cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
PENGARUH USIA, TINGKAT PENDIDIKAN, DAN JENIS KELAMIN TERHADAP PERILAKU KONSUMSI MEDIA Aulia Nur; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Sri Widowati Herieningsih; Nurist Surrayya
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.622 KB)

Abstract

Pada umumnya, pengguna media tersegmentasi berdasarkan usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin. Generasi tua dan laki laki pada umumnya lebih mengandalkan keberadaan surat kabar. Perempuan remaja dan paruh baya biasa membaca majalah ataupun tabloid dan menonton televisi. Sedangkan kaum muda biasanya lebih sering menjadi pendengar setia radio. Revolusi teknologi di bidang informasi dan komunikasi yang cenderung cepat, memberi peluang bagi media baru. Perkembangan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya kemudahan akses internet. Internet telah menjadi kebutuhan bagi manusia zaman digital. Jika dahulu kita dibiasakan menonton tv atau membaca koran untuk memperoleh informasi, sekarang gaya hidup semacam itu mulai mengalami perubahan.Kondisi ini memunculkan perubahan pada pemahaman mengenai segmentasi dalam menggunakan media, sehingga dirasa perlu untuk melihat kembali pengaruh usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin terhadap perilaku konsumsi media. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin terhadap perilaku konsumsi media.Tipe dalam penelitian ini adalah eksplanatori. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Social Category Theoryoleh De Fleur dan Ball Rokeach. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda. Jumlah sampel sebanyak 98 responden dengan teknik pengambilan sampel probability samplingdi kelurahan Karangtempel Semarang. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan kuesioner. Secara keseluruhan penelitian ini berhasil menjelaskan tujuan penelitian yaitu mengkaji pengaruh usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin terhadap perilaku konsumsi media. Terdapat hubungan yang positif antara usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin terhadap perilaku konsumsi media cetak, media eektronik, dan media baru internet. Teori yang digunakan dalam peneitian ini yaitu Social Category Theorydapat dibuktikan, yaitu usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin mempengaruhi kesamaan perilaku konsumsi media. Namun usia dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara parsial terhadap perilaku konsumsi media cetak, tingkat pendidikan dan jenis kelamin tidak berpengaruh secara parsial terhadap perilaku konsumsi media elektronik, serta tingkat pendidikan dan jenis kelamin tidak berpengaruh secara parsial terhadap perilaku konsumsi media baru internet.Kata kunci : Usia, Pendidikan, Jenis Kelamin, Perilaku Konsumsi Media
Memaknai Dominasi Maskulin dalam Komedi Situasi Tetangga Masa Gitu Debora Gracia; Dr Sunarto; Sri Budi Lestari; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.669 KB)

Abstract

Komedi situasi merupakan program acara televisi yang saat ini digemari oleh masyarakat. Penelitian ini mengkaji tentang nilai – nilai dominasi maskulin yang terdapat dalam komedi situasi Tetangga Masa Gitu. Penelitian ini dilakukan karena melihat tingginya angka perceraian di Indonesia dan hal tersebut dimulai dari pihak istri yang merasa didominasi oleh laki – laki. Nilai – nilai dominasi maskulin tersebut juga sering terlihat dalam berbagai program – program televisi termasuk program komedi. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini, yaitu mendeskripsikan teks yang digunakan untuk memaknai nilai – nilai dominasi maskulin dalam tayangan komedi situasi Tetangga Masa Gitu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika. Teknik analisis data yang dilakukan untuk mendeskripsikan teks menggunakan teori John Fiske, yakni “The Codes Of Television” dengan menganalisis teks dalam televisi menjadi tiga level, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi.Temuan atas penelitian ini menghasilkan bahwa setiap level yang dianalisis pada tiga episode yang dipilih pada komedi situasi Tetangga Masa Gitu terdapat nilai – nilai dominasi maskulin di dalamnya. Level – level tersebut mendeskripsikan dominasi maskulin dalam Tetangga Masa Gitu meliputi nilai – nilai maskulinitas, konstruksi sosial tubuh laki – laki dan perempuan, peran gender dalam sebuah perkawinan, tatanan sosial pembagian kerja laki laki dan perempuan, kekerasan simbolik pada perempuan, dan perlawanan perempuan terhadap dominasi maskulin.
Pengaruh Terpaan Berita Hoax dan Persepsi Masyarakat Tentang Kualitas Pemberitaan Televisi Berita Terhadap Intensitas Menonton Televisi Berita Ghana Pratama, Albert; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.935 KB)

Abstract

Spread of hoaxes that occurs during 2016 -2018 impacted many aspects and caused the media literacy of people to filter the information they received to be very low. Simultaneously, quality index of news television released by KPI scored television news quality are still on the below of minimum criteria. Therefore, the purpose of this research is to understand the relevancy of hoax and people’s perception on television news program towards the intensity of the people to watch television news. This research is a quantitative-explanatory research. By using non-probability sampling with amount of 50 samples between 17-60 years old Indonesian who exposed hoax news and watched television news. The result of multiple regression analysis shows that there is no influence between the exposure of hoax news and public perception towards the quality of television news coverage to the intensity of watching television news, shown by the significance value of 0.478> (α) = 0.05. With these results it is advisable to policy makers such as KPI and Media Owner and future researchers to not only focus on the eradication of hoax, but also to be able to increase the media literacy of the community and in addition, for media companies to conduct research and invest in alternative information dissemination to meet the needs of society that has not been met.
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP SOSOK HAJI DALAM SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES Nurhanatiyas Mahardika; M Bayu Widagdo; Joyo NS Gono; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.912 KB)

