cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
The relationship between Tokopedia Television Advertising Exposure and Exposure to Information by the Group of Peers with willingness access the site Tokopedia.com Among Students DANIEL EDI KURNIAWAN; Wiwid Noor Rakhmad, M.I.Kom
Interaksi Online Vol 5, No 1: Januari 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.672 KB)

Abstract

Tokopedia is a site selling online with a target segmentation young age as a potential market. Tokopedia has a record of most television advertising spending compared with competitors. Nevertheless Tokopedia traffic levels remained below kompetirornya. Achievement is not directly proportional to the cost of a big promotion became a classic problem to be investigated. The purpose of this study was to assess how much the relationship between exposure to television advertising and exposure information Tokopedia.com by a group of peers with a willingness to access the site Tokopedia.com among students. This type of research is explanatory with quantitative approach using the theory and the theory Ad Exposure Leads Group. The research findings obtained from 60 samples using accidental sampling technique was processed using Pearson Product Moment Correlation analysis to explain the direction and strength of the relationship of each independent variable and the dependent variable. Based on the findings of the data processed by the product moment correlation analysis using SPSS, studies show a link between exposure to television advertising Tokopedia as an independent variable with a willingness to access the site Tokopedia as the dependent variable with the strength of weak ties and the positive direction of the relationship. Using similar data analysis, this research also proved that exposure to information by the peer group as the other independent variables with the willingness to access the site Tokopedia have a positive relationship and the strength of the relationship was. This study shows the results of the study are in accordance with both the theory used to discuss the research results. Conclusions from the study raises a number of practical suggestions include media placement in internet marketing, promotion in the field, and construction of facilities for the target consumer's media campaign.
MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA Agustin, Asteria; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.875 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Fenomena peningkatan antar agama saat ini sedang marak terjadi diIndonesia, baik itu di kalangan masyarakat biasa maupun di kalangan artisibukota. Hal ini mendapat perhatian dari masyarakat karena menyangkut agamayang sangat sensitif. Sebagian masyarakat menentang perkawinan ini namun tidaksedikit pula yang menyetujuinya.Menurut Laswell (1987:51) perkawinan bukanlah hal yang mudahdilakukan pasangan beda agama dengan tetap menganut agamanya masingmasing.Perkawinan beda agama adalah penyatuan dua pola pikir dan cara hidupyang berbeda, dan perbedaan agama dengan pasangan dalam perkawinan banyakmenimbulkan permasalahan.Dalam perkawinan beda agama, adaptasi sangat perlu dilakukan. Karenapada saat pria dan wanita yang berbeda agama menikah, tentunya masing-masingmembawa nilai budaya, sikap, gaya penyesuaian dan keyakinan ke dalamperkawinan tersebut. Apalagi di dalam suatu perkawinan di mana kedua belahpihak yang memiliki agama berbeda rentan akan tingkat sensitifitas konflik yangcukup tinggi. Oleh karena itu pasangan suami istri dituntut untuk dapatmenyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh pasangannya yangkemungkinan besar dipengaruhi oleh agama yang dianutnya. Ditambah denganritual keagamaan yang dijalankan berbeda dengan ritual keagamaan yangdijalankan oleh pasangannya.Oleh karena itu dibutuhkan manajemen konflik yang tepat dan efektif bagipasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang yang terjadi menyangkutperbedaan agama.Sidney Jourard dalam Teori Self Disclosure menawarkan konsepketerbukaan diri. Konsep ini memiliki arti bahwa di dalam hubunganinterpersonal yang ideal menghendaki naggota-anggota yang terlibat untukmengenal diri orang lain sepenuhnya dan membiarkan dirinya terbuka untukdikenal orang lain sepenuhnya (Littlejohn,1999:260). Penelitian ini jugamenggunakan Teori Adaptasi Antarbudaya (theory intercultural adaption) yangmengungkapkan bagaimana individu beradaptasi dalam berkomunikasi denganindividu yang berbeda budayanya. Teori ini berpendapat bahwa proses adaptasiadalah suatu cara untuk memenuhi suatu tujuan. Terakhir, RelationalMaintenances Theories juga digunakan dalam penelitian perkawinan antar agama.Teori ini menjelaskan bagaimana individu melakukan pemeliharaan hubunganyang mengacu pada sekelompok perilaku, tindakan dan yang individu gunakanuntuk mempertahankan tingkat relasi (kedekatan individu) yang diinginkan dandefinisi dari hubungan itu. Oleh karena itu, manajemen konflik ini menarik untukdipelajari bagaimana upaya-upaya dan pengelolaan konflik yang dilakukanpasangan beda agama yang hingga saat ini dapat mempertahankan keutuhanperkawinannya dengan tetap menganut agamanya masing-masing.PEMBAHASANPenelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami istri bedaagama dan bagaimana pengelolaan konflik yang mereka lakukan dengan tetapmenganut agamanya masing-masing untuk mempertahankan keutuhanperkawinan. Berangkat dari asumsi bahwa sebagian pasangan beda agamacenderung mengalami konflik yang mendalam bahkan bisa menyebabkanperceraian. Ini dikarenakan adanya perbedaan yang sangat jelas diantarakeduanya, dimana adanya perbedaan pandangan, perbedaan keyakinan, perbedaannilai-nilai agama hingga hak pengasuhan anak.Oleh karena itu adanya pengelolaan konflik yang tepat dan efektif sangatdibutuhkan bagi pasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang terjadimenyangkut perbedaan agama, dan ada beberapa strategi manajemen konflik yangdisesuaikan dengan situasi terjadinya konflik, yaitu : kompetisi (menguasai),penghindaran (menarik diri), kompromi (berunding), kolaborasi (menghadapi)dan akomodasi (melunak).Dalam menyelesaikan konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengn cara saling membicarakan atauberkolaborasi dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikan konflik,mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan. Masing-masingpihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkan dari perasaan tertekan danmasalah yang dipendam. Tetapi masih ada pula informan yang menyelesaikandengan cara menarik diri atau penghindaran. Mereka lebih memilih untukmengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takut hal ini akanmenyinggung salah satu pihak. Penyelesaian dengan cara seperti ini tidak akanmemuaskan kedua belah pihak, karena pasangan tersebut tidak mendapatkan hasilseperti yang diharapkan.Penelitian ini melibatkan tiga pasang responden yang berbeda agamadengan usia perkawinan di atas sepuluh tahun. Lewat penelitian inimenggambarkan bagaimana pasangan dengan kondisi demikian berinteraksi,karena tidaklah mudah menikah dengan pasangan yang berbeda agamanya.Dengan wawancara mendalam, peneliti mengumpulkan informasi tentangpengalaman dan hambatan yang mereka alami setelah menikah dan pengelolaankonflik yang mereka lakukan guna mempertahankan keutuhan perkawinan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan di atas menghasilkan tentangbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan :1) Ketiga informan melakukan interaksi dengan beradaptasi dan salingmenyesuaikan perbedaan-perbedaan yang dimiliki pasangannya, sepertiperbedaan pandangan, perbedaan keyakinan dan tentu saja adat sertakebiasaan yang berbeda. Para informan bukan lagi membangun hubunganyang lebih intim tetapi tujuannya guna mempertahankan dan memeliharahubungan untuk meminimalisir konflik yang muncul karena masalahkonflik yang dihadapi pasangan beda agama cenderung lebih tinggi. Parainforman menjadikan perbedaan yang ada sebagai bentuk keragaman danproses pembelajaran, bukan sebagai jurang yang dapat memisahkanhubungan yang telah mereka bina.2) Adanya sikap keterbukaan, empati dan sikap saling mendukung sangatdibutuhkan pasangan suami istri beda agama. Dengan adanya keterbukaanpara informan dapat mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiranmereka karena dua agama yang berbeda pastinya memiliki pandangan dankeyakinan yang berbeda pula. Namun, masih ada informan yang tidak mausaling terbuka kepada pasangannya, mereka kurang mampu untuk bisamengungkapkan diri, terutama yang menyangkut masalah agama. Merekajarang membicarakan masalah ini. Hal ini disebabkan masing-masingpihak takut jika ucapan-ucapan yang mereka katakan dapat menyinggungsalah satu pihak yang akhirnya berbuntut pada konflik. Berbeda dengandua informan lainnya (informan I dan informan III) dimana mereka selalubersedia menyediakan waktu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitandengan perbedaan agama secara terbuka. Hal ini dilakukan untukmengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh masing-masingpihak, dan bagaimana solusi terbaik bagi keduanya. Empati dan sikapmendukung ditunjukkan oleh ketiga informan di mana mereka salingbertoleransi kepada pasangannya. Misalnya dengan memberikankebebasan menjalankan ibadah agamanya dengan jalan berusahamenghormati jika pasangan sedang beribadah, ikut mengantar ke tempatibadah sampai dengan menyesuaikan acara keluarga dengan waktuberibadah. Atau di saat suami atau istri sedang berpuasa, mereka bersediamembangunkan dan ikut menemani sahur. Disini terlihat bahwa ketigainforman memiliki posisi yang setara dalam hal kebebasan beribadah.Adanya posisi yang setara antara suami dan istri beda agama inidiharapkan akan menciptakan suatu komunikasi yang efektif.3) Hambatan komunikasi yang terjadi pada ketiga informan, bukan faktoryang terlalu mempengaruhi dalam kehidupan perkawinan mereka. Hal inidikarenakan sejak awal informan telah mengetahui resiko yang terjadi jikamenikah beda agama. Hambatan muncul saat akan menikah di mana parainforman ingin tata cara agamanya lah yang dipakai dalam prosesperkawinan dan juga muncul di awal perkawinan dimana para informanmasih saling mempengaruhi untuk masuk agamanya.4) Komitmen-komitmen yang dibuat ketiga informan memberikan kontribusidalam membangun iklim komunikasi yang positif karena dengan adanyakomitmen tersebut mereka dapat meminimalisir konflik yang muncul padaperkawinan mereka. Seperti saat pemutusan agama anak, antara suamimaupun istri tidak ingin berebutan untuk mengasuh anak dalam halpemilihan agama. Pada informan I, anak-anak mengikuti agama suamidikarenakan sejak awal, sang anak bersekolah di sekolahan berbasisKatolik. Sang istri pun tidak mempermasalahkan bahwa kenyatannyakedua anaknya mengikuti agama suami. Sedangkan pada informan IIsepakat jika nantinya sang anak ikut agama istri, dikarenakan suami seringdinas keluar kota yang berarti dirinya akan jarang berada di rumah. Lainlagi dengan informan III, dari awal suami sepakat menyerahkan hak asuhanak kepada istrinya.5) Konflik yang masih sering terjadi dalam rumah tangga informan berasaldari faktor internal yang melibatkan pasangan informan sendiri. Konfliktersebut menyangkut masalah ‘perbedaan agama’ di antara keduanyadimana mereka memiliki keinginan dan harapan yang berbeda diantarasuami istri, yang akhirnya hal itu berujung pada konflik.6) Dalam penyelesaian konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengan cara saling membicarakan(berkolaborasi) dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikanmasalah, mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan.Masing-masing pihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkandari perasaan tertekan dan masalah yang dipendam. Tetapi masih adainforman yang menyelesaikan dengan cara penghindaran. Mereka lebihmemilih untuk mengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takuthal ini akan menyinggung salah satu pihak. Namun, penyelesaian dengancara seperti ini tidak akan bisa memuaskan kedua belah pihak, karenainforman tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan.7) Ketiga informan memandang perkawinan mereka sebagai suatu hal yangpositif. Adanya pro dan kontra dari masyarakat bukan sesuatu hal yangperlu dikhawatirkan. Namun informan melarang jika nantinya anak-anakmereka juga melakukan perkawinan beda agama seperti orangtuanya.PENUTUPDalam penelitian ini, pasangan beda agama seharusnya bisa saling terbukakepada pasangannya. Apa yang diinginkan dan dibutuhkan masing-masing pihakbisa saling diungkapkan dengan menggunakan kata-kata yang tidak menyinggungperasaan pasangan. Jika pasangan suami istri beda agama saling memahami danmenerima perbedaan yang mereka miliki, perbedaan tidak akan menjadisandungan bagi keduanya.Dalam mengelola konflik, khususnya konflik yang disebabkan olehperbedaan agama, diusahakan masing-masing pihak tidak saling menghindar,karena suatu saat masalah tersebut dapat muncul kembali dan permasalahannyaakan menjadi semakin besar. Sebaiknya konflik dihadapi dengan terbuka dengansaling mengungkapkan dan mendengarkan keinginan pasangan guna mencapaikesepakatan bersama, sehingga konflik menyangkut agama tidak menjadiancaman bagi kelangsungan rumah tangga mereka, melainkan berguna untuklebih meningkatkan kualitas hubungan suami istri beda agama.
Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa (Research Manager) Hendrikus Setya Pradhana; Djoko Setyabudi; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.291 KB)

