis permainan dari game action, strategi, petualangan, musical, sampai olahraga sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi yang memainkannya.Penelitian ini menggunakan teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang menjelaskan dalam proses belajar sosial, individu selalu mengumpulkan informasi dan melakukan pengamatan dari lingkungan dalam melakukan sesuatu dalam berbagai konteks dan Restrictive Mediation dari Parental Mediation yang menjelaskan mediasi yang dilakukan orang tua pada anak dengan memberikan peraturan-peraturan dalam ha penggunaan media. Populasi dari penelitian ini adalah murid kelas VII dan VIII SMP Eka Sakti Semarang. Usia 12-14 tahun. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik acak sederhana dengan jumlah sampel 70 orang. Analisis data yang digunakan adalah regresi liner sederhana dengan spss 20. Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa variabel intensitas bermain game online berpengaruh terhadap perilaku antiosial remaja dan signifikan (sig.=0,000) dengan persamaan linier sederhana Y = 6,869 + 0,156X1. Hasil uji hipotesis kedua membuktikan bahwa mediasi restriktif orang tua berpengaruh terhadap perilaku antisosial remaja dan signifikansi (sig,.=0,000) dengan persamaan linier Y=11,044 – 0,434X2. Saran yang diberikan penelitian ini adalah supaya orang tua perlu memperdalam hubungan komunikasi dengan anaknya. Selain itu orang tua perlu bersikap terbuka dan mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan perilaku antisosial dikalangan remaja, sehingga hubungan yang terjalin semakin berkualitas dan kemungkinan remaja untuk berperilaku antisosial semakin kecil atau bahkan tidak ada.

Page 78 of 157 | Total Record : 1563