Abstract

Sinetron masih menjadi tayangan televisi paling laris di Indonesia. Hampirseluruh stasiun televisi swasta dan negeri menayangkan sinetron dengan berbagaitema, dan yang sedang marak saat ini adalah sinetron religi dengan menampilkansosok haji. Salah satu sinetron yang menampilkan sosok haji adalah TukangBubur Naik Haji The Seriesdengan Haji Muhidin sebagai pemeran utama. SosokHaji Muhidin merupakan contoh penggunaan identitas keagamaan dalam konteksyang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Haji diidentikkan dengan seseorang yangpaling kaya dan sebutan haji menjadi sebuah gengsi tersendiri.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadapkonstruksi media atas sosok haji dalam tayangan Tukang Bubur Naik Haji TheSeries. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif denganpendekatan analisis resepsi. Teori dasar yang digunakan adalah teori encoding-decodingyang dikemukakan oleh Stuart Hall tentang bagaimana khalayakmemproduksi sebuah pesan dari suatu teks media. Proses tersebut akanmenghasilkan makna yang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kapasitassetiap penonton. Data diperoleh dari in-depth interviewterhadap empat informandengan latar belakang berbeda.Hasil penelitian menunjukkan Haji Muhidin dalam sinetron Tukang Bubur NaikHaji The Seriesmerupakan haji yang mempunyai sikap yang cenderungnegatifdibandingkan sifat positif, seperti sombong yang selalu diperlihatkan denganmembanggakan status haji dua kali, iri, dengki, danterlalu mengejar duniawi.Selain itu, sinetron ini hanya menjadi sinetron yang mengedepankan sisi hiburandibandingkan nilai edukasi. Dalam proses konsumsi dan produksi makna terhadapsosok Haji Muhidin, perbedaan latar belakang agama,sosial budaya, danpengalaman empat informan menjadi faktor penting yang membedakanpemaknaan mereka.Kata Kunci : Identitas Keagamaan, Tukang Bubur NaikHaji The Series
Processes of Communication Family Divorced in Decision-Making The boy to Build Independence Ansa Ferani; Dr. Dra. Sri Budi Lestari, SU
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.472 KB)

Abstract

Families have many of the functions, one of them is The Child Socialization Role which teaches children to be sociable and adapt to its environment. The achievement of independence to someone especially boys is one of the success indicators of parents who run the family functions as The Child Socialization Role. But this process will experience the difference when the family through divorce. Parental divorce giving effect directly to children through numbers, the phenomenon, and stereotype in the community This research aims to knowing the process of the establishment of independence in decision-making of boy in divorced families. Chosen boys in this research is driven by a phenomenon in the community who hinted that a boy who came from families divorced having bad behavior, not thought long and not skilled in making a decision as one indicator of self-reliance. This research will be examined by using qualitative methods and phenomenology analysis. Theory as well as the concept that used on this research are, The Roles Theory, Relational Dialectics Theory, Nurturing and Control Theory, Verbal Communication and Nonverbal Communication Theory, as well as the concept of Communication Familiar Intercourse (Family Communication). To research is found that relationship created between the parent who lived together own partnership in the relation of a son and parents.When their relationship stay go well after the divorce, there are the process of adapting not return and can encourage them contribute in form a connection with a positive image of which will affect children setting the future. The cycle of development relations contributed on a communication a family of informants after the divorce, this is shown via relationship several informants that flourish with the openness and informants other that does not develop after the divorce. This research is also found that the role of extended family like a grandfather, uncle, and bude is very influence, it stimulate them to make a good relations between the boy and his parents. Good communication between the parents who lived together and the boy will form trust that can make a boy can take his decision by himself as one of independence indicator. Independence that created in someone can be realized through decision-making. Not only communication that can make this success but also the role and the nurturing patterns of parents who used. This research also expresses that family members can have more than one roles after divorce, it is happens not only in parents roles but also the boys. The double role can support the sense of responsibility and maturity of boys, both in the emotion, behavior and thought. The difference of nurturing pattern can be happened because of the situation, it will driving maturity and independence through decision-making in themself who came from divorced families.
Pembingkaian Berita Media Online : Kasus Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) Imanda Aulia Akbarian; Taufik Suprihatini; Much Yulianto; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.042 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana suatu realitas kejadian dikonstruksi oleh media online khususnya pemberitaan tentang kasus Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan analisis framing untuk melihat bagaimana media online seperti Tempo.co dan Republika online dalam membingkai pemberitaan kasus kekerasan terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan teori yang diberikan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan yang dilakukan Republika online cenderung bersikap netral dalam menyikapi kasus kekerasan TKW yang menimpa Erwiana Sulistyaningsih, sedangkan media Tempo.co memiliki kecenderungan kontra terhadap pemerintah. Media Tempo.co mengkonstruksikan dan mengarahkan pembaca untuk menilai Pemerintah sebagai pihak yang bersalah. Ketika pembaca melihat isi pemberitaan Tempo.co, yang terlintas dan diingat pembaca adalah pihak pemerintah seperti BNP2TKI merupakan pihak yang tidak bertanggung jawab atas penyebab berulangnya kasus penyiksaan TKI, baik dalam hal pengawasan TKW maupun membantu penyelesaian administrasi rumah sakit dimana Erwiana di rawat. Media Tempo.co menunjukkan kecenderungannya untuk mendukung Erwiana sebagai korban. Selain itu layaknya media online umumnya, headline menjadi salah satu senjata utama dalam menarik perhatian masyarakat untuk membacanya begitu juga dengan Tempo maupun Republika. Ini berarti, media online seperti Tempo dan Republika lebih menjual headline dalam tiap pemberitaan disajikan dan kadang mengesampingkan konten berita itu sendiriKata Kunci : Kekerasan, Perempuan dan TKW, Media
Memahami Basa Walikan dalam Membentuk Identitas Komunitas Masyarakat Kampung Badran, Yogyakarta Gusti Purbo Darpitojati; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.525 KB)