Abstract

Ambarawa train museum is a history tourism place of which is really potential to be promoted to the wide community because of having steam train that are still active and the only one in the world. But, the problem is the lack of promotion by PT KAI. Besides was related to the aspects of research, the availability of research data visitors also be the substansial problems because there is no systematic and credible data. So, this work is a form of activities that aims to back to promote Ambarawa train museum that better known in the community.In this strategic communication, research manager responsible obtain data to determine a strategy of promotion effective. Research manager were research visitors pra-event until post-event. Pra-event result of the research indicates that the knowledge about Ambarawa Train Museum (cognition) are still in figures 58 % and the attitude to visit low enough that is in figures 37 % .So to increase that aspects, during the period May to June carried out activities strategic communication “Sepoorheroes” through event, promotion and massive publication in the media. Research manager also take measurements of the success of every activity to research post-event for measuring the success of after all activities held. In doing this job, research manager to finish its appropriate duties timeline. Even though there are multiple obstacles which are external, but it was can be handled and research activities will continue to be carriedOverall, this strategic communication can be assessed as being successful, seen with the increase in the aspect of the cognition which in its implementation can be increased to 73 %, earlier from the original target 58 % to 70 % .While attitude aspect, earlier from the original target 37 % to 55 %, in its implementation can be increased as much as 66%. The whole job description research manager can also well done from the pre-event until post-event. In addition, this activity can also be admitted PT KAI to back promote their assets effectively and sustainable.
Program Acara Feature “Perempuan Bercerita” di iNews Semarang Sebagai Produser Pada Episode 2, 5, dan 10, Program Director, Reporter, Penulis Naskah, Juru Kamera, dan Editor Santa Cicilia Sinabariba; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.274 KB)

Abstract

Television nowaday has a high penetration compared with other mass media consumed by the community, including local television iNews Semarang. As one of the local television, iNews present as news television by displaying information about Central Java with broadcasting hour for two hours at 09.00-11.00 WIB every day. This is a challenge for journalistic people to produce quality programs to audiences, in addition to the news program that became the main item iNews Semarang. For that, an innovative and new program for viewer features by presenting the program. Perempuan Bercerita comes with a feature format and presents a program that raises two inspiring female figures in each episode. This program is present to show and show the existence of women in Semarang in various areas of life, including how women take role in society by raising the story of woman in Semarang according to different theme in each episode. In producing this program, teams are divided to perform different responsibilities in each episode from pre-production, production, and post-production processes to producers, program directors, reporters, scriptwriters, cameramen, editors and dubber so that all team members get different experiences in each episode. Perempuan Bercerita aired 13 episodes at iNews Semarang every Monday at 10.00 am which aired from March 5, 2018 until June 4, 2018. Through this program, people are expected to get information and education and get the spirit and inspiration to continue to work and play an active and positive role in the environment. In addition, it also provides new referrals to local television to bring new programs to the audience.
AUDIT IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ( BAPPEDA ) PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN Widiyasari, Woro; Suprihatini, Taufik; Yulianto, Muchammad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.309 KB)