Abstract

This study aims to describe the process of identity forming in society’s community of Kampung Badran, Yogyakarta by basa walikan. This study is a qualitative study using naturalistic paradigm and phenomenological approach. The data in this study is obtained by doing in-depth interviews with five informants who are natives of Kampung Badran, in the age range of 35-60 years old and owning experiences related to using basa walikan in interactions among their community’s members. The results of this study are the process of identity forming begins with using basa walikan in interactions that occur in society’s community of Kampung Badran, both inside and outside the kampung. The usage of the language inside the kampung triggered other people in that community’s curiosity who then asked to be taught how to speak in that language, and then that language is spread inside society’s community in Kampung Badran. When the speakers were interacting using basa walikan outside Kampung Badran, many people in the outside of Kampung Badran became curious dan wanted to learn about that language, and then the speakers taught them how to use basa walikan. Due to basa walikan being taught to people outside Kampung Badran, that language became spread dan spoken extensively in youth’s intercommuncation in Yogyakarta. The using of basa walikan brings up certain identities that the speakers want to show, such as being “unique” and “different from the others”. Identities are also pinned by others to the language and the speakers based on their knowledge and experience, such as “thug”, “thug’s language”, and “unique”. Along with the degradation of basa walikan’s speakers, the living speakers choose to integrate themselves into the group of dominant cultural identity.
The Communication Forum of Batang Coal-Fired Power Station Used for the Conflict Resolution Across the Countryside (Case Study Socialization of Batang Coal-Fired Power Station in the Karanggeneng Village, Kandeman Subdistrict, Batang District) Rizki Kurnia Yuniasti; Triyono Lukmantoro; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15504.76 KB)

Abstract

Coal-fired power station development planned by PT Bhimasena Power Indonesia and The Batang District Goverment is one of the innovation for the Karanggeneng civilization, Kandeman Subdistrict of Batang District triggered some conflicts so that development project has been delayed. The research purpose is to describe the socialization and how the Communication Forum of Batang Coal-Fired Power Station can solve the conflict. The research is descriptive qualitative approach to understanding the perspective of interpretive while research method used is a case study method. The research theories are Uncertainty Reduction Theory, Diffussion of Inovation Theory, Triangle of Conflict Theory, The Principle of Negotation theory, and The Convergence of Model Communication. This research result indicates that the socialization of coal-fired power Batang done through the formal and informal sides. The obstacles in this socialization are late socialization, uncertainty of information because the the other hand informations, social estrangement (social estrangement to be two namely pro and contra for Batang coal-fired power station) Batang coal-fired power station development and conflicts namely compensation land and social compensation. The communication forum of Batang coal-fired power station in the Karanggeneng Village have not been able to resolve the conflict in the Karanggeneng village. The communication forum Batang coal-fired power station experienced divergence at the time of the negotiation process due to the absence of mutual understanding. Negotiations containing the equivalent communication, openness information and mutual understanding is the communication models which is proper for the conflict resolution with The Convergence Communication Models.
Hubungan Intensitas Menonton FTV Bertemakan Cinta & Intensitas Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dengan Perilaku Pacaran Remaja Xavera A, Patrick; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.207 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksplanatory. Metode yang digunakan adalah metode survey, teknik pengumpulan data menggunakan angket atau kuisoner. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Adapun teknik analisis data menggunakan uji korelasi Kendall dengan bantuan software IBM SPSS dan menggunakan teori pembelajaran sosial, teori komunikasi keluarga, dan teori cinta. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan namun tidak cukup signifikan antara intensistas menonton FTV bertemakan cinta dengan perilaku pacaran remaja dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,473. Dan menunjukkan adanya hubungan namun tidak cukup signifikan antara intensitas komunikasi orang tua & anak dengan perilaku pacaran remaja dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,510. Rasa penasaran akan pacaran yang tidak diarahkan oleh orang tua, dapat menjadi perilaku pacaran yang tidak sehat karena hanya dilandasi oleh rasa penasaran dan ketertarikan seksual semata.
Resepsi Pemirsa Tentang Diskriminasi Gender dalam Tayangan Kakek-Kakek Narsis di Trans TV Angga Widhi Saputro; Sunarto Sunarto; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.048 KB)