Abstract

ABSTRAKSIJudul : Audit Iklim Komunikasi Organisasi di Badan Perencanaan PembangunanDaerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten PekalonganPeneliti : Woro WidiyasariNIM : D2C 009 028Penelitian ini dilatarbelakangi oleh iklim komunikasi organisasi Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan yang diketahui masih sering terjadi hal-hal negatif yang menimbulkansemangat kerja menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui iklimkomunikasi yang terjalin di dalam instansi Bappeda dengan menggunakan Teori yang dipakaiTeori Sistem ; Teori Iklim komunikasi ; Teori Gaya Kepemimpinan ; Aliran Komunikasi .Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah audit komunikasi. Sedangkantipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuanuntuk menjabarkan situasi dan keadaan komunikasi di Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan. Untuk teknik pengumpulan data di lapangan , peneliti menggunakan teknikwawancara mendalam (indepth interview) kepada enam informan yang terdiri dari karyawanBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.Hasil penelitian , maka diketahui iklim komunikasi organisasi yang selama initerjalin di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan tidak berjalan dengan efektif.Dari hasil penelitian di lapangan ditemukan bahwa hubungan antara atasan dengan bawahantidak berjalan dengan baik, hubungan dengan sesama karyawan juga kurang baik, aruskomunikasi yang terjadi selama ini hanya belangsung searah (linier) tanpa adanya feedback,pembagian tugas yang dianggap oleh sebagian besar informan belum merata kepada masingmasingkaryawan.Serta atasan yang jarang memberikan reward kepada bawahan berprestasi.Hal ini mengakibatkan karyawan tidak bersemangat dalam bekerja. Hal tersebut jugamenimbulkan kesenjangan di antara karyawan karena tidak meratanya pembagian tugas yangditimbulkan.Kata Kunci : Audit komunikasi, Kepemimpinan, Iklim Komunikasi, Aliran InformasiABSTRACTAudit of Organizational Communication Climate in Regional Development PlanningDepartment ( BAPPEDA ) Pekalongan Regency Government.This research is motivated by organizational communication climate of BAPPEDAPekalongan Regency Government who has known still commonly has negative things, whichraises working spirit declined. The purpose of this research was to find out thecommunication climate that involve in the BAPPEDA institution using the theory that issystem theory; Theory of Communication Climate; Theory of Leadership Style; and FlowCommunications .The research method used by the researchers is a communication audit. While thetype of research is a descriptive research that aims to describe the situation and the conditionof communication in BAPPEDA Pekalongan Regency Government. For data collectiontechniques in the field, researchers used in depth interview techniques (in depth interview ) tosix informants consisting of employees BAPPEDA Pekalongan Regency Government .The results of the research, it is known that organizational communication climatehas been declined in the BAPPEDA’s Office Pekalongan Regency Government is notoperating effectively. From the results of the field research, was found that the relationshipbetween supervisors and subordinates are not running well, relations with fellow employeesis also not good, the communication flow that happen during this lasts only one side withoutany feedback, the informant consider that the distribution of duties and functions have notbeen spread evenly to each employees. Along supervisors who rarely gives rewards totalented subordinates. This result caused the employee does not feel like working. It alsoraises the gap among the employees because the distribution of duties did not spread evenly.Keywords: Audit of communication, Leadership, communication climate, flow informationBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangBappeda merupakan suatu Badan di dalam Kabupaten Pekalongan yangsangat menentukan perubahan di kota Pekalongan, Bappeda dengan tugas-tugasnyayang sangat berhubungan dengan perencanaan daerah membutuhkan kerja pegawaiyang maksimal, di dukung dengan tekhnologi dan kerjasama yang baik akanmenjadikan kota Pekalongan semakin maju. Tetapi di sisi lain, karyawan BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan mengeluhkan adanya iklim komunikasi yangtidak efektif .Pemimpin yang kurang bisa berkomunikasi dengan lancar denganbawahannya, dan selalu menyerahkan tugas kepada bawahannya menjadikanmunculnya konflik yang menjadikan karyawan semakin tidak nyaman dengankeadaan di kantor.Poole dalam Pace dan Faules (2001: 148), mengatakan bahwa iklimkomunikasi sangat penting karena mengaitkan konteks organisasi dengan konsepkonsep,perasaan-perasaan dan harapan-harapan anggota organisasi dan membantumenjelaskan perilaku anggota organisasi. Lebih lanjut, iklim komunikasi yang baikdalam suatu organisasi lebih memberikan kebebasan kepada anggota organisasi untukmemperoleh informasi tentang perusahaan, lebih berani mengeksplor kemampuanmereka dalam berkarya, berani menghadapi tantangan dunia pekerjaan, dan lebihmenunjukkan bahwa mereka dipercaya untuk mempertanggung jawabkan hasil-hasildari pekerjaan mereka.Iklim komunikasi yang baik sangat besar pengaruhnya dalam suatu organisasi,salah satunya berpengaruh pada peningkatan produktivitas kerja anggota organisasi,Mengapa, karena iklim mempengaruhi usaha anggota organisasi. Usaha tersebutdikelompokkan Frantz terdiri dari empat unsur, yaitu: “(1) aktivitas yang merupakanpekerjaan tersebut; (2) langkah-langkah pelaksanaan kerja; (3) kualitas hasil; (4) polawaktu kerja” (Pace dan Faules, 2001: 155)Hal ini menarik dikaji , bahwa berdasarkan gambaran di atas maka di dalamsuatu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah KabupatenPekalongan yang bertugas penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidangperencanaan pembangunan daerah yang meliputi ekonomi, fisik, sosial budaya, sertapengendalian dan evaluasi. Iklim komunikasi sangat penting dibutuhkan gunameningkatkan kinerja pegawai, apabila hal tersebut belum terjadi secara efektif makadiperlukan audit iklim komunikasi di Badan Perencanaan Pembangunan DaerahKabupaten Pekalongan sebagai evaluasi dan memperbaiki iklim komunikasi yangtercipta di instansi tersebut guna menjadikan Kabupaten Pekalongan menjadi suatudaerah yang lebih maju.1.2 Tujuan PenulisanTujuan dari penelitian adalah:Untuk mengetahui iklim komunikasi yang terjalin di dalam instansi BappedaPemerintah Kabupaten Pekalonganbaik pada tingkatan iklim komunikasi secarakeseluruhan maupun pada tingkatan kegiatan-kegiatan komunikasi khusus.1.3 KERANGKA TEORITeori yang dipakai Teori sistem; Teori Iklim komunikasi; Teori GayaKepemimpinan; Aliran Komunikasi .1.4 Metode Penelitian1.4.1 Tipe PenelitianPenelitian ini menggunakan tipe penelitian desktiptif kualitatif denganmenggunakan metode audit komunikasi dengan tujuan mendapatkan data darilapangan untuk digunakan sebagai instrumen untuk menjabarkan situasi dan keadaaniklim komunikasi di Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.BAB IITemuan Penelitian Tentang Iklim Komunikasi Organisasi BadanPerencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) PemerintahKabupaten PekalonganBab ini mendeskripsikan temuan penelitian dengan audit komunikasi untukmemahami iklim komunikasi organisasi yang terjadi di Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan terkait dengan Kepemimpinan, Iklim Komunikasi , dan ArusKomunikasi. Temuan penelitian berupa hasil indepth interview yang dilakukanterhadap pimpinan dan beberapa karyawan perusahaan . KepemimpinanData yang diperoleh pada saat melakukan indepth interview terhadapkaryawan Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan mengenai masalahkepemimpinan yang selama ini dijalankan dari periode 2011 hingga sekarang bagimasing-masing informan memiliki pendapat yang cukup berbeda di antara informansatu dengan yang lain, bagi masing-masing informan masalah komunikasi yangdihadapi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan ada yangmengatakan masih dalam tahap yang wajar ada pula yang mengatakan masih terjadikesenjangan di antara masing – masing bagian di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi di suatu organisasi sangat penting karena bisa dipastikan bilatidak ada iklim komunikasi yang kondusif , maka akan terjadi adanya kesenjangandan kurangnya semangat dalam bekerja dari masing-masing karyawan dalam suatuorganisasi tersebut. Dari beberapa pertanyaan yang sudah di ajukan ke 6 informantentang iklim komunikasi maka ada beberapa pendapat yang sama dan berbeda satudengan yang lainnya. Pertama mengenai keefektifan iklim komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan dimana semua informan dari informan 1hingga informan ke 6 mengatakan hal yang sama mengenai keefektifan iklimkomunikasi yang terjadi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan . Arus KomunikasiDalam suatu organisasi, komunikasi merupakan hal yang paling penting., karenatanpa adanya komunikasi, organisasi tidak bisa berjalan dengan baik. Bila dalamorganisasi komunikasinya kurang baik akan berdampak pada efektifitas organisasi.Dengan pendapat masing-masing informan mengenai arus komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan maka dapat dilihat kurang efektif danharus segera dibenahi.BAB IIIANALISIS IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BADANPERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA)PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGANA. KEPEMIMPINANBerdasarkan teori gaya kepemimpinan di atas maka gaya kepemimpinan yangsesuai dengan kepemimpinan yang ada di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan yaitu gaya kepemimpinan Otoriter. Gaya kepemimpinan Otoriter inisesuai dengan kepemimpinan di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongankarena bila disimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinan danbelum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.B. IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BAPPEDA PEMERINTAHKABUPATEN PEKALONGANIklim komunikasi organisasi di setiap fungsi tidak selalu sama dengan fungsilainnya. Hal ini dikarenakan iklim organisasi dipengaruhi oleh bermacam-macamcara anggota organisasi bertingkah laku dan berkomunikasi. Hubungan sehari-harimenggambarkan tentang bagaimana iklim diciptakan dan dipelihara. Iklimkomunikasi yang penuh persaudaraan mendorong para anggota organisasiberkomunikasi secara terbuka , rileks, ramah tamah dengan anggota lain. Sedangkaniklim yang negatif menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi secara terbukadengan penuh rasa persaudaraan (Pace & Faules, 2005: 165-166).C. ARUS KOMUNIKASI BAPPEDA PEMERINTAH KABUPATENPEKALONGANUntuk menilai komunikasi itu efektif atau tidak terletak pada kualitas dari proseskomunikasi yang baik pada tingkat individu maupun pada tingkat organisasi .kualitasproses komunikasi salah satunya berkaitan dengan ada tau tidaknya umpan balik(feedback). Kesalahpahaman dapat dikurangi jika proses umpan balik dapat dilakukandengan baik. Apabila kesalahpahaman mampu diminimalisir , kinerja komunikasiatara pimpinan dengan bawahan, dan antara sesama karyawan akan menjadi lebihbaik karena pihak-pihak yang akan berkomunikasi akan tahu apakah pesannya sudahditerima , dipahami dan dilaksanakan atau tidak. Dengan demikian, semua aktivitasyang dilakukan dapat berjalan dengan baik.BAB IVPENUTUPA. KESIMPULAN KepemimpinanTipe kepemimpinan yang terjadi di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan adalah tipe kepemimpinan Otoriter . Prakteknya Otoriter biladisimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinandan belum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.Tipe gaya kepemimpinan Otoriter ini memang seharusnya dirubah agar parabawahannya bersemangat dalam bekerja dan pimpinan memberikan motivasi,penghargaan , serta adil dalam pembagian tugas pokok dan fungsi yangmemang sering menjadi kendala yang selama ini dirasakan oleh bawahan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi yang terjalin selama ini di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan masih negatif . Iklim komunikasi selama ini masihnegatif dikarenakan masih sering terjadi kesenjangan diantara para bawahanyang merasa tidak adil atasan memberikan tugas pokok dan fungsi selama iniyang diberikan dari atasan , dan atasan yang hanya memberikan tugas tanpamemberikan penjelasan bagi bawahan. Hal tersebut menimbulkan iklim dikantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan menjadi tidak kondusifdan masih jauh dari kesan nyaman dalam bekerja. Arus KomunikasiArus komunikasi yang terjadi yaitu ke bawah, komunikasi mengalir daritingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan yang lebih rendah , pimpinanberperan penting dalam segala aktivitas komunikasi yang terjadi. Hal tersebutdipengaruhi oleh budaya birokrasi pemerintah yang cenderung searah hanyadari pimpinan ke bawahan dan hal itu juga berlaku di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan , yaitu terbukti dari semua kebijakanditetapkan langsung oleh pucuk pimpinan tanpa melibatkan pendapat daribawahan.B. SARANDi sini akan diberikan rekomendasi-rekomendasi sebagai bagian darikelanjutan penelitian. Kelanjutan ini dimaksudkan sebagai langkah berikutnya untukmengubah iklim komunikasi organisasi yang kurang efektif di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan, adapun rekomendasi berupa :1. Untuk meningkatkan iklim komunikasi organisasi di Badan PerencanaanPembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten Pekalonganmenjadi lebih baik, maka pemimpin lebih komunikatif dan melakukanpendekatan terhadap para bawahan, agar para bawahan dapat menyampaikaninspirasi , ataupun memberikan masukan kepada atasan dengan lebih terbukauntuk mencapai apa yang selama ini menjadi tujuan bersama.2. Bawahan juga harus berani memberikan pendapat terhadap pemimpin agartidak terjadi kesenjangan antar bawahan yang menimbulkan ketidaknyamanandalam bekerja, berkomunikasi dengan pimpinan dan melakukan pendekatandengan atasan dapat memberikan masukan yang baik untuk pimpinan dansesama bawahan.3. Pimpinan sebaiknya memberikan penghargaan kepada bawahan berprestasiagar meningkatkan semangat bekerja bawahan.DAFTAR PUSTAKABungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Denzin, Norman K. Yvonnas S Lincoln. (2000). Handbook of QualitativeResearch, ed.3.Sage PublicationHardjana, Andre. (2000). Audit Komunikasi. Jakarta: GrasindoKuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi :Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. : Widya Padjajaran.Lattimore, Dan . Otis Baskin, Suzette T. Heiman, Elizabeth L. Toth, PublicRelation Profesi dan Praktik, hal. 119-120Littlejohn, W. Stephen.(1998). Theories of Human Communications (6th ed.).Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.Masmuh , Abdullah. (2008). Komunikasi Organisasi dalam Prespektif Teoridan Praktek.Malang:UMM PressMuhammad Arni . (2009). Komunikasi Organisasi. Jakarta:Bumi AksaraMoleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma BaruIlmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Neuman, W Lawrence. (1997), Social research menthods : Qualitative andquantitative approaches, ed.3. Boston: Allyn and BaconPace. R. Wayne & Don F. Faules.2005. (Editor :Deddy Mulyana, M.A PH.D).Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung:RosdakaryaSuranto. 2005. Komunikasi Perkantoran: Prinsip Komunikasi UntukMeningkatkan Kinerja Perkantoran. Yogyakarta:Media WacanaNon Buku:http://www.Suara Merdeka.com/ Pelanggaran PNS)(http://bappeda.pekalongankota.go.id.)
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN PRODUK PEMUTIH KULIT DI TELEVISI DAN PERSEPSI ANAK TENTANG KULIT PUTIH DENGAN PREFERENSI ANAK PADA KULIT PUTIH Luhung Nalar Wangi; Nurist Surayya Ulfa, S.Sos, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.069 KB)

Abstract

Penelitian ini berangkat dari data penelitian sebelumnya yangmenunjukkan tingginya persentase iklan produk dewasa terutama produkkecantikan pada jam tayang anak. Di lain sisi, data di lapangan yang penulisperoleh dari berbagai forum diskusi ibu-ibu menunjukkan banyaknya anak-anakusia sekolah dasar yang merasa tidak percaya diri dengan warna kulitnya dancenderung lebih menginginkan kulit putih. Selain itu data tersebut jugadidukung dari hasil pra riset yang penulis lakukan pada anak-anak perempuanusia sekolah dasar yang menunjukkan preferensi anak-anak terhadap kulit putihterbilang tinggi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan terpaan iklanproduk pemutih kulit di televisi dan persepsi anak tentang kulit putih denganpreferensi anak pada kulit putih. Penelitian ini menggunakan teori efek mediauntuk menjelaskan hubungan terpaan iklan produk pemutih kulit di televisi danpersepsi anak tentang kulit putih dengan preferensi anak pada kulit putih.Sedangkan teori tentang efek iklan pada anak intended and unintended effectdigunakan untuk menjelaskan bahwa persepsi anak tentang kulit putih danpreferensi anak pada kulit putih merupakan dampak tidak di sengaja dariadanya paparan iklan produk pemutih kulit di televisi. Populasi dalampenelitian ini adalah anak perempuan usia 10-12 tahun yang sudah terterpaiklan produk pemutih kulit di televisi dan sampel yang diambil sebanyak 50orang dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan Analisis Korelasi Kendall Taub.Uji hipotesis pertama antara terpaan iklan dengan preferensi menunjukkannilai signifikansi sebesar 0,000 (<0,05). Uji hipotesis kedua antara terpaan iklandengan persepsi menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,004 (<0,05). Ujihipotesis ketiga antara persepsi dengan preferensi menunjukkan nilaisignifikansi sebesar 0,000(<0,05).Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwaterdapat hubungan antara terpaan iklan produk pemutih kulit di televisi danpersepsi anak tentang kulit putih dengan preferensi anak pada kulit putih.Penelitian ini menunjukkan bahwa iklan produk dewasa yang tayang pada jamtayang anak memiliki unintended effect pada anak-anak, sehingga saran untukmasyarakat khususnya kalangan orang tua agar menaruh perhatian lebih padapaparan iklan yang menerpa anak-anak dan saran untuk pihak pemegangregulasi (KPI) sebaiknya memperketat aturan tentang iklan pada jam tayanganak.
REPRESENTASI MOTHERHOOD PADA KARAKTER HANTU PEREMPUAN DALAM FILM PENGABDI SETAN Dany Dwi Saputra; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.584 KB)

Abstract

Motherhood has become one of many main narratives that frequently appeared in horror films. Mother has been mainly used as a character who terrorizes and haunts children, specifically. This sort of representation possibly enable stereotypes and giving certain images to mothers in Indonesia, whom majority of people look upon as noble. Film as the portrait of society has been used to establish submission among people towards agendas and interests of authorities. This research aims to examine the representation of motherhood on female ghost character in Pengabdi Setan. Feminist film theory and semiotic communication theory are used for this research. This research will apply Sara Mills’ critical discourse analysis to look deeper on four aspects of examinations consist of character, fragmentation, focalization and schemata. The results indicate that female ghosts characters exhibit the aspects of motherhood. Through their physical (bodily) aspects, characters of Mawarti (1980) and Mawarni (2017) as ghosts, are portrayed as physically non-sexual and desireless. Whereas their maternal roles tend to have corrupt qualities, for trying to egoistically dominate their children’s lives. Fragmentation of maternal bodies of the characters, denote the grotesque and menacing femininity through the depictions of face/head, hands and back. Maternal bodies are portrayed as source of horrors for their children. Focalization in both movies indicate that both ghosts are passive objects. Maternal subjectivities from both ghosts, who also happen to be mothers, are altogether not presented, and rendered through male-oriented point of view (focalization). Schemata finally points that, a mother naturally has superior social role, with the expense of rigid order by dominant ideology. In that case, female roles as mothers are controlled. Female power are viewed as archaic for its nature aligned with transgression. At last, a mother will never wholly empowered, without fulfillment of her prescribed expectations.
Meme Comic dengan Isu Pemilihan Presiden 2014 Nailah Fitri Zulfan; Hedi Pudjo Santosa; Much Yulianto; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.597 KB)