Abstract

ABSTRAKSINama : Angga Widhi SaputroNIM : D2C007006Judul : Resepsi Pemirsa Tentang Diskriminasi Gender dalam Tayangan Kakek-KakekNarsis di Trans TVPenelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya bentuk diskriminasi gender yang ada di media.Hal ini tidak terlepas dari adanya budaya patriarki yang ada di balik produksi teks danwacana yang ada dalam media. Media kerap menampilkan perempuan sebagai objek seks danlaki-laki sebagai subjeknya. Tayangan talk show bernama Kakek-Kakek Narsis diduga turutmempengaruhi dalam menampilkan perempuan yang hanya sebagai objek dari laki-lakidengan mengeksploitasi seksualitas yang dimilikinya.Penelitian ini menggunakan analisis resepsi penonton perempuan yang menyaksikantayangan Kakek-Kakek Narsis terhadap bentuk diskriminasi yang muncul, sebagai suatubentuk perlawanan terhadap kekuasaan laki-laki dimedia. Pada penelitian ini menggunakanteori pemaknaan Stuart Hall dengan model encoding-decoding untuk menganalisisresepsinya. Sedangkan teori utamanya yakni menggunakan teori Feminisme Radikal, jugadigunakan teori Standpoint sebagai pendukung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan metode wawancara mendalam. Subyeknya adalah para perempuan yang menyaksikantayangan Kakek-Kakek Narsis berkalangan menengah keatas.Hasil penelitian menunjukan, para pemirsa meresepsi ke dalam tiga tipe pemaknaanyang diantaranya yaitu dominan, negosiasi dan oposisi. Informan yang berada dalam posisidominan, memaknai sama seperti yang ditawarkan oleh media bahwa tindakan atau tayangandalam acara Kakek-Kakek Narsis tidak menampilkan bentuk-bentuk diskriminasimenganggap bahwa adegan yang dilakukan perempuan dalam tayangan ini adalah sikapprofesionalisme dalam bekerja. Sedangkan informan yang berada pada posisi negosiasimenyatakan, pengarahan seksualitas perempuan dalam tayangan ini adalah sebagai daya tarikacara. Namun, mereka juga menyebutkan bahwa perempuan juga mengalami tindakdiskriminasi seperti colekan, pelukan, kritikan fisik, dan penindasan oleh presenter laki-laki.Sementara bagi mereka yang masuk dalam posisi oposisi menjelaskan bahwa, semua yangditayangkan dalam acara Kakek-Kakek Narsis adalah merupakan bentuk diskriminasi danpenindasan terhadap kaum perempuan. Hasil penelitian ini telah memperkuat tentangpenyebaran ideologi patriarki yang dilakukan pihak pengelola melalui media massa yaknitelevisi sebagai alat kekuasaan (laki-laki) dalam mempertahankan status quo-nya dalambudaya patrirki di Indonesia.Keywords : talk show, diskriminasi, penindasan, patriarkiABSTRACTName : Angga Widhi SaputroNIM : D2C007006Title : Audience Reception of Gender Discrimination in Program Kakek-Kakek Narsis inTrans TVThis research based on many forms of gender discrimination in the media. It is not spite ofpatriarchal culture that is behind the production of text and discourse in the media. The mediaoften show women as sex objects and men as subjects. Programs talk show called Kakek-Kakek Narsis alleged also affect in presenting women as the object of male by exploiting itssexuality. This research used analysis reception that appears, as a form of resistance to malepower in the media.On this research using the theory of the meaning of Stuart Hall encoding-decodingmodel to analyze the reception. Whereas main theory which uses the theory of RadicalFeminism, Standpoint theory is also used as a support. This research use method a qualitativein-depth interviews. The subject is the women who watch the show Kakek-Kakek Narsismiddle class and above.The results showed, the audience make reception to the three types interpretationamong the dominant, negotiation and opposition. Informants who are in a dominant position,interpret the same as that offered by the media that the actions or impressions in the showKakek-Kakek Narsis did not show other forms of discrimination, assume that women doscenes in this show is the attitude of professionalism in work. Whereas informants who are ina position negotiating states, directing female sexuality in this show is as an attraction event.However, they also said that women also experience discrimination such as pokes, hugs,physical criticism, and oppression by the male presenter. While for those who are in theposition opposition of explaining that, all of which shown on the show Kakek-Kakek Narsiswas a form of discrimination and oppression of women. The results of this research hasstrengthened deployment of a patriarchal ideology that made the manager through the mediaof television as a tool of power (men) in maintaining the status quo in patriarchy culture inIndonesia.Keywords : talk show, discrimination, suppression, patriarchyPENDAHULUANDewasa ini bentuk-bentuk diskriminasi gender marak sekali bermunculan baik dilingkungansekitar maupun dalam dunia pertelevisian entah itu dalam bentuk verbal atau non verbal.Kondisi ini cukup mencemaskan yang mana kebanyakan diskriminasi tersebut ditujukan olehkalangan perempuan. Sangat memperhatinkan memang, ditengah-tengah masyarakat yangharusnya sudah „modern‟, secara prinsip rasionalitas, demokrasi, dan humanisme yang manajika dipandang melalui teori dapat mengurangi tindak diskriminasi, justru budaya tersebutkian menjamur di kehidupan masyarakat. Sangat jelas, akhir-akhir ini berita mengenaiketidakadilan, pelecehan seksual, dan lain-lain dirasakan betul oleh kaum perempuan.Bahkan media elektronik menggunakan wanita untuk kepentingan bisnis semata denganhanya menonjolkan kemolekan tubuhnya yang dijadikan „mesin‟ dalam meraup keuntungan.Dalam dunia pekerjaan misalnya, dimana sebagian besar lowongan kerja profesiakuntan menginginkan dilakukan oleh perempuan karena dianggap lebih teliti dan ulet, dilainpihak kesempatan untuk menggunakan wewenang ternyata lebih kecil. Sebelum ditentukansebagai pegawai pun ada syarat-syarat atau perjanjian bahwa yang bersangkutan tidak bolehmenikah selama satu tahun. Karena umumnya perempuan pasca menikah akan hamil dankemudian mengambil cuti panjang dengan kontribusi sebagai pegawai yang belum maksimalmenambah kerugian bagi perusahaan.Masih