Abstract

Foto/gambar apa pun bisa dibuat meme comic dan juga bisa disesuaikan dengan situasi tertentu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Seperti pemberitaan di media konvensional yang selalu terkini, meme comic pun menampilkan isu-isu terkini yang sedang hangat di masyarakat. Tahun 2014 merupakan tahun politik, karena pada tahun ini terdapat pemilihan presiden dan wakil presiden. Isu politik menjadi ramai dibicarakan, termasuk dibicarakan lewat meme comic. Meme comic menjadi wadah pembicaraan masyarakat mengenai pemilihan presiden 2014. Perbincangan politik terkait pemilihan presiden 2014 yang berat ditampilkan lewat meme comic yang menghibur.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika mitos yang dikembangkan Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang ditampilkan lewat meme comic dengan isu pilpres 2014. Peneliti menggunakan paradigma kritis untuk mengkaji dan mendeskripsikan meme comic bertema isu Pilpres 2014. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Pop Culture, Teori Postmodern, Teori Media Baru.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meme comic dengan isu pilpres 2014 menampilkan makna-makna tersembunyi, yaitu humor yang sudah dikawinkan dengan isu politik. Fungsinya adalah untuk membungkus isu politik yang sensitif dan kaku agar menjadi lebih ringan dan diterima semua kalangan tanpa harus membuat tersinggung. Isu politik lewat meme comic pilpres 2014, menjadikan kritik, saran dan ledekan yang diarahkan kepada capres-cawapres menjadi sesuatu yang tidak perlu ditanggapi secara serius dan kaku. Makna lain yang ditampilkan adalah meme comic dengan isu pilpres 2014 ini bukanlah sesuatu yang terbentuk dari ide yang benar-benar baru. Meme comic merupakan bentuk intertektualitas, dimana ide yang terbentuk dari ide yang sudah ada sebelumnya.Keyword: Meme Comic, Politik, Humor, Intertekstual
INTERAKSI KELOMPOK PUNK DENGAN NETIZEN (Kajian Fenomenologi Gerakan „Punk Medsos‟ dalam Situs Direktori Konten Punk) ADITYA FAHMI NURWAHID; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.237 KB)

Abstract

Punk is a co-cultural group when it comes to dominant cultures which agree on what positivity and negativity are based. In fact, society recognized Punk as a subcultural group concerned on negativity. It can be seen that there are too many cases in violence toward Punk and even Aceh province take action against Punk as they consider it as crum. This condition leads Punk into difficulties when they want to interact with outsiders. This stereotype also develops to be a stigma created by the society that Punk comes along with negativity. Thus, Punk starts the movement through the internet in which they name Punk Directory Sites. It allows Netizen to know more about Punk; how they think and it gives Punk a platform to speak up their ideas. This study used the theories co-cultural theory by Mark Orbe and Computer- Mediated Communication theory by John December. This study also expands the assumptions from Identity Negotiation theory from Stella Ting-Toomey and Self-Disclosure theory by Joseph A. Devito. The interpretative phenomenological analysis used in this study as analytical techniques of the data. The Result of this study show that Punk uses an Accommodation strategy to interact with Netizen. This strategy ranges on the Non-Assertive Accommodation and the Assertive Accommodation. Furthermore, there is a change in Netizen’s viewpoints in which they disagree with the negativity stigma labeled on the Punk. Netizen shows the self-acceptance towards them since Punk attempts to do the identity negotiation in their interaction with Netizen. This identity negotiation results in the feeling of being understood, feeling of being respected, and feeling of being affirmatively valued.
Seminar dan Wokshop Jurnalistik Anak SMA “Yournalism” T.R, Amal Gamasi; Nugroho, Adi; Setyabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.112 KB)

Abstract

PENDAHULUANMasyarakat Indonesia saat ini merupakan masyarakat informasi yangmenghabiskan sebagian besar waktunya dengan media komunikasi dan menggunakanteknologi informasi seperti ponsel dan komputer maupun laptop. Mereka akan mudahmelakukan pertukaran data informasi karena saat ini,mengingat konvergensi mediatidak hanya mengubah basis data dan medium yang menyalurkannya, tetapi jugasecara keseluruhan mengubah proses produksi, pengolahan, dan distribusi informasisehingga media-media seperti koran, radio, televisi, dan lain-lain akan berubahdengan bentuk-bentuk media baru yang sepenuhnya digital, seperti world wide web,dan internet.Setiap orang bisa merencanakan liputan, meliput, menuliskan hasil liputan,mengedit tulisan, memuatnya dan menyebarkan di berbagai situs internet. Artinyasemua orang sebenarnya bisa menjadi “jurnalis dadakan”, meski begitu tentu sajakualitas jurnalistik mereka masih bisa kita perdebatkan. (Haryati, 2007 : v)Kehadiran situs berita atau portal berita juga dikhawatirkan bisa menjadi ancamanseluruh media massa konvensional. Ada juga media konvensional yang telahmelakukan inovasi dan pengembangan produk ke arah konvergensi informasi demimempertahankan eksistensinya. Suara Merdeka sendiri telah melakukan inovasitersebut dengan nama suaramerdeka.com. Didirikan pada tanggal 14 September 1996oleh H. Tommy Hetami (alm). Pada awalnya website suaramerdeka.com ini hanyaberisikan berita edisi cetak yang diambil dari media cetak Harian Suara Merdeka.Sampai dengan 11 Pebruari 2000 barulah menambahkan pemberitaannya dengan edisiNews Aktual beserta kanal-kanal lainnya. News Aktual ini dimaksudkan agarSUARAMERDEKA.com tidak tertinggal dalam memberitakan sesuatu. Namun yangperlu diperhatikan adalah langkah-langkah apa yang harus dilakukan untukmelakukan inovasi pengembangan produk ke arah digital agar tetap bisa bertahan.Melihat kenyataan yang seperti itu, perlu kiranya Suara Merdeka memberikanpendidikan jurnalistik sejak dini. Kegunaannya untuk mempersiapkan para calongenerasi jurnalis muda untuk memasuki dunia jurnalis profesional mendatang di eracitizen journalism dan meminimalisir keberadaan “jurnalis dadakan” tersebut. Disamping itu juga bermanfaat bagi berkembangnya mading sekolah ke arah digitalsebagai tempat media penyaluran bakat siswa dibidang penulisan, penyaluran minatdibidang yang sama, dan melatih siswa-siswi SMA atau SMK untuk tampil berani dankritis dalam berbagai kondisi serta menjadikan mempromosikan Rubrik EkspresiSuara Remaja (salah satu rubrik di Suaramerdeka.com yang membahas tentang duniaremaja) sebagai penyaluran ide maupun hasil karya mereka.ISIKonsep komunikasi pemasaran terpadu menekankan pentingnya elemen komunikasidalam pemasaran. Komunikasi pemasaran terpadu adalah kegiatan pemasaran denganmenggunakan teknik-teknik komunikasi untuk memberikan informasi kepada orang banyakdengan harapan, agar tujuan perusahaan tercapai, yaitu terjadinya pendapatan sebagai hasilpenambahan penggunaan penggunaan jasa atau pembelian produk yang di tawarkan.(Soemagara, 2006: 4)Suara Merdeka membutuhkan suatu kegiatan promosi yang dapat menjangkau anakanakSMA untuk secara aktif menuangkan ide-ide, hasil karya mereka di Rubrik EkpresiSuara Remaja sehingga membutuhkan sebuah kegiatan komunikasi pemasaran terpadu yangtepat.Melihat anak - anak SMA sekarang ini hidup dalam kecanggihan komunikasi daninformasi seperti adanya smartphone, laptop, dan peralatan IT canggih lainnya, strategi yangtepat adalah membuat kegiatan dengan memanfaatkan antusias mereka terhadap kemajuan ITtersebut mengenai dunia jurnalistik.Event merupakan salah tool public relation yang berbeda. Secara konseptual event tidakhanya mengajak seseorang untuk menggunakan sebuah produk, namun lebih mendekatkanbrand kepada target audience secara langsung sehingga memberikan pengalaman langsungdengan suatu brand. Pengalaman langsung dan baru ini memberikan dampak untuk menarikcalon pelanggan baru atau menambah loyalitas pelanggan lama terhadap brand. Keuntunganevent adalah bisa melibatkan banyak orang, beberapa orang memiliki “sense of publicity”yang mana akan menceritakan pengalaman mereka kepada orang-orang terdekatnya baikorang tua, teman-teman, bahkan di ruang sosial media. Dengan beberapa alasan diatas timpelakasana memilih event “Yournalism” sebagai salah satu bentuk melakukan komunikasipemasaran.Kegiatan ini bertema “YOURNALISM” yang diambil dari penggalan kata“YOUNG” yang berarti muda dan “JOURNALISM” yang berarti dunia jurnalistik. Jadimakna keseluruhannya adalah saatnya dunia jurnalistik muda menunjukkan eksistensinya.Tagline yang saya ambil adalah “together make possible” yang dapat diartikan bersama-samamenjadi mungkin. Bentuk kegiatan ini adalah seminar dan workshop dengan mengumpulkanSiswa-siswi dari beberapa sekolah SMA di salah satu sekolah SMA Semarang denganpenjelasan target audien:Aspek demografisTarget Primer : siswa-siswi SMA SemarangJenis Kelamin : laki-laki dan perempuanUsia : 15 – 19 TahunSES : A – CAspek GeografisSekolah dengan perwakilan dari beberapa zona area Kota Semarang. Semarang Timurmeliputi SMA 11, SMA 15, SMA 2, SMA KES 1. Semarang Tengah meliputi SMA 1,SMA3, SMA 5, SMK 2, SMK 3, SMK 5, SMK 7, SMA LOYOLA, dan SMA SULTAN AGUNG1. Daerah zona tengah lebih banyak karena dijadikan percontohan untuk mengukur seberapaefektif kegiatan ini bagi mereka mengingat letak sekolah mereka yang berada di pusat kotaAspek PsikografisMemiliki rasa ingin tahu yang tinggi, lebih banyak melakukan kegiatan diluar ruang, aktifmencari informasi, memiliki kehidupan sosial yang luas, dan peka terhadap lingkungansekitar.Mereka diberi pelatihan jurnalistik dengan pemberian materi mengenai dunia jurnalistikseperti penulisan berita,news reporting, dan desain layout dengan nara sumber dari orangorangredaksi Suara Merdeka.Setelah mendapat pelatihan dasar jurnalistik, saya berupaya untuk memicu semangatkreatifitas mereka dengan membuat kompetisi mading dengan cara yang berbeda. Melihatperkembangan dunia teknologi informasi sekarang ini, perlu kiranya kita melakukan sebuahinovasi yang berbasis pada teknologi informasi tersebut. Salah satu cara yang ingin sayaterapkan yaitu kompetisi e-mading. E-mading adalah mading yang berbasis pada penggunaaninternet. Lomba e-mading ini berformat .pdf dengan tema Semarang dan dengan beberapakriteria antara lain tata layout, estetika, isi berita. Diharapkan dengan adanya lomba sepertiitu mampu menjaga eksistensi dunia jurnalistik di sekolah terutama mading.PENUTUPEvaluasi diperlukan untuk mengukur keberhasilan suatu kegiatan yang telahdilakukan, melihat tahap-tahap yang telah ditetapkan sebelumnya serta menelaah kekurangandari kegiatan tersebut agar kedepan dapat menjadi tolak ukur untuk kegiatan yangberkelanjutan ataupun menyelenggarakan kegiatan sejenis.Rekomendasi memiliki tujuan untuk memeberikan saran dan menyempurnakankonsep serta dapat menjadi acuan jika akan menyelenggaraka kegiatan serupa. Rekomendasijuga ditujukan kepada pihak klien sebagai saran dalam melakukan kegiatan marcomm untukmemperbesar target audien serta menambah calon potensial target audien.EvaluasiSecara umum event “Yournalism” berjalan dengan baik. Namun ada beberapa poinyang telah ditetapkan sebelumnya, belum dapat dilaksanakan sesuai rencana antara lain:1. Jumlah perwakilan murid dari tiap-tiap sekolah yang seharusnya 10 murid dengansatu pembimbing berubah menjadi 5 murid dan 1 pembimbing hal ini dikarenakan timpelaksana tidak mampu melaksanakan kegiatan secara roadshow, hanya dikumpulkandi 1 tempat sehingga agar materi yang disampaikan tetap efektif cara yang ditempuhyaitu dengan pengurangan kuota dari tiap-tiap sekolah.2. SMA Kesatrian 1 menolak untuk mengikuti kegiatan tersebut dengan alasan sudahbekerjasama dengan pihak lain dalam bidang yang sama yaitu jurnalistik3. Birokrasi SMA Loyola sulit di ajak berkerjasama. Kurangnya koordinasi antarapenjaga sekolah dengan pihak sekolah membuat surat undangan tidak sampai kepihak sekolah, hal ini dibuktikan dengan tim pelaksana yang melakukan konfirmasitentang surat undangan tersebut yang didapat jawaban belum menerima suratundangan kegiatan itu4. Tempat kegiatan yang semula memakai Aula SMA 1 Semarang pindah ke Aula SMASultan Agung 1 Semarang dengan alasan sama-sama berada di tengah kota5. Periode waktu pada awalnya terbagi dalam 5 sesi. Sesi pertama untuk registrasiulang, sesi 2 pemberian materi berita, sesi 3 penyampaian materi fun reporting, sesi 4pemberian materi desain layout, dan sesi terakhir ditutup dengan penjelasan materilomba e-mading. Namun karena adanya permintaan waktu dari sponsor untuk