ingat tentunya kasus Rumah Sakit Mitra Internasional yang memecat tigakaryawatinya karena bersikeras memakai jilbab sesuai syariat, yaitu menutup sampai dada.Hal ini mengundang tanya, adakah yang salah bila mengunakan jilbab saat bekerja? bentukbentukdiskriminasi semacam ini membatasi perempuan dalam mencari pekerjaan yang cocokdengan karakternya. Berbeda dengan kasus pemecatan di Rumah Sakit Mitra Internasional,perempuan di Aceh bahkan diwajibkan untuk selalu berkerudung. Ada sanksi tegas bilakedapatan keluar rumah tidak berkerudung. Sanksi itu bisa teguran bahkan hukum cambukbila keluar rumah dengan berpenampilan terbuka (pakaian ketat, seksi, memakai rok mini).Menurut Gubernur Aceh Irwandi, menyebutkan bahwa wajib jilbab bagi perempuan sudahmenjadi hukum positif dan bukan lagi syariat agama. Apabila ada pihak-pihak yangmengkritisi tentang kebijakan tersebut mau tidak mau sudah bersentuhan dengan agama.Sementara dalam Konstitusi, Pasal 28 I (2) UUD 1945 menyatakan bahwa, “Setiaporang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhakmendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Hal iniberarti bahwa secara filosofis, Indonesia menjamin dan melindungi tiap warga negaranya darisikap atau tindakan diskriminatif tanpa membeda-bedakan status sosial, ras, suku, budaya,agama, maupun jenis kelamin. Karena tindakan diskriminatif yang menyebabkan penguasaandan dominasi terhadap salah satu kelompok warga tertentu merupakan sikap yang tidakberperikemanusiaan dan berperikeadilan, sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai denganperikemanusiaan dan perikeadilan”.Kondisi ini telah menjalur kedalam industri pertelevisian dimana banyak sejumlahprogram acara yang menayangkan adegan-adegan berbau diskriminasi. Hal ini juga bertolakbelakang dengan pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasiterhadap wanita UU nomor 7 tahun 1984, kemudian juga tentang Undang-Undang PenyiaranPasal 36 nomor 6 tahun 2002 yang menyatakan bahwa, “Isi siaran dilarang memperolok,melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia indonesia, ataumerusak hubungan internasional”.Pada media elektronik sendiri keberadaan diskriminasi telah mewarnai tayanganpertelevisian di Indonesia. Kenyataan ini tampak pada program acara yang kerap kalimenggunakan perempuan sebagai objek seksualitas. Peran perempuan hanya sekedar sebagaifigura belaka, dengan menonjolkan sisi sensualitas. Terbukti dalam acara Talk Show diIndonesia yang kebanyakan memposisikan wanita sebagai bahan yang ditindas. Contoh TalkShow semacam ini adalah acara Empat Mata yang sekarang berubah menjadi Bukan EmpatMata, dalam acara yang dipandu oleh Tukul Arwana itu memperlihatkan bagaimana seorangVega yang juga host dalam acara itu selalu tampil seksi dengan pakaian ketatnya. Kemudianpelecehan terhadap sosok Susi yang juga tidak lain istri dari Tukul sendiri yang mana kerapkali sengaja atau tidak sengaja dihina dan ditertawakan.Semua adalah pernyataan tentang gender, dan didalam perundangan pun secara sahmelarang adanya bentuk diskriminasi gender, menurut aturan yang berlaku mengenaidiskriminasi terhadap perempuan yang juga telah disahkan oleh Undang-Undang no. 7 Tahun1984, yaitu disitu disebutkan “Setiap pembedaan, pengabaian, atau pembatasan yangdilakukan atas dasar jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan,mempengaruhi atau bertujuan mengurangi ataupun meniadakan pengakuan, penikmatanatau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok dibidang politik,ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apa pun lainya kaum perempuan terlepas dari statusperkawinan mereka, atas dasar kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.”Semakin tinggi rating sebuah program acara, maka semakin banyak keuntungan iklanyang didapat. Menyadari hal itu penyelenggara televisi berlomba untuk memperolehsebanyak mungkin keuntungan dari penghasilan iklan, dengan menyajikan tontonan yangmenarik banyak publik. Namun yang disesalkan adalah para pengelola televisimengesampingkan dampak yang terjadi di masyarakat. Masyarakat yang heterogen terdiridari berbagai macam warna dan budaya, hal semacam ini yang perlu diperhatikan oleh parapengelola televisi untuk lebih mencermati program yang tidak bertentangan dengan norma,etika, hukum dan dampak negatif yang ditimbulkanya. Melihat fenomena tersebut penulisberusaha mengangkat kedalam sebuah penelitian yang mana program acara Kakek-KakekNarsis yang begitu banyak dinanti dan dinikmati orang namun disatusisi banyak jugakritikan-kritikan yang masuk mengenai tayangan tersebut. Hal ini yang ingin penulismencoba teliti dalam penelitian ini.Secara empirik banyak sekali masalah gender yang dijumpai lingkungan masyarakatdan media. Kakek-Kakek Narsis adalah bukti nyata bagaimana diskriminasi merambahkedalam suatu program acara yang disaksikan oleh khalayak luas. Hal ini sangat disayangkanmenginggat dalam Undang-Undang pun melarang adanya bentuk-bentuk diskriminasisemacam ini. Didalam lembaga penyiaran secara jelas tertulis bahwa penyiaran melarangmuatan yang memperolok, merendahkan, melecehkan, dan atau mengabaikan martabatmanusia. Disatusisi tayangan ini dikritik namun disisi lain tayangan ini begitu dinantikan. Halini terbukti pada adanya komentar media sosial Kakek-Kakek Narsis Trans TV (Facebook)bahwa kebanyakan dari mereka menanggapi dan mengikuti acara tersebut hingga requestbintang tamu kesayangaannya dituntut untuk hadir dalam memeriahkan acara tersebut.Pertanyaan lain yang timbul disini adalah sudah tahu tayangan ini mendapat kritik danteguran tetapi kenapa masih banyak yang menonton? Dan apakah penonton menerima bahwaobjektifitas seksual yang dilakukan laki-laki dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis adalahsuatu hal yang wajar dan menghibur ataukah sebaliknya?Beranekaragamnya kebudayaan dari suatu daerah membentuk persepsi yang berbedapula mengenai pemaknaan suatu makna. Sebenarnya bagaimana proses pemaknaan yangdilakukan khalayak dengan latar belakang yang berbeda mengenai diskriminasi gender dalamtayangan Kakek-Kakek Narsis di Trans