demoproduk, tim pelaksana berkordinasi dengan pihak ESR untuk melakukan penyusunanacara ulang. Hasilnya susunan acara terbagi menjadi 6 sesi yaitu sesi 1 untukregistrasi ulang, sesi 2 untuk materi Yamaha, sesi 3 sambutan Suaramerdeka.com, sesi4 materi berita, sesi 5 pemberian materi fun reporting, sesi 6 penyampaian materidesain layout, dan sesi terakhir penjelasan materi lomba e-mading.6. Menunjukan pertanggungjawaban anggaran melalui nota dan kwitansi 90% sesuaidengan rencana awal. Anggaran dana tersusun mulai dari pra-kegiatan hinggaterlaksananya kegiatan seperti anggaran perijinan, kebutuhan waktu acara, dananggaran hadiah e-mading. Melihat nominal anggaran dana yang begitu besar, timpelaksana melakukan penyusunan anggaran ulang, hal ini dimaksudkan agar pihaksponsor tertarik untuk menjadi sponsor. Anggaran yang dinilai tidak begitu efektiftidak dimunculkan dalam anggaran melainkan di subsidi dari anggaran lain sepertibiaya administrasi, doorprize,genset,dll.RekomendasiRekomendasi ditujukan kepada 2 pihak yaitu rekomendasi untuk acara apabila acaraini akan dilanjutkan kembali dan dan rekomendasi untuk pihak manajemen Ekpresi SuaraRemaja.Rekomendasi untuk acara “Yournalism”1. Waktu persiapan event disarankan lebih kurang 2 bulan dengan perincian 1bulan pertama untuk pembagian jobdesk, pencarian klien dan peserta, dan 1bulan terkahir untuk sounding sponsorship, produksi kebutuhan acarasehingga tim pelaksana bisa melakukan pematangan konsep, kordinasi danpembagian jobdesk secara mendetail serta sounding proposal sponsorship bisalebih lama2. Memaksimalkan surat rekomendasi dari Diknas agar sekolah menilai bahwaacara ini layak untuk diikuti sehingga mereka dengan sukarela mengijinkansiswa-siswi mereka mengikuti acara tersebut3. Pemberian mentor untuk pendampingan mereka dalam menyusun e-madingsetelah acara selesai sebagai salah satu bentuk perhatian pengelola kegiatanterhadap sekolah dan murid4. Kemasan acara lebih dipercantik seperti penggunaan backsound saat acaramenjelang usai5. Pengelola kegiatan menyediakan spanduk pesan dan kesan guna mengukurkesuksesan acaraRekomendasi untuk Ekpresi Suara Remaja1. Kegiatan seperti ini bisa dijadikan kegiatan rutin ke sekolah-sekolah diSemarang sebagai media pendidikan bagi mereka2. Materi- materi jurnalistik yang disampaikan disesuaikan dengan kondisi saatini3. Strategi roadshow ke sekolah sekolah dapat diterapkan guna menjaring danmendekatkan target audien dengan Ekpresi Suara Remaja4. Konsep yang sama dapat diterapkan di event selanjutnya dengan penyesuaiankondisi sekitar5. Acara ini bisa menjadi tempat pemberian saran untuk Ekpresi Suara Remajadari para audien, sehingga pihak Ekpresi Suara Remaja dapat berbenah kearah yang lebih baik6. Sebaiknya tetap menjalin komunikasi dengan mereka secara berkelanjutanmeski event telah usai untuk mendekatkan brand dengan TADAFTAR PUSTAKAHaryati,dkk. 2007. Jurnal Observasi: Mengamati Fenomena Citizen Journalism / Vol. 5, No1. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.Soemanagara, Rd, 2006, Strategic Marketing Communication: Konsep Strategic danTerapan, Bandung: Alfabeta .Shimp, Terence A, 2003, Periklanan dan Promosi : Aspek Tambahan KomunikasiPemasaran Terpadu, edisi ke 5, Jakarta: Erlangga.Aaker, David, 1991, Managing Brand Equity: Capitalizing on the Value of a Brand Name.New York: Free Press.Nursito, 1999, Membina Majalah Dinding, Bandung: Adicita Karya Nusa.ABSTRAKSISeminar dan Wokshop Jurnalistik Anak SMA “Yournalism”Masyarakat Indonesia saat ini merupakan masyarakat informasi yangmenghabiskan sebagian besar waktunya dengan media komunikasi dan menggunakanteknologi informasi seperti ponsel dan komputer maupun laptop. Mereka akan mudahmelakukan pertukaran data informasi karena saat ini,mengingat konvergensi mediatidak hanya mengubah basis data dan medium yang menyalurkannya, tetapi jugasecara keseluruhan mengubah proses produksi, pengolahan, dan distribusi informasisehingga media-media seperti koran, radio, televisi, dan lain-lain akan berubahdengan bentuk-bentuk media baru yang sepenuhnya digital, seperti world wide web,dan internet.Setiap orang bisa merencanakan liputan, meliput, menuliskan hasil liputan,mengedit tulisan, memuatnya dan menyebarkan di berbagai situs internet. Artinyasemua orang sebenarnya bisa menjadi “jurnalis dadakan”, meski begitu tentu sajakualitas jurnalistik mereka masih bisa kita perdebatkan.Melihat kenyataan yang seperti itu, perlu kiranya Suara Merdeka memberikanpendidikan jurnalistik sejak dini. Kegunaannya untuk mempersiapkan para calongenerasi jurnalis muda untuk memasuki dunia jurnalis profesional mendatang di eracitizen journalism. Di samping itu juga bermanfaat bagi berkembangnya madingsekolah ke arah digital sebagai tempat media penyaluran bakat siswa dibidangpenulisan, penyaluran minat dibidang yang sama, dan melatih siswa-siswi SMA atauSMK untuk tampil berani dan kritis dalam berbagai kondisi serta menjadikan RubrikEkspresi Suara Remaja sebagai penyaluran ide maupun hasil karya mereka.Pemberian materi jurnalistik terbagi menjadi dalam 4 bagian. Bagian pertamatentang materi berita, bagian kedua materi reporting, bagian ketiga desain layout, danbagian keempat lomba e-mading sebagai salah satu cara sejauh mana merekamemahami dunia jurnalistik.Kendala yang ditemui saat kegiatan ini misalnya kurangnya kordinasi diantarasiswa dan padatnya kegiatan sekolah membuat mereka tak sanggup mengumpulkanhasil e-mading mereka. Hanya 4 sekolah dari 9 sekolah yang berhasilmengumpulkannya.Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan sejak dini tentang duniajurnalistik, mendidik generasi muda agar lebih kritis mengenai persoalan yang terjadidi masyarakat, meminimalisir kehadiran citizen journalism secara instan, menjadikangenerasi muda sebagai genrasi yang aktif bukan pasif secara informasi, danmenjadikan Rubrik Ekspresi Suara Remaja sebagai wadah aspirasi, ide dan hasilkarya mereka.Kata kunci: Jurnalistik, e-mading, Ekspresi Suara RemajaABSTRACTSeminar and Workshop Journalism for Senior High School “Yournalism”Indonesian society is an information society that spends most of his time withthe media communication and use of information technology such as mobile phonesand laptop computers as well. They will be easy to exchange data information fornow, considering the convergence of media is not only changing the base data anddistribute it medium, but also change the overall production process, processing, anddistribution of information to the media such as newspapers, radio, television, andother etc. will change with the new forms of media are fully digital, such as the WorldWide Web, and the Internet.Each person can plan coverage, cover, write the coverage, editing posts, loadand deploy on various Internet sites. It means that everyone can actually be a"journalist impromptu", though of course the quality of journalism so they can still bedebated.See reality as it is, we should bear in Suara Merdeka provides journalismeducation from an early age. Usefulness to prepare candidates for the generation ofyoung journalists entering the world of professional journalists in the upcoming era ofcitizen journalism. In addition, it is also beneficial for the development of schoolMading towards digital media as a distribution of talent in the field of student writing,channeling interests in the same field, and train students for high school or vocationalschool bold and critically in a variety of conditions and to make the Rubric ofEkspresi Suara Remaja become distribution of ideas and the results of their work.Provision of journalistic material is divided into into 4 sections. The first partof the news items, the second part of the material reporting, the third part of thedesign layout, and the fourth part of e-Mading race as one of the ways the extent towhich they understand the world of journalism.Obstacles encountered when these activities such as the lack of coordinationbetween students and school activities to make their denseness could not collect the e-Mading them. Only 4 schools from 9 schools who successfully collect.The purpose of this activity is to provide early knowledge about the world ofjournalism, to educate the younger generation to be more critical about the problemsthat occur in the community, minimizing the presence of citizen journalism in aninstant, making young people as active rather than passive generation of information,and make Rubric of Ekpresi Suara Remaja as container aspirations, ideas and resultsof their work.Keywords: journalism, e-mading, ekpresi Suara Remaja

Page 80 of 157 | Total Record : 1563