TV? Seperti apa resepsi yang ditangkap penonton?Apakah hal yang disajikan oleh laki-laki (produsen, host, crew, kamera-man) sebagaimanamakna dominan dapat diterima oleh kaum perempuan, setujukah perempuan dengan keadaanyang menggambarkan seperti itu. Makna dari sebuah teks televisi, semuanya akan kembalipada khalayak sendiri. Khalayak bebas menentukan keputusan apa yang mereka pilih setelahmenyaksikan acara tersebut.PEMBAHASANPerkembangan identitas gender sangat erat kaitanya dengan aspek biologis, sehingga hal inimerupakan bagian yang esensial dari konsep diri individu. Konsep kesetaraan gendermerupakan suatu konsep yang rumit dan mengundang kontroversi. Apa yang dimaksuddengan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki. Kesetaraan gender dapat juga berartiadanya kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan sertahak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik,hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan nasional, sertakesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. Kesetaraan gender ditandai dengan tidakadanya diskriminasi gender antara perempuan dan laki-laki dalam segala akses. Laki-laki danperempuan memiliki akses berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakansumber daya dan memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan.Bahasa merupakan sistem dari representasi yang diperlukan dalam seluruh prosespengkonstruksian makna. Penyebaraan pemetaan konseptual diterjemahkan dalam bahasaumum sehingga bisa menghubungkan konsep ide dengan kata dan tulisan tertentu, citra(image) suara atau visual. pemahamaan umum yang dipakai seperti kata-kata, suara atauimage yang mengandung makna atau yang disebut dengan simbol. Simbol-simbol yangmengandung makna digunakan untuk merepresentikan konsep. Hubungan antar simbol satudengan yang lainya dibawa dalam pikiran kita dan bersamaanya membuat sistem pemaknaandalam suatu kultur. Citra suara, kata-kata, image, atau objek yang berfungsi sebagai simboldan diorganisasikan bersama simbol lainya dalam sebuah sistem yang mampu membawa danmengekspresikan makna, pada intinya adalah bahasa. Bahasa tidak terbatas pada verbal (katakata,tuturan, dan tulisan), tetapi juga imajinasi visual, bahasa tubuh, dan ekspresi muka(Hall, 1997 : 8).Televisi memang memainkan peran langsung dalam penetrasi kebudayaan oleh sistemmakna dari lain tempat, tapi ia tidak menghapus konsepsi-konsepsi lokal. Proses ini lebihbaik dipahami sebagai penumpukan makna-makna lokal oleh berbagai definisi alternatif,yang membuat keduanya menjadi relatif serta menciptakan pemahaman baru akan abiguitasdan ketidakpastian. Dalam Barker (2005: 360) dijelaskan, bahwa televisi menjadi sumberbagi pembentukan identitas kultural, dan pemirsa juga menggunakan identitas dankompetensi kultural mereka untuk mendekode program dengan cara khas masing-masing.Seiring dengan mengglobalnya televisi, perannya dalam pembentukan identitas-identitas etnisdan nasional menjadi semakin pentingPenulis dalam hal ini memilih paradigma kritis untuk mendasari penelitian inidikarenakan adanya persoalan gender (feminisme) yang kental akan penindasan danketidakadilan dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari yang ditujukan kaum perempuanoleh kaum laki-laki. Tradisi kritis cenderung memandang komunikasi sebagai suatu “socialarrangement of power and oppression”. Artinya didalam kebanyakan realitas sosial yangada, komunikasi lebih didominasi oleh kalangan yang lebih kuat yang bermaksud hendakmenindas yang lemah sementara pihak yang lemah ingin melakukan perlawanan (Parwito,2007: 26). Dalam aliran kritis, dunia positivisme dan empirisme ilmu sosial, struktur memangtidak adil. Karena ilmu sosial yang bertindak tidak memihak, netral, objektif serta harusmempunyai jarak, merupakan suatu sikap ketidakadilan tersendiri, atau bisa dikatakanmelanggengkan ketidakadilan (status quo). Oleh karenanya, paradigma ini menolak bentukobjektivitas dan netralitas dari ilmu sosial. Paradigma mengharuskan adanya bentuksubjektifitas, keberpihakan pada nilai-nilai kepentingan politik dan ekonomi golongantertentu, terutama kaum lemah, golongan yang tertindas dan kelompok minoritas, dimanakeberpihakan ini merupakan naluri yang dimiliki oleh setiap manusia.Pada teori Stuart Hall yakni Reception Theory mengatakan bahwa makna yangdimaksudkan dan diartikan dalam sebuah pesan bisa terdapat perbedaan. Kode yangdigunakan atau yang disandi (encode) dan yang disandi balik (decode) tidak selamanyaberbentuk simetris. Derajat simetris dalam teori ini dimaksudkan sebagai derajat pemahamanserta kesalahpahaman dalam pertukaran pesan dalam proses komunikasi – tergantung padarelasi ekuivalen (simetri atau tidak) yang terbentuk diantara encoder dan decoder. Selain ituposisi encoder dan decoder, jika dipersonifikasikan menjadi pembuat pesan dan penerimapesan. Ketika khalayak menyandi balik (decoding) dalam suatu komunikasi, maka terdapatposisi hipotekal, yakni : (1) Dominant-Hegemonic Positian, (2) Negotiated Position, (3)Oppositional Position.Reception Analysis merupakan bagian khusus dari studi khalayak yang mencobamengkaji secara mendalam proses aktual dimana wacana media diasimilasikan melaluipraktek wacana dan budaya khalayaknya. David Morley pada tahun 1980 mempublikasikanStudi of the Nationawide Audience kemudian dikenal sebagai pakar analisis resepsi secaramendalam. Dalam tulisanya yang dimuat dalam Cultural Transformation : The Politics ofResistence (183, dalam Marris dan Tornham 1999: 474,475). Morley merujuk pada penelitianHall, mengemukakan tiga posisi hipotesis didalam pembaca teks (program acara) yaitu;1. Dominant (atau hegemonic) reading, pembaca sejalan dengan kode-kode program(yang didalamnya terkandung nilai-nilai, sikap, keyakinan dan asumsi) dan secarapenuh menerima makna yang disodorkan dan dikehendaki oleh sipembuat program.2. Negotiated reading, pembaca dalam batas-batas tertentu sejalan dengan kode-kodeprogram dan pada dasarnya menerima makna yang disodorkan oleh sipembuatprogram namun memodifikasikanya sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisidan minat-minat pribadinya.3. Oppositional (counter hegemonic) reading, pembaca tidak sejalan dengan kode-kodeprogram dan menolak makna atau pembacaan yang disodorkan, dan kemudianmenentukan frame alternatif sendiri didalam menginterpretasikan pesan atau program.Kerangka Reception Theory pada penelitian ini akan digunakan peneliti untukmemahami dan melihat bagaimana khalayak memaknai pesan yang dikomunikasikan denganpendekatan mendalam. Mengacu pada teori tersebut, peneliti mencoba mendiskripsikan halhalyang terkait dengan proses pemaknaan informan terhadap pesan dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis.Pemanfaatan teori reception analysis sebagai pendukung dalam kajian terhadapkhalayak sesungguhnya menempatkan khalayak tidak semata pasif namun dilihat sebagaiagen kultural (cultural agent) yang memiliki kuasa tersendiri dalam hal menghasilkan maknadari berbagai wacana yang ditawarkan media. Makna yang diusung media lalu bisa bersifatterbuka atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh khalayak. Maknasebuah teks pada dasarnya bersifat polisemi dan terbuka sehingga memungkinkan khalayakuntuk memahami dan menginterpretasikan pesan secara berbeda. Analisis resepsi berupayamenganalisisnya dengan apa yang ada ataupun sesuatu yang tersembunyi dibalik penuturanpenuturanaudience tersebut.Dengan menggunakan analisis resepsi, selain mendapat makna atas pemahaman daninterpretasi teks media, juga mendapat penjelasan mengenai :1. Alasan mengapa terjadi perbedaan interpretasi dalam diri pembaca2. Alasan mengapa para pembaca dapat membaca teks yang sama secara berbeda3. Faktor-faktor kontekstual yang memungkinkan perbedaan pembacaan4. Cara teks-teks kebudayaan dimaknai oleh audiens, dan pengaruhnya dalam keseharianmereka.Beberapa teori dalam penelitian ini sangat relevan dalam menaggapi permasalahanyang ada dalam program acara Kakek-Kakek Narsis. Feminisme radikal berpendapat bahwa,ketidakadilan gender bersumber pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan itusendiri. Perbedaan biologis ini terkait dengan peran kehamilan dan keibuan yang selaludiperankan oleh perempuan. Semua ini hanya termanifestasi dalam institusi keluarga, dimanabegitu seseorang menikah dengan laki-laki, maka perbedaan biologis ini akan melahirkanperan-peran gender yang erat kaitanya dengan masalah biologis. Karenanya, para feminisradikal sering menyerang keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Keluargadianggap sebagai institusi yang melahirkan dominasi laki-laki, sehingga perempuan ditindas.Feminisme radikal memandang pornografi sebagai bentuk subordinasi, karena menganggappornografi tidak lebih dari propaganda patriarkal mengenai peran perempuan yangseharusnya sebagai pembantu, penolong, perawat, dan mainan laki-laki. Sementara laki-lakiada untuk dirinya sendiri, perempuan ada untuk laki-laki. Laki-laki subjek, perempuan objek(Tong, 2006 : 98).Feminisme radikal pada dasarnya mempunyai 3 pokok pikiran sebagai berikut :1. Bahwa perempuan mengalami penindasan, dan yang menindas adalah laki-laki.Kekuasaan laki-laki ini harus dikenali dan dimengerti, dan tidak boleh direduksimenjadi kekuasaan kapitalis, misalnya.2. Bahwa perbedaan gender yang sering disebut maskulin dan feminim sepenuhnyaadalah konstruksi sosial atau diciptakan oleh masyarakat, sebenarnya tidak atas dasarperbedaan alami perempuan dan laki-laki. Maka yang perlu adalah penghapusanperan perempuan dan laki-laki yang diciptakan oleh masyarakat di atas tadi.3. Bahwa penindasan oleh laki-laki adalah yang paling utama dari seluruh bentukpenindasan lainya, dimana hal ini menjadi suatu pola penindasan.KESIMPULANBerdasarkan analisis dan pembahasan terkait resepsi pemirsa tentang diskriminasi genderdalam tayangan Kakek-Kakek Narsis, ditemukan 3 pemaknaan yang berbeda dari informandalam memaknai teks. Khalayak yang berada dalam posisi dominan, yakni memaknai samaseperti yang ditawarkan oleh media bahwa tindakan atau tayangan dalam acara ini tidakmenampilkan bentuk-bentuk diskriminasi menganggap bahwa adegan yang dilakukanperempuan disini adalah profesionalisme dalam bekerja, jadi sebagai tuntutan pekerjaanselama itu dibayar tidak menjadi masalah. Bahkan sosok wanita seksi dalam tayangan inidigunakan sebagai penarik minat pemirsa untuk menonton serta punya daya jual yang tinggi.Khalayak yang berada dalam posisi negosiasi menganggap bahwa pengarahan seksualitasperempuan dalam tayangan ini adalah sebagai daya tarik masyarakat untuk menonton acaraini, namun mereka juga menyatakan bahwa para perempuan yakni nanny dan bintang tamujuga mengalami tindak diskriminasi. Sedangkan khalayak yang berada dalam posisi oposisimenyatakan, semua yang ditayangkan dalam acara Kakek-Kakek Narsis adalah merupakanbentuk diskriminasi dan penindasan terhadap kaum perempuan. Hasil penelitian ini telahmemperkuat tentang penyebaran ideologi patriarki yang dilakukan pihak pengelola melaluimedia massa yakni televisi sebagai alat kekuasaan (laki-laki) dalam mempertahankan statusquo-nya dalam budaya patrirki di Indonesia.Dalam menanggapi penelitian ini resepsi audience tidak pernah menjadi pihak pasifdalam membaca sebuah teks kebudayaan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa seksualitasdiilustrasikan audience sebagai bentuk pengarahan, pengaturan dan pengekspresianperempuan sebagai bentuk hiburan dalam media. Faktor pendidikan dan budayamempengaruhi keaktifan audience dalam memproduksi makna, ketika menyaksikan sesamaperempuan yang dilecehkan seksualitasnya oleh media membuat mereka berempati, merasamenjadi bagian sesama perempuan yang dilecehkan. Feedback yang diberikan audiencedalam memaknai kontruksi media memberikan jawaban bahwa audience tidak serta mertamenerima apa yang ditontonnya, melainkan memprosesnya yang kemudian disesuaikandengan pengalaman hidup, faktor lingkungan dan pendidikan.Kepada pihak pengelola media disarankan untuk perlu memperhatikan manfaat apayang dapat diberikan kepada masyarakat dalam menayangkan sebuah program acara. Tidakhanya dapat menghibur namun mampu setidaknya memberikan manfaat baik berupa hiburanmaupun dari sisi pendidikan. Dengan begitu diharapkan dalam masa mendatang bentukbentukacara televisi semakin variatif dan berkualitas tidak monoton dan hanya sekedar ikutikutanseperti yang diperlihatkan sekarang. Karena sebenarnya untuk mencapai rating tinggiadalah dengan melihat suatu program acara dapat bertahan lama dan dicintai penontonyakarena mutu dan konsep acara yang menarik, bukan eksploitasi ataupun penindasan terhadappihak tertentu. Adanya faktor pendidikan ini maka diharapkan menjadi kesadaran penontonuntuk dapat meningkatkan kemampuan membaca teks yang baik dan dapat mengambilkeputusan untuk menyikapi tayangan bernuansa gender semacam ini secara lebih dewasa.Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam hal ini harus turun tangan menindak lanjutiprogram tayangan yang mengedepankan unsur gender dan diskriminasi semacam ini. Karenadalam Undang-Undang pun menyebutkan bahwa segala macam bentuk penindasan dandiskriminasi harus segera dihapuskan seperti yang terdapat pada pasal 28 (I) 2 UUD 1945.KPI harus menyiapkan sistem regulasi yang efektif dan memberikan tidakan tegas terhadaptayangan-tayangan yang tidak sesuai dan menonjolkan ketimpangan gender akibatketidakadilan yang ditujukan oleh perempuan baik dalam sikap maupun peran.Menarik atau tidaknya suatu program acara bukanlah dilihat dari artis atau bagaimanacara berpakaiannya, namun melihat secara keseluruhan inti dari konsep acara yang disajikan,bagaimana manfaat dan unsur pendidikan yang bisa diambil setelah melihat tayangan ini.Melalui tayangan Kakek-Kakek Narsis menjadikan pelajaran bagi pengelola lain agar bisamembuat acara yang lebih baik lagi dengan tidak memandang keberadaan gender dandiskriminasi di media, dan untuk masyarakat diharapkan untuk lebih cerdas lagi dalammemaknai isi teks media.DAFTAR PUSTAKAA.MacKinnon, Catharine. (1987). Feminism Unmodified. Havard University Press, USA :Ninth Printing.Agger, Ben. (2003). Teori Sosial Kritis.Yogyakarta : Kreasi Wacana.Alcoff (1989). Reposting Feminism and Education : Perspectives on Educating for SocialChange. London : Greenwood.Arief Budiman. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta : Gramedia.Barker, C. (2005). Culture Stadies Teori dan Praktik. London : Sage Publications.Berger, C.R. and S.H., Chaffe. (1983). Handbook Communication Science. Beverly Hills :Sage Publications.Basow, Susan A. (1992). Gender Stereotypes and Roles. USA : Brooks/Cole PublishingCompany.Cott, Nancy F. (1987). The Grounding of Modern Feminism. Yale University Press.New Haven.Creswell. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design : Choosing Among FiveTradition. London : Sage Publictions.Croteau, David and William Hoynes (2007). Media/Society. Pine Forge Press, USA :Thousand Oaks.Effendy. O.U. (2003). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung : PT. Citra AdityaBakti.Fiske, John. (1987). Television Culture. London : Routledge.Fiske, J. (2004). Culture and Communication Studies. Yogyakarta : Routledge.Grant, A.E. & Wilkinson, J.S. (2009). Understanding Media Convergence : The State of theField. NY : Oxford University press (9).Griffin, EM. (2006). A first Look At Communication Theory, 6th Edition, New York :McGraw-Hill, inc.Grossberg, Lawrence, Carly Nelsen, dan Paula A. Treicher. (1992). Culture Stadies.New York, London : Routledge.Guba. Egon (ed.). (1990). The Paradigm Dialog. London : Sage Publications.Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representasions and Signifying Practices. BaverleyHills : Sage Publications.Harris, Marvin. (1968). The Rise of Anthropological Theory. New York : Thomas Y.Cromwell Company.Jackson, Stevi dan Jackie Jones. (2009). Teori-Teori Feminis Kontemporer. Yogyakarta :Jalasutra.Jensen, Klaus, Bruhn & Jankowski, Nicholas W. (2003). A Handbook of QualitativeMethodologies for Mass Communication Research. London : Routledge.Junaedi, F. (2007). Komunikasi Massa (Pengantar Teoritis). Yogyakarta : Santusta.Kasiyan. (2006). Bias Gender Dalam Iklan Televisi. Media Pressindo.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta :Ombak.Khun, Thomas. (1970). The Structure of Scientific Revolution (cetakan ke-2) Chicago :Chicago University Press.Littlejohn, Stephen W & Foss, Karen A. (2008). Theories of Human Communication, USA :The Thomson Corporation.Luhulima. (2002). Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita. Bandung :Alumni.Sadli, Saparinah. (2010). Berbeda Tetapi Setara. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.Silverstone, Roger.(1994). Television : and everday life. London, New York : Routledge.Soekarno (1963). Kawajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia. Jakarta :Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno.Spradley, J.P. (2006). Metode Etnografi (penerjemah : Elizameth, M.Z dari The EtnographicInterview) edisi II. Yogyakarta : Tiara Wacana.Sudibyo, Agus. (2004). Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : Penerbit LkiSYogyakartaSunarto. (2009). Kekerasan, Televisi & Perempuan. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.SuSan A. Basow (1992). Gender Stereotypes and Roles. Pacific Grove, California :Brooks/Cole.Storey, Jhon. (2008). Cultur Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta : Jalasutra.Tong, Rosemerie Putnam (1998). Feminist Thought : Pengantar Paling Konferhensif KepadaArus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta : Jalasutra.Mansour Fakih. (1997). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta :PustakaPelajarMartadi. (2000). Reposisi Citra Melalui Logo. Jurnal Nirmana.McQuail, Denis. (1991). Teori Komunikasi Massa, Penerbit Erlangga, Jakarta, Edisi kedua.Moelong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Morley, David (1992). Television Audience and Cultural Studies. London : Routledge.Parwito, (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : LkiS.Winship, J. (1981) Woman Become an “induvidual” : Femininity and Consumption inMagazine. Birmingham ; University of Birmingham.

Page 93 of 157 | Total Record : 1563